Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Jumat, 14 Juli 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (25)




“Sesungguhnya seorang gadis yang dipingit itu bagaikan bunga indah tumbuh di dalam sangkar emas,” kata Banyakngampar dalam benaknya.”Banyak kumbang datang hanya untuk melihat, tetapi tidak dapat mendekat. Jika kumbang ingin mendekat, niscaya akan terbentur dinding sangkar. Walapun begitu, kumbang lebih bahagia dari bunga. Karena kumbang dapat menikmati kebebasan, sedang bunga harus menikmati ketidakbebasannya. Sampai suatu ketika ada seekor kumbang yang berhasil  mendekatinya dan memetiknya.” 

“Tetapi kumbang itu bukan untuk memberikan kebebasan. Kumbang datang hanya untuk memilikinya, menguasainya, mengisap madunya, dan menjadikan sang kembang tempat menanam benih calon anak-anak kumbang. Kebebasan sang bunga tinggal sekeping impian yang semakin lama semakin lenyap ditelan hiruk pikuk kehidupan. Tentunya seiring dengan munculnya anak-anak kumbang dari dirinya. Sementara sang kumbang, bebas untuk terbang kian kemari menikmati kebebasannya mencari kembang-kembang baru yang masih segar harum mewangi. Kasihan, malang benar Dinda Ratna Pamekas,” keluh Banyakngampar terus melanjutkan perbincangan dalam batinnya.”

”Coba seandainya adat memingit wanita dihilangkan. Wanita diberi kebebasan mengembangkan potensi dirinya yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya. Mereka diberikan kebebasan bergaul dengan lawan jenisnya secara wajar, alami, dan bertanggungjawab, dipandu nilai-nilai ajaran agama dan budi pekerti luhur yang menjaga kesucian. Niscaya tidak akan ada wanita yang menderita karena terpenjara dalam pingitan, dan tidak akan bersemi hubungan cinta yang rumit antara aku, Kanda Banyakcatra, dan Dinda Ratna Pamekas.”

“Dinda Ratna Pamekas tak pernah mengenal pemuda lain selain kakak-kakaknya. Wajar bila Dinda Ratna Pamekas melabuhkan jangkar cintanya kepada pria saudara-saudaranya. Aku, Kanda Banyakcatra, dan Dinda Ratna Pamekas, hanyalah korban dari adat dan tradisi yang diciptakan di lingkungan para bangsawan kerajaan mana pun di muka bumi. Lagi pula, kenapa Dinda Ratna Pamekas tumbuh jadi gadis cantik jelita mirip Ibunda yang memikat setiap kumbang yang mengetahuinya?” kata Banyakngampar dalam hati.

Sesungguhnya Banyakngamparlah yang lebih dulu menyadari bahaya cinta rumit yang membelit dirinya itu. Sebelum segalanya berkembang jadi malapetaka, Banyakngampar segera meninggalkan Keraton, menghabiskan waktunya di Padepokan Megamendung, di kaki Gunung Gede. Banyakngampar berupaya menghindar bertemu dengan adik tirinya yang cantik jelita itu, dan membabat habis tunas-tunas cinta yang terus bermunculan dalam dirinya. Untuk sementara usaha Banyakngampar memang berhasil. Jalan untuk menjadi seorang brahmacharin, brahmana yang tidak nikah seumur hidupnya terbuka lebar. Tetapi barang siapa yang menjadi seorang  brahmacharin hanya karena hendak menghindar dan melarikan diri dari cinta, dia seumur hidup tidak akan dapat menumpas benih-benih cinta yang telah tertanam dalam dirinya. Paling jauh dia hanya dapat menumpas tunas-tunas cinta yang setiap saat bermunculan. 

Sesungguhnya energi cinta pada lawan jenis memang merupakan anugerah alam semesta pada setiap kehidupan di muka bumi. Dia adalah fitrah, anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dia hanya harus disikapi dengan cara yang bijak. Bukan untuk dibasmi. Apalagi ditumpas atau ditindas. Malangnya itulah yang terjadi pada Banyakngampar. 

Sesekali bayang-bayang cinta yang telah dihindarinya dan ingin ditumpasnya, tiba-tiba muncul kembali di bawah alam kesadarannya. Bila itu terjadi, Banyakngampar hanya bisa menangis menatap dengan sedih bayang-bayang adik tirinya yang cantik jelita, yang hadir di pelupuk matanya. Pada saat-saat seperti itu, keinginan untuk meninggalkan Padepokan dan mendatangi Taman Kaputren, bertemu dengan adik tirinya, dirasakannya mendesak-desak dirinya. Mendesak bagaikan air bendungan yang tengah pasang, hendak menjebol pintu bendungan yang telah ditutupnya rapat-rapat. 

Jika hal itu terjadi Banyakngampar cepat-cepat menuju ruang perpustakaan Padepokan Megamendung. Diambilnya Rontal Mahabharata Parwa ke-3, Warna Parwa, yaitu parwa yang menceriterakan perjuangan Arjuna melawan Sang Miraksaraja, Prabu Niwatakawaca. Pada saat seperti itulah, Banyakngampar merasa dirinya berubah warna alias Silihwarna, menjadi Sang Arjuna yang mampu mengendalikan seluruh hawa nafsunya akan harta, tahta ,dan cinta pada wanita. Sang Arjuna akhirnya berhasil mengalahkan Prabu Niwatakawaca. Ya, Sang Silihwarna usai membaca Warna Parwa, mampu melenyapkan bayang-bayang cinta pada adik tirinya, bayang-bayang Ratna Pamekas yang datang hendak menggodanya. Silihwarna merasa dirinya bagaikan Arjuna yang berhasil menumbangkan raja raksasa, Prabu Niwatakawaca.

Rupanya seperti halnya Banyakngampar, Banyakcatra juga mulai menyadari cinta yang rumit dengan adik tirinya itu. Hanya saja, cara yang ditempuh Banyakcatra berbeda. Dia tetap merawat tunas-tunas cinta, dengan mencari gadis lain di luar keluarganya untuk menanam benih-benih cinta yang telah menumbuhkan tunas-tunas cinta itu. Banyakcatra gigih berkelana kian kemari untuk mencari gadis yang wajahnya mirip ibunya. Berarti juga gadis yang wajahnya mirip adik tirinya, Ratna Pamekas. Tentu saja gadis itu bukanlah Ratna Pamekas.

Dan dalam hidup ini, barang siapa berusaha keras dan bersusah payah untuk mencari, pasti akan mendapatkan. Sedang mereka yang terus menghindar, bukan saja akan gagal. Tetapi juga akan terus kecewa dirundung duka cita cinta yang tak pernah kunjung padam. Sebab, cinta adalah energi kehidupan di muka bumi ini. Tidak pernah ada energi kehidupan di muka bumi ini yang terbebas dari energi cinta.  

“Agaknya Kanda Banyakcatra telah menempuh jalan yang benar. Berbahagialah, wahai Kanda, jika Kanda telah menemukan gadis idaman hati,” kata Banyakngampar. Diam-diam Banyakngampar memuji cara yang ditempuh kakaknya dalam mencari solusi dari problem cinta yang dihadapinya.

Tak terasa malam terus merambat dalam sepi. Jalan di depan pintu gerbang Dalem Kepatihan tampak lengang. Sejumlah pohon yang tumbuh di halaman Dalem Kepatihan tampak seperti raksasa sedang tidur berselimutkan kabut malam yang semakin pekat. Beberapa orang petugas jaga berkerumun di dalam gardu jaga. Tampaknya sebagian besar dari mereka tertidur. Hanya satu orang saja yang terlihat sedang duduk mematung di luar gardu jaga. Banyakngampar masih enggan meninggalkan tempat duduknya. Dia masih senang berada di kegelapan malam  menatap bintang berkerlap-kerlip di langit sebelah barat. Sebab di sana ada Kerajaan Pajajaran. Di sana ada Taman Kaputren, dan disana pula ada adik tirinya, Ratna Pamekas, yang tengah berada dalam taman pingitan. 

Banyakngampar tentu saja ingat beberapa waktu lalu ketika dia tiba di Keraton Pajajaran setelah hampir lima tahun meninggalkannya. Dia pulang karena dipanggil ayahnya, Sri Baginda Prabu Siliwangi untuk mencari kakaknya, yang sudah lebih dari setahun pergi dan kini tidak diketahui keberadaannya. Banyakngampar telah menyanggupi perintah ayahnya. Sebelum berangkat ke Kadipaten Pasirluhur, Banyakcatra menyempatkan diri menemui adik tirinya, Ratna Pamekas di Taman Kaputren. 

Betapa terkejut Banyakngampar saat melihat adik tirinya. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek. Saat meninggalkan keraton, adik tirinya itu baru masuk dalam taman pingitan. Berarti selama dalam pingitan, Ratna Pamekas telah berkembang menjadi sekuntum bunga indah di dalam sangkar emas. Bagi Banyakngampar, kini adik tirinya itu benar-benar telah menjelma menjadi bidadari cantik yang telah turun ke Taman Kaputren Keraton Pajajaran.

“Hem…, Dinda, aku benar-benar hampir tidak dapat mengenal diri Dinda. Betapa cantiknya Dinda kini. Aku gagal membayangkan diri Dinda. Ternyata Dinda bagaikan Maneka Dewi, Adindaku,” kata Banyakngampar memuji adik tirinya. 

Maneka Dewi adalah bidadari paling cantik yang ditugaskan oleh Dewa Indra dalam mitologi agama Hindu untuk menggoda brahmacharin. Ratna Pamekas hanya tersenyum mendengar pujian itu. Dia menangkap nada-nada bergetar mengiringi kata-kata pujian yang meluncur dari bibir kakaknya. Bola mata Ratna Pamekas berbinar-binar seketika. Dia gembira karena tahu kakaknya telah mengurungkan niat menjadi seorang brahmacharin.

”Kanda Banyakngampar, aku kira Kanda sudah lupa pada kecantikan seorang wanita. Aku mendengar kabar Kanda pergi ke Padepokan Megamendung, karena Kanda akan menjadi seorang brahmacharin. Wah, tentu Kanda sudah hebat sekarang. Pasti ribuan gulungan rontal berisi ajaran-ajaran kitab suci telah Kanda baca. Aku sedih sekali, Kanda, saat mendengar Kanda ingin menjadi seorang brahmacharin,” kata Ratna Pamekas, menggoda kakaknya.

Banyakngampar tersipu-sipu mendengar kata-kata adiknya. Banyakngampar merasa adiknya tahu bahwa dirinya sebenarnya telah gagal membasmi tunas-tunas cinta yang setiap saat muncul di kedalaman jiwanya. Puluhan gulungan rontal yang berulang kali dibacanya, telah gagal menumpas tunas-tunas cinta yang setiap saat bermunculan kembali.

“Pada waktu Kanda pergi, aku tak lama kemudian masuk taman pingitan,” kata adik tirinya. “Tidak lama kemudian Kanda Banyakcatra juga pergi. Aku sedih jika mengingat Kanda. Semuda usia Kanda, Kanda sudah memutuskan ingin menjadi seorang brahmacharin. Kenapa Kanda Banyakngampar lebih suka menipu diri sendiri dengan bersikap bukan sebagai seorang ksatria? Kanda tidak berani menghadapi kenyataan, bukan? Kita bukanlah keturunan para brahmana. Kita ditakdirkan menjadi keturunan para ksatria.”

“Tugas para brahmana adalah mencari jalan untuk moksa, sedang tugas para ksatria adalah mewujudkan kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan di dunia serta melenyapkan segala kemiskinan, kebodohan, dan segala macam bentuk penindasan bagi kemanusiaan,” kata adik tirinya terus menghamburkan kata-kata dari bibirnya yang mungil.

“Para brahmana memilih mati di sanggar pamujan. Para ksatria memilih mati di tengah medan peperangan. Tugas putri para ksatria adalah melahirkan para ksatria. Tanpa para kstaria gagah berani, yang pandai menunggang kuda, memainkan panah dan tombak, tidak takut dengan tajamnya mata pedang, dan yang pandai memainkan senjata kujang untuk melindungi diri sang ksatria, tidak mungkin akan terwujud masyarakat yang tertib dan damai. Sebab memang itulah darma para ksatria,” kata Ratna Pamekas. Banyakngampar takjub seketika mendengar penuturan adik tirinya itu.

“Mustahil Kanda Banyakngampar tidak memahami darma para ksatria. Lalu buat apa dulu Kanda Banyakngampar bersama-sama Kanda Banyakcatra dan Kanda Banyakbelabur bersusah payah mengikuti latihan dasar keprajuritan? Dan buat apa dulu aku diminta memijit setiap Kanda datang berdua dengan Kanda Banyakcatra, jika bukan agar Kanda menjadi seorang Ksatria Pajajaran yang dapat mempertahankan kebesaran dan kejayaan Pajajaran?” kata-kata Ratna Pamekas kembali  meluncur bagaikan anak-anak panah lepas dari busurnya. 

“Aku hanya membayangkan,” lanjut Ratna Pamekas. “Jika benar Kanda telah diwisuda menjadi seorang brahmacharin, pastilah tidak akan mendatangi aku lagi di Taman Kaputren. Kanda pasti tak akan mau aku pijit lagi seperti dulu. Ya, dulu waktu kita masih punya kebebasan yang indah untuk saling bertemu dan saling memberikan dukungan kepada apa yang kita inginkan bagi diri kita masing-masing di masa depan.”

“Aku sungguh sangat sedih, Kanda, karena aku membayangkan Kanda tidak akan berani mendekati aku. Dan Kanda pasti tidak akan berani…, Kanda Banyakngampar pasti tidak akan berani…,” suara Ratna Pamekas terdengar terbata-bata. Dia tidak mampu meneruskan kata-katanya. “Ya, pastilah Kanda tidak akan berani memeluk aku dan mencium aku lagi,” akhirnya Ratna Pamekas berhasil menyelesaikan kalimat yang tersendat-sendat itu.
“Hem, Dinda, maafkanlah aku. Kata-kata Dinda benar seluruhnya. Aku mengira bisa melarikan diri menghindari Dinda. Aku mencoba beberapa kali menjadi Silihwarna. Aku mecoba menjadi seorang Arjuna yang mampu mengalahkan Raksasa Niwatakawaca. Aku memang berhasil mengalahkan Niwatakawaca. Tetapi berulang kali datang pula bayangan Maneka Dewi. Dinda tahu bukan, Maneka Dewi?” 

“Dialah bidadari cinta yang telah melahirkan Sakunthala di pinggir hutan di lereng Himalaya. Sakuntala itulah Ibu para leluhur ksatria darah Bharata yang gagah berani. Aku telah menyadari takdir hidupku bukanlah menjadi seorang brahmacharin. Takdir hidupku adalah menjadi seorang ksatria. Aku tidak akan takut lagi menghadapi problem cinta yang tumbuh di antara kita. Yang diperlukan hanya sikap bijaksana, seperti yang telah ditempuh oleh Kanda Banyakcatra. Benar bukan, Dinda?” kata Banyakngampar.

“Aku bangga punya Kakak seperti Kanda Banyakngampar dan Kanda Banyakcatra. Aku mencintai Kanda berdua. Dan aku pun tahu, Kanda berdua mencintai aku dengan tulus.”

“Aku akan terus mencintai Dinda, sebagaimana juga Kanda Banyakcatra. Aku akan terus mencintai Dinda tanpa harus menyakiti Dinda, tanpa harus memiliki Dinda. Sebab aku tahu, Dinda kelak adalalah milik lelaki yang akan menjadi suami Dinda.”

Ratna Pamekas tersenyum senang mendengar kata-kata Banyakngampar. Sebab dia tahu, bahwa dia tidak akan pernah kehilangan kasih sayang, baik dari Banyakngampar maupun Banyakcatra. Dan dia tahu, kedua kakaknya dan dirinya sendiri telah mampu menemukan jalan untuk mengatasi jalinan cinta yang nyaris rumit di antara mereka bertiga.

“Kanda Banyakngampar, besok Kanda akan berangkat ke Pasirluhur, bukan?”

“Benar sekali, Dinda.”

“Aku doakan semoga Kanda Banyakcatra sudah menemukan gadis idamannya. Demikian pula Kanda Banyakngampar aku doakan segera mendapatkan gadis calon pendamping Kanda. Tapi jangan lupa, carikan juga aku seorang ksatria gagah perkasa yang mencintai aku, sebagaimana cinta Kanda Banyakngampar dan Banyakcatra kepadaku. Aku tidak ingin berpisah dengan Kanda berdua,” kata Ratna Pamekas.

“Baiklah, Dinda. Doakan selalu agar aku dalam waktu singkat bisa bertemu dengan Kanda Banyakcatra,” kata Banyakngampar.

Sebelum meninggalkan Taman Kaputren, dipeluk dan diciumnya adik tirinya itu. Ciuman dan pelukan kasih sayang seorang kakak kepada seorang adik. Tak terasa kedua kakak beradik itu larut dalam duka mendalam. Keduanya berurai air mata. Ratna Pamekas sungguh cemas, kalau-kalau itu adalah pertemuan terakhir dengan Banyakngampar. Sebagaimana dulu, dia pun merasakan kecemasan yang sama saat Banyakcatra juga mendatanginya untuk mohon diri meninggalkan Keraton Pajajaran.

Banyakngampar tersadar dari lamunannya ketika seorang petugas ronda malam sudah ada di dekatnya dan menyapanya. ”Sudah malam Raden, belum juga tidur?” tanya penjaga sambil mendekati Banyakngampar atau Silihwarna. Silihwarna tersenyum, kemudian berdiri dan melangkah menuju tempat peristirahatannya di kamar tamu Dalem Kepatihan.(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar