Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Kamis, 13 September 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (19)



Pagi hari itu amat cerah. Matahari sudah naik lebih dari sepenggalah. Burung kutilang, emprit, dan prenjak berloncat-loncatan kian kemari dari satu dahan ke dahan lain. Daun-daun pepohonan yang tumbuh di halaman Kadipaten Pasirluhur, bergerak-gerak pelan ditiup angin pagi. Di Pendapa Kadipaten, Ki Patih memimpin pertemuan terbatas untuk menindaklanjuti pesan Kanjeng Ayu Adipati yang akan melakukan bulan madu melayari Sungai Ciserayu sampai muaranya. Kemudian dari sana akan dilanjutkan ke Adireja dan Nusakambangan. Wirapati, Sekarmenur, Silihwarna, dan Arya Baribin sengaja diundang untuk menghadiri rapat. Ki Patih didampingi Tumenggung Maresi dan wakilnya Jigjayuda.
“Tumenggung Maresi, dari rombongan Kanjeng Ayu Adipati, berapa orang akan ikut?” tanya Ki Patih.
“Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati. Kanjeng Adipati Sepuh dan Istrinya, sudah 4 orang. Tambah Khandegwilis, sudah 5 orang. Ki Patih, mau ikut?” Tumenggung Maresi balik bertanya kepada Ki Patih.
“Ki Patih mau jaga Pendapa saja. Tumenggung Maresi dan Jigjayuda saja yang akan mengawal Kanjeng Ayu Adipati dan Kanjeng Adipati. Kanjeng Adipati Sepuh sudah Ki Patih tanya, tidak akan ikut. Katanya dengan Kanjeng Ayu Adipati Sepuh ada acara mau ke Cirebon,” kata Ki Patih.
“Baiklah kalau begitu. Berarti jumlahnya tetap 3 orang dengan 2 pengawal pribadi, semuanya sudah 5 orang. Siapa lagi yang akan ikut, Ndara Wirapati?” tanya Tumenggung Maresi.
“Dinda Silihwarna dan Dimas Arya Baribin. Dinda Sekar Menur dan dua adiknya, Dinda Mayangsari dan Dinda Ratna Pamekas, jadi ditambah 7 orang,“ kata Wirapati menghitung orang-orang yang akan ikut menemani Kanjeng Ayu Adipati.
“Kanda Wirapati? Belum dihitung. Kasihan Ayunda Sekarmenur jika tak ada yang mengawal,” kata Silihwarna mengingatkan. Sekarmenur yang duduk di samping Wirapati tertawa mendengar olok-olokan Silihwarna.
“Kalau tidak ada yang mengawal, ya mengawal diri sendiri,” kata Sekarmenur.
“Tenang saja Ayunda, masih ada Tumenggung Silihwarna yang bisa mengawal,” Silihwarna mulai menggoda.
“Lho, nanti Dinda Mayangsari marah,” kata Sekarmenur.
“Ya, tidaklah. Kan yang dikawal dua-duanya, Ayunda Sekarmenur dan Dinda Mayangsari,” jawab Silihwarna.
“Lho, Ndara Wirapati mau kemana?” tanya Tumenggung Maresi heran.
“Ya, mau ikut dalam rombongan. Mana tahan Kanda Wirapati sendirian ditinggal Ayunda Sekarmenur?” kata Silihwarna.
“Ah, Dinda Silihwarna ada-ada saja. Gara-gara lupa menghitung diri sendiri. Memang aku yang salah. Jadi tambahan yang ikut bukan 7 orang. Tetapi 8 orang,” kata Wirapati sambil tersenyum, menyadari kesalahannya dirinya, yang menghitung malah tidak dihitung.
“Oh, iya lupa. Pendeta Muda, katanya mau ikut. Tambah 1 jadi 9 orang,” kata Wirapati.
“Tambah Nyai Kertisara dan Rekajaya, 2 orang. Total jumlah rombongan, 5 tambah 9 tambah 2, semuanya 16 orang. Tambah pasukan pengawal umum 11 orang sudah dengan komandan. Jadi semuanya 27 orang. Bisa dibawa dengan berapa perahu, Ndara?” tanya Tumenggung Maresi , kepada Wirapati, setelah menghitung dengan teliti.
“Dinda Sekarmenur, berapa perahu yang akan dikirim untuk membawa 27 orang?” tanya Wirapati.
“Aku lihat satu perahu Nyai Kertisara bisa membawa 6 penumpang. Jadi perahu untuk 11 orang pasukan pengawal cukup 2 perahu baru milik Nyai Kertisara. Untuk yang 16 orang aku akan kirimkan 2 perahu sungai, tiap 1 perahu muat 8 orang,” jawab Sekarmenur.
“Jadi kesimpulannya kebutuhan perahu, seluruhnya hanya perlu 2 perahu baru milik Nyai Kertisara dan 2 perahu dari Nusakambangan. Tukang sauh dicarikan dari Nusakambangan yang sudah berpengalaman. Betul Ndara Ayu Sekarmenur?” tanya Tumenggung Maresi setelah menghitung kembali kebutuhan perahu dan tukang sauhnya yang dijawab Sekarmenur dengan anggukan kepala membenarkan.
“Sekarang rencana pemberangkatan. Tempat pemberangkatan rombongan rencananya pagi hari dan berkumpul di Pangkalan Perahu Sungai Ciserayu Kaliwedi. Barang kali Ndara Ayu Sekarmenur bisa menjelaskan tempat-tempat mana saja yang akan dikunjungi sampai ke Pulau Nusakambangan. Banyak yang belum tahu, Ndara Ayu,” kata Tumenggung Maresi. Sekarmenur memang lebih berpengalaman dan menguasai medan.
“Jika kita berangkat pagi hari setelah sarapan, sepertinya tengah hari sudah melewati Arja Binangun. Muara Sungai Ciserayu sudah dekat. Sampai di muara bisa istirahat untuk santap siang di Padepokan Batuputih. Dari sana bila ingin melihat pulau Bandung, bisa naik bukit yang ada di sisi barat muara. Dari atas bukit, menghadap ke timur akan tampak pemandangan indah Lautan Selatan dilihat dari ketinggian tertentu. Pulau Bandung tempat tumbuhnya bunga sakti Wijayakusuma yang memiliki daya penyembuhan, juga kelihatan. Dari sana, ganti satu perahu laut, bertolak menuju Nusakambangan. Menginap dua atau tiga malam di Nusakambangan. Esok harinya kembali ke daratan, menuju Adireja, nginap lagi semalam. Sampai Adireja, selanjutnya bagaimana rencananya, Kanda Wirapati?” tanya Sekarmenur sesudah memberi gambaran dan penjelasan kepada peserta rapat.
“Terima kasih, Dinda Sekarmenur,” kata Wirapati menyambung penjelasan Sekarmenur. “Di Adireja rombongan akan menginap semalam. Esok paginya rombongan akan dipecah jadi dua. Satu menuju Kadipaten Dayeuhluhur. Satu lagi menuju Kadipaten Pasirluhur,” kata Wirapati.
“Siapa saja yang akan ke Kadipaten Dayeuhluhur?” tanya Tumenggung Maresi.
“Yang pasti Dinda Silihwara dan Dinda Mayangsari dalam waktu dekat ini harus sudah di Kadipaten Dayeuhluhur. Kanjeng Rama sudah menanyakan terus lewat surat yang dibawa kurir. Dimas Arya Baribin dan Dinda Ratna Pamekas, sebaiknya menemani Dinda Silihwarna,” jawab Wirapati sambil memberi saran kepada Arya Baribin.
“Kanda Amenglayaran masih pikir-pikir, tapi sudah bilang ingin ikut ke Kadipaten Dayeuhluhur. Dimas Arya Baribin dan Dinda Ratna Pamekas, memang sudah memutuskan akan menemani  ke Kadipaten Dayeuhluhur,” kata Silihwarna memberikan penjelasan kepada Wirapati.
Tiba-tiba Tumenggung Maresi seperti diingatkan sesuatu. Setelah selesai resepsi pernikahan Sang Dyah Ayu Dewi dengan Kamandaka, kesibukan berikutnya adalah menghadiri upacara dan pesta perkawinan Mayangsari dengan Silihwarna. Upacara dan pesta pernikahan akan di selenggarakan di Kadipaten Dayeuhluhur. Bagaimanapun juga Silihwarna telah ditetapkan oleh Adipati Kandhadaha menjadi tumenggung yang bertanggung jawab mengembangan pusat latihan dasar keprajuritan di Padepokan Baturagung. Apalagi dulu sempat menjadi atasannya dalam operasi menangkap Kamandaka gara-gara Kamandaka diam-diam masuk Taman Kaputren pada malam hari.
“Selamat, Ndara. Satu bulan lagi ya? Akhirnya jadi juga memetik Bunga Kadipaten Dayeuhluhur,” kata Tumenggung Maresi sambil menjabat tangan Silihwarna. Ki Patih dan Jigjayuda ikut memberikan ucapan selamat dengan menjabat tangan Silihwarna. Rencananya memang bulan depan Silihwarna akan melangsungkan pernikahan dengan Mayangsari, putri Adipati Dayeuhluhur.
Ki Patih masih ingat dialah yang dulu mengusulkan agar Silihwarna diangkat menjadi Tumenggung Kadipaten Pasirluhur. Kemudian Kanjeng Adipati Kandhadaha yang menjodohkan secara tidak sengaja dengan Mayangsari. Dia adalah putri bungsu Adipati Dayeuhluhur. Adipati Dayeuhluhur masih ipar Kanjeng Adipati Sepuh.
“Kanjeng Rama sudah menyiapkan tempat untuk menampung tamu keluarga calon mempelai pria,” kata Wirapati. “Bagus sekali kalau Dimas Baribin, Dinda Ratna Pamekas, dan Kanda Amenglayaran bisa menemani Dinda Silihwarna ke Kadipaten Dayeuhluhur. Kelak Ayunda Dewi dan Kanda Kamandaka beserta rombongan akan menyusul, langsung dari Kadipaten Pasirluhur,” kata Wirapati.
“Baiklah, kalau begitu. Tinggal Tumenggung Maresi secepatnya hubungi Rekajaya dan Nyai Kertisara untuk menyiapkan dua perahu. Kapan perahu dari Nusakambangan bisa dikirimkan ke Kaliwedi, Ananda Sekarmenur?” tanya Ki Patih.
“Ada tidak kurir yang bisa dikirim ke Nusakambangan, Paman Patih?” tanya Sekarmenur.
“Ada. Dua orang cukup, Ananda Sekarmenur?”
“Empat orang, agar aman, dengan dua kuda. Nanti Ananda buatkan surat. Besok harus sudah berangkat,” Sekarmenur menjelaskan kepada Ki Patih.
“Siang hari ini pun bisa berangkat, asal surat sudah selesai dibuat,” kata Ki Patih.
“Dinda Sekarmenur, siapa yang bisa dihubungi di Nusakambangan?” tanya Wirapati.
“Tumenggung Surengpati. Kanda sudah kenal baik, kan? Dia berasal dari Adireja. Biar dia mengurus segala sesuatunya. Aku akan minta dikirimkan dua perahu sungai bagus yang ada atapnya. Dengan sepuluh tukang sauh yang berpengalaman, tidak sampai dua hari dua perahu akan tiba di Pangkalan Perahu Nyai Kertisara Kaliwedi,” kata Sekarmenur.
“Tujuh hari yang akan datang perahu dari Nusakambangan sudah bisa sampai di Kaliwedi?” tanya Wirapati.
“Sebenarnya bisa, kalau kurir berangkat besok. Apa lagi kalau hari ini. Perahu Sungai milik Nusakambangan kan pangkalannya di muara Sungai Ciserayu, di tepi Teluk Penyu. Sering sih beroperasi naik ke hulu. Hanya belum pernah sampai ke Kaliwedi. Tapi untuk kepastian, sepertinya perlu waktu delapan hari sejak hari ini,” jawab Sekarmenur.
Ki Patih mengucapkan terimakasih kepada peserta pertemuan. Lalu menutup rapat dan menugaskan Tumenggung Maresi untuk menindaklanjuti kesepakatan dan rencana-rencana yang sudah diputuskan hari itu.
Sekarmenur cepat-cepat kembali ke kamarnya di Taman Kaputren untuk mempersiapkan surat yang akan disampaikan kepada Tumenggung Surengpati. Dia adalah orang kepercayaan Sekarmenur. Tumenggung Surengpati pula yang selama ini ditugaskan menangani roda pemerintahan Kadipaten Nusakambangan selama Sekarmenur, Sekarmelati, Sekarcempaka dan Wirapati di Kadipaten Pasirluhur.
Dengan menggunakan kertas dan alat-alat tulis yang disediakan Tumenggung Maresi Sekarmenur menulis sepucuk surat kepada orang kepercayaannya di Nusakambangan. Wirapati menunggu Sekarmenur yang sedang menulis surat. Dia duduk di teras bekas kamar Sang Dewi di Taman Kaputren. Memang selama tinggal di Kadipaten Pasirluhur, Sekarmenur menempati kamar yang dulu dipakai Sang Dewi sebelum Sang Dewi pindah ke Puri Permatabiru.
Hubungan Sekarmenur dengan Wirapati, termasuk belum lama. Kadang-kadang ada perasaan berdosa dalam diri Sekarmenur. Sebab dialah dulu yang membantu Nyai Gede Wulansari memaksa Dyah Ayu Niken Gambirarum minum cairan yang membuat kekasih Wirapati itu pingsan. Dan akhirnya meninggal. Posisi dirinya waktu itu serba sulit. Anehnya, dia masih sering mimpi bertemu dengan Dyah Ayu Niken Gambirarum. Dalam setiap mimpinya itu Dyah Ayu Niken Gambirarum tidak sendirian, tetapi datang berdua dengan Raja Pulebahas yang memang dikenalnya dengan baik. Bahkan Sang Raja hampir saja menjadi kakak iparnya, jika dulu Sang Raja mengijinkan pernikahan dirinya dengan adik Sang Raja, Patih Puletembini.
Sebenarnya Sekarmenur tahu, bahwa Dyah Ayu Niken Gambirarum sudah menjadi istri Sang Raja Pulebahas. “Tetapi andaikata Dyah Ayu Niken Gambirarum tidak pingsan dan tewas, Putri Adipati Kalipucang itu pasti benar-benar menjadi permaisuri Raja Pulebahas,” pikir Sekarmenur. Dan dirinya mungkin sudah menjadi istri Patih Puletembini, adik Sang Raja.
Hubungan yang serius dirinya dengan Wirapati terjadi satu minggu setelah Wirapati menemaninya dalam acara ritual pembakaran mayat Raja Pulebahas. Upacara pembakaran mayat Raja Nusakambangan dilakukan bersama-sama dengan mayat Patih Puletembini, Tumenggung Surajaladri, dan Rangga Singalaut di Padepokan Batu Putih, dekat muara Sungai Ciserayu.
Mungkin karena hubungan yang belum terlalu lama itu, Sekarmenur sering merasa Wirapati, belum bisa melupakan kekasihnya yang lama. Dia sendiri sering iri, jika melihat kemesraan yang ditunjukkan Sang Dewi dalam hubungannya dengan Kamandaka. Bahkan sebelum menikah pun, Kamandaka sudah menunjukkan kemesraannya di depan umum. Tidak jarang baik Sang Dewi maupun Kamandaka, berani berciuman di depan adik-adiknya.
Bagi Sekarmenur Patih Puletembini dirasakan lebih sering menunjukkan sikapnya yang sangat mesra kepada dirinya. Bahkan Patih Puletembini berani bersikap mesra kepada dirinya, sekalipun di depan Sang Raja. Sebaliknya sikap mesra Wirapati kepada dirinya, dirasakannya hanya sekedarnya saja. Bahkan Wirapati belum berani mencium atau pun merayu dirinya. Padahal sebagai seorang wanita, dia akan senang jika Wirapati berani merayunya. Memang dia merasa sering sangat formal dalam hubungan sehari-hari dengan siapa saja, karena dia pernah menjadi komandan tentara wanita, sehingga tradisi disiplin, lugas, tegas, dan tanpa basa-basi, sering muncul pada dirinya. [bersambung].

Rabu, 12 September 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (18)



Dia langsung memeluk istrinya sambil berbisik di dekat telinga istrinya, ”Aku sekarang tidak memerlukan bantuan Emban Khandegwilis lagi.”
Mendengar bisikan itu Sang Dewi hanya tersenyum, karena masih ingat ketika dulu Kamandaka gemetar tidak sanggup membuka tali pengunci kemben dan ikat pinggang yang saat itu melindungi dada dan pinggulnya. Kini tangan Kamandaka dengan mudah menarik baju tidur yang melindungi tubuh istrinya. Sang Dewi pun dengan cekatan membantu melepaskan baju tidur yang melindungi tubuh perkasa Kamandaka
Sebuah permainan asmara yang aneh, asing, penuh sensasi, dan mengasyikkan, akhirnya mengantarkan Kamandaka sebagai pasangan pengantin baru yang akan berlayar dengan kecepatan penuh mengarungi lautan cinta. Dalam pelayarannya itu terkadang ombak besar menerjang mereka berdua. Terkadang gelombang besar mengangkatnya tinggi-tinggi. Terkadang pula dibawanya Kamandaka dan istrinya meluncur cepat dari puncak gelombang. Keduanya terus menerus sepanjang malam itu berada dalam pelukan gelombang cinta yang maha dahsyat. Ibarat penunggang kuda, Sang Dewi ternyata adalah penunggang kuda yang baik yang mampu membawa Kamandaka melintasi padang ilalang yang indah. Ibarat seorang nahkoda perahu layar, Sang Dewi ternyata tahu, kapan perahu layar harus mendaki puncak gelombang asmara. Kapan pula, perahu harus meluncur menuruni gelombang. Kamandaka merasa cinta kasihnya kepada istrinya terus menerus mekar, bertambah, dan berkembang.
Kamandaka masih ingat, malam yang indah itu terus merambat dalam sepi. Suara gamelan dari Pendapa yang mengiringi kesenian lengger biasanya sayup-sayup masih terdengar dari atas ranjang pengantin. Tapi saat itu sudah lama tidak terdengar. Ya, Pendapa memang telah sepi. Dalem Gedhe juga telah sepi. Taman Kaputren juga telah sepi. Yang terdengar hanya suara serangga malam yang saling bersaut-sautan bagaikan membentuk musik alam di dalam taman.
Di luar Puri, bintang gemintang di langit tampak berkerlap-kerlip seolah ingin menyaksikan perjalanan cinta pasangan baru suami istri yang sedang berbahagia. Mereka berdua sedang melaksanakan kewajiban alamiahnya sebagai sepasang suami istri. Tetapi perjalanan asmara kedua mempelai itu sebenarnya baru permulaan dari tamasya cinta. Masih ada perjalanan lanjutan. Ibaratnya perjalanan sepasang pengelana, perjalanan mereka mengarungi lautan cinta yang penuh gelombang itu, baru mendarat di tepi pantai dari kaki bukit yang menjulang tinggi. Tidak ada jalan pulang. Pendakian ke atas puncat bukit asmara harus dilakukan. “Siapkah Kanda mendaki puncak bukit terjal, tetapi konon mengasyikkan?” bisik Sang Dewi.
“Ayohlah, Diajeng sayang,” jawab Kamandaka seraya kembali memeluk istri tercintanya. Kamandaka merasakan energi cinta dalam dirinya semakin meledak-ledak. Kembali Sang Dewi memperlihatkan keahliannya dalam permaian cinta. Kamandaka dibimbingnya selangkah demi selangkah melakukan pendakian menaiki tangga-tangga bukit cinta. Ada kalanya Kamandaka dibiarkan naik satu tingkat lebih dulu. Kemudian Sang Dewi memintanya agar Kamandaka menarik dirinya ke atas tangga pendakian. Pada kali lain, Sang Dewi yang naik lebih dulu ke tangga di atasnya. Kemudian Sang Dewi menarik Kamandaka agar sejajar dengan dirinya pada tingkat tangga yang sama. Demikian mereka mendaki setahap demi setahap. Selangkah demi selangkah. Setapak demi setapak. Perjalanan mendaki tangga bukit cinta dilakukan Kamandaka bersama Sang Dewi dengan saling berbagi, saling memberikan semangat, saling tolong menolong, dan saling memberikan dukungan dan dorongan. Perjalanan tamasya mendaki puncak bukit cinta yang mengasyikkan.
“Perjalanan menuju puncak bukit cinta dengan mendaki tangga-tangganya, bagi para pemula dalam permainan cinta sepasang mempelai, sering kali rumit dan tidak mudah,” demikan nasihat seorang pertapa ahli Yoga dalam rontal yang sempat dibaca Sang Dewi. Kalimat rahasia itu sempat dibacanya di perpustakaan kamar kerja pribadi ayahnya, Adipati Kandhadaha, yang memiliki sejumlah istri dengan 25 anak gadis cantik-cantik. Sang Dewi pada malam yang istimewa itu masih sempat membisikkan kutipan kalimat itu di dekat telinga Kamandaka.
Akhirnya perjalanan cinta Kamandaka bersama Sang Dewi, semakin mendekati puncak ketinggian bukit cinta. Kamandaka dan Sang Dewi saling mempererat pelukannya. Alam keindahan surgawi yang menakjuban dan aneh yang belum pernah dirasakan Sang Dewi maupun Kamandaka tiba-tiba datang kepadanya. Sang Dewi dan Kamandaka seketika merasakan sensasi indah dan menakjubkan, ketika energi cinta yang mereka himpun bersama-sama tiba-tiba meledak dan menyembur dari dalam dirinya.
“Oh, Diajengku, sayang,” Kamandaka memekik kecil sambil mempererat pelukan pada istrinya.
“Jangan menyerah,” bisik Sang Dewi menjawab pekikan kecil suaminya. Sang Dewi malah menyemangati Kamandaka agar terus memacu  dirinya sehingga dapat terbang melayang menuju puncak keindahan bukit cinta yang mereka rindukan. Akibatnya jantung mereka berdetak semakin kencang. Napas mereka saling berkejar-kejaran, tubuh keduanya berkilat-kilat basah oleh keringat yang menganak sungai dari pori-pori kulitnya. Butiran-butiran keringat bagaikan permata, berkilat-kilat tertimpa cahaya temaram samar-samar menerobos kelambu ranjang pengantin berwarna biru muda. Butiran-butiran keringat yang menyembur dari kulit mereka, lebur dan bercampur manunggal menjadi satu.
Permainan cinta berakhir. Kamandaka dan Sang Dewi merasakan keindahan di keheningan puncak surgawi. Tak terdengar suara apa pun. Yang terdengar hanyalah irama napas kehidupan. Kamandaka dan Sang Dewi merasakan suasana gaib, ketika keduanya luluh lebur menjadi satu. Permaina cinta Sang Dewi dan Kamandaka pada malam keempat itu,  telah mengantarknnya mencapai nirwana. Puncak segala keindahan alam semesta.
Kemudian, Kamandaka jatuh terkualai di samping Sang Dewi dengan perasaan bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sang Dewi tersenyum gembira. Beberapa kali Sang Dewi menghujani ciuman kasih sayang kepada suami tercintanya. Samar-samar Kamandaka melihat, Sang Dewi cepat mengenakan kembali baju tidurnya. Sang Dewi segera turun beranjak ke meja makan, lalu kembali lagi ke ranjang pengantin, seraya membawa talam dengan dua gelas berisi madu penguat stamina.
“Madu Arab dicampur jintan hitam, dibeli Kanjeng Ibu dari Cirebon. Ayo kita minum, Kanda. Kata Kanjeng Ibu, berkhasiat meningkatkan kebugaran dan kesuburan,” kata istrinya sambil menyodorkan gelas berisi madu. Kamandaka meneguknya sampai habis. Demikian pula Sang Dewi. Kamandaka berbaring kembali ketika Sang Dewi membawa dua gelas minuman kosong kembali ke meja makan. “Mau mandi apa mau terus tidur, Kanda?” tanya Sang Dewi setelah kembali berdiri di samping ranjang pengantin.
“Besok pagi saja, Diajeng. Aku ingin tidur dulu, ngantuk sekali,” kata Kamandaka seraya berharap istrinya kembali naik ke atas ranjang dan berbaring lagi disampingnya. Ternyata tidak. Sang Dewi menghamparkan selimut di atas tubuh Kamandaka yang sedang berbaring. Kemudian mencium pipi suaminya sambil berbisik.
“Aku mau mandi dulu. Konon mandi secepatnya setelah suami istri melakukan lambangsari, akan menutup pori-pori dalam tubuh kita, sehingga energi vitalitas kita dapat tetap dipertahankan dalam tubuh. Energi tidak merembes keluar, sehingga esok pagi kalau kita bangun, tubuh kita akan tetap segar. Pemulihan energi kita yang hilang juga akan cepat terjadi,” bisik Sang Dewi.
Kamandaka mendengar bisikan istrinya dalam keadaan sayup-sayup hampir terlelap. Karena itu dia tidak terlalu menanggapi apa yang dikatakan istrinya. Anehnya, kini Kamandaka tidak bisa tidur. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari sisinya, ketika dia harus tidur sendirian. Kamandaka tersenyum, entah mengapa ada rasa rindu kepada istrinya yang melonjak-lonjak dalam benaknya.
Kamandaka segera bangkit menyusul istrinya ke kamar mandi. Pintu kamar mandi diketuk dari luar. Dari dalam Sang Dewi tersenyum. Dia sedang berendam di dalam bak air hangat yang menyebarkan aroma harum mewangi rempah-rempah. Sang Dewi tahu Kamandaka pasti menyusul dirinya.
“Pintu tidak dikunci, Kanda,” kata Sang Dewi. Kamandaka dengan wajah riang melangkah masuk. Dalam waktu singkat keduanya sudah menikmati sensasi aneh dan indah lainnya lagi. Mandi berendam bersama dalam air hangat yang harum menyegarkan, pada malam hari yang dingin.
Benar juga apa yang di katakan Sang Dewi, ketika bangun pada pagi harinya Kamandaka merasakan tubuhnya sangat segar. Perasaan bahagia muncul dalam dirinya. Malam itu dia merasa telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami dari seorang istri yang dicintainya. Dan dia ingin terus mencintainya sepanjang hayat. Kamandaka masih ingat, pada pagi hari kelima, ketika dia harus berangkat berdua ke Pendapa untuk menerima para tamu yang masih mengalir berdatangan, Kamandaka banyak mengumbar senyum kebahagiaan.
Kamandaka, kembali tersadar dari lamunannya, ketika tahu-tahu langkahnya sudah tiba di halaman Puri Permatabiru dan mendengar Sang Dewi yang masih memegangi lengan kirinya itu berkata, “Biyung Emban, silahkan jika mau istirahat. Terima kasih atas bantuanmu sepanjang hari ini, sampai besok pagi ya,” kata Sang Dewi kepada Khandegwilis yang telah mengantarkan kedua bendaranya itu sampai di tempat peristirahatannya.
“Baik, Ndara Ayu. Selamat malam,” kata Emban kesayangan Sang Dewi itu sambil tersenyum puas.
Khandegwilis merasa bahagia karena sepanjang hari itu bisa memberikan pelayanan terbaik yang membuat bendoronya selalu senang. Sekalipun begitu kadang-kadang Khandegwilis merasa sedih juga. Sebab sejak Sang Dewi dipersunting Kamandaka, tidak mungkin lagi bagi dirinya bisa menemani Sang Dewi tidur pada malam hari di atas tilam yang digelarnya di bawah tempat tidur Sang Dewi. Sang Dewi kini sudah menjadi istri Kamandaka, sudah dipanggil Kanjeng Ayu Adipati. Masa-masa penuh kenangan ketika dia hampir tiap malam diminta menemani Sang Dewi tidur di bawah ranjang Sang Dewi, selalu lekat dalam ingatannya. Banyak hal telah diperbincangkan pada saat-saat penuh kenangan itu. Perbincangan kesana-kemari yang kadang-kadang hanya sekedar untuk dapat mengantarkan Sang Dewi tidur ke alam mimpi. Saat itu Sang Dewi sedang jatuh cinta kepada Kamandaka dan sempat menyamar sebagai paleka tampan dan cakap, anak angkat Ki Patih. Kini impian Sang Dewi telah menjadi kenyataan.
Tetapi sebaliknya kini, tiap malam Khandegwilis dibalut kesepian, karena harus tidur sendirian di kamarnya. Padahal dulu sebelum Sang Dewi jatuh cinta, tidur sendirian pun Khandegwilis tak pernah merasa kesepian. Pada saat-saat seperti itu, bayangan Rekajaya, sering berkelebat muncul dalam benaknya. Khandegwilis pun hanya bisa berharap. Dan terus berharap. Sebuah harapan yang aneh dan tak pernah dimengertinya. Sebab sebelumnya, Khandegwilis sudah bertekad tidak mau lagi punya suami, akibat trauma dengan suaminya yang pertama. Hidup memang aneh, pikir Khandegwilis sambil melangkah menembus gelapnya malam menuju kamarnya. Cinta ternyata bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja.
Sementara itu, Sang Dewi setelah berganti dengan pakaian tidur dan menyebarkan aroma semerbak harum mewangi, segera menyusul Kamandaka yang sudah lebih dulu naik ke atas ranjang pengantin. “Sekarang malam ke tujuh,” bisik Sang Dewi sambil tersenyum seraya membaringkan dirinya di samping suaminya yang dicintainya itu.
“Diajeng, apa yang paling berkesan dari kisah Panji Semirang dalam lakon wayang beber yang baru saja di pentaskan Ki Dalang Sukmo Lelono?” tanya Kamandaka setelah menarik tangan Sang Dewi supaya memeluk dirinya.
“Ah, aku tahu. Pasti bagi Kanda yang paling menarik kisah malam pengantin Raden Inu Kertapati dengan Galuh Ajeng. Ranjang pengantin, oh ranjang pengantin,” kata Sang Dewi menirukan suara Ki Dalang saat menggambarkan malam pertama Raden Inu Kertapati dengan Galuh Ajeng yang dikiranya Galuh Candra Kirana. Kamandaka tertawa mendengar cara Sang Dewi menirukan suara Ki Dalang.
“Kanda, apakah memang ada ilmu seperti yang dimiliki Galuh Ajeng?” tanya Sang Dewi, seakan masih belum puas dengan jawaban yang pernah dijelaskan Kamandaka. Sang Dewi mengulangi kembali pertanyaan serupa yang pernah disampaikan ketika masih menonton pagelaran wayang di Pendapa.
“Ilmu hitam untuk menipu dan berbuat kejahatan kan memang ada. Sudah aku jelaskan kepada Diajeng. Ada ilmu hitam dan ada pula ilmu putih. Ilmu hitam ada penangkalnya juga,” kata Kamandaka. “Setiap ilmu hitam akan membawa risiko berat yang harus ditebus oleh pemakainya yang tidak jarang berakhir dengan penderitaan. Misalnya, berupa sakit berat yang tak tersembuhkan sampai meninggal dalam keadaan mengenaskan. Ilmu hitam yang dipakai Galuh Ajeng itu biasa dipakai wanita nakal yang mencari penghasilan dengan menjadi wanita penghibur lelaki hidung belang. Hukum karma yang akan diterimanya kelak, wanita seperti Galuh Ajeng itu akan menjadi tua sebelum waktunya, kulitnya akan cepat keriput, pada akhirnya akan mati muda dalam keadaan menyedihkan. Ruhnya akan diambil oleh pesuruh Batari Durga sebelum waktunya, dibawa ke istana Kegelapan Sang Hyang Durga untuk dijadikan budaknya di sana. Tentu saja wanita demikian itu tidak akan pernah mencapai Nirwana. Jangankan Nirwana atau Surga. Mencapai moksa saja sudah tidak mungkin.”
Mendengar kata-kata Kamandaka itu, Sang Dewi merasa ngeri juga. Walaupun begitu penjelasan Kamandaka yang kedua kalinya soal ilmu hitam itu, memperkuat keyakinan Sang Dewi bahwa ilmu hitam itu harus dicegah perkembangannya. Pada saat Sang Dewi ingat kembali akibat- dari ilmu hitam, Sang Dewi cepat-cepat merapatkan dirinya ke badan suaminya. Kamandaka dalam hati tersenyum, karena dia merasa tambah nyaman berada dalam pelukan istrinya.
“Cara yang baik untuk meningkatkan daya dan vitalitas energi cinta ialah dengan mengikuti kodrat alam yang bersifat alamiah, sehingga energi cinta yang ada pada setiap manusia itu harus tetap selaras dengan energi alam semesta. Itulah cara yang ditempuh oleh Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati,” kata Kamandaka.
“Bagaimana caranya?” tanya Sang Dewi penasaran.
“Lho, Diajeng kan sudah melakukannya. Misalnya, menjaga kebugaran, merawat tubuh agar tetap cantik, latihan senam pernafasan dan yoga, minum susu kambing, minum madu Arabia dengan jintan hitam, minum jamu ramuan dari berbagai tumbuh-tumbuhan. Tentu saja makan makanan sehat dan alami,” kata Kamandaka pula.
“Eh, biasanya Diajeng tidak lupa membuatkan minuman madu Arab campur jintan hitam untuk aku?” kata Kamandaka tiba-tiba. Dia merasa sayang jika malam ke tujuh itu dilaluinya begitu saja.
“Mau sekarang?“ tanya Sang Dewi sambil akan bangun. Tapi Kamandaka masih menahannya. Diraihnya wajah istrinya, kemudian diciumnya sambil berbisik.
”Kenapa mesti besok, Diajeng Adindaku sayang.”
“Baiklah, Kanda. Tunggu sebentar,” kata Sang Dewi tersenyum senang. Dia segera bangkit setelah membalas memberikan ciuman yang mesra di pipi suaminya.
Pada malam ketujuh menjelang subuh, kedua mempelai itu kembali melakukan safari wisata cinta yang jauh lebih indah dari malam keempat. Sebab, baik Kamandaka maupun Sang Dewi, merasa mempunyai waktu cukup panjang. Esok paginya mereka terbebas dari sejumlah kewajiban urusan pemerintahan dan menerima tamu yang selama ini menyita hampir seluruh waktu yang dimilikinya. Keesokan harinya Kamandaka dan Sang Dewi boleh istirahat sepuas-puasnya karena mereka berdua memang sedang memasuki masa istirahat bulan madu selama seminggu menjelang masa bulan madu ke Nusakambangan yang telah direncanakannya.
Diakhir perjalanan wisata cinta malam itu, Kamandaka langsung tertidur pulas dalam pelukan istrinya. Ditatapnya berulang kali suaminya itu dengan perasaan bahagia. Tetapi anehnya setiap Sang Dewi akan bangun, tangan Kamandaka selalu menariknya kembali. Akibatnya Sang Dewi tetap tergolek disamping suaminya. Sang Dewi ingin sebenarnya secepatnya tidur, lalu menyusul ke alam mimpi. Tetapi pikiran Sang Dewi melayang-layang kemana-mana. Usia Sang Dewi kini sudah menginjak angka tujuh belas. Usia suaminya dua puluh tahun. Jika tiap tiga tahun dirinya bisa mengandung dan melahirkan satu anak, pikir Sang Dewi berangan-angan, maka bila Yang Maha Kuasa mengijinkan, dirinya akan bisa mempersembahkan 7 atau 8 orang anak pada suaminya.
“Ketika anak bungsuku yang ke-8 lahir, usiaku sudah sekitar 40 tahun. Setelah itu baru aku akan memusatkan perhatian mendidik anak-anak dan membantu tugas-tugas Kanda Kamandaka. Adakah pada usia itu aku akan tetap cantik?” kata Sang Dewi dalam hati yang membuat dirinya tersenyum.
“Kanjeng Ibu saja bisa. Kenapa aku tidak?” pikir Sang Dewi sambil terus berangan-angan. Diam diam Sang Dewi bertekad akan terus belajar kepada Ibunya yang pandai membuat jamu dari rempah-rempah dan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan jamu, menjadi ramuan yang bisa menjaga kebugaran tubuh dan awet muda sekalipun usia terus merangkak menuju usia paruh baya, bahkan usia lanjut.
Sang Dewi masih melanjutkan angan-angannya. Dia ingin melampaui prestasi Ibunya. Jika Ibunya pada usia paruh baya tetap cantik, tetapi hanya punya anak satu, yakni dirinya sendiri. Dia ingin tetap cantik pada usia tua sekalipun kelak harus mengandung banyak anak.
“Sebenarnya punya anak dua, satu putra dan satunya lagi putri, sangatlah baik. Orang tua bisa lebih berkonsentrasi memberikan didikan pada anak-anaknya. Tapi mana ada adipati dan raja yang mau mempunyai anak sedikit? Mereka selalu berdalih perlu mempunyai banyak anak agar bisa menjaga kelanjutan dari kerajaan atau kadipaten yang dipimpinnya. Kanjeng Rama malah punya 25 putri. Tetapi istri Kanjeng Rama juga banyak. Kadang-kadang, jika istri seorang raja atau adipati hanya mampu melahirkan anak sedikit, Sang Raja atau Sang Adipati punya alasan yang cukup kuat untuk mencari istri lain,” renung Sang Dewi pula.
“Tetapi Kanda Kamandaka sudah berjanji padaku, tidak akan punya selir. Sebagai imbalannya, aku pun harus sanggup mengandung sejumlah anak buah cintaku dengan Kanda Kamandaka. Wahai, Sang Penguasa Jagad Yang berkuasa atas diri hamba, kabulkanlah permohonan hambamu ini,” bisik Sang Dewi lirih berdoa, sambil memandang suaminya yang terbaring pulas di atas ranjang pengantin. Sang Dewi tahu, sepanjang tujuh hari sejak upacara ritual perkawinan sampai pagelaran pertunjukan wayang, energi suaminya sudah terkuras habis untuk menemui tamu yang datang silih berganti. Ditambah lagi suaminya masih mengajak melakukan perjalanan syafari permaian cinta yang mengasyikkan. Kini suaminya tertidur pulas, dengan wajah bahagia dan perasaan puas.
Ditatapnya wajah tampan suaminya dalam temaram cahaya lampu yang menembus kelambu masuk ke atas ranjang peraduan. Di hamparkannya kembali selimut ke atas tubuh suaminya. Malam semakin larut, udara dingin dari lereng Gunung Agung yang menyusuri Lembah Sungai Logawa, menerobos juga masuk ke dalam Puri Permatabiru. Dipeluk dan diciumnya kembali pipi suaminya. Sang Dewi segera masuk kembali ke bawah selimut, berangkat tidur di samping suaminya yang sudah lebih dulu berada di alam mimpi. Fajar sudah lama datang. Tapi Sang Dewi tak ingin kehilangan mimpi indah yang selalu diharapkannya. Sang Dewi pun terlelap ke dalam tidurnya yang nyenyak.[Bersambung]

Senin, 10 September 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (17)




Tiba-tiba Sang Dewi ingat kepada Emban Khandegwilis yang tadi diperintah, belum nampak batang hidungnya. “Mana Biyung Emban, disuruh dari tadi, belum datang juga?” kata Sang Dewi memutus pembicaraan soal Adipati Cirebon. Sang Dewi mulai merasa haus karena udara  musim kemarau sehingga debu berterbangan kian kemari ditiup angin, dan daun-daun kering banyak berjatuhan. Sang Dewi duduk di samping Kamandaka di teras depan puri. Kamandaka melihat daun-daun perdu yang tumbuh di dalam taman juga banyak yang luruh ditiup angin musim kemarau. Seorang juru taman sibuk memungut daun-daun yang rontok dan membawa air untuk menyirami tanaman-tanaman yang mengering.
“Apa tadi pesan minumannya?” tanya Kamandaka yang merasa haus juga.
“Teh poci dengan gula batu. Pocinya buatan Cirebon. Mungkin gula batunya habis,” jawab Sang Dewi mulai tidak sabar. Tetapi tak lama kemudian Khandegwilis muncul diiringi seorang bujang  membawa talam. Di atasnya ada poci coklat berisi teh dengan pemanis gula batu, dua cangkir kosong, dan satu piring kueh nagasari dibungkus daun pisang  baru saja direbus, tampak masih hangat.
“Maaf, Ndara Ayu, gula batu di dapur habis. Jadi harus cari dulu di gudang,” kata Khandegwilis. “Lagi pula menunggu supaya gula batunya larut dulu agar air teh dalam poci cepat dingin.”
Kamandaka melihat Sang Dewi hanya tersenyum mendengar laporan itu. Khandegwilis yang tadinya takut-takut akan dimarahi, setelah melihat Sang Dewi tersenyum, langsung ceria wajahnya.
”Wah, ditunggu dari tadi. Ya sudah, terima kasih, Biyung Emban. Jangan lupa nanti malam di meja makan puri sediakan wedang jahe kesukaan Kanda Kamandaka. Persediaan gula aren dan gula kelapa masih cukup? Rekajaya ke mana?”
“Kakang Rekajaya tadi pagi baru mengirim sepuluh keranjang gula aren dan gula kelapa. Persedian cukup, Ndara Ayu. Kakang Rekajaya siang tadi juga ikut sibuk potong kambing dan mencacah-cacah dagingnya,” jawab Khandegwilis.
“Syukur kalau begitu,” kata Sang Dewi tersenyum senang. Khandegwilis mengundurkan diri mengikuti bujang membawa talam kosong.
Kamandaka masih ingat ketika istrinya menuangkan teh poci ke dalam dua cangkir. Lalu mengambilkan satu untuk dirinya lebih dulu. “Ayo, Kanda,” Sang Dewi menyodorkan cangkir teh manis hangat untuk dirinya. Sikap melayani yang demikian itu belum pernah dialaminya. Kamandaka merasa senang juga. Dia langsung meneguknya. Demikian pula istrinya.
”Ternyata dari ceritera Kanda tadi, sudah banyak keluarga Kerajaan Pajajaran dan Galuh yang memeluk agama Islam,” kata Sang Dewi masih melanjutkan membicarakan Kadipaten Cirebon.
“Betul sekali, Diajeng. Bahkan keturunan Patih Bunisora, Sang Maha Patih Kerajaan Galuh yang terkenal itu, ada yang telah memeluk Islam. Barangkali dia adalah keluarga Kerajaan Galuh yang mula-mula memeluk Islam dan pergi menunaikan Ibadah Haji ke Makkah. Pulang dari sana, dikenal orang sebagai Haji Purwa. Maksudnya adalah orang dari tanah Sunda yang pertama kali menunaikan ibadah Haji ke Makkah.”
“Menurut Kanda, bagaimana kelanjutan hubungan Bandar Muarajati dengan Kadipaten Cirebon yang cenderung mencari perlindungan Kerajaan Islam Demak?” tanya Sang Dewi yang ternyata tertarik juga kepada soal-soal pemerintahan.
“Justru itulah yang membuat akhir-akhir ini aku agak gelisah, Diajeng. Terutama sejak aku mendengar kabar dari Kanda Amenglayaran, bahwa Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi sedang sakit keras. Bisa jadi karena memikirkaan aku, Dinda Silihwarna, dan Dinda Ratna Pamekas. Sekarang kendali pemerintahan Kerajaan Pajajaran ada ditangan Dinda Banyakbelabur. Dia menentang keras rencana pernikahan Dimas Arya Baribin dengan Dinda Ratna Pamekas. Padahal keduanya sudah tidak mungkin bisa dipisahkan,” Kamandaka menjelaskan problem berat yang tengah dihadapi keluarganya.
“Menjadi sangat berbahaya,” kata Kamandaka melanjutkan “bila Dinda Banyakbelabur bermain api kembali memusuhi Cirebon. Kadipaten Cirebon pasti akan mencari perlindungan lagi dari Kerajaan Islam Demak. Itu pasti akan dilakukan jika Kadipaten Cirebon merasa terancam oleh Kerajaan Pajajaran. Peta pertarungan menjadi tambah rumit bila Dinda Banyakbelabur juga memusuhi Kadipaten Pasirluhur dan mendorong Kediri menyerang Pasirluhur dengan menggunakan tangan Kadipaten Wirasaba,” kata Kamandaka saat itu dengan nada mengeluh.
“Yah, mudah-mudahan kelak ada jalan keluar untuk mengatasi kerumitan-kerumitan itu. Kanda memang harus secepatnya bertemu dengan Dinda Banyakbelabur. Semoga pula Ayahnda Sri Baginda Silihwangi cepat diberi kesembuhan,” kata Sang Dewi mencoba menghibur Kamandaka.
“Ya, Ayahanda Sri Baginda Silihwangi ingin sekali berjumpa dengan Diajeng. Ada perasaan menyesal pada Ayahanda sebenarnya, ketika mahkota Pajajaran tidak jatuh kepadaku.”
“Kanda, lupakan saja soal itu. Ada hikmahnya, bukan? Justru karena itu maka Kanda mempunya kesempatan luas memajukan Kadipaten Pasirluhur. Mudah-mudahan pada waktu pernikahan Dinda Ratna Pamekas kelak, aku bisa berjumpa dengan Ayahanda Sri Baginda Raja Siliwangi. Aku sudah sampaikan pada Kanjeng Ibu, supaya membuatkan ramuan jamu untuk memulihkan dan menjaga kesehatan Sri Baginda Prabu Siliwangi.” Kamandaka tersenyum mendengar pendapat dan saran istrinya itu. Lebih senang lagi ketika istrinya itu begitu peduli kepada kondisi kesehatan Ayahandanya Sri Baginda Prabu Siliwangi yang sedang sakit.
“Terimakasih, Diajeng. Semoga ramuan jamu buatan Kanjeng Ibu kelak bisa memulihkan kesehatan Ayahanda,” kata Kamandaka ketika itu.
Tiba-tiba datang juru rias yang akan merubah riasan Sang Dewi dan Kamandaka untuk acara  malam hari. Sore hari itu pun segera dilewati. Dia dan istrinya harus siap-siap menyambut tamu yang sudah berdatangan untuk menyampaikan ucapan selamat sambil menikmati hidangan santap malam di Pendapa Kadipaten.
Kamandaka masih ingat, hari pertama pesta perkawinan tujuh hari yang lalu itu dilewati  sampai tengah malam. Tamu terus datang padahal di Pendapa hanya digelar kesenian lengger saja. Kamandaka masih ingat pula, dia dan istrinya melewati malam pertama dalam keadaan capai. Sehingga begitu ganti pakaian tidur, langsung naik ranjang pengantin dan tidur pulas. Dia dan istrinya pada malam pertama tidur berdua di atas ranjang pengantin sudah cukup puas dengan hanya saling berciuman, saling berpelukan, dan tidak lebih dari itu. Selanjutnya Kamandaka tidur terlelap dalam pelukan istrinya. Dibuai mimpi indah sampai pagi hari.
Perasaan aneh justru dirasakan saat Kamandaka bangun di pagi hari. Istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Udara dingin pagi hari masih sangat terasa. Tiba-tiba Kamandaka merasakan badannya hangat kembali. Ternyata ada seseorang telah menghamparkan selimut di atas tubuhnya. Padahal biasanya bila dia terbangun di pagi hari dan mata masih mengantuk, untuk melindungi udara dingin dia harus mencari-cari sendiri selimut yang biasanya sudah tidak lagi melindungi dirinya. Tentu saja Kamandaka tahu bahwa yang telah menyelimuti dirinya itu istri tercintanya, Sang Dewi.
Perasaan aneh kedua terjadi ketika Kamandaka bangun hendak ke kamar mandi, istrinya sudah berhias cantik sekali. Handuk dan perlengkapan mandi sudah disediakan, demikian pula baju untuk dikenakan hari itu. Istrinya menemani ke kamar mandi sambil menyerahkan handuk tebal dan perlengkapan mandi lainnya, lalu memberi petunjuk cara menggunakan air dingin maupun air panas. Menunjukkan alat-alat pembersih badan dan pengharum badan. Diberitahu juga cara menggunakan ramuan penyegar yang harus dilarutkan ke dalam air dalam bak mandi. Setelah merasa cukup memberikan petunjuk, istrinya itu baru beranjak keluar. Kamandaka tidak pernah lupa semua kejadian pagi itu. Diantarkan istrinya ke kamar mandi, dibawakan handuk, dan diberitahu cara mandi berendam dalam bak air hangat yang menebarkan aroma segar. Konon aroma segar juga punya efek meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh.
Persaan aneh lain, tapi juga menyenangkan berikutnya adalah ketika di meja makan telah terhidang sarapan pagi, lengkap dengan lauknya, lengkap dengan air minum. Dan istrinya itu dengan sabar sudah menantinya di meja makan. Ternyata ada perasaan nyaman, senang, dan bahagia, ketika di meja makan biasa bersantap sendiri, tiba-tiba sekarang ada yang menemani dan melayani. Jika air minum kosong, langsung ada yang mengisinya kembali. Usai sarapan pagi, masih ada yang mengajak berbincang-bincang. Pengalaman menyenangkan  pagi itu sayangnya cepat berakhir karena tiba-tiba juru rias datang. Lalu menyusul Khandegwilis dengan membawa dua bujang dan seorang punggawa Kadipaten.
“Ndara Kanjeng Adipati, pesan dari Tumenggung Maresi, tamu-tamu sudah mulai berdatangan di Pendapa,” kata punggawa itu memberitahu. Kamandaka hanya mengangguk. Dan punggawa itu pun kembali ke Pendapa. Juru rias datang hanya untuk merapihkan penampilan Sang Dewi dan Kamandaka pada hari kedua menerima tamu. Kamandaka tersentak dari lamunan panjangnya, ketika tiba-tiba tangan kanan Sang Dewi mencubit lengan kirinya sambil berkata.
“Hayo, Ngantuk, ya? Kalau jatuh di jalan, Biyung Emban yang akan menggendongnya.”
“Habis Diajeng tadi bilang ngantuk. Jadinya aku ikut-ikutan,” jawab Kamandaka berbohong. Sang Dewi tidak tahu sehingga mengira dirinya mengantuk. Padahal Kamandaka sedang asyik mencoba mengingat kembali perjalanan hari pertama sampai hari kedua setelah upacara pernikahan yang mengasyikkan.
“Siap menggendong, Ndara,” kata Khandegwilis yang berjalan di belakang kedua bendaranya, berkelakar sehingga Kamandaka dan Sang Dewi langsung tertawa. Udara semakin malam semakin dingin. Di langit semakin banyak bintang bertaburan. Khandegwilis masih berjalan di belakang Sang Dewi. Mereka bertiga terus berjalan melewati sayap kiri Dalem Gedhe Kadipaten sebelum tiba di Puri Permatabiru. Kamandaka teringat kembali hari-hari yang telah lewat sejak memasuki hidup baru membangun sebuah rumah tangga dengan istri tercintanya.
Hari kedua dan malam kedua, lewat. Lalu hari ketiga dan malam ketiga pun lewat. Hari-hari itu dan malam-malam itu, hanya mengulangi kesibukan hari pertama dengan kadar tamu yang mulai berkurang. Malamnya menjelang tidur dan paginya saat bangun tidur sebenarnya mengulangi hal-hal yang menyenangkan. Tetapi kegiatan siang hari sampai sore dan malam hari yang berlangsung di Pendapa bagi Kamandaka mulai membosankan. Ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Perasaan gelisah menunggu sesuatu yang sedang ditunggu. Tetapi apakah itu? Kamandaka tidak mengerti dan sama sekali tidak memahami. Sebuah perasaan yang membuat dirinya resah dan gelisah. Dia sama sekali tidak tahu mengapa ada perasaan seperti itu? Perasaan yang membuat dirinya gelisah dan membuat dirinya murung. Untuk sementara waktu Kamandaka masih mampu menyembunyikan perasaan bosan yang mulai melanda dirinya. Bisa jadi tradisi merayakan pesta pernikahan yang berlangsung berhari-hari itu, lama kelamaan bukan hanya membuat dirinya bosan . Tetapi juga membuat dirinya cepat lunglai dan capai.
Anehnya ketika melihat dirinya gelisah Sang Dewi hanya tersenyum seakan sedang mentertawakan dirinya. Istrinya hanya berkata jika pagi-pagi dia merasa malas untuk pergi ke Pendapa mengikuti acara yang sudah sangat membosankan, sebaiknya segera istirahat secara total. Ya, itu terjadi pada hari keempat. Dan Kamandaka masih ingat ketika istrinya berbisik kepadanya dalam perjalanan ke Pendapa.
“Kanda harus istirahat total, setelah acara terakhir hari ke tujuh. Hanya dengan istrirahat secara total dan melupakan semua masalah dan pekerjaan, Kanda akan menemukan kegirangan kembali.”
Hanya itu yang dikatakan istrinya. Kemudian di tengah-tengah tamu yang berdatangan pagi itu, dia melihat istrinya memanggil Tumenggung Maresi dan memberikan perintah. Kamandaka sendiri tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan istrinya dengan Tumenggung Maresi. Yang jelas malam itu, acara penyambutan tamu selesai lebih cepat dari biasanya. Tetapi pentas kesenian lengger dan tari-tarian untuk menghibur penduduk di Pendapa masih terus berlangsung.
Kamandaka merasa gembira ketika Tumenggung Maresi melaporkan bahwa semua tamu yang diundang, sudah mulai berkurang. Hari ke lima dan keenam telah diatur acara akan selesai sampai tengah hari saja. Sedang hari ke tujuh, tak ada acara penerimaan tamu pada siang hari. Tapi pada malam harinya akan ada puncak acara, yakni pagelaran wayang beber.
Kamandaka ingat malam keempat. Pada malam keempat itu Kamandaka merasakan sesuatu yang ringan, ketika menyusul istrinya naik ke atas ranjang pengantin. Dia masih ingat ketika  berbaring di samping istrinya, kemudian berkata, “Benar, Diajeng. Aku harus istirahat. Begitu mendengar besok acara menyambut tamu hanya sampai siang hari, ada perasaan ringan dalam diriku. Demikian pula ketika mendengar pada hari keenam dan ketujuh sudah tidak ada lagi acara menyambut tamu.” Setelah berkata demikian, seperti malam-malam sebelumnya Kamandaka langsung memeluk dan mencium istrinya.
“Beristirahat dengan cara melepaskan diri dari rutinitas kesibukan sehari-hari yang melelahkan adalah cara paling baik memulihkan sekaligus juga menghimpun energi dan daya kreasi,” kata istrinya seraya membalas pelukan dan ciuman Kamandaka.
Kamandaka merasa aneh. Biasanya istrinya dimana saja paling sering bicara, paling sering bertanya apa saja, dan paling sering meminta tolong kepadanya sebagai penghalus dari memerintah dirinya, walapun dia sendiri sering merasa senang diperintah istrinya. Dia berpendapat jika dapat memenuhi perintah istrinya sama saja dengan memenuhi keinginan orang yang dicintainya. Dan sering-sering dia merasakan ada sebuah kepuasan tersendiri yang sulit dilukiskan bila bisa memenuhi keinginan orang yang dicintainya itu.
Bagi Kamandaka agak mengherankan, ketika begitu naik ke atas ranjang pengantin, istrinya lebih banyak bungkam. Tetapi bukan berarti acuh kepadanya. Sikap Sang Dewi kepadanya seakan-akan menyerahkan kepada dirinya untuk lebih banyak mengambil prakarsa. Istrinya lebih banyak pasrah, tetapi tidak pasif. Istrinya baru akan memberikan jawaban, bila ada pertanyaan, akan memperikan respon, bila ada tantangan, akan memberikan reaksi positip, bila ada aksi. Ibarat gitar, tidak akan berbunyi sendiri. Harus ada inisiatip dari dirinya untuk memetiknya, membunyikannya, dan memainkannya sehingga muncul nada-nada lagu indah yang akan mengantarkan ke puncak keindahan surgawi. Diam-diam Kamandaka mengagumi kemampuan istrinya mengendalikan diri, mengendalikan energi cinta, dan mengendalikan emosinya. Bisa jadi, inilah yang membuat Kamandaka selalu didera perasaan gelisah yang dia sendiri tidak tahu mengapa perasaan gelisah itu selalu muncul dalam dirinya.
Tiba-tiba Kamandaka merasakan alangkah bodohnya dirinya, dicekam persaan aneh yang menggelisahkan. Tetapi perasaan itu lenyap seketika, jika dia mencium istrinya, memeluk istrinya, atau tangannya secara tidak sengaja menyentuh bagian mana saja dari tubuh istrinya.
Lalu Kamandaka ingat ketika sore hari pada hari pertama, begitu melihat ranjang pengantin, dia membisikkan sesuatu ke telinga istrinya dan Khandegwilis mentertawakannya. “Diajeng, ingat  tidak malam-malam ketika aku mengendap-endap masuk kamar Diajeng diantarkan Emban Khandeg Willis?” tanya Kamandaka tiba-tiba.
“Aku malah sudah lupa,” jawab Sang Dewi sambil tersenyum. Tapi Kamandaka tahu, istrinya  hanya pura-pura lupa.
“Malam pertama yang mengasyikkan, tetapi juga mendebarkan,” kata Kamandaka mengenang peristiwa ketika malam itu dia berbuat seperti pencuri, masuk kamar larangan di Taman Kaputren.
“Kanda, apakah Kanda tidak ingin, ketika bangun pada pagi hari ada perasaan riang, gembira, dan perasaan aneh lainnya, karena Kanda sebelum tidur sudah melaksanakan kewajibann Kanda sebagai seorang suami?” tanya istrinya dengan nada suara lembut.
Sungguh aneh, pertanyaan istrinya itu tiba-tiba dirasakan seperti sebuah cambuk yang melecuti dirinya, menghangatkan tubuhnya, membuka seluruh saluran pembuluh darahnya. Tiba-tiba Kamandaka merasakan gairah cintanya untuk bermain asmara muncul mendesak-desak di kedalaman jiwanya. Ibarat orang akan berlayar, Kamandaka kini mempunya energi cukup untuk menggerakkan sauh. Ibarat orang akan mendaki puncak bukit, Kamandaka kini punya cadangan energi yang memadai untuk mendaki sampai ke puncak bukit.
“Tentu ingin sekali, Diajeng sayang,” bisik Kamandaka sambil mendaratkan ciuman di leher tepat di bawah telinga istrinya. Istrinya menggelinjang senang.
“Kanda, apakah Kanda tidak ingin secepatnya memiliki anak-anak yang cerdas, cantik, tampan, cakap, dan lucu yang akan lahir dari rahimku?” tanya Istrinya pula. Kembali pertanyaan itu dirasakan seperti mendera dirinya. Aneh, gairah asmaranya kini berkobar-kobar menyala-nyala menyemangati dirinya. Sebuah keinginan aneh kembali semakin mendesak-desak di kedalam jiwanya.
“Alangkah bahagianya aku, Diajeng. Bila aku membayangkan Diajeng sedang mengandung anak-anak buah cinta kita,” bisik Kamandaka. Dipeluknya istrinya seraya meraba-raba punggung istrinya. Istrinya tersenyum senang. Dan Istrinya membalas memeluk dirinya.
 “Kanda,” terdengar istinya membisiki dirinya hampir-hambir bibir istinya yang lembut dan mungil itu menyentuh daun telinganya. “Jika kita ingin berlayar, berlayarlah ketika ombak lautan sedang pasang. Jika Kanda berlayar saat ombak sedang surut, pastilah Kanda akan kandas dan terdampar. Masih beruntung jika Kanda terdampar di pasir yang lembut. Tentu akan sangat menyakitkan bila Kanda terdampar di atas batu karang.”  
Kembali kata-kata yang dulu pernah didengar Kamandaka di ranjang kamar Taman Kaputren Sang Dewi terdengar seperti sebuah cemeti dicambukkan pada dirinya. Dicambukkan kepada seorang ksatria penunggang kuda yang ingin memacu kudanya agar cepat meloncat mengarungi padang ilalang luas tak bertepi.
“Ayohlah, Diajeng sayang,” kata Kamandaka. Kamandaka masih ingat malam keempat yang indah itu. Dia langsung memeluk istrinya sambil berbisik di dekat telinga istrinya.(bersambung)