Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Selasa, 11 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (13)




Tentu saja dalam soal ini, Sang Dewi sedikit berbohong. Sebab soal peran wanita, Sang Dewi sudah beberapa kali mendengar juga dari ayahandanya. Tentu saja dalam persepsi yang berbeda. Kini, Sang Dewi ingin mendengar pandangan Kamandaka sendiri. Kamandaka kembali dengan sabar menjelaskan soal wanita sebagai salah satu pilar masyarakat. Tentu saja Kamandaka hanyalah mengulangi lagi apa yang pernah dijelaskan dan diingatnya dari ayahandanya, Sang Baginda, dengan menambahkannya di sana-sini. 

“Ada lima peran yang seharusnya dilakukan oleh seorang wanita sejati yang bisa membawa Kadipaten Pasirluhur berkembang menjadi kadipaten yang kuat dan sejahtera. Kadipaten harus medorong agar peran-peran wanita di masyarakat diberdayakan ke arah kemajuan. Pertama adalah berhias. Wanita harus pandai berhias, sebab kodrat wanita memang cantik. Janganlah wanita melupakan urusan menjaga dan memelihara kecantikannya, sehingga lupa merawat dirinya. Wanita cantik adalah wanita yang bisa menjaga kebugaran dirinya. Dengan sendirinya, wanita yang cantik adalah wanita yang sehat.”

“Kedua, wanita harus pandai memasak. Ketiga, wanita harus bisa menggembirakan suami di atas ranjang. Ada baiknya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, pasangan suami istri bersama-sama mempelajari seni bercinta sebagaimana diajarkan dalam kitab suci Kama Sutra. Seni bercinta bukanlah untuk menyuburkan pelacuran. Justru pelacuran itu bisa diberantas, minimal dikurangi apabila setiap pasangan suami istri menguasai seni bercinta. Karena pelacuran memang dilarang oleh kitab suci agama manapun. Dalam hal ini, seorang wanita sejati haruslah berusaha sekeras-kerasnya untuk mempertahankan kesucian dirinya. Sebab, kesucian seorang wanita adalah pagar dari keselamatan raganya. Janganlah seorang wanita melakukan hubungan badan dengan pria manapun yang bukan suaminya.”

“Yang keempat adalah bisa melahirkan keturunan yang sehat. Wanita sejati adalah wanita yang bisa hamil, melahirkan, dan menyusui bayinya sendiri. Wanita yang subur dan bisa melahirkan anak-anaknya dan menyusui bayinya dengan air susunya sendiri, itulah yang disebut wanita sempurna. Agar seorang wanita bisa melaksanakan fungsi alamiahnya memberikan keturunan yang baik, Kadipaten harus berani mencegah praktek perkawinan wanita terlalu muda ataupun praktek perkawinan di bawah umur. Sebab praktek perkawinan demikian, akan mengakibatkan lahirnya keturunan yang lemah. Bahkan bisa juga mengancam jiwa, baik ibunya maupun bayinya, akibat hamil dan melahirkan pada waktu usia masih sangat muda.”

“Yang kelima atau terakhir, seorang wanita sejati harus menjalankan kewajibannya mengasuh dan mendidik anak, serta membimbingnya ke arah kedewasaan. Didiklah setiap anak sehingga menjadi anak yang bisa bertanggung jawab dan berbakti kepada kedua orang tuanya, masyarakatnya, tanah kelahirannya, dan negaranya, kadipatennya, atau kerajaannya tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Seorang wanita sejati juga harus bisa mendidik anaknya agar bisa menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”  

“Dinda Dewi, itulah yang bisa aku jelaskan mengenai tiga pilar harta, tahta, dan wanita yang aku peroleh dari para brahmana, wiku, ajar, maupun dari ayahanda sendiri Prabu Siliwangi. Ilmu Seni memerintah tadi juga terdapat dalam rontal-rontal yang berisi ajaran kitab suci,” ujar Kamandaka mengakhiri uraiannya tentang tiga pilar penyangga pemerintahan. 

“Aduh, Kanda Kamandaka, sebuah penjelasan yang menambah wawasan. Kecuali soal pilar wanita, sebelumnya aku belum pernah mendengarnya. Bahkan dari Kanjeng Rama pun belum. Aku yakin, para adipati yang berniat melamar aku pun, tak akan sanggup memberikan uraian yang begitu jelas seperti Kanda,” kata Sang Dewi setelah sebelumnya diam beberapa saat, karena rasa kagum kepada kedalaman ilmu yang dimiliki Kamandaka. Semua itu semakin meyakinkan Sang Dewi, bahwa Kamandaka tak diragukan lagi adalah pria yang selama ini dicarinya.

“Aku yakin, Kanda Kamandaka,” ujar Sang Dewi melanjutkan kata-katanya. ”Kandalah pria sejati yang selama ini aku cari. Kandalah pria yang bisa melindungi aku dan bisa menyelamatkan masa depan Kadipaten Pasirluhur. Kanda Kamandaka, masa depan Kadipaten Pasirluhur ada di tangan Kanda Kamandaka. Besok aku akan memberitahu Kanjeng Rama, bahwa aku telah menemukan pria belahan jiwa raga dan karenanya siap untuk dilamar Kanda secara resmi.”

“Terima kasih, Dinda Dewi. Pastilah Ayahanda di Pajajaran juga sangat bergembira bila mendengar aku telah menemukan calon istri yang selama ini aku cari. Karena itu besok aku akan segera kembali ke Pajajaran untuk memberitahu Ayahanda. Aku akan mohon, agar Ayahanda segera mengirimkan utusan untuk melamar secara resmi Dinda Dewi. Sebaiknya Dinda Dewi jangan memberitahu kepada Kanjeng Rama Adipati sebelum datang lamaran resmi dari Pajajaran,” kata Kamandaka melanjutkan. ”Aku berharap Dinda Dewi bisa merahasiakan pertemuan Dinda dengan aku malam ini. Sebab aku khawatir jangan-jangan Kanjeng Adipati akan murka kepadaku, kalau Kanjeng Adipati tahu malam-malam begini aku menemui Dinda Dewi.”

“Jangan khawatir, Kanda. Kalau hanya soal menjaga rahasia, bagiku itu soal yang mudah. Sekarang, aku akan memenuhi janjiku kepada Kanda, karena Kanda telah mampu dengan memuaskan memenuhi permintaanku, yaitu memberikan penjelasan pertanyaan yang aku sampaikan. Kini tiba saatnya aku berkorban untuk kebahagiaan Kanda. Terimalah persembahanku, Kanda Kamandaka. Aku akan serahkan jiwa ragaku kepada Kanda malam ini juga. Malam ini aku siap menjadi bahtera bagi Kanda. Marilah Kanda kita berlayar bersama menuju samudra cinta penuh bahagia. Marilah Kanda kita bermain asmara merayakan kebahagian yang telah dianugerahkan oleh Dewa kepada kita berdua.”

Sang Dewi segera bangkit dari tempat duduknya, dilepasnya selendang sutra kuning  yang melingkar di lehernya, sehingga Kamandaka bisa melihat leher putih terlilit seuntai kalung emas yang berkilauan tertimpa cahaya redup di dalam kamar.

“Terimalah selendang sutra kuning ini, Kanda Kamandaka. Bawalah ia beserta Kanda bila besok Kanda akan kembali ke Pajajaran. Anggap saja selendang kuning ini sebagai wakil aku,” ujar Sang Dewi sambil mengulurkan selendang sutra kuning kepada Kamandaka.

Tentu saja Kamandaka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Pergelangan tangan Sang Dewi yang berhiaskan sepasang gelang emas itu segera ditarik ke arahnya. Sesaat kemudian, Sang Dewi sudah jatuh di atas pangkuan Kamandaka, yang segera menghujaninya dengan ciuman dan pelukan kepada  gadis pujaan yang dirindukannya siang malam itu. Itulah ciuman dan pelukan yang baru pertama kali dirasakan Sang Dewi dari seorang pria. Sang Dewi segera merasakan betapa indahnya ciuman dan pelukan yang membuat jantungnya berdebar-debar dan api asmaranya mulai tersulut berkobar-kobar.

“Biyung Emban!” Sang Dewi memanggil Khandegwilis. “Biyung Emban, siapkan tempat tidurku dan jadikan semacam ranjang pengantin. Aku ingin bermain asmara dengan Kanda Kamandaka di atas tempat tidur. Jangan terlalu lama, Biyung Emban,”  ujar  Sang Dewi seraya melepaskan diri dari pelukan Kamandaka.
“Baik, Ndara Putri.“ 

Khandegwilis dengan cekatan membereskan dan merapikan tempat tidur Sang Dewi. Emban itu pun memberinya aneka macam pengharum ruangan yang menyegarkan. Beberapa kuntum kembang melati disebarkan di atas sprei tempat tidur Sang Dewi. Sementara itu, selendang sutra kuning yang ada di tangan Sang Dewi ditinggalkan di pangkuan Kamandaka. Kamandaka meraih selendang sutra kuning yang halus dan lembut itu dan menciuminya beberapa kali. 

Kini Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa yang mulai terbakar api asmara itu berdiri di depan Kamandaka. Dilepasnya baju yang menutupi punggung dan dadanya, sehingga Kamandaka seakan-akan meyaksikan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan. Punggung dan dada Sang Dewi tampak putih bersih berkilat-kilat bak pualam, belahan dadanya tampak jelas. Kain sutra hijau yang menghiasi dada Sang Dewi pun sudah dilepasnya. Yang tersisa tinggal korset berwarna hitam yang terikat erat melindungi kedua payudaranya yang indah itu, serta sabuk panjang berwarna merah berlapis kuning emas mengikat kain yang melilit pinggang Sang Dewi. Jika Sang Dewi terus melepas apa pun yang melekat pada tubuhnya, niscaya Kamandaka akan menyaksikan kecantikan dan keindahan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Sebuah keindahan alami bidadari tanpa selembar benang pun menutupi tubuhnya, bak patung pualam bercahaya yang bisa bergerak yang akan membakar api asmara para ksatria dan brahmana di mana saja. 

“Ndara Putri, tempat peraduan sudah siap,“ Khandegwilis memberitahu Ndara Putrinya.

“Baiklah, Biyung Emban. Sekarang Biyung Emban jaga di depan pintu. Tolong bantu aku, jika nanti Kanda Kamandaka kesulitan tidak bisa membuka tali pengikat korset yang ada di punggungku dan membuka tali pengikat sabuk yang melilit pinggangku.”

“Siap, Ndara Putri.“  Khandegwilis segera menjauh mengikuti perintah Ndara Putrinya.

“Kanda Kamandaka, marilah Kanda, ranjang pengantin telah siap. Bawa aku ke sana, Kanda.”

Kamandaka yang juga tengah diamuk badai asmara itu, kembali memeluk tubuh Sang Dewi. Dengan mudah diangkatnya tubuh Sang Dewi dan dibawanya ke tepi ranjang, kemudian dibaringkannya di atas ranjang pengantin. Tak lama kemudian Kamandaka menyusul naik ke atas ranjang, lalu berbaring di samping Sang Dewi. Kembali Kamandaka memeluk dan menghujaninya dengan ciuman, yang membuat Sang Dewi terengah-engah ingin terus mendaki ke puncak bukit cinta.

“Kanda Kamandaka, bukalah tali pengikat korset yang ada di punggung, dan tali pengikat sabuk yang melilit di pinggangku.” Sang Dewi memerintah Kamandaka, sambil memunggunginya. 

“Aduh, Dinda Dewi, belahan sukmaku. Bagaimana mungkin aku bisa membuka tali ikatan korset dan tali pengikat sabuk Dinda? Aku seumur hidup belum pernah menikah dan tidur seranjang dengan seorang gadis. Para Dewa menjadi saksinya, Dinda Dewi.”

Sang Dewi diam sesaat, kemudian membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba air mata Sang Dewi meluncur satu per satu menuruni dinding pipinya yang halus. Sang Dewi menangis terharu karena dia merasa bahagia dan bangga. Dipeluknya Kamandaka dan diciuminya beberapa kali. 

“Dinda Dewi, kenapa Dinda tiba-tiba menangis?”

“Aku menangis bukan karena sedih, Kanda. Tetapi karena aku bangga pada Kanda. Kanda tidak bisa membuka tali dengan ikatan rahasia pada punggung dan pinggangku, itu suatu petunjuk Kanda seorang ksatria yang belum pernah bersentuhan dengan wanita bangsawan manapun. Aku bangga karena menjadi gadis cinta pertama Kanda. Gadis yang pertama kali disentuh,  dicium, dan dipeluk oleh Kanda.”

“Betul sekali, Dinda Dewi. Bagaimana cara membuka tali ikatan pada punggung dan pinggang Dinda?”

“Kanda Kamandaka. Kedua ikatan itu sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga kesucian gadis para bangsawan yang dipingit. Tujuannya agar kesucian gadis yang dipingit itu tetap utuh, tidak dirusak lelaki yang tidak bertanggung jawab. Hanya ada dua cara membukanya, Kanda. Pertama, dengan bantuan Emban Khandegwilis. Kedua, Kanda potong tali-tali pengikat itu dengan menggunakan pisau pemotong. Mana yang lebih Kanda sukai?”

“Aku tidak sampai hati jika harus menggunakan pisau pemotong, Dinda Dewi. Lagi pula aku masih ragu. Betapa aku ingin bersama Dinda naik ke bukit cinta, tetapi kita belum melewati ritual perkawinan yang mendapatkan restu dari orang tua. Aku pun belum melakukan lamaran secara resmi,” ujar Kamandaka. 

Entah mengapa tiba-tiba Kamandaka ingat kisah dua Resi yang mendapat kutukan Dewa, karena tergoda nafsu birahi terhadap wanita. Kedua ceritera itu, tiba-tiba menjadi semacam rem pengendali tenaga asmaranya yang hampir meledak-ledak. Orang yang dimabuk asmara, terkadang memang sering sekali kehilangan akal sehatnya. Maka berkisahlah Kamandaka tentang Resi Wisrawa dan Resi Wismamitra kepada Sang Dewi. Sebuah kisah yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lalu dari seorang brahmana yang mendirikan sebuah padepokan di kaki Gunung Salak, tidak jauh dari Keraton Pajajaran.

Dahulu para Dewa, demikian Kamandaka bercerita kepada Sang Dewi yang berbaring di sampingnya, mengutuk Resi Wisrawa karena tanpa restu orang tua sang gadis, telah melakukan perkawinan dengan Dewi Sukaesih, Putri cantik jelita Prabu Somali dari Alengka. Demikian pula Resi Wismamitra, gagal menjalankan tapa brata, karena tergoda bidadari cantik, akhirnya mendapat kutukan Dewa pula. Baik Resi Wisrawa maupun Resi Wismamitra sama-sama tergoda wanita cantik dan sama-sama melakukan hubungan badan tanpa melewati ritual perkawinan sebagaimana ditentukan oleh undang-undang agama. Kedua resi itu pun sama-sama kehilangan akal sehatnya, gara-gara diamuk nafsu birahi yang tak terkendali.

Resi Wisrawa tergoda kecantikan Dewi Sukaesih yang seharusnya dilamar untuk anaknya. Tetapi malah dinikah untuk dirinya sendiri. Sedangkan Resi Wismamitra, tergoda oleh kemolekan Maneka Dewi, seorang bidadari penggoda. Sang Maneka Dewi sengaja memamerkan kemolekan tubuhnya di depan Sang Resi dengan membiarkan Dewa Angin melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada dirinya. Sang Maneka Dewi tanpa selembar benang pun, merintih pura-pura merasa malu. Tetapi sebenarnya sedang memperlihatkan keindahan tubuh moleknya yang nyaris telanjang itu di depan Sang Resi yang tengah bersamadi. Sang Resi terbakar oleh nafsu birahi yang menggelegak. Dia akhirnya gagal melakukan samadhi. Hari-hari di pertapaan dihabiskannya dengan bermain cinta bersama Maneka Dewi. Akhirnya Maneka Dewi, bidadari yang cantik jelita itu hamil, mengandung anak buah cintanya dengan Resi Wismamitra. 

“Aku khawatir, para Dewa akan mengutuk kita, seperti kutukan yang telah dijatuhkan kepada kedua resi itu, Dinda Dewi,” ujar Kamandaka.

Sang Dewi tersenyum mendengar kisah menarik yang juga pernah dibacanya dari rontal yang ada di kamar Kanjeng Adipati. “Kanda lupa,” ujar Sang Dewi menanggapi Kamandaka. ”Aku  pernah baca kisah kedua resi itu di dalam rontal. Kedua resi itu adalah seorang brahmana yang memang sudah bersumpah untuk meninggalkan harta, tahta, dan wanita. Tentu saja Dewa mengutuknya, karena kedua resi itu telah melanggar janji dan sumpahnya sendiri. Lain dengan Kanda. Kanda bukanlah seorang brahmana. Kanda adalah seorang ksatria yang diperkenankan oleh undang-undang agama kita, memilih salah satu cara dari delapan cara perkawinan. Sumpah setia Kanda kepadaku dan sebaliknya, sumpah setiaku kepada Kanda, sudah cukup untuk mengukuhkan hubungan kita sebagai pasangan suami istri. Ritual perkawinan bisa menyusul menunggu restu orang tua.”

“Kanda Kamandaka, kenapa tiba-tiba Kanda seperti kehilangan keberanian seorang ksatria untuk mengatasi tantangan, betapapun sulit dan rumitnya?” tanya  Sang Dewi pula. ”Kanda sudah berani menerobos rintangan masuk demi untuk bertemu dengan aku. Kanda pun sudah mengucapkan sumpah setia kepada aku. Kanda sudah memeluk, mencium, dan mencumbu aku. Bahkan Kanda pun sudah melamar secara pribadi langsung padaku.” 

“Kini, tiba-tiba Kanda hendak mengundurkan diri, meninggalkan aku yang tengah didera kerinduan? Padahal semuanya berawal dari Kanda. Bukankah Kanda yang memulainya dengan membuka simpul-simpul tenaga cinta yang tiba-tiba bergolak di dalam dada aku? Ibaratnya Kanda mau berlayar, perahu di tepi telaga sudah menunggu. Tali-tali pengikat sudah dilepas. Ombak, angin, dan bintang-bintang di langit pun sudah siap membawa Kanda berlayar mengarungi telaga cinta. Tetapi Kanda malah termangu-mangu diamuk ragu dan bimbang.”

“Ombak samudra, tidak selamanya pasang, Kanda! Sekarang Kanda boleh pilih, Kanda mengkhianati janji cinta yang telah Kanda ucapkan, ataukah melanjutkan perjalanan cinta malam ini sampai ke puncak bukit cinta?“

Kamandaka terdiam seketika. Dia merasa serba salah. Kini harga dirinya sebagai seorang ksatria dalam urusan wanita mendapat tantangan. Haruskah dirinya meladeni tantangan yang menggairahkan itu? Kamandaka memilih menghindarinya dengan cara yang amat halus.

“Maafkan aku, Dinda Dewi,” ujar Kamandaka. “Tidak ada niat untuk mengkhianai kesetiaan. Aku akan tetap setia kepada Dinda sampai ajal menjemput aku. Aku hanya ingin menunda saja, sampai restu dari orang tua bisa kita peroleh. Betul pendapat Dinda. Sebagai ksatria aku dibolehkan oleh undang-undang agama kita memilih salah satu dari delapan cara perkawinan. Kita sudah boleh melakukan permainan asmara sampai ke puncak bukit cinta. Tetapi perkawinan dengan restu orang tua selalu lebih utama dan lebih baik.” 

“Menunda itu tanda dari orang yang tak berani menanggung risiko. Aku sudah melangkah. Tak ada jalan mundur. Berlayarlah ketika ombak sedang pasang, Kanda. Sebab, jika Kanda akan berlayar ketika ombak sedang surut, Kanda pastilah akan kandas,” kata Sang Dewi,   semakin tidak sabar terbakar api asmara yang telah memuncak.

“Ayohlah Kanda, bawa aku berlayar ke tengah telaga cinta. Buktikan bahwa Kanda adalah seorang pria dan ksatria sejati. Jangan khawatir Kanda, Emban Khandegwilis bisa dijadikan saksi kesucianku. Dia sudah berpengalaman memberikan bantuan mengantarkan kakak-kakak ku melewati malam-malam pengantin yang terkadang sulit bagi setiap gadis yang dipingit dengan ketat. Kita bisa meminta bantuannya,” berkata demikian Sang Dewi segera memanggil Khandegwilis yang dari tadi menunggu di depan pintu.

“Biyung Emban, ke sini sebentar,“ panggil Sang Dewi. Khandegwilis segera masuk, terdengar langkah-langkahnya mendekati tempat peraduan. “Biyung Emban, Kanda Kamandaka hendak menyempurnakan ritual perkawinan malam ini juga dengan aku. Kanda Kamandaka belum berpengalaman membuka tali pengikat korset di punggungku dan tali pengikat sabukku. Bantulah aku, Biyung Emban.” 

“Jika memang Ndara Putri sudah mantap di dalam hati, semoga mendapat perkenan para Dewa. Ndara Putri, mari Biyung Emban bantu melepaskan tali-tali pengikat.”

Sang Dewi segera turun dari tempat peraduan, tangan trampil Khandegwilis cepat bekerja melepas tali pengikat korset pelindung dada Sang Dewi dan tali pengikat sabuk yang melilit pinggang Sang Dewi. Dengan dua kali sentakan, lepaslah tali-tali pengikat itu.

“Silahkan, Ndara Putri. Tali-tali pengikat sudah Biyung Emban lepas,“ kata Khandegwilis. Setelah berkata demikian, Khandegwilis pelan-pelan melangkah mundur menjauh dan kembali dia menunggu di luar pintu masuk.

“Kanda Kamandaka, kini kewajiban Kanda meneruskan pekerjaan Biyung Emban yang belum selesai.”(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar