Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Sabtu, 18 November 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(67)



Pagi itu Arya Baribin minta ijin kepada Kamandaka agar bisa mengunjungi Kademangan Kejawar. Kebetulan Sang Dewi akan kembali ke Kadipaten Pasiluhur pada siang hari, sehingga Arya Baribin punya cukup waktu. Memang sejak berkenalan dengan Ratna Pamekas di rumah Nyai Kertisara, kemudian di jemput Rekajaya, lalu ikut ke Kadipaten Pasirluhur, Arya Baribin belum sempat bertemu lagi dengan Ki Demang Kejawar.  Padahal Arya Baribin hampir satu tahun tinggal di Kademangan Kejawar. Dan Ki Demang Kejawarlah yang telah memberikan perlindungan kepada Arya Baribin sebagai seorang pelarian Kerajaan Majapahit dari kemungkinan ditangkap tentara Kerajan Kediri. Arya Baribin, akan merasa sebagai orang yang tidak tahu terimakasih kepada Ki Demang Kejawar, jika pada saat ada kesempatan baik dia bisa mengunjungi Kaliwedi, tetapi tidak menyempatkan diri mampir ke Kademangan Kejawar. Sesungguhnya Arya Baribin sudah menganggap Ki Demang Kejawar sebagai keluargamya sendiri.
Ketika Nyi Kertisara mendengar Arya Baribin  akan mengunjungi Kademangan Kejawar, Nyai Kertisara menyuruh Rekajaya agar membawa sumbangan. Akhirnya dengan menggunakan dua kuda, pagi-pagi Arya Baribin dan Rekajaya segera berangkat. Arya Baribin dan Rekajaya naik satu kuda. Dan satu kuda lagi berjalan dibelakangnya dengan tukang kudanya khusus untuk membawa barang-barang sumbangan Nyai Kertisara. Tentu saja kedua kuda itu harus melintasi Sungai Ciserayu lebih dulu dengan menggunakan perahu dan rakit penyeberangan melalui Desa Kaliori ke arah selatan. Setelah menyeberang barulah mereka bisa tiba di Kademangan Kejawar  di sisi selatan Sungai Ciserayu.
Nyai Kertisara sudah sering memberikan sumbangan kepada Kademangan Kejawar. Tetapi sumbangan pagi itu bagi Ki Demang Kejawar dan istrinya, merupakan sumbangan istimewa. Sebab, selain persediaan gula aren, gula kelapa, dan beras sedang menipis, sumbangan itu diantarkan sendiri oleh Rekajaya bersama Arya Baribin. Ki Demang Kejawar sama sekali tidak menduga, bahwa Arya Baribin di tengah-tengah kesibukannya masih menyempatkan diri menjenguknya.
Ketika Arya Baribin tiba di halaman pendapa, dilihatnya seorang pengasuh sedang bermain-main dengan anak lelaki baru berusia sekitar empat tahun. Arya Baribin mengenalnya dengan baik anak lelaki itu sebagai anak lelaki satu-satunya Ki Demang dan Nyi Demang Kejawar.  Arya Baribin segera mengangkat anak itu, di gendongnya, dibawanya masuk ke ruang tamu rumah Ki Demang Kejawar di samping kiri pendapa.  Pengasuh segera memberi tahu Nyi Demang Kejawar. Sedangkan  Rekajaya menyuruh tukang kuda untuk membawa barang kiriman Nyi Kertisara, langsung ke dapur rumah Ki Demang.
Tentu saja Ki Demang Kejawar terkejut sekali, ketika Nyi Demang belari-lari menemuinya, memberi tahu bahwa ada tamu dari Kaliwedi. Saat itu Ki Demang sedang di kebun belakang rumahnya, memeriksa pohon-pohon pisang yang sudah berbuah, kalau-kalau sudah ada buah yang masak. Sebab jika sudah masak tetapi tidak buru-buru ditebang, bisa-bisa habis dimakan codot.
“Ada tamu, Ki Demang. Cepat! Rekajaya dan Raden Arya. Mereka bawa oleh-oleh dari Nyai Kertisara. Lima kranjang gula aren dan lima kranjang gula kelapa,”  kata Nyi Demang dengan wajah gembira.
“Kebetulan sekali, persediaan gula sudah habis. Eh, Nyai Ketisara ngirim pula,”  kata Nyi Demang pula.
“Huss. Jangan keras-keras. Malu!” bentak Ki Demang. Dia segera bergegas kembali ke rumahnya.
“Malu-malu, memang persediaan gula habis, mau apa! Juga persediaan beras sudah menipis, padahal panen masih dua bulan lagi!” kata Nyi Demang berjalan di belakang Ki Demang dan setengah berlari karena kalah cepat dalam melangkah. Nyi Demang mengeluh sekaligus memberikan  laporan kepada suaminya.

“Sudah! Jangan banyak omong! Beras besok dari Wirasaba akan datang. Aku sudah kirim orang ke Wirasaba. Biasanya begitu kirim orang, Kanjeng Adipati langsung mengirimnya tanpa menunda-nunda lagi. Tak usah khawatir!” kata Ki Demang jengkel. Tapi akhirnya dia memahami kecemasan istrinya. Memang terkadang istrinya rada bawel. Tetapi apa yang dikatakannya selalu benar. Sampai di rumah, Ki Demang cepat-cepat berganti pakaian, dan Nyi Demang masuk ke dapur menyiapkan minuman dan makanan kecil.
“Aduh, ada tamu dari Kaliwedi! Eh, Raden! Paman kira sudah lupa dengan Kejawar! Apa kabar, Raden? “ kata Ki Demang begitu melihat Rekajaya dan Arya Baribin sudah menunggu di ruang tamu rumah  Ki Demang.
“Kabar baik, Paman. Paman Demang juga, kan? Juga, Bibi Demang? Ananda tak mungkin lupa dengan Kademangan Kejawar. Hampir satu tahun lho, ananda tinggal di sini!” kata Arya Baribin bersalaman dengan Ki Demang, sambil masih menggendong anak Ki Demang. Ketika Nyi Demang muncul dari ruang tengah, dilihatnya Arya Baribin masih juga menggendong anak laki-lakinya. Rupanya Arya Baribin rindu juga pada Bagus, satu-satunya anak laki-laki Ki Demang dan Nyi Demang yang dulu sering diajaknya main dan memang sering digendongnya.

Nyi Demang yang melihat anaknya di gendong Arya Baribin, langsung mengambilnya sambil berkata, “Nakal, ya? Paman Arya baru datang, langsung minta gendong. Padahal belum mandi!” kata Nyi Demang pura-pura memarahi anak laki-lakinya itu. Nyi Demang memanggil pengasuh anaknya agar  memandikan anak laki-lakinya itu. Setelah pengasuh dan anak laki-lakinya pergi, Nyi Demang ikut menemani Ki Demang menemui tamunya.
“Makanya cepat-cepat cari istri Raden, biar jangan telat nikah seperti Ki Demang. Usia 40 tahun baru mau punya istri. Sekarang sudah 46 tahun, anaknya Bagus baru lima tahun. Coba kalau dulu Ki Demang nikah muda. Pasti sekarang sudah punya anak gadis. Dan Raden bisa jadi menantu Ki Demang dan Nyi Demang ,” kata  Nyi Demang sambil tertawa.
“Nyi Demang kalau ngomong memang suka ngawur, Raden. Ketika Ki Demang berusia seperti Raden, dia belum lahir! Bagaimana mau punya anak?”  kata Ki Demang tersenyum, karena berhasil mementahkan olok-olok istrinya. Memang Ki Demang nikah dengan Nyi Demang agak terlambat. Dan jarak usia antara keduanya juga cukup jauh, sekitar 25 tahun.
“Ya, kenapa Paman dan Bibi tidak mau mencarikan gadis Kejawar? Jadi, ananda harus cari ke Pasirluhur,” kata Arya Baribin ikut berseloroh juga. Hampir empat bulan Arya Baribin berpisah dengan keluarga Ki Demang Kejawar yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri itu. Ternyata tidak mengurangi keakraban yang sudah terjalin di antara mereka.
“Mana air minumnya, Nyi! Coba dilihat-ke dapur sana!” Ki Demang menyuruh istrinya agar cepat-cepat menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk kedua tamunya. Lalu Ki Demang berpaling pada Rekajaya setelah Nyi Demang beranjak ke dapur. Ternyata di dapur masih harus menunggu rebusan ganyong yang belum masak. Karena itu Nyi Demang keluar lagi ikut menemui tamunya.
“Kamu kabarnya bagaimana, Rekajaya?  Lama tidak ke sini, ya?” tanya Ki Demang pula. Ki Demang tidak pernah lupa pada Rekajaya yang dulu dikenalnya sebagai pembantu Ki Sulap Pangebatan.
“Kabar baik juga, Ki Demang. Semoga Ki Demang sekeluarga juga baik-baik saja keadaannya. Salam juga, dari Nyai Kertisara,” kata Rekajaya.
“Salam kembali. Katakan terimakasihku kepada Nyai Kertisara. Kirimannya lima kranjang gula kelapa dan lima kranjang gula aren, telah sampai. Semoga usaha Nyai Kertisara semakin maju,” kata Ki Demang.
“Maaf Ki Demang, lupa. Ada tambahan kiriman satu  karung beras dari Nyai Kertisara. Tukang kuda mengangkutnya ke dapur tadi,” kata Nyi Demang yang muncul lagi dari dalam ruang tengah dan mendengar apa yang dikatakan suaminya. Dia langsung mengoreksi  macam barang kiriman yang pagi itu diterima dari Nyai Kertisara yang disebutkan suaminya. Bukan hanya gula aren dan gula kelapa, tapi ada juga kiriman satu karung beras.
“Oh, iya? Wah, terimakasih sekali lagi kepada Nyai Kertisara. Sampaikan salam khusus untuk Nyai Kertisara yang telah banyak menyumbang Kademangan Kejawar,” kata Ki Demang kepada Rekajaya.
“Sama-sama, Ki Demang. Bantuan Nyai Kertisara sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan bantuan dan kemudahan yang telah diberikan Ki Demang Kejawar kepada keluarga Nyai Kertisara dan penduduk Kaliwedi. Kami sering merepotkan jika mengikuti ritual-ritual pemujaan kepada Sang Hyang Syiwa  yang diselenggarakan oleh Ki Demang. Sebab jika penduduk Kaliwedi harus mengikuti ritual di lereng Gunung Agung, tentu terlalu jauh. Jika ada tempat ritual lebih dekat yang hanya beberapa pal setelah menyeberangi Sungai Ciserayu, kenapa kami harus ke tempat yang jauh?” kata Rekajaya yang disambut dengan gembira oleh Ki Demang Kejawar.
“Kalau yang demikian itu, kan merupakan kewajiban kepada sesama pemeluk Sang Hyang Syiwa. Jadi, tidak jadi masalah, Rekajaya,” kata Ki Demang.
Bagi Ki Demang Kejawar, dirinya sudah cukup puas dan senang jika ritual-ritual religi yang diselenggarakannya ternyata dihargai dan bermanfaat bagi sesama umat manusia. Tanpa memandang penduduk dari wilayah kadipaten atau kerajaan mana yang akan mengikuti ritual-ritual religi yang diselenggarakannya.
“Sesungguhnya agama bukanlah alat pemecah belah, Rekajaya. Hanya orang tolol dan bodo saja yang menganggap agama adalah alat pemecah belah persatuan,” kata Ki Demang Kejawar pula.
“Sumber peperangan, pertikaian, dan permusuhan antar sesama manusia dari jaman dahulu, jaman sekarang, dan jaman yang akan datang, adalah nafsu tamak manusia akan harta, tahta, dan wanita. Tiga hal itu yang merupakan biang kerok perpecahan, peperangan, dan perebutan kekuasaan di antara para raja, para ksatria, bahkan juga para brahmana dan pendeta. Agama bukan-pemicu perpecahan! Sungguh keliru dan picik orang yang punya pandangan demikian. Hanya agama memang bisa disalahgunakan sebagai alat untuk mencapai ambisi dan nafsu para raja untuk memenuhi-keinginanannya menguasai harta, tahta, dan wanita. Justru agama, secara kodrati adalah alat pemersatu di antara sesama manusia. Bukankah agama berasal dari bahasa Sansekerta, yang maknanya adalah a artinya tidak, dan gama, artinya kacau? Jadi arti harfiah agama ialah tidak kacau?”
“Dengan jalan memeluk suatu agama, maka manusia akan hidup tertib, seimbang, serasi, dan harmonis dalam hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan Tuhan. Manusia yang tidak beragama itu sama dengan binatang! Mana ada binatang yang tahu caranya menyembah kepada Tuhan, bukan?”
“Kadipaten Wirasaba dan Kadipaten Pasirluhur, adalah kadipaten yang sama-sama menyembah Sang Hyang Syiwa. Kenapa harus bermusuhan dan bercerai berai? Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran, juga-sama-sama penganut agama Hindu Syiwa, kenapa pula-harus bermusuhan dan bercerai berai? Demikian pula antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Pajajaran. Sama-sama memuja Sang Hyang Syiwa, kenapa harus terus mewarisi permusuhan warisan Perang Bubat? Semua itu bukan karena agama. Tetapi karena urusan perebutan harta, atau tahta, atau  wanita. Bisa salah satu, kedua-duanya, atau malah ketiga-tiganya.”
“Perang Bubat bukan perang agama. Tetapi perang untuk memenuhi ambisi Mahapatih Gajah Mada akan kekuasaan. Hanya karena nafsu kekuasaan untuk bisa menaklukan Kerajaan Galuh yang belum tertaklukan, Maha Patih Gajah Mada dengan tangan dingin, membantai Raja Galuh beserta para keluarganya dan seluruh pengiringnya. Pembantaian dalam tragedi Perang Bubat itu, bukan soal agama. Tetapi soal nafsu tamak manusia akan tahta dan kekuasaan, sehingga darah dengan mudahnya ditumpahkan. Camkan hal ini baik-baik, Rekajaya!” kata Ki Demang Kejawar mengingatkan Rekajaya yang disetujui dan dibenarkan sepenuhnya oleh Rekajaya, Arya Baribin, bahkan disetujui oleh Nyi Demang Kejawar yang ikut mendengarkan perbincangan dengan kedua tamunya itu.
“Betul sekali, apa yang dikatakan Ki Demang. Nasihat itu persis sekali dengan nasihat yang  juga sering disampaikan oleh Ndara Kamandaka. Terimakasih, Ki Demang telah mengingatkan sebuah ajaran yang mencerdaskan kita semua,” kata Rekajaya yang membuat Ki Demang Kejawar tersenyum. Dia melihat Rekajaya mengalami kemajuan dalam pandangan-pandangannya dan cara berpikirnya.
Memang Kademangan Kejawar, merupakan wilayah sima yang berada dibawah perlindungan Kadipaten Wirasaba dan Kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit digantikan Kerajaan Keling yang akhirnya pindah ke Kediri, maka Kademangan Kejawar, berada dibawah perlindungan Kadipaten Wiarasaba dan Kerajaan Hindu Kediri penerus Kerajaan Majapahit yang telah runtuh. Sedangkan Nyai Kertisara dan penduduk Kaliwedi yang berada di sisi utara Sungai Ciserayu, berada dibawah perlindungan Kadipaten Pasirluhur dan Kerajaan Galuh yang kemudian dipindahkan ke Pakuan Pajajaran. Tetapi baik Kadipaten Pasirluhur, maupun Kadipaten Wirasaba adalah kadipaten yang sama-sama memuja Sang Hyang Syiwa.
Karena sama-sama penyembah Sang Hyang Syiwa, perayaan-perayaan dan ritual  keagamaan yang ada, seperti Hari Raya Kuningan atau Diwali dan Hari Raya Nyepi menyambut tahun baru 1 Saka, ternyata Kadipaten Pasirluhur dan Kadipaten Wirasaba, menyelenggarakan perayaan-perayaan itu dalam waktu bersamaan. Hanya saja tempat untuk penyelenggaraan ritual menyambut ke dua hari raya itu masing-masing kadipaten berbeda. Jika Kadipaten Wirasaba memusatkannya di lereng barat Pegunungan Ciserayu, Kejawar. Maka  Kadipaten Pasirluhur memusatkannya di lereng timur Gunung Agung. Lalu kenapa penduduk yang tinggal di wilayah yang berdekatan, seperti penduduk Kaliwedi dan sekitarnya tidak diberi kebebasan untuk memilih tempat beribadah yang lebih praktis dan disukainya? Pikir Ki Demang Kejawar dalam benaknya.
Andaikata kelak Adipati Wirasaba melarang kebijakan yang telah diambilnya, Ki Demang Kejawar telah siap dengan jawabannya dan siap pula mempertanggung jawabkan tindakan dan kebijakannya. Bahkan, jika Sang Raja Ranawijaya, Raja Kediri, selaku penguasa tertinggi Kademangan Kejawar kelak menegurnya, demikian tekad Ki Demang Kejawar, dia akan dapat mempertanggung jawabkannya berdasarkan tuntunan Weda. Ki Demang Kejawar memang telah memiliki keyakinan yang tercerahkan bahwa agama bukan sumber perpecahan. Ambisi manusia akan harta, tahta, dan wanitalah sumber perpecahan dan peperangan antar sesama manusia. Itulah dasar keyakinan Ki Demang Kejawar.(bersambung)

Jumat, 17 November 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(66)



Tepat ketika matahari mencapai puncaknya dan angin di tepi hutan itu bertiup semakin kencang, Jigjayuda melarikan kudanya ke arah selatan menuju Desa Kaliwedi, diikuti kuda Kamandaka dan Sang Dewi. Kuda anggota rombongan yang lain menyusul dibelakangnya.
“Dinda Dewi, kita akan istirahat dan santap siang di pondok bambu yang baru saja dibangun Nyai Kertisara di tepi Sungai Ciserayu. Empat perahu yang dipesan Nyai Kertisara sudah tiba. Nyai Kertisara berharap Dinda Dewi bisa mewakili Kanjeng Rama meresmikan pangkalan baru di tepi Sungai Ciserayu itu. Pangkalan baru itu kelak akan digunakan untuk memperluas jaringan pemasaran gula kelapa dan gula aren produksi para pengrajin yang dibina Nyai Kertisara. Pangkalan itu juga untuk memperlancar arus lalu lintas orang dan barang di Sungai Ciserayu,” Kamandaka memberitahu rencana acara jika nanti  mereka tiba di Kaliwedi. Sang Dewi tampak senang mendengar rencana itu.
Nyai Kertisara dan Rekajaya menyambut dengan gembira kehadiran rombongan Kamandaka dan Sang Dewi  yang tiba di  pondok bambu tepi Sungai Ciserayu. Pondok bambu itu adalah model rumah panggung dengan dinding anyaman bambu wulung yang terbuka separo.  Lantainya papan kayu jati berwarna alami. Di atasnya sengaja di gelar tikar pandan halus. Di atas tikar pandan itu tamu-tamu istimewa Nyai Kertisara duduk lesehan sambil berbincang-bincang dan menikmati panorama indah Sungai Ciserayu.
Sejumlah bujang telah dikerahkan Nyai Kertisara untuk mempersiapkan hidangan santap siang. Khandegwilis yang ceria wajahnya karena bertemu dengan Rekajaya, sudah gatal tangannya ingin ikut membantu para bujang yang sedang sibuk. Tetapi Rekajaya melarangnya. Dalam waktu singkat di depan para tamu  telah tersaji sejumlah hidangan santap siang. Tampak-sejumlah bakul bambu berisi nasi beras putih bersih.Lalu- ikan baceman goreng, pepes ikan, ayam bakar, aneka lalaban, jengkol muda, dan petai rebus, serta sambal istimewa olahan tangan Nyai Kertisara sendiri. Aneka minuman khas Lembah Ciserayu juga dihadirkan di depan para tamu. Tak ketinggalan bermacam-macam buah-buahan mulai dari mangga, rambutan, jambu, jeruk, dan lainnya lagi.
“Aku jadi ingat Sungai Ciliwung di Pakuan Pajajaran  jika melihat Sunga Ciserayu itu,” bisik Silihwarna kepada Mayangsari yang duduk di sampingnya. Mayangsari tak berkedip melihat sungai Ciserayu yang sudah beberapa kali dilihatnya. Dari dalam pondok bambu, Sungai Ciserayu itu  tampak jelas dan menarik untuk dipandang.
“Benar, Kanda Silihwarna,” kata Ratna Pamekas ketika mendengar kata-kata Silihwarna yang duduk di samping kanannya.
“Kangmas Arya, pasti belum pernah melihat Sungai Ciliwung di Pakuan Pajajaran,” kata Ratna Pamekas kepada Arya Baribin. Arya Baribin membenarkan apa yang dikatakan Ratna Pamekas.
“Benar, karena Dinda Ratna belum pernah mengajak aku ke Pakuan Pajajaran,” kata Arya Baribin,  ”Kalau Sungai Brantas, ya, pasti sudah sering aku lihat.”
“Kapan Kangmas Arya ngajak aku melihat Sungai Brantas?  Tidak jauh dari Kediri, ya?”
“Ya, suatu saat jika Tuhan Yang Maha Kuasa menghendaki, pasti Dinda Ratna bisa melihat Sungai Brantas, entah kapan,” kata Arya Baribin.
Sekarmenur yang duduk di samping Wirapati juga tidak henti-hentinya mengagumi Sungai Ciserayu yang sedang mengalir tenang tak beriak. Di atasnya beberapa perahu melintasi menuju hilir.
“Sungguh, aku tidak mengira sungai yang besar ini akhirnya bermuara di Teluk Penyu di depan Nusakambangan,” kata Sekarmenur kepada Wirapati, “Sayang sekali, Dinda Sekarmelati dan Sekarcempaka kemarin tidak aku  ajak,”
“Bukankah aku telah usulkan kepada Dinda?”  kata Wirapati.
“Ya, itulah. Dinda Sekarmelati dan Sekarcempaka yang menolak,” kata putri Adipati Banakeling itu. Di saat gembira seperti itu dia sering ingat kepada kedua adiknya.
Perbincangan terhenti seketika, ketika Kamandaka meminta waktu untuk berbicara. “Kita pantas bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena di Lembah Ciserayu inilah keluarga besar Kadipaten Pasirluhur, Dayeuhluhur, Nusakambangan, trah Majapahit, dan trah Pajajaran, telah dipersatukan dalam hubungan silaturahmi dan kekeluargaan,” kata Kamandaka mengawali sambutannya.
“Hubungan silaturahmi dan kekeluargaan itu tidak lama lagi akan ditingkatkan ke dalam hubungan ikatan pernikahan yang tetap dan abadi. Semua itu akan semakin memperkokoh silaturahmi di antara kita sehingga kelak diharapkan akan terbentuk persatuan keluarga besar trah dari turunan bangsa berasal dari lembah Sungai Sutra yang telah merintis menjadi penghuni awal pulau indah dan subur ini.  Semoga anak keturunan kita kelak yang tinggal di Lembah Sungai Ciserayu ini, tetap bisa melestarikan semangat leluhur kita sebagai putra-putra sungai, yang menghargai dan menjunjung tinggi air, sungai, telaga, danau, dan lautan sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dan berharga.”
“Hanya apabila kita bisa mewariskan kepada anak cucu dan keturunan kita di Lembah Sungai Ciserayu ini agar kelak mereka bisa menjadi suatu generasi anak bangsa yang berani  menantang ombak besar bergelombang dan bergulung-gulung tak kenal lelah di muara Sungai Ciserayu itu. Maka anak cucu keturunan kita di Lembah Ciserayu ini, nistaya akan menjadi bangsa yang jaya. Merekalah yang pantas disebut sebagai generasi emas, generasi cai sindai, generasi banyu mas. Yaitu generasi yang menghargai air, sungai, telaga, ombak, dan lautan, sebagai sesuatu bernilai tinggi yang akan mengantarkan nereka ke arah kebesaran, kejayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan bersama yang mendapat perkenan Yang Maha Menguasai Jagad Raya.”
“Semoga kita tidak pernah berhenti mensyukuri karunia ini dan juga tidak pernah berhenti mewariskan nilai-nilai mulia leluhur kita, kepada generasi penerus. Semoga Yang Maha Kuasa, senantiasa melindungi kita semua. Akhirnya, silahkan Dinda Dewi mewakili Kanjeng Rama Adipati memenuhi permohonan Nyai Kertisara,” kata Kamandaka mengakhiri sambutannya.
“Terimakasih Kanda Kamandaka yang aku cintai,” kata Sang Dewi mengawali sambutannya yang segera mendapatkan tepuk tangan  panjang dan meriah gara-gara Sang Dewi menyelipkan kata cinta. Sang Dewi terpaksa berhenti sejenak, menunggu tepuk tangan yang meriah itu berhenti.
“Menurut Kanda Kamandaka, pangkalan ini memiliki tujuh buah perahu dibuat dari kayu jati yang dikerjakan sendiri oleh tangan-tangan trampil para pengrajin kayu jati yang tinggal di sekitar Sungai Ciserayu ini. Ke tujuh perahu itu merupakan lambang dari tujuh wanita yang sangat disayangi dan akan terus dikenang oleh Kanda Kamandaka. Ke tujuh wanita yang dilambangkan dengan tujuh perahu persembahan Nyai Kertisara itu adalah Kanjeng Ayu Adipati, akui sendiri, Dinda Sekarmenur, Dinda Mayangsari, Dinda Ratna Pamekas, Nyai Kertisara dan Khandegwilis. Semoga apa yang diusahakan Nyai Kertisara ini, bisa menjadi contoh dan teladan penduduk Lembah Sungai Ciserayu dalam usahanya mewujudkan kesesjahteraan, kemakmuran, dan kemajuan penduduk di sekitarnya dan penduduk Kadipaten Pasirluhur seluruhnya. Atas nama Kanjeng Adipati Pasirluhur, Kanjeng Rama Adipati Kandhadaha, serta dengan memohon perkenan Yang Maha Menguasai Jagad Raya, dengan ini proyek pangkalan perahu Nyai Kertisara di Sungai Ciserayu untuk memperlancar arus orang dan barang diresmikan,” kata Sang Dewi mengakhiri kata sambutannya yang kembali diikuti dengan tepuk tangan meriah.
Nyai Kertisara yang duduk di samping Kamandaka hanya senyum-senyum gembira. Demikian pula Khandegwilis yang kali ini duduk di samping Nyai Kertisara. Sementara itu Rekajaya, Tumenggung Maresi, dan Jikgjayuda juga ikut menikmati kebahagiaan dan kegembiraan yang dirasakaan oleh Nyai Kertisara.
“Aduh, aku sudah lapar banget, Kanda. Ayoh, kita mulai!” kata Sang Dewi kepada Kamandaka yang duduk di sampingnya.
Nyai Kertisara segera mempersilahkan semua tamunya menikmati jamuan santap siang yang telah terhidang di hadapannya. Santap siang pun segera dimulai. Mereka semua menikmati dengan lahap hidangan persembahan Nyai Kertisara. Malam itu Sang Dewi memenuhi janjinya bermalam di rumah Nyai Kertisara di Kaliwedi yang megah itu. Sang Dewi satu kamar dengan Sekarmenur. Mayangsari satu kamar dengan Ratna Pamekas. Khandegwilis tidur di kamar Nyai Kertisara. Silihwarna satu kamar dengan Arya Baribin. Kamandaka satu kamar dengan Wirapati. Tumenggung Maresi satu kamar dengan Jigjayuda. Kamandaka terkagum-kagum menempati bekas kamarnya yang selalu dijaga dan diatur sedemikian rupa sehingga mirip kamar Sang Dewi di  Kadipaten Pasirluhur. Malam menjelang tidur  dipanggilnya Rekajaya. 

“Kakang, bagaimana Kakang  bisa mengatur kamar ini mirip kamar Dinda Dewi di  Kadipaten Pasirluhur?”
“Ah, tidak mirip benar, Ndara. Kamar ini tidak memiliki teras dan taman seperti kamar Ndara Putri di Taman Kaputren. Tetapi kalau di bagian dalamnya, hamba masih ingat kamar Ndara Putri. Dulu hamba sering disuruh Ndara Putri mengatur kamar Ndara Putri ditemani Khandegwilis. Makanya hamba masih ingat sampai sekarang,” kata Rekajaya.
Kamandaka senang mendengar Rekajaya yang banyak akalnya itu. Wirapati yang duduk di depan Kamandaka kagum juga mengetahui kesetiaan Rekajaya. “Badanku lelah, Kakang. Bisa mijit kan?” kata Kamandaka sambil naik ke atas ranjang. Rekajaya langsung duduk di sampingnya dan mulai memijit punggung Kamandaka. Usai Kamandaka dipijit, Wirapati ikut-ikutan minta dipijit Rekajaya.
Malam itu Rekajaya tidur di atas tikar yang digelar di lantai di bawah ranjang tempat Kamandaka dan Wirapati tidur nyenyak dibuai mimpi indah. Terpikir oleh Rekajaya, barangkali itu adalah malam terakhir dirinya bisa menemani Kamandaka. Sebab, setelah Kamandaka merayakan pesta pernikahannya dengan Sang Dewi, tentu tidak mungkin lagi-bagi Rekajaya bisa menemani Kamandaka tidur berdekatan seperti malam itu. Dua puluh hari lagi Kadipaten Pasirluhur akan menggelar perayaan agung menyambut pernikahan Sang Dewi, putri bungsu Adipati Kandhadaha dengan Kamandaka, putra Sri Baginda Prabu Siliwangi dari Kerajaan  Pajajaran.
Tiba-tiba Rekajaya ingat Khandegwilis yang kini tidur bersama kakak perempuannya, Nyai Kertisara. Rekajaya tersenyum sendiri. Dia pun segera bergegas memiringkan tubuhnya memeluk sebuah guling. Tak lama kemudian Rekajaya pun tidur pulas menyusul Kamandaka dan Wirapati. Di Desa Kaliwedi yang tidak jauh dari pinggir Sungai Ciserayu itu, malam pun merangkak pelan dalam sepi, menembus tengah malam dengan ribuan bintang yang bermunculan di sudut-sudut langit. Langit  tampak kelam tetapi sangat indah[Bersambung]

Minggu, 12 November 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(65)





”Ayo,Nduk Dewi! Tanganmu itu lho!“ Kanjeng Ayu Adipati menegur Sang Dewi yang diketahuinya baru saja mencubit paha Kamandaka sampai kesakitan.

“Beruntung kamu punya calon suami yang sabar,” kata Kanjeng Ayu Adipati memuji calon menantunya, Kamandaka. “ Tidak seperti Kanjeng Ramamu.”
Sang Dewi yang ditegur ibunya hanya senyum-senyum saja, sementara Kamandaka sekalipun kesakitan, merasa senang. Sebab Kamandaka-tahu adat Sang Dewi. Jika Sang Dewi sudah mulai mencubiti pahanya, tandanya Sang Dewi mengharapkan ciuman mesra dari dirinya. Sebagai gantinya, jari jemari tangan kanan dan tangan kiri sepasang kekasih yang tengah bahagia itu, saling bertautan di bawah meja.
Kanjeng Adipati Kandhadaha hanya tersenyum mendengar sindiran istrinya dan menyaksikan polah putri kesayangannya itu. Tentu sebuah senyum bahagia, karena putri kesayangannya itu setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya menemukan seorang calon suami yang tulus mencintai Sang Dewi.Selesai berunding, santap malam, dan berbincang-bincang, mereka pun berpisah meninggalkan ruang makan Dalem Gede. Bulan tanggal dua belas tampak-di langit  Kadipaten Pasirluhur, ditemani bintang gemintang yang satu demi satu mulai-muncul menghiasi langit malam.
Kini pertemuan pindah ke teras kamar Sang Dewi di Taman Kaputren. Kamandaka, Silihwarna, Wirapati, dan Arya Baribin, duduk-duduk di teras depan kamar Sang-Dewi, sambil berbincang kian kemari.Sang Dewi, didampingi-Mayang Sari, Ratna Pamekas, dan Sekarmenur.
“Aku punya usul,”kata-Sang-Dewi-di-tengah-tengah-perbincangan.”Aku  pernah berjanji kepada Nyai Kertisara di Kaliwedi. Jika-perang-selesai-dan-kita-memperoleh-kemenangan,aku-akan-menginap-di-rumah-Nyai-Kertisara.Karena itu besok  aku akan bermalam di sana barang semalam,sekedar-memenuhi-janji-yang-pernah-aku-ucapkan.  Mumpung Dinda Wirapati dan Dinda Sekarmenur masih di Pasirluhur, bagaimana kalau besok kita berangkat ke-sana?”
Sang Dewi mengajukan usul kepada adik-adiknya. Tentu saja mereka semua setuju. Khandegwilis yang sibuk menyiapkan minuman dan makanan kecil, ikut berteriak kegirangan.

“Hamba diajak,  Ndara Putri?” Khandegwilis bertanya sambil memohon.
“Pasti aku ajak, Biyung Emban. Kuda Kanjeng Rama cukup. Biyung Emban besok pergi-dengan Jigjayuda, ya?”kata-Sang-Dewi-menggoda-Khandegwilis.
“Ah, tidak mau, Ndoro Putri. Dengan Tumenggung Maresi saja,” jawab-Khandegwilis-malu-malu.
“Ya, aku tahu. Takut pada Jigjayuda ya?”  kata Sang Dewi. Khandegwilis hanya tersenyum. Dia gembira karena besok akan diajak berkunjung ke Kaliwedi.
“Eh, Biyung Emban, kamar tamu di kaputran untuk Kanda Kamandaka, Dinda-Wirapati,Dinda Silihwarna, dan Dimas Arya Baribin, apakah sudah ada bujang yang setiap harinya harus merapihkan, mencucikan pakaian, dan membereskan-kamar?”tanya-Sang-Dewi-pula.
“Sudah ada bujang yang ditugaskan Kanjeng Adipati, Ndara Putri. Hamba setiap hari ditugaskan-Kanjeng-Rama-Adipati-untuk-mengawasinya,” jawab Khandegwilis.
“Ya, syukur kalau begit.” Sang Dewi tampak puas dengan fasilitas tempat bermalam bagi tamu-tamunya itu.
Bagi Sekarmenur itulah hari pertama dia mengunjungi Kadipaten Pasirluhur, dan menginap. Sekarmenur akan tidur berdua dengan Sang Dewi. Mayangsari dan Ratna Pamekas tidur berdua di kamar yang-bersebelahan dengan kamar Sang Dewi. Khandeg Wilis yang biasa menemani Sang Dewi tidur di bawah ranjang Sang Dewi, malam itu terpaksa kembali tidur di kamarnya sendiri.Kamandaka merasa gembira karena Sang Dewi punya prakarsa menepati janjinya kepada Nyai Kertisara.
“Aku juga punya usul. Bagaimana kalau sebelum ke Kaliwedi, kita napak tilas tempat-tempat  mengesankan yang hampir saja menewaskan aku dan Dinda Silihwarna. Perlunya agar kita dan siapa saja, kelak bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Hanya karena kehendak Yang Maha Kuasa, aku dan Dinda Silihwarna akhirnya bisa bertemu dengan selamat. Padahal nyawa masing-masing sudah di ujung tanduk,” kata Kamandaka menyampaikan usul. Semua yang-hadir menyetujui usul Kamandaka. Dan malam itu mereka terus asyik-berbincang-bincang sampai tengah malam.
***
Angin pagi bertiup pelan menggoyang pucuk pohon-pohon yang mengelilingi lapangan Desa Pangebatan, ketika rombongan Kamandaka dan Sang Dewi tiba di pinggir lapangan. Menurut pengakuan penduduk arena sabung ayam itu sudah lama sepi sejak penduduk tahu adanya persiapan perang melawan Nusakambangan. Persiapan perang memerlukan waktu  kurang lebih tiga bulan. Pada masa persiapan perang para punggawa kadipaten yang gemar berjudi cukup sibuk karena mereka semua dilibatkan.Ketika Sang Dewi melihat arena sabung ayam yang-terbengkalai dan merana di sudut lapangan, segera menugaskan lurah desa untuk membongkarnya.
“Tidak boleh ada lagi permainan judi sabung ayam di Pangebatan!” perintah Sang Dewi kepada Lurah Desa Pangebatan yang menggigil ketakutan karena seumur hidup belum pernah melihat kehadiran Sang Dewi di lapangan Desa Pangebatan.
“Baik, Ndara Putri,” jawab Lurah Desa itu.“Hamba akan sampaikan perintah Ndara Putri kepada semua penduduk Pangebatan.” Sang Dewi tersenyum gembira mendengar jawaban itu.
“Di lapangan Desa Pangebatan inilah dulu aku dan Dinda Silihwarna pertama kali bertemu kemudian saling berkelahai,” kata Kamandaka kepada Sang Dewi dan didengarkan oleh semua anggota-rombongan. Sang Dewi hanya mengangguk. Dia sudah mendengar kisah itu dari Rekajaya beberapa waktu-yang lalu.
“Tumenggung Maresi, ayo kita lanjutkan ke tepi Sungai Banjaran,” Kamandaka memberi perintah pada Tumenggung Maresi. Jigjayuda selaku pemandu langsung memutar kudanya diikuti kuda Kamandaka dengan Sang Dewi, kuda Wirapati dengan Sekarmenur, kuda Silihwarna dengan Mayangsari, dan-kuda Arya Baribin dengan Ratna Pamekas. Terakhir adalah-kuda Tumenggung Maresi dengan Khandegwilis. Tak lama kemudian rombongan tiba di pinggir hutan kecil di tepi Sungai Banjaran.
“Di sini aku sebenarnya ingin istirahat. Tetapi karena terus ditantang Dinda Silihwarna, terpaksa aku melanjutan perkelahaian. Untung malam segera tiba. Pada kesempatan itu beberapa kali Dinda Silihwarna berteriak, sempat atau tidak sempat, kober atau tidak kober,terus mengajak aku berkelahai,” kata Kamandaka disambut dengan derai tawa, termasuk Silihwarna yang tertawa tergelak-gelak.
“Jigjayuda dan Tumenggung Maresi, kalau kelak di tempat-ini menjadi-sebuah desa, berilah nama Desa Kober,” perintah Sang Dewi kepada Jigjayuda dan Tumenggung Maresi. Kober artinya sempat.
 “Baik, Ndara Putri,” Jigjajuda dan Tumenggung Maresi menjawab hampir bersamaan.
“Mari kita lanjutkan ke seberang sungai. Jigjayuda, apakah-ada jalan melintasi sungai yang bisa di seberangi kuda?” tanya Kamandaka.
“Ada, Ndara. Harus mutar dulu ke arah utara. Di sana  ada jalan menyeberangi sungai yang dangkal,” kata Jigjayuda yang segera memacu kudanya ke arah utara menyusuri Sungai Banjaran. Setelah rombongan berhasil menyeberangi sungai, mereka berhenti di sisi timur sungai di bawah satu-satunya pohon jati. Tempat itu adalah  tempat Kamandaka berdiri berdua dengan Rekajaya di suatu pagi beberapa waktu lalu setelah meninggalkan hutan kecil di sebelah barat sungai.
“Dari sini dulu aku dengan Rekajaya nekad menerobos padang ilalang itu untuk bersembunyi di hutan yang lebat di timur laut itu,” kata Kamandaka kepada Sang Dewi yang duduk di-atas pelana kuda.
“Ternyata jalan terobosan yang dirintis aku dan  Rekajaya, diikuti juga oleh prajurit Dinda Silihwarna dan Tumenggung Maresi. Bahkan di pinggir-padang ilalang itu prajurit Kadipaten Pasirluhur yang mengejar aku dan Rekajaya, kemudian berkemah,” kata Kamandaka melanjutkan.
“Jigjayuda dan Tumenggung Maresi,” panggil Sang Dewi, “Padang ilalang ini kelak pasti akan ramai, karena sudah ada jalan terobosan yang dirintis Kanda Kamandaka. Tolong diingat-ingat, jika kelak padang ini menjadi perkampungan penduduk, pada saat penduduk lapor untuk membentuk desa baru, katakan pada mereka, bahwa nama desa yang tepat adalah Desa Bobosan,” Sang Dewi kembali memerintah Tumenggung Maresi dan Jigjayuda.Bobosan-artinya-jalan-terobosan.
“Baik, Ndara Putri,” Tumenggung Maresi dan Jigjayuda kembali menyanggupi perintah Sang Dewi.
“Aduh, Kanda Kamandaka, aku sudah haus. Bagimana kalau kita istirahat di bawah pohon jati itu saja?” Sang Dewi mengeluh. Matahari sedang naik menuju puncak kubah langit. Tetapi Kamandaka membujuk Sang Dewi agar melanjutkan perjalanan menerobos padang ilalang melewati jalan terobosan yang dulu dirintis Kamandaka.
“Kita akan-istirahat di pinggir hutan yang lebat dan nyaman-itu,Dinda-Dewi. Kanjeng Rama Adipati-dulu-gemar berburu di hutan itu. Si Lutung Kasarung juga berasal dari hutan itu,” kata Kamandaka berusaha membujuk Sang Dewi.
“Baik, ayohlah. Tetapi Kanda harus memacu kudanya agak cepat supaya lekas sampai,” kata Sang Dewi yang wajahnya mulai kemerah-merahan ditimpa sinar matahari pagi. Dalam pandangan Kamandaka, wajah Sang Dewi semakin cantik.
“Jigjayuda, ayo pacu kudamu cepat-cepat agar kita segera tiba di tepi hutan timur laut itu,” perintah Kamandaka pada Jigjayuda. ”Ndara Putrimu sudah ingin istirahat.”
Mendengar perintah seperti itu, Jigjayuda langsung memacu kudanya diikuti Kamandaka dan rombongan lainnya. Kuda Jigjayuda melesat bagaikan terbang melintasi jalan terobosan membelah padang ilalang yang luas itu. Kamandaka ikut memacu kudanya cepat-cepat yang membuat Sang Dewi merasa senang. Kamandaka menggunakan kesempatan langka itu untuk mencium Sang Dewi yang menjatuhkan kepalanya ke belakang.  Sang Dewi jatuh dalam pelukan tangan kiri Kamandaka. 

Di atas kuda yang sedang lari kencang,  Sang Dewi merasakan seperti dibuai-buai dalam ayunan. Dibiarkannya Kamandaka menciumi pipinya sepuas hati. Diam-diam Sang Dewi merasakan sensasi aneh luar biasa yang membuat dirinya senang dan bahagia. Sang Dewi yang diam-diam memejamkan matanya, baru membukanya ketika kudanya berhenti tepat di bawah pohon-pohon besar.
Rombongan beristirahat sebentar di pinggir hutan. Angin bertiup lembut menerobos hutan dan menyinggahi mereka, membuat tubuh mereka merasa nyaman dan segar. Mereka duduk-duduk di-atas rumput di bawah pohon-rindang. Jigjayuda membantu Khandegwilis membagi-bagikan minuman dan makanan kecil untuk mengusir rasa haus. Lalu Kamandaka mulai menceriterakan pengalamannya saat dikepung prajurit Pasirluhur di hutan yang lebat itu.
“Aku ditemani Rekajaya dikepung dua hari dua malam di hutan ini,” kata Kamandaka. Sang Dewi dan anggota rombongan lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Rekajaya pagi-pagi sekali-berhasil membeli kurungan untuk tidur si Mercu. Tiba-tiba siang harinya datang anjing pelacak Tumenggung Maresi. Tetapi anjing pelacak itu dengan mudah dikurung Rekajaya dengan kurungan untuk si Mercu. Paginya  anjing pelacak yang dikurung Rekajaya dipotong. Bangkainya ditanam di bawah pohon. Aku lalu berpisah dengan Rekajaya, karena Rekajaya  membawa si Mercu dan si Lutung Kasarung pulang ke Kaliwedi. Aku tinggal semalam lagi di hutan ini. Paginya baru aku meloloskan diri kembali ke barat menyeberangi Sungai Banjaran.”
“Siapakah yang membawa kurungan anjing yang digunakan untuk mengurung si Mercu dan anjing pelacak, Kanda?” tanya Sang Dewi penasaran.
“Oh, kurungan anjing itu tertinggal di hutan. Tak ada yang sempat membawanya. Rupanya kurungan anjing itu tak mau berpisah dengan anjing yang dikubur di situ. Rekajaya sempat mencoba mencarinya bersama Lurah Karangjati, tetapi tidak ketemu,” jawab Kamandaka.
“Anjing itu anjing pelacak kesayangan hamba dan Kanjeng Rama, Ndara Putri. Selalu diajak jika Kanjeng Adipati  berburu,” kata Tumenggung Maresi ikut berbicara. “Jika Ndara Putri berkenan, bagaimana kalau kelak hutan ini jadi pemukiman penduduk, mohon diberi nama Desa Kurunganjing saja, Ndara Putri,” kata Tumenggung Maresi mengajukan usul pada Sang Dewi.
“Desa Kurunganjing kurang lazim dan kurang enak didengar,” kata Sang Dewi, ”Lebih baik diberinama Desa Karanganjing saja.” Saran Sang Dewi langsung disetujui. Jigjayuda dan Tumenggung Maresi diminta mengingat-ingatnya.
“Kanda Kamandaka, hari sudah siang. Sebaiknya kita cepat ke Kaliwedi saja. Silahkan ceriterakan saja ketika Kanda Kamandaka meloloskan diri ke barat kembali menyeberangi Sungai Banjaran dan berkejar-kejaran dengan Dinda Silihwarna. Akhirnya Kanda dan Dinda Silihwarna berhenti di sebuah batu besar. Di batu itulah Kanda Kamandaka baru tahu kalau Dinda Silihwarna itu ternyata adalah Dinda Banyakngampar, saudara muda Kanda Banyakcatra. Silahkan Kanda,” kata Sang Dewi, meminta Kamandaka menceriterakan pengalammnya bertemu dengan saudara mudanya di sebuah batu besar. Sang Dewi sudah tahu kisahnya, karena Kamandaka pernah menceriterakannya.  Kamandaka pun menceriterakan kisah ketika akhirnya dia mengetahui siapa sesungguhnya Tumenggung Silihwarna yang menantang berkelahai satu lawan satu itu.
“Dinda Dewi, aku ingin batu yang punya riwayat itu diberi nama, nama apa yang tepat menurut Dinda Dewi?” tanya Kamandaka kepada Sang Dewi.
“Barangkali ada usul dari Dinda Silihwarna?” tanya Sang Dewi kepada Silihwarna yang sedang duduk di samping Mayangsari. Silihwarna yang agak pemalu itu menggeleng, sambil berkata, “Silahkan, Ayunda Dewi saja yang lebih banyak mengetahui adat istiadat dan tradisi Kadipaten Pasirluhur.”
“Baiklah kalau begitu. Batu yang punya riwayat itu aku beri nama Watusinom. Artinya, batu muda. Batu tempat Kanda Kamandaka berjumpa kembali dengan saudara mudanya setelah tidak berjumpa hampir lima tahun lebih sedikit,” kata Sang Dewi yang langsung disetujui Kamandaka. (bersambung)