Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Sabtu, 15 April 2017

[4]Patih Aria Wirjaatmadja (1831 - 1909 ) dan Adipati Mrapat (1578 - 1883 M)



Saya bersyukur akhirnya berkesempatan mengunjungi rumah Ibu Drg.Yulistiatri Dartoyo (Selasa,2/2) yang menerima saya dengan segala keramahtamahannya ditemani adik perempuannya.  Buyut Patih R.Aria Wirjaatmaja itu tinggal di Bandung Selatan yang sejuk dan nyaman, sehingga rumahnya lebih tepat disebut sebagai pesanggarahan. Dari tempat kediamannya yang nyaman itu Ibu Drg.Yulistiatri cukup sibuk juga bolak-balik Bandung-Purwokerto, karena sebagai wakil ketua Yayasan R.Aria Wijaatmadja, harus ikut mengendalikan organisasi trah Patih R.Aria Wirjaatmaja yang baru saja didirikan. 

Rencananya pada tanggal 21 Pebruari 2016 Ibu Drg.Yulistiatri dengan keluarga besarnya akan menyelenggarakan acara syukuran sehubungan telah berdirnya yayasan yang telah berbadan hukum itu, bertempat di kantor Yayasan R.Aria Wirjaatmadja, Jl.Pungkuran No.5-Purwokerto. Kita ikut mendoakan semoga acara berjalan lancar dan sukses. 

Berdasarkan catatan tahun 1995 yang dimiliki Ibu Drg.Yulistiatri, Patih R.Aria Wijaatmaja memiliki 18 putra dan putri yang telah berkembang menjadi 100 orang cucu, 550 buyut dan 3000 canggah. Nasab leluhur Patih R.Aria Wirjaatmadja, ternyata bersambung kepada Sang Adipati Mrapat Jaka Kahiman, Pendiri Kadipaten Banyumas dengan rantai silsilah sbb :
(1)   Adipati Mrapata Jaka Kahiman, (2) Mertosuro I, (3) Mertosuro II, (4) R.Ngabehi Bawang-Mertoyudo I, (5) Yudonegoro I-Mertoyudo II, (6) Yudonegara II, (7)  Dipoyudo I, (8) Dipomenggolo, (9) R.Ngabehi Dipadiwirya, (10) R.Aria Wirjaatmadja.

Dari garis nasab tersebut, Patih R.Aria Wirjaatmadja ternyata masih trah Adipati Mrapat pada urutan nomor 10. Dengan demikian beliau merupakan turunan ke-9 dari Kanjeng Adipati Mrapat Jaka Kahiman. Ibu Drg.Yulistiatri yang merupakan buyut Patih R.Aria Wirjaatmadja, dengan sendirinya berada pada rantai no.13  atau merupakan generasi turunan ke -12,  Kanjeng Adipati Mrapat.

R.Ngabehi Dipadiwirya, ayah Patih R.Aria Wiryaatmaja, semula adalah seorang Demang di Ngayah-Adireja, yang berhasil meraih jabatan Patih di Kabupaten Banjarnegara. Istri R.Ngabehi Dipadiwirya adalah seorang Putri dari Kraton Surakarta, putri R.Ngabehi Kertajaya, seorang Kliwon Kasunanan Surakarta.  Patih R.Aria Wiyaatmaja adalah putra ke-2 dari delapan bersaudara dengan urutan sbb :

(1) R.Ngabehi Wiryadireja, (2) R.Aria Wiryaatmaja, (3) R.A Ranudipuro, (4) R.A Tirtodipuro, (5) R.Wiryadipraja, (6) R.Wiryasukarta, (7) R.Adipura, (8) R. Dipadiwirya.
Saya semula menduga Patih R.Wirjaatmaja merupakan trah diluar Adipati Mrapat Jaka Kahiman, karena makam beliau bukan di Dawuhan-Banyumas, tetapi di Kalibogor-Purwokerto. Ternyata dugaan saya keliru.

Patih R.Aria Wirjaatmaja, wafat pada tanggal 11 Maret 1909 M, dalam usia 78 tahun, sebab beliau lahir bulan Agustus 1831 M. Menurut Ibu Drg.Yulistiatri, kakek buyutnya itu punya kebiasaan unik jika akan berangkat dari rumah ke kantornya di Kepatihan. Dia pulang pergi naik bendi, sebuah kendaraan priyayi agung jaman itu. Tetapi jika berangkat Sang Patih itu mengusiri sendiri bendinya dari rumah ke kantornya. Kusirnya malah disuruh duduk di belakangnya. Tidak diceriterakan apakah kalau pulang juga begitu. 

Tetapi perilaku unik itu cukup menunjukkan bahwa Patih R.Arya Wirjaatmaja, adalah sosok pemimpin yang merakyat. Pesan yang selalu disampakain kepada anak cucunya adalah agar mereka selalu dekat dan mengabdi untuk kepentingan rakyat sesuai dengan bakat, kecakapan dan ketrampilan masing-masing. Maka ketika wafat, ratusan bendi dan pejalan kaki ikut mengantarkan ketempat peristirahatnnya yang terakhir di Taman Bahagia, Makam Kalibogor. Banyak orang yang merasa kehilangan tokoh yang banyak karyanya demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat Pribumi yang saat itu masih terjajah.

Untuk mengenang perjuangan para leluhur mereka, trah Kanjeng Adipati Mrapat secara rutin setiap tahun menggelar acara Sadranan. Drg.Yulistiatri menjelaskan bahwa tradisi Sadranan memang merupakan tradisi keluarga besar trah Adipati Mrapat yang dilaksanakan setiap tahun di makam leluhurnya. Kegiatan yang rutin diselenggarakan sebagai bagian dari acara Sadranan antara lain adalah  mengunjungi makam para leluhur mereka dalam rangka ziarah, mulai dari makam Adipati Mrapat Dawuhan, makam  Makam Patih  R.Aria Wirjaatmadja di Kalibogor, makam Martadireja I di Kebutuh Sokaraja, makam Dipayuda I di Purbalingga, makam Adipati Warga Utama I atau Adipati Wirasaba VI di Pakiringan-Klampok dan makam Bupati Kanduruhan di Gombong. Kegiatan lain adalah silaturahmi antar keluarga, dan mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan. Dan tentu saja tukar menukar informasi dan ajang temu kangen antar keluarga besar.

 Nabi saw memang menganjurkan umatnya melakukan ziarah kubur dengan catatan untuk mendoakan agar perjuangannya dimasa lalu diterima sebagai amal ibadah kepada Allah SWT, dan para ahli warisnya bisa meneladani jejak-jejak perjuangan mereka di masa lalu.Tradisi Sadranan bila dikelola dengan baik, memiliki banyak manfaat. Sadranan sebenarnya berasal dari kata dalam bahasa Arab, Syakban. Bulan Syakban adalah bulan Ruwah, bulan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Banyak sebenarnya tradisi menyambut bulan Ramadhan Salah satu diantaranya adalah ziarah kubur seperti yang telah dijelaskan di atas.
 Sadranan jelas berbeda dengan ritual mengenang hari kematian yang disebut Shrada yang hanya dilakukan sekali, yakni  12 tahun setelah orang meninggal. Tetapi banyak orang mengira bahwa kosep Sadranan sama dengan Shrada. Keduanya berbeda bagaikan bumi dan langit. Hakekat Sadranan adalah menyambut kelahiran bulan Ramadhan yang akan datang. Sedangkan Shrada merayakan hari kematian, dengan japa dan mantra agar ruh orang yang sudah meninggal itu, tidak lahir kembali kepada mahluk yang mau lahir. Ritual Shrada hanya sekali, sedang acara Sadranan diselenggarakan setiap tahun yang inti hakekatnya merayakan datangnya bulan suci Ramadhan, dengan memanfaatkannya untuk melakukan ziarah kubur..

Koleksi Perpustakaan Babad Banyumas.
Ibu Drg.Yulistiatri termasuk salah seorang kolektor buku-buku Babad Banyumas. Buku-buku dan benda-benda koleksinya meliputi sejumlah buletin, foto-foto, lukisan-lukisan, dan chart atau peta silsilah yang ada kaitannya dengan sejarah Banyumas, Kraton Solo, Kraton Yogya, Kerajaan Pajang, Demak, dan Majapahit. Tentu saja  dari sisi babad atau historiografi tradisional. Buku-buku koleksinya itu sebagian besar merupaka warisan keluarga. Tapi ada juga yang diperolehnya secara aktif dengan melakukan hunting, setiap ada kesempatan. 

Ternyata buku koleksi buyut Patih R.Aria Wijaatmadja itu cukup lengkap, sekalipun mungkin tidak selengkap buku koleksi dokter Sudarmaji-di Purwokerto. Buku Sadranan yang banyak disinggung dan disebut-sebut oleh Sugeng Priyadi dalam berbagai tulisannya, bisa saya temukan. Terakhir adalah  Sadranan tahun 2015 M. Ternyata Ibu Drg.Yulistiatri memiliki hubungan kekerabatan dengan dokter Sudarmaji. Dr.Sudarmaji yang konon usianya sudah di atas delapan puluh tahun adalah juga trah Kanjeng Adipati Mrapat lewat jalur Bupati Kanduruhan,Gombong. Leluhur Drg.Yulistriatri dan Dr.Sudarmaji bertemu pada leluhur mereka, Bupati Banyumas VII,  Yudonegoro II( 1708 – 1740 M). 

Saya sebenarnya berharap bisa mendapatkan salah satu naskah Babad Banyumas koleksi Dr.Sudarmadi yang ditulis Wiryasenjaya, anak lurah Kedungwuluh, pada hari Minggu Kliwon tanggal 14 April 1940 M, yang dijadikan sumber penelitian Sugeng Priyadi dan dijadikan dasar menetapkan tahun wafatnya Adipati Wirasaba VI. Konon, Wiryasenjaya menyebutkan bahwa, sumber naskah itu adalah naskah babad karya Kanjeng Purwokerto yang ditulis pada tahun 1889 M. yang dikutip Sugeng Priyadi dengan kalimat sbb :

“Baboning sarsilah noeroen kagoengan dalem Bendoro Kanjeng Purwoekerto nalika tahun 1889 M” Kalimat itu diakhiri dengan tempat dan titimangsa, Kranji 14 April 1940 (6 Mulud 1359 H)” Naskah ini diberi nama unik oleh Sugeng Priyadi, yakni Naskah Kranji-Kedungwuluh. Lebih unik dan aneh lagi karena sesungguhnya naskah asli Kanjeng Purwokerto itu belum pernah ditemukan oleh Sugeng Priyadi selaku peneliti. 

Karena itu, jika naskah aslinya belum ditemukan, mungkin lebih tepat jika naskah salinan Wiryasenjaya itu disebut saja naskah Wiryasanjayan. Bagi saya masih menjadi tanda tanya besar apakah Wiryasanjaya yang naskahnya dikoleksi oleh Dr.Sudarmaji itu adalah termasuk trah R. Aria Wiryaatmadja dan trah Adipati Mrapat juga? Jika dilihat namanya, bisa jadi dia termasuk  trah R.Aria Wirjaatmadja juga. Kejelasan silsilah penulis babad sebenarnya penting, untuk menguji otentisas data yang dikemukakan dalam naskah babad yang ditulisnya. Sayang naskah itu tidak atau belum dikoleksi Ibu Drg.Yulistiatri.

Tetapi Buku Babad Banyumas yang sudah lama saya cari-cari, ternyata ada dalam koleksi  Ibu Drg.Yulistiatri. Buka Babad Banyumas itu adalah tulisan RM.Brotodirejo dan R.Ngatijo Darmosuwondo, yang berjudul Inti Silsilah Sejarah Banyumas. Naskah yang bertanggal 1 September 1969 itu , dicetak oleh Percetakan dan Penerbit Tri Djaja Jakarta. Ciri-ciri fisik buku sesuai dengan apa yang dicatat oleh Sugeng Priyadi, tebal 102 hal +vi. Dalam kata pengantarnya  Sang Penulis menyatakan bahwa sebenarnya dia sudah bermaksud menulis buku itu pada tahun 1957 M, karena satu dan lain hal  tertunda-tunda terus. Sang Penulis juga mencantumkan identitasnya sebagai trah Adipati Mrapat, dengan mencantumkan dalam bukunya itu bahwa dirinya adalah buyut Kanjeng Adipati Martadireja III. 

Bupati Martadireja III adalah bupati yang paling berprestasi yang hanya dapat disamai oleh Patih R.Aria Wirjaatmadja. Kebetulan keduanya hidup sejaman. Adipati Martadireja III, menjabat Bupati Purwokerto ( 1860 – 1879 ) dan Bupati Banyumas ( 1879 – 1913 M). Patih R.Aria Wijaatmaja menjabat Patih Purwokerto dari 1879 – 1907 M.

Rantai Silsilah Penulis Babad Banyumas ISSB sebagai trah Adipati Mrapat adalah sbb :
(1)   Kanjeng Adipati Mrapat Jaka Kahiman, (2) Mertasura I, (3) Mertasura II, (4) Ngabehi Bawang-Mertayuda I, (5) Yudhanegara I, (6) Yudanegara II, (7) Yudanegara III, (8) Ngabehi Kedung Randu-Mertawijaya, (9) Martadireja I, (10) Martadireja II, (11) Martadireja III, (12) anak Martadireja III, (13) Cucu Martadireja III, (14) Buyut Martadireja III. Dialah RMS.Brotodirejo, penulis Babad Banyumas Inti Silsilah Sejarah Banyumas itu.

Dengan demikian RMS.Brotodirejo berada pada rantai nasab no.14 trah Adipati Mrapat atau generasi ke -13. Dari rantai nasab trah Kanjeng Adipati Mrapat itu, RMS.Brotodirejo satu tingkat di bawah Ibu Drg.Yulistiatri yang berada pada rantai nasab no.13.  Jadi sekalipun RMS.Brotodirejo usianya lebih sepuh dari Ibu Drg.Yulistiatri, harus memanggil bude atau tante pada Ibu Drg.Yulistiatri.

Dengan kedudukan sebagi lingkaran dalam trah Kanjeng Adipati Mrapat, sebenarnya tidak ada alasan untuk meragukan kualitas dari isi buku ISSB. Tahun 1582 M, yang dkontruksikan oleh BRM. Brotodiningrat sebagai Tahun berdirinya Kabupaten Banyumas, sangat layak untuk diterima sebagai tahun berdirnya Kadipaten Banyumas. MM.Sukarto yang telah memilih buku ISSB sebagai sumber penelitian untuk menentukan tahun Hari Jadi Kabupaten Banyumas, sesungguhnya telah melakukan pemilihan cerdas. 

Jarak waktu yang cukup lama antara penulisan Babad Banyumas Purwosuprojo (1932 M) dan penulisan Babad ISSB RM.Brotodirejo(Sep 1969 ), sekitar 37 tahun atau hampir empat dasawarsa. Suatu jangka waktu lebih dari cukup untuk menggali informasi baru sekitar tradisi Garebeg Mulud Tahun 1582, baik dari Babad Tanah Jawi, maupun ceretera-ceritera dari leluhurnya yang dulu secara rutin diwajibkan menghadiri Pasowanan Agung Garebeg Mulud Kraton Surakarta, Kartosura, Mataram, dan Pajang. 

Patih Purwosuprojo, Patih Banyumas, dalam Kitab Babad Banyumas yang ditulisnya dalam bahasa Jawa halus, menyebutkan berdirinya Kraton Mataram adalah tahun 1582 M. Patih Purwosuprojo jelas keliru. Sebab Kraton Mataran berdasarkan fakta sejarah berdiri pada tahun 1586 / 1587 M, setelah Senapati berhasil menaklukan Pajang. Patih Purwosuprojo menduga kelahiran Kadipaten Banyumas, bersamaan dengan kelahiran Kraton Mataram.

 RM. Brotodiredjo telah melakukan koreksi dan rekonstruksi ulang terhadap angka tahun 1582 M yang ada dalam buku Purwosuprojo. Bukan Kerajaan Mataram yang berdiri pada tahun 1582 M. Tetapi Kadipaten Banyumaslah  berdiri pada tahun 1582 M.  Sebuah rekonstruksi dan koreksi yang tepat. 

Tentu saja BM.Brotodiredjo tidak dapat dicap mengubah naskah Purwosuprojo, karena RM.Brotodirejo memang tidak pernah mengubah karya Patih Purwosuprojo. Patih Purwosuprojo yang memasukkan angka 1582 M ke dalam buku yang ditulisnya,  juga tidak bisa dituduh telah korup terhadap buku Babad Karya Wirjatmaja, karena Patih Purwosuprojo memang tidak memasukkan angka 1582 ke dalam buku babad karya  Wirjaatmadja. Yang jelas angka tahun 1582 M, muncul ke dalam kitab babad yang mereka tulis, bukan datang begitu saja dari langit. Bukan pula dari Fruein Mees yang mungkin malah belum pernah dibacanya. Angka tahun 1582 M itu angka yang telah dipikirkan dan dianalisa  secara mendalam berdasarkan tradisi Kraton Pajang, Kitab Babad Tanah Jawi dan Kitab Karya Pujangga Kraton Pajang, Pangeran Karang Gayam.
Hari Jadi Kabupaten Banyumas, 6 April 1582 M, yang lebih tepat dan lebih sesuai dengan fakta sejarah

Kitab Babad Banyumas ISSB  rupanya ditulis oleh penulisnya pertama-tama dimaksudkan untuk kepentingan keluarga trah Kanjeng Adipati Mrapat, agar mereka tidak kehilangan rantai silsilah dan jaringan kekerabatan di antara trah Kanjeng Adipati Mrapat. Ungkapan yang tepat dalam bahasa Jawa atau bahasa Banyumas adalah agar mereka tidak kepaten obor. Artinya, ya itu tadi tidak kehilangan rantai jaringan di antara trah Kanjeng Adipati Mrapat yang tesebar luas dan merupakan lingkaran lapisan atas masyarakat Banyumas. Itulah sebabnya pada halam awal terdapat semacam form untuk diisi siapa identitas  pemilik Kitab ISSB itu dan diisi pula trah generasi ke berapa pada rantai silsilah turunan Kanjeng Adipati Mrapat.

Isi buku babad ISSB sebenarnya sangat luas, mengagumkan, dan bermanfaat juga untuk masyarakat Banyumas yang peduli terhadap sejarah kabupatennya. Kitab babad ISSB digarap secara sungguh-sungguh, merupakan kompilasi dan ikhtisar singkat dari kitab-kitab babad  Banyumas yang mendahuluinya. Dan tentu saja untuk kisah-kisah yang lebih tua banyak mengambil dari Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon dan mungkin saja Babad Banten. Munculnya nama Jumadil Kubro dalam ISSB, menunjukkan bahwa penulisnya cukup akrab dengan tradisi Cirebon – Banten. Nama Jumadil Kubro muncul  ketika Sang Penulis harus menjelaskan para Wali Tanah Jawa yang dianggap ada kaitannya dengan riwayat Kademangan Kejawar. Sekalipun terkesan muter-muter sampai Sunan Giri, sebenarnya secara tersirat Kademangan Kejawar punya keterkaitan lebih dekat ke Pesantren Gunungjati dari pada ke Pesantren Ampel dan Giri.

 Sebagai sebuah kitab babad, ISSB merupakan kitab babad yang paling baik yang ditulis dengan mengikuti pola historigrafi tradisional yang selangkah lebih maju. Misalnya, Sang Penulis berani mencantumkan identitas nama dirinya  bukan secara anonim sebagaimana lazimnya sebuah kitab babad. Selanjutnya, Sang Penulis pun berani mengambil tanggung jawabnya untuk melakukan rekonstruksi tahun 1582 M, sebagi tahun berdirinya Kabupaten Banyumas yang ternyata tepat.

Secara historis dan filologis penetapan tahun 1582 M dapat dipetanggungjawabkan. Dan yang lebih penting lagi, penetapan tahun 1582 M, sebagai tahun berdirinya Kadipaten Banyumas tidak bertentangan dengan kajian  de Graaf. Kajian  De Graaf  menyatakan tragedi Sabtu Pahing yang mengakibatkan tewasnya Adipati Wirasaba VI, terjadi pada tahun 1578 M.  Bukan tahun 1570 M, sebagaimana diduga oleh Wiryasenjaya dalam naskah babad yang ditulisnya atau disalinnya. Jika orang mencari-cari tahun pengangkatan Jaka Kahiman sebagai Adipati Wirasaba VII, ya tahun 1578 itu. Tetapi kapan tanggal dan bulan pengangkatannya sebagai Adipati Wirasaba VII, memang merupakan sesuatu yang sulit untuk ditetapkan karena tiadanya data yang bisa diverifikasi. 

Naskah Kalibening yang diduga Sugeng Priyadi berisi tanggal pengangkatan Jaka Kahiman pada tanggal 27 Pasa, sebenarnya hanyalah ilusi dan jelas bertentangan dengan tradisi Kraton Demak dan Pajang. Tanggal 27 Pasa adalah malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir yang merupakan hari-hari istimewa dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hampir mustahil pada tanggal 27 Pasa ada aktivitas kenegaraan yang penting sifatnya seperti pengangkatan seorang bupati bawahan. Bahkan berziarah kubur pada pulan Ramadhan apalagi berziarah kubur dengan nyekar pada tanggal 27 Pasa atau Ramadan, bertentangan dengan tradisi Islam dan tradisi adat istiadat Islam Kejawen.

 Kalau mau ziarah kubur, sebenarnya bisa kapan saja ada waktu, asal jangan bulan Ramadhan. Demikian pula mendoakan orang tua, sehabis shalat adalah yang terbaik. Tetapi tradisi sering menganggap waktu yang baik untuk melakukan ziarah kubur adalah pada bulan Syakban/Ruwah dan pada bulan Syawal.  Pada bulan Syakban atau Ruwah orang sedang berniat mensucikan diri siap-siap menyambut bulan Ramadhan. Pada bulan Syawal, orang dalam keadaan fitri. Pada kedua posisi itu, bulan Syakban/Ruwah dan bulan Syawal, tradisi menganggap saat itulah waktu yang paling afdol untuk mendoakan arwah leluhur. 

Bahwa pada tanggal 27 Pasa Jaka Kahiman yang baru membangun rumah tangga itu sowan ke Pajang, bisa jadi memang benar. Tetapi bukan dalam rangka mengurus pengangkatan dirinya. Tetapi dalam rangka menghadiri Pasowanan Garebeg Syawal. Pasowanan Gaerbeg Syawal dan Besar memang dapat diwakilkan. Tidak harus Sang Adipati sendiri yang harus sowan.

Dalam sejumlalah kitab Babad Banyumas, diceriterakan bahwa Raja Pajang memanggil ahli waris Adipati Wirasaba VI untuk menghadapnya ke Kraton Pajang. Mungkinkah Raja Pajang memanggil ahli waris Adipati Wirasaba VI pada akhir bulan Puasa, ketika kesibukan urusan ibadah akhir bulan Ramadhan sedang giat-giatnya dilaksanakan? Sebagai seorang raja dari kerajaan warisan Kerajaan Islam Demak, hampir mustahil Raja Pajang mau disibukkan oleh urusan teknis masalah pengangkatan seorang adipati bawahan. Pengangkatan pasti akan dilakukan pada hari-hari diluar bulan Pasa atau Ramadhan.

Penetapan tahun 1582 M, dalam buku Babad Banyumas ISSB tulisan RM.Brotodirejo dan R.Ngatijo Darmosuwondo, sebagai tahun Hari Jadi Kabupaten Banyumas, sebenarnya bukan hanya hasil konstruksi kedua penulis babad itu. Tetapi juga sudah dikonstruksikan lebih dulu oleh Patih Purwosuprojo, sekalipun belum tepat.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar