Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Tampilkan postingan dengan label Ceritera Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritera Pendek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2016

Cerpen Lembah Serayu (09) : SELENDANG MERAH





 “Aku siap melahirkan anak-anakku yang ke dua, ketiga, bahkan ke empat atau ke berapa saja asal itu anakmu. Aku ingin anak-anakku tidak jadi orang miskin seperti kita dulu.”


Ya, seperti juga kelahiran, kemiskinan, kekayaan, jodoh dan kematian, sesungguhnya semua itu merupakan misteri kehidupan. Manusia tidak pernah tahu, seperti juga lelaki itu tidak pernah tahu, mengapa dulu  dia  sering cemburu kepada seorang gadis teman sekolah di desanya yang dicintainya?  Bisa jadi karena itu, kerinduannya kepada gadis itu selalu  berulang kali muncul dalam khayalnya?


Malam itu dia menemui mantan kekasihnya yang baru pulang dari Jakarta setelah lima tahun merantau. Mantan kekasihnya itu sudah jadi orang kaya di desanya. Setelah berjalan menembus kegelapan malam, sampailah lelaki itu didepan sebuah rumah yang cukup bagus yang tentu saja telah dikenalnya.


Lelaki itu  berdiri sebentar di depan rumah itu. Dia melihat ke sekelilingnya. Setelah merasa puas barulah lelaki itu mendorong pintu pagar yang menimbulkan suara berderit. Lalu lelaki itu  melangkah masuk melewati pintu pagar halaman rumah.


 Kini lelaki itu berdiri di depan pintu. Tetapi ketika dia akan mengetuk daun pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Rupanya penghuni rumah mendengar suaru pintu pagar yang terbuka, sehingga penghuni rumah buru-buru membukakan pintu, karena ingin menyambut tamunya.


Seorang wanita cantik berkulit kuning, dalam balutan baju berwarna hitam, dengan selendang berwarna merah yang dijadikan syal meliliti lehernya, menyembul dari balik pintu. Keduanya bukan hanya bersalaman. Tetapi saling berpelukan.


“Kopi atau teh, Kang Pono ?” tanya Kedasih, setelah lelaki itu  masuk dan duduk di atas kursi di ruang tamu rumah wanita itu. Kedasih lalu menghilang sejenak di balik pintu ruang tengah. Dengan cekatan, sebuah baki berisi segelas kopi sudah tersaji di depan Pono, lelaki yang sedang bertamu itu..


“Sendirian saja ?” tanya Pono. Kedasih  hanya menjawab dengan senyum.


”Engkau  masih suka merokok?” tanya Pono.


“Kadang-kadang,” jawab Kedasih, sambil duduk di samping Pono. Lima tahun berpisah tentu menjadikan masing-masing kaya dengan pengalamannya sendiri-sendiri. Lima tahun berpisah juga telah merubah posisi social ekonomi hasil dari perjuangan masing-masing di dalam mengatasi tantangan alam dan jaman. Alam pedesaan. Tentu berbeda dengan alam ibu kota yang merupakan kota metropolitan.


Ingatan lelaki itu terbang menjemput masa lalu. Dan lelaki itu selalu ingat kata-kata yang dulu pernah diucapkan kepada gadis yang dicintainya itu.


“Jika aku kaya, engkau seharusnya memang sudah jadi istriku,” kata Pono. Mendengar kata-kata Pono,  gadis itu hanya tertawa. Sebab andaikata Pono kaya, toh pada waktu itu baru tamat SMP. Mana ada anak tamatan SMP dinikahkan oleh orang tuanya, sekalipun dia anak orang kaya?  Sekalipun begitu, gadis itu merasa senang karena kata-kata yang seolah-olah hanya omong kosong itu, merupakan bukti cinta Pono kepadanya.


Kedasih gadis teman sekolah Pono  di desanya. Kapan Pono  mulai jatuh cinta pada Kedasih,  Pono  sudah lupa. Pono  hanya ingat ketika tiba-tiba saja muncul perasaan aneh dalam dirinya. Pono selalu  merasa gelisah bila sehari saja tidak bertemu Kedasih. Lalu wajah Pono  sering kali  menjadi pucat, jika melihat Kedasih berbincang-bincang dengan lelaki lain. Itukah yang namanya cemburu? 


Keduanya sama-sama anak petani miskin di desa mereka. Mungkin karena sama-sama miskin, Pono berani mencintai Kedasih. Tamat SMP,  Pono  memaksakan diri melanjutkan sekolah ke SMA.. Kedasih begitu tamat SMP  milih cari kerja di Jakarta, karena kebetulan ada tetangganya yang mengajaknya cari duit di Jakarta.


”Kang Pono, aku akan mengadu nasib ke Jakarta. Aku akan tetap mencintaimu. Kabari aku jika kelak kamu menikah duluan,” kata Kedasih dengan nada tanpa beban.


Itulah saat pertama kali Pono mendengar pengakuan polos Kedasih. Kata-kata Kedasih itu meluncur begitu saja dari bibir indahnya, sampai-sampai Pono ragu, apakah Kedasih tahu makna sebuah cinta? Sebab keduanya masih sangat muda untuk mengetahui hakekat cinta sejati di antara lelaki dan wanita. Orang menyebut cinta antara anak baru gede hanyalah cinta monyet. Yakni cinta ketika orang belum  bisa membedakan batas antara cinta yang didorong oleh rasa kemanusiaan dengan  cinta yang didorong oleh nafsu. Saat usia muda, batas antara keduanya sangatlah tipis dan sulit dibedakan.


 Tapi saat itu Pono nekad  meraih wajah Kedasih, lalu dipeluk dan diciumnya. Ternyata Kedasih diam saja. Pasrah. Dan itulah ciuman pertama Pono dan Pono  pun menduga itu akan menjadi ciuman  terakhir Pono kepada Kedasih.


Tetapi hidup memang punya takdir sendiri-sendir. Pono pun berpisah dengan Kedasih. Pono sempat melihat mata Kedasih  basah oleh air mata, sebelum bus Sinar Jaya  di agen pemeberhentian di kota kecamatan yang tidak jauh dari desanya dan membawa Kedasih ke Jakarta. Beberapa kali Kedasih menghapusnya dengan sapu tangan kecil berwarna biru muda. Ketika bis yang membawa Kedasih akan  berangkat Pono minta kenang-kenangan sebuah sapu tangan biru  yang basah oleh air mata Kedasih. Dengan bibir menyungging senyum, Kedasih menyerahkan sapu tangan itu kepada Pono.


“Jaga sapu tangan ini Kang Pono. Sapu tangan itu berisi air mata bukti cintaku kepadamu. Air mata cintaku semoga  menjadi pengharum sapu tangan ini,” pesan Kedasih lirih. Matanya sudah kering. Kedasih sudah mampu mengendalikan emosinya. Senyum tipisnya menghiasi bibirnya. Bibir yang pada malam hari sebelum perpisahan itu, telah bertautan dengan bibir Pono. Pono pun berjanji akan membawa saputangan warna biru muda itu, kemana saja Pono pergi.


Hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun merantau, Kedasih sudah jadi orang kaya di desanya. Sementara itu Pono baru tamat SMA dan  orang tuanya bertambah miskin karena harus menjual sepetak sawah, agar Pono bisa menyelesaikan pendidikan D1 Politeknik Komputer di Purwokerto. Tetapi selesai D1 Politeknik, Pono tetap tinggal di  kampung halamannya dan diterima bekerja jadi karyawan agen motor Jepang di  sebuah bekas kota kawedanaan tidak jauh dari desanya. Sebenarnya Pono ingin merantau ke Jakarta. Tapi ayahnya melarangnya.


Cinta Kedasih pada Pono ternyata terus berlanjut. Setiap Kedasih pulang kampung, Pono diminta menemuinya. Sepatu baru, baju baru, kaos baru yang cukup mahal, dan dua slop rokok kesukaan Pono, selalalu saja diberikan kepada Pono sebagai oleh-oleh.


Pono terkadang merasa malu pada dirinya sendiri. Dia merasa masih terus melata di lantai kemiskinan, karena penghasilannya sebagai karyawan dealer motor, masih dibawah UMR. Sementara harta Kedasih semakin jauh meninggalkan Pono. Padahal Kedasih hanya tamatan SMP.


 “Aku bekerja di klub malam, main organ, menyanyi, kadang-kadang menari menemani pengunjung sampai larut malam,” kata  Kedasih  saat menjelaskan   tempatnya bekerja di Jakarta pada Pono.


Akhirnya Pono memilih mengundurkan diri dari niatnya menikahi Kedasih. Pono merasa tidak layak jadi suami Kedasih yang sekarang jauh lebih kaya dari dirinya. Kedasih menerima pemutusan hubungannya sebagai sepasang kekasih. Tetapi Kedasih ingin tetap menjaga persahabatan di antara keduanya. Dalam benak Pono, dia  merasa Kedasih sebenarnya diam-diam masih mencintai dirinya. Dia masih saja manja kepada Pono. Setiap akan kembali ke Jakarta, bila kebetulan Kedasih baru pulang kampung  selalu saja berbisik pada Pono.


 ”Kang Pono, cium aku, dong. Engkau kan kakakku. Kapan nikah nih ?” tanya Kedasih menggoda Pono. Pono tak menjawab, tapi Pono cium juga kening Kedasih. Pono tak berani lagi  mencium bibir Kedasih, sebab Kedasih   itu sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


Lama-lama  keduanya benar-benar berpisah, sampai akhirnya Kedasih benar-benar jadi istri seorang lelaki kaya di Jakarta.


“Kang Pono, aku mau menikah. Datang ya ke Jakarta. Calon suamiku tidak mau menikah di Kalicupak. Inginnya di Jakarta.” Kedasih titip pesan pada Pono. Pono tak pernah mengenal siapa suami Kedasih. Sebab pesta perkawinanya di Jakarta. Ada undangang khusus untuk Pono, selain titip pesan lewat saudara Kedasih.


 Entah mengapa Pono malas hadir. Alasannya sederhana. Dia takut dirinya akan sakit hati bila melihat Kedasih bersanding di pelaminan dengan lelaki lain. Pono merasa tak akan tahan menanggung derita itu, sekalipun Pono sudah memutuskan hubungan percintaannya dengan Kedasih. Lagi pula Pono pun memang merasa tak perlu  mengenal siapa dan seperti apa suami Kedasih.


Beberapa waktu kemudian Pono mendengar Kedasih hamil, dan punya anak satu. Belakangan Pono tahu anak Kedasih  sudah diasuh neneknya. Sampai akhirnya pada malam itu Pono yang masih tetap membujang itu bertemu  kembali dengan Kedasih.


Tentu saja pertemuan malam itu menjadi pertemuan yang mengasyikkan. Setelah berbicara kian kemari, akhirnya Kedasih menjelaskan maksudnya malam itu mengundang Pono.


 “Kang Pono!“ ujar Kedasih tiba-tiba setelah diam beberapa saat. Kedasih  menatap Pono  dengan pandangan mata tajam yang berbinar-binar dari bola matanya yang indah.


 "Kang Pono! Aku sudah cerai dengan suamiku!” kata Kedasih,  dengan nada tegar. Kemudian kembali Kedasih menatap wajah Pono dengan tatapan  tajam. Pono, sekalipun sudah mendengar berita perceraian Kedasih dengan suaminya, dia  pura-pura terkejut.


“Cerai? Kasihan anakmu. Sekecil dia  sudah harus berpisah dengan Bapaknya?”  kata Pono dengan nada simpati..


“Ya, justru  itulah. Aku perlu bapak pengganti anakku! Bisa bantu?” kata Kedasih tanpa basa basi. .”Aku tak mau sakit hati jika terus-menerus jadi istri ke-empat. Aku hanya ingin jadi istri pertama. Dan itu hanya mungkin jika kamu mau menolongku,” kata Kedasih melanjutkan. Lingkungan pergaulannya  dengan budaya kota, menyebabkan cara bicara Kedasih sudah jauh berbeda dengan saat dia masih anak desa yang lugu dan malu-malu. Sekarang apa yang dia inginkan langsung diutarakannya tanpa basa-basi.

  
“Besok kita pergi ke KUA, nikahi aku! Mau tidak ?” kata Kedasih pula, meluncur bagaikan butiran peluru yang langsung ditembakkan kepada Pono.


“Aku siap melahirkan anak-anakku yang ke dua, ketiga, bahkan ke empat atau ke berapa saja asal itu anakmu. Aku ingin anak-anakku tidak jadi orang miskin seperti kita dulu. Aku ingin anak-anakku kelak  bisa menyelesaikan pendidikan sampai sarjana. Aku orangnya tak mau bertele-tele. Silahkan pertimbangkan. Kuberi waktu sepuluh menit untuk mengambil keputusan!” Setelah berkata demikian Kedasih berdiri, hendak meninggalkan  Pono agar  Pono dapat berpikir untuk mengambil keputusan.


Entah mengapa tiba-tiba  Pono merasa iba dan tak ingin lama-lama berpikir. Sebelum Kedasih beranjak menjauh, Pono sudah meraih tangan Kedasih. Ditariknya tangan Kedasih  ke arah Pono,  hingga keduanya jatuh bersama-sama di atas kursi panjang di ruang tamu itu. Pono cepat memeluk Kedasih. Diciumnya bibir dan pipi Kedasih. Pono membisikkan kata-kata lembut di telinga Kedasih.


 ”Kedasih, aku setuju! Apa pun keadaanmu,  aku ingin  kita  terus bersama, bukan?”


Kedasih tidak menjawab. Tetapi dia  mengaggukkan  wajah dengan perasaan riang dan senang. Malam itu Kedasih merasa sangat bahagia. Pono ternyata mau menerima dirinya dengan apa adanya. Api asmara yang sempat meredup dan hamper padam, ternyata mulai menyala kembali.


 Esok harinya keduanya segera mengurus surat-surat. Beberapa hari kemudian Kedasih dan Pono benar-benar melakukan pernikahan di KUA.  Sengaja semuanya dilakukan secara sederhana. Bagi Kedasih yang akan memulai hidup di kampung kembali, status menjadi janda cantik dan kaya sangat mengganggunya. Dapat dipastikan akan banyak pria yang ingin melamarnya. Apalagi Kedasih memang gadis yang cantik alami. Dengan sentuhan kosmetik kecantikan sedikit saja, sudah akan membuat dirinya tampak cantik,jelita dan anggun. Dengan cepat memilki suami kembali, Kedasih merasa punya seorang lelaki yang akan selalu menjaga dan melindungi dirinya.


“Soal pesta, bisa belakangan,saja,” kata Kedasih memutuskan. Dan Pono pun setuju.


Malamnya usai pernikahan, untuk pertama kalinya  Pono tidur berdua di kamar Kedasih yang disulap jadi kamar pengantin sederhana. Lamat-lamat Kedasih membisikkan sesuatu di teling Pono sambil minta supaya  Pono memeluknya.


”Kang Pono,besok daftar kuliah lagi saja. Lanjutkan kuliah sampai selesai S1. Di Purwokerto banyak Perguruan Tinggi yang membuka program klas karyawan, bukan? Jangan kalah dengan anak-anak kita kelak. Aku sudah siapkan dananya. ”


 Pono memang hanyalah jebolan D1 Komputer, yang terpuruk jadi pekerja dealer penjulan motor dengan gajih masih dibawah UMR. Tetapi Kedasih, istrinya sudah punya banyak sawah di kampungnya yang cukup untuk membangun rumah tangga yang sejahtera bersama Pono. Pono pun gembira punya istri cantik. Lagi pula masih bisa melanjutkan kuliah  sambil bekerja mengurus sawah istinya yang luas. Pekerjaannya sebagai operator computer di Perusahaan Dealer Motor, ditinggalkannya. Malam itu  Pono melewati malam yang indah bersama Kedasih, istri tercintanya.[]

Kalibagor,24 -12-2014.

                                         




Cerpen Lembah Serayu (08) : SEJENGKAL TANAH MERAH




 “Mas, bila tidak sibuk pulanglah. Ibu sakit keras.,” tulis sebuah pesan lewat sms. Hanya singkat memang, tetapi  itu sudah cukup membuat  lelaki itu menarik nafas panjang. Kematian sering datang tidak terduga. Tetapi sebahagia apakah dirinya sebenarnya jika wanita itu dulu benar-benar jadi istrinya?  Tiba-tiba seberkas kenangan lama yang telah terpendam dan lenyap dari alam sadarnya, sepertinya menyeruak kembali membentuk bayangan-bayangan masa lalu di ujung pelupuk matanya.


“Gus, Ayu cantik bukan? Mbakyu Lurah ingin engkau kelak jadi suami pendamping Ayu. Ibu sih setuju sekali,”  Itu kisah dua puluh lima tahun yang lalu, ketika ibunya dengan wajah ceria dengan tidak sabar memberitahukan kepadanya. Hem, pulang kampung mau menikmati liburan semester, malah ditawari supaya cepat-cepat kawin, kata lelaki itu dalam benaknya saat itu.


Ayu memang semakin cantik saja. Lelaki itu setuju saja dengan keinginan ibunya.Siapa sih yang tidak mau jadi pendamping Ayu? Bagaimanapun Ayu adalah kembang tercantik di desanya. Tetapi ternyata takdir kehidupan tidak harus selalu sejajar dengan keinginan. Cita-cita lelaki itu menjadi pendamping Ayu kandas di tengah jalan. Seperti rangkain gerbong kereta api yang terus berjalan, demikian pula jarum kehidupan. Dalam perjalanan macam-macam persitiwa datang silih berganti.


Ibunya sudah meninggal, lalu ayahnya menyusul. Hal yang sama dialami ayah Ayu. Bahkan  Suami Ayu, anak seorang pengusaha kaya, juga meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.


Ya, memang semua yang naik kereta api, suka atau tidak suka harus turun di tempat pemberhentian akhir. Sebab penumpang lain telah antri, untuk menempuh perjalanan yang sama. Barang siapa yang naik di stasiun pemberangkatan, dia harus turun di stasiun pemberhentian. Begitu juga manusia dalam menjalani hidup di dunia ini. Seperti penumpang kereta api. Setiap yang lahir, pasti akan mati, renung lelaki itu sambil menyuruh supir yang ada disampingnya supaya mempercepat laju kendaraannya.


Lelaki itu melihat jam pada layar hape. Waktu menunjukkan angka 20.00. Berarti sebentar lagi dia akan tiba di desa kelahirannya. Tetapi tiba-tiba supir tak bisa melaju dengan cepat . Kawasan jalan yang berkelak-kelok itu, baru saja diterjang angin puting beliung. Banyak pohon-pohon di tepi jalan yang tumbang hampir menghalangi badan jalan. Malam gelap gulita, kawasan hutan karet itu sepi. Hanya lampu mobil saja yang menjadi satu-satunya penerang. Untunglah walaupun lambat, sejumlah mobil yang melintas, bisa lewat.


Belum tengah malam memang. Hujan sudah reda. Suasana terasa asing dan sunyi senyap segera terasa. Sudah lama lelaki itu merantau meninggalkan desa tempat dia dilahirkan. Banyak hal telah berubah, bukan hanya usia manusia yang terus merangak menuju senja. Tetapi pembangunan fisik yang menjangkau sudut-sudut desa, telah banyak merubah wajah desa. Yang tidak berubah hanya satu, siklus busur kehidupan yang harus dilewati manusia dan semua yang hidup, yaitu lahir, tumbuh, berkembang dalam kehidupan di dunia, lalu mati. 


Ketika mobil terus bergerak menyusuri jalan desa, tiba-tiba dia mendengar lolong anjing liar di tempat yang jauh. Lolongan suara anjing liar itu terdengar beberapa kali memecah kesunyian malam. Dulu waktu dia masih kanak-kanak, sering mendengar orang-orang tua di desanya berceritera tetang lolongan anjing liar di tengah malam. Kata mereka, jika ada orang sakit keras di desanya, lalu anjing liar penjaga kuburan di pinggir desa itu melolong berkali-kali pada malam hari, berhati-hatilah. Konon itu pertanda gaib bahwa besoknya akan ada orang yang dikubur. Tanah merah pun harus digali sebagai terminal pemberhentian. Seolah-olah lolong anjing liar itu mengingatkan para penumpang kereta api kehidupan, agar turun, karena perjalanan sudah tiba di pemberhentian akhir.


Lamunannya soal lolongan anjing liar dekat kuburan desa, lenyap seketika saat dia turun dari mobil. Seorang wanita cantik berlari-lari menjemputnya. Ayu tetap cantik pada usianya menjelang paruh baya. Sejenak lelaki itu ragu, tetapi tiba-tiba sebuah bibir yang lembut, hinggap di kedua pipinya.


“Bagimana keadaan Ibu?” tanya lelaki itu. Yang dimaksud ibu adalah ibunya Ayu, yang dulu dipanggil Mbakyu Lurah oleh ibunya. Ayu  tak menjawab.


“Ayo kita tengok di kamar,” ajak Ayu sambil menarik lengan lelaki itu  memasuki halaman rumah Ayu. Di teras dan ruang tamu, sudah berkumpul para tetangga yang sudah tidak dikenalinya. Akhirnya, lelaki itu melihat sosok wanita tua, dengan gurat-gurat sisa-sisa kecantikan di waktu muda. Wanita tua itu sedang meregang nyawa. Nafasnya tersengal-sengal. Seorang wanita yang sedang membacakan surat Yassin menghentikan bacaannya, begitu tahu lelaki itu dan Ayu masuk ke dalam kamar.


“Ibu, ini Mas Bagus jauh-jauh dari Jakarta datang untuk menengok Ibu. Ibu sering menanyakan Mas Bagus kan?” bisik Ayu di telinga Ibunya. Aneh, wanita yang sedang meregang nyawa itu, bisa tenang seketika, seakan-akan dia mendengar kalimat-kalimat yang dibisikkan kepadanya.


“Ayo Mas, kita bacakan Surat Yassin bareng-bareng,” kata Ayu setelah melihat nafas ibunya kembali tersengal.


Lelaki itu dan Ayu duduk berdampingan berdua di depan tempat tidur, sambil melantunkan surat Yassin bersama-sama. Ajaib! Ketika pembacaan Surat Yassin baru sampai sepertiganya, wanita yang tengah meregang nyawa itu, langsung diam seketika. Ayu terkejut, tidak mengira kejadiannya begitu cepat. Ayu menangis. Dipeluknya Ibu yang pernah melahirkannya itu. Mbakyu Lurah, begitulah ibu lelaki itu dulu memanggilnya, telah sampai di terminal pemberhentian terakhir. Dia telah meninggal.


Pada esok harinya lelaki dan wanita itu, masih berdiri berdua di atas sejengkal tanah merah di tepi makam, ketika ribuan pelayat  sudah meninggalkan makam.


“Sekalipun kita gagal menjadi pasangan suami istri, tetapi pastilah Ibu di alam sana gembira, ketika Ibu mengetahui kita berdua melepas kepergiannya menghadap Sang Maha Pencipta, tadi malam” wanita itu berkata lirih dengan nada tersendat. Lelaki itu hanya mengangguk membenarkan.


“Ibu orang baik. Pelayat yang mengantarkan ke persitirahatan terakhir ribuan. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan menempatkannya di surga yang telah dijanjikan,” bisik lelaki itu sambil mendekatkan bibirnya ke teling wanita itu, sehingga lelaki itu hampir saja menciumnya. Tetapi akhirnya memang lelaki itu tidak sabar untuk tidak mencium wanita cantik yang nyaris hampir jadi istrinya itu.


Memang lelaki itu sendiri sedang dalam proses mengurus perceraian dengan istrinya yang selingkuh dengan pria yang menjadi bosnya di tempat istrinya bekerja.  Empat bulan kemudian, lelaki itu memang benar-benar menikah dengan Ayu. Mereka hidup berbahagia.[]

Kalibagor, 05-12-2015



Rabu, 22 Juni 2016

Cerpen Lembah Serayu (10 ) : HIDUPLAH INDONESIA RAYA

Model Koleksi Bapak Sunarto Harjo Suwarno-Yogyakarta

“Setega apakah sebenarnya perasaan seorang ibu, kepada bayi yang merupakan darah dagingnya sendiri, yang dengan susah payah telah dilahirkannya ketika bayi yang belum lama menghirup udara dunia, lalu ditinggalkannya begitu saja  di alam terbuka ?”


Bertahun-tahun pertanyaan itu menggoda dirinya. Terutama sejak lelaki itu tahu siapa dirinya. Ternyata tidak mudah untuk mengetahui, siapakah dirinya sendiri sebenarnya?


Di sebuah tikungan jalan yang sempit yang melewati sebuah  sekolah dasar, ada tempat pembuangan sampah dari penduduk yang menumpuk, karena truk kuning pengangkut sampah beberapa hari ini sering datang terlambat. Akibatnya sampah yang ada  makin lama makin tinggi, hingga membentuk gunungan sampah yang siap tumpah melimpah ke jalan.


Pagi itu para pemulung sudah berkerumun  berbaris siap menyerbu tumpukan sampah yang membukit. Sementara itu tidak jauh dari situ siswa-siswa SD yang berseragam putih-merah tua, juga tengah berbaris dalam upacara bendera, karena kebetulan hari itu hari Senin.Terdengar baris terakhir Lagu Indonesia Raya dinyanyikan anak-anak dengan suara lebih dikeraskan, ”Hiduplah Indonesia Raya!!!”


Lagu baris terakhir itu terdengar jauh sampai ke jalan, bahkan sampai ke tempat pembuangan sampah yang berlokasi tidak jauh dari SD itu.  Tak lama kemudian upacara selesai, siswa-siswa SD itu berlarian masuk klasnya masing-masing. Bersamaan dengan itu, para pemulung yang dari tadi juga berbaris di depan tempat pembungan sampah, ikut-ikutan berhamburan langsung beramai-ramai menyerbu gundukan sampah.


Mereka saling berebut, membongkar, menarik, membolak balik, untuk mencari botol plastik, gelas plastik,  potongan besi, paku dan benda-benda lainnya yang menurut  para pemulung itu masih dapat dimanfaatkan. Karena diaduk-aduk gunungan sampah langsung ambruk, melimpah ke jalan, membuat jalan menikung yang sudah sempit itu menjadi semakin sempit, akibatnya jalan macet.


Tak lama kemudian bau sampah dengan aroma campur aduk tidak karuan itu, mulai dari asam, anyir, amis, busuk, beterbangan kemana-mana, membumbung ke udara menunggu disebarkan angin kemana saja akan bertiup.


Sebuah sedan mercy sudah menunggu sejak tadi, terpaksa berhenti di depan gedung SD. Di belakang kemudi duduk seorang lelaki tampan didampingi seorang gadis cantik. Lelaki itu  sedih juga menyaksikan para pemulung yang sedang mengaduk-aduk tumpukan sampah. Tentu saja bau sampah yang tak sedap itu singgah juga ke hidungnya. Memang setiap dia melewati tempat itu,  bau sampah itu akan terhirup, lalu muncul pertanyaan dalam benaknya yang tak pernah mampu dijawabnya itu. Andaikata dirinya dulu dibuang ke tempat sempah, mungkin dia juga akan jadi anak pemulung.  Untunglah dulu dirinya saat masih bayi, tidak dibuang ke tempat sampah. Siapakah sebenarnya orang tua dirinya ?


Biasanya pertanyaan itu lenyap dengan sendirinya, jika mobil yang dikemudikannya itu semakin menjauhi tikungan sempit yang hampir setiap hari dilewatinya. Tapi kali ini tidak. Pertanyaan itu tetap menggantung di pikirannya. Maka dia menghimpun segala daya dan kekuatan. Membulatkan tekadnya untuk menguak misteri yang selama ini menyelimuti dirinya. Akhirnya lelaki itu punya keberanian juga untuk berkata jujur dan apa adanya pada gadis cantik yang duduk di sampingnya:


“Dahulu ketika aku baru dilahirkan, aku ditemukan di alam terbuka oleh sepasang suami istri yang  kemudian aku anggap sebagai  Ayah dan Ibuku. Engkau boleh percaya boleh tidak, tapi aku ingin jujur kepadamu.”


“Siapakah yang telah membuang kamu?” tanya gadis cantik yang duduk di sampingnya itu.


“Bisa ibu kandungku. Bisa ayahku. Bisa siapa saja yang tidak menghendaki aku lahir ke dunia ini,” jawab lelaki itu tenang.


“Jika ada orang yang tidak menghendaki kelahiranmu. Tentunya kamu sudah mati sejak dulu. Apa sih susahnya membunuh seorang bayi? Ibumu atau ayahmu bukannya tidak menghendaki kelahiranmu. Mereka hanya tidak mau merawat kamu. Tentu banyak alasan dibalik sikap yang demikian itu. Mereka berharap kamu ditemukan orang yang mau berkorban untuk merawatmu,” kata gadis itu.


“Benar juga, kata-katamu.”


Gadis itu tersenyum. Dia memuji keberanian laki-laki  itu untuk jujur kepadanya.  Dan dia malah senang mendengar pengakuan yang polos, jujur dan apa adanya dari lelaki itu. Mata gadis itu menatap lurus ke arah sampah-sampah di depannya yang sudah mulai diangkut ke dalam truk kuning pembuang sampah.


”Kamu tidak keberatan menceriterakan  riwayat kelahiranmu kepadaku?” tanya gadis itu.


“Kenapa aku harus keberatan jika kamu yang minta?” jawab laki-laki itu.


“Ceriterakanlah padaku!” gadis itu memintanya agar laki-laki itu mau menceriterakan masa lalunya.


“Siapa sebenarnya orang tuaku, aku tidak pernah tahu,” kata lelaki itu mulai menceriterakan masa lalunya tanpa beban sedikitpun.


“Menurut orang tua asuhku, aku ditemukan pada suatu pagi sebagai seorang bayi yang baru berumur dua atau tiga hari, di bawah pohon waru di tepi sebuah sungai.”


“Di tepi sungai?  Tidak di tempat pembuangan sampah?” tanya gadis itu. Lelaki itu menggeleng.


”Justru itulah aku bersyukur. Coba kalau dulu aku dibuang ke tempat sampah. Mungkin aku juga akan jadi pemulung seperti mereka itu,” kata lelaki itu sambil menunjuk para pemulung yang masih memperebutkan barang-barang bekas yang bisa mereka temukan di tempat pembuangan sampah itu.


“Mungkin saja orang tuaku masih berpikiran waras. Aku bukanlah sampah masyarakat. Makanya aku tidak dibuang ketempat sampah. Aku ditaruh di bawah pohon waru di suatu desa di Lembah Serayu sana. Tentu maksudnya agar aku ditemukan orang yang akan menyeberangi sungai. Dan orang yang menemukan aku diharapkan mau mengasuh aku.”


“Sungai apa? Sungai Serayukah?”


“Bukan Sungai Serayu. Tetapi Sungai Klawing, anak Sungai Serayu.”


“Siapa orang yang akhirnya beruntung karena menemukan kamu?”


“Aku ditemukan oleh seorang mandor tebu Pabrik Gula yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari pohon waru besar itu yang tumbuh tidak jauh dari tepi sungai. Dia itulah yang kemudian menjadi orang tua asuhku.”


“Punya anak orang tua asuhmu?”


“Punya. Dua orang perempuan. Karena tak punya anak laki-laki, mereka senang sekali menemukan aku. Konon waktu bayi  tubuhku kuat, sehat, bersih, montok pula. Hal itu menunjukkan ibuku dan ayahku sebenarnya bukan orang miskin.  Bersama diriku disertakan juga amplop bersisi uang dan gelang emas 25 gram. Mungkin dimaksudkan sebagai bonus kepada orang yang mau mengasuhku,” kata lelaki itu.


“Riwayatmu semakin menarik saja,” kata gadis itu.


“Apakah kamu  dendam pada Ibu yang melahirkanmu?” gadis itu bertanya lagi.


“Aku tidak mungkin dendam padanya. Paling banter hanya menyesalkan saja. Tapi, yah sudahlah. Aku yakin, dia pun sudah terhukum sendiri oleh perasaan bersalah yang pasti akan selalu menghantuinya. Aku sudah memaafkannya. Pastilah ada sesuatu alasan dibalik tindakannya itu. Jadi buat apa dendam?”


“Tentu Ibu yang melahirkanmu akan bangga bila dia tahu putra yang dibuangnya saat bayi, ternyata bisa menjadi lulusan terbaik Fakultas Kedokteran dari Universitas kita. Pernah ada usaha mencari ibu yang melahirkanmu?” gadis itu bertanya lagi yang dijawab oleh lelaki itu dengan menggeleng pelan. Lelaki itu memang lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Negeri di Kota itu. Gadis cantik yang duduk disampingnya seorang Sarjana Hukum, bekerja di kantor notaris. Kini sedang menyelesaikan S2 Notaris. Keduanya bertemu karena sama-sama aktivis LSM yang peduli pada masalah-masalah  lingkungan hidup.


“Ayah angkatku, menduga ibuku tinggal di Bandung. Makanya menyuruh aku sekolah di Bandung saja. Harapannya, siapa tahu Tuhan kelak akan mempertemukan aku dengan ibuku.”


“Dari mana orang tua asuhmu tahu kalau ibumu tinggal di Bandung?”


“Gelang emas yang disertakan ketika aku ditemukan, dilengkapi faktur pembelian. Sebuah toko emas di Kiaracondong,” jawab lelaki itu.


“Pernah menghubungi toko emas itu?”


“Pernah. Sayang toko emas tidak punya data nama pembeli, karena sudah sangat lama. Aku sekarang 25 tahun. Toko emas penjual tidak menyimpan duplikatnya. Padahal kalau menyimpan duplikat fakturnya, bisa dilacak siapa pembelinya. Memang sangat aku sesalkan. Undang-undang arsip kan menentukan batas waktu lama penyimpanan dokumen 30 tahun. Tapi sudahlah. Takdirku mungkin harus demikian,” kata lelaki itu pasrah.


“Aku yakin ibumu atau ayahmu bukan orang biasa saja. Dia pastilah berasal dari golongan klas menengah ke atas. Aku dapat pastikan Ibumu atau ayahmu pasti orang-orang yang cerdas. Kamu mewarisi bakat kecerdasan dari mereka. Kalau tidak ibumu, ya bapakmu. Yang menimbulkan tanda Tanya sebenarnya motif dan kejadian luar biasa apakah yang menyebabkan ayahmu atau ibumu sampai hati membuang kamu di tempat yang begitu jauh. Berapa kilo meter jaraknya dari sini?”


“Semuanya memang serba membingungkan. Sebuah misteri dan penuh teka teki. Jarak Bandung sampai  Purwokerto sekitar 300 kilometer.”


“Kalau pakai kendaraan umu, kendaraan apa yang bisa sampai ke desa masa kecilmu?”


“Kalau pakai bis umum atau kereta api ganti dua atau tiga kali. Tapi kalau pakai travel seperti Pamitran, bisa langsung ke rumahku.”


“Aku ingin suatu saat kamu mengajak aku mengenalkan dengan orang tua asuhmu. Tapi jangan pakai kendaraan pribadi,” kata gadis itu.


“Pakai bus? Apa mau pakai kereta api?”


‘Inginya pakai travel saja.Apa tadi nama travelnya?”


“Ya banyak sih. Tapi langganan yang biasa aku pakai travel Pamitran.”


“Kapan?”


“Serius nih?” tantang laki-laki itu.


“Sabtu dan Minggu aku libur!”


“Okey, kalau begitu kita berangkat Jum’at malam, ya. Hari ini aku pesankan dua tiket. Satu Taman Rafflesia. Satunya lagi Palem Permai” kata lelaki itu.


 Sesungguhnya di dalam relung hatinya, semula lelaki itu takut kehilangan gadis yang dicintainya. Dia menduga gadis cantik yang duduk disampingnya itu akan segera meninggalkannya setelah gadis itu tahu masa lalunya.Ternyata dugaannya meleset.


 “Kenapa engkau tak punyai keberanian menciumku?” tanya gadis itu tiba-tiba, membuat lelaki itu kebingungan.


 “Terus terang aku takut engkau tak suka pada masa laluku  yang serba tidak jelas,“ kata lelaki itu. Gadis yang ada di sampingnya itu kembali tersenyum. Dia bisa memahami alasan lelaki itu.


Secepat kilat dokter muda yang tampan itu memeluk gadis yang sedang duduk disampingnya. Kemudian  bibirnya mendarat di pipi, di dahi, akhirnya kedua bibir itu bertautan beberapa saat.


Itulah ciuman pertama mereka berdua yang membuat nafas keduanya saling berkejaran. Juga ciuman pertama  setelah berhubungan serius hampir satu tahun.


Ketika keduanya masih terkejut  dengan sensasi aneh yang merayapi sekujur tubuhnya itu, lelaki itu mendengar gadis cantik itu berbisik lembut:


“Masa lalu, biarlah berlalu. Yang lebih penting adalah masa depan yang harus bisa kita jadikan milik kita bersama yang paling indah.” Suara bisikan  gadis cantik dan cerdas itu membuat dokter muda itu bangga dan terharu.Tapi tiba-tiba ponsel lelaki itu berbunyi. Terdengar suara dari seberang sana.


“Kita ditunggu Bapak Walikota. Proposal dari LSM  kita untuk mengatasi masalah sampah di kota ini di setujui Dewan. Yuk kita cepat kesana!!!” ujar dokter muda itu sambil bergegas menghidupkan mesin mobil mercynya. Mobil pun segera bergerak meninggalkan tikungan sempit itu.


Dalam proposal kedua pasangan aktivis itu menulis antara lain sebagai berikut, ”Kota ini bukanlah kota sampah, karenanya tak layak jika sampai sampah-sampah kota berserakan di sudut-sudut kota, terlalu lama menunggu di tempat-tempat pembuangan sampah. Karena, bukan hanya sampah, bahkan bayi yang baru lahir yang bernasib malang karena  tak dikehendaki orang tuanya, bisa saja dibuang di tempat pembuangan sampah. Tempat-tempat itu harus segera diubah jadi taman-taman bunga yang indah yang menjadi penghias sudut-sudut kota kita tercinta. Sampah bisa di kelola secara daur ulang. Lakukan edukasi warga, dan ikut sertakan para pemulung dalam proses daur ulang sampah ”[]

Kalibagor,23-12-2014.