Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Senin, 10 Juli 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur(23)




“Luar biasa pengetahuan Paman Patih. Tidak hanya soal-soal pemerintahan saja. Soal-soal cinta dan inkarnasi pun Paman Patih tahu secara mendalam,” kata Banyakngampar  memberikan pujian kepada Ki Patih Reksanata, setelah lama terdiam.

”Jika Paman Patih ada saran, apa yang sebaiknya ananda lakukan untuk menghindari bayang-bayang cinta ananda agar tidak terjerumus ke dalam problem cinta berkepanjangan kepada Dinda Ratna Pamekas?” tanya Banyakcatra. Pucat wajahnya belum hilang. Bisa jadi karena pucat bercampur malu. 

Ki Patih Reksanata tersenyum dan berkata dengan lemah lembut, karena merasa  kasihan juga pada ksatria Pajajaran itu. Ki Patih Reksanata memberikan saran, ”Hanya ada dua cara, Raden. Raden melanjutkan cita-cita Raden menjadi seorang brahmacharin yang tidak nikah seumur hidup dan tinggalkan Keraton Pajajaran atau mengikuti langkah Raden Banyakcatra, yakni segera mencari gadis cantik calon pendamping hidup.”

“Raden mungkin pernah mendengar kisah cinta Kala Gemet alias Jayanegara, putra Raden Wijaya, Sang Pendiri Kerajaan Majapahit?” tanya Ki Patih.

”Belum pernah, Paman Patih,” jawab Banyakngampar.

“Kasus asmara yang Kakak Raden dan Raden sendiri alami itu, sebenarnya memang sudah sering terjadi pada sebagian besar keluarga kerajaan. Sistem memingit anak perempuan yang ketat di lingkungan Keraton, serta dipisahkannya antara anak laki-laki dan anak perempuan sehingga mereka jarang bertemu, bisa saja menjadi penyebab munculnya kisah cinta adik dan kakak di lingkungan keraton. Kala Gemet Jayanegara jatuh cinta pada adik tirinya, putri Permaisuri Gayatri, Tribuana Tungga Dewi,”  kata Ki Patih.

”Kala Gemet yang naik tahta menggantikan Raden Wijaya, segera menghalang-halangi adik tirinya itu menikah dengan pria lain. Hampir saja terjadi skandal yang memalukan, karena Kala Gemet nekat ingin menikahi adik tirinya itu. Kala Gemet akhirnya terbunuh oleh Tancha. Tetapi Gajah Mada yang pada saat itu menjadi komandan pasukan Bhayangkara Pengawal Raja, cepat bertindak membunuh Tancha. Setelah Kala Gemet meninggal, Tribuana naik tahta Kerajaan Majapahit, lepas dari cengkeraman cinta kakak tirinya. Dia bisa menikah dengan saudaranya juga, tetapi saudara jauh. Lahirlah putranya Raja Hayam Wuruk,” kata Ki Patih menjelaskan.

Banyakngampar termenung, sekaligus merasa ngeri menghadapi permasaalahan cinta yang diam-diam membelit dirinya. “Terima kasih atas saran dan pandangan Paman Patih. Mudah-mudahan ananda dan Kanda Banyakcatra tidak terjatuh ke dalam jebakan cinta rumit seperti halnya Kala Gemet itu, Paman Patih.”

“Mudah-mudahan, Raden. Di dunia ini sesungguhnya setiap masalah pastilah ada jalan keluarnya,” kata Ki Patih mencoba menenangkan Banyakngampar.Tiba-tiba seorang bujang masuk dan memberi tahu bahwa santap siang sudah siap. Kamar di ruang khusus untuk menerima tamu-tamu Dalem Kepatihan yang akan bermalam juga sudah dibersihkan dan dibereskan.

“Raden, silahkan jika mau istirahat. Hidangan santap siang telah tersedia di kamar pemondokan. Paman Patih masih harus menunggu Nyi Patih yang sedang menengok Cucu. Nanti malam perbincangan kita lanjutkan lagi. Mudah-mudahan kita bisa memecahkan teka-teki keberadaan Raden Banyakcatra,” ujar Ki Patih sambil bangkit setelah memerintahkan salah seorang bujangnya mengantarkan Banyakngampar ke tempat istirahatnya. Langit di atas Dalem Kepatihan nampak bersih. Hanya beberapa awan tipis tampak bergerak perlahan-lahan. Sementara di jalanan debu-debu berkeliaran kian kemari diterbangkan angin musim kemarau.

Malam pun tiba. Kembali angin dari arah utara berhembus lembut menerobos Dalem Kepatihan. Daun-daun dari pohon yang tumbuh di halaman bergoyang-goyang tertiup angin, seakan-akan sedang menari ria menyambut bulan purnama tanggal empat belas. Langit pun cerah hanya ada beberapa bintang yang kelihatan. Kerlipan cahaya bintang larut ke dalam cahaya bulan yang tampak lebih cemerlang. Beberapa ekor kelelawar terbang rendah melintasi atap pendapa kepatihan, lalu cepat menghilang ke dalam rerimbunan daun pohon-pohon yang bergoyang-goyang ditiup angin. Dari jendela kamar tamu tempatnya menginap, Banyakngampar bisa menyaksikan bulan yang tergantung di langit sebelah timur. Bulan itu terlihat seperti kandil yang sedang menyinari alam semesta di waktu malam.

Tiba-tiba Banyakngampar mendengar suara daun pintu diketuk. Seorang bujang datang ke kamar Banyakngampar, memberi tahu bahwa dia telah ditunggu Ki Patih. Setelah istirahat selama beberapa jam, Banyakngampar merasa tubuhnya segar kembali. Itulah malam pertama Banyakngampar menghirup udara malam Kadipaten Pasirluhur. Dan dia pun siap melanjutkan perbincangan dengan Ki Patih Reksanata yang tertunda siang tadi.

“Bagaimana Raden, bisa istirahat sore tadi?” tanya Ki Patih setelah mereka bertemu kembali.

“Nyaman sekali, Paman Patih. Mandi terasa segar, menu santap siang dan santap malam pun terasa nikmat. Agaknya ragam makanan Kadipaten Pasirluhur tidak banyak berbeda dengan Kadipaten Galuh dan Kadipaten lain di sebelah barat Lembah Citanduy, Paman?”

“Raden agaknya lupa, penduduk Lembah Ciserayu, Citanduy, Cimanuk, Citarum, Ciliwung, bahkan Lembah Cisadane, memiliki akar budaya dan tradisi sama. Tentu saja pola menu dan ragam jenis makanannya pun nyaris sama,”  kata Ki Patih memberi penjelasan.

“Seingat Paman, Raden tadi siang menjelaskan bahwa Raden Banyakcatra, putra sulung Sri Baginda Prabu Siliwangi, telah melintasi Sungai Citanduy dan akan menuju ke Kadipaten Pasirluhur untuk mencari gadis idamannya,” kata Ki Patih melanjutkan perbincangan tadi siang yang sempat tertunda.

“Benar sekali, Paman Patih.”

“Kenyataannya memang tidak ada ksatria Pajajaran bernama Raden Banyakcatra yang mengunjungi Kadipaten Pasirluhur. Bukankah di sebelah timur Sungai Citanduy terdapat banyak Kadipaten, selain Kadipaten Pasirluhur? Ada Kadipaten Dayeuhluhur, Kadipaten Cukangleuleus, Kadipaten Ayah, Kadipaten Patanahan, dan Kadipaten Nusakambangan yang dulu memberontak kepada Kerajaan Galuh dan kini menyatakan diri sebagai Kerajaan Nusakambangan. Bisa jadi ke sanalah Banyakcatra mencari gadis idamannya. Paman Patih hanya pernah mengangkat seorang pemuda yang tampan mirip Raden. Tetapi namanya bukan Raden Banyakcatra, bukan pula seorang ksatria. Dia hanyalah anak seorang petani dari lereng Gunung Tangkuban Perahu.”  

“Siapa namanya, Paman?”

“Namanya Kamandaka. Dia ikut Paman hampir tujuh bulan. Paman sangat menyayanginya, karena dia cakap, cekatan, dan juga pandai. Sayang sekali dia menipu Paman.”

“Menipu? Bagaimana Paman bisa ditipu Kamandaka?”

“Kamandaka menipu Paman beberapa kali. Pertama, dia mengaku anak petani dari lereng Gunung Tangkuban Perahu. Ternyata dia berbohong. Dia itu ternyata  kemenakan seorang botoh sabung ayam yang terkenal dari Desa Kaliwedi, namanya Ki Kertisara. Dia ini, disamping penjudi dan botoh sabung ayam, juga seorang jawara dengan reputasi sangat buruk. Dia melarikan istri muda Lurah Karangjati, setelah mengalahkannya dalam permainan judi sabung ayam. Lurah Karangjati marah dan melaporkannya kepada Kanjeng Adipati.” Ki Patih berhenti sejenak, mencoba mengingat-ingat persitiwa yang sudah agak lama itu. Dia sangat yakin dengan apa yang diketahuinya itu.

“Mendengar laporan Lurah Karangjati lewat Tumenggung Maresi, Kanjeng Adipati langsung menugaskan untuk menghabisi Ki Kertisara yang dianggapnya telah meresahkan para punggawa Kadipaten Pasirluhur. Karena Ki Kertisara itu seorang jawara yang berilmu tinggi, tentu saja tidak mudah untuk menyingkirkannya. Baru setelah berbulan-bulan dicari berbagai macam cara, akhirnya berhasil juga. Ki Kertisara tewas dengan racun arsenik. Mayatnya ditemukan tergeletak di muara Sungai Cingcinggoling. Hartanya dirampas. Nyai Kertisara, mantan istri lurah Karangjati, menolak kembali ke Kelurahan Karangjati. Dia memilih jadi janda miskin di Kaliwedi. Ya, itulah nasib tragis paman dan bibinya Kamandaka.”

“Penipuan Kamandaka yang kedua kepada Paman,” kata Ki Patih melanjutkan. ”Suatu malam dia pamit mau tidur. Ternyata malam itu dia meninggalkan Dalem Kepatihan pergi ke Kadipaten masuk taman kaputren dan bermain asmara dengan putri bungsu Kanjeng Adipati, Dyah Ayu Dewi Ciptarasa. Persis kelakuan pamannya, Ki Kertisara. Kamandaka malah lebih berani lagi. Untung ketahuan prajurit jaga malam.” 

Banyakngampar mulai merasa gemas juga mendengar kelakukan Kamandaka yang sedang diceriterakan kepadanya. Nama Dyah Ayu Dewi Ciptarasa sebagai putri bungsu Kanjeng Adipati, baru saat itulah pertamakali didengarnya. Banyakngampar tidak sempat memikirkan kecantikan putri bungsu Kanjeng Adipati Pasirluhur, karena pikirannya terlanjur dipenuhi rasa jengkel dan gemas kepada kelakuan Kamandaka. “Apakah berhasil ditangkap, Paman Patih?” tanya Banyakngampar.

“Ya, itulah. Gagal ditangkap prajurit jaga malam. Dia bersembunyi tiga hari tiga malam di tepi Sungai Logawa. Ratusan prajurit kadipaten dibantu penduduk ramai-ramai mengepung Kamandaka.”

“Seharusnya berhasil ditangkap, Paman Patih?”

“Ya, itulah, kali ini gagal lagi. Kamandaka terjun ke dalam Sungai Logawa yang sudah dikepung kiri kanannya oleh ratusan prajurit dibantu penduduk. Karena lama tidak muncul-muncul ke permukaan sungai, prajurit pengepung dengan bantuan penduduk, berkesimpulan Kamandaka sudah tewas di dasar sungai, dikutuk oleh Dewa karena berani melakukan perbuatan memalukan dan melanggar adat, tradisi, dan aturan agama suci.”

“Akhirnya tewas juga penjahat itu. Memang sudah demikian seharusnya. Syukurlah Paman.” 

“Ya, itulah. Masih ada penipuan Kamandaka yang ketiga kalinya,” kata Ki Patih. 

“Lho, menipu lagi? Bukankah sudah tewas di dasar Sungai Logawa?” tanya Banyakngampar heran.

“Hehehe…, Itulah yang membuat Paman pusing dan menyesal sekali karena telah mengangkatnya sebagai anak,” kata Ki Patih sambil tertawa menghibur diri, walaupun nada tertawanya terdengar hambar. 

“Ternyata Kamandaka tidak tewas. Ulahnya malah semakin menjadi-jadi. Kini malah jadi botoh judi sabung ayam. Dia menipu Paman lagi dengan menyamar dan ganti nama menjadi Ki Sulap Pangebatan. Semua botoh yang ada diajaknya main sabung ayam. Ayam jagoannya bernama si Mercu. Setiap diadu selalu menang. Terakhir malah main sabung ayam di gelanggang Desa Pangebatan tidak jauh dari sini. Lawannya tidak tanggung-tanggung, Ngabehi Nitipraja yang punya ayam aduan hebat tak terkalahkan juga, namanya si Burik.”

“Menangkah si Burik, Paman?” tanya Banyakngampar, berharap ayam Kamandaka kalah.

“Ya, itulah, Raden. Si Burik kalah. Kata mereka yang sempat menonton, hanya dalam tiga kali sabetan, si Burik yang dibangga-banggakan dan diandalkan Ngabehi Nitipraja terkapar tak bernyawa. Lehernya kena taji si Mercu. Akibatnya sawah satu bau melayang. Ngabehi Nitipraja marah-marah. Dia lalu melakukan penyelidikan siapa Ki Sulap Pangebatan itu. Ngabehi Nitipraja berhasil memperoleh informasi. Ki Sulap Pangebatan itu ternyata adalah Kamandaka yang sedang menyamar. Ngabehi Nitipraja cepat-cepat melaporkan hasil penyelidikannya kepada Kanjeng Adipati,”  kata Ki Patih.

“Bagaimana sikap Kanjeng Adipati, Paman?” 

“Tentu saja Kanjeng Adipati marah bukan main. Siapa lagi kalau bukan Paman yang dijadikan sasaran murka Kanjeng Adipati? Apalagi Kamandaka berani menginjakkan kakinya di Pangebatan, tempat  yang tidak jauh dari Dalem Kadipaten Pasirluhur. Kanjeng Adipati menganggap kedatangan Kamandaka ke Pangebatan dengan menyamar sebagai Ki Sulap Pangebatan adalah untuk menantang Kanjeng Adipati. Akhirnya Paman juga yang diharuskan menangkap Ki Sulap Pangebatan. Itulah yang membuat Paman bingung dan pusing bukan main,” kata Ki Patih mengakhiri ceriteranya seraya menarik napas panjang. 

Banyakngampar melihat wajah lelaki tua itu tampak murung dan sedih sekali, sehingga menimbulkan rasa iba dalam dirinya.[Bersambung]

1 komentar:

  1. Silakan Kunjungi Artikel S128

    Ayam Jago
    Sabung Ayam Bali

    Dan dapat Hubungi Kontak Whatsapp Kami +62-8122-222-995

    BalasHapus