Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Rabu, 06 Desember 2017

Novel: Melati Kadipaten Pasirluhur (71)



“Iya, betul. Dibuat ongol-ongol! Ini tadi mau cepatnya saja,” kata Nyi Demang pula sambil melihat cara Rekajaya makan ganyong. Tampak oleh Nyi Demang, Rekajaya dan Arya Baribin senang dengan ganyong rebus yang disuguhkannya.
“Eh, Kalau Rekajaya, kapan nih mau punya istri ?” tanya Nyi Demang tiba-tiba.
“Calon sudah ada, Nyi Demang. Mohon doa restunya saja, agar bisa menyusul Ndara Kamandaka,” kata Rekajaya sambil tertawa.
“Oh, kamu mau nikah juga, Rekajaya? Selamat kalau begitu. Nah, kalau kamu kelak resepsi pernikahannya di Kaliwedi, ya? Ki Demang dan Nyi Demang pasti hadir. Bahkan kalau tidak diundang, asal dengar, pasti hadir!” kata Ki Demang Kejawar.
“Terima kasih, Ki Demang dan Nyi Demang,” kata Rekajaya pula sambil mengingatkan Arya Baribin, bahwa matahari sudah tinggi. Mereka berdua sudah berjanji kepada Kamandaka untuk kembali ke Kaliwedi sebelum matahari mencapai puncak kubah langit.
Tahu Arya Baribin dan Rekajaya mau pamitan, Nyi Demang buru-buru memanggil pengasuhnya. Pengasuhnya datang sambil membawa anak laki-lakinya yang sudah mandi. “Ayo, Bagus, salam kepada Paman Arya. Ucapkan, ‘Selamat jalan Paman Arya, sampai ketemu lagi!’ Bisa kan?” Nyi Demang mengajari anak laki-lakinya, Bagus.
Anak laki-laki itu menirukan kata-kata Ibunya, lalu minta bersalaman. Arya Baribin tertawa melihat anak yang cakap, sehat, dan cerdas itu. Diangkatnya anak itu, diciumnya. Lalu diturunkannya. Arya Baribin mengambil 10 tail uang emas dan diberikan kepada  anak laki-laki itu.
“Ditabung, ya Bagus. Kalau sudah besar main ke Paman, ya. Nanti tabungannya Paman tambah lagi,” kata Arya Baribin.
“Bilang apa pada Paman Arya?”  kata Nyi Demang.
“Makasih, Paman Arya,” kata Bagus, lalu bersembunyi di belakang Ibunya sambil membawa uang hadiah Arya Baribin.
“Sekali lagi, Nyi Demang dan Ki Demang mengucapkan selamat jalan. Semoga sampai di Pasirluhur dengan selamat,” kata Nyi Demang.
“Menyesal juga sih, sepertinya pada hari pernikahan Raden Arya kelak, Bibi tidak bisa hadir. Kecil sekali kemungkinannya dapat ijin dari Kanjeng Adipati Wirasaba IV. Apalagi ijin dari Sang Prabu Ranawijaya, Raja Kediri. Bibi hanya mendoakan semoga apa yang menjadi cita-cita Raden Arya terkabul, yaitu dapat istri cantik, Putri Raja pula,” kata Nyi Demang.
“Semoga Raden kelak cepat punya keturunan, jangan terlambat seperti Ki Demang. Dan kalau Raden kelak punya anak perempuan, sisihkan satu untuk Bagus juga baik. Karena Raden  tidak bisa jadi menantu  Bibi, ya besanan saja. Setuju Ki Demang? Setuju Raden?” kata Nyi Demang Kejawar setengah berkelakar.
“Maaf, Raden. Ibunya Bagus kalau bicara memang suka ceplas-ceplos. Hanya kelakar saja. Jangan dimasukkan ke dalam hati, ya,” kata Ki Demang pula.
Arya Baribin hanya tertawa dengan kelakar Nyi Demang. Tetapi sekaligus kagum. Wawasan Ny Demang  ternyata merentang jauh ke depan, sehingga anak laki-lakinya yang baru berusia lima tahun itu sudah dipikirkan masa depannya. Bagi Arya Baribin, Nyi Demang adalah sosok seorang Ibu yang memiliki sifat-sifat sebagai pendidik sejati,yaitu mampu melihat jauh ke masa depan.
“Gagasan Bibi, bagus juga, lho. Doakan juga ananda kelak berhasil mengemban amanat Sri Baginda Prabu Siliwangi yang telah menugaskan ananda untuk membangun kembali Kadipaten Kalipucang. Bibi boleh sering-sering menengok ke sana. Ajak Bagus. Kalipucang dekat dari Kejawar. Lebih dekat dari pada ke Pakuan Pajajaran. Yang paling mudah lewat Rawalo, Jeruk Legi, Kawunganten, Gandrung, Kedungreja, Rawaapu, menyeberang Sungai Citanduy, sudah sampai di Kalipucang. Banyak kuda bisa disewa jika mau ke Kalipucang. Kalau ke Kalipucang, tidak perlu ijin Kanjeng Adipati Wirasaba IV, kan?” kata Arya Baribin menjelaskan rencana masa depannya jika kelak dia benar-benar berhasil menyunting Putri Pakuan Pajajaran.
Ki Demang dan istrinya tentu saja sangat gembira mendapat tawaran yang menarik itu. Dipeluknya Arya Baribin dengan perasaan berbunga-bunga. Harapan mereka agar hubungan kekerabatan bisa terjalin antara Kejawar-Kalipucang, menjadi impian-impian indah di masa depan. Kedua tamu istimewa Ki Demang Kejawar itu segera mohon diri untuk kembali ke Kaliwedi. Ki Demang mengantarkannya sampai ke jalan dengan perasaan sedih. Bagi Ki Demang dan Nyi Demang, Arya Baribin, sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya sendiri.
Angin dari arah Pegunungan Ciserayu bertiup lembut, menyertai Arya Baribin yang memacu kudanya meninggalkan halaman rumah Ki Demang Kejawar. Di belakangnya mengikuti kuda yang dikendarai tukang kuda dan Rekajaya. Ki Demang dan Nyi Demang mengiringinya dengan pandangan mata sampai kedua kuda tamunya itu semakin lama semakin jauh dan semakin kecil. Akhirnya kedua kuda itu menghilang ditelan ujung jalan yang menghubungkan Kademangan Kejawar dan tempat penyeberangan Sungai Ciserayu di sebelah selatan desa Kaliori.
 Ki Demang dan istrinya masih berdiri mematung di pinggir jalan memandang ke arah utara, ke arah dua kuda yang berlari dengan cepat dan sudah menghilang dari jangkauan pandangan mata. Mereka baru terjaga, ketika Bagus menarik kain Nyi Demang, menyerahkan 10 tail uang emas yang diterimanya dari Arya Baribin. Bagus lalu lari ke arah pengasuhnya yang mau mengajak bermain-main di halaman samping kanan pendapa, bersama-sama anak-anak sebaya lainnya.
“Hari apa sih ini, Ki Demang?“ tanya Nyi Demang. Wajahnya sumringah.
“Raditya Kasih, memangnya tadi malam mimpi apa, Nyi?”

“Bener, lho. Semalam mimpi dapat ikan baceman dari Sungai Ciserayu. Besar-besar lagi. Eh tahunya itu artinya lima keranjang gula aren, lima keranjang gula kelapa, satu  karung beras, dan sepuluh tail emas!” kata Nyi Demang dengan wajah bersei-seri.
“Alaa…, sekarang bisa tertawa, pada hal tadi pagi ngomel melulu! Awas uang 10 tail emas milik Bagus, jangan diutik-utik. Nanti terpakai,” kata Ki Demang mengingatkan.
“Sudah, Ki Demang ngurusi soal-soal ritual dan ngapalin japa mantra saja. Soal ekonomi serahkan pada Istri. Kalau Ki Demang campur tangan soal ekonomi rumah tangga, pasti kacau. Ki Demang gatal kan kalau lihat uang?  Supaya tidak dipinjam Ki Demang lalu tidak kembali, uang 10 tail emas akan aku jadikan kalung saja. Kalau sewaktu-waktu butuh, cepat diuangkan lagi. Kalau sudah jadi kalung, Ki Demang mau pinjam juga boleh. Asal tidak untuk dijual, tidak untuk digadaikan, dan tidak untuk kawin lagi!” kata Nyi Demang yang terus nyerocos.
Dan satu-satunya  cara untuk menghentikannya omongan istrinya bagi Ki Demang  ialah dengan buru-buru meninggalkan istrinya itu. Ki Demang pun segera masuk rumah, mau kembali ke kebun belakang untuk melihat-lihat buah pisang yang sudah masak supaya tidak didahului codot.
Malam harinya setelah keliling mengawasi orang-orang yang bertugas ronda di pendapa kademangan, Ki Demang Kejawar masuk kamar tidur. Dijumpainya Nyi Demang sudah tidur pulas sambil memeluk anak laki-lakinya, Bagus.
“Kapan Bagus mau punya adik, anak segede itu masih dikeloni? Mestinya kan sudah tidur di kamar lain,” kata Ki Demang menggerutu. Ki Demang mengira Nyi Demang sudah tidur. Ternyata belum.
“Memangnya, Bagus mengangggu, apa? “ kata Nyi Demang yang membuat  Ki Demang terkejut karena kata-katanya terdengar oleh istrinya.
Ki Demang diam saja, tak berani menjawab pertanyaan istrinya. Ki Demang segera naik ke tempat tidur setelah berganti dengan pakaian tidur. Lalu Ki Demang membaringkan dirinya di samping istrinya yang memunggunginya karena istrinya tetap memeluk Bagus yang tertidur pulas di dalam pelukan ibunya.
“Belum tidur?”  bisik Ki Demang lirih. Nyi Demang diam saja, pura-pura tidak mendengar.
“Maafkan aku, ya ,” bisik Ki Demang lagi.
“Memangnya, apa salah Kakang kepadaku?” tanya istrinya. Ki Demang diam-diam tersenyum, ketika istrinya mulai menyebutnya dengan panggilan kesayangan, “Kakang”. Suatu pertanda baik. Strategi merayu kepada istrinya pun dilanjutkan.
“Ya, aku suka membentak bentak kamu. Itu semua tidak sengaja,”
“Tidak apa lah. Asal Kakang jangan membentak aku ketika di atas tempat tidur,” jawab istrinya mulai memancing suaminya.
“Mana berani aku membentak kamu di tempat tidur?” kata Ki Demang sambil memeluk istrinya dari belakang dan mencium leher tepat  dibawah telinga istrinya sehingga  membuat istrinya menggelinjang seketika. Istrinya pun langsung membalik. Kedua pasang suami istri itu saling berhadap-hadapan.
“Tahukah Kakang, kenapa Kakang suka membentak-bentak aku?” tanya Nyi Demang sambil menahan suaminya agar tidak memeluknya dulu. Ki Demang pun tahu, bahwa sesungguhnya istrinya malam itu ingin membicarakan suatu masalah penting dengan dirinya.
“Ya, itulah makanya aku minta maaf kepadamu. Aku suka membentak-bentak kamu. Itu disebabkan aku miskin. Sebagai seorang demang daerah sima, aku hanya memiliki kekuasaan keagamaan. Tetapi aku tidak memiliki kekuasaan dunia. Satu-satunya kekuasaan dunia yang aku miliki hanya kamu, istriku, dan Bagus anakku. Selebihnya, aku miskin. Aku tidak punya kekuasaan duniawi yang berupa tahta dan harta,” kata Ki Demang mencurahkan isi hatinya kepada istrinya. Nyi Demang hanya tersenyum. Tapi lalu dipeluknya suaminya itu dengan segenap kasih sayangnya.
“Aku melihat Kakang sudah semakin cerdas!” puji istrinya sambil tersenyum. Ki Demang diam sebentar, menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan keluhannya.
