Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Selasa, 08 November 2016

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (02)





Kerajaan Galuh Kawali terus melanjutkan sukses perluasan wilayahnya ke arah timur, sampai akhirnya berhenti di tepi Sungai Bhagalin. Itulah batas alamiah paling timur yang merupakan sukses dari perluasan wilayah Kerajaan Galuh Kawali di Jawa Tengah Selatan. Sedangkan di pantai utara Jawa Tengah, perluasan wilayah Kerajaan Galuh ke timur berhenti sampai Sungai Cipamali di daerah Brebes. Kadipaten Pasir juga berkembang menjadi kadipaten kuat sebagai garda depan dan benteng Kerajaan Galuh dalam menghadapi ancaman dan serangan musuh dari timur. Kadipaten Pasir menjadi kadipaten pemasok peralatan perang Kerajaan Galuh terbesar setelah Kadipaten Cibatu-Limbangan. 


Sang Raja mencoba membantah anggapan bahwa memindahkan pusat kerajaan ke arah barat sebagai langkah mundur. Dia yakin mimpinya itu sepenuhnya benar. Dengan memindahkan pusat kerajaan ke barat, setelah peristiwa mangkatnya Sang Maharaja di lapangan Bubat, Sang Raja berharap Keraton Galuh yang dianggap telah kehilangan daya gaibnya itu kembali bersinar setelah melewati dukacitanya yang mendalam. Sang Raja berharap Keraton Galuh akan terhindar dari berbagai gangguan, halangan, dan musibah yang bisa mengakibatkan merosotnya Kerajaan Galuh.


Tetapi menurut Bunisora, jika Galuh dipindahkan ke arah barat justru Kerajaan Galuh akan mudah kehilangan kontrol atas daerah yang sangat subur yaitu daerah Lembah Ciserayu dan Bhagalin. Ciserayu merupakan sungai paling panjang di Jawa yang mengalir ke arah lautan selatan. Sungai Ciserayu seperti juga Bhagalin memiliki mata air di kaki Gunung Suci Dieng. Kedua sungai itu sama-sama mengalir ke lautan selatan, lautan yang diberkati para dewa, dan lautan tempat dua sungai suci di India, Gangga, dan Yamuna bermuara. Lautan Selatan atau Samudra Hindia juga merupakan lautan suci, karena abu para raja dan brahmana dilarutkan ke sana.


Berbeda dengan Sungai Bhagalin yang hanya menjadi muara sungai-sungai kecil. Ciserayu menjadi muara sungai-sungai besar yang bermata air di kaki Gunung Agung. Sungai Cingcinggoling, Banjaran, Logawa, dan Kabunan, yang semuanya bermata air di kaki Gunung Agung, pada akhirnya juga bermuara di Sungai Ciserayu. Ya, Lembah Ciserayu memang lembah seribu sungai yang amat subur. Dalam pandangan Bunisora, jika Kerajaan Galuh mundur ke arah barat, wilayah Lembah Ciserayu dan Bhagalin akan mudah jatuh ke tangan kerajaan-kerajaan Jawa di timur Sungai Bhagalin. Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit, sudah lama berniat melakukan ekspansi guna menguasai wilayah barat Sungai Bhagalin.


Karena hubungan baik antara Kerajaan Jawa dan Kerajaan Sunda, keinginan kerajaan-kerajaan Jawa melakukan ekspansi ke wilayah barat selalu dapat dihindarkan. Bahkan ketika Raja Besar Singasari Sri Kertanegara (1268–1292 M), melakukan ekspansi perluasan wilayah dengan program ekspedisi Pamalayunya yang terkenal, wilayah Galuh yang berada di sisi barat Sungai Bhagalin itu sama sekali tidak dilirik.


Bahkan Kerajaan Kediri, Singasari, maupun penerusnya, Kerajaan Majapahit, mengandalkan pasokan beras dari wilayah Galuh untuk mengisi perbekalan pasukan-pasukan yang dikirimkan ke luar Jawa, seperti ekspedisi penaklukan Bali, Sulawesi, Kalimantan, sampai Sumatra, dan Semenanjung Tanah Melayu.Lebih-lebih pada masa Majapahit melaksanakan program ekspansi Sumpah Palapa Gajah Mada, Galuh bukan hanya memasok beras, tetapi juga memasok tenaga prajurit yang mencari tambahan penghasilan sebagai tentara bayaran di Majapahit. Tenaga prajurit orang Sunda yang direkrut untuk memenuhi kebutuhan prajurit Majapahit, kebanyakan dipilih dari orang-orang Sunda yang tinggal di Lembah Ciserayu.


