Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (03)





“Terima kasih Dimas Arya Baribin. Penjelasannya sangat menarik. Aku memang pernah mendengar dari Kanjeng Rama, Kerajaan Islam Demak mulai memanfaatkan wayang kulit dengan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Mereka menjadikan wayang kulit media untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk. Tokoh dari Kerajaan Islam Demak yang mempunyai gagasan memanfaatkan media wayang kulit untuk menyebarkan agama Islam konon namanya Syekh Makhdum Ibrahim yang populer dengan sebutan Sunan Bonang? Dapatkah Dimas Arya Baribin menjelaskan soal ini?”
“Kisahnya agak panjang, Ayunda Dewi. Tetapi agar supaya ada gambaran agak utuh mengenai riwayat wayang kulit yang kemudiaan dimanfaatkan oleh Kerajaan Islam Demak sebagai media menyebarkan agama Islam, ada baiknya kita kembali lagi ke jaman Erlangga,” kata Arya Baribin.
Raja Erlangga adalah menantu Raja Dharmawangsa, kata Arya Baribin menjelaskan riwayat wayang kulit. Raja Dharmawangsa adalah seorang raja besar penggemar berat pertunjukan wayang kulit. Maka ketika Sang Raja menyelenggarakan upacara perkawinan putrinya dengan Pangeran yang berasal dari Bali itu, diselenggarakanlah pertunjukan wayang kulit.
Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.Tahu-tahu saat tengah malam, tentara Wora-Wari yang didukung Sriwijaya, menyerbu ke tengah-tengah pesta, sehingga Raja Dharmawangsa yang tidak menyadari adanya bahaya yang mengancam itu, tewas seketika. Untunglah Erlangga, menantu Raja Dharmawangsa berhasil menyelamatkan diri dan lolos dari maut pembantaian. Akhirnya setelah berjuang bertahun-tahun Erlangga berhasil mendirikan kembali kerajaan Kahuripan dengan mengusir musuh yang menduduki kerajaan warisan mertuanya.
Pada masa Erlangga tradisi pentas wayang kulit untuk memeriahkan upacara keagamaan terus berlanjut. Seorang pujangga terkenal pada masa Erlangga, Mpu Kanwa menulis kitab dalam bentuk tembang, judulnya, Arjuna Wiwaha. Dalam kitabnya itu Mpu Kanwa sempat melukiskan suasana dan kesan yang ditimbulkan dari pertunjukan wayang kulit sbb:
‘Ada orang yang menonton wayang, ikut hanyut terbawa sedih. Yang demikian itu kalau dipikir sebenarnya bodoh. Sebab dia sebenarnya tahu wayang itu hanyalah kulit yang diukir digerak-gerakkan dan seolah-olah dapat berbicara. Demikanlah memang akibat dari orang yang memanjakan kegemaran inderanya, sehingga dia sama sekali tidak tahu tentang hakekat. Yakni bahwa segala kejadian itu sebenarnya hanya maya belaka’
“Selanjutnya pada jaman Kediri Lama, pertunjukan wayang ternyata juga tetap dipertahankan,” kata Arya Baribin melanjutkan.
Dijelaskan oleh Arya Baribin bahwa fungsi pertunjukan wayang masih sama sebagai bagian perayaan dalam ritual keagamaan. Mpu Sedah pujangga pada jaman Kediri menulis pada bagian awal kitab kakawin Bharata Yudha, bagaimana pertunjukan wayang kulit itu dipentaskan sbb:
“Semakin terang bersinar-sinarlah manikam-manikam di pintu gerbang kota, semuanya tampak. Tak disangka-sangka, wayanglah pohon-pohon oleh mereka yang mengembun-embunkan sanggul. Barulah kini tampak sulapan-sulapan pohon cemara yang sepanjang malam terdengar selalu menggersah.Tampak dengan terangnya air terjun-air terjun yang gemericik, kalau difikir, kedengaran dari orang yang sedang berkecek”
“Di sini Mpu Sedah melukiskan adegan ketika Sang Dalang sedang memainkan kecrek, menggerakkan gegunungan atau kekayon, diiringi suara pesinden yang siap mengiringi permainan wayang sampai udara berembun alias menjelang pagi,” kata Arya Baribin.
Masih jaman Kediri, Mpu Panuluh yang menulis bagian akhir kitab kakawin Bharatayudha itu juga meluksikan peranan gamelan sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit pada jaman Kediri sbb :
“Lagi pula di sungai-sungai kicir-kicir berbunyi seperti gender wayang, bambu yang berlubang-lubang berbunyi tertiup angin berdengung-dengung, itulah seruling pengiringnya. Nyanyian waranggananya ialah suara bersama katak-katak yang terdengar dari dalam jurang. Suara cenggeret dan belalang kerik riuh tak henti-hentinya, seperti suara kemanak dan kangsi”
“Di sini Mpu Panuluh melukiskan gamelan pengiring dalam pertunjukkan wayang, yang antara lain terdiri dari seruling, gender, dan kenong kecil,” kata Arya Baribin masih terus menjelaskan riwayat pementasan wayang kulit.
“Dari tulisan Mpu Kanwa di atas, jelas bahwa pentas wayang kulit sudah ada pada jaman Kerajaan Jenggala. Dari tulisan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh itu, tampak pula bahwa pentas wayang kulit yang dimainkan Ki Dalang di atas panggung semakin lengkap dengan iringan gamelan yang ditabuh oleh nayaga, diiringi pula oleh nyanyian pesinden atau waranggana. Itu terjadi pada jaman Kerajaan Kediri.
“Tradisi pementasan wayang kulit ternyata terus berlanjut sampai jaman akhir Majapahit. Bahkan terus mengalami perkembangan luar biasa pada masa Kerajaan Demak. Demikian Ayunda Dewi, kisah pementasan wayang kulit sampai masa akhir Kerajaan Majapahit,” kata Arya Baribin. Dia merasa senang karena Sang Dewi puas dengan penjelasan yang disampaikannya. Arya Baribin berhenti sejenak, sambil memberikan kesempatan pendengarnya merenungkan apa yang telah disampaikannya.
“Diajeng masih ada yang hendak ditanyakan lagi?” tanya Kamandaka kepada istrinya.
“Aku rasa sangat menarik penjelasan Dimas Arya. Ayo, Kanda bantu aku dengan mengajukan pertanyaan lain mumpung masih ada waktu,” kata Sang Dewi kepada suaminya. Kamandaka segera mengajukan pertanyaan kepada Arya Baribin.
“Bagaimana ceriteranya, sehingga para pendeta agama Islam di Demak memanfaatkan kesenian wayang sebagai media untuk menyebarkan Islam di kalangan penduduk? Padahal kisah-kisah dalam Mahabharata dan Ramayana merupakan kisah-kisah dari Kerajaan Hindu, terjadi di tanah Hindu bahkan kitab Mahabharata dan Ramayana itu merupakan salah satu kitab suci orang Hindu dan Buddha?” tanya Kamandaka yang sejak awal tekun mendengarkan uraian calon adik iparnya itu.
“Sebuah pertanyaan menarik dari Kanda Kamandaka,” jawab Arya Baribin. “Dalam agama Islam tidak dikenal istilah pendeta atau brahmana. Ada sejumlah istilah sebagai pengganti sebutan pendeta. Misalnya syekh, ulama, ustad, ajengan, kiyai, sunan bahkan wali. Mereka itu sering disebut juga mubaligh, juru dakwah atau ulama, yang berarti orang yang menguasai ilmu agama Islam.
“Salah seorang tokoh terkenal yang berjasa memanfaatkan media wayang kulit adalah Syekh Makdum Ibrahim yang juga dikenal dengan sebutan populer Sunan Bonang.
“Dinda sendiri belum sempat betemu dengan Syekh Makhdum Ibrahim, Kanda Kamandaka. Sebab ketika Adipati Bintara ditemani Syekh Makhdum Ibrahim dan Sunan Giri menghadap Raja Majapahit Dyah Suraprabhawa Sri Brawijaya IV, dinda masih anak-anak. Tetapi Ayahnda yang bekerja sebagai Pendeta Keraton Majapahit sempat bertemu dengan rombongan tamu dari Kadipaten Bintaran itu. Ayahnda masih kerabat dekat Raja Majapahit terakhir, Dyah Suraprabhawa yang dikenal sebagai Brawijaya IV. Ayahanda, punya sahabat Resi Bungsu yang sama-sama menjadi Pendeta Syiwa Kerajaan Majapahit. Ayahpun bersahabat dengan Pendeta Ganggadara, Mpu Tanakung pengarang lontar Lubdhaka dan Mpu Syiwa Murti penulis rontal Nawaruci. Mpu Syiwa Murti merupakan Pendeta Syiwa Buddha,” kata Arya Baribin menceriterakan ayahnya dan sahabat-sahabat ayahnya.
“Peristiwa Syekh Makhdum Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Ampel, dan Adipati Bintara menghadap Raja Majapahit itu terjadi dua tahun, sebelum Sri Brawijaya IV mangkat( 1478 M). “Dan juga sebelum Ibu Kota Kerajaan Majapahit runtuh diserang Kadipaten Keling yang berkedudukan di Pare, Kediri. Ketika itu Adipati Bintara yang diangkat oleh Sri Brawijaya IV menjadi penguasa Kadipaten Bintara, datang untuk mohon ijin mendirikan Masjid Kadipaten Bintaran. Permohonan itu dikabulkan oleh Sang Raja.
“Adipati Bintara itu masih kemenakan Sang Raja, sama dengan Adipati Keling yang memberontak. Adipati Keling Dyah Wijayakarana itu juga kemenakan Sang Raja. Sebab Adipati Bintara dan Adipati Keling itu sama-sama putra Sri Kertawijaya Brawijaya I. Hanya saja Adipati Bintara putra dari istri selir wanita China yang kemudian diceraikan, sedangkan Adipati Keling adalah putra bungsu Sri Kertawijaya dari permaisuri”
“Ketika itu Sang Raja Brawijaya IV mengijinkan pembangunan Masjid Bintara, sebab memang jumlah komunitas muslim di Kadipaten Bintara terus meningkat,” kata Arya Baribin pula. ”Pada waktu Kadipaten Bintara memproklamirkan diri menjadi Kerajaan Islam Demak (1481 M), Mesjid Bintara berubah menjadi Mesjid Kerajaan Islam Demak. Dengan demikian Masjid Demak merupakan Masjid Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kadipaten Bintara memang menolak mengakui Kerajaan Hindu Keling yang telah menyerang Majapahit, walaupun Kerajaan Keling menyatakan diri sebagai penerus Kerajaan Majapahit.”
“Kami beserta Ayah dan sejumlah pengikut Ayah pada saat itu terpaksa melarikan diri dari pusat kerajaan ketika Keraton Majapahit diserang. Kami sekeluarga melarikan diri menghindari kejaran tentara Keling, yang berhasil menduduki keraton. Memang para pendukung dan keluarga Raja Brawijaya IV yang tertangkap, banyak yang langsung dibantai tanpa kenal ampun.
“Sahabat Ayah yang lain, Resi Bungsu memilih mengungsi ke Cirebon beserta sejumlah pengikutnya. Sedangkan sahabat Ayah, Resi Ganggadara menjadi pengkhianat yang mendukung Penguasa Keling Wijayakarana karena dijanjikan tanah sima sangat luas, jika usaha menggulingkan Raja Majapahit berhasil. Sahabat Ayah yang lain, Mpu Syiwamurti kelihatannya netral. Tapi ternyata akhirnya diam-diam dia juga mendukung Raja Keling, ” kata Arya Baribin memanfaatkan kesempatan yang baik itu untuk mengungkap sedikit riwayat hidupnya sambil mengenang peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit (1478 M) yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Di antara yang hadir baru Kamandaka dan Ratna Pamekas yang sudah mengetahui sebagian dari riwayatnya menjadi pelarian Kerajaan Majapahit, karena Arya Baribin memang pernah menceriterakannya.
Usia Arya Baribin baru delapan tahun, ketika dia menjadi pengungsi melarikan diri dibawa ayahnya ke Kediri. Dari Kediri, Keluarga Arya Baribin kembali mengungsi ke Ponororogo, karena Kerajaan Keling oleh Raja Ranawijaya dipindahkan ke Kediri (1486 M). Ayah Arya Baribin, khawatir keberadaannya di Kediri akan diketahui oleh kaki tangan Raja Ranawijaya.
Setelah diselingi dengan menceriterakan sedikit riwayat pelariannya dari Kraton Majapahit, Arya Baribin kembali menceriterakan riwayat pementasan wayang kulit untuk menjelaskan pertanyaan yang diajukan Kamandaka.
“Alkisah pada waktu itu ada seorang dalang wayang kulit terkenal dari lereng gunung Pananggungan, namanya Ki Dalang Sari,” kata Arya Baribin. “ Ki Dalang Sari mencemaskan masa depan kesenian wayang, apabila kelak konflik Kerajaan Islam Demak melawan Kerajaan Hindu Keling berkembang ke arah perang besar. Cepat atau lambat kedua kerajaan itu pasti akan terlibat peperangan memperebutkan keunggulan atas sejumlah wilayah bekas Kerajaan Majapahit. Jika suatu ketika Kerajaan Islam Demak mencapai kemenangan, nasib kesenian wayang itu bisa terancam. Demikian pikiran yang berkecamuk dalam benak Ki Dalang Sari, dalang tenar dari Pananggungan itu.”
“Padahal menurut Ki Dalang Sari, kesenian wayang bisa dijadikan sarana untuk mempertinggi budi pekerti manusia, tanpa harus memandang apakah agamanya. Bagi Ki Dalang Sari, semua agama memiliki persamaan di samping perbedaan. Persamaannya adalah semua agama mengajarkan nilai-nilai budi pekerti luhur. Bedanya adalah pandangannya tentang hakekat Tuhan dan tata cara menyembah kepada Tuhan yang berbeda pada tiap agama.”(bersambung)

Senin, 15 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (02)





 Sumber gambar:Wikipedia.
“Ya, aku akan jelaskan lebih dulu cara mementaskan wayang beber, Dinda Ratna. Wayang beber sebenarnya usianya lebih muda dari pada wayang kulit,” kata Arya Baribin.
“Wayang beber sebagai media untuk mementaskan ceritera Panji itu menggunakan media kertas yang diolah dari kulit padi, lalu media itu diberi cat warna warni untuk melukiskan tokoh-tokohnya, kemudian digulung. Satu babak bisa terdiri dari 3 gulungan kertas. Jika ada enam babak berarti ada 6 gulungan yang masing-masing terdiri dari 3 lembar kertas bergambar tokoh-tokoh Panji.
“Cara memainkan wayang beber sangat mudah, tidak memerlukan ketrampilan tinggi. Gulungan-gulungan kertas karton itu dibuka di depan layar dengan menggunakan pasak yang ditancapkan di sisi kiri dan kanan batang pelepah pisang. Jika satu adegan selesai, Ki Dalang akan mencabut pasak di sebelah kanan, sehingga lembar karton berisi adegan pertama itu akan menggulung dengan sendirinya ke arah kiri. Maka di layar akan muncul adegan ke dua dari tokoh-tokoh wayang.
“Demikian seterusnya cara Ki Dalang memainkan wayang beber. Itulah sebabnya wayang yang dipentaskan dengan menggunakan gulungan kertas karton itu disebut wayang beber, karena cara memainkannya dilakukan dengan membuka atau membeberkan gulungan-gulungan kertas karton bergambar tokoh-tokoh wayang di depan layar. Cara pementasan wayang kulit sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan cara pementasan wayang beber. Hanya cara memainkan media wayang yang berbeda,” kata Arya Baribin.
“Dimas Arya, bagaimana dengan panggung pementasan wayang beber?” tanya Silihwarna seperti adik tirinya, juga belum pernah menyaksikan pentas wayang beber. Dia pun ingin tahu.
“Posisi panggung seperti biasa, ada di depan layar,” jawab Arya Baribin. “Cara Ki Dalang memainkan wayang beber ialah menghadap penonton dengan membelakangi layar. Hanya pada waktu akan mengganti adegan, Ki Dalang membalikkan badannya, lalu kembali ke posisi semula.”
“Gamelan pengiring terdiri dari seruling, rebab, kendang kecil, gender dan kangsi atau kenong kecil. Gamelan pengiring cukup ditangani empat niyaga. Rebab dan seruling dimainkan secara bergantian. Para penyanyi wanita yang disebut sinden atau waranggana, menyanyi secara bersama-sama maupun sendirian saja mengiringi permainan Ki Dalang.
“Ki Dalang melukiskan jalannya ceritera dengan menyanyikan lagu semacam kidung yang disebut suluk. Istilah dalang sebenarnya baru dikenal pada jaman Majapahit. Pada Jaman Daha dan Kediri, istilah untuk menyebut dalang wayang disebut windu mawayang. Berbeda dengan wayang kulit, wayang beber bisa dimainkan pada waktu siang maupun malam hari,” kata Arya Baribin menjelaskan cara pementasan wayang beber.
Silihwarna dan Ratna Pamekas mengangguk-angguk beberapa kali, mencoba membayangkan pentas wayang beber yang dilukiskan Arya Baribin. Wayang beber yang berasal dari Kerajaan Daha itu baru tersebar ke barat sampai Lembah Ciserayu. Belum menjangkau wilayah sebelah barat Citanduy.
Wajar jika Silihwarna dan Ratna Pamekas sama sekali belum pernah melihatnya. Pendeta Muda dan Wirapati juga tekun mendengarkan uraian Arya Baribin. Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka kurang berminat pada kisah-kisah wayang. Sedangkan Mayangsari dan Ratna Pamekas, sama dengan Sang Dewi punya minat tinggi pada kesenian dan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.
Rupanya masa lalu Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka yang akrab dengan seni bela diri dan keprajuritan, menyebabkan mereka bertiga lebih suka menyibukkan diri dalam urusan keamanan, keprajuritan, bela negara dan birokrasi pemerintaha dari pada hal-hal yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan.
“Bagaimana Ayunda Dewi, bisa dilanjutkan soal wayang kulit atau ditunda lain waktu?” Arya Baribin bertanya kepada Sang Dewi
Sang Dewi melihat ke arah langit sebelah barat. Ternyata matahari masih cukup tinggi, bagaikan bola perak tergantung di atas perbukitan. Semburat warna senja belum juga tampak.
“Masih cukup waktu, Dimas Arya Baribin. Ayo lanjutkan dengan riwayat wayang kulit,” Sang Dewi minta agar Arya Baribin melanjutkan uraiannya. Permintaan Sang Dewi ternyata mendapat dukungan dari semua yang hadir.
***
Bagi Sang Dewi, setiap kerajaan atau pun kadipaten, seharusnya memang memiliki perhatian yang cukup kepada masalah-masalah kebudayaan dan kesenian. Jika sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan rakyat kerajaan dan kadipaten merupakan kebutuhan yang sifatnya lahiriyah dan material sehingga harus dipenuhi para penguasa, maka kesenian, agama, dan pandangan hidup, merupakan kebutuhan rokhani manusia yang juga harus dipenuhi dan dicukupi para penguasa. Perlunya ialah agar manusia bisa berkembang secara utuh dan seimbang. Kondisi yang utuh, harmonis dan seimbang itu adalah kondisi tercapainya warga masyarakat yang sehat dan sejahtera baik yang bersifat lahiriyah maupun batiniah.
Terbayang oleh Sang Dewi, bila kelak adik-adiknya itu menjadi para penguasa di Lembah Ciserayu dan Citanduy. Bila mereka kelak juga mempunyai pemahaman memadai terhadap masalah-masalah agama, kesenian dan kebudayaan, di samping masalah ekonomi dan keamanan, nistaya kadipaten-kadipaten di Lembah Ciserayu dan Citanduy akan mengalami kemajuan pesat.
Itulah sebabnya, Sang Dewi memandang uraian Arya Baribin soal kesenian wayang, penting untuk dipahami. Baik oleh dirinya sendiri, suaminya maupun ipar-iparnya dan sepupunya seperti Wirapati yang kelak akan menjadi Adipati Kadipaten Adireja, Silihwarna yang kelak akan menjadi Adipati Kadipaten Dayeuhluhur dan Arya Baribin sendiri yang kelak akan menjadi penguasa Kadipaten Kalipucang.
Posisi Kadipaten Pasirluhur ke depannya, sebenarnya menurut pemikiran Sang Dewi memang bisa menjadi mercusuar bagi kadipaten-kadipaten lainnya di Lembah Ciserayu dan Citanduy. Jika kondisi itu dapat dicapai pada masa pemerintahan suaminya dan dirinya, nistaya kadipaten-kadipaten yang lain di luar Adireja, Dayeuhluhur dan Kalipucang, akan menginduk pada Kadipaten Pasirluhur. Kadipaten Pasirluhur nistaya akan berkembang sebagai sumber inspirasi bagi kemajuan kadipaten-kadipaten lainnya di Lembah Ciserayu dan Citanduy.
Sang Dewi, tiba-tiba tersadar dari lamunannya, ketika mendengar suara Arya Baribin mulai menjelaskan riwayat wayang kulit di Pulau Jawa.
“Pementasan wayang kulit jauh lebih tua dengan wayang beber, Ayunda Dewi,” kata Arya Baribin melanjutkan setelah diam sesaat dan melirik gadis cantik kekasihnya, Ratna Pamekas.
“Tradisi wayang kulit jelas berasal dari tradisi warisan kepercayaan bangsa Galuh, nenek moyang orang Sunda, Jawa, Madura, dan Bali yang disebut kepercayaan Animisme. Kepercayaan ini memuja ruh nenek moyang orang yang sudah meninggal. Kesenian wayang kulit adalah kesenian asli bangsa Galuh yang ikut terbawa ke Pulau Jawa, Madura, dan Bali.
“Pada saat agama dari India datang ke Jawa, media wayang kulit oleh para brahmana dan ksatria dijadikan media untuk mementaskan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Dalam agama Hindu dan Buddha, Kitab Mahabharata dan Ramayana adalah bagian dari Kitab Suci selain Wedda dan Tripitaka. Karena itu Kitab Mahabharata dan Ramayana hanya boleh dibaca oleh para Brahmana dan Ksatria. Para Brahmana dan Ksatria sebagai kasta tertinggi, melarang kasta Weisya, Sudra dan rakyat jelata lainnya membaca kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Bahkan para Brahmana mengancam hukuman yang keras bagi orang Weisya, Sudra, dan Paria yang ketahuan membaca kitab suci.
“Akibat dari larangan membaca kitab Mahabharata dan Ramayana, maka pementasan wayang kulit hanya bisa dilakukan secara terbatas di lingkungan istana para Ksatria dan Brahmana. Rakyat jelata tak ada yang berani mementaskan pagelaran wayang kulit dengan mengambil kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Jangankan mementaskan, menonton pun mereka tidak boleh. Inilah yang menyebabkan pentas wayang kulit sampai jaman kerajaan Majapahit, kalah populer dengan wayang beber yang berisi kisah-kisah Panji. Selain faktor perbedaan status sosial, kisah Mahabharata dan Ramayana terjadinya di India, bukan di Jawa. Karena itu, pada awalnya rakyat pun kurang begitu suka dengan kisah-kisah yang terjadi di negeri India yang jauh itu. Rakyat lebih suka kisah-kisah dalam ceritera Panji yang jelas-jelas terjadi di Kerajaan Daha dan Jenggala yang merupakan kerajaan yang ada di Jawa.
“Memang pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, rakyat jelata mulai dibebaskan dari larangan menonton pagelaran wayang kulit dengan menampilkan kisah-kisah dari Mahabharata dan Ramayana. Bahkan Raja Hayam Wuruk sendiri sering tampil sebagai dalang yang mementaskan pagelaran wayang kulit di Pendapa Istana Majapahit.
“Rakyat jelata diijinkan oleh Sang Raja Hayam Wuruk untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Tradisi baru yang dirintis Sang Raja Hayam Wuruk itu, kemudian diikuti pula oleh kadipaten-kadipaten lainnya yang berada di bawah kendali Majapahit, khususnya kadipaten-kadipaten di Jawa dan Bali.
“Pada waktu mendalang Sang Raja memakai sejumlah nama samaran. Misalnya, Ki Tritaraju, Ki Pager Antimun dan Ki Gagak Ketawang. Ternyata Raja Hayam Wuruk bukan hanya pandai mendalang. Tetapi juga pandai olah swara, pandai memainkan tarian topeng bahkan pandai memainkan peran sebagai wanita jika mementaskan wayang jenaka.
“Sekalipun Raja Hayam Wuruk telah melakukan pembaharuan dalam pertunjukan wayang kulit, namun sampai akhir Kerajaan Majapahit, belum dikenal tokoh-tokoh wayang kulit yang berdiri sendiri dalam bentuk boneka wayang kulit. Boneka wayang kulit yang dapat dimainkan secara mandiri di atas layar atau kelir, justru dikembangkan oleh Kerajaan Islam Demak. Kerajaan Islam Demaklah yang pertama kali memanfaatkan media wayang kulit untuk mementaskan kisah-kisah dalam Mahabharata dan Ramayana sebagai sarana menyebarkan agama Islam,” kata Arya Baribin. Dia berhenti sejenak sambil memandang Sang Dewi, kemudian berkata:
“Ayunda Dewi, itulah tadi penjelasan atas pertanyaan Ayunda Dewi, mengapa pementasan wayang kulit dengan lakon Mahabharata dan Ramayana kalah populer dengan wayang beber yang jauh lebih merakyat. Tetapi jika seniman-seniman Muslim terus menerus mengembangkan kreatifitasnya, cepat atau lambat wayang kulit akan digemari juga oleh sebagai besar rakyat.” (bersambung)

Kamis, 04 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (01)




Novel Sejarah, diangkat dari Ceritera Rakyat Banyoemas, Episode ke-2, Seri Kisah Cinta Dewi Ciptarasa- Raden Kamandaka.( by : Anwar Hadja )



Perayaan pernikahan agung Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa – Raden Kamandaka Banyakcatra, sudah menginjak malam ke tujuh. Berpuluh-puluh kambing dan ratusan ayam telah dipotong. Tetapi sumbangan ternak potong terus mengalir. Demikian pula berkarung-karung beras, beras ketan, tepung ketela, pisang, dan berpuluh-puluh keranjang sayuran telah dimasak. Tetapi tiap hari masih saja datang gerobag-gerobag yang membawa hasil bumi dari tanah-tanah subur lembah Logawa dan Ciserayu yang disumbangkan penduduk untuk memeriahkan pesta perkawinan Sang Dewi  dan Kamandaka.