“Dalam soal harta, misalnya. Untuk  urusan beras saja yang sering bikin kamu pusing, aku harus minta-minta kepada Kanjeng Adipati Wirasaba. Dalam soal gula, aku harus menunggu belas kasihan Nyai Kertisara. Demikian pula dalam soal beras terkadang aku pun harus menunggu belas kasihan Nyai Kertisara. Bahkan aku tidak pernah mampu memberikan Bagus sepuluh tail emas. Aku lebih miskin dari Raden Arya,” kata Ki Demang.
“Betapa pun kecilnya dan sedikitnya harta yang dimiliki oleh seseorang itu tetap saja perlu selagi manusia hidup di dunia. Apalagi bagi seorang demang dari wilayah sima seperti Kakang. Bagaimana mungkin Kakang bisa memberi tongkat agar mereka tidak tergelincir, memberi minum agar mereka tidak kehausan, memberi makan agar mereka tidak kelaparan, memberi payung agar mereka tidak kehujanan, dan memberi pakaian agar mereka tidak telanjang, jika Kakang miskin? Bahkan untuk bisa mendapatkan beras saja, Kakang mengharapkan uluran tangan dari orang lain? “kata Nyi Demang menyampaikan pandangannya.
“Harta, tahta dan wanita, memang bisa menjadi malapetaka jika dicari, dikejar, dan diperoleh dengan ketamakan. Tetapi harta, tahta, dan wanita, akan bermanfaat jika dicari dengan benar dan digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan kesejahteraan bersama. Nafsu tamak akan harta, tahta, dan wanita itulah yang akan menghancurkan peradaban dan kemanusiaan,” kata Nyi Demang masih melanjutkan.
“Benar sekali, istriku. Aku setuju sepenuhnya dengan pendapatmu itu.” kata Ki Demang yang masih berbaring di samping istrinya sambil  matanya menatap kosong langit-langit atap kamar tidurnya.
“Dan, dalam soal tahta, Kakang lebih miskin lagi, bukan?” kata istrinya lagi, mengingatkan.
“Ya, Betul sekali. Hanya untuk membuka sawah baru saja agar kademangan ini tidak kekurangan pangan, harus minta ijin kepada Kanjeng Adipati Wirasaba lebih dahulu. Itu berarti aku miskin dalam soal-soal kekuasaan.”  Ki Demang mengeluh kepada istrinya.
“Bahkan untuk bisa pergi ke Pakuan Pajajaran hanya untuk keperluan menghadiri pesta dan ritual pernikahan, Kakang pun harus minta ijin kepada Kanjeng Adipati dan Sang Raja Kediri, bukan?” kata istrinya, lagi-lagi mengingatkan Ki Demang.
“Kamu betul, Istriku. Sesungguhnya aku merasa sakit hati sekali. Hanya untuk bisa sekedar menyenangkan kamu jalan-jalan ke Pakuan Pajajaran saja, aku tidak mampu. Padahal ongkos tidak menjadi masalah, bukan? Pastilah Raden Arya yang akan mengongkosi kita,” keluh Ki Demang pula.(bersambung)

Kamis, 30 November 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(70)



“Sebuah pertanyaan menarik. Karena Kerajaan Kediri dan Kerajaan Pajajaran sama-sama memeluk Hindu Syiwa,nyatanya mewariskan dendam akibat tragedi Bubat yang terus berlanjut. Bahkan Kadipaten Pasirluhur dan Wirasaba ikut-ikutan tidak saling sapa padahal keduanya sama-sama menganggap Sungai Ciserayu sebagai sungai suci, Sungai Gangganya lembah Ciserayu, bukan?” kata Ki Demang.
“Ki Demang berpendapat, agama bukan alat pemecah belah. Buktinya hubungan-antar sesama suku di Lembah Sungai Gangga, yakni suku Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan Saka. Mereka beda suku, tapi satu agama. Ternyata mereka terlibat konflik dan permusuhan  berkepanjangan, karena berebutkan kekuasaan. Suku-suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku lainnya. Akhirnya suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah perjuangannya kemudian dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan, menjadi perjuangan kesejahteraan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Ketika Dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan, dinasti itu terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang menggagas persatuan dan  tidak haus kekuasaan. Kekuasaan yang dipegang suku bangsa Saka bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya.”
“Kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku yang ada di India. Suku Saka mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku bangsa, kemudian  dipadukan menjadi satu kebudayaan nasional kerajaan. Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi sepakat menetapkan sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Sejak itu pula, kehidupan bernegara, bermasyarakat, berbangsa, dan beragama di India ditata ulang. Semboyannya berbeda suku bangsa, adat istiadat, dan kebudayaan, dilihatnya sebagai suatu keunikan, keragaman, dan kekayaan rokhani. Tetapi semua keragaman itu hakekatnya satu. Bisa satu agama, satu negara, satu tanah air, dan satu kemanusiaan sesama penghuni muka bumi ciptaan Yang Maha Kuasa.”
“Semboyan dari suku bangsa Saka itulah yang kelak mengilhami Mpu Tantular menuliskan semboyan persatuannya yang terkenal dalam kitabnya Sutasoma, ‘Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Darma Mangrwa’, yang artinya sekalipun berbeda-beda tetapi semua itu hakekatnya  satu, dan tidak ada kewajiban yang mendua. Dimensi perbedaan itu bisa luas, dan-bisa sempit. Tetapi tetap saja semuanya bisa bersatu dalam bingkai kemanusiaan. Untuk menghormati gagasan dan idelogi persatuan suku bangsa Saka yang telah menciptakan kalender bersama yang disebut kalender Saka, maka tanggl 1 Saka yang merupakan tanggal awal tahun baru Saka, ditetapkan sebagai Hari Raya 1 Saka yang dirayakan dengan berbagai ritual seperti yang sudah Ki Demang sebutkan di depan. Oleh karena itu, peringatan Hari Raya 1 Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamangan, persatuan, kesatuan, hari toleransi, dan hari perdamaian, sekaligus hari kerukunan nasional. Seiring dengan perkembangan agama Hindu, kalender Saka pun tersebar kemana-mana. Termasuk ke Jawa,” kata Ki Demang Kejawar mengakhiri penjelasannya tentang riwayat kalender Saka.
Penjelasan Ki Demang Kejawar cukup memuaskan Ki Sulap Pangebatan, sehingga dia tidak mengajukan pertanyaan lainnya lagi. “Terimakasih atas penjelasannya, Ki Demang. Penjelasan yang memuaskan. Ki Sulap setuju sekali gagasan dan konsep persatuan yang mendalam itu. Ki Sulap juga yakin sepenuhnya agama bukan pemecah belah persatuan. Kadipaten Pasirluhur dan Kademangan Kejawar ternyata memiliki pandangan sama. Dalam soal peribadatan, ternyata antara Kadipaten Pasirluhur dan Kademangan Kejawar juga memiliki banyak persamaan dan kemiripan. Soal tatacara ibadah hanya masalah teknis saja. Kalau toh ada perbedaan dalam tata cara penyelenggaraan ritual religi, semua itu hanya perbedaan kecil. Bukan perbedaan dalam konsepsi,” kata Ki Sulap Pangebatan menyimpulkan hasil perbincangan di antara keduanya.
“Mudah-mudahan kerja sama ini, bisa terus berlanjut. Tentu baik sekali jika Kadipaten Pasirluhur dan Kadipaten Wirasaba bisa saling kerjasama, bantu membantu, dan saling tolong menolong. Tentu akan semakin baik jika kelak Kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan Kediri, juga mengikuti langkah-langkah kita, bekerja sama dalam soal penyelenggaraan ritual religi memuja Sang Hyang Syiwa,” kata Ki Sulap Pangebatan menyampaikan harapannya yang disetujui sepenuhnya Ki Demang Kejawar. 
***

 Matahari pagi musim kemarau, tampak semakin cemerlang dan berkilau-kilauan menerobos pohon-pohan di sekitar Kademangan Kejawar. Ki Demang masih asyik duduk di ruang tamu, wajahnya semakin cerah setiap kali mengingat pebincangannya dengan Ki Sulap Pangebatan.
Ki Demang Kejawar merasa punya teman bercakap-cakap masalah agama dan keyakinan yang sejalan dan sepemikiran. Agama bukan sumber perpecahan. Fungsi agama bagi kemanusiaan  justru alat mempersatukan manusia dalam memuja Tuhan. Dan secara tidak disengaja pada saat itu Ki Sulap Pangebatan alias Kamandaka sebenarnya-telah membuka jembatan silaturahmi antara Kadipaten Pasirluhur dan Kadipaten Wirasaba. Yaitu melalui aktivitas pemujaan kepada Sang Hyang Syiwa, tanpa sepengetahuan Adipati dari kedua Kadipaten yang dipisahkan Sungai Ciserayu itu.         
 Hubungan Ki Sulap Pangebatan dengan Ki Demang Kejawar menjadi lancar dan baik. Dan saat itulah Ki Sulap Pangebatan untuk pertama kalinya berjumpa dengan Arya Baribin yang akhirnya menjadi calon adik iparnya. Kenangannya kepada Ki Sulap Pangebatan lenyap seketika, ketika Ki Demang Kejawar ingat bahwa Arya Baribin baru saja mengatakan  sudah dapat calon istri dari Kadipaten Pasirluhur. “Lalu, kapan Ananda Raden Arya akan menyususul Ananda Kamandaka?“ tanya Ki Demang Kejawar pula.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Arya Baribin tersenyum, lalu terdiam sejenak. Arya Baribin memang ingin menyampaikan maksud kunjungannya pagi itu pada Ki Demang Kejawar. Dia masih menunggu agar Nyi Demang juga ada di samping Ki Demang. Tapi karena Nyi Demang masih di dapur, akhirnya Arya Baribin menyampaikan maksudnya tanpa menunggu kehadiran Nyi Demang.

“Baiklah Paman Demang. Jika pagi ini ananda menyempatkan diri menemui Paman Demang dan Bibi, karena memang ada beberapa maksud yang ingin ananda sampaikan. Pertama, tentu karena ananda masih rindu kepada Paman dan Bibi, setelah hampir lima bulan ananda meninggalkan Kademangan Kejawar. Kedua, ananda ingin mengucapkan terimakasih karena Paman dan Bibi  telah memberikan tempat bernaung kepada ananda, bahkan melindungi ananda, hampir satu tahun. Apabila selama ananda tinggal di Kademangan Kejawar  ada salah kata, atau perbuatan yang tidak senonoh, atau tingkah laku yang pernah membuat Paman dan Bibi tidak senang, ananda mohon maaf,” kata Arya Baribin. Setelah diam sebentar, Arya Baribin meneruskan kata-katanya.
“Terakhir, ananda pun mohon doa restu dari Paman dan Bibi,  agar maksud ananda menyunting gadis idaman ananda bisa menjadi kenyataan. Jika Yang Maha Kuasa mengijinkan, dua atau tiga bulan lagi, ananda akan melamar seorang gadis dari Pakuan Pajajaran. Dan rencananya jika lamaran ananda diterima, akan langsung dilanjutkan dengan ritual dan resepsi pernikahan,” kata Arya Baribin yang membuat Ki Demang ikut merasa gembira dan senang. Pada kesempatan itu Arya Baribin tidak lupa menceriterkan secara singkat pertemuannya dengan calon istrinya yang tidak lain adalah adik perempuan Kamandaka dan putri bungsu Sri Baginda Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Pajajaran. Diceriterakan pula rencana Arya Baribin menetap jika sudah berhasil menyunting Ratna Pamekas.
Tiba-tiba Nyi Demang keluar diiringi seorang pembantu membawa cangkir berisi wedang jahe dan rebusan ganyong. Dan seperti biasa Nyi Demang langsung mempersilahkan kedua tamunya  menikmati hidangan yang baru saja disajikan.
“Untung sekali Rekajaya datang bawa gula. Sudah dua hari Ki Demang minumannya paitan. Minta wedang jahe, direbuskan tanpa gula, marah-marah. Sekarang pasti Ki Demang tidak akan marah-marah lagi. Wedang jahenya sudah manis,” kata Nyi Demang blaka suta. Tapi kata-kata istrinya itu membuat wajah Ki Demang agak merah.
Rekajaya langsung tertawa dan berkata, “Kenapa tidak kirim orang ke Kaliwedi, Nyi Demang?  Coba kalau kirim orang, pasti Mbakyu Kertisara akan langsung kirim gula ke sini.”  

“Maafkan, ya, Rekajaya, Nyi Demang memang begitu adatnya. Blaka suta. Siapa orangnya yang tak marah, minta dibuatkan wedang jahe, bukan bilang gulanya habis. Eh, malah dikasih garam. Mana ada wedang jahe rasa asin?” kata Ki Demang membeladiri.
“Hihihi…, habis kalau dibilangin gulanya habis, berasnya habis, tak pernah percaya!” kata Nyi Demang dengan tangkas yang membuat Ki Demang langsung bertekuk lutut.
“Sudah, sini duduk! Ini serius, sebuah berita gembira. Ini tadi Ananda Raden Arya  baru saja bilang, minta doa restu kita berdua, karena dua bulan lagi akan punya istri. Tahu tidak, Nyi? Calon istri Ananda Raden Arya  itu Putri Sri Baginda Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran!” kata Ki Demang Kejawar sambil menyuruh Nyi Demang duduk lagi disampingnya.
“Oh, sudah punya calon istri, Ananda Raden Arya?  Pasti Bibi ikut bergembira. Habis Bibi sendiri tidak punya adik perempuan. Ki Demang juga tidak punya. Anak gadis apa lagi. Punya anak laki-laki masih kecil. Kalau Bibi punya pasti sudah Bibi jodohkan dengan Raden, biar Raden ada yang mengurus. Tadinya Raden mau Bibi carikan ke Kadipaten Wirasaba, kalau-kalau di sana ada gadis cantik. Tapi ya itu, Ki Demang lagi-lagi tidak menyetujui,” kata Nyi Demang yang mau terus bicara, jika tidak buru-buru distop oleh Ki Demang. Nyi Demang tidak pernah diberitahu oleh Ki Demang bahwa Arya Baribin itu seorang pelarian dari Kerajaan Majapahit yang dilindungi Ki Demang.
“Raden, Paman sungguh sangat gembira dengan berita rencana pernikahan Raden dengan Putri Pajajaran. Paman dan Bibi pun minta maaf jika selama Raden tinggal di Kademangan Kejawar, pernah menyinggung perasaan atau melakukan hal-hal yang membuat Raden Arya tidak enak. Kami berdua hanya bisa memanjatkan puja, japa, dan mantra, agar rencana pernikahan Raden kelak lancar, selamat, dan terhindar dari segala macam bahaya,” kata Ki Demang Kejawar  didampingi Nyi Demang-yang ikut mendengarkan-dan sudah tidak sabar ingin ikut bicara.
“Bibi juga ikut gembira, Raden. Semoga pernikahan dengan putri Pajajaran kelak lancar. Jika ada undangan dan yang mengajak, Bibi juga mau, lho, menyaksikan resepsi pernikahan Raden di Pakuan Pajajaran kelak,” kata Nyi Demang.
“Oh, tentu gembira sekali jika Paman dan Bibi bisa hadir. Paman dan Bibi Demang kan sudah ananda anggap sebagai orang tua sendiri. Jika bisa hadir di Pakuan Pajajaran, kelak bisa mewakili Ayahanda untuk melamarkan ananda, sekaligus juga bisa jadi saksi dan wakil keluarga. Bagaimana Paman Demang?“ tanya Arya Baribin. Dia sangat girang dan berharap Ki Demang dan Nyi Demang bisa ikut hadir di Pakuan Pajajaran sebagai wakil dari keluarga Arya Baribin, seperti apa yang diusulkan Nyi Demang.
“Paman sependapat dengan Ibunya Bagus,” kata  Ki Demang menyetujui usul Nyi Demang. Dan Nyi Demang merasakannya sebagai perubahan sikap yang lebih positip pada Ki Demang. Sebab, jangankan menyetujui setiap usul yang disampaikannya. Sikap Ki Demang terhadap dirinya selalu mencela dan tak pernah memujinya. Sekalipun pada akhirnya menyetujui sarannya atau pendapatnya. Karena itu, Nyi Demang lebih sering dongkol kepada suaminya.
“Tetapi, Paman kan harus minta ijin dulu kepada Kanjeng Adipati Wirasaba, jika akan mengunjungi Kerajaan Pakuan Pajajaran. Tentu dalam hal ini Raden lebih memahaminya,” kata Ki Demang yang langsung membuat kecewa Nyi Demang.
“Kalau begitu, jika Ki Demang tidak berani minta ijin kepada Kanjeng Adipati Wirasaba, Raden tidak usah cemas. Besok biar Bibi mau ke Wirasaba, Bibilah yang mau menghadap Kanjeng Adipati Wirasaba, lalu minta ijin agar Ki Demang diijinkan menghadiri pernikahan Raden di Pakuan Pajajaran,” kata Nyi Demang menentang secara terang-terangan suaminya, karena Nyi Demang menganggap soal ijin kepada Kanjeng Adipati Wirasaba hanyalah akal-akalan Ki Demang saja untuk mencari-cari alasan guna menolak secara halus undangan ke Pajajaran. Tetapi Ki Demang bersikap tenang-tenang saja.
“Kalau toh Kanjeng Adipati mengijinkan Paman dan Bibi pergi ke Pakuan Pajajaran, belum tentu Sri Baginda Prabu Ranawijaya di Kediri, mengijinkan Paman dan Bibi pergi ke Pakuan Pajajaran,” kata Ki Demang, yang langsung membuat Nyi Demang terdiam. Kini Nyi Demang baru tahu bahwa urusan hadir di Pakuan Pajajaran bagi suaminya ternyata rumit dan tidak mudah.
“Ayo, diminum wedang jahenya. Juga dicicipi ganyong rebus, manis sekali, lho! Hasil dari ladang sendiri,” kata Nyi Demang mengalihkan perhatian dari soal minta ijin bagi suaminya, menjadi soal ganyong. Tapi bagi Nyi Demang, masih tersimpan keinginan untuk membicarakan soal pernikahan Arya Baribin.
“Kenapa tidak dibuat ongol-ongol saja, Nyi Demang?” tanya Rekajaya kepada Nyi Demang sambil mengajak Raden Aryo Baribin yang baru meneguk wedang jahe, menikmati rebusan ganyong.(bersambung)

Senin, 20 November 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(69)



“Setiap tiba perayaan hari-hari keagamaan, penduduk Kaliwedi harus mengikuti ritual di lereng Gunung Agung. Tempatnya dari Kaliwedi cukup jauh. Sering mereka harus bermalam pula. Padahal waktu bagi mereka sangat berharga, karena mereka kebanyakan terlibat dalam jaringan bisnis Nyai Kertisara. Jika dua atau tiga hari tidak menderes, mereka merasa rugi. Penghasilan mereka berkurang, sekalipun hanya beberapa hari,” kata Ki Sulap Pangebatan mengeluh.
“Kenapa Ki Sulap tidak menganjurkan penduduk Kaliwedi dan sekitarnya merayakan ritual religi di Kademangan Kejawar saja? Toh Kadipaten Pasirluhur dan Kadipaten Wirasaba sama-sama memuja Sang Hyang Syiwa?“ Ki Demang Kejawar masih ingat, saat itu dia menawarkan pemecahan permasalahan yang dihadapi Ki Sulap Pangebatan.
“Terimaksih sekali, bila Ki Demang mengijinkan penduduk Kaliwedi dan sekitarnya mengikuti ritual pemujaan Sang Hyang Syiwa  yang dipimpin Ki Demang. Tetapi apakah Adipati Wirasaba akan mengijinkan kawula Kadipaten Pasirluhur numpang mengikuti ritual-ritual religi di Kademangan Kejawar?” tanya Ki Sulap Pangebatan. Dia nampak masih ragu dengan tawaran Ki Demang Kejawar.
“Ki Sulap tidak usah khawatir,” jawab Ki Demang saat itu. “Ki Demang nanti yang akan menjelaskan dan mempertanggungjawabkannya kepada Adipati Wirasaba, jika Sang Adipati kelak tahu dan mempersoalkannya. Kedamangan Kejawar ini, merupakan daerah sima yang dinyatakan sebagai salah satu wilayah suci untuk memuja Sang Hyang Syiwa. Disebut wilayah suci, karena di wilayah ini ada tempat suci, tempat Syang Hyang Syiwa turun ke muka bumi. Di muka bumi banyak tempat suci yang suka dikunjungi Sang Hyang Syiwa. Salah satunya adalah situs di lereng barat Pegunungan Ciserayu, tidak jauh dari Sungai Ciserayu. Di situ banyak sumber mata air yang bening, yang disebut thirtas.”
“Dan Ki Demang selaku penanggung jawab tanah sima,  memperoleh otonomi seluas-luasnya untuk mengaturnya. Kanjeng Adipati Wirasaba tidak berhak mencampurinya. Urusan memuja Sang Hyang Syiwa dan hubungannya dengan keselamatan manusia dan alam yang disebut Trihitakarana, bukanlah urusan para raja, adipati, dan ksatria. Tetapi urusan para brahmana, pandita, pandita sinatria, maupun sinatria pinandita. Begitulan menurut aturan Weda,” kata Ki Demang memberikan penjelasan yang membuat gembira Ki Sulap Pangebatan.
Akhirnya tercapailah kesepakatan antara Ki Sulap Pangebatan dengan Ki Demang Kejawar. Sejak itulah penduduk Kaliwedi dan desa-desa sikitarnya di sebelah utara Sungai Ciserayu yang sebagian besar terlibat hubungan bisnis dengan Nyai Kertisara, diijinkan oleh Ki Demang Kejawar untuk mengikuti ritual-ritual religi memuja Sang Hyang Syiwa yang diselenggarakan di Kademangan Kejawar. Sebagai imbalannya, Nyai Kertisara secara rutin memberikan bantuan dan sumbangan ke Kademangan Kejawar, terutama bantuan gula kelapa, gula aren, dan juga beras. Sejak itulah hubungan antara Ki Demang Kejawar, Ki Sulap Pangebatan, Rekajaya, dan Nyai Kertisara, semakin erat. Ki Demang Kejawar juga masih ingat ketika dirinya menawarkan kepada Ki Sulap Pangebatan dan Rekajaya untuk mengunjungi situs-situs tempat pemujaan Sang Hyang Syiwa.
“Tidak jauh tempatnya, Ki Sulap. Jika mau Ki Demang bisa  antarkan sekarang? Letaknya ke arah barat laut dari sini. Di lereng barat Pegunungan Ciserayu, tidak jauh dari sisi selatan Sungai Ciserayu. Dari Kaliwedi malah lebih dekat. Tinggal menyeberang lewat penyeberangan tambangan Kaliori ke selatan, lalu ke arah barat. Dengan mengendarai kuda, akan sampai lebih cepat lagi,”  kata Ki Demang menawarkan. Ternyata Ki Sulap Pangebatan merasa belum perlu mengunjungi situs pemujaan Sang Hyang Syiwa yang ditunjukkan Ki Demang Kejawar.
“Terimakasih, Ki Demang. Lain waktu saja. Mudah-mudahan, kelak saya bisa menengoknya. Mungkin lebih bermanfaat jika Ki Demang bisa menjelaskan tatacara ritual yang diselenggarakan di Kademangan Kejawar. Itu pun jika Ki Demang tidak keberatan?” kata Ki Sulap Pangebatan mengajukan permintaan yang langsung dipenuhi Ki Demang Kejawar.
“Kami yakin tatacara berbagai jenis ritual pemujaan kepada Sang Hyang Syiwa yang kami selenggarakan di situs yang ada di lereng barat Pegunungan Ciserayu itu, tidak jauh berbeda dengan ritual di lereng Gunung Agung. Bahkan tidak banyak bedanya dengan ritual di lereng Gunung Tangkuban Perahu yang dipimpin Ki Ajar Wirangrong. Sebab kita sama-sama pemeluk agama Hindu Syiwa,” kata Ki Demang Kejawar mencoba meyakinkan Ki Sulap Pangebatan yang memang ketika itu mengaku berasal dari lereng Gunung Tangkuban Perahu.
Ki Demang Kejawar dengan sabar menjelaskan bermacam-macam ritual religi yang sering dipimpinnya antara lain ritual malam Syiwa Ratri  pada bulan Badramasa dan Kartikamasa, ritual Diwali, ritual Tilem Chaitra atau ritual Tilem Kasanga dan ritual Trihitakarana Bhuta Yajna.
Dijelaskan oleh Ki Demang Kejawar bahwa Ritual Syiwa Ratri bulan Badramasa dan bulan Kartikamasa  adalah ritual menyambut bulan purnama pada bulan ke-2 dan ke-4. Ritual Diwali adalah ritual menyambut kemenangan dharma atas adharma. Atau ritual kemenangan kebenaran atau kebaikan atas kejahatan. Ritual Diwali disimbolkan sebagai kemenangan Prabu Rama melawan Prabu Rahwana dalam memperebutkan Dewi Sinta.
Ketika rombongan Prabu Rama dan Dewi Shinta tiba di Kerajaan Ayodya, demikian Ki Demang Kejawar menjelaskan, rakyat Ayodya merayakannya sambil memanjatkan puja kepada Sang Hyang Syiwa yang telah memberikan kemenangan kepada Prabu Rama. Penduduk Ayodya itu menyambut kedatangan Prabu Rama dan Dewi Shinta dengan menyalakan barisan lampu-lampu minyak di balkon-balkon, jendela-jendala rumah  dan di sepanjang jalan. Dalam ritual Diwali, Prabu Rama adalah simbol dari darma. Sedang Prabu Rahwana simbol dari adharma. Darma dan Adharma senantiasa muncul sepanjang jaman. Terjadi pergulatan di antara keduanya. Tetapi akhirnya darmalah yang akan memperoleh kejayaan.
“Demikian Ki Sulap, riwayat Ritual Diwali yang diselenggarakan pada bulan Kartikamasa. Hari penyelenggaraan ritual Diwali atau ritual barisan seribu cahaya kebaikan darma itu, dikenal pula sebagai Hari Raya Galungan atau Hari Raya Kuningan. Bukankah warna kuning adalah warna emas, Ki Sulap ?”  kata Ki Demang Kejawar.
“Ya, betul sekali Ki Demang. Emas dalam bahasa daerah Pasundan disebut juga sindai. Kadang-kadang disebut juga kancana. Warna  emas mengandung banyak kebaikan darma, mulai dari kemuliaan, keagungan, cinta, karunia dewa yang melimpah ruah, kemakmuran dan kesejahteraan,” kata Ki Sulap Pangebatan memberikan tanggapan atas penjelasan Ki Demang Kejawar yang disetujuinya.
“Ritual berikutnya yang diselenggarakan di situs pemujaan  Sang Hyang Syiwa di Kademangan Kejawar adalah, ritual menyambut hari raya 1 Saka yang dikenal sebagai Hari Raya Nyepi atau Hari Raya Chaitra Amavasya atau Tilem Kasanga, sebab Hari Raya 1 Saka itu bertepatan dengan bulan ke Sembilan Purnama, yakni bulan Caitra atau bulan Cetra.
“Ritual menyambut tahun baru 1 Saka, diisi dengan sejumlah tapa, yakni brata yoga samadi yang berarti tidak menyalakan api atau pati-agni yang diucapkan oleh lidah penduduk  Kejawar  sebagai laku pati-geni. Pati geni ini, sebenarnya merupakan simbol untuk memadamkan kobaran api hawa nafsu. Cara mematikan hawa nafsu melalui laku pati-geni dilakukan melalui beberapa cara. Antara lain, tidak bepergian, tidak melakukan aktivitas keramaian, dan tidak melakukan kegiatan kerja apa pun. Juga melakukan apwasa atau puasa, yakni mencegah makan-minum. Apwasa banyak jenisnya, mulai dari pati geni, mutih, ngrowot, ngalong, ngidang, ngepel, dan lainnya lagi.
“Selesai melakukan laku pati-geni dengan apwasa dan aktivitas japa, maka pada esok harinya dilakukan aktivitas Ngembak Geni, yang terdiri dari sejumlah aktivitas antara lain dharma shanti, upaksama, dan abhivandhana. Dharma shanti artinya bersilaturahmi dengan orang tua, saudara, tetangga, kawan. Upaksami, artinya saling maaf memaafkan, dan abhivandhana artinya mensyukuri karunia karena orang telah mampu melaksanakan brata nyepi pada tanggal 1 Saka yang merupakan hari penyucian diri, pendakian spiritual, menyatukan diri atau manunggal dengan gusti, dan mawas diri, koreksi diri, telaah diri, atau amulat sarira hangrasa wani.”
“Satu hari sebelum 1 Saka, disebut hari bhuta yajna. Hari bhuta yajna adalah hari manusia berkorban sebagai upaya menjaga keserasian dan keharmonisan relasi trihitakarana. Relasi trihitakarana merupakan relasi yang menggambarkan kesetaraan antara hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan akhirnya hubungan manusia dengan Sang Pencipta.”
“Ritual penting lainnya sebelum hari Nyepi, Nyipeng atau Tilem adalah ritual melasti dan melis. Artinya, adalah ritual penyucian diri kita masing-masing, penyucian dunia, dan penyucian alam semesta, yakni buana alit, buana madya, buana agung, dengan tirthas atau tirtha amerta. Ritual dilakukan dengan cara mengambil tirtha amertha dari sumber-sumber mata air suci seperti  mata air atau tuk,  telaga suci, sungai suci, lautan, dan patirtan lainnya.”
“Air suci atau tirtha amertha yang paling bagus adalah yang diambil dari lautan. Dalam Weda disebutkan, ‘nunas tirtha amerta ngamet sarining amerta ring telenging segara’. Artinya, tirtha yang memberi kehidupan diperoleh dari lautan. Tetapi selain air lautan, air murni yang berasal dari mata air atau tuk, juga memiliki daya gaib tirtha amertha yang mensucikan. Disebutkan dalam Weda, ‘Apam napatam paritasthur apah’. Artinya air murni baik dari mata air maupun lautan mempunyai daya gaib mensucikan”
“Sumber tirthas di Kademangan Kejawar cukup melimpah, yakni di sekitar situs perbukitan Kalibening. Di sekitarnya terdapat tiga sungai suci yakni Cisindai, Pasinggangan, dan Ciserayu. Ketiga sungai suci itu merupakan sungai suci sumber tirthas ciptaan dewa yang ditiru dari Sungai Yamuna, Brahmaputra, dan Gangga. Sungai Ciserayu adalah Sungai Gangganya Kademangan Kejawar. Sungai Pasinggangan adalah Sungai Brahmapuratnya Kademangan Kejawar, dan Sungai Cisindai adalah Sungai Yamunanya Kademangan Kejawar,” demikian Ki Demang Kejawar menjelaskan mengenai berbagai laku dalam ritual menyambut Hari Raya  tahun baru 1 Saka yang biasa diselenggarakan di Kademangan Kejawar. Ki Demang Kejawar masih ingat saat Ki Sulap Pangebatan mendengarkan penjelasannya, wajahnya nampak ceria. Yang berarti Ki Sulap Pangebatan merasa puas dengan penjelasan-penjelasan yang telah disampaikannya.
“Penjelasan yang bagus sekali, Ki Demang,” kata Ki Sulap Pangebatan. “Yang menarik adalah penjelasan Ki Demang tadi soal sungai sumber tirthas yang merupakan tiga sungai suci, yakni Ciserayu, Pasinggangan, dan Cisindai yang diciptakan para dewa sebagai tiruan sungai suci Gangga, Brahmaputra, dan Yamuna. Bagi Kadipaten Pasirluhur, sumber utama thirtas adalah hulu Sungai Logawa, hulu Sungai Banjaran, dan Sungai Ciserayu. Sungai Logawa dianggap tiruan Sungai Suci Yamuna, Sungai Banjaran dianggap tiruan Sungai Brahmaputra. Dan Sungai Ciserayu dianggap tiruan Sungai Gangga. Sungai Brahmaputra dan Yamuna bermuara di Sungai Gangga. Demikian pula Sungai Logawa dan Banjaran, pada akhirnya juga bermuara di Sungai Ciserayu. Ternyata baik Kadipaten Pasirluhur maupun Wirasaba sama-sama menjadikan Sungai Ciserayu sebagai sungai suci, sumber tirtha amerta. Memang Serayu berasal dari Sirrrahayu. Yang artinya jalan menuju keselamatan.”
Ki Demang Kejawar senang sekali bisa bertukar pikiran dengan Ki Sulap Pangebatan. Banyak titik-titik pertemuan dan persamaan pandangan di antara mereka berdua. Ki Demang Kejawar masih ingat ketika Ki Sulap Pangebatan menanyakan ritual Syiwa Ratri yang membuat Ki Demang Kejawar langsung tertawa.
“Tentang ritual Syiwa Ratri. Bagaimana menurut pemahaman Ki Demang Kejawar, bisa dijelaskan?” tanya Ki Sulap Pangebatan.
“Hehehe…, rupanya Ki Sulap sudah punya calon istri, ya? Kapan Ki Sulap mau selenggarakan pesta pernikahannya?“ tanya Ki Demang Kejawar  sambil tertawa.
“Ah, belum punya calon, Ki Demang. Masih pikir-pikir,” jawab Ki Sulap. Tentu saja dia berbohong. Sebab, saat itu Ki Demang belum tahu bahwa Ki Sulap Pangebatan adalah Kamandaka yang memang sedang berjuang untuk mendapatkan kekasih jantung hatinya, Sang Dewi.

“Orang yang menanyakan ritual Malam Syiwa Ratri, biasanya orang-orang yang akan jadi pengantin atau para pengantin baru. Malam Syiwa Ratri adalah malam ritual untuk memuja Sang Hyang Syiwa, bertepatan dengan Malam Purnama tanggal 14 atau 15. Biasanya dilakukan dengan membaca rontal yang isinya memuja Sang Hyang Syiwa. Menurut Weda, Sang Hyang Syiwa akan memberikan anugerah besar kepada orang yang memuja dan memberikan bhakti kepadanya pada malam Syiwa Ratri. Pada malam Syiwa Ratri, pasangan suami istri dilarang melakukan hubungan..., maaf Ki Sulap. Hubungan persanggamaan atau hubungan badan antara suami istri. Kalau malam berikutnya, boleh,” kata Ki Demang Kejawar sambil tersenyum yang membuat Ki Sulap Pangebatan agak tersipu-sipu.
“Tadi Ki Demang menceriterakan riwayat Hari Raya Diwali yang bermula dari hari penyambutan rakyat Ayodya atas kemenangan Prabu Rama dan Dewi Shinta dalam peperangan melawan Prabu Rahwana. Kalau peringatan tahun baru 1 Saka, bukankah peringatan itu juga berawal dari India juga? Yaitu memperingati kemenangan bangsa Saka dalam perangnya melawan suku-suku di India lain yang juga gemar berperang?  Bagaimana sebenarnya peran agama di sini? Sebagai alat pemersatu atau pemecah belah?” tanya Ki Sulap Pangebatan.(bersambung)