Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Senin, 31 Juli 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (30)





“Siapa nama jawara Tumenggung Silihwarna yang akan melawan si Mercu?“ tanya Rekajaya pada kedua tamunya itu.

“Gelapngampar.”

“Oh, Gelapngampar, bagus namanya. Si Mercu adalah Sang Juara, bukan? Dia hanya mau melayani Gelapngampar dengan syarat 2-1. Dua bau sawah untuk si Mercu dan 1 bau sawah untuk si Gelapngampar.”  

Kedua utusan itu saling berpandangan. Syarat itu bukan saja tidak lazim. Tetapi sebenarnya satu bentuk penghinaan kepada Tumenggung Silihwarna. Karena jika si Mercu kalah, hanya cukup menyerahkan satu bau sawah. Sebaliknya jika si Gelapngampar yang kalah, harus menyerahkan dua bau sawah.

“Apakah tidak bisa ditawar? Itu permainan tidak adil dan tidak lazim,” salah seorang utusan itu mencoba menawar.

“Sudah harga mati. Saya tunggu sampai besok. Bila besok tidak ada berita, berarti Tumenggung Silihwarna sudah kalah dengan sendirinya oleh Ki Sulap Pangebatan,” jawab Rekajaya.

Dengan bersungut-sungut kedua utusan itu tak bisa berkutik. ”Kami berdua hanya utusan. Pesan Ki Sulap Pangebatan akan kami sampaikan kepada Tumenggung Silihwarna. Kalau Tumenggung Silihwarna bersedia, besok kami akan datang lagi untuk memberitahukan keputusannya,” kata salah satu utusan itu sambil siap-siap hendak berdiri dan berpamitan.

“Katakan pada Tumenggung Silihwarna, jika tidak berani menerima tantangan Ki Sulap Pangebatan, lebih baik pensiun saja dan jabatannya serahkan kepada Ngabehi Nitipraja,” kata Rekajaya sedikit memperolok Tumenggung Silihwarna. Kamandaka hanya tersenyum mendengarkan ejekan Rekajaya. 

“Sampaikan salamku, dari Ki Sulap Pangebatan kepada Tumenggung Silihwarna,” kata Kamandaka dengan nada suara ramah dengan maksud meredakan rasa tidak enak kedua utusan itu, akibat olok-olok Rekajaya. Kedua utusan segera bangkit sambil tersenyum dan mohon diri. Mereka berjanji besok akan datang membawa kabar kelanjutan dari tantangan Tumenggung Silihwarna kepada Ki Sulap Pangebatan.

“Pernah dengar nama Tumenggung Silihwarna, Kakang Rekajaya?” tanya Kamandaka setelah kedua utusan itu pergi. 

“Rasa-rasanya belum, Raden. Hamba lupa tidak tanyakan hal itu tadi kepada kedua utusan itu,” jawab Rekajaya menyesali dirinya.

“Sudah, tidak apa-apa. Aku pun lupa. Suatu pelajaran berharga, jika kita bertemu orang atau mendengar nama orang, kita harus berusaha sesegera mungkin mengetahui sebanyak-banyaknya orang yang baru kita kenal itu atau pun nama orang-orang penting. Dengan cara demikian kita akan cepat tahu apakah dia itu bisa dijadikan sahabat atau tidak. Tetapi jelas pula kedua orang utusan itu tidak mengenal diriku dengan baik,” kata Kamandaka.

“Benar, Raden. Kedua orang utusan itu mengenal Raden sebagai Ki Sulap Pangebatan,” kata Rekajaya.

“Tetapi Tumenggung Silihwarna,” kata Kamandaka melanjutkan, ”dia jelas orang penting di lingkungan Kadipaten. Orang sepenting itu masih tergoda untuk bermain judi di gelanggang sabung ayam. Apakah perbuatan Tumenggung Silihwarna yang tercela itu diketahui Kanjeng Adipati dan Ki Patih apa tidak? Kalau permainan judi sabung ayam dilakukan oleh para punggawa di bawah Tumenggung, seperti para lurah dan Ngabehi Nitipraja, mungkin masih dianggap wajar, walapun perilaku itu tetap saja tercela. Tapi ini dilakukan oleh seorang tumenggung?”

“Betul sekali, Raden. Kalau begitu, apakah sebaiknya besok hamba ke pasar Pangebatan, sekalian mencari keterangan lebih lanjut, siapakah Tumenggung Silihwarna itu? Bagaimana, Raden?”

“Kita lihat besok saja. Kedua utusan itu berjanji untuk memberi tahu kepada kita. Besok bisa ditanyakan kepada kedua utusan itu,” kata Kamandaka mengambil keputusan.

Kamandaka melihat para pekerja sudah mulai capai. Waktu istirahat dan makan siang memang sudah tiba. Tubuh-tubuh para pekerja itu berkilat basah oleh keringat yang berlelehan di sekujur tubuhnya. Cahaya sinar matahari musim kemarau semakin tajam memanggang apa saja yang ada di lembah itu. Tetapi Sungai Ciserayu tak pernah lelah mengalirkan airnya menuju muaranya yang jauh, sekalipun terik matahari terus menerus menderanya. Kamandaka dan Rekajaya segera bangkit meninggalkan pondok di tepi Sungai Ciserayu. Semua pekerja diperintahnya berhenti dan mereka semua diajaknya ke rumah Nyai Kertisara untuk istirahat dan menikmati hidangan makan siang. Pekerjaan akan dilanjutkan setelah istirahat. Mereka akan bekerja sampai sore hari.

Esok pagi harinya, ketika Kamandaka sedang melihat Rekajaya memandikan si Mercu, seorang bujang memberi tahu Kamandaka bahwa dua orang utusan Tumenggung Silihwarna sudah datang dan menunggu di ruang tamu rumah Nyai Kertisara.

“Tumenggung Silihwarna bersedia menerima tantangan dan syarat-syarat Ki Sulap Pangebatan di arena sabung ayam lapangan Desa Pangebatan. Waktunya lusa, siang hari. Sebelum matahari tergelincir ke barat, Ki Sulap Pangebatan harus sudah tiba di lapangan Desa Pangebatan,” kata utusan itu, lalu diam sejenak. “Selanjutnya Tumenggung Silihwarna juga menyampaikan terima kasih dan menerima salam dari Ki Sulap Pangebatan kemarin,” utusan itu berkata dengan suara merendah kepada Ki Sulap Pangebatan yang didampingi Rekajaya.

“Baik, besok lusa si Mercu sudah siap berlaga melawan si Gelapngampar. Eh, bisa aku tahu sudah berapa lama Tumenggung Silihwarna bertugas di Kadipaten Pasirluhur?” tanya Kamandaka.

“Aduh, Raden, kami berdua hanyalah utusan Ngabehi Nitipraja. Tidak banyak mengetahui soal itu. Hal itu bisa ditanyakan esok lusa kepada Ngabehi Nitipraja,” jawab utusan itu sambil bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mohon diri. Tentu saja Kamandaka dapat mengerti sepenuhnya jawaban utusan yang tidak banyak tahu siapakah Tumenggung Silihwarna itu.

“Kakang, masih ada waktu dua hari. Pusatkan perhatian Kakang pada si Mercu. Esok lusa, si Mercu harus dalam keadaan siap tempur. Dua hari jangan diberi babon, supaya esok lusa tenaganya cukup. Lawannya sepertinya lebih hebat dari si Burik.”

“Betul Raden, namanya si Gelapngampar,” kata Rekajaya sambil berdiri minta ijin pada Kamandaka. Dia akan melanjutkan mengurus si Mercu untuk menghadapi pertandingan besar melawan si Gelapngampar. 

Setelah Rekajaya pergi, Kamandaka seakan-akan diingatkan kepada sesuatu. Kata-kata Gelapngampar yang diucapkan Rekajaya tadi entah mengapa terus menerus berdengung di telinganya. Tiba-tiba Kamandaka ingat kepada adik kandung satu-satunya yang dicintainya, Banyakngampar. 

