Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Senin, 11 Desember 2017

Novel:Melati Kadipaten Pasirluhur (73)




“Kanda Amenglayaran, aku pernah membayangkan Dinda Silihwarna pulang dari Megamendung sudah jadi Pendeta muda seperti Kanda. Eh, tahunya malah menyusul ke Pasirluhur,” kata Kamandaka yang selalu ingin tertawa bila ingat kejadian sebelum bertemu dengan adik kandung satu-satunya itu. Dulu Kamandaka sering membayangkan adiknya itu kepalanya plontos, mengenakan jubah kuning, sambil berjalan kemana-mana membawa kalung biji pendoa.
”Ah, aku sudah menduga ketika dulu di Padepokan Megamendung, Dinda Silihwarna bakal gagal. Dulu sering menangis sendiri kalau tengah malam. Katanya ingat…..” kata Pendeta Muda yang sempat menjadi senior Silihwarna di Megamendung.
“Pasti ingat Ibundaku!” kata Kamandaka memotong kalimat Pendeta Muda yang belum selesai diucapkan.
Kamandaka khawatir Pendeta Muda itu akan menyebut nama adik tirinya, Ratna Pamekas sebagai penyebab kegagalan Silihwarna menjadi seorang brahmacharin. Apa lagi Kamandaka melihat Silihwarna mengedip-ngedipkan matanya kepadanya. Dia memberi kode agar Pendeta Muda itu tidak membicarakan masa lalunya di Megamendung di depan Mayangsari maupun Sang Dewi.
“Beruntung dia menyusul ke Pasirluhur, Kanda Amenglayaran,” kata Kamandaka melanjutkan. ”Kalau tidak, mana mungkin akan dapat calon istri secantik Dinda Mayangsari?” Mayangsari yang dipuji Kamandaka, tersenyum malu-malu. Silihwarna alias Banyakngampar tersenyum bangga.
“Hayo, Kanda tak boleh menggoda seorang brahmacharin,” kata Sang Dewi yang berdiri di samping Kamandaka, mengingatkan suaminya.
Tentu saja kata-kata Sang Dewi itu membuat Pendeta Muda merah wajahnya. Karena lingkungan kesehariannya yang selalu sepi dari pergaulan dengan wanita, mengakibatkan Pendeta Muda itu selalu canggung dan kikuk bila berhadap-hadapan dengan wanita. Apalagi dengan wanita secantik Mayangsari dan Sang Dewi.
“Ah, tidak apa-apa. Diajeng belum tahu, ya?  Kanda Amenglayaran sudah sering digoda Maneka  Dewi. Dan lulus. Buktinya sudah jadi Pendeta muda. Dulu di Pakuan Pajajaran, ada juga seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Kanda Amenglayaran. Tetapi Kanda Amenglayaran menolaknya. Padahal Putri Ayunglarang Sakean, cantik lho,” kata Kamandaka kembali menggoda Pendeta Muda yang baru tiba itu. Pendeta Muda yang digoda itu tambah merah wajahnya. Tetapi dia  cepat bisa menguasai dirinya, lalu tersenyum.
“Bukannya Dinda Ayunglarang Sakean yang jatuh cinta pada Dinda Banyakcatra?” Pendeta Muda itu mulai melakukan serangan balik yang membuat Sang Dewi berdebar-debar dan langsung berkata.
“Oh, masih ada gadis yang menunggu Kanda Banyakcatra di Pajajaran?” tangan Sang Dewi langsung mencubit pinggang Kamandaka.
“Ah, Diajeng jangan percaya. Faktanya Putri Ayunglarang Sakean mengirim tempat sirih lengkap dengan isinya, minyak wangi dari negeri China, baju-baju yang bagus, serta sebilah keris, lewat Emban Jompong Larang langsung kepada Kanda Amenglayaran. Bukan kepada aku!” kata Kamandaka sambil menahan sakit di pinggangnya karena dicubit istrinya.
“Lho, Dinda Banyakcatra tahu?” tanya Amenglayaran.
“Ya, jelas tahu. Bukankah Dinda Ratna Pamekas yang disuruh Kanda supaya mengembalikan barang-barang kiriman Putri Ayunglarang Sakean? Eh, Kanda sudah ketemu Dinda Ratna Pamekas belum ?” tanya Kamandaka. “Dinda Silihwarna, tolong panggil Dimas Arya Baribin dengan Dinda Ratna Pamekas. Katakan ada tamu dari Pakuan Pajajaran!”
“Lho, Dinda Ratna Pamekas ada di sini?” tanya Pendeta Muda itu terkejut. Dia sama sekali tidak menduga Ratna Pamekas ikut kakak-kakak tirinya ke Pasirluhur.
”Aku mengira Dinda Ratna Pamekas  masih dipingit di Taman Kaputren Pakuan Pajajaran,” kata Pendeta Muda.
“Ya, dia sudah punya calon suami, Arya Baribin, ksatria trah Majapahit,” kata Kamandaka.
“Calon suami Dinda Ratna Pamekas  dari trah Majapahit? Wah, kebetulan sekali,” kata Pendeta Muda itu. “Aku mendapat amanat dari Sri Baginda. Selain mewakili Sri Baginda menghadiri pesta pernikahan Dinda, aku supaya melanjutkan perjalanan ke bekas Ibu Kota Majapahit di Trowulan, kemudian agar ke Kediri dan dilanjutkan ke Demak.”
Pendeta Muda Amenglayaran itu pun berceritera. Dia mendapat tugas dari Sang Raja Sri Baginda Prabu Siliwangi. Selain ditugaskan menghadiri pernikahan agung Sang Dewi dengan Kamandaka, dia juga ditugaskan untuk melakukan muhibah sebagai duta Sang Raja mengunjungi kerajaan-kerajaan yang baru muncul pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, yakni Kerajaan Hindu Kediri dan Kerajaan Islam Demak. Hanya soal waktu kapan mengunjungi kerajaan-kerajaan itu, Sri Baginda menyerahkan sepenuhnya kepada Pendeta Muda.
“Sultan Demak belum lama ini  mengirim surat kepada Sri Baginda Prabu Siliwangi mengajak  memeluk agama Islam. Sultan Demak juga mengundang Sri Baginda untuk mengunjungi Demak.”
“Bagaimana sikap Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi?”
“Sikapnya positip. Sri Baginda mengajak saling toleransi, hormat menghormati, dan perlu dijajagi kemungkinan bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan Islam, mengingat di kawasan Asia Tenggara sudah bermunculan kerajaan Islam yang kuat. Misalnya, Kerajaan Islam Malaka. Sekalipun resminya Samudra Pasai  tunduk kepada Majapahit ( sejak tahun 1357 M) nyatanya Pasai masih cukup kuat sebagai salah satu pusat Islam. Kini di Jawa juga sudah muncul Kerajaan Islam Demak yang cukup kuat juga,”  kata Pendeta Muda itu.
“Sikap Dinda Banyakbelabur selaku Putra Mahkota?” tanya Kamandaka.
“Ya, itulah yang menyebabkan Sri Baginda sakit. Putra Mahkota memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Kerajaan Demak. Sepertinya dia sedang menjalin komunikasi dengan Kerajaan Kediri untuk memaklumkan perang melawan Demak. Antara Sri Baginda dan Putra Mahkota terdapat perbedaan sikap yang tajam.”
“Semoga tugas Kanda Amenglayaran sebagai duta perdamaian di Pulau Jawa kelak berhasil,” kata Kamandaka.
Tiba-tiba Arya Baribin dengan Ratna Pamekas datang. Pendeta Muda itu menyambut hangat Arya Baribin. Lebih-lebih setelah dia mengetahui Ksatria Majapahit itu adalah calon suami Ratna Pamekas.
“Kanda tidak mengira Dinda Ratna Pamekas ada  di Pasirluhur,” kata Pendeta Muda itu kepada Ratna Pamekas yang langsung saling berpelukan. Ratna Pamekas sudah lama tidak berjumpa dengan Amenglayaran. Dulu waktu di Pakuan Pajajaran,  Amenglayaran sering kali bertemu  Ratna Pamekas, bila kebetulan dia mampir ke Keraton Pajajaran.
“Boleh lho, memeluk seorang calon brahmacharin, tidak apa-apa, Dinda,” kata Kamandaka menggoda Ratna Pamekas.
“Lho, Kanda Amenglayaran ini bukan hanya seorang calon brahmacharin muda. Dia juga diharapkan bisa jadi Pendeta Muda Kerajaan Pakuan Pajajaran  kepercayaan Ayahanda. Dulu pun sering aku peluk waktu masih di Pajajaran,” kata Ratna Pamekas tidak kalah tangkas, sambil memuji Pendeta Muda itu. Pujian itu membuat Pendeta Muda itu merasa nyaman dan senang. Lebih-lebih karena Ratna Pamekas tidak menyinggung soal gadis cantik sepupunya yang jatuh cinta kepadanya, Putri Ayunglarang Sakean.
“Dinda, kenapa Dimas Arya Baribin tidak dipeluk? Nanti cemburu lho?” kata Sang Dewi ikut-ikutan menggoda Arya Baribin. Kali ini ganti Arya Baribin yang merah wajahnya. Untunglah  Ratna Pamekas langsung mencium Arya Baribin, yang membuat Arya Baribin malu tersipu-sipu.
Tetapi sesungguhnya dirinya merasa senang. Benih-benih cinta Arya Baribin kepada Ratna Pamekas pelan-pelan memang mulai tumbuh dengan subur. Bahkan Arya Baribin diam-diam menambahkan kata Kirana pada nama calon istrinya yang lincah dan cantik jelita itu. Rupanya putri Pajajaran itu juga senang dengan tambahan nama baru. Denga demikian namanya lengkapnya adalah Dyah Ayu Ratna Kirana Pamekas.
“Dimas Arya Baribin, tadi Kanda Amenglayaran berkata, kapan-kapan ingin banyak berdiskusi dengan Dimas tentang agama Islam,” kata Kamandaka. “Dia memerlukan sedikit bekal pengetahuan agama Islam. Karena dia mendapat tugas dari Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi untuk mengunjungi Demak, menemui Sultan Demak yang sempat kirim surat ke Pajajaran.”
Arya Baribin menyambut gembira keinginan Pendeta Muda itu. Arya Baribin sendiri memiliki minat cukup tinggi untuk mempelajari sejumlah agama sehingga dia mendapat julukan Pandita Putra. Arya Baribin juga  sudah beberapa kali melakukan diskusi dan pertemuan dengan seorang ulama agama Islam, Syekh Maghribi. Syekh ini adalah  seorang ulama asal Pasai yang tinggal di Muarajati. Syekh Maghribi beberapa kali mengunjungi Kademangan Kejawar dalam rangka mengenalkan ajaran agama Islam ke wilayah Lembah Ciserayu. Syekh Maghribi juga mendirikan sebuah pesantren di Banjarcahyana, lereng timur Gunung Agung.
“Kanda Amenglayaran, sudah ketemu Kanjeng Rama Adipati?” tanya Kamandaka. Pendeta Muda itu menggeleng. “Dinda Silihwarna, antarkan Kanda Amenglayaran menemui Kanjeng Rama Adipati. Disana ada Dinda Wirapati, Dinda Sekarmenur, dan kedua adiknya, Sekarmelati dan Sekarcempaka,” kata Kamandaka.
Silihwarna dan Amenglayaran segera meninggalkan kedua mempelai untuk menemui Kanjeng Adipati Kandhadaha di Dalem Gede. Arya Baribin, Mayangsari, dan Ratna Pamekas ikut-ikutan meninggalkan kedua mempelai yang masih saja menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang sekalipun tidak sepadat hari-hari sebelumnya.

“Dinda Mayangsari dan Dinda Ratna Pamekas, di sini saja. Temani  aku!” kata Sang Dewi mencegah kedua adiknya itu pergi meninggalkannya. Mayangsari dan Ratna Pamekas tentu saja tidak berani menolak perintah Sang Dewi.
“Dinda Silihwarna, tolong Dinda Sekarmenur dan kedua adiknya panggil ke sini, untuk menemani  aku juga,” pesan  Sang Dewi.
“Dinda Silihwarna, tidak boleh menolak perintah Kanjeng Ayu Adipati, ya!”  pesan Kamandaka seperti biasa berkata sambil berkelakar.
“Baik Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati,” jawab Silihwarna sambil tertawa. Dia tidak mau kalah ganti menggoda kakaknya. Begitu Silihwarna pergi, Sang Dewi kembali mencubit   pinggang Kamandaka. Sang Dewi tidak suka dipanggil Kanjeng Ayu Adipati oleh adik-adiknya. Melihat Kamandaka kesakitan, Mayangsari dan Ratna Pamekas tertawa berkepanjangan.
“Kalau tidak sedang ada tamu, sudah aku balas,” kata Kamandaka. Seperti biasa, Sang Dewi langsung mengusap-usap pinggang suaminya yang baru dicubitnya itu.
“Kasihan juga Kanda Amenglayaran, seorang pendeta muda yang kesepian,” kata Kamandaka membicarakan Pendeta Muda yang masih kakak sepupu lewat ibunya itu.
“Kenapa dia menolak cinta putri saudaranya yang cantik?” tanya Sang Dewi.
“Aku sendiri tidak pernah tahu apa sebab Kanda Amenglayaran menolak cinta adik sepupunya. Padahal adik sepupu boleh dinikah kakak sepupu. Rupanya Kanda Amenglayaran lebih suka memilih jadi seorang brahmacharin. Konon, kalimat penolakan kepada adik sepupunya itu sangat menyakitkan hati.”
“Bagaimana bunyi kalimatnya?” tanya Sang Dewi.
“Aku pun diberitahu Dinda Ratna Pamekas. Dinda Ratna, bagaimana bunyi surat  yang berujung pada kematian Ayunda Putri Ayunglarang Sakean?” Kamandaka berpaling pada Ratna Pamekas.
“Kanda Amenglayaran menulis, bahwa cita-citanya dalam hidup ini adalah dia ingin berkelana ke Jawa Timur untuk mencari tempat dimana dia akan dikuburkan, untuk mencari laut tempat dimana dia bisa hanyut, untuk mencari suatu tempat yang bisa menjemput kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya selama-lamanya.” kata Ratna Pamekas yang dulu dititipi surat oleh Amenglayaran.(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar