Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2016

Silaturahmi Wong Banyumas Yang Bermukim di Bandung



Dr.Setyanto, MA, Ketua Yayasan Serulingmas Cabang Bandung dalam kata sambutannya pada acara Silaturahmi Hahal Bil Halal 1437 H, tanggal 6 Agustus 2016 di GOR Pussenkav, Jl.Gatot Subroto Bandung, menjelaskan bahwa kehadiran Wong Banyumas di Bandung dan sekitranya, tidak pernah merepotkan Walikota Bandung, Walikota Cimahi, maupun Bupati Kabupaten Bandung. Bahkan Wong Banyumas banyak memberikan kontribusi ikut memajukan Bandung dan sekitarnya. Banyak di antara mereka yang sukses jadi pengusaha sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi warga Bandung dan sekitranya.


“Orang Banyumas yang merantau kemana-mana, selalu memegang semboyang dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata Dr.Setyanto,MA, Putra Banyumas yang pernah menjadi Direktur Utama PT.Telkom dan sukses mengantarkan PT.Telkom go publik pada masa Orde Baru. Kini beliau menjadi Dosen Pasca Sarjana UNPAD.


Acara dimeriahkan dengan pentas wayang semalam suntuk dengan kolaborasi dua dalang, yakni dalang wayang kulit Ki Sarwo dari Sidareja dan dalang wayang golek Ki Riswa dari Padepokan Wayang Golek Giriharja 3. Ki Dalang Sarwo membawakan lakon Bima Nagih Janji. Sekalipun Ki Riswa hanya tampil pada adegan limbukan, tetapi mampu mengocok perut penonton yang sebagian besar adalah wong Banyumas yang bermukim di Bandung dan tergabung ke dalam banyak paguyuban wong Banyumas. 


Misalnya Paguyuban Sidareja, Paguyuban Rangkul Kroya, Paguyuban Linggamas, Paguyuban Tomboati, Asmari, dan Paguyuban Tirta Kencana Tunggal (TKT). TKT merupakan Paguyuban Wong Banyumas yang paling tua, karena sudah hadir di Bandung pada tahun 1932 M! Dulu Paguyuban TKT dimotori Wong Banyumas yang meniti karir di lingkungan TNI dan POLRI. Sekarang ketuanya, Dr.Ir.Kabul Sarwoto.Sebelumnya adalah Mayjen.Purn.Sugito alm. Pak Setyanto alumni SMA N 1 Purwokerto, Pak Kabul dan Pak Sugito Alm, adalah alumni SMAN 2 Purwokerto.


Selain Wong Banyumas juga hadir Paguyuban Pamanjawi, dan Paguyuban Supplier Kueh Karya Usaha Mandiri. Paguyuban Pamanjawi sebagian besar anggotanya  adalah orang Madiun, Ngawi, Ponorogo, dan Magetan yang berdomisili di Bandung. Di dalam Paguyuban Supplier Kueh Karya Usaha Mandiri, anggotanya campuran antara wong Ngawi dan Banyumas. 


Pentas wayang dua dalang dalam rangka Silaturahmi Hahal bil halal dua dalang dimotori oleh Paguyuban Sidareja dengan mendapat bantuan dana untuk meringankan beban Panitya  dari Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi,SH. 


Ketua Panitya yang juga wakil Ketua Paguyuban Sidareja, dalam kata sambutannya disamping meyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik moril maupun materiil, juga menyatakan komitmen Wong Banyumas untuk ikut melestarikan kebudayaan warisan leluhur sebagai bagian dari usaha menjaga identitas dan jati diri, dan komitmen ikut berperan aktif memajukan lingkungan tempat berdomisili masing-masing sesuai dengan ketrampilan dan kompetensinya masing-masing. 


Sebagai warga Bandung dan Jawa Barat kami semua  telah berkomitmen teguh cekelan waton untuk selalu menjadi warga yang baik, yang akan ikut aktif berpartisipasi memajukan Bandung dan sekitarnya pada khususnya dan Jawa Barat pada umumnya, sesuai dengan kompetensi dan kemampuan masing-masing,” kata Ir.H Toyib Priyo Atmojo, Wong Banyumas yang meniti karir sebagai ahli tehnik di PT.Adikarya Bandung.


Ikut memberikan sambutan adalah Drs.Turiman Sudarjo selaku Pembina Paguyuban Sidareja. Ceramah makna halal bil halal disampaikan Ustad Abdul Kadir, Ustad kelahiran Purbalingga yang mencari rejeki dengan marantau ke Bandung.Tokoh-tokoh Wong Banyumas yang hadir, antara lain Bapak Sanen,SE, Bapak H.Sugino Atmojo, Bapak Drs.Daeng Sudirwo,MPd,dulu pada masa Orde Baru,Ketua DPRD Kota Bandung, Bapak Sugondo, inavotor bidang kesehatan, bos ATFG , Ibu Dr.Ir.Kabul Sarwoto, Ir. Adi Wijaya Supardi ,MM,MSc, dan lainnya lagi. Ikut hadir Dan Pussenkav dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Bandung. Sayang H.Itoch, matan Walikota Cimahi dan H.Dedi Mulyadi,SH Bupati Purwakarta berhalangan hadir karena kesibukannya masing-masing.





Ki Dalang Sarwo dan Ki Dalang Riswa

Ki Dalang Sarwo merupakan dalang wayang kulit dari Desa Tinggarjaya, Kecamatan Sidareja. Sudah empat kali pentas mendalang di Bandung dan sekitarnya. Dia dulu magang menjadi dalang ikut Dalang Gino dari Notog alm yang dulu beberapa kali ditanggap Yayasan Serulingmas Bandung dan TKT Bandung pada acara Silaturahmi. Di samping berguru pada Dalang Gino, Dalang Sarwo juga pernah magang pada dalang Manteb Sudarsono. Ki Dalang Sarwo memperlihatkan kemajuan setahap demi setahap dalam menggeluti profesinya. Sudah mampu membawa 9 sinden dari daerah Cilacap dan Banyumas, memiliki seperangkat gamelan dan wayang kulit, serta sejumlah niyaga yang terlatih. Konon sering pentas mendalang di Lampung yang juga banyak orang Banyumasnya di sana.

Ki Dalang Riswa merupakan dalang serba bisa. Bisa mendalang wayang kulit Banyumasan. Tetapi juga piawi memainkan wayang golek Sunda. Sering pentas di Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Ki Dalang Riswa juga sering tampil di TV Bandung dalam acara Pojok Cepot. Dia mengaku berguru wayang golek di Padepokan Giri Harja, Desa Jelekong, Kabupaten Bandung asuhan dalang kondang Ki Asep Sunandar Sunarya yang sudah almarhum. Ketrampilannya mendalang wayang golek telah membawanya jalan-jalan sampai negeri Belanda dan Suriname.


Kelebihan dalang Ki Riswa ialah lawakan-lawakannya yang berisi kritik sosial disampaikan dengan jenaka dalam bahasa Sunda yang segar. Dia juga piawi mempermainkan kata-kata. Misalnya alpukat diasosiasikan dengan alkohol.Pada kesempatan itu, Ki Dalang Riswa memainkan empat boneka tokoh wayang yaitu Cepot dan Dawala ditambah dua boneka sebagai bintang tamu. Kedua bintang tamu itu adalah pemuda dan pemudi penyanyi dangdut. Yang wanita menari gaya Inul, yang pemuda menari dengan iringan musik dangdut sambil membawa minuman, sehingga persis orang sedang mabuk akibat minuman keras. Cepot mengingatkan jangan suka mabok karena bisa ditangkap pulisi.


“Kalau aku minum tidak bakal ditangkap polisi. Sebab bukan korupsi. Kalau korupsi pasti di tangkap KPK” jawab pemuda tadi ngeyel. Dawala ganti mengingatkan. Eh, malah keduanya berjoged semakin menjadi-jadi sambil minum.


“Aku kalau minum tidak mungkin ditangkap pulisi. Sebab banyak pulisi yang malah ikut bergabung dan ikut minum,” kata Pemuda tadi.


“Kamu tidak takut ditangkap? Awas di sini ada penonton anggota Polri dan tempatnya pun di komplek Kavaleri!” Cepot kembali mengingatkan.


“Lho, yang aku minum itu bukan alkohol. Tapi jus alpuket!” jawab Pemuda tadi yang langsung bikin penonton pada tertawa ngakak.


“Sayang sekali, Mas Dalang Sarwo tidak adil,” Ki Dalang Riswa melalui tokoh Cepot mengeluh pada penonton. “ Kita Cuma diberi waktu lima belas menit!”

Penonton pun bertriak-teriak,”Terus…, terus….,”


Tokoh Dawala dengan sabar menjawab,” Udah Kang Cepot, lima belas menit tidak apa-apa. Yang penting bayarannya kan sama!” Kembali terdengar tawa penonton. Ki Dalang Riswa pun cepat-cepat meninggalkan panggung.


Keunikan lain Ki Dalang Riswa, dia pandai memainkan wayang dalam bahasa Banyumas dan Bahasa Sunda. Sebab apa? Sebab Ki Dalang Riswa ini adalah dalang wayang golek Sunda, tetapi kelahiran Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap. Kecamatan Dayeuhluhur dari segi wilayah jelas masuk Kabupaten Cilacap yang ex Karesidenan Banyumas. Tetapi dari segi budaya menganut dua budaya, yaitu Jawa dan Sunda. Ki Dalang Ruswa mungkin contoh ideal orang Banyumas yang mewarisi dua kebudayaan besar sekaligus, yaitu Budaya Jawa dan Budaya Sunda.


Sayang saya tidak sempat melakukan wawancara.  Ki Dalang Riswa yang masih muda itu keburu pulang karena ada acara lain. Saya hanya ingin tahu, apakah waktu di Suriname memainkan wayang golek ataukah  wayang kulit? Kalau wayang golek pakai basa Banyumas atau basa Sunda? 


Di Suriname, disamping ada orang Banyumas dan Jawa, juga ada orang Sundanya. Bahkan Partai Politik Orang Jawa pertama di Suriname, menurut Mbah Gogle, didirikan orang Sunda asli Tasikmalaya. Sebab orang Jawa di Suriname memang lebih banyak dari orang Sunda. 

Kolaborasi Wayang Golek Sunda dengan Wayang Kulit Banyumasan yang digagas Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi SH itu, kembali mengingatkan kita, bahwa Wong Banyumas sebagai sub etnis Jawa, sebenarnya pada waktu lampau mewarisi dua kebudayaan besar Jawa dan Sunda yang saling berinteraksi dan berakulturasi di Lembah Serayu dan Citanduy, yang telah melahirkan Wong Banymas yang unik itu.[20-08-2016]


Kamis, 28 Juli 2016

[2]Pembangunan Dengan Basis Budaya di Kabupaten Purwakarta (02 -Tamat)




 Sumber Gambar : Kang Dedi Mulyadi Tweeter.
Konon Pak Bupati jarang menerima tamu dikantornya. Beliau lebih suka menerima tamu dengan cara lesehan di ruang tamu rumah dinasnya yang hanya beberapa meter di samping kiri kantor kabupaten. Bangunan warisan Pemerintah Hindia Belanda dengan cat putih itu, memiliki teras yang disangga empat tiang persegi panjang. Pada kaki keempat tiang dihiasi dengan lukisan timbul senjata kujang warna kuning emas. Di kiri kanan jalan yang menghubungkan kantor kabupaten dan rumah dinas bupati, berdiri tiang-tiang yang di atasnya bergelantungan lampu penerangan dengan kap terbuat dari caping bambu sehingga kelihatan antik. 
 

Ruang tamu rumah Dinas Pak Bupati Purwakarta berbentuk empat persegi panjang dengan pintu masuk ke ruang dalam yang ada di tengah. Kelambu dengan corak kotak-kotak hitam putih menjadi penghias pintu masuk ke ruang dalam yang memiliki lantai lebih rendah dari pada lantai ruang tamu. Tepat di atas tengah-tengah pintu yang menghubungkan dua kelambu kotak-kotak hitam putih di kanan dan kiri pintu dipasang topeng raksasa mini dari kayu dengan wajah merah. Sepintas kilas orang akan mengira itu topeng Bali karena kelambu kotak-kotak hitam putih mengingatkan orang pada kain kotak hitam putih yang sering diikutsertakan pada upacara-upacara sesaji di Bali. Mungkin topeng raksasa berwarna merah itu simbol dari nafsu lauwamah dan sufiah pada diri manusia yang harus selalu dapat dikendalikan oleh nafsu mutmainah dan fitrah ketuhanan yang dilambangkan dengan warna putih dan hitam. Bupati H.Dedi Mulyadi, SH sendiri menafsirkan warna putih sebagai lambang air dan warna hitam sebagai lambang tanah. Perpaduan air dan tanah, mencerminkan kesuburan, kemakmuran, dan keberlimpahan. Orang Sunda bilang bumi lemah cai. 


Pada dinding kiri ruang tamu terdapat lukisan timbul berwarna kuning, sebuah lukisan kereta perang dikendarai oleh seorang ksatria yang sedang menarik busur untuk melepaskan anak panah. Di depan kereta, seorang sais sibuk mengendalikan kuda yang berlari menarik kereta perang. Mungkin ksatria yang sedang memanah itu adalah Arjuna dalam kisah Perang Bharatayudha. Kalau dalam seni pedalangan, lukisan itu menceriterakan  kisah Karno Tanding. 


Tampak dalam lukisan kuda-kuda penarik kereta dengan susah payah sedang bergerak maju. Arjuna tampak sedang menarik tali busur untuk melepaskan anak panahnya. Dalam Bhagawat Gita dikisahkan, bahwa Arjuna pada awalnya mengalami kesulitan untuk mengarahkan mata anak panah pada obyek yang menjadi titik sasaran. Obyek itu dalam pandangan Arjuna selalu berubah-rubah, sehingga membuat bingung Arjuna. Ketika Arjuna mengeluh karena tidak bisa berkonsentrasi untuk memanah obyek sasaran dengan tepat, Sri Kresna memberi nasihat agar Arjuna berkonsentrasi. Ketika Arjuna kembali berkonsentrasi, Arjuna kembali terkejut karena dia melihat pada obyek yang akan dipanah di medang perang Kurusetra itu ternyata adalah bayangan sorang ksatria yang mirip dirinya sendiri, sehingga Arjuna kembali ragu untuk melepaskan anak panahnya. Sesekali wajah Bhisma dan Drona juga muncul menggantikan bayangan ksatria yang mirip dirinya itu.


“Bagaimanakah hamba harus berpanah-panahan dengan Bhisma dan Drona, ya Pembunuh Madhu. Karena keduanya itu mulia. Sebab terlebih baik jangan membunuh Guru-guru yang maha kuasa itu, walaupun kita makan nasi dalam dunia yang dipintal ini. Tetapi dari sebab membunuh guru-guru yang mengingini kesejahteraan itu, termasuk hambalah makanan yang dicemari darah. Dan hati hamba ini telah dikenai dosa kelemahan.Tiadalah hamba ini hendak berperang,” Arjuna mengendorkan tali busurnya.  Hampir saja Arjuna mogok menolak untuk berperang. 


Kemudian Arjuna memohon pencerahan kepada Sri Kresna. “Dengan hati yang tiada tetap pada dharma, bertanyalah hamba kepada tuan. Apakah yang sebenarnya terjadi pada hamba? Katakanlah dengan terang. Hamba murid tuan. Ajarilah hamba. Inilah permohonan hamba,”


Sri Kresna tersenyum, dan berkata kepada Arjuna. “Petemuan dengan alam ini, ya Kuntiputra. Telah menimbulkan perasaan sejuk dan panas, kesukaan dan kedukaan. Kesukaan dan kedukaan dalam hidup ini akan datang silih berganti. Tanggunglah ia dengan hati tetap, wahai Tunas Bharata. Semua yang dilahirkan itu akan mati. Dan yang mati pun akan lahir kembali. Sesungguhnya badan itu mengandung yang baka yang tiada akan punah. Karena itu janganlah tuan susahkan sesuatu yang tidak mungkin tuan elakkan itu.” 


Selanjutnya Sri Krisna mengatakan bahwa Arjuna hanya akan dapat mengalahkan musuh-musuhnya hanya apabila dia lebih dahulu dapat mengalahkan dirinya sendiri.  Bayangan yang muncul sebagai kstaria yang mirip dirinya sendiri setiap kali Arjuna berkonsentrasi untuk memanahnya, itu tidak lain adalah bayangan dari nafsu dalam dirinya sendiri yang harus lebih dulu dikalahkan.


Mendengar nasihat Sri Kresna, semangat Arjuna kembali bangkit. Bayangan obyek yang hendak dipanahnya, kembali tampak sebagai dirinya sendiri. Tetapi Arjuna yang telah tercerahkan, kini tidak ragu-ragu lagi. Arjuna pun kembali menarik tali busurnya. Anak panah yang dilepaskannya melesat bagaikan kilat membunuh lawan-lawannya dalam Perang Bharatayudha, sekalipun dalam bayangannya musuh yang akan dibunuhnya itu adalah bayangannya sendiri. Nabi saw dalam salah satu hadistnya juga pernah bersabda, bahwa jihad yang paling berat adalah jihad melawan diri sendiri. Sesungguhnya lukisan itu sedang mengajarkan sebuah kearifan yang bersifat universal kepada siapa saja yang memandangnya.


Setiap tamu yang duduk lesehan di ruang tamu rumah dinas Bupati Purwakarta itu, dapat dipastikan ketika masih menunggu tuan rumah, pandangannya akan menyaksikan lukisan dari kisah perang Barathayudha yang dipajang sebagai hiasan di ruang tamu itu. Mungkin maksud Bupati H.Dedi Mulyadi,SH memasang lukisan yang diambil dari episode perang Bharatayudha itu, terkandung pesan simbolik yang ingin disampaikannya. Yaitu bahwa kemampuan mengendalikan diri  dari keserakahan akan harta, tahta, dan wanita itu penting. Dengan bekal kemampuan mengendalikan diri, korupsi di birokrasi yang dipimpinnya akan dapat dengan mudah di atasi. Ya, Pak Bupati bisa jadi  secara diam-diam sedang menyampaikan pesan pentingnya mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel melalui sebuah lukisan.


Sesungguhnya memaknai simbol-simbol budaya, bukan perkara mudah karena sifatnya yang subyektif dan relatip. Namun demikian bagi rakyat, yang penting memang  bukan apa isi dari janji yang dikomunikasikan baik melalui bahasa simbolik maupun bahasa verbal. Bagi rakyat yang penting adalah pelaksanaan janji dan program yang dapat langsung dirasakan rakyat banyak. Tampaknya, dalam mewujudkan janji-janjinya, Bupati yang pernah berpidato mengenalkan budaya Sunda di forom internasional bergengsi di PBB itu, cukup berhasil.



Tidak lama setelah saya dan teman-teman dari Bandung dipersilahkan duduk lesehan oleh petugas, dua orang wanita cantik  mengenakan jilbab warna hitam, baju atasan putih dan bagian bawah hitam, membawa beberapa cangkir berisi minuman keluar dari ruang dalam, menyajikan cangkir-cangkir minuman dan dengan senyum menghiasi bibirnya mempersilahkan kami untuk menikmatinya. Padahal di depan kami sudah tersaji makanan kecil dan minuman dalam gelas plastik.


Tak lama kemudian Pak Bupati keluar langsung menyapa kami dengan senyumannya yang khas. Kali ini dia tampil dengan pakaian kegemarannya yang telah menjadi ikon dirinya. Bukan warna putih-putih seperti biasanya. Tetapi warna hitam-hitam. Tampil tanpa alas kaki, penampilan Bupati yang pada tanggal 13 April 2016 terpilih secara aklamsi menjadi Ketua DPD Golkar Jawa Barat 2016 – 2020 itu, tampak amat sederhana dan merakyat.  Sepintas kilas, tidak banyak orang menduga bahwa sosok yang tampil sederhana itu adalah orang nomor satu Kabupaten Purwakarta.


Kepada sejumlah media massa, Pak Bupati mengaku sebagai penggemar wayang sejak masa kanak-kanak di Subang.  Memulai debut politiknya pada usia terbilang muda. Diawali dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Purwakarta, maka pada tahun 2008 beliau sudah berhasil menduduki kursi Bupati Purwakarta. Pada tahun 2013 terpilih kembali untuk kedua kalinya sampai tahun 2018. H.Dedi Mulyadi,SH termasuk sosok politisi muda yang berprestasi. Usianya kini baru 45 tahun, sebab beliau kelahiran tahun 1971. Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Purwakarta berkembang menjadi kota budaya yang mencengangkan banyak orang.  Pembangunan fisik, sarana jalan, transportasi, penerangan, obyek wisata, pengobatan dan pendidikan gratis sampai SMA-SMK, serta santunan kepada warga miskin lima ratus ribu rupiyah/bulan, hanyalah deretan dari sejumlah prestasi yang berhasil diwujudkannya.  Konon Penghasilan Daerah dari Kabupaten yang memiliki 17 kecamatan dan luas  sekitar, telah mencapai angka 2 trilyun. Padahal bebera tahun sebelumnya penghasilan daerah baru sekitar 800-900 milyard.
Sumber Gambar: Wikipedia.

Sebagai politisi, intelektual, dan budayawan  yang pernah dibesarkan lewat organisasi Islam HMI, pernah menjadi Ketua HMI Purwakarta dan Ketua KAHMI Purwakarta, tentunya Bupati H.Dedi Mulyadi, SH sangat paham relasi antara Islam dan kebudayaan. Islam bukanlah agama peribadatan saja. Islam adalah agama yang mengajarakan sistem nilai dengan dua dimensi, yakni dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan soal-soal ritual peribadatan. Sedang dimensi horisontal berkaitan dengan hablumminannas, muamalah, dan kebudayaan. Jika pada dimensi vertikal berlaku azas ushul fikih, yakni segala urusan peribadatan adalah terlarang, kecuali ada perintahNya. Maka pada dimensi horisontal, habluminnannas, muamalah, dan kebudayaan berlaku azas ushul fikih, semua hal boleh, kecuali ada larangan dari Nya. Artinya, membangun dengan basis budaya dan tradis tetap harus dalam bingkai iman dan takwa, agar senantiasa mendapat maghfirah, rahmat, barokah, dan kasih sayang dari Allah SWT.


Saya meninggalkan rumah Dinas Bupati, bersamaan dengan bunyi azan Ashar dari Masjid Agung Purwakarta yang tidak jauh dari alun-alun. Konon kabarnya,  kadang-kadang Bupati H.Dedi Mulyadi,SH jika sedang tidak sibuk, menyempatkan diri untuk mengumandangkan azan di Masjid Agung Purwakarta.Dirgahayu HUT ke 185 dan 48 Purwakarta yang memang Istimewa.Wallahualam.[24-07-2016]


[1] Pembangunan dengan basis Budaya di Kabupaten Purwakarta (01)



 Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Sebuah lukisan indah gadis cantik bermahkota berdiri dengan anggun diiringi dua ekor harimau putih, langsung menarik perhatian saya. Lukisan itu menjadi salah satu hiasan ruang tamu Kantor Bupati Purwakarta. Dan menjadi lukisan favorit Bupati Purwakarta, H.Dedi Mulyadi SH. Saya sendiri belum pernah melihatnya di sentra lukisan Desa Jelekong, Ciparay, Kabupaten Bandung, karena memang lukisan itu  tidak pernah dipasarkan di sana. 


 Kulit gadis dalam lukisan itu berwarna kuning, rambutnya hitam bak mayang terurai, dibalut kain dan penutup dada juga bewarna hitam, diiringi dua harimau putih. Langit biru menjadi latar belakang gadis dalam lukisan itu. Secara keseluruhan lukisan itu enak dipandang dan mampu menerbangkan daya khayal  siapa saja yang memandangnya dan  membawanya ke masa lalu. Sayang saya tidak tahu siapa pelukisnya.  Bahkan salah satu staf Setda Kabupaten Purwakarta yang mengenakan pakaian seragam kemeja putih dan celana hitam, hanya menggelengkan kepala saat saya tanya, siapakah gadis cantik dalam lukisan itu.


“Mungkin Nyi Roro Kidul,” jawabnya sambil tertawa. Saya ikut tertawa mendengar jawabannya. Sebab saya tahu itu bukan lukisan Nyi Roro Lidul.


“Dapat dipastikan itu bukan lukisan Nyi Roro Kidul. Sebab kalau Nyi Roro Kidul  latar belakangnya laut dan tidak memiliki dua ekor harimau putih sebagai pengiringnya,”  kata saya, ingat-ingat lupa pada lukisan Affandi berjudul Nyi Roro Kidul dalam album koleksi lukisan Bung Karno.


Tetapi akhirnya saya menemukan nama gadis dalam lukisan itu, Citraresmi. Nama lengkapnya, Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi (1340 – 1357 M). Dia adalah Putri Sang Maharaja Linggabuana, yang gugur dalam tragedi Bubat (1357 M).  Sang Maha Raja Linggabuana adalah Raja Kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali, sekarang masuk Kabupaten Ciamis. Tragedi Bubat menjadi catatan hitam hubungan dua etnis terbesar di Pulau Jawa, Etnis Sunda dan Etnis Jawa. Sebab etnis Jawa mewarisi Kerajaan Besar Majapahit yang berpusat di Trowulan, sedangkan Etnis Sunda mewarisi Kerajaan Besar Galuh yang berpusat di Kawali , kemudian di Pakuan. Ambisi Maha Patih Gajah Mada yang ingin mewujudkan Sumpah Palapa telah menenggelamkan cita-cita  Hayam Wuruk untuk menyatukan dua Kerajaan Besar di Pulau Jawa pada masa itu dalam satu federasi atau konfederasi Majapahit – Galuh. 


Tragedi Bubat mengakibatkan tewasnya Dyah Ayu Pitaloka Citra Resmi,  Sang Prabu Maharaja Linggabuana, beserta segenap prajurit pengiringnya. Para prajurit pengawalnya telah berjuang dengan gagah berani sekalipun tahu bahwa mereka akan kalah karena jumlah prajurit dan peralatan yang tidak seimbang.  Pasca peristiwa Bubat hubungan Majapahit dan Galuh langsung memburuk. Kerajaan Galuh memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit. Raja Hayamwuruk sendiri telah meminta maaf akan kejadian yang memalukan itu. 


Ketika tragedi Bubat terjadi, Kerajaan Galuh masih berpusat di Kawali, sehingga dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai Kerajaan Galuh Kawali. Dr.Husein Djajadiningrat dalam tesisnya di Universitas Leiden,”Tinjauan Kritis Sejarah Banten”  yang telah mengantarkannya meraih gelar doktor dengan nilai Cum Laude, menyebutkan bahwa Kerajaan Galuh di Pakuan yang merupakan penerus Kerajaan Galuh Kawali berdiri pada tahun 1433 M. Dengan kata lain, Kerajaan Galuh Kawali telah dipindahkan ke Pakuan, dekat Bogor sekarang, sehingga muncul Kerajaan Galuh yang berpusat di Pakuan, atau Kerajaan Galuh Pakuan. Kerajaan Galuh Pakuan, kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran. Disebut Kerajaan Pajajaran, karena konon pusat kerajaan ini, yakni Pakuan, terletak di hulu dua sungai yang nyaris sejajar, yaitu Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung. 


Pada gapura masuk Kantor Kabupaten Purwakarta yang kini memiliki air mancur indah sekali, Air Mancur Sri Baduga, tertulis kata-kata, “Galuh Pakuan”.  Sri Baduga adalah Raja Besar Kerajaan Pajajaran ( 1482 – 1522 M) yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Nama Sri Baduga juga diabadikan menjadi nama musium sejarah dan kebudayaan Sunda di Kota Bandung,  yakni Musium Sri Baduga.


Kemasyhuran dan kebesaran Kerajaan Galuh Kawali dan Galuh Pakuan pada masa lalu itulah agaknya yang telah memberikan inspirasi Bupati H.Dedi Mulyadi, SH untuk membangun Kota Purwakarta dengan basis budaya Sunda yang inklusif dan toleran. Simbol-simbol yang digali dari budaya Sunda segera terasa, begitu orang masuk alun-alun Kabupaten Purwakarta, Pendapa Kabupaten,  Kantor Kabupaten, dan rumah dinas bupati yang berada di samping kiri Kantor Kabupaten.  


Aristektur bangunan kantor kabupaten dan rumah dinas bupati sendiri masih merupakan arsitektur warisan Eropa, sebab kedua bangunan itu memang dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan kantor kabupaten dibangun pada tahun 1854. Semula merupakan Gedung Negara. Pilar tiang penyangga yang berbentuk silinder mengingatkan orang pada tiang-tiang bangunan kuno di Yunani, yang kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Ketika orang-orang Eropa menjadi penguasa di Pulau Jawa dan Tanah Sunda, corak arsitektur Eropa ikut terbawa masuk. Ahli sejarah Perancis, Denys Lombart, menyebutkan munculnya bangunan dengan arsitektur Eropa sebagai penanda awal pengaruh peradaban Eropa di Pulau Jawa.



Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Lantai bangunan kantor kabupaten itu dilapisi batu pualam putih bersih mengkilap. Setiap orang yang akan masuk ke ruang tamu, diwajibkan melepaskan alas kaki. Sebuah etika budaya Sunda yang menghormati rumah sebagai suatu tempat suci, sehingga orang yang masuk ke dalam rumah orang Sunda pada masa lalu, kaki harus dalam keadaan bersih dan melepaskan alas kaki. Rumah adat orang Sunda pada awalnya memang berbentuk rumah panggung dengan lantai papan. Tamu pun diterima dengan lesehan, sehingga tampak akrab dan tidak terkesan formal.


Tetapi arsitektur bangunan pendapa yang ada di depan kantor kabupaten, tiang dan atapnya merupakan bangunan dengan arsitektur yang terpengaruh Kerajaan Islam Demak. Demikian pula konsep catur gatra tunggal warisan Kerajaan Islam Demak tampak pada penataan bangunan kantor kabupaten dan pendapa yang menghadap alun-alun, bangunan Masjid Agung Syekh Baing Yusuf di sebelah kiri alun-alun, bangunan kantor pengadilan, dan lokasi bangunanan penjara yang juga tidak jauh dari alun-alun.  Alun-alun masih dibelah menjadi dua dengan satu jalan di tengah. Tetapi saya tidak melihat sepasang beringin yang lazimnya ada pada alun-alun warisan Kerajaan Islam Demak yang diadopsi dari Kerajaan Majapahit, kecuali masjid di samping alun-alun yang merupakan ciri Kerajaan Islam di  Pulau Jawa.


Pengaruh budaya Sunda tampak pada ornamen hiasan gedung, hiasan taman, dan tiang-tiang penerangan sekitar pendapa, serta karyawan yang berpakaian putih hitam. Terkadang tampak ada karyawan laki-laki yang lalu lalang dengan mengenakan ikat kepala khas Sunda. Tentu saja mereka berbincang-bincang dengan bahasa Sunda. Gambar Bupati H.Dedi Mulyadi SH terpampang dimana-mana dengan pakaian adat Sunda pangsi warna putih kegemarannya, lengkap dengan ikat kepala khas Sunda yang  juga berwarna putih. Di bawah gambar Bupati, tertulis kata Daiang Ki Sunda. Kata Daiang mungkin gelar untuk laki-laki yang dihormati. Kata Daiang sendiri  belum saya temukan dalam Kamus Bahasa Sunda. Yang ada kata Dayang, yang mengandung arti gelar untuk wanita yang dihormati. Misalnya, Dayang Sumbi. Dalam gambar senyum khas Pak Bupati mengembang menghiasai wajahnya, seakan Pak Bupati sedang meyambut dengan segala keramahtamahan kepada setiap tamu, seraya mengucapkan sapaan favoritnya,”Sampurasun…”


 Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Di teras kantor kabupaten di kanan kiri pintu masuk diparkir dua buah kereta kencana berwarna hitam yang mengingatkan orang pada kereta kebesaran Kerajaan Galuh Kawali maupun Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran. Di bawah masing-masing kereta ada patung banteng, seakan mengingatkan orang pada binatang yang pantang menyerah. Kemudian dua becak dengan tulisan Situ Buleud, juga diparkir menjadi hiasan di teras kantor kabupaten, tidak jauh dari kereta kencana. Becak belum dikenal pada masa Kerajaan Galuh dan Pajajaran. Tetapi becak, sekalipun sudah lama digusur dari jalan-jalan utama di kota-kota besar, masih merupakan alat transportasi rakyat yang amat populer dan merupakan sarana mencari nafkah bagi sebagian besar  penduduk yang tingkat pendidikannya pas-pasan. Mungkin maksud Pak Bupati memajang sepasang becak di teras kantor kabupaten, sekedar simbol agar kita senantiasa ingat pada rakyat kecil, kawula alit, atau kaum dhuafa dalam bahasa agama Islam. 


Jika kita masuk ke ruang tunggu kantor kabupaten, segera akan kita saksikan ornamen lukisan harimau di dinding yang menghadap pintu masuk, seakan-akan hendak menyapa para tamu yang akan menghadap Pak Bupati. Sebuah karpet warna kelabu dengan hiasan ornamen bunga warna hitam menutupi lantai marmer putih bersih. Sejumlah kursi dengan plitur warna hitam mengkilat berderet di ruang tunggu. Pada dinding di samping pintu masuk, terpasang lukisan gadis cantik Putri Galuh yang pernah dilamar Raja Majapahit Hayam Wuruk, Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi, seperti telah disebutkan di atas.  Tampak cantik, anggun, berwibawa, dengan menyungging senyum di bibir.


Pendapa Kabupaten yang terletak di depan bangunan kantor kabupaten, tampak megah dengan tiang-tiang-tiang penyangga atap yang mengingatkan orang pada bangunan pendapa kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hanya Pendapa Panyawangan, demikian nama Pendapa Kabupaten Purwakarta itu, dibangun di atas taman yang dikeliingi kolam indah, sehingga dalam konsep arsitektur Jawa, pendapa yang demikian itu disebut Bale Kambang. Di kanan kiri Pendapa Panyawangan melintang jembatan kayu di atas kolam yang menghubungkkan jalan dari halaman kantor kabupaten ke alun-alun.  Jika orang dari Kantor Kabupaten dan Pendapa Kabupaten akan menuju alun-alun yang ada di depan pendapa, mau tidak mau harus melintasi jembatan kayu itu. Lantai pendapa dilapisi karpet tebal bersih warna kelabu dengan ornamen bunga warna hitam. Tak ada kursi, sehingga jika ada pertemuan di Pendapa Panyawangan pastilah juga dilakukan dengan cara lesehan.(bersambung).


Catatan : Artikel lanjutan, Bhagawat Gita di rumah dinas Pak Bupati Purwakarta. Klik dibawah ini: 
https://tamanrafflesia.blogspot.co.id/2016/07/pembangunan-dengan-basis-budaya-di_28.html

Jumat, 22 Juli 2016

Melacak Sejarah Ritual Jamasan di Situs Kalibening Banyumas



Benda Upacara dan Benda Pusaka


Ritual Jamasan di situs Makam Kalibening Banyumas, merupakan ritual memandikan benda-benda pusaka koleksi  Makam Kalibening. Sesuai dengan tradisi dan adat, pelakasanaan ritual  jamasan biasanya diselenggarakan pada bulan Maulud, dilaksanakan  sebagai bagian dari ritual peringatan Maulud Nabi yang penyelenggaraannya bertepatan dengan tanggal 12 Mulud tahun Jawa atau 12 Rabiulawal tahun Hijriyah.


Tradisi lisan menyebutkan bahwa benda-benda pusaka itu milik Mbah Kalibening, seorang perintis penyebar agama Islam di wilayah Banyumas. Tetapi tradisi memandikan benda-benda pusaka bukan tradisi Islam. Tradisi itu merupakan tradisi Hinduisme yang dihidupkan kembali pada jaman Kerajaan Mataram Islam ( 1586 – 1755 M). Karena itu kecil sekali kemungkinannya, ritual jamasan memandikan benda-benda pusaka di situs makam Kalibening itu, merupakan tradisi  warisan dari Mbah Kalibening sendiri. Dapat dipastikan ritual Jamasan memandikan benda-benda pusaka itu, baru muncul pada pertengahan abad ke 19 M, ketika Kabupaten Banyumas dan wilayah Lembah Serayu lainnya, lepas dari kendali Kraton Surakarta  dan beralih menjadi wilayah yang langsung dikendalikan Pemerintah Hindia Belanda di Batavia(1831 M).


Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan benda-benda pusaka dalam konsep kekuasaan raja Jawa?  Memahami makna dan fungsi benda-benda  pusaka dalam konsep kekuasaan raja Jawa, sangat penting. Karena pengetahuan itu akan memudahkan bagi orang yang ingin melacak sejarah tradisi ritual Jamasan di situs Kalibening, Banyumas.


Benda pusaka adalah benda-benda warisan leluhur yang dianggap memiliki daya gaib berupa kekuatan supranatural atau daya sakti. Raja Jawa umumnya memiliki banyak koleksi benda-benda pusaka. Bentuk benda-benda pusaka pun bisa bermacam-macam, Ada yang berbentuk tongkat, aneka macam senjata tajam, tempat sirih, dhampar kencana, payung dan benda-benda pusaka lainnya. Payung yang disebut songsong pun bermacam-macam. Jenis payung atau songsong yang terkenal adalah songsong gilap gubeg, songsong bawat dan songsong  agung.


Benda pusaka paling populer bagi raja Jawa adalah keris yang merupakan senjata untuk perang. Benda pusaka lainnya yang juga merupakan senjata perlengkapan perang adalah tombak, panah, pedang, tongkat pemukul atau gada. Bagi raja-raja Kerajaan Sunda, benda pusaka paling populer yang juga merupakan senjata perlengkapan perang  adalah kujang.


Raja Jawa juga gemar memberikan gelar pada benda-benda pusaka yang dianggap memiliki nilai kesaktian tinggi. Pada jaman Kerajaan Hindu Jawa, gelar yang diberikan kepada benda-benda pusaka paling disakralkan  adalah Sang Hyang. Pada Jaman Kerajaan Islam Pajang dan Mataram, gelar benda-benda pusaka  adalah Kanjeng Kiyai Ageng. Benda pusaka dengan gelar Kanjeng Kiai Ageng, sangat dikeramatkan. Karena itu   cara menyimpannya pun dilakukan secara istimewa. Benda Pusaka dengan gelar Kanjeng Kiai Ageng selalu ditempatkan dalam suatu kamar khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka. Kamar itu  berada di suatu bangunan istana raja yang dinamakan  Prabasuyasa. Bangunan Prabasuyasa merupakan bangunan paling keramat, karena selain terdapat kamar penyimpanan benda pusaka, juga  merupakan tempat tinggal Sang Raja. Bagi seorang Raja Jawa fungsi benda-benda pusaka adalah untuk meningkatkan kultus pemujaan kepada Sang Raja sebagai titisan dewa atau raja-dewa. Dengan benda-benda pusaka itu, Raja Jawa berusaha meningkatkan kemegahan, kebesaran, kewibawaan, kebahagiaan dan kesaktian.


Selain benda-benda pusaka seorang raja Jawa juga memiliki benda-benda upacara atau benda-benda ritual. Benda-benda upacara adalah benda-benda yang biasa dikeluarkan mengiringi Sang Raja, pada waktu Sang Raja keluar dari kraton. Fungsi benda-benda upacara, hampir sama dengan benda-benda pusaka, yakni meningkatkan kultus pemujaan kepada Sang Raja. Hanya cara penggunaannya yang berbeda. Sesuai dengan namanya, penggunaan benda-benda upacara dilakukan dengan cara mengikutsertakan benda-benda upacara itu  dalam perjalanannya mengiringi Sang Raja saat Sang Raja keluar kraton untuk berbagai macam keperluan. Misalnya  pada saat ada acara garebeg atau acara mengunjungi tempat-tempat penting lainnya di luar kraton.


Prof.Dr.Darsiti Suratman, seorang ahli Sejarah Kraton Jawa, menyebutkan adanya delapan benda upacara penting. Kedelapan benda upaca itu adalah dua ekor gajah, seekor kijang, seekor ayam kate, seekor binatang mistik ardawalika, seekor sawunggaling, seekor banyak dhalang atau angsa dan seekor induk ayam dengan empat ekor anaknya. Semua benda upacara itu dalam bentuk patung mini agar mudah dibawa mengiringi Sang Raja.


Menurut Rouffer, kedelapan benda upacara itu merupakan simbol pemujaan kepada dewa-dewa Hindu dan dewa-dewa sebelum datangnya agama Hindu. Sawunggaling, misalnya, disebut sebagai simbol pemujaan kepada Dewa Surya,. Ardawalika, hewan mistik berkepala garuda, berbadan naga, merupakan simbol pemujaan kepada Dewa Awan atau Dewa Indra. Di seluruh dunia timur, simbol ular sering diganti dengan bentuk simbol naga, kadal, buaya dan binatang merangkak lainnya. Semua binatang air berkaki empat itu, termasuk naga, merupakan simbol pemujaan kepada awan sebagai pembawa hujan. Naga dipuja orang Hindu, kadal dan buaya dipuja orang Melayu dan Polinesia sebelum datangnya agama Hindu. Adapun banyak dhalang atau angsa besar, merupakan simbol pemujaan kepada Dewa Brahma. Bahkan di Masjid Demak ada simbol penyu, yang bisa jadi merupakan sisa-sisa simbol pemujaan kepada awan warisan leluhur Raden Patah, pendiri Kerajaan Islam Demak yang merupakan keturunan etnis China lewat ibunya. Tetapi bisa juga simbol penyu itu merupakan sisa-sisa pemujaan kepada dewa laut,mengingat Kerajaan Demak adalah kerajaan maritim.


Pada jaman Kerajaan Islam Demak, ritual raja keluar istana diiringi benda-benda upacara menghilang. Tetapi pada jaman Kerajaan Mataram Islam, ritual warisan kerajaan-kerajaan Hindu itu, dihidupkan kembali. Memang kebijakan raja-raja Mataram, diawali dengan Senapati,Sang Pendiri Kerajaan, adalah melakukan akulturasi kebudayaan Hindu warisan Kerajaan Majapahit dan Mataram Kuno dengan kebudayaan Islam warisan Kerajaan Demak. Hasilnya adalah berbagai macam ritual bercorak kebudayaan Islam Kejawen. Suatu corak kebudayaan Islam yang dipengaruhi tradisi-tradisi warisan Hinduisme dari jaman Majapahit dan kerajaan-kerajaan Hindu sebelumnya..


Ritual warisan kerajaan Hindu yang juga dihidupkan kembali pada jaman Kerajaan Mataram adalah ritual memandikan benda-benda pusaka. Bagi seorang raja Jawa, kepemilikan benda-benda pusaka merupakan rahasia yang tidak boleh diketahui publik. Karena itu cara memandikan benda-benda pusaka juga bersifat rahasia, tertutup, dilaksanakan di dalam kedaton, dan hanya boleh dihadiri oleh Sang Raja dengan keluarga dekatnya dan abdi dalem kraton lainnya. Memang di sekitar bangunan Prabasuyasa, tempat tinggal Sang Raja, sengaja  dibuatkan emperan sebagai tempat para abdi dalem dan keluarga raja berkumpul pada hari-hari tertentu untuk menyaksikan ritual Jamasan benda-benda pusaka kerajaan. Dengan demikian untuk melakukan prosesi memandikan benda-benda pusaka tidak jauh dari tempat penyimpanan benda-benda pusaka itu.


 Tradisi memiliki benda-benda pusaka dan memandikan benda-benda pusaka yang bersifat tertutup, juga dilakukan para adipati kadipaten bawahan Kerajaan Mataram. Tetapi adipati bawahan, dilarang melakukan aktivitas yang dipandang akan menyamai kebesaran dan kewibawaan Sang Raja. Sejumlah larangan yang tidak boleh dilakukan para adipati bawahan sebagai bagian dari konsep kekuasaan Jawa adalah larangan membangun alun-alun dengan sepasang beringin kembar Dewa Daru dan Jaya Daru, larangan menyelenggarakan ritual arak-arakan semacam ritual garebeg. Dan tentu saja larangan menyelenggarakan prosesi memandikan benda-benda pusaka secara terbuka. Pelanggaran terhadap larangan itu, bisa berakibat fatal. Adipati yang melanggar larangan akan dituduh mbalela kepada Sang Raja. Hukumannya cukup berat, hukuman mati!


Tetapi ketika sejumlah wilayah Kerajaan Mataram jatuh ke tangan Belanda, kabupaten-kabupaten warisan Kerajaan Mataram oleh Belanda diberi status setara dengan Kerajaan Mataram maupun kerajaan-kerajaan pecahan Mataram. Kabupaten-kabupaten di Priangan misalnya, sudah sejak tahun 1705 M, diperkenankan membuat alun-alun dengan sepasang beringin kembar dan menyelenggarakan ritual-ritual keagamaan sendiri. Demikian pula kabupaten di Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah lepas dari Kerajaan Mataram sejak tahun 1743 M.


Akhirnya ketika Kabupaten Banyumas jatuh ke tangan Pemerintah Hindia Belanda( 1831 M), sejak itulah sejumlah larangan warisan Kerajaan Pajang dan Mataram seperti disebutkan di atas, tidak berlaku lagi di Kabupaten Banyumas. Agaknya sejak tahun itulah, Kabupaten Banyumas mulai boleh membangun alun-alun dan beringin kembar Jaya Daru dan Wijaya Daru, dan boleh pula menyelenggarakan ritual-ritual tradisi untuk meningkatkan kewibawaan Sang Bupati di hadapan kawulanya. Semakin berwibawa Sang Bupati di hadapan kawulanya, semakin menguntungkan Pemerintah Belanda. Sebab kewibawaan Sang Bupati dihadapan kawulanya hanyalah kewibawaan di bidang adat, tradisi, ritual dan di bidang aktivitas kebudayaan lainnya. Sedang kewibawaan dibidang politik, hukum, pemerintahan dan ekonomi, sepenuhnya berada dibawah kontrol dan kendali Pemerintah Belanda yang dilaksanakan melalui tangan Residen dan Patih.


Dengan demikian  kita dapat simpulkan bahwa Ritual Jamasan benda-benda pusaka  di situs Makam Kalibening yang dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Maulud Nabi, tidak mungkin dilaksanakan sebelum tahun 1831 M. Sebab sebelum tahun 1831 M, Kabupaten Banyumas masih dibawah kendali Kraton Surakarta. Seperti hanya Kraton Mataram, Kraton Surakarta juga melarang kadipaten sebagai kerajaan bawahan menyelenggarakan ritual memandikan pusaka dalam bentuk prosesi secara terbuka. Sebab tindakan demikian bisa dinilai sebagai tindakan menantang secara terbuka kesaktian Sang Raja!. Kesan yang ditimbulkan seakan-akan dari rangkaian acara ritual jamasan benda-benda pusaka sudah dilaksanakan pada abad akhir abad ke-16 M, yakni pada  masa-masa awal berdirinya Kabupaten Banyumas, jelas hanyalah sebuah mitos belaka. Ritual itu baru diselenggarakan pada abad yang belum terlalu jauh dari jaman kita sekarang, yakni pada paruh ke dua abad ke 19 M.


Pada saat itu Pemerintah Hindia Belanda memang sedang giat-giatnya membangkitkan kembali tradisi Jawa Kuno dilingkungan kraton-kraton Jawa. Sebagai contoh, dibentuknya Instituut voor de Javaansche Taal dilingkungan Kraton Surakarta pada tahun 1832 M. Sejumlah ahli Belanda menjadi anggota lembaga tersebut,antara lain Gericke, Wilkens, Mounier, C.F Winter, Brumund, Palmer van de Broek dan Cohen Stuart( Darsiti Suratman,1989,Kehidupan Dunia Kraton Surakarta). Hasil studi para sarjana Belanda itu, mempengaruhi kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dalam membangkitkan kembali tradisi-tradisi Jawa Kuno di kabupaten-kabupaten mancanegara bekas wilayah Kraton Surakarta yang diperintah Belanda secara langsung. Termasuk diantaranya adalah  Kabuaten Banyumas tentunya.


Namun demikian, tradisi peringatan Maulud di Komplek Makam Kalibening itu, dapat dipastikan merupakan tradisi yang justru sudah dilaksanakan pada awal-awal berdirinya Kadipaten Banyumas!. Sebab raja-raja Mataram hanya melarang kabupaten bawahan menyelenggarakan acara semacam Garebeg Maulud. Tapi tidak melarang peringatan dan perayaan Maulud Nabi saw yang biasanya secara tradisional dilaksanakan secara terbuka di masjid kadipataen atau kabupaten. Dan peringatan Maulid Nabi di masjid kabupaten bawahan Kraton Mataram, tidak pernah dihadiri Sang Bupati. Sebab Sang Bupati, pada acar Garebeg Mulud wajib hadir di pusat Kerajaan Mataram. Hal serupa juga terjadi pada masa Kerajaan Pajang, Kerajaan yang mendahului Kerajaan Mataram Islam.


Melalui ritual Jamasan benda-benda pusaka yang dikaitkan sebagai rangkaian tak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi, kita memang dapat menyaksikan terjadinya proses akulturasi dua adat, tradisi dan budaya warisan Hindusime dan warisan Islam, yang menghasilkan kebudayaan Islam Kejawen di daerah Banyumas. Menurut Dr.Simuh, Islam Kejawen adalah Islam yang masih terus berproses menuju Islam yang lebih mendekati ajaran  Islam yang dipraktekkan di lingkungan pesantren pada masa Kerajaan Islam Demak. Agar supaya ritual Jamasan benda-benda pusaka tidak berkembang ke arah yang betentangan dengan ajaran Islam sebagaimana yang justru dikehendaki Pemerintah Kolonial belanda, arah kegiatan memang harus bersifat aktivitas gebyar budaya.


Fokus kegiatan gebyar budaya sebaiknya bersifat memajukan seni berbasis tradisi dan local wisdom, termasuk memandang benda-benda pusaka sekedar sebagai benda-benda dengan keindahan seni. Bukan benda-benda yang memiliki daya-daya gaib yang berakar dari logika mistik. Justru sebaiknya tradisi peringatan Maulud Nabi yang  bersejarah di situs Kalibening itulah yang harus terus-menerus dikembangkan, sebagai sarana untuk meningkatkan dakwah Islam.


Bukankah inilah tradisi yang pertamakali dirintis oleh Mbah Kalibening-konon nama aslinya Kiyai Imam Rumani- sebagai salah seorang tokoh perintis penyebar agama Islam di daerah Banyumas?Wallahualam.(anhadja-31-12-2015)



Wallahualam.(anhadja-31-12-2015)