“Sebuah nama yang aneh, Gelapngampar. Kenapa namanya Gelapngampar? Kenapa nama itu mirip-mirip Banyakngampar? Hem, Silihwarna, engkau tidak sadar telah menghina Putra Raja Pajajaran. Nama belakang adikku, telah engkau pakai sebagai nama ayam jago aduan! Sungguh keterlaluan engkau Silihwarna. Jika engkau tidak sengaja, karena tidak tahu, semoga Dewa mengampunimu. Tetapi jika engkau sengaja akan menghina adikku, aku sungguh tidak rela. Semoga besok lusa di gelanggang sabung ayam, jagomu itu akan tewas oleh si Mercu hanya dalam satu kali sabetan!” Kamandaka meradang seketika. Tetapi ingatannya kembali kepada adiknya, Banyakngampar.

Ruang tamu rumah Nyai Kertisara pagi itu sepi. Nyai Kertisara seperti biasa setelah sarapan pagi bertiga dan berbincang kian kemari, tenggelam dalam kesibukannya sehari-hari. Mengirimkan barang dagangan, menerima setoran barang dagangan dari istri para penyadap, dan melayani para pedagang dari pasar-pasar yang sengaja datang untuk mengambil barang dagangan. Sementara itu Rekajaya masih terus sibuk mengurus si Mercu di belakang rumah. 

Tadinya Kamandaka  mempunya rencana menemui sahabatnya, Arya Baribin di Kademangan Kejawar. Tetapi ingatannya kepada adik kandungnya yang sudah lama berpisah itu, tiba-tiba saja mengganggu pikirannya. Rasa rindu kepadanya semakin mendesak-desak dalam dirinya, dan dia tidak pernah tahu, entah mengapa.

Dalam suasana demikian, Kamandaka memilih duduk di ruang tamu yang sepi itu, menikmati kesendiriannya. Dia mencoba mengumpulkan daya imajinasinya, untuk mengingat-ingat kembali bayang-bayang adiknya yang dia anggap telah memilih jalan keliru. Adiknya itu, memutuskan pergi ke Padepokan Megamendung untuk menjadi seorang brahmacharin. Brahmacharin adalah  brahmana yang tidak akan nikah seumur hidup.

“Hem, seperti apa kau, Dinda Banyakngampar sekarang ini?” tanya Kamandaka di dalam hati. “Saat aku meninggalkan Pajajaran tahun lalu, aku tidak sempat mengunjungimu di Padepokan Megamendung. Beberapa tahun sebelumnya, kamu bilang padaku ingin menjadi seorang brahmacharin. Aku dan Dinda Ratna Pamekas saat itu amat sedih. Sebab kamu adalah adik kandungku satu-satunya. Saat itu aku dan Dinda Ratna Pamekas, sungguh tidak rela kehilangan kamu. Bukan hanya Dinda Ratna Pamekas yang menangis meratapi keputusanmu yang bodoh itu. Aku pun merasa amat sedih. Hanya karena aku seorang ksatria, aku tidak meneteskan air mata.”

“Semuda itu, kamu berani mengorbankan dirimu berpaling dari dunia menjauhi harta, tahta, dan cinta wanita guna mencari jalan kembali kepada Sang Maha Pencipta. Kamu katakan kepadaku ingin mencari hidup yang abadi. Hidup tanpa lahir kembali. Tanpa inkarnasi. Hem, aku malah tak pernah peduli, apa itu inkarnasi. Yang penting aku jalani hidup ini sesuai dengan kodratku saja. Aku lahir sebagai seorang ksatria. Maka aku laksanakan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi darma dan kewajiban seorang ksatria,” kata Kamandaka pula.

“Pastilah kamu sekarang sudah banyak menghafal ribuan lembar rontal ajaran suci. Pastilah kamu sekarang sudah diwisuda menjadi seorang brahmacharin. Kepalamu plontos, hilang wajah ksatriamu yang tampan, mengenakan jubah kuning, di tanganmu tergantung kalung rangkaian biji pendoa. Kalau kita ketemu di jalan, pasti aku tidak akan bisa mengenalimu lagi. Dinda Ratna Pamekas juga tak akan mengenalmu lagi. Ayahanda Sri Baginda juga tidak akan mengenalmu lagi. Adinda Banyakbelabur juga tidak akan mengenalmu lagi,” kata Kamandaka. Kata demi kata terus berkecamuk di dalam hatinya. Kamandaka masih terus  berbincang bincang dengan dirinya sendiri. 

“Aku sudah mengingatkanmu pada saat itu. Bahkan mencegahmu. Kukatakan padamu, kamu bukan putra brahmana. Dalam tubuhmu mengalir darah ksatria. Tetapi kamu tetap keras kepala. Padahal aku tahu, kamu hanya takut jatuh cinta pada adik tirimu yang cantik jelita itu, bukan? Kamu telah melawan kodratmu sendiri. Cinta pada wanita itu tidak bisa dihindari. Yang diperlukan hanya kepandaian untuk menyikapi dan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya. Kuncinya hanya satu tetap mencintainya, tanpa harus memilikinya, tanpa harus menyakitinya. Sebab adik tirimu adalah milik calon suaminya. Dan calon suami Dinda Ratna Pamekas, siapa pun dia, tetaplah bukan kamu dan bukan pula aku,” benak Kamandaka masih terus berkecamuk.

“Hem, Banyakngampar, Adindaku, betapa aku sangat menyayangimu, karena kamu satu-satunya adik kandungku di dunia ini. Kenapa kamu tidak mengikuti jejakku, mencari wanita cantik yang mirip adikmu itu. Karena barang siapa yang mencari cinta seorang wanita pasti dia akan memperolehnya. Dan barang siapa yang menghindar. Apa yang akan dia dapatkan? Kamu pasti akan terus merana dikejar-kejar oleh bayang-bayang cinta. Cinta itu rahasia kehidupan, wahai Adindaku. Kamu tidak mungkin bisa melawan kodratmu sendiri,” kata Kamandaka pula.

Kamandaka merasa gagal mengingat kembali seperti apa wajah adiknya itu kini, setelah lima tahun berpisah. Usia dengan adiknya itu tidak terlalu jauh, hanya terpaut dua tahun. Bayang-bayang adiknya lenyap ketika Rekajaya muncul di ruang tamu sambil membawa si Mercu yang sudah dimandikan.

“Raden, hamba lupa lagi, bagaimana sih doanya supaya si Mercu besok lusa menang dalam duel maut itu? 


Sim salabim…. Puhpuhpuh….,” kata Rekajaya mencoba meniup kepala si Mercu tiga kali. Tidak lupa jengger dan pial dipegangnya, persis meniru apa yang pernah dilakukan Raden Kamandaka dulu. Kamandaka tertawa melihatnya.

”Doanya kan dulu sudah, Kakang. Ya, itu sudah cukup.”

Tetapi rupanya Rekajaya tidak puas. Untuk menyenangkan Rekajaya, Kamandaka meminta Si Mercu diserahkan kepadanya, kemudian ditimang-timangnya. Mulut Kamandaka komat-kamit, ditiupnya telinga si Mercu tiga kali, sambil memegang pial dan paruh si Mercu. Lalu kedua kaki dan taji si Mercu diusapnya beberapa kali.

“Mercu, menang kamu besok ya. Lawan si Gelapngampar. Lumpuhkan dalam sekali terjangan,” kata Kamandaka mantap, sambil menyerahkan kembali si Mercu pada Rekajaya. Wajah Rekajaya terlihat puas dan dibawanya kembali si Mercu  keluar dari ruang tamu.

Dua hari menjelang pertandingan sabung ayam di Pangebatan, Kamandaka selalu gelisah. Bayang-bayang adiknya selalu muncul di pelupuk matanya, gara-gara nama jawara calon lawan si Mercu, si Gelapngampar. Dalam angan-angan Kamandaka, adiknya itu sudah menjadi pendeta muda agama Syiwa, dengan rambut plontos, jubah kuning, sabuk hijau berlapis benang emas melilit pinggangnya, memakai trumpah berwarna hitam, tidak lupa tangannya menenteng kalung rangkaian biji kenari berwarna hitam mengkilat untuk berdoa. Malam itu Kamandaka sengaja cepat-cepat tidur, dengan harapan besok pagi tubuhnya cukup segar menghadapi Tumenggung Silihwarna di arena sabung ayam Desa Pangebatan, suatu desa yang tidak jauh dari Kadipaten Pasirluhur.[bersambung]

1 komentar: