Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Selasa, 30 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (07)





“Sang Raja Kerajaan Daha mempunyai seorang permasuri, Dewi Puspaningrat, seorang selir pertama Mahadewi dan seorang selir ke dua Paduka Liku,” Ki Dalang Sukmo Lelono mulai mendalang. Dia sudah duduk menghadap penonton, sambil berkisah.
Dari permaisuri lahirlah seorang putri yang cantik jelita, Galuh Candra Kirana. Mahadewi, selir pertama tak punya anak. Tapi dari selir ke dua Sang Raja Daha punya putri yang cantik jelita juga, Galuh Ajeng. Sayang Galuh Ajeng berperangai buruk, iri pendengki, sama dengan ibunya Paduka Liku.
Suatu pagi, Galuh Ajeng melihat Galuh Candra Kirana sedang bermain dengan dua orang emban pengasuhnya, Ken Sanggit dan Ken Bayan. Dilihatnya Galuh Candra Kirana memakai kerudung warna kesumba yang lebih indah dan lebih cemerlang dari kerudung yang dimilikinya yang menurutnya berwarna jelek dan kusam.
Didatanginya Galuh Candra Kirana tanpa banyak omong, Galuh Ajeng langsung merebut kerudung yang sedang dipakai Galuh Candra Kirana dan berusaha menarik begitu saja kerudung itu sekeras-kerasnya.Tentu saja Galuh Candra Kirana terkejut dan menjerit. Dia tidak mengira akan diperlakukan kasar seperti itu oleh adik tirinya itu.
Melihat Ndara Putri yang diasuhnya itu diganggu, Ken Sanggit segera turun tangan. Ditonjoknya perut kiri Galuh Ajeng sehingga kerudung yang mau direbutnya terlepas dari tangannya. Ketika Galuh Ajeng mau merebut lagi kerudung yang sudah terlepas itu, giliran Ken Bayan yang datang. Ditonjoknya perut kanan Galuh Ajeng yang membuatnya kesakitan.
Galuh Ajeng lari sambil menjerit-jerit pulang ke tempat kediamannya, Puri Paduka Liku. Galuh Ajeng langsung masuk kamar, membuat terkejut ibunya Paduka Liku yang sedang berada di atas ranjang, sedang bermesraan dengan Sang Raja. Raja yang terkejut melihat tangis anaknya langsung meloncat dari ranjang dan menanyakan apa masalahnya sambil memeluk anak gadisnya itu. Galuh Ajeng sambil menangis mengadu bahwa dirinya dipukul dua kali oleh Si Kirana, gara-gara mau pinjam kerudung kesumba yang baru dan indah yang sedang dipakai Si Kirana, tetapi tidak boleh.

Mendengar pengaduan Galuh Ajeng itu, Sang Raja langsung keluar menuju Puri Mahadewi. Sang Raja yang akan memarahi Galuh Candra Kirana dihalang-halangi Mahadewi. Mahadewi memberitahukan kejadian yang sebenarnya. Ken Bayan dan Ken Sanggit terpaksa menonjok Galuh Ajeng, karena Galuh Ajeng bukan saja merebut paksa kerudung yang sedang dipakai Galuh Candra Kirana. Tetapi juga menyepak pantat Ken Bayan dua kali dan Ken Sanggit dua kali.

Sang Raja bersungut-sungut mendengar penjelasan Mahadewi. Sang Raja percaya pada Mahadewi, karena baik Galuh Candra Kirana mapun Galuh Ajeng bukanlah anak kandung Mahadewi. Kedua-duanya adalah anak tiri Mahadewi, sehingga Sang Raja yakin Mahadewi akan berkata jujur. Sang Raja kembali ke Puri Paduka Liku.Di jumpainya Paduka Liku dan Galuh Ajeng sedang merajuk.
Ki Dalang Sukmo Lelono membawakan suara Paduka Liku yang sedang merajuk:
“Oh, Kanda junjungan hamba. Apakah Kanda benar-benar cinta kepada hamba? Ataukah Kanda hanya menyenangi tubuh dan kecantikan hamba saja? Tidakkah Kanda mencintai dinda dengan segenap jiwa, raga, dan hati Kanda? Jika Kanda sudah merasa tidak cinta lagi kepada hamba, pulangkan saja hamba ke desa hamba, ke ayah, ibu dan keluarga hamba. Buat apa hamba jauh-jauh meninggalkan desa tercinta untuk mengikuti Kanda. Tetapi Kanda sudah tidak lagi mencintai dinda? Pulangkan saja dinda, wahai Kakanda junjungan hamba.”
Ki Dalang ganti membawakan suara Sang Raja:
“Mengapa, Oh Dinda, berkata demikian? Ragukah Dinda kepada cinta kanda? Cinta kanda kepada Dinda tak akan pernah pudar. Selama dunia dan bintang-bintang masih berputar. Kenapa pula dinda harus pulang kembali ke desa? Kembali kepada orang tua? Meninggalkan kanda sendirian di dera cinta kepada Adinda? Sampai hatikah Dinda membiarkan kanda menderita? Setiap saat, setiap pagi, setiap petang, setiap malam. Oh Adinda, hanyalah Dinda. Kanda tak mungkin berpisah dengan Dinda. Harta, jiwa, dan raga kanda adalah milik Adinda tercinta. Dinda akan meninggalkan kanda? Tidak! Wahai Dinda tercinta dambaan kanda.”
Ki Dalang kembali dengan suara normal biasa:
“Galuh Ajeng sangat gembira mendengar kata-kata Sang Raja. Dia yakin bahwa dirinya akan dapat mengendalikan Sang Raja dan menaklukannya dengan kekuatan cintanya. Kemudian dibujuknya Galuh Ajeng agar bermain sendiri di kamarnya. Dijanjikannya keburukan-keburukan Kirana akan diadukan kepada Baginda Raja.”
“Paduka Liku segera mengajak Sri Baginda melanjutkan kembali permainan cinta yang belum selesai di kamar Paduka Liku. Paduka Liku, pandai membuat Sri Baginda bertekuk lutut dalam permainan cinta. Dihamburkannya segala ceritera rekaan untuk memburuk-burukkan dan memfitnah Candra Kirana. Sang Raja yang terbuai dalam jaring-jaring cinta yang ditebarkan Paduka Liku, berjanji akan menghukum Candra Kirana. Paduka Liku senang, dengan janji Sang Baginda.
“Tetapi tiba-tiba datang utusan dari Istana yang memberitahu ada utusan dari Kerajaan Janggala yang menghadap Sang Raja. Utusan Raja Janggala itu hendak melamar Dyah Ayu Candra Kirana untuk Putra Mahkota Kerajaan Jenggala, Raden Inu Kertapati. Sang Raja segera bergegas meninggalkan Puri Paduka Liku menuju Istana. Di sana Ki Patih dan Permaisuri Puspaningrat sudah menunggu.
“Sang Raja Daha didampingi Ki Patih dan Permaisuri Puspaningrat dengan gembira menerima rombongan dari Kerajaan Jenggala. Mereka membawa tampan emas, surat pinangan dan sejumlah bingkisan hadiah dari Sri Baginda Jenggala. Lamaran Kakandanya Raja Jenggala yang meminang putrinya, Dyah Ayu Galuh Candra Kirana untuk Raden Inu Kertapati, diterima dengan suka cita.
“Permaisuri Puspaningrat dan Maha Dewi, selir pertama raja, semuanya memanjatkan puji syukur gembira.Tak terkecuali Sang Putri Daha Galuh Candra Kirana. Rombongan Patih Jenggala kembali dengan suka cita karena lamaran telah diterima. Raja Daha segera menyelenggarakan pesta, mengumumkan pertunangan Putri Daha Dyah Ayu Galuh Candra Kirana – Raden Inu Kertapati, Sang Putra Mahkota Jenggala.”
Ki Dalang membunyikan kecrek. Crek…crek…crek…. Iringan gending irama gembira mengalun. Suara seruling bagaikan suara burung yang bergembira ria, meloncat ke sana kemari. Suara ketipung cepat bertalu-talu seakan sedang mengiringi gadis yang sedang menari gembira ria.
Gender dan kangsi terdengar membawakan suara ceria. Sinden Titisari mengalunkan suara emasnya membawakan lagu yang menggambarkan bunga-bunga di taman yang sedang mekar.
***
Tepuk tangan bergemuruh dari penonton yang ikut hanyut dalam kegembiraan tokoh Galuh Candra Kirana yang telah dipinang pangeran tampan Raden Inu Kertapati.
Mayangsari, ikut memberikan tepuk tangan panjang, ketika Sinden Titisari sampai pada akhir lagu. Sang Dewi, tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Dyah Ayu Candra Kirana.
*
Ki Dalang membalikkan tubuhnya, menghadap layar, pasak kanan wayang beber kembali di cabut. Gambar lama segera menggulung ke kiri. Kini tampil gambar baru di layar. Dalam gambar tampak sebuah gua pertapaan di lereng gunung Lawu. Di dalam gua nampak seorang pendeta ilmu hitam pemuja Sang Hyang Durga, duduk di atas batu dengan memegang tongkat yang menyangga tengkorak. Lambang Dewi Durga, dewi dari dunia hitam. Di depannya seorang punggawa sedang menghadap. Dapat dipastikan punggawa itu sedang minta jampi-jampi untuk suatu tindak kejahatan.Gending dengan suara samar-samar masih berbunyi dan berhenti begitu Ki Dalang membunyikan kecrek.
Ki Dalang dengan suara normal, irama naik turun, terdengar suaranya:
“Ketika Sang Raja Daha dan keluarganya, para punggawanya dan rakyatnya ikut bersukaria menyambut pertunangan Putri Daha dengan Putra Mahkota Jenggala, Galuh Ajeng dan Paduka Liku malah sedih, dibakar oleh iri hati, dengki dan rasa cemburu yang menyala-nyala."

“Kenapa Sri Baginda ingkar janji? Kenapa bukan Galuh Ajeng yang tidak kalah cantiknya dengan Si Kirana yang dipertunangkan dengan Pangeran dari Jenggala itu? Demikian Paduka Liku berpikir. Demikian pula Galuh Ajeng berpendapat."
“Paduka Liku mencari jalan. Bagaimana bisa menyingkirkan Puspaningrat? Sebab dengan menyingkirkan Puspaningratlah Sang Baginda akan benar-benar bisa menepati janjinya. “Paduka Liku terus memutar otaknya. Akhirnya ditemukan suatu cara. Pertama mencari upaya untuk melenyapkan Puspaningrat. Dan kedua Paduka Liku akan membuat jampi-jampi untuk menaklukan Sang Baginda"

“Paduka Liku mulai melaksanakan rencana jahat pertama. Dibuatnya tape yang sangat enak, dihias dengan penyedap, di taruh di atas talam yang paling indah. Tetapi tape itu diberi racun yang mematikan. Lalu disuruhnya seorang dayang untuk mengirimkan tape maut itu ke puri Puspaningrat. Dayang suruhannya diberitahu agar mengatakan tape itu adalah tape syukuran Paduka Liku. Syukuran karena ikut bergembira dengan telah dilangsungkannya pertunangan Candra Kirana dengan Raden Inu Kertapati. Paduka Liku tahu, tape bisa tahan sampai beberapa hari.”
“Rencana kedua dengan memanggil paman Paduka Liku yang menjabat sebagai wakil patih Daha untuk mencari cara guna mencelakakan Sang Dyah Ayu Galuh Candra Kirana.”
Ki Dalang membawakan suara Paduka Liku:
“Mamanda dulu yang mengusulkan agar Mamanda diangkat jadi wakil patih adalah aku. Sekarang Mamanda ganti harus menolong aku. Carilah Mamanda seorang dukun sakti. Yang bisa melembutkan hati. Sehingga apa pun yang aku lakukan Sri Baginda tidak akan memurkai. Buatlah agar Sang Baginda tunduk patuh ke padaku. Tentu perlu tenung yang dapat melipatgandakan cinta dan kasih Sang Baginda kepadaku.”
Setelah itu Ki Dalang membawakan suara Mamanda Wakil Patih:
“Mamanda pasti melaksanakan perintah Paduka. Walaupun lurah harus dituruni. Walaupun bukit harus didaki. Binatang buas Mamanda tidak kecut. Hujan deras Mamanda tidak takut.Terik matahari yang menyengat Mamanda tak akan loncat. Mamanda percaya, Paduka kelak pun pasti akan ingat. Agar Ki Patih kelak cepat dilengserkan. Mamanda lah yang akan ….he..he..he…menggantikan!!!
Ki Dalang kembali membawakan suara Paduka Liku:
“Mamanda Wakil Patih, Aku setuju. Kalau Puspaningrat mati. Akulah Sang Permaisuri. Apa pun permintaanku, Sang Baginda kelak pasti akan menuruti kehendakku. Berangkatlah Mamanda segera. Carilah dukun sakti ahli guna-guna. Sekantong uang emas dan perak untuk bekal Mamanda sudah tersedia. Mamanda bisa segera bawa. Itu pun belum seberapa. Jika berhasil, nanti juga ada. Doaku untuk Mamanda. Salam pula untuk keluarga Mamanda tercinta.”

Ki Dalang membunyikan kecrek. Gamelan ditabuh dengan nada lembut irama lambat. Sinden Paijem langsung masuk membawakan satu lagu, tentang sawah, hutan, ngarai dan sungai. Kecrek berbunyi. Gamelan berhenti.
Mamanda Patih berjalan siang dan malam, demikian suara Ki Dalang mengisahkan perjalanan Wakil Patih. Lereng bukit penuh semak belukar dan duri terus saja didaki. Sampailah Mamanda Patih di mulut gua pertapa pemuja Sang Hyang Durga.Crek..crek..crek…tok..trototok..tok. Terdengar suara kecrek.
Ki Dalang membawakan suara Sang Pertapa :
“Ki Sanak dari mana? Jauh-jauh mendatangi pertapaan Sang Hyang Durga? Semua jampi-jampi di sini ada. Ingin kaya, naik jabatan, atau urusan cinta? Teluh, tenung, aneka macam santet semua tersedia. Sang Hyang Durga senang membantunya. Urusan cinta? Jaran guyang, semar mesem, randa linglung? Ki Sanak tinggal mohon dan memuja pada Sang Batari penguasa alam kegelapan abadi. Silahkan Ki Sanak!”
Ki Dalang membawakan suara Mamanda Patih:
“Benar sekali, Eyang Resi. Paduka Liku selir muda Sang Baginda Raja Daha. Mengharapkan kasih sayang Sang Batari Durga. Barang pekasih Jaran Guyang, Semar Mesem, Randa Linglung dan entah apa lagi. Yang diinginkan selir muda, bisa melipatgandakan cinta Sang Baginda kepada Paduka Liku, selir muda tercinta Sang Baginda. Pertolongan Eyang Resi satu-satunya harapan hamba.”
Kembali Ki Dalang membawakan suara Sang Pertapa:
“Ki Sanak, Eyang sudah tahu. Sirih sepah ini cuh..cuh..cuh…Silahkan Ki Sanak ambil. Jangan terlalu lama dibiarkan menggeletak di lantai. Hasil puja mantra ribuan japa kepada Sang Batari Durga. Eyang Wiku kulum dengan sirih kinang terlapis mantra pekasih penakluk cinta. Segera pungut itu sepah sirih berwarna merah. Bungkuslah dengan sapu tangan putih bersih. Berikan pada Paduka Liku. Taruhlah di bawah sarung bantal Si Selir itu. Teluh cinta luar biasa. Bisa membuat Sri Baginda mabuk dan tergila-gila. Kasih sayang Sang Batari, anugerah kepada para pemuja setianya. Ki Sanak boleh undur diri, ke Daha segeralah kembali. Paduka Liku sudah gelisah menanti. Tidak sabar menunggu sepah sirih Sang Betari. Cuh…cuh..cuh…. “
Ki Dalang membunyikan kecrek, terdengar suara gamelan ditabuh dengan irama sedang, mengiringi perjalanan Mamanda Patih yang bergegas pulang kembali, ingin cepat-cepat tiba di Kraton Daha. Crek..crek..crek. Suara gamelan pengiring berhenti.
Terdengar suara normal Ki Dalang :
“Sepah sirih sakti telah dibungkus dengan sapu tangan bersih, diikat dengan batang padi warna kuning dan diperkuat dengan tali bambu. Tali pengikat hati yang selalu dirundung rindu. Mamanda Patih pun telah sampai di puri Paduka Liku.”
“Paduka Liku gembira bukan main. Bungkusan sepah sirih telah diterima. Pesan Eyang Resi agar bungkusan sepah sirih dimasukkan di bawah sarung bantal, telah dimengertinya. Begitu nanti Mamanda Patih undur diri, pesan itu akan langsung dilaksanakannya. Dia percaya khasiatnya. Pendeta teluh sakti lereng gunung Kelud, terkenal dimana-mana. Paduka Liku tidak sabar ingin segera melihat hasilnya. Dia bersyukur kepada Sang Batari Durga. Diucapkan terimakasih kepada Mamanda Patih. Sekantong uang perak dan emas kembali diberikan kepada Mamanda Patih.”
“Paduka Liku tinggal menunggu. Berita yang menggemparkan. Sebentar lagi pastilah meledak. Dari mana lagi kalau bukan dari Puri Permaisuri. Dia akan mati mendadak. Bila Puspaningrat makan tape kirimannya. Bila Kirana ikut memakan tape kirimannya, Kirana pasti akan menyusul ibunya. Dua-duanya mati. Lebih baik lagi. Paduka Liku berdebar-debar menungggu.”
Crek..crek..crek. Terdengar kecrek Ki Dalang. Lalu menyusul suara rebab, meliuk-liuk dengan nada sedih, diiringi suara gending yang samar-samar. Sinden Juminem membawakan lagu sedih. Seakan-akan awan hitam sedang terbentuk menaungi Puri Permaisuri di Istana Daha.
Ki Dalang membalikkan tubuhnya. Tangan kanan meraih pasak kanan gambar yang ada di layar. Gambar menggulung ke kiri. Muncul di layar gambar Sang Baginda Raja sedang murka karena mendengar laporan sebab-sebab kematian Permaisuri Puspaningrat.
Ki Dalang membunyikan kecrek. Menghentikan irama gending. Crek..crek..crek. Terdengar suara Ki Dalang :
Ono peteng dudu ratri, ono padang dudu rahinooo...oooooong./Ada gelap bukan malam, ada terang bukan siang…,
“Awan hitam lambat bergerak ditiup sang bayu. Berdatangan bergumpal-gumpal menutupi sang surya. Burung gagak berputar-putar di atas Puri Permaisuri. Suasana muram sekan-akan tak lama lagi akan terjadi,” kata Ki Dalang.
“Permaisuri Puspaningrat sedang duduk di beranda puri kediamannya. Air mukanya pucat, nampak lesu seperti tak berdaya. Perasaan haus tiba-tiba menyengat tenggorokannya. Air madu telah diminumnya. Tiba-tiba permaisuri ingat tape kiriman Paduka Liku yang masih disimpannya. Terbayang olehnya, alangkah nikmatnya pada siang hari yang tidak karuan seperti itu. Menikmati tape kiriman Paduka Liku. Puspaningrat segera memanggil salah seorang pelayannya. Dihadapannya tape di atas talam telah tersedia. Pelan-pelan dibukanya kain sutra penutup talam. Hem, alangkah nikmatnya tape itu, pikir Puspaningrat. Tape itu pun seakan-akan terus memanggilnya. Ingin segera disantap permaisuri.
“Tangan Puspaningrat pelan bergerak hendak menjangkau tape itu. Tapi tiba-tiba dia melihat burung gagak hinggap di atas tangkal pohon yang tumbuh di halaman. ‘Gakkk…gak..gakk’ burung gagak berteriak. Puspaningrat terkejut.”
“Di tatapnya burung gagak, yang segera terbang pindah entah ke mana. Puspaningrat menarik napas panjang. Hatinya berdebar-debar. Siapa yang akan meninggal? Dia tahu burung gagak suka memberitahu. Akan ada orang meninggal.”
“Kembali tangan Puspaningrat hendak menjangkau kueh tape yang sudah dari tadi menunggunya. Tapi kembali Puspaningrat mengurungkannya. Dua ekor cicak berlari-larian di dinding di depannya sambil mengeluarkan bunyi cek..cek..cek. Cicak yang dikejar meloncat melayang jatuh hampir saja mendarat di atas talam tape. Untunglah lewat, pikir Puspaningrat.”
“Puspaningrat berpikir lagi. Siapa akan meninggal? Ah, masa bodoh. Tape yang sudah lama menunggu itu pun diraihnya. Tanpa menyadari maut yang sudah mengintainya. Langsung di santapnya tape itu dengan lahapnya. Tetapi tiba-tiba…,”
“Puspaningrat langsung gemetar. Tubuhnya menggigil seketika. Mukanya pucat. Perutnya seperti diobok-obok. Puspaningrat langsung jatuh terjerembab ke lantai. Matanya membalik, warna hitamnya menghilang. Yang tampak bola matanya yang putih. Busa keluar dari mulutnya. Puspaningrat tewas seketika.”
Crek…crek..crek…tok..trok..tok…tok. Kembali terdengan suara Ki Dalang:
“Para pengasuh menjerit berteriak-teriak seketika. Orang-orang berdatangan. Ribut hendak memberikan pertolongan. Mahadewi berlari-lari menghampiri Permaisuri. Langsung pingsan. Candra Kirana menubruk ibunya. Langsung pingsan. Sejumlah prajurit datang. Puspaningrat tak tertolong. Nyawanya pergi meninggalkan jasadnya. Sang Baginda yang diberitahu, segera tiba beserta Ki Patih.”
Crek..crek…crek….Ki Dalang membunyikan kecrek. Terdengarlah Ki Dalang memperdengarkan suara Sang Baginda:
“Dayang, bagaimana ini semua bisa tejadi? Siapa yang telah meracuni permasuri?”
Ki Dalang ganti membawakan suara salah seorang dayang pelayan permasuri yang ketakutan: “Ampun, Sang Baginda Paduka Raja. Hamba mohon beribu-ribu ampun. Permaisuri menyantap tape beracun kiriman Paduka Liku, Sang Baginda Paduka Raja. Hamba memberikan sebagian tape itu kepada anjing. Anjing pun mati. Hamba berikan kepada kucing. Kucing pun mati.”
“Ampun hamba, Paduka Raja. Hamba tak dapat mengetahui dan mencegah sebelumnya. Tape dari Paduka Liku, Sang Baginda Paduka Raja.”
Kembali Ki Dalang membawakan suara Sang Raja :
“Bangsat! Paduka Liku!Tak tahu diuntung! Dasar wanita sundal dari desa lereng gunung!
Ki Patih! Rawat jasad Permaisuri Puspaningrat. Siapkan upacara pembakaran. Aku akan hajar Paduka Liku!”
Tampak Ki Dalang sedang membunyikan kecreknya. Crek…., crek…., crek…., tok…, trotok…., tok…., tok.
Terdengar suara Ki Dalang, “Sang Raja yang sedang murka segera mencabut keris yang terselip di pinggangnya. Dengan keris terhunus, Sang Raja berjalan bergegas menuju Puri Paduka Liku. Kemarahan Sang Baginda kepada Paduka Liku sudah memuncak sampai ke ubun-ubunnya.”
Crek…, crek…, crek…., Ki Dalang membunyikan kecreknya kembali.
*
Para penonton ikut menahan nafas menunggu apa yang akan terjadi, benarkan Sang Baginda akan berani? Atau pada akhirnya tak punya nyali sama sekali? Sang Dewi yang duduk di samping Kamandaka ikut menahan napas. Demikian pula Kamandaka dan adik-adik-adiknya. Bahkan Pendeta Amenglayaran pun ikut-ikutan menahan nafas.(bersambung)
*

Senin, 29 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (06)





Di depan Pendapa sengaja dikosongkan agar penduduk yang ingin menyaksikan pagelaran wayang itu bisa nyaman memandang ke atas kelir. Penduduk tidak diperkenankan naik ke Pendapa. Mereka berdesak-desakan di halaman Pendapa saling berebut untuk melihat wajah Sinden Titisari, sinden cantik bersuara emas.
Malam terus berjalan diiringi bintang gemintang yang susul menyusul muncul di langit Kadipaten Pasirluhur. Bintang-bintang itu seakan-akan ingin berebut menyumbangkan cahayanya menerangi Pendapa kadipaten dari tempat yang jauh di atas sana. Bintang gemintang itu tidak mau kalah dengan nyala ribuan damar sewu yang perpendaran di sekitar Pendapa dan dalem Kadipaten Pasirluhur.
Tumenggung Maresi yang menjabat sebagai ketua panitia, melangkah masuk ke halaman, menyibakkan para penonton, lalu dengan gagah naik ke atas Pendapa. Tamu undangan satu demi satu mengikutinya dan menempati tempat duduk yang telah disediakan. Tumenggung Maresi yang mengenakan kain batik parang kelitik wiron, selop hitam, beskap hitam dan blankon corak batik coklat hitam, memberi tahu Ki Dalang agar gamelan dibunyikan menyambut tamu-tamu yang mulai berdatangan.
Iringan suara gamelan pun mulai mengalun, diawali dengan suara seruling, menyusul suara gender, ketipung dan kangsi. Sinden Senior Juminem dan Paijem yang berbadan gemuk bulat seperti kueh polimba itu, menunjukkan keahliannya. Keduanya menyanyikan lagu gembira yang dibawakan dengan suara yang empuk, enak didengar, meninabobokan telinga. Suara emas sinden dari grumbul Kalikidang itu lepas menjangkau keluar. Menjangkau jauh meninggalkan Pendapa menyinggahi ribuan telingan pendengarnya yang ada di halaman mau pun yang berjubel di tepi jalan. Tetapi Sinden Titisari yang dirindukan pendengarnya itu, masih duduk tenang sambil jari jemari tangannya yang lentik mengibas-ngibaskan kipas sutra di depan dadanya. Dada yang padat berisi, berkilat-kilat tertimpa cahaya lampu dari atas panggung. Banyak laki-laki yang diam-diam mencuri pandang, mengagumi sepasang bukit kembar sinden muda yang cantik itu.
Tak lama kemudian rombongan Kanjeng Adipati dengan keluarganya pun tiba. Mereka satu per satu naik ke Pendapa dan menempati tempat duduk yang telah disediakan. Sang Dewi didampingi Kamandaka duduk di kursi kehormatan. Menyusul duduk di sebelah kanan Kamandaka, Kanjeng Adipati Sepuh, Pendeta Muda Amenglayaran, Wirapati, Silihwarna, Arya Baribin dan Ki Patih. Di sebelah kiri Sang Dewi, duduk Kanjeng Ayu Adipati Sepuh, Mayangsari, Ratna Pamekas, Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka. Dua terakhir adalah saudara kembar adik Dyah Sekarmenur yang telah tiba dari Nusakambangan. Di deretan kursi di belakangnya duduk keluarga besar Kanjeng Adipati yang lainnya, termasuk Khandeg Wilis,Nyai Kertisara dan Rekajaya.
Tumenggung Maresi memberi tahu Ki Dalang agar gamelan di hentikan sejenak. Dia berjalan menghadap Kamandaka dan Sang Dewi.
“Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati, Ki Dalang Sukmo Lelono mohon ijin memulai persembahan pertunjukan wayang beber.”
Kamandaka berpaling pada istrinya yang duduk di sebelah kirinya. “Bagaimana Diajeng? Bisa dimulai?”
Sang Dewi tersenyum kepada Tumenggung Maresi, dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Terimakasih Kanjeng Ayu Adipati dan Kanjeng Adipati,” kata Tumenggung Maresi. Dia segera memberitahu pada Ki Dalang bahwa pertunjukan sudah dapat dimulai.
Ki Dalang Sukmo Lelono mengawalinya dengan gending pembukaan. Didahului suara seruling, gender, gerakan dinamik dari permainan ketipung yang menghasilkan nada-nada dan irama ceria, disusul dengan kenong. Sinden Titisari masuk dengan suara emasnya satu oktaf di atas tangga nada Sinden Juminem dan Paijem. Penonton langsung hanyut dan tersihir oleh lagu yang demikian indah. Tepuk tangan penonton segera bergema di sana sisi. Kanjeng Adipati Sepuh matanya tak berkedip melihat penampilan Sinden Titisari. Kecantikannya sepadan dengan keindahan suara emasnya.
Sang Dewi melirik ayahnya yang masih tertegun-tegun memandang Sinden Titisari tanpa berkedip itu. Sang Dewi tersenyum melihat ayahnya yang tidak tahu kalau sedang diperhatikan.
“Kanjeng Ibu pasti pingsan kalau tahu Titisari itu mantan istri muda Kanjeng Rama yang telah diceraikannya,” Sang Dewi menggerutu dalam hati.
Lalu ditengoknya ibunya yang duduk disampingnya. Ternyata ibunya pura-pura mengantuk. Sang Dewi tahu, ibunya memang tidak begitu tertarik pada seni tari dan seni nyanyi. Dia pun tidak begitu suka pada profesi sinden apalagi lengger. Sebaliknya Mayangsari, yang duduk di samping kiri Kanjeng Ayu Adipati Sepuh, matanya tidak berkedip menyaksikan sinden bersuara emas Titisari yang memukau penonton itu. Tangan dan kakinya bergerak-gerak mengikuti irama lagu yang dibawakan Sinden Titisari.
“Mau menyumbangkan lagu?” tanya Sang Dewi pada adik sepupunya itu. Mayangsari mengangguk senang.
“Nanti aku sampaikan kepada Tumenggung Maresi,” Sang Dewi berjanji.
Pendeta Muda Amenglayaran, tidak terkecuali. Dia terkesiap seketika ketika menyaksikan penampilan Sinden Titisari di atas pangggung. Beberapa kali dia mengusap-usap matanya.
“Luar biasa! Putri Ayunglarang Sakean? Bagaimana mungkin dia muncul di sisini?” Pendeta Muda itu bingung seketika. Setiap kali mengusap matanya, setiap kali pula yang dilihatnya sedang menyanyi di atas panggung itu adalah Putri Ayunglarang Sakean. Sepanjang pertunjukan itu, dia duduk gelisah tak menentu. Dia tidak habis mengerti, bagaimana mungkin Putri Ayunglarang Sakean bisa hidup kembali menjelma menjadi sinden cantik bersuara emas yang kini ada di depannya? Sebenarnya Amenglayaran memang jatuh cinta pada putri cantik jelita Ayunglarang Sakean. Tetapi dia terlambat menyadarinya.
“Aneh, kenapa dulu aku membuat surat puisi konyol yang mengakibatkan nyawa gadis yang sesungguhnya aku cintai itu melayang?” Malam itu, bayangan Putri Ayunglarang Sakean, berpuluh-puluh kali muncul kembali di depan pelupuk matanya.
“Alangkah anehnya cinta itu,” keluh Pendeta Muda itu di dalam hati.
Tiba-tiba Kanjeng Ayu Adipati Sepuh berdiri, ”Nduk Dewi, Ibu ngantuk sekali. Tidak kuat. Ibu pulang saja, ya?”
Kanjeng Ayu Adipati Sepuh langsung berdiri. Sang Dewi memanggil Khandeg Wilis supaya mengantarkan Ibunya ke Dalem Gede. Rupanya Kanjeng Ayu Adipati langsung marah, karena tahu suaminya sejak tadi melihat tidak berkedip Sinden Titisari. Kanjeng Ayu Adipati khawatir suaminya bisa tergoda oleh sinden cantik Titisari, bila terus menerus menatapnya tidak berkedip. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kanjeng Ayu Adipati Sepuh diiringi Khandeg Wilis, lewat begitu saja di depan suaminya yang membuat Kanjeng Adipati Sepuh terkejut dan melepaskan pandangannya dari Sinden Titisari.
“Ibu marah!” bisik Sang Dewi pada Kanjeng Ramanya yang bertanya heran pada Sang Dewi. Mendengar bisikan seperti itu dari putrinya, Kanjeng Adipati Sepuh langsung berdiri tergesa-gesa menyusul istri tercintanya.
“Ada apa, Diajeng dengan Kanjeng Ibu?” tanya Kamandaka.
“Ah, tidak ada apa-apa. Hanya ngantuk saja.Tadi siang tidak tidur,” jawab Sang Dewi singkat.
“Ah, Kanda tahu. Kanjeng Ibu dan Kanjeng Rama ingin berduaan di tempat tidur,” bisik Kamandaka. Sang Dewi diam saja dan melanjutkan menikmati suara emas Sinden Titisari. Tapi tangan kanannya langsung mencubit paha kiri Kamandaka. Kamandaka terpaksa hanya bisa mengeluh menahan sakit tanpa bisa berbuat apa-apa.
Pendeta Muda Amenglayaran menggeser duduknya ke kiri mendekati Kamandaka, menggantikan tempat duduk yang ditinggalkan Kanjeng Adipati Sepuh. Mayangsari, melakukan hal yang saman. Dia pun menggeser duduknya ke kanan, mendekati Sang Dewi.
Pendeta Muda Amenglayaran kembali menatap tak berkedip Sinden Titisari yang tengah mengumandangkan suaranya emsnya.
***
Ki Dalang Sukmo Lelono membunyikan kecrek, suara gamelan pengiring berhenti. Demikan pula Sinden Titisari menghentikan suara emasnya. Ki Dalang menyanyikan suluk membuat narasi yang melukiskan Kerajaan Daha sebagai sebuah kerajaan yang aman tenteram, subur makmur, rakyatnya hidup salam dan bahagia. Terpenuhi dengan mudah kebutuhan pokok rakyat, sandang-pangan-papan. Kecrek berbunyi. Crek,crek,crek….crek.
“Mijil langenira sang dyah ayu.. Lampahira alon , ginarebeg badhaya myang ywarnanira, solahira wingit lir hapsari tumurun, o,.. Solahira wingit lir hapsari tumurun, o... Sari sari ….”/ “Ke luar berjalan sang putri..jalannya pelan, diikuti pengiringnya, jalannya anggun bagaikan bidadari turun ke dunia..jalanya anggun bagaikan bidadari turun ke dunia,...”
Suara gending pelan-pelan dengan nada lembut menyusul. Ki Dalang Sukmo Lelono, membalikkan badannya menghadap layar. Pasak sebelah kanan wayang beber dicabut. Gulungan gambar gunung langsung tergulung ke kiri. Kini yang tampak di layar gambar seorang gadis cantik putri kerajaan yang sedang bermain-main di tamansari Kerajaan Daha, didampingi dua orang emban pengasuhnya. Di tempat yang agak jauh juga tampak seorang gadis sedang bermain-main sendirian.[bersambung]

Minggu, 28 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (05)





“Terima kasih Kanda Kamandaka dan Ayunda Dewi, atas pujiannya,” kata Arya Baribin.
“Kalau konsep ketuhanan dalam seni pentas wayang kulit menurut persepsi agama Hindu-Buddha, bisa adinda jelaskan, Ayunda Dewi. Tetapi kalau menurut persepsi agama Islam, adinda sendiri masih dalam taraf mempelajari dan mendiskusikannya dengan Syekh Makhdum Maghribi yang sudah pernah bertukar pikiran, pada waktu Syekh Makhdum Maghribi mengunjungi Kademangan Kejawar beberapa waktu lalu.”
“Kalau begitu mumpung masih ada waktu, silahkan Dimas Arya Baribin menjelaskan bagaimana konsep ketuhanan yang ada dalam pentas wayang kulit menurut persepsi agama Hindu-Buddha” kata Kamandaka kepada Arya Baribin yang mendapat dukungan dari semua yang hadir.
“Baiklah Kanda Kamandaka dan Ayunda Dewi.Tetapi dinda mohon ijin minum teh dulu,” kata Arya Baribin sambil meraih cangkir berisi teh manis yang ada di depannya. Ratna Pamekas yang dari tadi menyimak dengan tekun uraian kekasihnya itu, cepat-cepat meraih cangkir teh yang ada di depannya kemudian diserahkan kepada Arya Beribin.
“Terima kasih, Dinda Ratna,” kata Arya Baribin sambil menerima cangkir berisi the manis yang hangat dan segar, lalu meminumnya. Ratna Pamekas ikut minum teh diikuti kakak-kakaknya yang lain.

“Berbeda dengan pentas wayang beber, pentas wayang kulit sebenarnya sangat mengandalkan pada bayangan yang ditimbulkan pada layar yang terbentuk karena adanya sinar lampu yang disebut blencong. Itulah sebabnya gambar tokoh-tokoh dalam lembaran kulit itu harus ditatah, agar terbentuk bayangan gambar wayang yang harus bisa dilihat dari balik layar.
“Panggung untuk pementasan wayang kulit tidak jauh berbeda dengan panggung untuk pementasan wayang beber. Ki Dalang, sinden dan niyaga duduk di atas pangggung yang ada di depan layar. Gamelan pengiring pentas wayang kulit pun tidak jauh berbeda dengan wayang beber. Bedanya hanya pada posisi dalang dan penonton. Ki Dalang dalam wayang kulit, tidak seperti Ki Dalang dalam wayang beber yang duduknya membelakangi layar.
“Ki Dalang dalam pementasan wayang kulit menghadap layar. Lembaran kulit yang berisi sejumlah tokoh wayang ditampilkan di layar atau kelir dengan menggunakan penjepit yang dibuat dari tanduk kerbau dan ditancapkan di atas pelepah pisang yang berfungsi sebagai dasar layar atau kelir”
Sang Dewi dan suaminya Kamandaka serta pendengar lainnya dengan sabar, penuh perhatian, dan menyimak apa yang dikatakan Arya Baribin. Pengetahuan Arya Baribin yang luas dan mendalam soal sejarah dan filsafat wayang sangat menarik bagi mereka. Semua keterangan dari Arya Baribin mereka pandang sebagai bekal berharga untuk bisa memahami dengan lebih baik pentas wayang beber yang nanti malam akan ditontonnya.
“Penonton pementasan wayang kulit ada dua. Pertama adalah orang yang punya hajat dan keluarganya selaku penanggap. Mereka harus menonton wayang kulit dari belakang layar. Kedua adalah penonton lain yang menonton pementasan wayang kulit dari depan layar. Penonton di belakang layar, hanya bisa melihat bayangan gambar wayang yang terbentuk pada layar. Mereka tidak dapat melihat Ki Dalang, gambar wayang asli, niyaga dan pesindennya. Mereka hanya dapat melihat gambar dan mendengarkan suara Ki Dalang, gamelan dan nyanyian pesinden dari balik layar.
“Itu sebabnya gambar wayang kulit harus ditatah, disungging dan diukir, agar bisa membentuk bayangan pada layar. Gambaran yang dilihat oleh penonton yang ada di belakang layar itu adalah gambaran dunia di alam keabadian, dunia non materi, dunia ruh, dunia para dewa, alam kahyangan, atau nirwana.
“Kedua adalah penonton yang ada di depan layar. Mereka lebih bebas dan lebih leluasa melihat secara langsung gambar wayang yang terpampang di atas layar yang sedang dimainkan Ki Dalang, niyaga, sinden, dan aneka ragam gamelan pengiring. Gambaran yang dilihat oleh penonton yang ada di depan layar itu adalah gambaran dunia nyata, dunia materi, dunia tempat kita hidup sekarang ini. Suatu dunia yang tidak kekal, maya, dan sementara.
“Demkianlah pentas wayang kulit menghasilkan simbol dua dunia, yakni dunia kekal dan abadi yang dilihat secara simbolik oleh orang-orang yang menonton wayang kulit dari balik layar. Dan dunia maya, yang bersifat tidak kekal dan sementara yang secara simbolik dilihat oleh orang-orang yang menonton dari depan layar.
“Adanya dua dunia dalam pentas wayang kulit itu, sejalan dengan konsep ketuhanan dalam agama Hindu dan Buddha yang disebut dengan Vedanta. Pandangan hidup Vedanta mengajarakan bahwa hidup di dunia ini hanyalah maya belaka. Oleh karena itu hidup di dunia ini dipenuh dengan perasaan sedih, duka cita, nestapa, derita, sengsara dan sejumlah penderitaan lainnya yang disebutnya sebagai samsara. Hidup di dunia adalah hidup di alam materi, alam benda, alam jasmani, alam kasar, alam tampak, alam yang menyebabkan orang bisa sakit, menjadi tua dan akhirnya mati. Adapun hidup kekal dan abadi bukanlah kehidupan di dunia ini. Kehidupan kekal dan abadi adalah kehidupan di alam tempat ruh meninggalakn dunia ini, yakni alam sangkan paran. Alam dari mana ruh berasal dan ruh akan kembali. Itulah nirwana, alam tanpa penderitaan.”
“Bayangan wayang di dalam layar itu menggambarkan atman atau jiwa manusia yang terperangkap oleh dunia benda serba materi. Atman itu sebelum terperangkap oleh dunia materi, berasal dari brahman yang hidup di dunia ruhani, alam kahyangan, alam para dewa, alam sangkan paran, alam yang kekal dan abadi yang disebut nirwana.
“Demikianlah filosofi wayang kulit secara mendalam mengandung konsep Vedanta dan Sangkan Paran atau asal muasal jiwa manusia sebagai atman yang selalu rindu untuk pulang kembali bersatu dengan brahman di dalam nirwana. Proses kembalinya atman menyatu kembali dengan brahman, itulah yang dikenal dengan konsep dalam bahasa Jawa, ”Manunggaling Kawula lan Gusti”. Yakni konsep bersatunya kembali atman sebagai hamba dengan brahman sebagai Sang Gusti.” kata Arya Baribin berhenti menyampaikan uraiannya yang mendalam dan panjang lebar itu. “Sampai di sini dulu Ayunda Dewi dan Kanda Kamandaka.”
“Sungguh uraian luar biasa yang akan memperkaya wawasan kita. Sudah jelas wayang kulit mengandung konsep pandangan hidup mendalam. Penjelasan Dimas Arya Baribin soal wayang beber dan wayang kulit bisa menjadi bekal untuk menikmati pertunjukan wayang pada malam hari ini,” kata Kamandaka sambil mengucapkan terimakasih kepada Arya Baribin yang telah mau berbagi ilmu dan pengetahuan.
“Bagaimana pendapat Dinda Silihwarna yang pernah lama mondok di Padepokan Megamendung? Atau Dinda Wirapati, punya pendapat?” tanya Kamandaka.
“Aku menyimak saja, Kanda. Ingin banyak belajar kepada Dimas Arya Baribin,” jawab Silihwarna dan Wirapati hampir bersamaan.
“Atau Kanda Amenglayaran? Bapa Pendeta Muda?” Kamandaka berpaling kepada Amenglayaran. Tapi Amenglayaran yang duduk berdampingan dengan Sekarmelati dan Sekarcempaka menggelengkan kepala, karena mulai asyik berbincang bincang dengan gadis kembar cantik dari Nusakambangan, Sekarmelati dan Sekarcempaka.
“Kalau aku masih penasaran sebenarnya. Aku yakin agama Islam juga mengenal adanya dua alam, yakni alam dunia dan alam setelah ruh meninggalkan alam dunia,” kata Sang Dewi setelah menunggu tidak ada yang menanggapi penjelasan Arya Baribin. ”Hanya apa istilah dalam agama Islam untuk menyebut alam sangkan paran atau alam nirwana, aku belum tahu. Jika agama Hindu-Buddha mengenal konsep inkarnasi, aku menduga agama Islam tak mengenal konsep inkarnasi. Jika demikian, apa tujuan ruh manusia datang ke dunia lalu kembali meninggalkan dunia setelah masa hidupnya di dunia habis? Menurut hemat aku hanya Syekh Maghribi dan Syekh Makhdum Ibrahim yang bisa menjawab persoalan ini dengan memuaskan. Karena itu jika Syekh Maghribi mau berkunjung ke Kademangan Kejawar, ada baiknya kalau kelak Kanda Kamandaka mengusahakan agar Syekh Maghribi atau bahkan Syekh Maghdum Ibrahim bisa datang ke Kadipaten Pasirluhur. Kita bisa berdiskusi soal-soal kesenian wayang kulit menurut agama Islam. Dari Muarajati ke Pasirluhur tidak terlalu jauh, bukan? Demikian pula jarak dari Demak ke Pasirluhur, mungkin hanya lebih jauh sedikit.”
“Aku setuju sekali dengan usul Diajeng,” kata Kamandaka yang tampaknya disetujui semua hadirin.
Tak terasa matahari sudah tenggelam. Perbincangan yang mengasyikkan di serambi Dalem Gede itu segera berakhir, ketika Kanjeng Ayu Adipati Sepuh muncul dan mengajak untuk santap menjelang malam bersama. Kanjeng Adipati Sepuh sudah menunggu di ruang makan. Selesai acara santap bersama, rencananya mereka akan berangkat bersama-sama ke Pendapa Kadipaten untuk menyaksikan pentas wayang beber.
***
Malam telah menggantikan siang. Bola tembaga matahari, semburat merah senja, dan pepohonan dari hutan hijau, telah menghilang. Di langit malam yang kelabu itu telah muncul bintang gemintang, awan putih tipis, dan kelelawar yang berkeliaran kian kemari mencari buah-buahan yang bergelantungan di pohon. Di atas kaki langit barat daya, bintang kejora muncul bagaikan Dewi Venus yang meratui segala bintang. Sinarnya kemilau cemerlang memukau siapa saja yang memandangnya.
“Ya, mengagumkan memang bintang Venus di atas langit Kadipaten Pasirluhur. Bintang simbol penyebar kasih sayang dan cinta di muka bumi,” berkata seseorang yang ada dalam kerumunan penduduk yang berjubel itu. Mereka berkerumun di depan gerbang Kadipaten. Mereka ramai-ramai mendongak ke atas. Mendongak menatap dengan takjub.
“Pertanda baik, Gus?” tanya seseorang yang sudah agak tua, kepada seseorang yang tadi mengatakan bahwa bintang yang cemerlang itu bintang Venus. Dia ternyata seorang pemuda tegap rambutnya dipotong pendek.
“Pertanda baik, itu Dewi Venus, itu pelindung Kanjeng Ayu Dewi Ciptarasa,” kata pemuda tadi.
“Syukurlah kalau begitu. Pertanda akan datangnya jaman makmur bagi kadipaten kita,” kata salah seorang di antara mereka yang masih mendongakkan wajahnya ke langit.
“Jaman Kala Subha, Gus?”
“Betul, betul. Jaman Kala Subha. Jaman makmur dan tenteram,” kata pemuda tadi.
“Orang Sunda, Jawa, Bali tidak mengenal bintang Venus, Gus,”
“Aku bekas pelaut. Mondar mandir Muara Jati –Bandar Malaka. Para pelaut menyebut itu bintang Venus. Itu salah satu Dewi orang Yunani. Aku tak mungkin keliru.”
“Keturunan Bangsa Galuh juga tak pernah salah, Gus. Itu bintang Kejora. Ya, bintang Kejora di atas langit Pasirluhur.”
“Pertanda baik?”
“Pertanda baik, Gus”
Orang-orang yang berjubel itu bingung. Mana yang benar? Bintang Venus yang dewi perempuan atau bintang Kejora yang dewa laki-laki? Mereka semua terdiam. Jangan jangan bintang itu justru perlambang buruk? Akan datangnya wabah, misalnya?
Untunglah Ki Patih diam-diam ada di situ. Dari tadi dia ikut mendengarkan perbincangan orang-orang yang berjubel itu.
“Bintang Kejora itu sama dengan Bintang Venus. Bintang Venus itu menurut anggapan pelaut-pelaut yang belajar kepada pelaut-pelaut Yunani-Romawi. Bintang Kejora itu menurut anggapan para petani di Pulau Jawa yang keturunan bangsa Galuh. Dua-duanya betul. Pertanda kemakmuran dan kebahagiaan,” kata Ki Patih yang akan menuju ke Pendapa kadipaten.
“Oh, Ndara Patih? Terima kasih,” kata orang yang tadi menyebut bintang Kejora.
“Terimakasih, Ndara Patih,” kata pemuda yang tadi menyebut bintang Venus. Penduduk yang berjubel itu pun puas. Mereka menyalami Ki Patih dan membukakan jalan bagi Ki Patih untuk lewat menuju pendapa kadipaten.
“Benar Ki Patih. Bintang Venus itu melambangkan Sang Dewi. Bintang Kejora itu melambangkan Ndara Kamandaka. Mereka pasangan yang ideal untuk memimpin Kadipaten Pasirluhur,” kata salah seorang di antara mereka. Orang-orang yang tadi berjubel itu pun senang.
Di sepanjang jalan di seberang depan pintu gerbang kadipaten berdiri gugug-gubug darurat dari bambu yang didirikan penduduk untuk berjualan. Lampu minyak memancar dari tiap warung, sehingga jalan di depan gerbang itu tampak terang. Di sisi jalan di seberang warung-warung yang searah dengan pintu gerbang kadipaten, berderet ratusan umbul-umbul yang berwarna-warni, yang ditegakkan dengan tiang-tiang bambu. Umbul-umbul itu terus menerus berkibar-kibar berombak-ombak tidak henti-hentinya di tiup angin malam. Orang-orang saling berdesak-desakan. Ada yang mematung di depan warung. Ada yang membeli makanan yang dijual di warung. Ada pula yang berjalan menuju Pendapa untuk melihat pentas wayang.
Halaman Pendapa diterangi puluhan lampu minyak yang dibuat dari batang-batang bambu yang melintang. Nyala lampunya menari-nari kian kemari ditiup angin malam. Penduduk Kadipaten Pasirluhur menyebutnya alat penerang dari lampu minyak dengan batang bambu itu damar sewu. Di sudut-sudut di bawah atap Pendapa dan bangunan di sekitar Pendapa, bergelantungan pula lampu minyak yang dilindungi kertas warna warni buatan negeri China yang didatangkan dari Bandar Malaka. Namanya damar kurung.
Di Pendapa Kadipaten Pasirluhur, panggung untuk pementasan pagelaran wayang beber sudah siap sejak sore. Kini, kelir putih sudah digelar melintang. Lampu minyak dari bahan gelas dengan gantungan perak berukir, menggantung di atas panggung menerangi layar atau kelir. Ki Dalang Sukmo Lelono, para niyaga, dan Sinden Titisari, Juminem dan Paijem sudah duduk di atas pangggung. Di atas kelir wayang beber bergambar gunung telah dipasang oleh Ki Dalang.
Di lantai Pendapa di sisi kiri berderet sejumlah kursi khusus untuk keluarga Kanjeng Adipati, tamu undangan dan punggawa tinggi kadipaten. Di sisi kanan berderet pula kursi untuk para lurah dan para punggawa kadipaten lainnya. (bersambung)