Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Sabtu, 22 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (19)





Desa Kaliwedi dikelelingi oleh ladang yang luas, sawah menguning dengan tanaman padi, dan deretan pohon kelapa serta pohon aren yang tumbuh di pinggir-pinggir desa. Sebuah jalan besar membelah tengah-tengah desa, meliuk-liuk sepertu ular, naik menanjaki punggung pegunungan di sebelah utara, kemudian lenyap di balik bukit yang menghijau. Di balik bukit, orang harus melalui jalan terbentang menuju ke arah utara, lalu belok ke barat jika dia ingin menuju Kadipaten Pasirluhur. 

“Hanya diperlukan waktu sekitar seperempat hari jalan kaki dari sini, jika Raden ingin mengunjungi Kadipaten Pasirluhur,“ ujar Rekajaya sambil berjalan berdua menuju rumah Nyai Kertisara. Mega-mega putih tampak berarak-arak di langit biru, menutupi matahari yang pelan-pelan turun menuju kaki langit sebelah barat.

“Kalau itu perbukitan yang puncaknya rata, bukit apa, Kakang?” tanya Kamandaka menunjuk bukit yang ada di depannya.

“Penduduk di sini menyebutnya Gunung Tugel, Raden.”

“Siapa yang telah memotong puncak bukit itu?”

“Hehehe…, penduduk tak ada yang tahu. Bisa jadi dahulu gunung itu adalah sebuah anak gunung berapi yang meletus, sehingga sebagian puncaknya terpotong, lalu gunung itu pun padam. Kenyataannya di sekitarnya banyak pasir bertebaran. Bisa jadi pasir itu berasal dari puncak gunung yang putus itu. Mungkin karena itu, desa ini diberi nama Kaliwedi,” jelas Rekajaya.

Mereka masih terus menyusuri jalan di pinggir desa itu. Dan sore itu Kamandaka bertemu Nyai Kertisara. Dia disambut dengan gembira oleh wanita yang masih menyimpan sisa-sisa gurat kecantikan di wajahnya. Hanya karena kemiskinan yang menderanya, menyebabkan tubuhnya cepat berangkat tua. Nyai Kertisara adalah seorang janda miskin tanpa anak yang tinggal di pinggir desa. Dia tinggal di gubuknya yang reyot itu ditemani adik lelakinya, Rekajaya. Sehari-harinya Nyai Kertisara menyambung hidup dengan berjualan daun pisang di pasar Desa Pangebatan. Desa Pangebatan merupakan desa paling ramai dan makmur di Kadipaten Pasirluhur. Di sana ada pasar yang setiap harinya ramai. Apalagi setiap hari pasaran. Hampir segala aneka macam barang bisa ditemukan di Pasar Pangebatan. 

Salah satu pusat kegiatan yang terkenal di Desa Pangebatan adalah gelanggang sabung ayam yang sengaja dibangun di pinggir lapangan desa. Hampir setiap hari pasaran, ada saja para botoh yang mengadu untung di situ. Nilai taruhan pun tidak tanggung-tanggung. Rekor taruhan tertinggi di arena permainan judi sabung ayam Desa Pangebatan pernah mencapai angka 2 bau, atau setara dengan tiga perempat hektar sawah, dan seorang istri lurah yang dijadikan taruhan. Ke sanalah tiap pagi Nyai Kertisara menjual daun pisangnya.

Gubuk reyot Nyai Kertisara itu berlantai tanah, beratap rumbia. Dinding rumah itu terbuat dari anyaman bambu tua yang sudah banyak lubangnya, sehingga angin dari luar leluasa menerobos masuk. Di belakang rumah, terdapat kandang ayam dari bambu tua dan kotor. Tidak banyak ayam berteduh di dalamnya.

Di dalam ruangan yang tak ada kamarnya itu, Kamandaka melihat dua buah dipan bambu beralas tikar dan sebuah rak dari bambu. Dipan yang berada di sudut belakang ruangan  adalah tempat tidur Nyai Kertisara. Dan yang berada di sudut depan adalah tempat tidur Rekajaya. Ya, pasti di situlah nanti malam Kamandaka akan tidur, di atas dipan bambu beralas tikar pandan, berdua bersama Rekajaya. 

Sore itu mereka bertiga makan dengan teman nasi ikan baceman Sungai Ciserayu yang digoreng, sambal, lalab daun kenikir, jengkol, dan petai rebus. Nyai Kertisara rupanya pandai membuat sambal dan memasak ikan sungai. Mereka bertiga duduk  mengelilingi meja kayu di tengah ruangan, makan dengan lahapnya. Selesai makan, di situ pula mereka berbincang-bincang sambil saling menjelaskan diri mereka masing-masing. Ternyata Nyai Kertisara gemar berceritera tentang dirinya.

Nyai Kertisara sebelum jatuh miskin, sebenarnya pernah menjadi istri seorang lurah kaya raya dari Desa Karangjati. Nyai Kertisara dulunya adalah seorang gadis cantik kembang desa Karangjati, anak seorang petani miskin yang merasa beruntung karena diambil menjadi istri seorang lurah. Dia menjadi istri yang keempat Lurah Desa Karangjati. Sayang sekali, lurah itu seorang pecandu sabung ayam kelas berat. Wanita itu hanya merasakan hidup berkecukupan selama dua tahun, sampai pada suatu malam suaminya mendatangi kamar tidurnya ditemani seorang laki-laki yang gagah perkasa. Tetapi lelaki yang baru dilihatnya itu, penampilannya terkesan agak kasar. 

“Nyai, dengarlah aku,” kata lurah yang wajahnya nampak pucat, lusuh, matanya merah, dan mulutnya agak berbau tuak. Dia berkata tapi tak berani menatap wajah istrinya yang tengah kebingungan diamuk sejumlah pertanyaan.

”Siang tadi aku kalah dalam taruhan sabung ayam di Pangebatan. Jago andalanku yang perkasa dan tak pernah kalah, takluk oleh jago lelaki ini. Maka aku ceraikan kamu malam ini juga. Sekarang, engkau milik lelaki ini. Namanya Kertisara dari Desa Kaliwedi. Aku mengijinkan dia malam ini tidur di kamarmu. Layanilah dia. Besok pagi dia baru akan memboyongmu ke Kaliwedi,” kata suaminya lagi. Lurah itu berbicara singkat dan seperlunya saja lalu keluar meninggalkan wanita malang itu di dalam kamarnya bersama lelaki yang baru dilihatnya malam itu.

Tentu saja dia sangat terkejut mendengar kata-kata suaminya yang sungguh tidak senonoh itu. Tiba-tiba dia merasa sangat terpukul. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh suaminya sendiri yang sungguh menjijikkan dan tidak punya perasaan itu. Dia merasa dirinya adalah sebuah barang yang dengan mudahnya dipertaruhkan di tempat perjudian sabung ayam tanpa sepengetahuan dirinya. Kemudian dengan mudahnya diserahkan begitu saja kepada orang lain, tanpa ditanya lebih dahulu. Istri muda lurah itu pun menangis sejadi-jadinya. Dia lari menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Dan di sana dia mulai menguras air matanya. Sempat terlintas dalam pikirannya, lebih baik mati menggantungkan diri, daripada dijamah oleh lelaki tukang judi sabung ayam yang kasar itu. Tetapi kemudian muncul pikiran lain lagi. 

Walaupun dia menangis dan air matanya terkuras habis, ataupun dia menjerit sekeras-kerasnya, semuanya tak akan ada yang  bisa menolongnya. Dia merasa tak akan dapat melawan takdir yang menimpa dirinya. Haruskah malam itu dia melayani  seorang lelaki yang bukan suaminya? Jika suaminya saja sudah tidak mau menolongnya, lalu kepada siapa dia harus berlindung? 

Lelaki pemenang taruhan sabung ayam itu duduk dengan sabar di tepi ranjang. Dibiarkannya wanita itu menangis sampai kering air matanya. Tetapi di tengah isak tangisnya, wanita itu mendengar lelaki itu berkata pelan, suaranya halus, sabar, dan terdengar lembut masuk ke telinganya. Kata-kata itu adalah kata-kata seorang pria penyabar dan penuh kasih sayang kepada dirinya. Sungguh beda dan jauh sekali dengan penampilan pertamanya yang terkesan kasar. Bahkan dia menilai lelaki yang duduk di tepi ranjang itu, lebih penyayang daripada suaminya.

“Nyai, apakah kamu lupa kepadaku? Aku Kertisara dari Kaliwedi. Aku pernah melamar kamu kepada ayahmu, lupakah Nyai? Tetapi ayahmu lebih memilih menantu seorang lurah dari pada aku. Janji palsu ayahmu mau diberi satu bau, atau setara dengan tiga ratus lima puluh meter persegi, sawah dari lurah itu, lebih berharga di mata ayahmu. Aku memang hanya seorang botoh ayam aduan. Tetapi sejak kemarin dan siang tadi, dua hari berurut-turut, dua bau sawah suamimu sudah jatuh ke tanganku di gelanggang adu ayam Pangebatan. Hampir dua tahun aku menunggu kesempatan ini. Suamimu memang penjudi berat. Bahkan kamu pun dipertaruhkan. Aku berhasil mengalahkannya di gelanggang sabung ayam Pangebatan. Malam ini kamu jadi milikku. Ambilah dua bau sawah bekas milik suamimu itu. Kuserahkan untuk kamu semua. Aku sudah lama merindukanmu.”

Seketika wanita malang itu menghentikan isak tangisnya. Dia sama sekali tidak menduga, lelaki yang terkesan berpenampilan kasar itu, ternyata masih menyimpan benih cinta yang mendalam kepada dirinya. Bahkan sekalipun sudah jadi istri seorang lurah, toh lelaki itu masih berusaha mengejarnya. Tampaknya lelaki itu mencintai dirinya dengan tulus. Wanita manapun sebenarnya akan bangga bila dikejar-kejar oleh seorang lelaki yang mencintainya. Karena dengan itu, dia merasa berharga dan dibutuhkan.

“Aku sudah lupa lagi. Kapan Kakang Kertisara bertemu aku?” tanyanya sambil bangkit dan duduk di tepi ranjang berdampingan dengan lelaki itu. Kini dia merasa tidak takut lagi.

“Tentu kamu sudah lupa. Suatu ketika aku melihat kamu pulang dari mandi bersama temanmu di belik yang ada di sudut desamu, Karangjati. Kulihat saat itu kamulah gadis paling cantik. Aku sudah mengenal banyak wanita. Tetapi belum pernah aku merasakan, betapa aku sangat tertarik kepadamu. Tetapi ketika aku tanyakan kepada ayahmu, dia memandangku dengan sebelah mata. Kata ayahmu saat itu, aku terlambat, karena Lurah Desa Karangjati telah melamar kamu lebih dulu.”

Wanita itu diam sejenak. Air matanya tiba-tiba cepat mengering. Ia merasakan sebuah perubahan dalam dirinya. Sebuah perasaan damai dan senang tiba-tiba muncul. Lelaki itu memang lebih melindungi dirinya dari pada suaminya. Ketika itu suaminya dengan mudah dan tanpa beban menyerahkan dirinya kepada lelaki itu. Dirinya dianggap seakan-akan hanyalah kembang layu yang dengan mudah bisa dibuang ke comberan. Ternyata lelaki itu memungut bunga itu hendak merawat dan menjaganya. Bagi lelaki itu, dirinya seakan-akan adalah sekuntum bunga yang tidak pernah layu. Akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan jiwa raganya, pasrah kepada kehendak takdir dan bertekad untuk setia kepada lelaki itu. Dia pun dalam hatinya berjanji akan mengikuti kemana pun lelaki itu pergi.

“Baiklah, Kakang Kertisara. Kakang boleh berbuat sekehendak Kakang sejak malam ini kepadaku,” kata wanita itu pasrah sambil menyandarkan dirinya ke lengan Kertisara. ”Haruskah aku melayani Kakang malam ini?”

Kertisara memeluk dan mencium kening wanita itu. Wanita yang dua atau tiga tahun lalu dilihatnya pertama kali dari bawah pohon waru di desa Karangjati.

“Aku malam ini hanya ingin tidur di sampingmu. Aku tak akan mengganggumu. Malam ini kamu belum resmi menjadi istriku, bukan?”

Wanita itu mengangguk. Tetapi muncul dalam dirinya perasaan heran dan gembira bercampur jadi satu. ”Bagaimana mungkin seorang lelaki yang berpenampilan rada kasar itu, dan yang dalam kehidupannya sehari-hari tidak pernah jauh dari gelanggang adu ayam, tetapi masih memegang norma adat dan agama?” tanya wanita itu di dalam hati.

Malam itu dilewatinya dengan impian-impian indah. Wanita itu tidur di samping Kertisara yang tidur pulas dan memegang teguh janjinya. Sedikitpun Kertisara tak berani menggangu wanita yang dirindukannya itu. Hal ini akhirnya membuat wanita itu sama sekali tidak pernah menyesal diceraikan oleh lurah yang hanya mencintai tubuhnya, tetapi tidak pernah mencintai segenap jiwa dan raganya. Paginya dengan perasaan riang ditinggalkannya rumah itu. Dia bertekad mengikuti Ki Kertisara ke Desa Kaliwedi, menjadi istri setia, sebagai bentuk pengabdian kepada seorang lelaki yang memang tulus mencintainya.

“Demikian Raden, perjalanan hidup hamba,” kata Nyai Kertisara kepada Kamandaka,  mengungkapkan riwayatnya mendapatkan suami seorang botoh adu jago.

“Sayang sekali, cita-cita Kakang Kertisara untuk memperoleh keturunan dari hamba tidak terlaksaana. Bahkan beberapa bulan kemudian, Kakang Kertisara ditemukan orang telah meninggal. Mayatnya ditemukan di pertemuan Sungai Cingcinggoling dan Sungai Ciserayu. Sawah dua bau milik hamba hadiah perkawinan dari Kakang Kertisara diambil kembali secara paksa oleh pemiliknya, lurah mantan suami hamba,” ujar Nyai Kertisara mengakhiri ceriteranya.

Nyai Kertisara menarik napas dalam-dalam, sehingga dadanya yang kini datar itu, samar-samar nampak bergelombang. Dia tak akan pernah lupa pada masa lalunya. Matanya tampak berbinar-binar saat wanita malang itu bisa menceriterakan suka dukanya kepada Kamandaka. Dia merasakan ada kebahagiaan dalam dirinya, karena dia bisa mengadukan sepenggal perjalanan hidupnya yang  berakhir dengan menyedihkan itu.
Matahari sudah lenyap ke bawah kaki langit, malam hari mendatangi Desa Kaliwedi, ketika Nyai Kertisara bangkit membereskan meja makan dan pergi ke dapur di belakang rumah. Malam itu Kamandaka tidur pulas di atas dipan bambu bersama Rekajaya. Sebelum tidur Kamandaka memantapkan niatnya di dalam hati untuk membantu meringankan beban kakak-adik yang miskin dan malang itu. Rekajaya berjanji besok pagi akan mencarikan Kamandaka seekor bakalan ayam aduan.

Pagi harinya, katika fajar baru muncul di kaki langit sebelah timur, dan embun pagi masih bergelantungan di pucuk daun-daun pisang yang banyak tumbuh di pinggir-pinggir desa, mereka bertiga sudah berjalan menuju Pasar Pangebatan. Nyai Kertisara seperti biasa akan menjual daun pisang, sedangkan Kamandaka dan Rekajaya akan pergi ke pasar hewan yang ada di sebelah selatan pasar. 

“Kita cari ayam aduan yang masih bakalan saja. Nanti kita latih jadi ayam aduan hebat, seperti ayam aduan milik Cindelaras, Raden,” kata Rekajaya.

Cindelaras adalah putra Raja Kediri yang dibuang di tengah hutan dan menemukan seekor telur ayam jantan. Setelah dierami dan menetas, anak ayam itu tumbuh jadi ayam jantan milik Cindelaras yang tak terkalahkan. Bahkan ayam aduan Sang Raja pun berhasil dikalahkan oleh ayam jago Cindelaras. Sang Raja pun akhirnya bertemu dengan putranya yang bertahun-tahun hidup di tengah hutan. Sejak itu nama Cindelaras menjadi nama kesayangan para pecandu judi sabung ayam. Demikian Rekajaya menceriterakan dongeng Cindelaras pada Kamandaka yang berjalan di sampingnya.

Akhirnya mereka berdua sudah sampai di pasar hewan. Kebetulan hari itu hari pasaran, sehingga pasar hewan ramai didatangi pengunjung. Mereka berdua lama berputar-putar dari satu pedagang ayam ke pedagang ayam yang lain. Sebagai seorang bekas pembantu botoh Ki Kertisara, tentu saja Rekajaya pandai memilih ayam jantan calon ayam aduan yang berkualitas.

Dengan uang hasil menjual cincin emas milik Kamandaka, Rekajaya akhirnya menemukan seekor ayam masih muda, bulunya merah, diselingi bulu-bulu berwarna hitam mengkilap. Matanya jernih, paruhnya melengkung, pialnya tegak bagaikan mahkota sedang bertengger di kepalanya. Tajinya belum begitu panjang, menandakan ayam jago itu masih muda. 

“Bagus sekali ayam ini, Raden. Dua bulan kita latih, akan jadi ayam jagoan hebat, siap turun ke gelanggang. Lihatlah Raden, kakinya panjang, bulat seperti pohon jati. Pasti sangat kuat untuk menghajar lawannya,“ kata Rekajaya dalam perjalanan pulang kembali ke rumahnya, sambil menenteng ayam jago yang baru dibelinya.
Sisa uang penjualan cincin emas Kamandaka masih cukup banyak. Kelak bisa jadi modal taruhan melawan para punggawa Kadipaten Pasirluhur dan para lurah yang gemar bermain judi adu ayam di Pangebatan.[Bersambung]

3 komentar:

  1. https://sabungayamlive.site/

    Link alternatif merupakan tempat proses tempat deposit dan whitdraw

    BalasHapus
  2. Silakan Kunjungi Artikel tajenonline.com

    OVO S128
    Jadwal Bank S128

    Dan dapat Hubungi Kontak Whatsapp Kami +62-8122-222-995

    BalasHapus
  3. https://pemainayam.net/fakta-penyebab-ayam-bangkok-selalu-takut-dengan-ayam-kampung
    Fakta Penyebab Ayam Bangkok Selalu Takut Dengan Ayam Kampung, Ayam Bangkok merupakan salah satu ayam petarung yang paling banyak ditakuti oleh beberapa penggemar adu ayam di indonesia dan internasional.
    WA : 0812-2222-995
    Line: cs_bolavita
    Telegram : @bolavitacc

    BalasHapus