Perayaan pun sampailah pada malam terakhir. Penduduk bersuka ria karena akan menyaksikan pagelaran wayang beber oleh dalang terkenal Ki Sukmo Lelono, dalang dari Jatijajar. Ki Dalang dan penabuh gamelan sore hari itu telah tiba di Kadipaten Pasirluhur. Demikian pula Sinden Titisari dari grumbul Jatisari, sinden muda yang sedang naik daun,.
Kamandaka dan Sang Dewi segera mengundang Ki Dalang menghadapnya di Dalem Gede Kadipaten. Ki Dalang Sukmo Lelono diiringi sinden cantik Titisari dan empat niyaga, menyampaikan ucapan selamat kepada Sang Dewi dan Kamandaka setelah memperkenalkan diri terlebih dahulu..
“Selamat Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu. Semoga sejahtera dan bahagia selalu. Semoga Kadipaten Pasirluhur pun semakin maju, berkembang dan jaya” kata Ki Sukmo Lelono yang didampingi Sinden Titisari dan empat niyaga.
“Terimakasih, Ki Dalang. Apa lakon wayang yang akan dipentaskan malam ini?” tanya Kamandaka setelah mempersilahkan semua tamunya duduk di depannya.
“Bagaimana kalau kisah Raden Dewabrata atau Pandu Palakrama, cuplikan Mahabharata?” tanya Ki Dalang menawarkan.
“Bagaimana Diajeng, suka tidak kisah Dewabrata, putra Prabu Sentanu dari Kerajaan Hastina?”.
“Ah, aku tak suka, Kanda. Dewabrata menolak cinta Dewi Amba, akhirnya malah membunuh gadis yang malang itu.”
“Kalau Pandu Palakrama, Diajeng?”
“Aku juga tidak suka. Raja Pandu mati muda, karena kesalahannya sendiri. Kasihan Dewi Kunti yang harus jadi janda muda dan mengasuh sekaligus tiga anak kandungnya dan dua anak tirinya.”
“Aku tak mau jadi janda muda,” kata Sang Dewi memberi alasan. Kamandaka tersenyum mendengar alasan penolakan istrinya.
“Bagaimana kalau lakon Sayembara Mantili dari kisah Ramayana, Kanjeng Ayu Adipati?” Ki Dalang menawarkan lakon yang lain lagi. Ruang tamu itu kembali senyap, menunggu pendapat Sang Dewi yang lama menimbang-nimbang.
“Kasihan Dewi Sinta, ya? Belum sempat merasakan indahnya bulan madu, harus mengikuti Raden Rama masuk hutan. Kemudian diculik Rahwana, meletuslah perang besar untuk merebut kembali Dewi Sinta. Tapi aku tak suka ujung ceritera. Keduanya akhirnya berpisah juga,” kata Sang Dewi setelah agak lama membuat pertimbangan. Ki Dalang tersenyum. Dia tahu Kanjeng Ayu Adipati sosok wanita cerdas dan pandai mengambil hikmah dari sebuah kisah.
“Cerita lain ada tidak, Ki Dalang?” tanya Kamandaka.
“Kebetulan hamba membawa juga di dalam kotak gulungan wayang kisah Raden Inu Kertapati –Galuh Candrakirana, Kanjeng Adipati,” kata Ki Dalang. Dia berharap kisah yang ditawarkannya itu disenangi Kanjeng Ayu Adipati. Lalu dijelaskannya secara singkat lakon yang akan dipentaskannya itu. Lakon-Lakon Panji saat itu sangat digemari pada acara-acara pesta perkawinan para punggawa dan adipati di Lembah Ciserayu.
“Oh, cerita Panji, ya aku setuju!” kata Sang Dewi dengan wajah gembira.
“Ya, sudah. Pentaskan saja lakon pilihan istriku, Ki Dalang,” akhirnya Kamandaka membuat keputusan.
“Baiklah, Kanjeng Adipati. Mohon doa restu agar pementasan lancar dan memuaskan,” Ki Dalang pun mohon diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka ingin memeriksa panggung pementasan di Pendapa Kadipaten. Teh manis yang terhidang di hadapan Ki Dalang dan rombongan telah diminum. Mereka juga telah menikmati ketela rebus yang disajikan.
“Siapa namamu, Cah Ayu?” tanya Sang Dewi saat bersalaman dengan Sinden Titisari yang akan pamit mengikuti Ki Dalang.
“Titisari, Kanjeng Ayu, dari grumbul Jatisari,” jawabnya.
“Bisa menari, Titisari?”
“Ya, begitulah, Kanjeng Ayu. Masih dalam taraf belajar.”
“Teruslah berlatih, jangan mudah bosan dan jangan gampang menyerah,” pesan Sang Dewi.
“Terima kasih, doa dari Kanjeng Ayu senantiasa hamba harapkan,” kata Sinden Titisari seraya mencium tangan Kanjeng Ayu Adipati dan suaminya.
“Ada berapa sinden, Ki Dalang?” tanya Sang Dewi.
“Ada tiga sinden, Kanjeng Ayu. Yang dua lagi masih dalam perjalanan,” jawab Ki Dalang.
Sinden Titisari masih muda, cantik, berkulit kuning, usianya baru sekitar 16 tahun. Tetapi namanya sudah melejit di Lembah Ciserayu sebagai sinden muda yang banyak penggemarnya. Pentas wayang tanpa kehadiran Sinden Titisari, akan terasa hambar, ibaratnya sayur kurang garam.
Begitu rombongan Ki Dalang Sukmo Lelono meninggalkan ruang tamu, Pendeta Muda Amenglayaran, Arya Baribin, dan Ratna Pamekas tiba di halaman serambi Dalem Gede. Ratna Pamekas langsung memeluk Kamandaka dan Sang Dewi dengan sinar mata berkilat-kilat ikut merasakan kebahagiaan kedua pasang pengantin baru itu. Arya Baribin dan Pendeta Muda bersalaman dengan Kamandaka dan Sang Dewi.

 Sore itu Sang Dewi dan Ratna Pamekas sama-sama mengenakan kain kebaya dari sutra halus warna merah muda, dan kain batik coklat saga tua corak truntum, dengan dandanan rambut disanggul indah sekali. Keduanya tampak anggun, cantik mempesonan, menyebarkan aroma segar mewangi. Sore itu Sang Dewi memang telah mengajak adik-adiknya mengenakan kain dan kebaya kembar, untuk menunjukkan kekompakkan di antara mereka. Kamandaka sendiri mengenakan celana hitam dan atasan baju sutra lengan panjang warna biru muda, lalu diikuti adik-adiknya dengan warna sama. Hanya Pendeta Muda yang tidak kebagian pakaian baju sutra seragam, karena dia datang terlambat dan Kamandaka tidak menduga kakak sepupunya itu akan datang. Karena Pendeta Muda malam itu ingin santai dan tidak mau memakai baju jubah pendeta, Kamandaka meminjamkan baju atasan berbahan sutra hijau muda.
Sang Dewi memanggil Khandeg Wilis, dan disuruhnya menugaskan pembantu  menarik cangkir-cangkir kosong yang baru dipakai menjamu tamu rombongan Ki Dalang. Khandeg Wilis datang membawa seorang pembantu wanita untuk mengambil cangkir-cangkir dan piring di atas meja.
Belum lama Arya Baribin dan Ratna Pamekas duduk, tiba-tiba Sang Dewi ingat Mayangsari dan Sekarmenur. Dia merasa kurang lengkap bila kedua adik sepupunya itu belum datang.
“Dinda Ratna, mana Dinda Mayangsari? Dinda Sekarmenur? “ tanya Sang Dewi kepada adik iparnya.
“Sedang mandi, Ayunda,” jawab Ratna Pamekas. ”Sebentar lagi mau nyusul ke sini. Kanda Silihwarna dan Kanda Wirapati sudah nunggu di teras Taman Kaputren.”
“Wah, Dinda Mayangsari kalau mandi lama, setahun! Belum dirias pula, ya?” kata Sang Dewi yang tahu adat adik sepupunya itu. Mereka tertawa semua.
“Ayunda Sekarmenur sudah selesai dirias, Ayunda Dewi. Demikian pula Ayunda Sekarmelati dan Sekarcempaka. Memang Ayunda Mayangsari lama kalau mandi. Tapi kalau merias dirinya sendiri  biasanya cepat. Apalagi sudah ditunggu Kanda Silihwarna,” kata Ratna Pamekas.
Tiba-tiba Mayangsari, Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka diiringi Silihwarna dan Wirapati, sudah muncul di depan mereka. Keempat gadis cantik itu juga mengenakan kebaya dan kain batik yang sama, sehingga beranda Dalem Gede itu seakan-akan kedatangan tamu enam bidadari cantik kembar dari Suralaya.
Sekarmelati dan Sekarcempaka baru tiba tiga hari lalu di Pasirluhur, karena selama ini sibuk di Nusakambangan mewakili Sekarmenur dan Wirapati. Kakaknya itu sudah beberapa minggu ada di Kadipaten Pasirluhur. Sekarmelati dan Sekarcempaka langsung berkenalan dengan Pendeta Muda yang sore hari itu tampil rapih dengan potongan baju biasa, sehingga Sekarmelati dan Sekarcempaka hampir-hampir tidak menyanggka kalau Amenglayaran adalah seorang Pendeta Muda. Paling-paling rambut kepalanya yang tipis dan mulai memenuhi kepalanya yang semula plontos itulah yang merupakan ciri bahwa dia seorang pendeta agama Hindu Syiwa.
“Dinda Mayangsari, itu Diajeng Dewi, tadi bilang bahwa Dinda Mayangsari kalau mandi lama karena pasti sambil menyanyi,” kata Kamandaka menggoda Mayangsari yang sore itu tampil cantik jelita didampingi kekasihnya, Silihwarna. Kamandaka ingin malam nanti Mayangsari mau menyumbangkan lagu untuk memeriahkan acara.
“Lho, diam-diam Dinda Mayangsari punya suara emas. Tidak kalah dengan suara Sinden Titisari yang sedang naik daun. Padahal medan latihannya hanya di kamar mandi, ” puji Sang Dewi pula yang membuat hati Mayangsari senang.
Angin sore bertiup masuk beranda ruang tamu Dalem Gede, menerbangkan aroma wewangian menyegarkan dari kain dan kebaya indah berwarna merah muda yang dikenakan Sang Dewi dan kelima gadis cantik adik-adiknya itu. Matahari masih cukup tinggi dari atas kaki langit sebelah barat, sekalipun sudah cukup jauh condong ke barat. Angin sore dari pohon-pohon raksasa di hutan sekitar Sungai Logawa masih berhembus cukup kuat, merontokkan daun-daun yang sudah kering dan menguning, menambah tebal daun-daun lama. Daun yang telah  membusuk di kaki pohon-pohon raksasa yang tumbuh seenaknya di hutan pingit Logawa.
Di halam Pendapa dan Dalem Gede Kadipaten Pasirluhur, sejumlah daun kering juga luruh. Ada diantaranya yang melayang-layang menerobos halaman Dalem Gede dan jatuh dekat beranda ruang tamu. Seorang juru taman cepat-cepat berlari memungut daun-daun yang luruh itu, agar daun-daun itu tidak membusuk di halaman Dalem Kadipaten.
“Nanti malam kita akan nonton pentas wayang beber. Tadi Ki Dalang Sukmo Lelono, dalang kondang dari Jatijajar dengan empat niyaganya baru saja ke sini. Sindennya Titisari dari grumbul Jatisari, sinden bersuara emas dan sedang naik daun. Dua sinden lagi masih di perjalanan. Ke dua sinden yang belum tiba itu sinden dari Kalikidang,” kata Kamandaka kepada adik-adiknya yang sudah berkumpul.
Tentu saja Mayangsari senang mendengar berita itu. Dia  berjanji akan ikut memeriahkan pentas wayang beber nanti malam dengan menyumbangkan beberapa lagu. Mayangsari juga ingin menyanyi duet bareng dengan Sinden Titisari.
“Lakonnya apa Kanda?” Arya Baribin bertanya.
“Kisah ceritera Panji. Diajeng Dewi yang memilih,” jawab Kamandaka.
“Kisah Panji kelihatannya menarik. Benar, Dimas Arya?” tanya Sang Dewi.
“Benar, Ayunda Dewi. Ceritera Panji selalu menarik, padahal tokoh utamanya sebenarnya hanya dua,” kata Arya Baribin. Tentu saja dia tahu banyak perkembangan wayang beber dengan ceritera Panji. Sebab dia memang berasal dari lingkungan Keraton Majapahit. Dulu, dia sering sekali menyaksikan pagelaran wayang beber maupun wayang kulit.
“Dimas Arya, coba Dimas jelaskan bagaimana wayang beber yang berisi kisah-kisah Panji itu. Aku pernah dengar ceritera Panji, hanya masih samar-samar. Bagaimana seluk beluk wayang beber, aku belum banyak tahu. Demikian pula riwayat wayang kulit. Konon wayang beber di kalangan rakyat lebih digemari ketimbang wayang kulit, benar tidak Dimas?” tanya Sang Dewi. Tiba-tiba muncul dua orang pembantu wanita datang membawa baki berisi sejumlah cangkir teh manis. Khandeg Wilis muncul lagi di belakangnya.
“Apa makanan kecil untuk teman minum teh, Biyung Emban?” tanya Sang Dewi.
“Mau cimplung pepaya atau talas rebus, Ndara Kanjeng Ayu?” Khandeg Wilis balik bertanya.
“Dua duanya boleh, Biyung Emban,” kata Kamandaka..
“Sambil menunggu cimplung dan ubi rebus, ayo Dimas Arya mulai,” desak Sang Dewi mengulangi permintaannya kepada Arya Baribin. Arya Baribin yang menguasai berbagai jenis pertunjukan wayang itu pun mulai menjelaskan riwayat wayang beber.
“Sebenarnya pementasan ceritera Panji dalam bentuk wayang beber sudah dimulai pada jaman Kerajaan Kediri Lama. Jadi riwayat kisah Panji memang berawal dari kerajaan warisan Erlangga, Raja Jenggala. Pada awalnya kisah Panji merupakan ceritera tutur yang sering dipentaskan melalui media wayang beber. Penggemarnya bukan hanya dari kalangan istana saja. Banyak juga dari kalangan rakyat biasa. Pada jaman Majapahit, wayang beber yang menceriterakan kisah Panji semakin populer dan berkembang ke mana-mana. Akhirnya kesenian wayang beber yang merakyat itu sampai juga di Lembah Ciserayu dan ternyata di sini memiliki banyak penggemar juga.” kata Arya Baribin.(bersambung)