“Sebenarnya Kadipaten Pasir cukup kuat. Apa kekhawatiran Paman jika pusat kerajaan Galuh pindah ke barat? Apakah karena Kadipaten Pasir sudah menurun kualitasnya sehingga tidak lagi bisa diandalkan?” 


“Tentu saja bukan, Ananda Raja. Apalagi di Kadipaten Pasir banyak pandai besi yang ahli membuat peralatan perang seperti tombak, pedang, perisai, keris, kujang, dan alat-alat lainnya untuk keperluan perang dan pertanian. Tak ada alasan untuk meragukan kemampuan dan juga kesetiaan Kadipaten Pasir. Namun apabila ada serangan musuh datang dari sisi timur Sungai Bhagalin, bantuan yang diperlukan dari pusat kerajaan akan lebih mudah dilakukan. Lain halnya, jika pusat kerajaan berpindah ke arah barat.”


Tetapi akhirnya, setelah melalui perbincangan yang lama, Sang Raja mengalah. Patih Bunisora berhasil meyakinkan Sang Raja, sehingga rencana pemindahan Keraton Galuh ditunda. Bagaimanapun Bunisora adalah paman, ayah angkat, sekaligus mertua Sang Raja. Karena itu Sang Raja menghormati pandangan dan saran-sarannya. 


“Baiklah Paman Patih, alasan keberatan Paman Patih bila pusat kerajaan dipindahkan ke barat, dapat aku pahami. Tetapi aku akan menyampaikan sebuah maklumat penting kepada seluruh keluargaku, keturunanku, dan seluruh rakyatku orang Sunda yang tinggal di wilayah Kerajaan Galuh. Janganlah mereka berbesanan dengan trah keturunan Kerajaan Majapahit. Putri Sunda trah Kerajaan Galuh, dilarang bersuamikan ksatria Jawa trah Majapahit. Demikian pula ksatria Sunda trah Galuh, aku larang mempunya istri ksatria Jawa trah Majapahit. Aku Raja Galuh, melarang perkawinan semacam itu. Demikian Paman Patih, harap maklumatku segera Paman Patih sampaikan kepada seluruh rakyat Kerajaan Galuh agar dilaksanakan. Maklumat ini sekaligus sebagai baktiku kepada Ayunda Dyah Ayu Pitaloka yang gugur di Bubat.”


Patih Bunisora sekalipun dalam hati tidak setuju dengan isi maklumat itu, tetap melaksanakan kehendak Sang Raja. Bagi Bunisora, maklumat itu bisa menutup pintu silaturahmi antara keturunan Galuh yang Sunda dengan keturunan Majapahit yang Jawa. Dapat dipahami, betapa pedih dan sakit hatinya Sang Raja Niskala Wastu Kancana. Gara-gara tipu daya Mahapatih Gajah Mada, Sang Raja nyaris kehilangan seluruh keluarga yang dicintainya. Tetapi haruskah sakit hati dan rasa pedih yang mendalam itu dilestarikan dan diabadikan dalam bentuk maklumat yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? 


Bukankah Hayam Wuruk sangat menyesali kejadian yang ada di luar kendalinya itu? Sebagai bukti keprihatinan, Gajah Mada telah diberhentikan sekalipun hanya sementara. Hayam Wuruk pun merawat semua jasad korban Perang Bubat secara layak. Akhirnya Bunisora juga mendengar kabar, Hayam Wuruk merasakakan duka cita mendalam cukup lama akibat terus-menerus terbayang gadis cantik jelita cinta pertamanya. Memang benar, cinta pertama adalah cinta paling indah dan paling sulit dilupakan. Hayam Wuruk hampir selama tujuh tahun terus menerus dirundung duka. Tawaran untuk menikah dengan gadis lain selalu ditolaknya.


Saat Gajah Mada kembali melaksanakan tugasnya setelah empat tahun diistirahatkan, hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada tidak sehangat masa-masa sebelum Peristiwa Bubat. Bahkan duka cita Hayam Wuruk semakin mendalam. Gajah Mada dianggap sebagai orang paling bertanggung jawab atas dukacita Sang Raja. Gajah Mada menyadari posisinya. Dia merasa semakin tidak nyaman karena hubungannya yang senantiasa dingin dengan rajanya. Akhirnya Gajah Mada mengajukan permohonan pengunduran dirinya, dan Sang Raja Hayam Wuruk segera mengabulkan. 


Malam harinya Gajah Mada mendapat keterangan bahwa pasukan pengawal kerajaan sedang menuju kepatihan untuk menangkapnya. Sadar akan bahaya sedang mengancam dirinya, Gajah Mada segera meloloskan diri meninggalkan kepatihan disaksikan oleh Ken Bebed, istrinya yang terus menerus berurai air mata. Dengan mengenakan pakaian serba putih Gajah Mada meninggalkan kepatihan. Ketika pasukan pengawal kerajaan tiba, mereka hanya menjumpai Ken Bebed yang sedang dirundung duka. Gajah Mada menghilang entah ke mana. Dia raib bagaikan ditelan bumi. Bahkan kuburannya pun tak pernah diketahui hingga kini.


“Gajah Mada telah menerima hukum karma akibat pakarti dari ambisi pribadinya atas kekuasaan dan kemasyhuran,” gumam Bunisora.


Bagi Bunisora maklumat dari Sang Raja Niskala Wastu Kancana itu sesungguhnya tidak perlu. Dendam tidak seharusnya dipelihara dan diabadikan. Tetapi apa boleh buat. Bunisora kali ini memang tidak mungkin melawan kehendak Sang Raja. Sebab bagaimanapun Niskala Wastu Kancana adalah Raja Galuh yang perintahnya harus dilaksanakan.


Apa yang dikhawatirkan Bunisora, menjadi kenyataan. Sekalipun Sang Raja berkuasa cukup lama, enam dasa warsa, tetapi Galuh semakin mundur. Akibat maklumat Sang Raja, jumlah perdagangan beras dan hasil bumi lainnya dengan Majapahit merosot drastis. Para petani dan peladang di daerah Lembah Ciserayu dan sisi barat Sungai Bhagalin menyikapi maklumat Sang Raja dengan tidak mau melakukan perdagangan dengan penduduk di sisi timur Sungai Bhagalin, karena wilayah itu merupakan wilayah Majapahit. 


Mereka mematuhi perintah rajanya dengan membawa dan menjual hasil buminya ke pusat Kerajaan Galuh di Kawali. Dari sana hasil bumi itu baru diangkut lewat Sungai Cimanuk ke bandar Laut Jawa, dekat Indramayu. Padahal akomodasi menjual hasil bumi dari Lembah Ciserayu ke wilayah barat medannya lebih sulit, jarak tempuhnya untuk sampai ke bandar-bandar di Laut Jawa lebih lama dan lebih panjang dibanding dengan menjual produk hasil bumi ke wilayah timur. 


Sementara itu, Majapahit sudah mampu membuka daerah-daerah baru penghasil beras di luar Jawa, akibat ekspedisi-ekspidisi yang dilakukannya. Sulawesi Selatan misalnya, tercatat sebagai salah satu lumbung beras baru Majapahit. Maklumat Raja Galuh telah menurunkan kegiatan perdagangan dengan Majapahit. Akibatnya penghasilan Galuh semakin menurun dan kemakmuran pun makin merosot.


Niskala Wastu Kancana mengingat kembali mimpinya, tentang memindahkan pusat kerajaan. Kebetulan pada waktu itu Bunisora sudah meninggal. Maka Sang Putra Mahkota, Rahyang Dewa Niskala, mendapat amanat untuk melakukan pencarian tempat ke barat. Akhirnya pembangunan pusat kerajaan baru di Pakuan pun dimulai. Dan, ketika infra struktur, sarana, dan prasarana hampir selesai, Sang Raja Niskala Wastu Kancana mangkat pada usia sekitar 82 tahun. Putra Mahkota, Rahyang Dewa Niskala dinobatkan menjadi Raja Pajajaran yang berpusat di Pakuan, sebagai penerus Kerajaan Galuh Kawali. Keraton lama Galuh Kawali sejak itu hanya berkedudukan sebagai kadipaten, setara dengan Kadipaten Pasir. Kedua kadipaten itu sama-sama berada di bawah kendali Pajajaran yang berpusat di Pakuan. Peristiwa Penobatan Raja Pajajaran di Pakuan itu terjadi pada tahun 1355 Saka yang bertepatan dengan tahun 1433 Masehi.


Sang Raja Rahyang Dewa Niskala memerlukan waktu lama untuk mewujudkan kemakmuran Pajajaran. Pembangunan kerajaan terus menerus dilakukan seperti sarana jalan, irigasi, pembangunan pusat-pusat kegiatan ekonomi, padepokan-padepokan, sarana pertahanan, dan sarana pemerintahan lainnya.


Ayah Sri Baginda Prabu Siliwangi, Rahyang Dewa Niskala mampu menggerakkan penduduknya untuk beramai-ramai menanam lada, nila, dan pala, yang merupakan komoditas unggulan Pajajaran. Berpikul-pikul lada, pala, bunga pala, diangkut melalui Cisadane dan Ciliwung. Berpikul-pikul nila diangkut lewat Citarum. Pala dan lada saat itu merupakan salah satu komoditas rempah-rempah yang laku keras di pasaran dunia seberang lautan. Setelah Sang Putra Mahkota naik tahta semua kebijakan Sang Raja Rahyang Dewa Niskala diteruskan oleh putranya.



Sang Baginda Prabu Siliwangi masih ingat saat ayahnya berpesan, “Perjuanganku membangun Kerajaan Pajajaran harus engkau lanjutkan, Putraku. Engkaulah yang pantas mendapat gelar Silih Wanggi. Silih artinya pengganti dan Wanggi artinya harum. Aku berharap engkau bisa menjadi pengganti mendiang Kakek Buyutmu Sang Maha Raja Wanggi, membawa Pajajaran sebagai kelanjutan kerajaan leluhurmu Galuh, menjadi kerajaan besar, makmur, dan maju di Jawa Bagian Barat.”


Dari Silih Wanggi menjadi Silih Wangi. Ya, itulah gelar kesayangan  Sri Baginda Siliwangi yang naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 1404 Saka yang bertepatan dengan tahun 1482 M. Ketika itu Majapahit yang berpusat di Trowulan telah runtuh. Tidak lama kemudian muncul dua kerajaan baru di sisi timur Sungai Bhagalin, yaitu Kerajaan Hindu Kediri  dan Kerajaan Islam Demak yang merupakan kerajaan maritim.

Sri Baginda Prabu Siliwangi mewarisi Pajajajaran sudah tertata dengan baik. Jaringan irigasi bagus dan teratur, panen lada dan pala melimpah ruah, penduduk dan petani hidup makmur dan berkelimpahan. Bandar Sunda Kelapa menjadi bandar paling ramai di muara Ciliwung. Bandar-bandar lain yang bermunculan di Laut Jawa dan dikendalikan Pajajaran pada masa Prabu Siliwangi antara lain adalah Cikande, Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Muara Citarum Karawang, Muara Cimanuk, dan Muarajati.




Sri Baginda memiliki peluang besar untuk membawa Pajajaran ke puncak kejayaannya. Sayang sekali, begitu dilantik sebagai Raja, Sang Permaisuri meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sedang putra sulungnya belum siap diangkat menjadi putra mahkota karena belum bersedia membangun rumah tangga. Padahal Sri Baginda memerlukan seorang putra mahkota yang diharapkan dapat membantunya membawa Pajajaran meraih puncak kejayaannya. 


Sri Baginda tersadar dari lamunannya. Dilihatnya ketiga putranya tengah duduk dengan sabar di depannya bersama para punggawa Kerajaan Pajajaran yang tengah menunggu amanat raja.

“Hem…, putraku Banyakcatra, bagaimana keadaanmu? Juga putraku Banyakbelabur dan putriku Ratna Pamekas, bagaimana keadaan Ibumu?”[ Bersambung]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar