Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Jumat, 20 Oktober 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(56)





“Menurut Ayunda Dewi, prajurit Kerajaan Nusakambangan memiliki kemampuan luar biasa. Mereka bisa menggelar siasat perang cepat dan mematikan musuh-musuhnya, yang disebut siasat perang Gilinganrata. Siasat perang ini berupa formasi bentuk kereta perang yang bergerak dengan kecepatan tinggi untuk menggilas musuhnya dengan roda-roda kereta perangnya yang berputar dengan cepat.”
“Untuk membentuk formasi perang Gilinganrata ini tidak mudah. Diperlukan ketrampilan individu yang tinggi, tetapi bisa tetap menjaga kekompakan kelompok. Panglima perangnya  harus bisa mengerahkan prajuritnya secara besar-besaran yang harus bisa bergerak dengan cepat. Sebab tujuan dari formasi Gilinganrata adalah melindas musuh dengan segera dan membinasakannya seketika juga.”
“Panglima yang menyusun formasi ini memang harus seorang panglima perang ulung yang bisa membuat musuh tak berdaya. Prajurit Nusakambangan rajin berlatih dan memang memiliki prajurit-parjurit hebat seperti Patih Puletembini, Tumenggung Surajaladri, Rangga Singalaut, dan lainnya lagi. Bahkan mereka pernah punya prajurit wanita hebat dan menguasai seni beladiri tingkat tinggi, yakni Nyai Gede Wulansari.”
“Formasi perang kedua yang dimilki prajurit Nusakambangan yang juga tidak kalah hebatnya adalah formasi Diratameta, yang artinya adalah formasi gajah mengamuk. Formasi ini berbentuk gajah yang sedang marah dan mengamuk, sehingga belalainya dan gadingnya sangat berbahaya. Dalam menggelar formasi ini, biasanya Patih Puletembini berposisi memimpin sejumlah prajurit yang bertindak sebagai belalai. Singalaut dan Surajaladri  berposisi memimpin sejumlah prajurit yang bertindak sebagai sepasang gading.”
“Kita tidak tahu formasi mana yang akan disiapkan oleh prajurit Nusakambangan pada saat perang menghadapi gabungan Pasirluhur-Dayeuhluhur kelak. Akan tetapi ada kelemahan dari prajurit Nusakambangan terutama para panglima perangnya. Mereka adalah penyembah aliran sesat dan menggunakan ilmu hitam untuk meningkatkan daya kekebalan tubuh mereka. Mereka adalah para penyembah Maha Dewa Ditya Kala Rembuculung. Mereka secara rutin menyelenggarakan ritual persembahan perawan suci dengan cara menculik anak-anak gadis. Semua itu dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bertempur mereka dengan menggunakan pertolongan ilmu hitam.”
“Tetapi ilmu hitam sejenis ini, sebenarnya mudah sekali dilawan. Mereka punya pantangan,yaitu takut setengah mati dengan segala jenis monyet. Jika sampai tergigit monyet, bukan hanya kekebalan yang mereka miliki akan-hilang. Nyawa mereka pun akan secepatnya meninggalkan tubuh mereka,” kata Wirapati mengakhiri keterangannya.
Kamandaka kembali mengambil alih pembicaraan dengan mengajak para peserta pertemuan untuk merenungkan dan mengendapkan dengan sebaik-baiknya semua hal yang telah disampaikan Wirapati.
“Itulah tadi penjelasan Dinda Wirapati. Menarik sekali. Telah dijelaskan kekuatan formasi perang Kerajaan Nusakambangan, tetapi sekaligus juga kelemahan yang mereka miliki. Sekarang, marilah kita dengar pandangan tentang ilmu perang hasil telaah Dinda Dewi dari rontal yang berisi kisah tentang peperangan besar, seperti perang Bharatayudha dan perang Brubuh Alengka. Silahkan Dinda Dewi,” kata Kamandaka kepada Sang Dewi yang duduk di sampingnya.
“Baiklah Kanda Kamandaka,“ kata Sang Dewi, “Suatu kadipaten, atau pun kerajaan mana-pun tanpa memiliki kemampuan berperang yang memadai, pastilah akan cepat runtuh dan rakyatnya akan diperbudak oleh sang penakluk. Apakah kita akan membiarkan rakyat Kadipaten Pasirluhur dan Dayeuhluhur diperbudak oleh Nusakambangan?” tanya Sang Dewi kepada peserta rapat yang segera dijawab dengan penuh semangat,”Tidaakkkk!”
“Terimakasih,” kata Sang Dewi. “Apakah kita akan membiarkan gadis-gadis cantik dari Pasirluhur dan Dayeuhluhur, diculik prajurit Nusakambangan untuk dikorbankan dalam ritual aliran sesat?” Kembali para peserta menjawab serentak dan penuh semangat,” Tidaaakkk!!!”
“Terimakasih! Kita hanya bisa mempertahankan kemerdekaan dan kebebasan kita sehingga terlepas menjadi budak, hanya apabila kita menguasai ilmu perang. Kita hanya bisa melindungi anak-anak gadis kita dari penculikan-penculikan yang terus dilakukan prajurit Nusakambangan, hanya apabila kita menguasai ilmu perang. Apakah ilmu perang itu sebenarnya?” tanya Sang Dewi kepada hadirin yang hanya dijawab dengan tatapan sinar mata keinginan yang besar untuk memperoleh pengetahuan apa itu hakekat dari ilmu perang.
“Perang itu sebenarnya merupakan seni, ketrampilan, dan keahlian untuk mempertahankan keselamatan diri sendiri, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, dan tanah airnya. Perang bukanlah ketrampilan untuk menaklukan masyarakat dan bangsa lain untuk kemudian memperbudak mereka. Perang bukanlah ilmu untuk menjajah dan memperbudak kemanusiaan. Perang, sekali lagi, adalah ilmu untuk mempertahankan dan membeladiri. Karena itu kita harus terus mewariskan semangat dan ilmu perang kepada generasi penerus dari semua penduduk yang tinggal di lembah Ciserayu-dan-Citanduy. Kita hanya bisa memenangkan perang dengan Kerajaan Nusakambangan hanya apabila kita memiliki semangat bersatu padu untuk bisa menggabungkan kekuatan-kekuatan perang yang terpisah-pisah yang dimiliki masyarakat menjadi satu kekuatan. Apa sebab Kadipatan Kalipucang dan Banakeling, dengan begitu mudah dilindas kekuatan perang prajurit Nusakambangan? Karena Kadipaten Banakeling dan Kalipucang tidak mau bersatu,” kata Sang Dewi.
“Lihatlah Sungai Ciserayu dan sungai-sungai besar lainnya. Sungai Ciserayu menjadi sebuah sungai besar dan arusnya lebih bertenaga dan lebih hebat, karena ke dalam Sungai Ciserayu telah mengalir anak-anak sungai, seperti Sungai Cingcinggoling, Sungai Logawa, dan anak-anak sungai yang lain. Kenapa Sungai Logawa lebih besar dari Sungai Kabunan dan  Banjaran? Karena kedalam Sungai Logawa telah mengalir anak-anak sungainya, antara lain Sungai Kabunan dan Banjaran. Tenaga yang dimiliki Sungai Logawa, adalah gabungan dan persatuan dari tenaga anak-anak sungainya. Hanya apabila semua anak-anak sungai bersatupadu, maka semua anak sungai itu akan bisa mencapai tujuannya, yaitu bermuara di Samudra Raya yang luas, bebas, damai, dan merdeka. Mencapai Samudra luas yang menjanjikan kemerdekaan, kebebasan dan keadilan, itulah sejatinya tujuan dari setiap perang,”  kata Sang Dewi melanjutkan.
“Kita pun akan bisa memenangkan perang dengan Nusakambangan apabila kekuatan perang Dayeuhluhur dan Pasirluhur bersatupadu melawan kekuatan perang Kerajaan Nusakambangan. Kita akan memenangkan perang apabila pusat-pusat pelatihan prajurit di Dayeuhluhur, di Baturagung, dan di Kendalisada dibawah panglima-panglima perangnya bersatu padu melawan prajurit Nusakambangan. Untuk memenangkan perang tentu saja semangat bersatu saja tidak cukup,” kata Sang Dewi masih melanjutkan penjelasannya.
“Pusat-pusat pelatihan prajurit harus bisa dijadikan mandala untuk meningkatkan ketrampilan dan kecakapan ilmu perang. Pelatihan-pelatihan tidak cukup dengan hanya mengandalkan ketrampilan perang berbasis daratan. Ketrampilan perang berbasis sungai dan lautan juga harus diajarkan,” kata Sang Dewi dengan semangat. Sang Dewi berhenti sejenak. Dilihatnya semua wajah pendengarnya. Nampak semuanya mendengarkan apa yang dikatakan Sang Dewi dengan penuh perhatian. Sang Dewi bangga juga, kata-katanya disimak dengan sungguh-sungguh.  

“Untuk pusat pelatihan Dayeuhluhur, sungai Cijolang, Cikijing dan Citanduy bisa dijadikan tempat latihan ketrampilan perang berbasis sungai,” kata Sang Dewi melanjutkan. “Untuk pusat pelatihan Baturagung, Sungai Kabunan dan Logawa bisa dijadikan tempat latihan ketrampilan perang berbasis sungai. Sedangkan untuk pusat latihan Kendalisada, bisa memanfaatkan Sungai Ciserayu dan Cingcinggoling.” Sang Dewi kembali diam, memberi kesempatan pada para pendengarnya mencernakkan dengan baik apa yang telah disampaikannya. Para pendengarnya termasuk juga para carik, lurah, ngabehi, rangga, tumenggung dan para punggawa Kadipaten Pasirluhur lainnya. Sang Dewi merasa telah cukup memberikan penjelasan tentang ilmu Perang, kemudian mengakhiri penjelasannya.
“Bagi Kanda, ada sumbangan gagasan Dinda Dewi yang menarik,” kata Kamandaka setelah Sang Dewi selesai memberikan pandangan-pandangannya tentang ilmu perang. “Yaitu, perlunya menjadikan sungai dan lautan sebagai bagian dari basis ketrampilan berperang. Dengan demikian sangat jelas bahwa keterampilan perang yang utuh bukan hanya didasarkan pada kemampuan menguasai daratan saja. Tetapi perlu juga keterampilan untuk menguasai sungai dan lautan. Bisa jadi inilah kelebihan Kerajaan Lautan Nusakambangan.”
“Mereka mampu mengembangkan ilmu perang berbasis daratan dan lautan, karena lingkungan mereka sangat mendukung. Saran Dinda Dewi agar keterampilan perang berbasis sungai diajarkan kepada prajurit-prajurit kita, dimaksudkan untuk bisa mengimbangi dan sekaligus bisa mengungguli keterampilan perang prajurit Nusakambangan.”
“Terima kasih, Dinda Dewi atas sumbangan pemikirannya yang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan prajurit-prajurit kita dalam ilmu perang. Jika tidak ada yang menyampaikan keberatan, berarti apa yang disampaikan Dinda Dewi, bisa diterima. Setujui?” tanya Kamandaka. Karena Ki Patih dan Kanjeng Adipati menjawab setuju, maka-semua punggawa yang hadir langsung menyatakan-setuju.
“Sekarang yang terakhir, mari kita dengar bersama pemaparan dari Dinda Dewi lagi tentang formasi perang prajurit gabungan Pasirluhur dan Dayeuhluhur. Formasi perang apa yang sebaiknya dipilih untuk menghadapi Kerajaan Nusakambangan. Silahkan, Dinda Dewi,” kata Kamandaka mempersilahkan kepada Sang Dewi untuk berbicara kembali.
“Dinda Wirapati?“ Sang Dewi berpaling kepada Wirapati menawarkan untuk berbicara lebih dulu. Tetapi Wirapati menggelengkan kepalanya, suatu tanda dia mempersilahkan Sang Dewi saja yang berbicara soal formasi perang yang akan digelar menghadapi Nusakambangan.
“Tidak mungkin Nusakambangan menggelar formasi perang Gilinganrata,” kata Sang Dewi mulai memberi penjelasan, “Karena apa? Jika Nusakambangan menggelar formasi Gilinganrata, berarti Nusakambangan menantang perang Pasirluhur. Berdasarkan syarat-syarat penerimaan lamaran pasukan Nusakambangan, hanya akan mengawal calon mempelai putra. Karena itu paling banter Nusakambangan akan menggelar formasi Diratameta, yakni formasi berbentuk gajah sebagaimana yang telah dijelaskan Dinda Wirapati. Dengan formasi perang Diratameta Nusakambangan bermaksud untuk bisa mengelabui Kadipaten Pasirluhur, seakan-akan pasukan Nusakambangan memang tidak membawa senjata.”
“Padahal jika situasi menjadi genting, formasi Diratameta dengan mudah akan berubah menjadi formasi gajah mengamuk dengan mengeluarkan senjata yang dengan rapih disembunyikannya. Karena itu, kita harus hati-hati dan waspada. Jangan terkecoh dengan penyamaran mereka. Formasi yang harus dipilih oleh prajurit gabungan Pasirluhur-Dayeuhluhur yang paling tepat dan sesuai dengan medan yang dikuasai oleh prajurit Pasirluhur-Dayeuhluhur, menurut aku adalah formasi  Sumpitudang. Formasi Garudamelayang dan Bulansabit, kurang cocok dengan medan pertempuran yang ada.”
“Dengan formasi Sumpitudang, ada  tiga jalur jalan simpang empat yang dikuasai prajurit Pasirluhur-Dayeuhluhur, yakni jalur dari arah barat,  arah timur, dan  arah utara. Ke tiga jalur itu  sangat cocok untuk menggelar formasi Sumpitudang. Jalur arah barat dari Dayeuhluhur, ditempati pasukan di bawah komando Dinda Wirapati yang berfungsi sebagai sumpit kanan udang. Jalur dari arah timur dari Rawalo, ditempati pasukan di bawah komando Dimas Arya Baribin yang bertindak sebagai sumpit kiri udang. Jalur dari arah utara ditempati pasukan Dinda Silihwarna yang berfungsi sebagai kepala dan badan udang. Jika pasukan sumpit udang kanan, kiri dan kepala-badan udang bergerak secara serentak dan terus menerus, pasukan Sumpitudang akan menjelma jadi udang raksasa yang akan dengan mudah menaklukan pasukan formasi Gajah Nusakambangan yang akan datang dari jalur selatan.”
“Kuncinya, pasukan kepala udang yang dikomandani Dinda Silihwarna jangan terkecoh gerak-gerik pasukan Gajah Nusakambangan. Bisa saja pasukan Gajah pura-pura mundur ke arah selatan. Jika itu terjadi, jangan sampai pasukan kepala udang bernafsu mengejar masuk ke jalur selatan. Jika hal ini dilakukan, dapat dipastikan pasukan kepala udang akan repot menghadapi pasukan gajah. Dinda Silihwarna selaku panglima pasukan kepala udang akan sangat berat menghadapi tiga panglima perang pasukan Gajah, yakni Patih Puletembini, Tumenggung Surajaladri, dan Rangga Singalaut, sebagaimana yang telah dijelaskan Dinda Wirapati tadi. Lagi pula, jika Dinda Silihwarna sampai terjebak karena bernafsu hendak mengejar pasukan Gajah dengan masuk jalur selatan, praktis pasukan sumpit kanan yang ada di jalur barat dan pasukan sumpit kiri yang ada di jalur timur, akan terkunci dan tidak dapat berbuat banyak.”(bersambung)

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(55)





Pada acara santap siang Kanjeng-Adipati-mengundang juga para petinggi kadipaten, antara lain  Ki Patih dan Tumenggung Maresi yang sudah sembuh dari sakitnya. Juga ikut diundang Lurah Karangjati dan punggawa lainnya yang kebetulan hari itu sedang menghadiri pertemuan rutin bulanan di Pendapa Kadipaten. Maka acara santap siang di beranda ruang makan Dalem Kadipaten itu berubah menjadi semacam pesta kecil menyambut  Kamandaka dengan rombongan-yang-baru tiba di Kadipaten Pasirluhur.
Para tamu undangan itu asyik menikmati hidangan. Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati selaku tuan rumah, mengumbar senyum dan berjalan kian kemari menyapa para tamu. Ki Patih tampak berbincang-dengan Wirapati, Nyai Kertisara, Tumenggungung Maresi, dan Lurah Karangjati. Rekajaya yang hari itu naik pangkat menjadi tamu, asyik bercakap-cakap dengan Khandegwilis di tengah-tengah kesibukannya bertugas mengawasi aneka macam hidangan dan minuman  yang disajikan. Begitu ada hidangan habis, Khandegwilis dengan cekatan menugaskan anak buahnya, para bujang wanita dan pria, agar segera menambah lagi.
Tampak pula mereka yang menggunakan kesempatan pesta kecil itu untuk berbincang berduaan saja dengan pasangannya. Misalnya, Silihwarna asyik berbicara dengan Mayangsari. Keduanya memilih duduk di suatu sudut yang nyaman. Demikian pula Arya Baribin yang baru hari itu berkenalan dengan Ratna Pamekas, duduk berdua saling berbincang-bincang di suatu sudut yang lain lagi-sambil menikmati hidangan. Tak terkecuali Kamandaka dan Sang Dewi, juga menggunakan kesempatan itu-untuk melepaskan rindu. Pada kesempatan santap siang itu Kamandaka sempat berceritera saat bertemu dengan Ayahandanya, Sri Baginda Prabu Siliwangi di Pakuan Pajaran.
 “Pada hari itu, Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi mengumpulkan para putra dan putrinya serta Kanjeng Ibu Kumudaningrum,” demikian Kamandaka mengawali ceriteranya kepada Sang Dewi. “Pada saat itu, Ayahanda Sri Baginda menerima laporan dari aku, bahwa aku telah berhasil menemukan gadis calon pendamping hidup, yakni Dinda Dewi, putri dari Adipati Kadipaten Pasirluhur. Ayahanda sangat senang sekali. Karena itu dalam pertemuan itu juga, Sri Baginda langsung menyampaikan rencananya agar pesta ritual pernikahan aku dan Dinda Dewi segera dilaksanakan, agar supaya Sri Baginda bisa menetapkan aku sebagai putra mahkota calon pengganti Ayahanda.”
“Tetapi dalam pertemuan itu, Ibu Kumudaningrum menagih janji Sri Baginda.Konon Sri Baginda pernah menjanjikan akan mengangkat putra mahkota bila Ibu Kumudaningrum dikaruniai seorang-putra laki-laki. Kenyataannya memang Ibu Kumudaningrum dikaruniai putra laki-laki, yakni Dinda Banyakbelabur dan seorang putri, Dinda Ratna Pamekas. Sri Baginda menjawab bahwa janji itu tidak diatur dalam Angger-Angger Kerajaan Pajajaran. Jadi, tergantung pada kesepakan dan keikhlasan para putra-putra calon putra mahkota saja.”

Dyah-Ayu-Ratna-Pamekas-dan-Permaisuri-Kumudaningrum.
“Tetapi ketika menjelaskan Angger-Angger Kerajaan Pajajaran, ternyata aku telah gugur haknya untuk diangkat sebagai putra mahkota. Sri Baginda menjelaskan bahwa syarat menjadi putra mahkota adalah pertama, dia harus putra sulung dari permaisuri. Kedua, dia tidak boleh cacad fisik dan tidak pernah terluka oleh senjata pusaka Kujang Kancana Shakti, senjata rahasia pusaka Kerajaan Pajajaran yang jumlahnya kembar tiga. Ke tiga senjata pusaka itu masing-masing diwariskan kepadaku, Dinda Silihwarna, dan Dinda Banyakbelabur.”
“Mendengar penjelasan Ayahanda soal Angger-Angger Kerajaan Pajajaran itu, aku dan Dinda Silihwarna langsung mengundurkan diri dan menolak dinobatkan sebagai putra mahkota. Dinda Silihwarna, disertai permohonan maaf kepadaku, mengatakan secara jujur kenyataan yang sebenarnya. Dinda Silihwarna mengakui menyesal telah bertindak ceroboh sehingga tanpa sengaja telah menikam lambungku dengan pusaka rahasia Kujang Kancana Shakti. Peristiwa itu terjadi di gelanggang adu ayam lapangan Desa Pangebatan, Kadipaten Pasirluhur. Memang tikaman itu tidak sampai menewaskan aku, tetapi tetap saja meninggalkan bekas luka di lambung kanan.
“Ayahanda Sri Baginda sangat sedih mendengar tragedi Pangebatan itu. Namun akhirnya Sri Baginda menerima semua kenyataan itu sebagai suatu takdir kehidupan. Akhirnya, Dinda Banyakbelabur ditetapkan sebagai satu-satunya putra mahkota Kerajaan Pajajaran. Ibu Kumudaningrum tersenyum puas dan bangga.
“Namun, Dinda Ratna Pamekas mengajukan permohonan kepada Ayahandanya untuk mengikuti aku dan Dinda Silihwarna kemana saja aku dan Dinda Siliharna akan pergi. Sri Baginda menyetujuinya, bahkan meminta keikhlasan Dinda Banyakbelabur. Yaitu  agar Dinda Banyakbelabur menyerahkan pusaka Kujang Kancana Shakti yang menjadi haknya kepada aku dan Dinda Silihwarna sebagai imbalan keikhlasan aku dan Dinda Silihwarna melepaskan hak atas tahta Kraton Pajajaran.”
“Dinda Banyakbelabur segera mengembalikan pusaka rahasia Kujang Kancana Shakti kepada Ayahanda Sri Baginda. Dan Ayahanda Sri Baginda menyerahkannya kepadaku dengan pesan, agar pusaka kujang itu, kelak diserahkan oleh Dinda Ratna Pamekas kepada seorang pria yang kelak akan dipilihnya menjadi calon suami pendamping hidupnya.”
“Dinda Dewi, sekarang aku datang ke Kadipaten Pasirluhur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa lagi. Satu-satunya yang masih aku miliki adalah cinta yang tulus dan abadi kepada Dinda  Dewi. Apakah dengan keadaanku yang telah kehilangan hak mewarisi tahta Kerajaan Pajajaran, Dinda Dewi tidak kecewa dan masih menerima cintaku?” tanya Kamandaka kepada Sang Dewi setelah berpanjanglebar menceriterakan pertemuannya dengan Ayahandanya Sri Baginda Prabu Siliwangi  di Kraton Pakuan Pajajaran.
“Kanda Kamandaka,” kata Sang Dewi langsung menjawab. “Kemuliaan tertinggi sebuah cinta itu bukanlah pada harta dan tahta. Kemulian sebuah cinta ialah kesediaan untuk berkorban-dengan-tulus dan ikhlas kepada kekasihnya yang kelak akan menjadi pasangan hidupnya. Termasuk kemulian cinta adalah-kesediaan-untuk-berkorban-kepada tanah air, bangsa,  sesama manusia, dan akhirnya kepada Sang Maha Pencipta. Cinta kepada harta bisa lenyap jika hartanya menipis. Demikian pula cinta kepada tahta, bisa hilang bilamanan tahta itu lepas. Cinta kepada harta dan tahta bukanlah cinta sejati dan bukan pula-cinta yang abadi. Dan itu bukanlah sebuah kemuliaan. Kanda Kamandaka, buat apa aku menghubungi Kanda Kamandaka  pada waktu itu, jika aku mengejar cinta hanya karena tahta dan harta?” kata Sang Dewi dengan nada suara yang halus tetapi tiap kata yang diucapkan jelas terdengar.
“Banyak adipati dan putra adipati yang saat itu bisa aku pilih,” kata Sang Dewi pula melanjutkan, ”Padahal saat itu tidak satu orang pun yang tahu bahwa Kanda adalah salah seorang calon putra mahkota yang sedang menyamar. Tahunya orang saat itu, Kanda adalah paleka dan penjala hebat yang terpaksa mengabdi kepada Ki Patih. Dan hanya karena belas kasihan Ki Patih yang terkecoh oleh penyamaran Kanda, Ki Patih mengangkatnya menjadi anak angkat. Hanya anak angkat! Tidak lebih.”
“Kanda Kamandaka, jangan khawatir. Aku akan tetap menerima cinta Kanda, apa-pun keadaan Kanda,”kata-Sang-Dewi-menegaskan.Betapa bahagia dan bangganya Kamandaka mendengar kata-kata Sang Dewi yang menyejukkan hatinya itu. Andaikata Kamandaka-sedang tidak berada di tempat yang banyak orang, pastilah Sang Dewi itu akan dipeluknya dan diciuminya dengan segenap kasih sayangnya.
“Terima-kasih, atas segala dukungan Dinda Dewi,” bisik Kamandaka di telinga Sang Dewi.
Sekalipun bibir Kamandaka sangat dekat ke wajah Sang Dewi, Kamandaka tidak berani mencium gadis yang dicintainya itu. Sebab Kanjeng Ayu Adipati berdiri tidak jauh dari Sang Dewi. Ketika Sang Dewi mengangkat wajahnya, Sang Dewi bertemu pandang dengan Kanjeng Ayu Adipati. Kanjeng Ayu Adipati tersenyum agak malu karena Sang Dewi tahu, Ibunya itu sedang mencuri-curi pandang memperhatikan Sang Dewi yang sedang asyik melepas-rindu dengan Kamandaka.
“Kanjeng Ibu teringat  waktu muda dirayu  Kanjeng Rama,” bisik Sang Dewi. Kamandaka tersenyum mendengar bisikan Sang Dewi.
Sebelum-Ki-Patih-pulang,Kanjeng Adipati smpat mengingatkan agar besok pagi Ki-Patih-mempersiapkan acara rapat untuk menindak lanjuti persiapan perang melawan Kerajaan Nusakambangan.
Esok pagi harinya rapat  pertama kordinasi para panglima sektor untuk menghadapi Kerajaan Nusakambangan dihadiri Kanjeng Adipati dan Ki Patih selaku penasihat. Rapat dipimpin langsung Kamandaka selaku panglima perang tertinggi. Tiga panglima komandan sektor yang hadir ialah Wirapati, Arya Baribin, dan Silihwarna. Para pembantu antara lain Tumenggung Maresi dan para punggawa lainnya, termasuk para lurah yang bertugas untuk mencari calon-calon prajurit-baru. Rapat sudah mencapai kata sepakat, bahwa akan didirikan pusat-pusat latihan prajurit di tiga tempat. Kamandaka menjelaskan kesepakan itu untuk ditindaklanjuti oleh panglima sektor.
“Sektor Barat, menjadi tanggungjawab Dinda Wirapati,” kata Kamandaka yang memimpin rapat, mengingatkan pokok-pokok kesimpulan sebelumnya yang telah disepakati. “Pusat pelatihan diadakan di Dayeuhluhur. Jumlah prajurit yang akan dilatih 400 orang. Yang sudah siap 200 orang. Kekurangan 200 orang akan dipasok dari Kadipaten Galuh, atas perintah Sri Baginda Prabu Siliwangi. Sri Baginda sangat mendukung operasi penaklukan Nusakambangan karena pulau itu pada mulanya merupakan wilayah Kerajaan Pajajaran yang melepaskan diri. Pusat pelatihan di Dayeuhluhur akan dikembangkan menjadi Padepokan Dayeuhluhur yang dikhususkan untuk mengembangkan ketrampilan seni beladiri jurus harimau putih,” kata Kamandaka pula.
“Sektor Utara, menjadi tanggungjawab Dinda Silihwarna selaku komandan sektor utara. Pusat pelatihan sesuai saran Ki Patih akan diadakan di lereng Gunung Agung, di suatu tempat yang bernama Baturagung. Jumlah peserta pelatihan 400 prajurit. Pusat pelatihan Baturagung itu akan dikembangkan menjadi Padepokan Baturagung. Ketrampilan seni beladiri di Padepokan Baturagung akan dikhususkan untuk mengembangkan jurus bangau putih. Komandan sektor utara ini sangat penting karena posisinya kelak berada di belakang panglima perang tertinggi yang menyamar sebagai Uwak Lengser mendampingi tandu yang berisi calon mempelai putri dan si Lutung,” kata Kamandaka masih mengingatkan kesepakatan pembentukan pusat-pusat pelatihan untuk persiapan menghadapi perang..
“Sektor Timur, menjadi tanggungjawab Dimas Arya Baribin. Prajurit yang akan dilatih berjumlah 400 orang. Yang tersedia dan siap 200 orang. Kekurangannya akan dipilih dari pemuda-pemuda yang ada di sekitar pusat pelatihan. Pusat Pelatihan Sektor Timur ini di sebelah timur Gunung Tugel. Kelak di pusat pelatihan sebelah timur Gunung Tugel ini akan dikembangkan menjadi Padepokan Kendalisada untuk mengembangkan seni beladiri jurus monyet putih. Demikian butir-butir kesimpulan pembentukan pusat-pusat latihan berdasarkan saran dan masukan peserta pertemuan. Apakah ada usul tambahan?” tanya Kamandaka yang didampingi Sang Dewi. Semua peserta diam, tak ada usul tambahan. Berarti semua setuju dengan kesimpulan yang disampaikan Kamandaka.
Dalam pertemuan itu, selain dihadiri Sang Dewi, ikut hadir juga Kanjeng Ayu Adipati, Mayangsari, dan Ratna Pamekas. Kehadiran para wanita itu untuk memberikan semangat dan mempertebal daya juang sehingga dapat memenangkan perang. Kehadiran Sang Dewi sangat penting, karena dalam perang dengan Nusakambangan itu, Sang Dewi akan berada di pusat pertempuran. Sang Dewi harus tahu persis gambaran dari pertempuran yang akan terjadi itu.
“Sekarang marilah kita dengar formasi perang yang akan digelar untuk  menghadapi Kerajaan Nusakambangan. Lebih dulu silahkan  Dinda Wirapati yang banyak mengetahui strategi perang macam apa yang biasa digelar prajurit Nusakambangan. Keterangan yang berhasil dikumpulkan, menyebutkkan, bahwa Kerajaan Nusakambangan adalah kerajaan lautan paling tangguh di Lautan Selatan. Kerajaan Nusakambangan memiliki prajurit-prajurit terlatih dengan baik, memiliki disiplin tinggi, dan memiliki panglima-panglima perang hebat. Gerakan pasukannya sangat cepat. Daerah pantai yang telah dilindas kekuatan prajurit perang Nusakambangan antara lain Kadipaten Kalipucang di bagian barat daratan dan Kadipaten Banakeling di bagian timur daratan. Kedua kadipaten yang memiliki wilayah luas di pantai selatan itu, sekarang berada di bawah kekuasaan Nusakambangan. Silahkan Dinda Wirapati,” kata Kamandaka mempersilahkan Wirapati untuk berbicara.
“Benar sekali, apa yang baru saja dikatakan Kanda Kamandaka mengenai kekuatan prajurit Nusakambangan,” kata Wirapati mengawali penjelasannya. ”Kebetulan Ayunda Dewi banyak membaca kitab Mahabharata dan Ramayana yang berisi riwayat perang-perang besar. Ayunda Dewi pernah memberikan pendapatnya dalam suatu diskusi yang sering kami lakukan berdua. Menurut pendapat Ayunda Dewi, jika prajurit Nusakambangan menyerang Kadipaten Dayeuhluhur sekarang ini, Kadipaten Dayeuhluhur juga akan jatuh seperti Kadipaten Kalipucang dan Kadipaten Banakeling. Demikian pula jika Kerajaan Nusakambangan menyerang Kadipaten  Pasirluhur sekarang ini, Kadipaten Pasirluhur juga akan mengalami nasib sama.” (bersambung)

Rabu, 18 Oktober 2017

Novel:Melati-Kadipaten-Pasirluhur(54)




“Sudah dari tadi Biyung Emban ikut-ikutan memandangi bulan purnama, Ndara Putri,” jawab Khandegwilis,  .
“Lalu apa yang Biyung pikirkan saat memandang bulan purnama tanggal empat belas itu?”
“Yang hamba pikirkan malam-malam seperti ini, bisa jadi Kakang Rekajaya sedang mancing di pinggir Sungai Ciserayu, Ndara Putri.”
Rekajaya sudah pulang ke Kaliwedi, begitu Kamandaka pulang ke Pakuan Pajajaran. Si Lutung Kasarung, sudah dibuatkan rumah kayu bagus, menempel pada pohon nangka di timur bangunan, tidak jauh dari bekas kamar tempat Rekajaya mondok. Seorang bujang sudah dilatih  untuk mengurus segala keperluan monyet kesayangan Sang Dewi.
“O, Rekajaya gemar mancing, ya?” tanya Sang Dewi.
“Betul, Ndara Putri. Ikan baceman Sungai Ciserayu, ikan kegemaran-Kakang-Rekajaya.”
“Sejak pulang ke rumah Nyai Kertisara di Kaliwedi, apakah  Rekajaya sudah pernah ketemu lagi dengan Biyung Emban?”
“Lho, sudah dua kali menemui hamba. Tapi hanya sampai di gardu jaga di depan. Kakang Rekajaya mengirimkan lima keranjang gula kelapa dan lima keranjang gula Aren untuk Kanjeng Adipati. Hamba ajak menemui Ndara Putri, tidak mau. Katanya malu,” kata Khandegwilis yang membuat Sang Dewi tertawa ketika mendengar kata malu.
“Aku tidak tahu. Jadi, sudah dua kali mengirim gula kelapa dan gula aren untuk Kanjeng Rama?”
“Benar, Ndara Putri.Tentu saja maksudnya kiriman itu untuk Ndara Putri. Kakang Rekajaya pun-hanya melaksanakan pesan Ndara Kamandaka pada waktu mau pulang ke Pakuan Pajajaran.”
“Oh. Begitu. Berarti Kanda Kamandaka selalu ingat aku, Biyung Emban?”
“Tentu saja, Ndara Putri. Hamba yakin Ndara Kamandaka tiap malam tidak bisa tidur karena selalu ingat Ndara Putri,” kata Khandegwilis yang membuat Sang Dewi terhibur hatinya.
“Jika Rekajaya  malam-ini sedang mancing di pinggir Sungai Ciserayu, menurut-Biyung-Emban,kira-kira apa yang sedang dilakukan Kanda Kamandaka?” tanya Sang Dewi pula.
“Ya, sama dengan Ndara Putri sekarang ini. Ndara Kamandaka juga sedang menatap bulan tanggal empat belas itu sambil mengenang Ndara Putri.”
“Bulan lalu tanggal empat belas Kanda Kamandaka duduk di sini,” kata Sang Dewi sambil menunjuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. “Sekarang sudah tanggal empat belas lagi. Berarti Kanda Kamandaka meninggalkan Kadipaten Pasirluhur, sudah berapa hari, Biyung Emban?”
Khandegwilis yang sudah pandai berhitung dan membaca karena diajari Sang Dewi, dengan cepat bisa menjawab,“ Kurang lebih sudah 30 hari, Ndara Putri.”
“Ya, benar,” kata Sang Dewi, “Aku dengar Rekajaya membantu kakaknya Nyai Kertisara yang menggeluti usaha jual beli gula kelapa dan gula aren. Tentu Biyung Emban juga harus pandai berhitung, jangan kalah dengan Rekajaya.”
“Hamba bisa karena diajari Ndara Putri,” kata Khandegwilis. Sang-Dewi kembali membicarakan Kamandaka.
“Kanda Kamandaka berjanji hanya perlu waktu 20 hari saja. Ternyata sudah 30 hari belum tiba juga. Kanda Kamandaka itu memang pria yang tidak pernah menepati janji. Padahal janji itu adalah kesanggupan yang harus ditepati. Ini yang paling aku benci pada Kanda Kamandaka. Sering tidak tepat waktu bila berjanji!” kata Sang Dewi dengan nada mulai jengkel karena kesal menunggu.
“Tak apa Ndara Putri, benci sedikit asal lebih banyak rindunya,” kata Khandegwilis mencoba menghibur Ndara  Putrinya yang sedang kesal itu.
“Kalau ada di sampingku, Kanda Kamandaka  pasti sudah aku cubit!”
“Tapi jangan keras-keras, Ndara Putri. Kasihan, hamba tidak sampai hati, lho,” kata Khandegwilis.
“Apakah cubitanku terlalu-keras?”
“Wah, bukan keras lagi. Tapi suangaaat keras. Sampai-sampai teriakan Ndara Kamandaka waktu itu mengejutkan hamba yang sedang di dapur. Jangan-jangan waktu itu Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati di Dalem Gede juga mendengar suara Ndara Kamandaka,” kata Khandegwilis yang  ditanggapi Sang Dewi dengan tertawa.
“Biyung Emban tidak tahu sih. Sebenarnya Kanda Kamandaka waktu itu hanya pura-pura berteriak dan pura-pura sakit.”
“Ah, masa? Mana ada orang dicubit pura-pura sakit dan pura-pura berteriak?” tanya Khandegwilis menyangkal keterangan Ndara Putrinya itu.
“Lho, buktinya Kanda Kamandaka langsung memeluk dan mencium aku, Biyung Emban.”
“Oh, iya? Hihihi…, Biyung Emban tidak tahu,” Khandegwilis tertawa mendengar ceritera reaksi Kamandaka saat dicubit Ndara Putrinya  itu.
“Pernah mencubit Rekajaya, apa belum?”
“Ah, belum, Ndara Putri.”
“Kalau begitu, belum pernah dicium Rekajaya?” tanya Sang Dewi menyelidik.
“Oh, kalau itu baru dua kali, Ndara Putri. Semuanya di dekat gardu depan pada waktu mau pulang setelah mengantarkan gula. Dua minggu yang lalu di pipi kanan. Minggu kemarin pipi kiri,” kata Khandegwilis berterus terang.
“Wah, bakal jadi sungguhan dengan Rekajaya, syukurlah, ” kata Sang Dewi menggoda.
“Ah, tidak tahu, Ndara Putri. Yang penting jalan saja dulu. Hamba sudah sama-sama tua. Inginnya Kakang Rekajaya sih, setelah pesta pernikahan Ndara Putri dengan Ndara Kamandaka,” kata Khandegwilis agak malu-malu.
“Cinta itu, tidak mengenal usia, Biyung Emban. Aku dan Kanda Kamandaka setuju sekali jika Biyung Emban mencoba membangun rumah tangga kembali. Jika ada peluang dan Yang Maha Kuasa menghendakiNya, kenapa tidak?”
“Terimakasih atas dukungan dan doanya, Ndara Putri,”  kata Khandegwilis. Wajahnya tampak ceria dan matanya berbinar-binar.

Malam itu,  seperti biasanya Sang Dewi tidur di atas ranjangnya sambil memeluk guling erat-erat. Khandegwilis yang tidur di bawah Ndara Putrinya dengan alas tilam yang digelarnya, ikut-ikutan memeluk guling, padahal biasanya tidak pernah.
***
Esok pagi harinya ketika Sang Dewi sedang bermain-main dengan si Lutung, tiba-tiba Khandegwilis mendatanginya dan berkata dengan tergopoh-gopoh.
”Ndara Putri! Dipanggil Kanjeng Rama. Ndara Kamandaka baru saja tiba dengan adiknya dan saudaranya. Sekarang ada di ruang tamu Dalem Gede. Juga-ada Kakang Rekajaya dan kakaknya, Nyai Kertisara. Ada pula Ndara Silihwarna. Ndara Wirapati datang-dengan adiknya, Dyah Ayu Mayangsari.  Satu pria lagi, hamba belum pernah lihat. Ada pula satu gadis cantik, sepertinya adik Ndara Kamandaka. Cepat kesana, Ndara Putri. Ndara Kamandaka tadi menanyakan Ndara Putri. Mereka mau menginap di sini semua. Para bujang sudah dikerahkan  menyiapkan kamar.”
Mendengar pemberitahuan Khandegwilis, Sang Dewi langsung menyuruh si Lutung supaya kembali ke rumahnya, sebuah kandang kayu di pohon nangka, kiri bangunan. Si Lutung segera berlari pulang setelah bersalaman dengan Sang Dewi.
Memang tiap hari Sang Dewi bermain-main dengan si Lutung yang lucu dan menyenangkan. Selain Emban kesayangannya, si Lutunglah yang menjadi penghibur Sang Dewi, selama masa-masa menunggu Kamandaka. Sang Dewi sudah bosan dengan pekerjaan menunggu yang dirasakannya sangat menyiksa. Oleh karena itu, betapa gembiranya dia ketika mendengar Kamandaka telah tiba kembali. Setelah berhias lebih dulu, Sang Dewi bergegas menjemputnya,. Dalam hati Sang Dewi  hanya menduga-duga, siapakah satu orang gadis dan satu orang pria yang semuanya belum pernah dikenal Khandegwilis.
Begitu bertemu, Sang Dewi langsung berpelukan dengan Kamandaka. Di telinganya dia mendengar bisikan lembut, “Maaf Dinda Dewi, aku terlambat sekitar sepuluh hari dari yang aku janjikan. Ada salam khusus untuk Dinda Dewi dari Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi. Ingin sebenarnya Ayahanda melihat seperti  apa calon menantu putra pertamanya. Tapi kondisi dan situasi belum memungkinkan untuk bisa melihat wajah Dinda Dewi.  Kenalkan, ini Adikku yang pernah aku ceriterakan,” kata Kamandaka sambil mengenalkan Ratna Pamekas yang segera mendekat. Keduanya segera berkenalan dengan saling berpelukan. Mayangsari, adik Wirapati  juga mendekat. Keduanya pun saling berpelukan melepas rindu. Sang Dewi dengan Mayangsari dan Wirapati saudara sepupu, tentu saja mereka sudah saling kenal.
Kemudian Kamandaka berturut turut mengenalkan Arya Baribin dan Nyai Kertisara yang tampil dengan kain-kebaya,dan-tampak anggun. Sang Dewi sudah mendengar kedua orang itu. Tetapi baru pada hari itu dia-bisa mengenalnya. Selain Rekajaya dan Nyai Kertisara, semua tamu akan menginap di Kadipaten. Wirapati, Silihwarna, dan Kamandaka ditempatkan di Taman Kaputran sedangkan Ratna Pamekas dan Mayangsari, ditempatkan di kamar Taman kaputren, yang berdampingan dengan kamar Sang Dewi. Jarak antara bangunan Taman Kaputran dan Taman Kaputren  tidak terlalu jauh, hanya dipisahkan halaman taman bunga dan bangsal Pancaniti. Taman Kaputran biasa ditempati para-menantu Kanjeng Adipati Khandadaha, sebelum pindah membawa istrinya yang merupakan putri-putri Kanjeng Adipati Khandadaha dari istri terdahulu.
Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati sangat senang dengan tamu-tamunya yang tidak lama lagi akan membentuk keluarga besar Kadipaten Pasirluhur. Kanjeng Adipati juga senang karena trah Pajajaran dan trah Majapahit bisa berkumpul di Kadipaten Pasirluhur. Dia bangga karena Kadipaten Pasirluhur akan-bisa menjadi poros yang menyambungkan kembali tali silaturahmi  trah Pajajaran dan trah Majapahit yang sempat terputus akibat tragedi Bubat.
Bagi Kanjeng Adipati-dan-Kanjeng-Ayu Adipati, kehadiran kembali Kamandaka di Kadipaten Pasirluhur bukan hanya memberikan jaminan kepastian hubungan Kamandaka dengan Sang Dewi. Tetapi tidak kalah pentingnya adalah persiapan perang melawan Nusakambangan yang waktunya tinggal 90 hari lagi. Memang untuk keperluan persiapan perang itulah,maka Kamandaka, Silihwarna, dan Ratna Pamekas, dalam perjalanannya kembali ke Pasirluhur menyempatkan diri singgah-lagi di Kadipaten Dayeuhluhur. Mereka pun-kembali menginap.

Kesempatan mengunjungi Kadipaten Dayeuhluhur yang ke dua kalinya itu dimanfaatkan dengan baik oleh Silihwarna untuk melamar Mayangsari. Kamandaka didampingi Ratna Pamekas bertindak sebagai juru lamar sekaligus mewakili Sri Baginda Prabu Siliwangi. Oleh karena itu Mayangsari yang sudah menjadi calon istri Silihwarna diijinkan Kanjeng Adipati Dayeuhluhur menyertai rombongan-Kamandaka pergi ke Pasirluhur. Wirapati yang telah diangkat sebagai wakil panglima tertinggi dan komandan sektor barat, ikut bergabung ke dalam rombongan Kamandaka. Sebelum rombongan tiba di Pasirluhur, Kamandaka menyempatkan diri singgah di kediaman Nyai Kertisara di Kaliwedi.
Di kediaman Nyai Kertisara itulah Arya Baribin yang disusul Rekajaya di Kademangan Kejawar  segera ikut bergabung. Arya Baribin, Ksatria Majapahit itu, segera dikenalkan dengan Wirapati, Mayangsari, dan tentu saja dengan Ratna Pamekas. Sejak di Pakuan Ratna Pamekas sudah-diberitahu, bahwa Arya Baribin adalah Ksatria Majapahit yang ingin mengabdi kepada  Kerajaan Pajajaran. Selain itu Arya Baribin juga ingin menjalin hubungan serius dengan dirinya. Saat itu juga  Ratna Pamekas langsung menyambutnya dengan gembira.
Rombongan Kamandaka baru berangkat menuju Kadipaten Pasirluhur setelah menginap semalam di rumah Nyai Kertisara. Bahkan Nyai Kertisara terpaksa meninggalkan kegiatan bisnis sehar-hari yang digelutinya, karena ingin ikut mengantarkan Kamandaka ke Kadipaten Pasirluhur.Matahari masih jauh dari puncak kubah langit, saat rombongan Kamandaka tiba di halaman Pendapa Kadipaten. Bahkan sisa-sisa angin pagi yang bertiup lembut mengisi relung-relung lembah Sungai Logawa masih terasa menyejukkan kulit. Baru-pada siang harinya, setelah para tamu mendapatkan kamar tempatnya menginap masing-masing, mereka semua bertemu lagi-dalam acara  santap siang bersama dengan Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati.
Rencananya  besok pagi akan diadakan rapat komando membahas persiapan operasi menggelar perang melawan Kerajaan Nusakambangan. Itulah Sebabnya Wirapati yang kelak akan memegang komando sektor barat dan Arya Baribin yang akan memegang komando sektor timur, ikut dalam rombongan Kamandaka.(Bersambung)