Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Selasa, 08 November 2016

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (03)



Sri Baginda Prabu Siliwangi memiliki tiga orang putra yang tampan-tampan, dan seorang putri cantik jelita dari permaisuri pertama dan kedua. Dari permaisuri pertama lahirlah putra Sri Baginda, Banyakcatra dan Banyakngampar. Sedangkan dari permaisurinya kedua, Dewi Kumudhaningrum, lahirlah putranya, Banyakbelabur, dan putrinya Ratna Pamekas. Banyakngampar, putra kedua tidak menghadap karena masih bertapa di sebuah gua di kaki Gunung Gede. Banyakcatra sendiri sudah hampir lima tahun tidak pernah bertemu dengan adiknya itu. Sejak Ibu mereka mangkat, Banyakngampar lebih senang menyingkir dari Keraton Pajajaran.


Permaisuri pertama Sri Baginda sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hal inilah yang membuat Sri Baginda sering murung. Lebih-lebih lagi, Sri Baginda akhir-akhir ini   sering mencemaskan masa depan Pajajaran yang telah dibinanya hingga mencapai puncak kemasyhurannya. Banyakcatra, putra sulung yang diharapkan bisa menjadi penggantinya belum juga mempunyai istri. Alih-alih mencari istri, tunangan bahkan pacar pun belum. Demikian pula adiknya, Banyakngampar. Dia lebih suka bertapa dan mendalami ilmu agama daripada memikirkan kehidupan berumah tangga. Beda dengan adiknya, Banyakbelabur yang sudah memiliki beberapa calon istri. Di antara putra-putra raja itu, sepertinya hanya Banyakbelabur yang paling siap untuk segera mempunyai istri.


“Ananda Banyakcatra dan adik-adik menghaturkan sembah pada Ayahanda. Kami semua dalam keadaan baik, sehat, dan sejahtera, berkat doa restu dari Ayahanda,“  ujar Banyakcatra yang dari tadi duduk dengan sabar bersama  kedua adiknya.


“Syukurlah Putraku, Banyakcatra. Kuterima baktimu bersama adik-adikmu. Akhir-akhir ini aku sungguh gelisah, Banyakcatra. Ibumu sudah meninggalkan aku. Tetapi engkau belum juga berminat punya istri. Padahal engkau adalah salah seorang calon putra mahkota penggantiku. Karena itu, dalam pertemuan agung ini, aku ingin mendengar darimu, kapan engkau akan berumah tangga? Syarat untuk menobatkan engkau menjadi putra mahkota dan calon penggantiku, engkau harus segera menyunting seorang gadis menjadi istrimu. Carilah gadis di seluruh wilayah Pajajaran. Bukankah di wilayah Pajajaran banyak gadis cantik yang bisa menjadi pendamping hidupmu?”


“Aduh, Ayahanda, ampunilah ananda. Benar Ayahanda, di Pajajaran banyak gadis cantik. Bukan hanya para putri adipati, bahkan gadis-gadis anak orang kebanyakan. Tetapi Ayahanda, ananda masih terus mencari. Hanya saja mohon ampun Ayahanda, ternyata apa yang ananda cari belum juga ananda temukan. Mungkin Hyang Widhi masih menyembunyikan calon pendamping hamba itu, Ayahanda. Karenanya, ananda mohon ampun.”


“Hem…, gadis macam apakah yang engkau rindukan, Banyakcatra?” tanya Sri Baginda, ”Mustahil ada gadis bakal menolak lamaranmu. Engkau bukan hanya tampan dan cakap, tubuhmu pun kekar. Engkau pandai, cekatan, tangkas, menguasai berbagai ilmu, baik ilmu pemerintahan, kepemimpinan, ketangkasan berperang, dan ilmu kanuragan, juga ilmu kekebalan. Engkau adalah gambaran seorang Ksatria Pajajaran ideal, yang pantas jadi suri tauladan adik-adikmu dan para pemuda  Pajajaran lainnya. Aku mendengar pula, engkau bukan hanya pandai menggunakan tombak, pedang, dan panah. Tetapi engkau juga ahli dalam menggunakan senjata pendek kujang yang merupakan senjata khas Pajajaran. Engkau pun pintar menunggang kuda. Karena itu ayahandamu ini heran, kenapa engkau belum juga mendapatkan gadis calon pendamping?”


Banyakcatra diam, tetapi akalnya terus berputar mencoba merangkai kata-kata yang tepat, agar ayahandanya tidak menjadi murka. Akhirnya Banyakcatra menjelaskan persoalan sulit yang sedang dihadapinya, ialah menemukan gadis calon pendamping hidup yang wajahnya mirip Ibunya.


“Ayahanda, ampun beribu-ribu ampun. Sesungguhnya Kerajaan Pajajaran yang makmur, aman, dan sejahtera ini tidak kekurangan gadis cantik. Ananda sudah berkelana, dari kadipaten ke kadipaten  di seluruh wilayah Pajajaran, khususnya wilayah  sisi barat Cisadane, sisi barat Ciliwung, sisi timur Citarum sampai Cimanuk bahkan sampai Citanduy. Hanya kadipaten di sisi timur Citanduy yang belum sempat ananda datangi, Ayahanda. Tetapi gadis idaman ananda belum juga ananda temukan.”


“Gadis cantik seperti apa yang engkau cari, Putraku?”


“Ampun, Ayahanda. Gadis yang ananda cari, menjadi dambaan dan idaman hati adalah gadis cantik yang wajahnya mirip wajah Ibunda.”


“Ee..., Jagad Batara! Banyakcatra! Sudah barang tentu engkau mencari gadis yang sulit ditemukan. Hanya apabila Hyang Widhi menghendaki, engkau akan mendapatkan gadis idaman hatimu itu. Banyakcatra, memang mendiang Ibumu adalah wanita cantik jelita. Kecuali jika Ibumu putri kembar, maka akan ada wajah wanita mirip Ibumu. Lagi pula Banyakcatra, pikirkanlah baik-baik, dan gunakan kecerdasanmu. Andai kata semua pemuda mempunyai cita-cita seperti engkau, pastilah akan banyak pemuda bakal kesulitan mencari istri. Engkau harus membuang jauh-jauh keinginan seperti itu, Banyakcatra!”


Sri Baginda diam sejenak. Dipandangnya seluruh punggawa yang duduk di hadapannya, mulai dari barisan deretan sebelah kanan, terus ke belakang. Kemudian pandangannya diarahkan ke deretan sebelah kiri, juga terus ke belakang. Semua punggawa duduk dengan takzim, ikut mendengarkan kata-kata Sri Baginda yang ditujukan kepada putra sulungnya, Banyakcatra. Akhirnya pandangan Sri Baginda Prabu Siliwangi kembali diarahkan kepada putra putrinya yang duduk di deretan paling depan. Kembali terdengar suara Sang Raja yang berwibawa.


“Leluhur kita orang Sunda pada jaman dahulu sudah memberikan petunjuk dan pedoman bagaimana ciri-ciri wanita yang baik untuk dijadikan istri calon pendamping hidup. Tidak ada petuah leluhurmu yang menyebutkan bahwa wanita atau istri sejati ialah istri yang wajahnya mirip ibu sang ksatria. Wanita sejati idaman setiap ksatria di Tatar Sunda ialah wanita yang memiliki beberapa sifat.” 


“Pertama, wanita itu harus pandai merawat dirinya agar selalu elok dipandang. Wanita yang pandai merawat dirinya akan selalu bisa menjaga wajah, rambut, kulit, dan seluruh tubuhnya, sehingga ia akan selalu tampil cantik, menyegarkan bila dipandang, membuat suami selalu ingin berdekatan dengannya. Itu yang sering disebut oleh para leluhur kita sebagai batur sasumur. Batur di sini artinya adalah teman, teman dekat, teman sehidup semati atau teman dalam membangun rumah tangga. Sumur adalah tempat untuk mandi dan mencuci. Arti mandi di sini adalah menjaga kebersihan tubuh agar tetap bugar dan cantik.” 


“Kedua, wanita harus pandai memasak. Sekalipun mempunyai pembantu, seorang istri harus pandai memasak. Sebab semua suami pasti senang bila istrinya pandai memasak. Janganlah engkau pilih wanita yang tidak bisa atau tidak pandai memasak. Itulah yang disebut dengan batur sadapur. Dapur itu adalah tempat seorang istri membuat dan mengolah aneka macam masakan untuk kebutuhan seluruh anggota rumah tangga. Wanita Sunda pada umumnya bukan hanya pandai memasak, tetapi juga pandai menenun, menjahit, dan membuat pakaian.” 


“Ketiga, seorang istri harus bisa membahagiakan suami di atas peraduan. Seorang istri yang pandai bercinta di atas peraduan akan membuat seorang suami betah tinggal di rumah bersama istri tercintanya yang pandai bermain asmara. Inilah yang disebut dengan batur sakasur dalam budaya Sunda. Batur sakasur juga mengandung makna, bahwa seorang istri harus bisa memberikan keturunan. Tentu akan mengurangi kebahagiaan suatu rumah tangga, apabila seorang istri tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya.”


“Keempat, seorang istri harus pandai mengasuh anaknya dengan cara memberikan pendidikan dan tuntunan kepada anaknya, terutama tuntunan berkaitan dengan budi pekerti dan akhlak. Termasuk dalam cara mengasuh anak adalah merawat bayi sejak lahir dengan memberikan air susu yang cukup kepada anaknya. Istri yang tidak mau menyusui bayinya sendiri jelas bukan seorang istri yang baik. Inilah yang disebut dengan batur salembur. Artinya seorang istri harus bisa mendidik anak agar bisa hidup di tengah-tengah masyarakat, ikut menjaga dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang berlaku pada masyarakat di sekitarnya. Banyakcatra, renungkanlah apa yang aku katakan. Itulah pedoman dari leluhurmu bagaimana caranya engkau akan memilih seorang istri pendamping hidupmu. Pilihlah jalan yang sesuai dengan tuntunan adat, tradisi, budaya, dan agama. Dan jangan memilih jalan yang pada akhirnya akan mempersulit dirimu sendiri.”


Diam-diam sebenarnya Sri Baginda memuji keinginan Banyakcatra. Sebab ibunda Banyakcatra yang merupakan permasuri pertama Sri Baginda adalah wanita yang sangat memenuhi kriteria sebagai wanita idaman setiap ksatria. Andai kata Mawar Galuh yang gugur di Bubat masih hidup dan dipersandingkan dengan permaisuri Sri Baginda, niscaya keduanya bagaikan pinang dibelah dua. Wajar saja sebenarnya, jika anaknya mendambakan seorang wanita yang kecantikannya mirip ibunya. Sebab wanita cantik jelita demikian sukar didapat.


Adakah permasuri pertama yang cantik jelita itu penjelmaan atau inkarnasi Dyah Pitaloka? Setelah permaisuri pertama mangkat, kepada wanita mana gerangan sukma Dyah Pitaloka itu akan berinkarnasi? Sayang sekali para brahmana, para ajar, dan para wiku yang cerdik, pandai, dan bijaksana pun tidak mampu menjelaskannya. Sri Baginda tersentak dari lamunannya saat mendengar putra sulungnya Banyakcatra berkata, “Ayahanda, ampunilah ananda. Ananda memahami segala nasihat, petuah, dan petunjuk Ayahanda bagaimana cara seorang ksatria seharusnya memilih calon istri pendamping hidup. Dari kriteria dan syarat-syarat yang Ayahanda paparkan tadi, ananda menambah  satu syarat lagi, Ayahanda.”


“Satu syarat lagi? Apa itu?”


“Di samping calon istri ananda harus pandai berhias, pandai masak, pandai di peraduan, dan pandai mengasuh anak, wanita calon istri ananda itu wajahnya harus mirip Ibunda, Ayahanda.”


“Hm…, Banyakcatra. Pilihanmu itu adalah takdirmu. Mungkin sudah menjadi kehendak Dewata. Aku tidak bisa menghalang-halangi jika itu sudah menjadi tekad dan pilihanmu. Sekarang engkau kuberi waktu satu tahun untuk menemukan gadis idamanmu itu. Berkelanalah ke mana engkau suka. Ambil bekal yang cukup. Ke mana kira-kira engkau akan berkelana?”


“Ananda akan berangkat esok lusa, Ayahanda. Ananda akan menuju Kadipaten Galuh, kemudian akan ananda lanjutkan ke kadipaten-kadipaten di sebelah timur Citanduy, khususnya Kadipaten Pasir,”  jawab Banyakcatra.


“Baiklah, kudoakan engkau selamat dalam perjalanan,” kata Sri Baginda. “Ajaklah dua orang abdi Keraton Pajajaran sebagai teman seperjalananmu bila merasa perlu. Aku berikan kepadamu salah satu pusaka Pajajaran, Kujang Kancana Shakti. Aku mempunyai tiga. Semuanya kelak akan kuwariskan kepada ketiga putraku. Karena engkau akan berkelana, ambilah pusakaku Kujang Kancana Shakti di tempat penyimpanan pusaka. Sempatkanlah singgah lebih dulu ke tempat Ki Ajar Wirangrong, sahabatku, yang mendirikan padepokan di sisi timur lereng Gunung Tangkuban Perahu. Mintalah nasihat dan petunjuknya, siapa tahu Ki Ajar Wirangrong bisa memberitahu di mana adanya gadis yang wajahnya mirip Ibumu.”


“Kemudian bila engkau mampir ke Kadipaten Galuh, sampaikan salamku kepada Adipati Galuh. Dan, jangan lupa berziarah ke makam leluhurmu Sanghiyang Linggahiyyang, di Kawali. Di sanalah abu para leluhurmu dipusarakan. Termasuk pula abu Pitaloka, Putri Galuh Dyah Pitaloka yang gugur di Bubat. Semoga engkau selamat dalam perjalanan dan menemukan gadis idamanmu. Banyakcatra, engkau boleh undur dari paseban agung ini. Banyakbelabur dan putriku Ratna Pamekas, engkau berdua pun boleh meninggalkan pertemuan ini, dan sampaikan salamku untuk Ibumu. Aku selalu merindukan Ibumu.”


Ketiga putra dan putri Kerajaan Pajajaran itu pun segera menghaturkan sembah kepada Sri Baginda, kemudian ketiganya meninggalkan paseban agung. Sri Baginda masih melanjutkan sidang di paseban agung bersama Ki Patih, untuk menerima laporan, memberikan pengarahan dan pemecahan masalah-masalah berkaitan dengan persoalan mewujudkan pemerintahan yang aman, maju, makmur, dan sejahtera.

***

Matahari masih berada di bawah kaki langit ketika Banyakcatra duduk di atas kudanya dan pelan-pelan memacu menuju arah timur, menyongsong matahari terbit, dan meninggalkan bangunan keraton megah berjajar dalam balutan malam yang hendak bertukar dengan siang. 


Banyakcatra memutuskan untuk berkelana sendirian agar perjalanan lebih cepat. Dia membawa perbekalan cukup. Kujang Kancana Shakti, pusaka Pajajaran terselip aman di pinggangnya, tersembunyi di balik balutan baju kuning muda dikombinasikan dengan ikat pinggang dari kulit berwarna coklat, dan celana panjang berwarna hitam. Dengan mengenakan ikat kepala berwarna ungu dengan motif daun dan burung, Banyakcatra, Ksatria Pajajaran itu, terlihat gagah perkasa. Dia memacu kudanya melewati jalan menembus hutan belantara di lereng-lereng gunung di sisi kanan dan kiri.


Semburat warna merah di kaki langit sebelah barat dan bintang kejora di langit tenggara sudah lenyap. Sejumlah burung hantu yang kesiangan terbang kembali ke sarangnya untuk bersembunyi dan beristirahat, setelah semalaman menjadi penjaga hutan. Sinar matahari pelan-pelan mulai memeluk hamparan gunung, lembah, dan hutan hijau yang terhampar di sepanjang jalan berkelak-kelok yang dilalui Banyakcatra. Sesekali Banyakcatra harus memacu kudanya melewati jalan menanjak melingkar-lingkar sepanjang lereng gunung. 


Banyakcatra harus hati-hati menuruni lembah. Aneka macam pohon hutan seperti sono keling, mahoni, pinus, trembesi, dan pala, dengan daunnya yang rimbun dan batangnya sebesar pelukan orang dewasa, berdiri tegak lurus ke atas seakan-akan hendak menyangga langit. Deretan pohon pala yang tumbuh liar dengan bunga harum semerbak mewangi menyebar kemana-mana, membuat Banyakcatra  merasa nyaman menghirup udara pagi yang menyegarkan tubuhnya. 


Di lereng Gunung Pangrango dan Gunung Gede, tidak jauh dari pusat kerajaan, banyak tersebar hutan pohon pala tumbuh liar. Bunga dan buah pala dengan mudah dipanen peladang dan petani kawula Pajajaran. Pala, bunga pala, nila, dan lada merupakan barang dagangan andalan yang ikut menggerakkan roda perekonomian Pajajaran sekaligus menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.


Sepanjang perjalanan Banyakcatra mendengar aneka bunyi burung hutan, seperti jalak, kutilang, manyar, cucak rawa, pelatuk, kemaduan, emprit, kepodang, dan ciung. Burung-burung itu berbunyi bersaut-sautan bagaikan suara musik sedang menyambut datangnya sinar matahari pagi dan mengiringi perjalanan Ksatria Pajajaran. Aneka macam burung hutan dengan warna bulu-bulunya yang indah itu berloncatan kian kemari dari satu dahan ke dahan lain dan dari satu ranting ke ranting lain. 


Banyakcatra mendongakkan wajahnya  tampak langit cerah membiru dengan gumpalan awan bagaikan kapas putih berjalan perlahan menyusuri dinding langit. Aneka burung elang, tampak berputar-putar di atas langit yang menaungi lembah. Kadang-kadang dalam perjalanan menembus hutan lebat itu Banyakcatra melihat satwa hutan, seperti kijang, rusa, babi hutan, bahkan harimau, berkeliaran kesana kemari. Tetapi Raden Bacakcatra memiliki aji Ciung Wanara yang mampu menjinakkan sejumlah binatang buas, sehingga mereka tidak berani mengganggunya. Binatang hutan yang paling disukai Banyakcatra adalah burung ciung, aneka macam lutung, dan kera yang banyak ditemukan di hutan-hutan sekitar  Pajajaran. 


Lewat tengah hari Banyakcatra berhenti sejenak di tengah hutan untuk melepas lelah. Sesekali dilihatnya seekor burung ciung berwarna kuning sedang bertengger di atas dahan. Dengan hanya satu siulan, burung ciung itu bisa dipanggilnya mendekat. Burung ciung adalah burung berwarna kuning seperti burung kepodang, hanya lebih besar dan memiliki ekor lebih panjang. Demikian pula, apabila dilihatnya ada seekor lutung tengah bergelantungan di atas pohon, Banyakcatra bisa memanggilnya, sehingga lutung itu menjadi jinak, mau mendekat dan bersahabat.(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar