Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Jumat, 21 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (18)




Tiba-tiba wajah Sang Dewi terbayang kembali di depan mata Kamandaka. Dirabanya selendang kuning pemberian Sang Dewi yang melilit di pinggangnya. Tentu saja selendang sutra kuning itu basah juga. Pelan-pelan dilepasnya, lalu diciuminya beberapa kali, seakan dia sedang menciumi Sang Dewi. Kemudian selendang itu dibentangkannya di atas batu agar cepat kering. Kembali Kamandaka berbaring di samping selendang sutra kuning yang tengah dibentangkannya itu. Diam-diam Kamandaka membayangkan, dia tengah berbaring berdua berdampingan dengan Sang Dewi di atas batu di pinggir Sungai Ciserayu. Tanpa disadari oleh Kamandaka, ada seorang lelaki sedang memancing ikan, memperhatikan semua gerak-gerik Kamandaka. Lelaki pemancing ikan itu sangat heran dan takjub.

“Benar-benar dia pria hebat luar biasa,” kata lelaki pemancing ikan itu di dalam hati. ”Selama ini tidak pernah ada orang berani masuk ke dalam Goa Surup Lawang dan bisa keluar dengan selamat.” Lelaki itu menduga Kamandaka baru saja keluar dari Goa Surup Lawang.

Goa Surup Lawang adalah sebuah goa di pinggir Sungai Ciserayu, tidak jauh dari pertemuan muara Sungai Logawa dengan Sungai Ciserayu. Penduduk di sekitarnya menganggap Goa Surup Lawang sebagai tempat keramat. Orang yang berani masuk ke sana niscaya tidak mungkin akan bisa keluar dengan selamat. Mereka percaya di situlah bertempat tinggal aneka macam mahluk halus penghuni goa sungai, seperti jin, setan, iblis, dan hantu Sungai Ciserayu lainnya. Perahu yang melintasi Goa Surup Lawang pun harus sangat hati-hati, agar perahu dan penumpangnya tidak tersedot masuk ke dalamg goa. Agar mahluk halus penghuni Goa Surup Lawang tidak menganggu aktivitas penduduk di Sungai Ciserayu, penduduk yang tinggal di sekitarnya secara rutin membuat sesajian. Dan biasanya sesajian itu diletakkan di atas batu yang kini sedang digunkan untuk tidur-tiduran sambil menjemur badan, pakaian, dan selendang oleh Kamandaka. 

“Tentu hanya orang sakti yang berani dengan seenaknya tidur-tiduran sambil berjemur di atas batu altar pemujaan,” pikir lelaki pemancing ikan itu pula. Dia segera bangkit meninggalkan bilah pancing ikan di tempatnya. Pelan-pelan dia berjalan mendekati orang yang sedang asyik melamun sambil tiduran membayangkan kekasih jantung hati, Sang Dewi.

“Selamat siang, Raden. Hamba Rekajaya, seorang pemancing ikan,” sapa lelaki bertubuh kekar, berdada bidang, memiliki wajah bundar, dan kulit coklat kehitam-hitaman sambil tersenyum ramah. 

Kamandaka mula-mula agak terkejut dan cemas juga. Jangan-jangan lelaki itu salah seorang prajurit Kadipaten Pasirluhur yang berhasil mengejarnya. Sambil bangkit dan turun dari batu, dijawabnya salam Rekajaya. Setelah melihat sepintas kilas, Kamandaka tahulah bahwa lelaki itu bukan prajurit Kadipaten Pasirluhur yang tengah mencarinya. Mereka berdua pun saling bersalaman.

“Raden, hamba tahu nama Raden. Bila tebakan hamba benar. Maukah Raden mengabulkan permohonan hamba?” tanya Rekajaya.

“Sebenarnya jika tebakanmu benar, tak banyak gunanya, karena itu berarti kamu memang sudah tahu namaku. Tetapi jika tebakanmu salah, tentu saja permintaanmu itu akan sia-sia. Walapun begitu, apa permintaanmu kepadaku?” tanya Kamandaka.

“Nama Raden adalah Kamandaka, putra angkat Patih Kadipaten Pasirluhur,” kata Rekajaya tanpa memberikan jawaban apa yang akan dimintanya kepada Kamandaka, ”Seorang paleka, penjala ikan, dan penyelam hebat pada acara pesta marak di tepi Sungai Logawa beberapa hari lalu. Tetapi tiba-tiba Raden masuk ke Taman Kaputren Sang Dewi pada malam hari, sehingga membuat murka Sang Adipati. Ki Patih, ayah angkat Raden mengerahkan segenap prajuritnya dan berusaha menangkap Raden yang berhasil lolos dari kepungan. Ki Patih memang mendapat tugas berat dari Kanjeng Adipati.”

Kamandaka menatap Rekajaya sekejap. Tapi tak ada tanda-tanda Rekajaya membahayakan dirinya. Wajahnya malah menimbulkan rasa belas kasihan yang mendalam, seakan memang ada sesuatu yang sangat diharapkan dari Kamandaka. Dia kagum juga, lelaki yang baru muncul itu mengetahui siapa dirinya.

“Rekajaya, kau sudah tahu siapa aku. Sekarang aku bertanya apa keinginanmu kepadaku?” tanya Kamandaka, sambil menatap tajam wajah lawan bicaranya.

“Hamba hanya ingin mengabdikan diri hamba kepada Raden,” kata Rekajaya dengan nada penuh harap.

“Mengabdi kepadaku? Engkau tahu aku seorang buron dan kini aku sudah jadi orang miskin, tak punya apa-apa lagi, selain yang menempel pada diriku. Harta bendaku tertinggal di Dalem Kepatihan. Bukankah menurut pandangan umum aku telah mencemarkan nama Kanjeng Adipati dan Rama Patih, karena aku telah masuk tanpa ijin ke Taman Kaputren, pada  malam hari pula?”

“Hamba pun hanya seorang pemancing miskin, Raden. Lagi pula hamba ingin mengabdi pada Raden, bukan ingin mengabdi pada kekayaan, harta, maupun pada kedudukan, Raden.”

“Tetapi aku seorang buron, menurutmu apakah aku bersalah?”

“Menurut hamba, Raden menjadi buron hanya karena dianggap bersalah melanggar adat, tradisi, dan hukum yang berlaku. Tetapi sebenarnya Raden tidak bersalah.”

“Apa alasanmu, Rekajaya?”

“Tidak mungkin Raden bisa masuk Taman Kaputren pada malam hari, jika tidak mendapat persetujuan dan bantuan Sang Dewi.”

“Hem, benar juga kamu Rekajaya. Kalau begitu Dinda Dewikah yang bersalah?”

“Tidak juga, Raden. Menurut hamba tidak ada yang bersalah, baik Raden maupun Sang Dewi. Sudah banyak Adipati yang melamar Sang Dewi. Tetapi Sang Dewi, masih menolaknya. Rupanya Sang Dewi telah menemukan calon suami pilihannya, yaitu Raden. Agaknya Sang Dewi telah menemukan jodohnya, seorang pria pendamping hidup yang dapat diandalkan untuk mengendalikan Kadipaten Pasirluhur, kelak di kemudian hari.”

“Aku kagum kepadamu, Rekajaya. Tetapi apakah menurutmu aku pantas menjadi pendamping Dinda Dewi? Bukankah aku hanyalah seorang anak angkat Ki Patih?” tanya Kamandaka menguji kecerdasan Rekajaya.

“Sangat pantas, Raden.”

“Apa sebabnya?” tanya Kamandaka.

“Sebab hamba tidak percaya, bahwa Raden hanya anak angkat Ki Patih. Hamba pastikan Raden adalah seorang ksatria bangsawan entah dari Keraton mana hamba tidak tahu.”

“Kamu ini aneh juga, Rekajaya. Kamu mengaku tidak tahu tetapi kamu malah menebak aku seorang ksatria berdarah bangsawan. Bagaimana penjelasanmu, Rekajaya?”

“Begini, Raden. Hanya seorang ksatria dengan ilmu tinggi yang bisa keluar dari Gua Surup Lawang Sungai Ciserayu dengan selamat. Ada kepercayaan dari penduduk di sini, barang siapa bisa masuk dan keluar dengan selamat ke dalam Gua Surup Lawang, dia adalah calon penerima wahyu penerus tahta Kadipaten Pasirluhur kelak di kemudian hari,” ujar Rekajaya.

“Hamba menjadi saksi, Radenlah yang berhasil keluar dengan selamat dari Gua Surup Lawang Sungai Ciserayu dengan mudah. Itu berarti Radenlah calon penguasa Kadipaten Pasirluhur di masa depan.”

“Berapa orang yang pernah mencoba masuk ke dalam Gua Surup Lawang Sungai Ciserayu?” tanya Kamandaka.

“Seingat hamba sudah banyak, Raden. Kebanyakan para punggawa yang ingin naik derajatnya, atau mendambakan jabatan adipati bagi dirinya, ataupun keturunannya kelak di kemudian hari. Mereka biasanya mengawali dengan bertapa di atas batu besar ini,” kata Rekajaya sambil menunjuk batu besar yang ada di dekat mereka berdua.

“Dan penduduk pun sering menempatkan sesajian di atas batu itu. Tidak ada seorang pun penduduk di sini yang berani naik dan tiduran di atas batu. Hanya Raden saja yang berani.”

Kamandaka tersenyum mendengar penuturan Rekajaya, lalu berkata, ”Engkau salah lihat, Kakang Rekajaya. Aku tak pernah masuk Goa Surup Lawang. Tetapi sudahlah. Aku sudah lapar, Kakang Rekajaya. Aku tidak lagi punya tempat untuk berteduh.”

Betapa gembira Rekajaya. Kamandaka tidak hanya menerima pengabdian Rekajaya. Tetapi juga menjadikan dirinya sahabat dan saudaranya tuanya. Memang usia Rekajaya terpaut jauh. Dia lebih tua dari Kamandaka. Rekajaya segera membungkukkan badannya hendak bersujud. Tetapi Kamandaka cepat mencegahnya.

“Tidak baik menyembah manusia, Kakang. Aku hanyalah manusia biasa seperti Kakang,”  kata Kamandaka. Dipeluknya Rekajaya, sebagai tanda Kamandaka menganggapnya bukan hanya sekedar sahabat. Mereka berdua adalah saudara yang dipertemukan oleh takdir.

Matahari musim kemarau sudah condong ke arah barat, daun-daun jati kering terbang kian kemari dibawa angin yang bertiup kencang dari arah hulu Sungai Ciserayu. Beberapa daun jati kering melayang-layang melintasi mereka berdua, kemudian jatuh di tengah Sungai Ciserayu yang dengan tenang mengalirkan airnya ke arah hilir menuju Lautan Selatan.

“Jangan khawatir, Raden. Di gubug hamba, masih tersedia nasi yang cukup. Kebetulan hari ini hamba berhasil memancing tiga ekor ikan baceman besar-besar. Cukup untuk lauk santap siang bertiga, yaitu hamba, kakak perempuan hamba, dan Raden.”

“Siapa nama kakak perempuanmu, Kakang Rekajaya?”

“Ah, hanya seorang perempuan setengah baya, hidup terjerat dalam kemiskinan bersama hamba, Raden. Namanya Nyai Kertisara,” jawab Rekajaya, sambil beranjak dari tempatnya. 

Mereka berdua segera berjalan menyusuri pinggir Sungai Ciserayu ke arah timur, sampai tibalah mereka di desa Kaliwedi, desa tempat Rekajaya bersama kakak perempuannya, Nyai Kertisara tinggal di sebuah gubuk tua beratap rumbia, berlantai tanah, berdinding bambu yang sudah reyot, nyaris seperti hampir roboh.[Bersambung]

Selasa, 18 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (17)




Tanah yang membentang di sepanjang lembah-lembah sungai rata-rata subur, sehingga aneka macam tanaman tumbuh di sekitarnya. Di kaki gunung di sepanjang hulu sungai terdapat berbagai jenis batu-batuan, mulai dari batu hitam, batu api, batu mulia, batu bara, sampai berbagai macam hasil tambang seperti tembaga, besi, emas, perak, dan lainnya lagi. Itulah sebabnya Lembah Sungai Sutra berkembang menjadi daerah makmur. Penduduk yang bermukim di situ sudah mampu mengembangkan peradaban maju dengan berporos pada sungai. Mereka sudah pandai mengolah tanah-tanah pertanian untuk menanam padi dan palawija. Mereka pun memiliki keahlian membuat gula dari nira pohon kelapa, pohon aren maupun gula tebu. Bahkan mereka sudah memiliki kepandaian membuat arak dari nira.

Mereka juga terampil membuat alat-alat dari perunggu, besi, dan tembaga. Selain itu mereka mampu membuat saluran irigasi, membuat bendungan, membangun sarana jalan, bangunan tempat tinggal, keraton, dan benteng perlindungan. Sudah tentu mereka pandai pula berenang, menyelam, menangkap ikan, dan pandai membuat berbagai jenis alat penangkap ikan dan alat-alat sarana perhubungan sungai seperti rakit dan aneka macam bentuk perahu. 

Sayang sekali kemakmuran lembah Sungai Sutra itu segera berakhir, karena datangnya suku-suku bangsa penyerbu dari daerah utara yang iri hati melihat kemakmuran penduduk Lembah Sungai Sutra. Suku-suku penakluk datang menyerbu dan menduduki wilayah itu. Mereka membunuh, merampok, dan merampas harta benda yang ada, menguasai, dan menjadikan penduduk setempat sebagai budaknya. Penduduk setempat yang tidak mau menjadi budak, terpaksa melarikan diri mengungsi menyeberang laut selatan untuk menemukan tempat bermukim yang baru. Mereka mengungsi secara bergelombang mencari tanah harapan.

Salah satu dari gelombang pengungsi itu berlayar melewati sisi timur Pulau Emas. Sebagian mendarat di Kutai. Sebagian melanjutkan pelayarannya ke selatan hingga mendarat di pantai tidak jauh dari Gunung Ciremai dari sebuah pulau paling selatan. Pulau paling selatan itu kemudian dikenal sebagai Pulau Jawa. Keturunan mereka kemudian berhasil mendirikan sejumlah kerajaan yang semuanya berporos pada sungai-sungai besar, melanjutkan tradisi kebudayaan leluhur mereka putra-putra Lembah Sungai Sutra. Mereka menamakan dirinya sebagai bangsa Galuh, dari kata Sagaluh atau Sakaluh, yang berarti bangsa dari lembah sungai, yakni Sungai Sutra.

Kerajaan besar yang berhasil didirikan bangsa Galuh antara lain, Kerajaan Taruma Negara di muara Sungai Citarum, Kerajaan Galuh Kawali di hulu Sungai Cimanuk dan Citanduy, Kerajaan Galuh Purba di hulu Sungai Logawa, dan Kerajaan Mataram Hindu di hulu Sungai Ciserayu dan Sungai Bhagalin, lalu Kerajaan Pajajaran di hulu Sungai Ciliwung, demikian kata Sri Baginda Prabu Siliwangi saat itu.

Kisah petualangan dan pengungsian bangsa Galuh dari Lembah Sungai Sutra semacam itu memang sudah sering dikisahkan secara turun-temurun kepada para anak cucu keturunan mereka, terutama di kalangan kerabat dekat keluarga kerajaan. Mungkin semua itu dimaksudkan sebagai pengingat asal-usul dari leluhur mereka yang gagah berani, putra-putra sungai yang pantang menyerah, sekalipun musuh datang silih berganti berusaha untuk menaklukan mereka. Ada memang yang tewas. Ada pula yang takluk menyerah menjadi budak dan dihinakan. Tetapi ada juga yang gigih berjuang mempertahankan harga diri, kehormatan, kebebasan, dan kemerdekaan dengan memilih menjadi petualang dan pengungsi. Mereka tak gentar mengarungi lautan, mencari tanah-tanah pemukiman baru yang menjanjikan harapan lebih baik, ketimbang menjadi bangsa yang diperbudak. Kebebasan dan kemeredekaan memang mahal harganya.

Kerajaan Galuh Purba di hulu Sungai Logawa itu merupakan cabang dari Kerajaan Galuh Kawali. Sayangnya Kerajaan Galuh Purba pada suatu masa berhasil ditaklukan kerajaan di sebelah timurnya, yakni kerajaan yang merupakan cabang dari Kerajaan Kalingga di lereng utara Pegunungan Dieng. Kerajaan ini merupakan kerajaan penyembah Dewa Matahari. Mereka mengincar Lembah Sungai Logawa yang subur itu. Maka segera diserbunya Kerajaan Galuh Purba. Akhirnya setelah melalui pertempuran yang hebat, terpaksa penguasa Kerajaan Galuh Purba meninggalkan Lembah Logawa. Mereka mengungsi ke barat mencari perlindungan kepada saudaranya di Kerajaan Galuh Kawali. 

Di atas reruntuhan Kerajaan Galuh Purba para penyerbu kemudian mendirikan pusat penyembahan kepada Dewa Matahari yang diberi nama Goromanik. Goro artinya gembung, yakni tubuh Dewa Rahu yang telah kehilangan kepalanya. Sedang manik berarti air suci. Jadi arti Goromanik sebenarnya adalah gunung suci yang dipercaya berasal dari gembung Dewa Rahu, raksasa yang ingin memiliki kesaktian seperti para dewa. Para penyembah Matahari itulah yang menganggap Gunung Goromanik merupakan gunung suci.

Sejak itu nama Gunung Agung diganti menjadi Gunung Goromanik. Penduduk sekitarnya, memendekkannya dan menyebutnya sebagai Gunung Goro. Akhirnya menjadi Gunung Gora yang sebenarnya berarti gembung atau tubuh tanpa kepala dari Sang Rahu yang jatuh kepermukaan bumi karena kepalanya lepas dipanah Dewa Wisnu. Dewa Rahu sempat meminum air suci yang dicurinya, maka kepala Sang Rahu masih tetap hidup melayang-layang di angkasa dengan membawa dendam kesumat kepada Dewa Matahari yang memberitahu Dewa Wisnu pada saat Sang Rahu sedang enak-enaknya meminum air suci yang berhasil dicurinya. Namun para penguasa Kerajaan Galuh dan Pajajaran tetap memberi nama gunung terbesar di Pulau Sunda atau Pula Jawa itu Gunung Agung. Kemudian Senna, cucu Maharaja Wretikandayun, akhirnya berhasil mengambil alih kembali Lembah Sungai Logawa yang subur itu dan mengusir para pemuja Dewa Matahari.

Maharaja Wretikandayun, kakek Senna adalah penguasa dan pendiri Kerajaan Galuh Kawali. Senna naik tahta Kerajaan Galuh Kawali menggantikan ayahnya Amara yang mendapat julukan Mandiminyak, karena wajahnya yang tampan dan kulitnya yang kekuning-kuningan bercahaya. Sayangnya Senna digulingkan oleh Purbasora, putra paman Senna, Sampakwaja. Sampakwaja dan Mandiminyak adalah kakak beradik putra Maharaja Wretikandayun. Senna melarikan diri ke timur sampai ke lembah Sungai Bhagalin. Dari sana muncul Rake Sanjaya, putra Senna yang berhasil membangun Kerajaan Mataram yang menganut agama Syiwa. Kerajaan Mataram Hindu ini didirikan di hulu Sungai Ciserayu, di sisi selatan Gunung Dieng. 

Rake Sanjaya, Putra Senna segera memperlihatkan keperkasaannya. Dia bisa menguasai Kerajaan Kalingga yang berada di sisi timur Sungai Bhagalin. Bahkan Kerajaan Galuh Kawali yang saat itu dikuasai oleh Purbasora, berhasil ditaklukan. Setelah Rake Sanjaya berhasil menguasai kembali kerajaan warisan ayahnya itu, dia segera menyatukan wilayah Kerajaan Galuh di sebelah barat Sungai Bhagalin dengan wilayah Kerajaan Kalingga di sisi timur Sungai Bhagalin. 

Kekuasaan Rake Sanjaya dengan Kerajaan Mataramnya, bukan hanya dari ujung barat sampai ujung timur pulau ini. Rake Sanjaya, juga berkuasa atas kerajaan-kerajaan di dua pulau besar lainnya, yakni Borneo dan Andalas. Maka Dia mendapat gelar Maharaja. Karena Maharaja Rake Sanjaya adalah putra Galuh, dia menyebut pulau ini sebagai Pulau Sunda. Para pedagang dari India, China, Arab, Romawi, juga menyebut pulau ini sebagai Pulau Sunda. Bersama pulau Andalas dan Borneo, disebutnya sebagai Kepulauan Sunda Besar. 

“Tahukah kalian apa arti kata Sunda?” tanya Sang Baginda Prabu Siliwangi ketika itu kepada keempat putranya yang duduk mengelilinginya. Keempat putranya itu semuanya menggelengkan kepala. 

“Sunda itu berasal dari kata sindai yang berarti emas. Pulau Sunda artinya Pulau Emas. Memang di bagian barat Pulau Sunda ini banyak sekali menghasilkan emas, terutama di hulu Sungai Ciliwung dan hulu Sungai Cisadane. Itulah salah satu pertimbangan kenapa kakekmu dulu, Rahyang Dewa Niskala memindahkan pusat Kerajaan Galuh dari Kawali ke Pakuan Pajajaran yang berada di hulu Sungai Ciliwung, tidak jauh dari kaki Gunung Gede dan Gunung Salak yang subur itu,” jelas Sang Raja Baginda Prabu Siliwangi.

Kerajaan Kalingga yang berhasil dikuasai Maharaja Rake Sanjaya itu, sebenarnya didirikan juga oleh para pengungsi gelombang susulan yang datang dari Lembah Sungai Sutra. Oleh karena itu mereka kadang-kadang disebut bangsa Galuh Lor atau Galuh Utara. Hanya saja kepercayaan mereka berbeda. Mereka menyembah Dewa Wisnu sedang Kerajaan Galuh Purba dan Galuh Kawali menyembah Dewa Syiwa. 

Sang Maharaja Rake Sanjaya juga mendapat gelar Sang Maha Resi dan Sang Maha Yogi, karena dialah yang menggagas adanya toleransi dan kebebasan beragama di antara agama-agama di wilayah kekuasaannya. Agama Hindu Syiwa adalah agama resmi Kerajaan Mataram Hindu. Tetapi agama lainnya seperti agama Hindu Wisnu atau Waisnawa dan agama Buddha dibiarkannya hidup dan berkembang. Sayang dua abad setelah Maharaja Rake Sanjaya mangkat, kerajaannya kembali terpecah-pecah. Di sisi barat Sungai Bhagalin, kembali berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh Kawali. Sedangkan wilayah di sisi timur Sungai Bhagalin, kembali dikuasai para raja yang menganut agama Buddha dan Waisnawa. Mereka adalah para keturunan Dinasti Syailendra yang leluhurnya berasal dari Palembang dengan dinasti raja-raja dari Galuh Lor. Sebelum mendarat sebagai pengungsi di pulau ini, ada sebagian dari bangsa Galuh Lor yang  mendarat lebih dulu di muara Sungai Musi. Mereka lalu melanjutkan perjalannya ke arah tenggara. Akhirnya mereka mendarat di muara sungai Lampir yang berhulu di kaki Gunung Perahu. 

“Keturunan mereka itulah yang kelak dikenal oleh para pedagang dari luar Nusantara ini sebagai Bangsa Jawa. Mereka berhasil mendirikan kerajaan-kerajaan besar juga. Antara lain Kerajaan Wangsa Isyana yang didirikan Dharmawangsa, Kerajaan Kahuripan di bawah Erlangga yang menyembah Dewa Wisnu, dan Kerajaan Kediri yang juga menyembah Wisnu. Kemudian Kerajaan Singasari yang menyembah Dewa Syiwa tetapi mengakui agama Buddha Tantrayana. Akhirnya Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu aliran Syiwa-Budha Tantrayana,” kata Sri Baginda saat itu kepada keempat putranya. Semua penjelasan ayahnya itu masih diingat dengan baik oleh Kamandaka.

“Kini Majapahit sudah runtuh dan muncul dua kerajaan baru yang saling bersaing. Pertama Kerajaan Hindu Kediri yang merupakan penerus Kerajaan Majapahit di Trowulan yang telah runtuh. Kerajaan Hindu Kediri ini, seperti halnya Majapahit, beragama Hindu aliran Syiwa-Buddha Tantrayana. Rajanya bernama Ranawijaya, keturunan terakhir Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Ranawijaya ini dikenal oleh rakyatnya sebagai Raja Brawijaya terakhir atau Raja Brawijaya VII,” kata Sri Baginda saat itu.

“Kerajaan kedua yang muncul setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit di Trowulan adalah Kerajaan Demak yang berdiri dekat pantai utara, tidak jauh dari Gunung Muria,” lanjut Sri Baginda. “Kerajaan Demak ini menganut agama Islam. Jika agama Hindu dan Buddha berasal dari tanah India atau Hindustan, maka agama Islam berasal dari tanah Jazirah Arab. Baik Kerajaan Islam Demak maupun Kerajaan Hindu Kediri, mereka saling bersaing memperebutkan wilayah-wilayah peninggalan Kerajaan Majapahit yang telah runtuh.  Perebutan pengaruh dan wilayah antara kedua kerajaan itu melebar sampai masuk ke wilayah Lembah Ciserayu yang berada di sisi barat Sungai Bhagalin.” 

“Kadipaten Pasirluhur adalah kadipaten yang sempat dibangun kembali oleh Kerajaan Galuh Kawali setelah kerajaan peninggalan Maharaja Rake Sanjaya itu pecah. Kini Kadipaten Pasirluhur menjadi satu-satunya ujung tombak untuk menghadapi ekspansi perluasan wilayah dua kerajaan yang saling bersaing, yakni Kerajaan Islam Demak dan Kerajaan Hindu Kediri,” ujar Sri Baginda Prabu Siliwangi mengakhiri ceriteranya. Kamandaka segera tersadar dari mengingat kisah yang diceriterakan ayahandanya itu, ketika dalam perjalanannya menyelusuri lorong rahasia bawah tanah, tiba-tiba dia sampai di ujung lorong yang semakin menyempit. Akhirnya Kamandaka melihat sebuah sungai.

“Sungai apakah itu?” tanya Kamandaka sambil menduga-duga. ”Sungai Ciserayukah? Tidak mungkin. Sungai Ciserayu harus lebih besar dari Sungai Logawa.” 

Dugaan Kamandaka ternyata benar. Sungai itu bukan Sungai Ciserayu. Sungai itu adalah sungai Banjaran yang bermuara di Sungai Logawa. Kamandaka segera meloncat terjun ke dalamnya meninggalkan mulut lorong rahasia. Dari sana Kamandaka terus berenang ke muara Sungai Banjaran yang membawanya tiba kembali di Sungai Logawa. 

“Tidak lama lagi pasti Sungai Logawa ini akan berakhir di Sungai Ciserayu,” kata Kamandaka di dalam hati. Dia melihat sinar matahari di atasnya. Tampak bayangan dirinya sendiri bergoyang-goyang di dalam air sungai yang jernih itu. Kamandaka membiarkan dirinya hanyut terbawa aliran air ke arah hilir. Sebagai seorang perenang hebat, baginya bukan persoalan sulit berenang dengan gaya punggung mengikuti aliran sungai, sampai akhirnya tiba di muara Sungai Logawa. Kamandaka segera menepi. Dia telah tiba di tepi sungai besar.

“Inilah dia Sungai Ciserayu. Sungai terpanjang di Jawa yang mengalir ke lautan paling selatan, Lautan Nusantara,” kata Kamandaka sangat yakin dengan pendapatnya. Dengan mudah Kamandaka berjalan ke arah timur dan sampailah di tempat terbuka.

Dipandangnya air Sungai Ciserayu yang mengalir tak beriak di depannya. Pada saat menatap sungai yang lebar, besar, dan panjang dengan struktur tebing-tebingnya yang tampak kokoh dan kuat, Kamandaka segera ingat kepada Maharaja Rake Sanjaya. Dialah Sang Putra Sungai yang membangun Kerajaan Mataram Hindu, di hulu Sungai Ciserayu yang airnya tak kenal lelah menyusuri jalan panjang menuju lautan besar, pikir Kamandaka.

Setelah puas mengagumi kebesaran Sang Putra Sungai Rake Sanjaya dan Sungai Ciserayu, Kamandaka menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dilihatnya sebuah batu besar menggeletak bagaikan seekor anak kerbau sedang tiduran berjemur di bawah terik panas matahari. Kamandaka mendekatinya, dengan mudah dia meloncat naik ke atas batu besar itu, lalu merebahkan dirinya sambil mengeringkan baju dan tubuhnya yang basah kuyup.

Ketika Kamandaka memandang ke atas, dilihatnya mega-mega putih seperti gumpalan kapas, bergerak berarak-arakan melayari langit biru. Aroma batang rumpun bambu yang tumbuh di pinggir sungai saling bergesekan ditiup angin, menyebar kian kemari terbawa angin gunung.

“Terima kasih wahai Yang Maha Kuasa, Engkau telah menyelamatkan diri hamba-Mu ini,” kata Kamandaka dalam hati.[bersambung]

Senin, 17 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (16)





Ketika hari beranjak siang, seperti biasa, Kamandaka turun ke sungai yang bening airnya   untuk mandi pagi. Bajunya diletakkan di atas batu, dan dia beberapa kali menyelam lalu menggosok-gosok tubuhnya dengan daun dilem yang harum segar mewangi. Kamandaka yakin benar bahwa keadaan sekeliling sangat sepi, apalagi hari masih pagi, sehingga tak mungkin ada orang yang akan melihatnya. Tetapi, di balik pohon yang rimbun, di tebing sebelah barat, tanpa disadari Kamandaka sudah sejak kemarin ada sepasang mata melakukan pengintaian. Gerak-gerik Kamandaka terus diawasi, sampai Kamandaka selesai mandi lalu kembali naik ke tebing sebelah timur dan kembali masuk ke tempat persembunyiannya. Yakni sebuah lubang di bawah pohon trengguli  besar yang tidak mudah dikenali orang. 

Ki Wiradhustha, lelaki yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon di sisi barat tebing itu tersenyum puas. Dia adalah salah satu dari prajurit Kadipaten Pasirluhur yang mendapat perintah dari Ki Patih Reksanata untuk mencari tempat persembunyian Kamandaka. Dia segera meninggalkan tempat pengintaian itu, bergegas akan melaporkan hasilnya kepada Kanjeng Adipati dan Ki Patih Reksanata. Dia tahu, bahwa mereka pastilah masih rapat di pendapa Kadipaten. Maka ke sanalah dia cepat-cepat melangkah untuk melaporkan hasilnya.
***
Kanjeng Adipati Kandhadaha sudah tiga hari berturut-turut memimpin pertemuan di Pendapa Kadipaten dihadiri Ki Patih Reksanata serta seluruh aparat dan punggawa Kadipaten. Wajah Kanjeng Adipati masih menyimpan murka dan amarah atas perilaku anak angkat Ki Patih Reksanata yang bernama Kamandaka. Apalagi sudah dua hari seluruh prajurit bahkan seluruh penduduk dikerahkan untuk melakukan pencarian tempat persembunyian Kamandaka. Tetapi hasilnya sampai hari itu belum ada. Kanjeng Adipati sudah mengancam Ki Patih Reksanata. Jika sampai hari ketiga, tempat persembunyian Kamandaka belum juga ditemukan, Sang Adipati akan memecat Ki Patih Reksanata. 

“Bagaimana Ki Patih, apakah anak angkatmu sudah kau temukan?” tanya Kanjeng Adipati pada Ki Patih Reksanata. Ki Patih  duduk tertunduk karena perasaan sedih dan malu atas kelakuan anak angkatnya yang sangat tidak senonoh itu.

“Ki Patih sudah menyebar puluhan prajurit untuk mencari tempat persembunyian Kamandaka, tapi sampai hari ini belum ada laporan yang menggembirakan, Kanjeng Adipati,” jawab Ki Patih Reksanata setelah lama terdiam.

“Ingat, hari ini hari terakhir. Jika belum juga ketemu, kamu aku pecat sebagai patih. Mengerti?”

Ki Patih Reksanata tidak menjawab. Tetapi kepalanya mengangguk pertanda dia mengaku salah dan siap menerima risikonya. Kesalahan terbesar yang dituduhkan kepadanya, sebagai ayah angkat, Ki Patih Reksanata dianggap tidak mampu memberikan pendidikan yang baik kepada anak angkatnya itu. Ki Patih sendiri menyesalkan kelakuan anak angkatnya yang memalukan, yang telah melanggar adat serta undang-undang yang berlaku. Apalagi dalam sesumbarnya, Kamandaka dengan bangga menyebutkan bahwa dirinya adalah anak angkat Ki Patih Reksanata. Padahal andai kata anak angkatnya itu berterus terang ingin punya istri, niscaya Ki Patih Reksanata akan mencarikannya. 

“Ingat juga Ki Patih, jika engkau ketahuan menyembunyikan anak angkatmu, engkau pun bukan hanya kupecat. Tetapi engkau juga akan dipidana mati, seperti anak angkatmu itu. Aku sebenarnya kagum juga kepada kedigdayaan anak angkatmu. Pada waktu pesta marak, dia menjadi bintang dengan segudang keterampilan yang mengagumkan. Ternyata dia juga menguasai seni beladiri tingkat tinggi. Bayangkan, dikepung dua puluh prajurit, dia bisa lolos. Malah prajurit pengepung, lima orang menderita luka parah, tiga orang tewas. Bukankah itu suatu bukti anak angkatmu itu sebenarnya seorang  pria semuda itu sudah  memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi? Sayang sekali, dia tidak memiliki budi pekerti luhur. Apakah dia tidak tahu, mendatangi dan bermain asmara dengan gadis sedang dipingit itu suatu perbuatan memalukan, terkutuk, dimurkai para Dewa, dan hukumannya sangat berat, yakni pidana mati?”

Semua yang hadir di pendapa itu diam bagaikan orong-orong terinjak, tak terdengar suara berisik sedikit pun. Suara yang terdengar hanyalah suara Kanjeng Adipati. Bukan hanya pengarahan yang disampaikan, tetapi juga ancaman kepada mereka yang melanggar adat dan undang-undang yang berlaku. Sisa-sisa amarah Kanjeng Adipati masih dirasakan mereka semua yang hadir di pendapa ketika datang Ki Wiradhustha menghadap Kanjeng Adipati. Dia segera melaporkan hasil temuannya. Sebuah laporan yang membuat Kanjeng Adipati merasa senang.

“Si Macan muda itu, Kanjeng Adipati, sudah hamba temukan tempat persembunyiannya. Di bawah sebuah pohon trengguli besar, di hulu Sungai Logawa ke arah utara. Memang tempatnya sangat tersembunyi. Hamba melihatnya tadi pagi waktu dia turun mandi ke Sungai Logawa. Sekarang sejumlah teman hamba terus mengawasi tempat itu agar jangan sampai dia lolos,” kata Ki Wiradhustha. “Sebaiknya cepat dilakukan pengepungan dan penangkapan, Kanjeng Adipati. Sebab bila tidak, hamba khawatir Si Macan muda pindah dari tempat itu dan menghilang lagi, sehingga akan semakin sulit untuk menangkapnya,” ujar Ki Wiradhustha. Tentu saja laporan itu membuat Kanjeng Adipati berbinar-binar karena senang. Demikian pula mereka semua yang hadir di pendapa, tak terkecuali Ki Patih Reksanata. 

“Untunglah Kamandaka bersembunyi di tepi hutan di pinggir Sungai Logawa. Hilanglah kecurigaan padaku. Terbukti aku tidak menyembunyikannya. Coba kalau Kamandaka ditemukan sembunyi di Kepatihan. Pastilah aku akan terseret-seret juga,” ujar Ki Patih Reksanata di dalam hatinya. Tetapi Ki Patih Reksanata merasa sedih juga. Dia tidak sampai hati bila anak angkat yang amat disayanginya itu, harus menjalani pidana mati. 

“Baiklah kalau begitu. Ki Patih, engkau sudah dengar sendiri laporan anak buahmu. Sekarang silahkan engkau pimpin operasi penangkapan Si Macan Muda, hidup atau mati. Gunakan seluruh kekuatan yang ada. Libatkan penduduk Kadipaten Pasirluhur sebanyak mungkin.” Kanjeng Adipati cepat-cepat menutup pertemuan setelah menugaskan Ki Patih Reksanata melakukan operasi penangkapan Si Macan muda yang tidak lain adalah Kamandaka, anak angkat kesayangan Ki Patih Reksanata sendiri. 

Siang hari ketika matahari hampir mencapai puncak kubah langit, pohon trengguli tempat persembunyian Kamandaka sudah dikepung prajurit Kadipaten Pasirluhur. Jumlah prajurit pengepung mencapai ratusan. Mereka juga dibantu penduduk yang penasaran hendak ikut menangkap anak angkat Ki Patih Reksanata. Dikepunglah pohon trengguli itu dari segala penjuru. Ada yang mengepung dari sisi utara, dari sisi selatan dan dari sisi seberang sungai sebelah barat. Pokoknya setiap celah yang memberikan jalan untuk lolos, ditutup rapat-rapat. Kamandaka baru menyadari bahwa dirinya dikepung ratusan prajurit itu, setelah mendengar teriakan riuh rendah dari para prajurit pengepungnya yang meminta agar Kamandaka lebih baik menyerahkan diri secara suka rela. Karena tak ada jawaban dari Kamandaka, maka tempat itu segera dihujani dengan berbagai macam jenis senjata, mulai dari tombak, panah, bahkan batu. Semuanya dilemparkan ke tempat Kamandaka bersembunyi. Para prajurit pengepung itu bahkan mengancam akan segera membakar tempat persembunyian itu, apabila Kamandaka tidak mau menyerah.

Bagi Kamandaka sebenarnya hanya ada dua jalan. Melawan mereka yang jumlahnya ratusan atau menyelamatkan diri. Jalan untuk menyelamatkan diri pun ada dua. Masuk ke hutan di sebelah timur laut atau terjun ke dalam Sungai Logawa yang ada di depannya. Kamandaka masih terus berpikir keras untuk memilih jalan mana yang terbaik. Sementara itu hujan batu, anak panah dan tombak seperti datangnya hujan yang tak henti-hentinya. Para pengepung dari sisi utara dan sisi selatan pun sudah mulai mendekat. Jika Kamandaka melawan mereka yang jumlahnya ratusan itu, walaupun Kamandaka mampu, tetapi korban akan banyak sekali berjatuhan. Lagi pula tenaga Kamandaka pun lama-lama akan terkuras habis. Jika masuk hutan, pengepungan pastilah akan dilakukan terus-menerus dan bisa berlangsung berbulan-bulan. 

“Hanya loncat ke dalam sungai dan bersembunyi di dalam ceruk besar di selatan kedung itulah cara paling aman. Leluhurku keturunan bangsa Galuh. Luh berarti sungai, air yang mengalir dari sebuah mata air. Bangsa Galuh adalah bangsa yang berperadaban sungai. Sungai adalah Ibu leluhurku. Wahai Sungai Logawa, Ibu leluhurku, selamatkan diriku ini!” ujar Kamandaka di dalam hati.

Tepat saat matahari mencapai puncak kulminasinya dan ketika terik matahari sedang kuat-kuatnya memanggang lereng Gunung Agung dan Lembah Sungai Logawa, Kamandaka membuat loncatan sangat indah. Dia meloncat terjun ke dalam Sungai Logawa, disaksikan ratusan pasang mata prajurit pengepung. Tubuh Kamandaka segera lenyap di dasar Sungai Logawa dan tak pernah lagi muncul ke permukaan. Dia kini berada dalam pelukan Sang Ibu.

Para prajurit menunggu-nunggu kemunculan Kamandaka dari tengah hari sampai matahari hampir terbenam. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga. Padahal para prajurit sudah disebar di kiri kanan sungai sampai jauh ke arah hilir. Akhirnya para prajurit itu berkesimpulan Kamandaka pastilah sudah mati terbenam di dasar Sungai Logawa. Mana mungkin ada manusia kuat menyelam sampai hampir setengah hari? Yang paling mungkin, demikian mereka berpikir, Kamandaka pastilah dibawa Menyangga, hantu Sungai Logawa, yang jahil, tetapi cantik. 

Penduduk yang lain lagi berpikiran Kamandaka telah diminta menjadi tumbal Sungai Logawa. Dengan tumbal itu, Sungai Logawa akan bermurah hati memberikan kemakmuran kepada penduduk. Ikan Sungai Logawa akan semakin berlimpah ruah. Sungai Logawa akan menjadi jinak, tidak pernah liar, tidak pernah banjir.

“Terima kasih Raden. Engkau telah merelakan dirimu menjadi tumbal Sungai Logawa. Engkau telah berkorban demi kebahagiaan kita semua!” demikian berkecamuk sejumlah pikiran dalam benak sebagian penduduk Kadipaten Pasirluhur. 

Ki Patih Reksanata hanya pasrah setelah menerima laporan dari para prajurit komandan lapangan yang ditugasi memimpin operasi penangkapan Kamandaka. Dalam hati dia tetap berharap anak angkatnya itu selamat. Sebaliknya Kanjeng Adipati Kandhadaha, dia menerima laporan hasil penangkapan Si Macan Muda itu dengan wajah dingin. Sedangkan Sang Dewi menyikapi berita hasil pengejaran Kamandaka dengan sikap penuh harap, semoga Sungai Logawa menyelamatkannya. 

Ketika Kamandaka terjun ke tengah-tengah Sungai Logawa, dia sadar bahwa dirinya sedang diikuti ratusan pasang mata prajurit Kadipaten Pasirluhur yang sedang mengepungnya. Dia mencoba mengelabui prajurit yang hendak menangkapnya yang sebagian besar berdiri berderet di bibir sungai. Tapi mereka yang berjaga-jaga di tebing barat sungai, jumlahnya tidak sebanyak prajurit yang menunggu di tebing timur. Dengan menyelam seolah-olah Kamandaka akan muncul di sisi tebing barat, pastilah seluruh perhatian prajurit yang penasaran hendak menangkapnya, akan terpusat pada sisi aliran sungai yang searah dengan matahari terbenam. Padahal di dalam air, Kamandaka segera mengubah arah. Dia menyelam ke arah hilir dasar tebing sungai arah matahari terbit. 

Matahari sudah tergelincir sedikit ke barat dari puncak kulminasinya. Kamandaka terus menyelam, dengan cepat mencapai dasar tebing sungai sebelah timur, menyusuri aliran Sungai Logawa ke arah hilir menuju selatan. Sesekali wajahnya muncul ke permukaan sekedar untuk mengambil udara. Akhirnya Kamandaka menemukan ceruk dalam pada dinding tebing di dasar sungai. Ceruk itu sudah dikenalnya menjelang pesta marak beberapa waktu yang lalu. Berbeda dengan ceruk-ceruk di tebing barat, ceruk di tebing timur itu cukup besar, sehingga dengan mudah Kamandaka bisa masuk ke dalamnya.

Ternyata ceruk itu luar biasa besarnya. Kamandaka muncul di permukaan semacam telaga kecil di bawah tanah dengan atap melengkung berbentuk kubah. Di salah satu dinding kubah batu cadas berwarna hitam kehijau-hijaun terdapat lorong cukup besar. Dengan tidak banyak kesulitan, Kamandaka naik masuk ke dalam mulut lorong, kemudian merangkak beberapa lama, sampai akhirnya tiba di sebuah lorong yang panjang di dalam tanah. Sebagai seorang ksatria putra Raja Pajajaran, tentu saja dia segera tahu bahwa lorong di dalam tanah yang cukup panjang itu adalah sebuah lorong rahasia. 

“Lorong rahasia sengaja dibuat untuk menyelamatkan diri. Hanya bangsa Galuh yang mempunyai tradisi membangun kerajaan di tepi sungai lengkap dengan lorong rahasia untuk menyelamatkan diri jika Keraton diserang musuh yang tak dapat dilawannya,” pikir Kamandaka. Kini Kamandaka telah berada di bagian lorong cukup besar, sehingga dia bisa berjalan maju menyelusuri lorong dengan lantai berlapis batu yang telah lama memadat.

“Bisa jadi tak ada seorang pun Adipati Pasirluhur yang tahu adanya lorong rahasia ini. Lorong rahasia ini, dapat dipastikan peninggalan Kerajaan Galuh Purba beberapa abad lalu. Ayahanda betul. Dia pernah berceritera tentang Kerajaan Sunda Galuh Purba yang memang pernah mendirikan sebuah kerajaan di lereng selatan Gunung Agung,” ujar Kamandaka. Dia terus berjalan menyusuri lorong untuk menemukan ujung lorong kuno itu. Sambil terus melangkah menyusuri lorong, Kamandaka merasa sedang napak tilas lorong peninggalan leluhurnya. Ada perasaan bangga dalam dirinya, karena tidak setiap ksatria Pajajaran mendapat kesempatan langka itu. Ceritera ayahnya, Prabu Siliwangi, tentang bangsa Galuh, bangsa yang berporos kehidupan di sekitar sungai-sungai besar itu, tiba-tiba kembali diingatnya.

“Tanah air leluhur bangsa Galuh itu berada di seberang lautan di daratan Asia sana,“ kata ayahnya, Sang Prabu Siliwangi pada suatu kesempatan berkumpul dan berbincang-bincang dengan dirinya dan ketiga adiknya, Banyakngampar, Banyakbelabur, dan Ratna Pamekas. 

Leluhur bangsa Galuh itu pada mulanya bermukim di Lembah Sungai Sutra yang subur di daerah Funan, Cochin-China. Lembah Sungai Sutra yang terletak di sebelah timur Lembah Sungai Gangga itu, sebenarnya merupakan suatu lembah subur karena di situ mengalir banyak sungai, seperti Menam, Mekhong dan lainnya lagi. Pada masa itu, penduduk yang bermukim di sekitarnya sudah memiliki peradaban tinggi berbasis sungai. Karena itu mereka menamakan dirinya sebagai putra-putra sungai. Mereka menganggapnya sebagai keturunan Dewa Penguasa Gunung dengan Dewi Bidadari Penguasa Sungai. Karena itu pandangan hidup mereka sangat memuliakan dan mensucikan gunung dan sungai. Gunung dipandangnya sebagai kekuasaan ayah dan sungai sebagai lambang kasih sayang seorang ibu.

Di hulu-hulu sungai yang merupakan pertemuan antara gunung dan sungai, dibangunlah tempat-tempat pemukiman dan pusat-pusat pemerintahan atau kerajaan. Sebab tempat itu dipandang sebagai lambang cinta kasih Dewa Penguasa Gunung dan Dewi Bidadari Penguasa Sungai yang telah melahirkan anak-anak mereka yaitu para putra-putri sungai. Pasangan Gunung-Sungai itu juga telah menganugerahkan kekayaan alam di sekitarnya, yang dapat digunakan untuk menopang kehidupan para putra-putri sungai itu.[Bersambung]