Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Sabtu, 08 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (11)





“Sungguh sebuah pengalaman pribadi yang sangat menarik, Biyung Emban,” kata Sang Dewi setelah dengan tekun menyimak penuturan emban kesayangannya itu.

“Jika Kadipaten Pasirluhur ingin memiliki rakyat yang sehat, kuat, dan perkasa, harus dicegah adanya gadis-gadis Kadipaten Pasirluhur yang menikah pada usia yang sangat muda. Usia yang paling baik bagi seorang gadis untuk dinikahkan ialah ketika seorang gadis telah berusia paling tidak dua windu. Usia di atas dua windu itu menurut ajaran leluhur kita disebut tahap usia dewasa. Sedangkan usia di bawah dua windu disebut tahap usia anak. Pada usia dewasa ini, perkembangan kejiwaan seorang wanita sudah stabil. Organ-organ tubuh wanita, terutama organ peranakan, relatip sudah cukup kuat. Dengan sendirinya apabila seorang gadis menikah pada usia dewasa tadi, sudah mantap perkembangan kejiwaan dan organ tubuhnya. Maka anak yang dikandungnya dan dilahirkannya akan lebih sehat, lebih kuat, dan lebih perkasa.”

“Seingat hamba, hampir semua kakak Ndara Putri telah membangun rumah tangga pada usia anak. Hanya Ndara Putri yang akan berumah tangga setelah usia dewasa.”

“Betul, Biyung Emban. Ingatanmu bagus juga. Memang kakak-kakakku sudah berumah tangga ketika usianya masih usia anak. Mereka menjadi pengantin saat usianya masih di bawah dua windu. Baru tiga tahun sesudah kedatangan bulan yang pertama kali, jika belum bersuami, orang menggapnya perawan tua. Aku ingin merubah adat dan tradisi yang berupa kebiasaan anak gadis menikah dalam usia muda. Sebab bila tradisi yang buruk itu tetap dipertahankan, cepat atau lambat Kadipaten Pasirluhur akan berkembang menjadi kadipaten yang lemah, karena yang dilahirkan oleh para ibu muda adalah anak-anak yang lemah juga. Anak-anak yang lemah, tentu saja akan melahirkan prajurit-prajurit yang lemah dan calon-calon pemimpin yang lemah. Jika keadaan ini dibiarkan terus berlangsung, Kadipaten Pasirluhur tidak mungkin bisa memiliki angkatan perang dan pemerintahan yang kuat, yang bisa menjaga kewibawaan Kadipaten Pasirluhur. Gadis-gadis muda perlu dibebaskan dari adat dan tradisi yang menindasnya.”

“Sungguh suatu cita-cita yang mulia sekali, Ndara Putri. Semoga langkah Ndara Putri bisa menjadi tauladan bagi para gadis Kadipaten Pasirluhur. Hendaknya pemikiran Ndara Putri juga bisa menyadarkan para orang tua agar tidak memaksa menikahkan seorang gadis yang masih belum dewasa.”

“Benar, Biyung Emban. Masih ada lagi satu keinginanku. Hendaknya orang tua anak gadis di Kadipaten Pasirluhur ini, memberikan kesempatan lebih dahulu kepada anak gadisnya untuk menentukan pilihannya sendiri, siapakah pria yang akan dipilihnya menjadi pendamping dan pelindung setianya. Orang tua cukup memberi doa restu, memberi saran dan pertimbangan. Tetapi pilihan, biarlah diserahkan saja kepada anak. Biarlah seorang gadis menentukan sendiri kriteria bibit, bebet, dan bobot calon suaminya. Kecuali apabila seorang gadis tidak bisa menentukan pilihannya, barulah orang tua turun tangan membatu anak gadisnya memilihkan jodohnya. Ini yang dalam ajaran leluhur kita disebut sikap tut wuri handayani. Dalam urusan jodoh seorang gadis, orang tua harus bersedia berkorban untuk kebahagiaan anak gadisnya. Tetapi adat yang berlaku di Kadipaten Pasirluhur ini terbalik. Anak gadis yang harus berkorban untuk kebahagiaan orang tuanya. Memang betul anak gadis harus berkorban untuk kebahagiaan orang tuanya. Tetapi bukan dalam urusan jodoh. Betul tidak, Biyung Emban?”

“Oh, betul sekali Ndara Putri. Tapi keinginan Ndara Putri tentu tidak mudah. Melawan adat dan tradisi itu sulit, Ndara Putri. Ndara Putri juga harus berhadapan dengan Kanjeng Rama Adipati. Sebab Kanjeng Rama Adipati justru punya kewajiban untuk mempertahankan dan menjaga adat yang berlaku. Apakah Ndara Putri hendak melawan Kanjeng Rama?”

“Tentu bukan melawan Kanjeng Rama, Biyung Emban. Buat apa mempertahankan  adat dan tradisi yang membelenggu anak gadis, Biyung Emban? Buat apa mempertahankan adat dan tradisi yang akan membawa Kadipaten Pasirluhur menjadi Kadipaten yang lemah? Wanita itu salah satu dari tiga pilar penyangga kadipaten, kerajaan, dan pemerintahan negara manapun, Biyung Emban. Karena dari wanitalah akan dilahirkan anak-anak calon pewaris dan pengganti generasi tua.”

“Tetapi, Ndara Putri tidak mungkin melawan adat dan tradisi sendirian saja. Jika Ndara Putri berjuang sendiri, pastilah akan gagal, Ndara Putri.”

“Hem…, cerdas juga pikiranmu, Biyung Emban. Makanya aku memerlukan seseorang yang bisa aku ajak bersama-sama melawan adat dan tradisi yang membelenggu anak gadis itu. Dia itulah pria yang akan cocok menjadi pendampingku. Biyung Emban, menurut Biyung Emban adakah seorang pria yang bisa menemani aku berjuang melawan adat yang usang itu?”

“Menurut hamba ada, Ndara Putri.”

“Siapakah menurut Biyung Emban?”

“Kalau Adipati Cukang Leuleus atau Adipati Patanahan, bagaimana Ndara Putri?”

“Ya, bisa jadi. Ada yang lain?”

“Kalau putra Adipati Dayeuhluhur atau Adipati Ayah, bagaimana Ndara Putri?”

“Ya, bisa jadi. Ada yang lain?”

“Putra Adipati Dayeuhluhur, Ndara Wirapati belum punya istri, Ndara Putri. Siapa tahu akan mendukung gagasan Ndara Putri?”

Sang Dewi tersenyum mendengar jawaban emban kesayangannya itu. “Kali ini, jawaban Biyung Emban kurang cerdas.”

“Lho, di mana salahnya, Ndara Putri?”

“Ya, kenapa yang dipilih semua adipati dan putra adipati?” 

“Iya betul, Ndara Putri. Seorang adipati tentu saja akan mempertahankan adat dan tradisi. Bodohnya Biyung Emban ini, Ndara Putri. Bagaimana kalau…, kalau itu…, Ndara Putri?”

“Itu siapa, Biyung Emban? Masa tidak bisa menebak?”

“Hehehe…, Biyung Emban sebenarnya sudah lama tahu pria itu, Ndara Putri. Raden Kamandaka, anak angkat Ki Patih Reksanata. Betul bukan, Ndara Putri?”

Sang Dewi merasa senang dan puas mendengar jawaban itu, maka dipeluknya emban pengasuhnya yang dengan setia masih duduk di lantai.

“Biyung Emban, aku ingin menguji keberanian Raden Kamandaka. Besok pagi, temuilah dia di rumah Ki Patih Reksanata. Sampaikan salamku padanya. Katakanlah aku ingin bertemu. Katakan supaya dia menemui aku besok. Waktunya kira-kira seperempat malam setelah matahari terbenam atau seperempat malam menjelang tengah malam. Suruh tunggu di bawah pohon jambu di taman halaman bangsal Pertemua. Katakanlah, usahakan supaya jangan sampai ketahuhan prajurit jaga Dalem Kadipaten. Caranya terserah dia sajalah. Bila memang dia seorang pria sejati, pastilah akan berani menerima tantanganku ini.”

“Baik, Ndara Putri. Besok hamba akan datangi Dalem Kepatihan. Biyung Emban tahu tempatnya, Ndara Putri.”

“Hati-hati, Biyung Emban. Jangan sampai ada yang tahu. Ini rahasia kita berdua. Mari kita tidur, Biyung Emban. Malam sudah sangat larut. Sebentar lagi akan terdengar kokok ayam jantan.” 

Sang Dewi bangkit dari tempat duduknya, naik ke tempat tidur. Khandegwilis cepat-cepat menggelar tilam di lantai di bawah tempat tidur Ndara Putrinya. Di atas tempat tidur Sang Dewi lama tergolek. Gadis cantik yang mulai dirundung cinta itu belum mampu membawa dirinya tidur nyenyak. Angan-anganya masih membawa terbang ke masa lalu. 

Sang Dewi mewarisi kecantikan dan kecerdasan ibunya, Kanjeng Ayu Adipati. Ketika melamar ibunya, Adipati Kandhadaha sudah punya enam orang istri. Dari ke enam istrinya itu Sang Adipati dikaruniai anak perempuan semua. Karena itu Sang Adipati berharap perkawinannya dengan istrinya yang ke tujuh itu akan melahirkan anak laki-laki. 

Tetapi Kanjeng Ayu Adipati adalah wanita cerdas. Dia mau menjadi istri ketujuh Sang Adipati dengan mengajukan sejumlah syarat. Pertama, pernikahan Sang Adipati dengan Kanjeng Ayu Adipati harus merupakan pernikahan terakhir. Kedua, Kanjeng Ayu Adipati hanya mau diperistri jika dialah yang menjadi permaisuri Kadipaten Pasirluhur. Dan ketiga, jika anak pertamanya lahir, tidak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan, dialah pewaris tahta Kadipaten Pasirluhur. Ternyata pernikahan Kanjeng Adipati Kandhadaha dengan Kanjeng Ayu Adipati hanya dikarunia seorang anak perempuan yang cerdas dan cantik, Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa. 

Sebagai pewaris tahta Kadipaten Pasirluhur tentu Sang Dewi harus pandai-pandai memilih seorang calon suami pendamping hidupnya, yang  kelak juga akan mewarisi tahta Kadipaten Pasirluhur. Usia Sang Dewi sudah menginjak tujuh belas tahun. Sudah banyak adipati dan putra adipati yang mencoba melamarnya. Tetapi entah mengapa Sang Dewi merasa belum ada kecocokan terhadap pria yang melamarnya. Bahkan putra Adipati Dayeuhluhur, Raden Wirapati yang masih saudara sepupunya, pernah mengutarakan keinginan untuk menyunting dirinya. Dengan halus Sang Dewi menolaknya.

“Dinda Wirapati, Dinda memang usianya lebih tua dari aku. Tetapi Dinda Wirapati adalah putra dari adik Ibuku. Rasanya tidak mungkin, Dinda,” kata Sang Dewi pada saat itu, menolak secara halus keinginan putra Adipati Dayeuhluhur yang ingin menyuntingnya. 

Cinta memang aneh dan rumit. Bukan hanya cinta Raden Wirapati yang ditolaknya. Sejumlah Adipati yang berusaha melamar Sang Dewi juga mengalami nasib sama. Sang Dewi belum berkenan menerima cinta pria manapun.Tetapi sungguh aneh. Begitu melihat sosok Kamandaka Sang Dewi tiba-tiba menjadi gelisah. Selalu terbayang-bayang wajah pemuda tampan dan perkasa yang dilihatnya pada pesta rakyat marak di tepi Sungai Logawa.

“Hem, apakah aku akan mengalami nasib sama seperti gadis Kutaliman? Benarkah Kamandaka hanya seorang paleka, anak angkat Ki Patih Reksanata?” tanya Sang Dewi  pada dirinya sendiri. Gelisah, bingung, ragu, dan rindu campur aduk menjadi satu membuat Sang Dewi tidak segera terlelap ke dalam mimpi indah. Ya, mimpi indah macam apa lagi yang diharapkannya, kalau bukan bertemu dengan Kamandaka? Akhirnya, Sang Dewi memang jatuh tertidur setelah letih memikirkan misteri cinta yang mulai melanda dirinya. Bunyi jengkerik dan orong-orong di halaman taman sudah tidak terdengar lagi. Sebagai gantinya terdengar suara belalang malam melengking tinggi memecah kesunyian malam yang merambat hendak menjemput fajar.
***
Pagi itu pendapa kepatihan tampak lengang. Setelah penyelenggaraan pesta marak, kesibukan pekerjaan Dalem Kepatihan agak berkurang. Khandegwilis dengan tenang melangkah melewati gerbang Dalem Kepatihan bermaksud menemui Kamandaka untuk menyampaikan pesan Ndara Putrinya. Sementara itu, Kamandaka masih tiduran di atas ranjangnya. Sejak kemarin dia masih menyesali keberuntungannya gara-gara menjadi penerima hadiah pertama dalam pesta rakyat. Dia gagal menerima hadiah langsung dari Dyah Ayu Dewi. Usahanya untuk bisa bertemu dengan Sang Dewi di pendapa kadipaten pada acara santap siang bersama para punggawa dan tamu undangan juga gagal. Pada saat diamuk gelisah seperti itu, dia merasa alangkah bodoh dirinya. Berbagai persoalan tiba-tiba terus berkecamuk.

“Aku kan putra raja besar Prabu Siliwangi, katanya di dalam hati. “Apa sulitnya jika hanya ingin bersaing dengan para adipati yang berminat melamar Melati dari Pasirluhur itu? Aku tinggal melapor kepada ayahanda. Niscaya ayahanda akan melamarkannya. Tapi kenapa Ki Ajar Wirangrong menyuruh agar aku menyamar begini? Ya, bagaimanapun Ki Ajar Wirangrong seorang brahmana yang tahu kehendak Dewa. Sang Dewi ini sungguh aneh. Dia sudah berusia tujuh belas tahun, sudah sangat terlambat bila belum juga punya suami. Aku dengar sudah banyak adipati yang pernah melamarnya tetapi ditolak. Pria bagaimanakah yang dikehendaki oleh Sang Dewi ini? Tahtakah? Hartakah? Ketampanankah? Jika hanya itu yang Sang Dewi cari, niscanya sudah banyak calon yang memenuhi syarat. Ah, betul juga Ki Ajar Wirangrong. Dengan melakukan penyamaran begini, aku akan tahu banyak apa yang sebenarnya sedang engkau cari, wahai gadis pujaan hatiku?”

Kamandaka membalikkan tubuhnya ke kiri, kembali mempererat guling yang ada dalam dekapannya. Pikiran nakalnya mulai membuat khayalan, andai kata guling itu Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa, ah, alangkah bahagianya, katanya dalam hati. Kemudian dia tersenyum sendiri. Tapi tak lama kemudian senyumnya kembali menghilang dari bibirnya. Dia kembali membalikkan tubuhnya ke kanan dan berpikir lagi.

“Bagaimana aku bisa mengetahui isi hatinya jika aku tak pernah bertemu dan berbincang-bincang dengannya? Ya, bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya? Masa aku harus menemuinya ke Taman Kaputren tanpa sepengetahuannya? Tak mungkin aku menyamar sebagai penyabit rumput di halaman, sebab kini gara-gara pesta rakyat itu, hampir semua orang di Kadipaten Pasirluhur sudah mengenal wajahku, namaku, dan kecakapanku sebagai seorang paleka dan penjala ikan yang jarang ada tandingannya, anak angkat Ki Patih Reksanata.

“Memang aku bisa mendatangi kamar pada malam hari. Apa susahnya bagiku, jika hanya meloncat tembok penghalang Dalem Kadipaten dan mengelabui penjaga, kemudian masuk ke Taman Kaputren? Tetapi namaku pastilah akan hancur. Ya, itu tidak mungkin aku lakukan. Aku seorang ksatria, putra Sri Baginda Prabu Siliwangi, masa aku harus melakukan perbuatan hina seperti itu? Oh, Dewa, berilah aku jalan untuk bisa bertemu dengan Sang Dewi pujaanku itu.Kamandaka terus berkeluh kesah. 

“Aku seorang ksatria, lebih baik aku bertarung di medan laga melawan para adipati yang sama-sama hendak menyunting Sang Dewi daripada aku harus melakukan perbuatan tercela, ‘Menjadi pencuri seorang gadis.’ Tidak! aku tidak mau melakukan perbuatan terkutuk yang pasti akan dimurkai para Dewa.”

Kembali Kamandaka membalikkan tubuhnya ke kiri. Perasaan gundah, bingung, rindu bercampur jadi satu, seakan-akan benang ruwet yang membeliti sekujur tubuhnya. Tiba-tiba dia mendengar daun pintu diketuk dari luar.

“Raden, ada tamu dari Dalem Kadipaten, ada perlu dengan Raden,” terdengar suara dari balik pintu.
Kamandaka bergegas melemparkan guling yang tengah dipeluknya, bangun dari tempat tidur dan merapihkan dirinya. Cepat-cepat dia melangkah membuka pintu. Dalam benaknya sempat tersirat, Sang Dewikah yang mengunjunginya setelah dia mendengar kalimat, ‘Ada tamu dari Dalem Kadipaten’ dari balik pintu. Ketika pintu dibuka dilihatnya dua orang wanita. Yang satu dari Dalem Kepatihan yang sudah dikenalnya. Yang satunya lagi Kamandaka belum pernah melihatnya.

“Raden, ini Emban Khandegwilis, pengasuh Sang Dewi Dyah Ayu Ciptarasa. Ingin berbincang-bincang dengan Raden,” setelah berkata demikian, wanita pembantu Dalem Kepatihan itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ada keperluan apa Emban, pagi-pagi begini menemuiku?” tanya Kamandaka setelah mempersilahkan tamunya itu duduk.

“Begini Raden. Singkat saja. Hamba diutus oleh Ndara Putri, Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa. Melalui hamba, Ndara Putri menyampaikan salam persahabatan untuk Raden. Ndara Putri ingin mengenal Raden lebih dekat. Jika Raden memang seorang yang pemberani dan tidak takut menghadapi rintangan, Ndara Putri berkenan mengundang Raden ke Taman Kaputren. Tunjukkan bahwa Raden memang seorang pemberani, mampu mengatasi segala rintangan, bagaimanapun sulitnya. Ndara Putri ingin nanti malam Raden bisa menemuinya di taman bangsal Pancaniti Dalem Kadipaten. Waktunya kira-kira seperempat malam setelah matahari terbenam atau seperempat malam menjelang tengah malam. Ndara Putri akan menunggu Raden. Terserah, bagaimana caranya, Raden harus bisa lolos dari penjagaan pasukan keamanan Dalem Kadipaten yang jumlahnya pasti tidak sedikit. Itu saja Raden, pesan Ndara Putri. Hati-hati Raden, jaga rahasia ini jangan sampai bocor,” kata  Khandegwilis. 

“Emban, kuterima salam persahabatan Ndara Putrimu. Terima kasih pula atas undangan Ndara Putrimu. Sampaikan juga salam persahabatan dari aku. Bila Dewa Candra mengijinkan nanti malam aku akan berada di taman bangsal Pancaniti, seperti yang dikehendaki Ndara Putrimu.”

“Terima kasih, Raden,“ berkata demikian Khandegwilis segera meninggalkan Kamandaka. Dia bergegas kembali ke Dalem Kadipaten.

Sepeninggal Khandegwilis hati Kamandaka berbunga-bunga. Ah, betapa lamanya hari ini. Dan menunggu selalu merupakan pekerjaan membosankan. Dia ingin matahari berjalan cepat, sehingga siang segera bertukar dengan malam. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Seorang pembantu baru saja mengantarkan baki berisi sarapan pagi. Dia pun melihat, matahari pagi baru sepenggalah meninggalkan horison kaki langit sebelah timur. Kamandaka pun pasrah pada kehendak alam semesta.

“Segalanya seperti serba kebetulan,. Ki Ajar Wirangrong tak pernah meleset. Semoga para  Dewa melindungiku.” Kamandaka berharap nanti malam Dewa Candra dan Kartika akan melindunginya.[Bersambung]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar