Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Kamis, 28 Juli 2016

[2]Pembangunan Dengan Basis Budaya di Kabupaten Purwakarta (02 -Tamat)




 Sumber Gambar : Kang Dedi Mulyadi Tweeter.
Konon Pak Bupati jarang menerima tamu dikantornya. Beliau lebih suka menerima tamu dengan cara lesehan di ruang tamu rumah dinasnya yang hanya beberapa meter di samping kiri kantor kabupaten. Bangunan warisan Pemerintah Hindia Belanda dengan cat putih itu, memiliki teras yang disangga empat tiang persegi panjang. Pada kaki keempat tiang dihiasi dengan lukisan timbul senjata kujang warna kuning emas. Di kiri kanan jalan yang menghubungkan kantor kabupaten dan rumah dinas bupati, berdiri tiang-tiang yang di atasnya bergelantungan lampu penerangan dengan kap terbuat dari caping bambu sehingga kelihatan antik. 
 

Ruang tamu rumah Dinas Pak Bupati Purwakarta berbentuk empat persegi panjang dengan pintu masuk ke ruang dalam yang ada di tengah. Kelambu dengan corak kotak-kotak hitam putih menjadi penghias pintu masuk ke ruang dalam yang memiliki lantai lebih rendah dari pada lantai ruang tamu. Tepat di atas tengah-tengah pintu yang menghubungkan dua kelambu kotak-kotak hitam putih di kanan dan kiri pintu dipasang topeng raksasa mini dari kayu dengan wajah merah. Sepintas kilas orang akan mengira itu topeng Bali karena kelambu kotak-kotak hitam putih mengingatkan orang pada kain kotak hitam putih yang sering diikutsertakan pada upacara-upacara sesaji di Bali. Mungkin topeng raksasa berwarna merah itu simbol dari nafsu lauwamah dan sufiah pada diri manusia yang harus selalu dapat dikendalikan oleh nafsu mutmainah dan fitrah ketuhanan yang dilambangkan dengan warna putih dan hitam. Bupati H.Dedi Mulyadi, SH sendiri menafsirkan warna putih sebagai lambang air dan warna hitam sebagai lambang tanah. Perpaduan air dan tanah, mencerminkan kesuburan, kemakmuran, dan keberlimpahan. Orang Sunda bilang bumi lemah cai. 


Pada dinding kiri ruang tamu terdapat lukisan timbul berwarna kuning, sebuah lukisan kereta perang dikendarai oleh seorang ksatria yang sedang menarik busur untuk melepaskan anak panah. Di depan kereta, seorang sais sibuk mengendalikan kuda yang berlari menarik kereta perang. Mungkin ksatria yang sedang memanah itu adalah Arjuna dalam kisah Perang Bharatayudha. Kalau dalam seni pedalangan, lukisan itu menceriterakan  kisah Karno Tanding. 


Tampak dalam lukisan kuda-kuda penarik kereta dengan susah payah sedang bergerak maju. Arjuna tampak sedang menarik tali busur untuk melepaskan anak panahnya. Dalam Bhagawat Gita dikisahkan, bahwa Arjuna pada awalnya mengalami kesulitan untuk mengarahkan mata anak panah pada obyek yang menjadi titik sasaran. Obyek itu dalam pandangan Arjuna selalu berubah-rubah, sehingga membuat bingung Arjuna. Ketika Arjuna mengeluh karena tidak bisa berkonsentrasi untuk memanah obyek sasaran dengan tepat, Sri Kresna memberi nasihat agar Arjuna berkonsentrasi. Ketika Arjuna kembali berkonsentrasi, Arjuna kembali terkejut karena dia melihat pada obyek yang akan dipanah di medang perang Kurusetra itu ternyata adalah bayangan sorang ksatria yang mirip dirinya sendiri, sehingga Arjuna kembali ragu untuk melepaskan anak panahnya. Sesekali wajah Bhisma dan Drona juga muncul menggantikan bayangan ksatria yang mirip dirinya itu.


“Bagaimanakah hamba harus berpanah-panahan dengan Bhisma dan Drona, ya Pembunuh Madhu. Karena keduanya itu mulia. Sebab terlebih baik jangan membunuh Guru-guru yang maha kuasa itu, walaupun kita makan nasi dalam dunia yang dipintal ini. Tetapi dari sebab membunuh guru-guru yang mengingini kesejahteraan itu, termasuk hambalah makanan yang dicemari darah. Dan hati hamba ini telah dikenai dosa kelemahan.Tiadalah hamba ini hendak berperang,” Arjuna mengendorkan tali busurnya.  Hampir saja Arjuna mogok menolak untuk berperang. 


Kemudian Arjuna memohon pencerahan kepada Sri Kresna. “Dengan hati yang tiada tetap pada dharma, bertanyalah hamba kepada tuan. Apakah yang sebenarnya terjadi pada hamba? Katakanlah dengan terang. Hamba murid tuan. Ajarilah hamba. Inilah permohonan hamba,”


Sri Kresna tersenyum, dan berkata kepada Arjuna. “Petemuan dengan alam ini, ya Kuntiputra. Telah menimbulkan perasaan sejuk dan panas, kesukaan dan kedukaan. Kesukaan dan kedukaan dalam hidup ini akan datang silih berganti. Tanggunglah ia dengan hati tetap, wahai Tunas Bharata. Semua yang dilahirkan itu akan mati. Dan yang mati pun akan lahir kembali. Sesungguhnya badan itu mengandung yang baka yang tiada akan punah. Karena itu janganlah tuan susahkan sesuatu yang tidak mungkin tuan elakkan itu.” 


Selanjutnya Sri Krisna mengatakan bahwa Arjuna hanya akan dapat mengalahkan musuh-musuhnya hanya apabila dia lebih dahulu dapat mengalahkan dirinya sendiri.  Bayangan yang muncul sebagai kstaria yang mirip dirinya sendiri setiap kali Arjuna berkonsentrasi untuk memanahnya, itu tidak lain adalah bayangan dari nafsu dalam dirinya sendiri yang harus lebih dulu dikalahkan.


Mendengar nasihat Sri Kresna, semangat Arjuna kembali bangkit. Bayangan obyek yang hendak dipanahnya, kembali tampak sebagai dirinya sendiri. Tetapi Arjuna yang telah tercerahkan, kini tidak ragu-ragu lagi. Arjuna pun kembali menarik tali busurnya. Anak panah yang dilepaskannya melesat bagaikan kilat membunuh lawan-lawannya dalam Perang Bharatayudha, sekalipun dalam bayangannya musuh yang akan dibunuhnya itu adalah bayangannya sendiri. Nabi saw dalam salah satu hadistnya juga pernah bersabda, bahwa jihad yang paling berat adalah jihad melawan diri sendiri. Sesungguhnya lukisan itu sedang mengajarkan sebuah kearifan yang bersifat universal kepada siapa saja yang memandangnya.


Setiap tamu yang duduk lesehan di ruang tamu rumah dinas Bupati Purwakarta itu, dapat dipastikan ketika masih menunggu tuan rumah, pandangannya akan menyaksikan lukisan dari kisah perang Barathayudha yang dipajang sebagai hiasan di ruang tamu itu. Mungkin maksud Bupati H.Dedi Mulyadi,SH memasang lukisan yang diambil dari episode perang Bharatayudha itu, terkandung pesan simbolik yang ingin disampaikannya. Yaitu bahwa kemampuan mengendalikan diri  dari keserakahan akan harta, tahta, dan wanita itu penting. Dengan bekal kemampuan mengendalikan diri, korupsi di birokrasi yang dipimpinnya akan dapat dengan mudah di atasi. Ya, Pak Bupati bisa jadi  secara diam-diam sedang menyampaikan pesan pentingnya mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel melalui sebuah lukisan.


Sesungguhnya memaknai simbol-simbol budaya, bukan perkara mudah karena sifatnya yang subyektif dan relatip. Namun demikian bagi rakyat, yang penting memang  bukan apa isi dari janji yang dikomunikasikan baik melalui bahasa simbolik maupun bahasa verbal. Bagi rakyat yang penting adalah pelaksanaan janji dan program yang dapat langsung dirasakan rakyat banyak. Tampaknya, dalam mewujudkan janji-janjinya, Bupati yang pernah berpidato mengenalkan budaya Sunda di forom internasional bergengsi di PBB itu, cukup berhasil.



Tidak lama setelah saya dan teman-teman dari Bandung dipersilahkan duduk lesehan oleh petugas, dua orang wanita cantik  mengenakan jilbab warna hitam, baju atasan putih dan bagian bawah hitam, membawa beberapa cangkir berisi minuman keluar dari ruang dalam, menyajikan cangkir-cangkir minuman dan dengan senyum menghiasi bibirnya mempersilahkan kami untuk menikmatinya. Padahal di depan kami sudah tersaji makanan kecil dan minuman dalam gelas plastik.


Tak lama kemudian Pak Bupati keluar langsung menyapa kami dengan senyumannya yang khas. Kali ini dia tampil dengan pakaian kegemarannya yang telah menjadi ikon dirinya. Bukan warna putih-putih seperti biasanya. Tetapi warna hitam-hitam. Tampil tanpa alas kaki, penampilan Bupati yang pada tanggal 13 April 2016 terpilih secara aklamsi menjadi Ketua DPD Golkar Jawa Barat 2016 – 2020 itu, tampak amat sederhana dan merakyat.  Sepintas kilas, tidak banyak orang menduga bahwa sosok yang tampil sederhana itu adalah orang nomor satu Kabupaten Purwakarta.


Kepada sejumlah media massa, Pak Bupati mengaku sebagai penggemar wayang sejak masa kanak-kanak di Subang.  Memulai debut politiknya pada usia terbilang muda. Diawali dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Purwakarta, maka pada tahun 2008 beliau sudah berhasil menduduki kursi Bupati Purwakarta. Pada tahun 2013 terpilih kembali untuk kedua kalinya sampai tahun 2018. H.Dedi Mulyadi,SH termasuk sosok politisi muda yang berprestasi. Usianya kini baru 45 tahun, sebab beliau kelahiran tahun 1971. Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Purwakarta berkembang menjadi kota budaya yang mencengangkan banyak orang.  Pembangunan fisik, sarana jalan, transportasi, penerangan, obyek wisata, pengobatan dan pendidikan gratis sampai SMA-SMK, serta santunan kepada warga miskin lima ratus ribu rupiyah/bulan, hanyalah deretan dari sejumlah prestasi yang berhasil diwujudkannya.  Konon Penghasilan Daerah dari Kabupaten yang memiliki 17 kecamatan dan luas  sekitar, telah mencapai angka 2 trilyun. Padahal bebera tahun sebelumnya penghasilan daerah baru sekitar 800-900 milyard.
Sumber Gambar: Wikipedia.

Sebagai politisi, intelektual, dan budayawan  yang pernah dibesarkan lewat organisasi Islam HMI, pernah menjadi Ketua HMI Purwakarta dan Ketua KAHMI Purwakarta, tentunya Bupati H.Dedi Mulyadi, SH sangat paham relasi antara Islam dan kebudayaan. Islam bukanlah agama peribadatan saja. Islam adalah agama yang mengajarakan sistem nilai dengan dua dimensi, yakni dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan soal-soal ritual peribadatan. Sedang dimensi horisontal berkaitan dengan hablumminannas, muamalah, dan kebudayaan. Jika pada dimensi vertikal berlaku azas ushul fikih, yakni segala urusan peribadatan adalah terlarang, kecuali ada perintahNya. Maka pada dimensi horisontal, habluminnannas, muamalah, dan kebudayaan berlaku azas ushul fikih, semua hal boleh, kecuali ada larangan dari Nya. Artinya, membangun dengan basis budaya dan tradis tetap harus dalam bingkai iman dan takwa, agar senantiasa mendapat maghfirah, rahmat, barokah, dan kasih sayang dari Allah SWT.


Saya meninggalkan rumah Dinas Bupati, bersamaan dengan bunyi azan Ashar dari Masjid Agung Purwakarta yang tidak jauh dari alun-alun. Konon kabarnya,  kadang-kadang Bupati H.Dedi Mulyadi,SH jika sedang tidak sibuk, menyempatkan diri untuk mengumandangkan azan di Masjid Agung Purwakarta.Dirgahayu HUT ke 185 dan 48 Purwakarta yang memang Istimewa.Wallahualam.[24-07-2016]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar