Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Minggu, 28 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (05)





“Terima kasih Kanda Kamandaka dan Ayunda Dewi, atas pujiannya,” kata Arya Baribin.
“Kalau konsep ketuhanan dalam seni pentas wayang kulit menurut persepsi agama Hindu-Buddha, bisa adinda jelaskan, Ayunda Dewi. Tetapi kalau menurut persepsi agama Islam, adinda sendiri masih dalam taraf mempelajari dan mendiskusikannya dengan Syekh Makhdum Maghribi yang sudah pernah bertukar pikiran, pada waktu Syekh Makhdum Maghribi mengunjungi Kademangan Kejawar beberapa waktu lalu.”
“Kalau begitu mumpung masih ada waktu, silahkan Dimas Arya Baribin menjelaskan bagaimana konsep ketuhanan yang ada dalam pentas wayang kulit menurut persepsi agama Hindu-Buddha” kata Kamandaka kepada Arya Baribin yang mendapat dukungan dari semua yang hadir.
“Baiklah Kanda Kamandaka dan Ayunda Dewi.Tetapi dinda mohon ijin minum teh dulu,” kata Arya Baribin sambil meraih cangkir berisi teh manis yang ada di depannya. Ratna Pamekas yang dari tadi menyimak dengan tekun uraian kekasihnya itu, cepat-cepat meraih cangkir teh yang ada di depannya kemudian diserahkan kepada Arya Beribin.
“Terima kasih, Dinda Ratna,” kata Arya Baribin sambil menerima cangkir berisi the manis yang hangat dan segar, lalu meminumnya. Ratna Pamekas ikut minum teh diikuti kakak-kakaknya yang lain.

“Berbeda dengan pentas wayang beber, pentas wayang kulit sebenarnya sangat mengandalkan pada bayangan yang ditimbulkan pada layar yang terbentuk karena adanya sinar lampu yang disebut blencong. Itulah sebabnya gambar tokoh-tokoh dalam lembaran kulit itu harus ditatah, agar terbentuk bayangan gambar wayang yang harus bisa dilihat dari balik layar.
“Panggung untuk pementasan wayang kulit tidak jauh berbeda dengan panggung untuk pementasan wayang beber. Ki Dalang, sinden dan niyaga duduk di atas pangggung yang ada di depan layar. Gamelan pengiring pentas wayang kulit pun tidak jauh berbeda dengan wayang beber. Bedanya hanya pada posisi dalang dan penonton. Ki Dalang dalam wayang kulit, tidak seperti Ki Dalang dalam wayang beber yang duduknya membelakangi layar.
“Ki Dalang dalam pementasan wayang kulit menghadap layar. Lembaran kulit yang berisi sejumlah tokoh wayang ditampilkan di layar atau kelir dengan menggunakan penjepit yang dibuat dari tanduk kerbau dan ditancapkan di atas pelepah pisang yang berfungsi sebagai dasar layar atau kelir”
Sang Dewi dan suaminya Kamandaka serta pendengar lainnya dengan sabar, penuh perhatian, dan menyimak apa yang dikatakan Arya Baribin. Pengetahuan Arya Baribin yang luas dan mendalam soal sejarah dan filsafat wayang sangat menarik bagi mereka. Semua keterangan dari Arya Baribin mereka pandang sebagai bekal berharga untuk bisa memahami dengan lebih baik pentas wayang beber yang nanti malam akan ditontonnya.
“Penonton pementasan wayang kulit ada dua. Pertama adalah orang yang punya hajat dan keluarganya selaku penanggap. Mereka harus menonton wayang kulit dari belakang layar. Kedua adalah penonton lain yang menonton pementasan wayang kulit dari depan layar. Penonton di belakang layar, hanya bisa melihat bayangan gambar wayang yang terbentuk pada layar. Mereka tidak dapat melihat Ki Dalang, gambar wayang asli, niyaga dan pesindennya. Mereka hanya dapat melihat gambar dan mendengarkan suara Ki Dalang, gamelan dan nyanyian pesinden dari balik layar.
“Itu sebabnya gambar wayang kulit harus ditatah, disungging dan diukir, agar bisa membentuk bayangan pada layar. Gambaran yang dilihat oleh penonton yang ada di belakang layar itu adalah gambaran dunia di alam keabadian, dunia non materi, dunia ruh, dunia para dewa, alam kahyangan, atau nirwana.
“Kedua adalah penonton yang ada di depan layar. Mereka lebih bebas dan lebih leluasa melihat secara langsung gambar wayang yang terpampang di atas layar yang sedang dimainkan Ki Dalang, niyaga, sinden, dan aneka ragam gamelan pengiring. Gambaran yang dilihat oleh penonton yang ada di depan layar itu adalah gambaran dunia nyata, dunia materi, dunia tempat kita hidup sekarang ini. Suatu dunia yang tidak kekal, maya, dan sementara.
“Demkianlah pentas wayang kulit menghasilkan simbol dua dunia, yakni dunia kekal dan abadi yang dilihat secara simbolik oleh orang-orang yang menonton wayang kulit dari balik layar. Dan dunia maya, yang bersifat tidak kekal dan sementara yang secara simbolik dilihat oleh orang-orang yang menonton dari depan layar.
“Adanya dua dunia dalam pentas wayang kulit itu, sejalan dengan konsep ketuhanan dalam agama Hindu dan Buddha yang disebut dengan Vedanta. Pandangan hidup Vedanta mengajarakan bahwa hidup di dunia ini hanyalah maya belaka. Oleh karena itu hidup di dunia ini dipenuh dengan perasaan sedih, duka cita, nestapa, derita, sengsara dan sejumlah penderitaan lainnya yang disebutnya sebagai samsara. Hidup di dunia adalah hidup di alam materi, alam benda, alam jasmani, alam kasar, alam tampak, alam yang menyebabkan orang bisa sakit, menjadi tua dan akhirnya mati. Adapun hidup kekal dan abadi bukanlah kehidupan di dunia ini. Kehidupan kekal dan abadi adalah kehidupan di alam tempat ruh meninggalakn dunia ini, yakni alam sangkan paran. Alam dari mana ruh berasal dan ruh akan kembali. Itulah nirwana, alam tanpa penderitaan.”
“Bayangan wayang di dalam layar itu menggambarkan atman atau jiwa manusia yang terperangkap oleh dunia benda serba materi. Atman itu sebelum terperangkap oleh dunia materi, berasal dari brahman yang hidup di dunia ruhani, alam kahyangan, alam para dewa, alam sangkan paran, alam yang kekal dan abadi yang disebut nirwana.
“Demikianlah filosofi wayang kulit secara mendalam mengandung konsep Vedanta dan Sangkan Paran atau asal muasal jiwa manusia sebagai atman yang selalu rindu untuk pulang kembali bersatu dengan brahman di dalam nirwana. Proses kembalinya atman menyatu kembali dengan brahman, itulah yang dikenal dengan konsep dalam bahasa Jawa, ”Manunggaling Kawula lan Gusti”. Yakni konsep bersatunya kembali atman sebagai hamba dengan brahman sebagai Sang Gusti.” kata Arya Baribin berhenti menyampaikan uraiannya yang mendalam dan panjang lebar itu. “Sampai di sini dulu Ayunda Dewi dan Kanda Kamandaka.”
“Sungguh uraian luar biasa yang akan memperkaya wawasan kita. Sudah jelas wayang kulit mengandung konsep pandangan hidup mendalam. Penjelasan Dimas Arya Baribin soal wayang beber dan wayang kulit bisa menjadi bekal untuk menikmati pertunjukan wayang pada malam hari ini,” kata Kamandaka sambil mengucapkan terimakasih kepada Arya Baribin yang telah mau berbagi ilmu dan pengetahuan.
“Bagaimana pendapat Dinda Silihwarna yang pernah lama mondok di Padepokan Megamendung? Atau Dinda Wirapati, punya pendapat?” tanya Kamandaka.
“Aku menyimak saja, Kanda. Ingin banyak belajar kepada Dimas Arya Baribin,” jawab Silihwarna dan Wirapati hampir bersamaan.
“Atau Kanda Amenglayaran? Bapa Pendeta Muda?” Kamandaka berpaling kepada Amenglayaran. Tapi Amenglayaran yang duduk berdampingan dengan Sekarmelati dan Sekarcempaka menggelengkan kepala, karena mulai asyik berbincang bincang dengan gadis kembar cantik dari Nusakambangan, Sekarmelati dan Sekarcempaka.
“Kalau aku masih penasaran sebenarnya. Aku yakin agama Islam juga mengenal adanya dua alam, yakni alam dunia dan alam setelah ruh meninggalkan alam dunia,” kata Sang Dewi setelah menunggu tidak ada yang menanggapi penjelasan Arya Baribin. ”Hanya apa istilah dalam agama Islam untuk menyebut alam sangkan paran atau alam nirwana, aku belum tahu. Jika agama Hindu-Buddha mengenal konsep inkarnasi, aku menduga agama Islam tak mengenal konsep inkarnasi. Jika demikian, apa tujuan ruh manusia datang ke dunia lalu kembali meninggalkan dunia setelah masa hidupnya di dunia habis? Menurut hemat aku hanya Syekh Maghribi dan Syekh Makhdum Ibrahim yang bisa menjawab persoalan ini dengan memuaskan. Karena itu jika Syekh Maghribi mau berkunjung ke Kademangan Kejawar, ada baiknya kalau kelak Kanda Kamandaka mengusahakan agar Syekh Maghribi atau bahkan Syekh Maghdum Ibrahim bisa datang ke Kadipaten Pasirluhur. Kita bisa berdiskusi soal-soal kesenian wayang kulit menurut agama Islam. Dari Muarajati ke Pasirluhur tidak terlalu jauh, bukan? Demikian pula jarak dari Demak ke Pasirluhur, mungkin hanya lebih jauh sedikit.”
“Aku setuju sekali dengan usul Diajeng,” kata Kamandaka yang tampaknya disetujui semua hadirin.
Tak terasa matahari sudah tenggelam. Perbincangan yang mengasyikkan di serambi Dalem Gede itu segera berakhir, ketika Kanjeng Ayu Adipati Sepuh muncul dan mengajak untuk santap menjelang malam bersama. Kanjeng Adipati Sepuh sudah menunggu di ruang makan. Selesai acara santap bersama, rencananya mereka akan berangkat bersama-sama ke Pendapa Kadipaten untuk menyaksikan pentas wayang beber.
***
Malam telah menggantikan siang. Bola tembaga matahari, semburat merah senja, dan pepohonan dari hutan hijau, telah menghilang. Di langit malam yang kelabu itu telah muncul bintang gemintang, awan putih tipis, dan kelelawar yang berkeliaran kian kemari mencari buah-buahan yang bergelantungan di pohon. Di atas kaki langit barat daya, bintang kejora muncul bagaikan Dewi Venus yang meratui segala bintang. Sinarnya kemilau cemerlang memukau siapa saja yang memandangnya.
“Ya, mengagumkan memang bintang Venus di atas langit Kadipaten Pasirluhur. Bintang simbol penyebar kasih sayang dan cinta di muka bumi,” berkata seseorang yang ada dalam kerumunan penduduk yang berjubel itu. Mereka berkerumun di depan gerbang Kadipaten. Mereka ramai-ramai mendongak ke atas. Mendongak menatap dengan takjub.
“Pertanda baik, Gus?” tanya seseorang yang sudah agak tua, kepada seseorang yang tadi mengatakan bahwa bintang yang cemerlang itu bintang Venus. Dia ternyata seorang pemuda tegap rambutnya dipotong pendek.
“Pertanda baik, itu Dewi Venus, itu pelindung Kanjeng Ayu Dewi Ciptarasa,” kata pemuda tadi.
“Syukurlah kalau begitu. Pertanda akan datangnya jaman makmur bagi kadipaten kita,” kata salah seorang di antara mereka yang masih mendongakkan wajahnya ke langit.
“Jaman Kala Subha, Gus?”
“Betul, betul. Jaman Kala Subha. Jaman makmur dan tenteram,” kata pemuda tadi.
“Orang Sunda, Jawa, Bali tidak mengenal bintang Venus, Gus,”
“Aku bekas pelaut. Mondar mandir Muara Jati –Bandar Malaka. Para pelaut menyebut itu bintang Venus. Itu salah satu Dewi orang Yunani. Aku tak mungkin keliru.”
“Keturunan Bangsa Galuh juga tak pernah salah, Gus. Itu bintang Kejora. Ya, bintang Kejora di atas langit Pasirluhur.”
“Pertanda baik?”
“Pertanda baik, Gus”
Orang-orang yang berjubel itu bingung. Mana yang benar? Bintang Venus yang dewi perempuan atau bintang Kejora yang dewa laki-laki? Mereka semua terdiam. Jangan jangan bintang itu justru perlambang buruk? Akan datangnya wabah, misalnya?
Untunglah Ki Patih diam-diam ada di situ. Dari tadi dia ikut mendengarkan perbincangan orang-orang yang berjubel itu.
“Bintang Kejora itu sama dengan Bintang Venus. Bintang Venus itu menurut anggapan pelaut-pelaut yang belajar kepada pelaut-pelaut Yunani-Romawi. Bintang Kejora itu menurut anggapan para petani di Pulau Jawa yang keturunan bangsa Galuh. Dua-duanya betul. Pertanda kemakmuran dan kebahagiaan,” kata Ki Patih yang akan menuju ke Pendapa kadipaten.
“Oh, Ndara Patih? Terima kasih,” kata orang yang tadi menyebut bintang Kejora.
“Terimakasih, Ndara Patih,” kata pemuda yang tadi menyebut bintang Venus. Penduduk yang berjubel itu pun puas. Mereka menyalami Ki Patih dan membukakan jalan bagi Ki Patih untuk lewat menuju pendapa kadipaten.
“Benar Ki Patih. Bintang Venus itu melambangkan Sang Dewi. Bintang Kejora itu melambangkan Ndara Kamandaka. Mereka pasangan yang ideal untuk memimpin Kadipaten Pasirluhur,” kata salah seorang di antara mereka. Orang-orang yang tadi berjubel itu pun senang.
Di sepanjang jalan di seberang depan pintu gerbang kadipaten berdiri gugug-gubug darurat dari bambu yang didirikan penduduk untuk berjualan. Lampu minyak memancar dari tiap warung, sehingga jalan di depan gerbang itu tampak terang. Di sisi jalan di seberang warung-warung yang searah dengan pintu gerbang kadipaten, berderet ratusan umbul-umbul yang berwarna-warni, yang ditegakkan dengan tiang-tiang bambu. Umbul-umbul itu terus menerus berkibar-kibar berombak-ombak tidak henti-hentinya di tiup angin malam. Orang-orang saling berdesak-desakan. Ada yang mematung di depan warung. Ada yang membeli makanan yang dijual di warung. Ada pula yang berjalan menuju Pendapa untuk melihat pentas wayang.
Halaman Pendapa diterangi puluhan lampu minyak yang dibuat dari batang-batang bambu yang melintang. Nyala lampunya menari-nari kian kemari ditiup angin malam. Penduduk Kadipaten Pasirluhur menyebutnya alat penerang dari lampu minyak dengan batang bambu itu damar sewu. Di sudut-sudut di bawah atap Pendapa dan bangunan di sekitar Pendapa, bergelantungan pula lampu minyak yang dilindungi kertas warna warni buatan negeri China yang didatangkan dari Bandar Malaka. Namanya damar kurung.
Di Pendapa Kadipaten Pasirluhur, panggung untuk pementasan pagelaran wayang beber sudah siap sejak sore. Kini, kelir putih sudah digelar melintang. Lampu minyak dari bahan gelas dengan gantungan perak berukir, menggantung di atas panggung menerangi layar atau kelir. Ki Dalang Sukmo Lelono, para niyaga, dan Sinden Titisari, Juminem dan Paijem sudah duduk di atas pangggung. Di atas kelir wayang beber bergambar gunung telah dipasang oleh Ki Dalang.
Di lantai Pendapa di sisi kiri berderet sejumlah kursi khusus untuk keluarga Kanjeng Adipati, tamu undangan dan punggawa tinggi kadipaten. Di sisi kanan berderet pula kursi untuk para lurah dan para punggawa kadipaten lainnya. (bersambung)

Sabtu, 20 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (04)




 Arya Baribin meneruskan ceriteranya, bahwa Ki Dalang Sari akhirnya berangkat ke Tuban, untuk menemui Adipati Tuban, Arya Wilatikta. Tuban adalah kota pelabuhan Kerajaan Majapahit yang terkenal sesudah Gresik. Pada saat Kerajaan Demak berdiri, Kadipaten Tuban mengakui kedaulatan Kerajaan Keling sebagai penerus Kerajaan Majapahit. Sebab Adipati Keling Dyah Wijayakarana memang punya hak atas tahta Kerajaan Majapahit. Adipati Keling Dyah Wijayakarana adalah putra bungsu Sri Kertawijaya yang dikenal juga sebagai Brawijaya I (1447-1451 M). Karena itu Adipati Tuban menganggap Dyah Wijaya Karana yang berhasil menaklukkan Kerajaan Majapahit itu sebagai penerus Kerajaan Majapahit dan mengakuinya sebagai Sri Brawijaya V ( 1478 – 1483 M). Demikian pula ketika Kerajaan Keling dipindahkan ke Kediri, Adipati Tuban juga mengakui kekusaan Kerajaan Hindu Kediri dibawah Raja Ranawijaya yang dikenal sebagai Brawijaya VII ( 1486 – 1545 M). Raja Kediri Baru, Ranawijaya naik tahta menggantikan kakaknya, Raja Wijayakusuma atau Brawijaya VI ( 1483 – 1486 ).
Sebenarnya Adipati Tuban Arya Teja III yang setia pada Raja Keling itu sudah memeluk agama Islam. Nama Sang Adipati pada saat dinobatkan menggantikan ayahandanya Aria Teja II, adalah Adipati Aria Teja III. Tetapi karena setia pada Kerajaan Majapahit, dia mengubah namanya menjadi Adipati Wilatikta.
Adipati Tuban Wilatikta alias Arya Teja III itu, masih saudara sepupu Syekh Makhdum Ibrahim. Mereka sama-sama satu kakek, yakni Adipati Arya Teja I. Adipati Tuban Arya Teja I adalah mertua Sunan Ampel, ayah Syekh Makhdum Ibrahim. Istri Sunan Ampel, Ibu Syekh Makhdum Ibrahim adalah kakak Arya Teja II . Arya Teja II adalah ayah Arya Teja III . Demikianlah hubungan kekerabatan Arya Teja III dengan Syekh Makhdum Ibrahim.
Sebagaimana para adipati Kerajaan Majapahit lainnya, Adipati Tuban Arya Teja III juga gemar menyelenggarakan pentas wayang kulit. Sang Adipati sering mengundang Ki Dalang Sari, dalang yang terkenal dari Pananggungan itu. Dapat dimengerti bila hubungan Ki Dalang Sari dengan Adipati Tuban sangat baik, karena Ki Dalang Sari sering diundang dan telah beberapa kali pentas di Pendapa Kadipaten Tuban.
Pada saat Ki Dalang Sari merasa cemas dan galau itulah, dia menghadap Adipati Tuban Arya Teja III dan mengajukan permohonan. Ki Dalang Sari ingin menyumbangkan pementasan wayang kulit secara gratis di Pendapa Kadipaten Tuban, tetapi mohon agar Syekh Mahkdum Ibrahim dan para ulama keluarga Sunan Ampel diundang secara khusus oleh Kanjeng Adipati Tuban Arya Teja III untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit persembahan Ki Dalang Sari. Saat itu Sunan Ampel, ayah Syekh Makhdum Ibrahim sudah wafat.
Pada malam pementasan hadir di Pendapa Kadipaten Tuban, Sang Adipati, Syekh Makhdum Ibrahim, Raden Paku, Raden Qosim, Sunan Kudus Rahmatullah, serta sejumlah santri dari Ampel Denta. Dalam pentas wayang itu, Ki Dalang Sari menggelar lakon dari Mahabharata, Kresna Duta.
Tetapi ketika pentas wayang sampai pada kisah Kresna sedang melakukan pembicaraan dengan pihak Kurawa, Ki Dalang Sari tiba-tiba menghentikan pertujukannya. Dia pun mohon maaf kepada penonton. Ki Dalang Sari lalu menghadap Syekh Makhdum Ibrahim, mohon agar para pemuka agama Islam itu berkenan menyelenggarakan musyawarah untuk mempertimbangkan masa depan kesenian wayang kulit di wilayah Kerajaan Islam Demak.
Ki Dalang Sari menjelaskan bahwa kesenian wayang mengandung nilai-nilai budi pekerti luhur. Nilai-nilai itu penting untuk mempertinggi kualitas jiwa manusia yang bersifat universal dan yang berlaku bagi seluruh umat manusia apa pun agamanya. Pentas wayang kulit dengan tokoh-tokohnya, sesungguhnya menggambarkan jiwa setiap manusia. Yaitu bahwa jiwa manusia itu terdiri dari unsur baik dan unsur jahat yang selalu berperang untuk memperebutkan keunggulannya masing-masing. Jika unsur baik menguasai jiwa manusia, maka dia akan menjadi manusia yang memiliki budi pekerti baik dan luhur. Misalnya berperilaku benar, adil, jujur, penolong, pemaaf dan welas asih terhadap sesama. Tokoh-tokoh wayang dengan watak baik, dalam pentas wayang ditempatkan di sisi kanan, karena sisi kanan melambangkan kebaikan.
Sebaliknya jika pergulatan dalam batin manusia, ternyata unsur jahat yang berhasil menguasai jiwa manusia, maka manusia tadi akan berperilaku jahat. Jauh dari nilai budi pekerti luhur. Misalnya dia akan berlaku sewenang-wenang, serakah, sombong, penindas dan perilaku buruk merusak lainnya. Unsur jahat itu dalam pentas wayang kulit di simbolkan sebagai para tokoh wayang di sebelah kiri. Dengan demikian posisi kiri dalam pentas wayang kulit melambangkan unsur jahat dalam jiwa manusia, sedangkan posisi kanan menggambarkan unsur baik dalam jiwa manusia.
Ki Dalang Sari juga menjelaskan bahwa babakan-babakan dalam pentas wayang kulit dari awal sampai akhir, menggambarkan perjalanan jiwa manusia sejak datang ke dunia, menginjak masa remaja, dewasa, tua dan akhirnya meninggalkan dunia fana yang disimbolkan dengan masuknya wayang kulit ke dalam kotak. Pada masa itu, wayang kulit belum dibuat dalam bentuk boneka wayang yang tiap tokohnya berdiri sendiri. Wayang kulit sampai akhir Kerajaan Majapahit masih berupa lembaran-lembaran yang berisi lukisan adegan sejumlah tokoh wayang yang diukir dan di tatah pada media kulit.
Masukan dan usulan Ki Dalang Sari agar pentas wayang kulit dikaji dari sudut pandang agama Islam disetujui oleh Syekh Makhdum Ibrahim dan para pemuka agama Islam Demak. Adipati Tuban Arya Teja III tentu saja sangat setuju dan mendukung usul Ki Dalang Sari. Syekh Makhdum Ibrahim kemudian membentuk tim peneliti dan melakukan kajian secara mendalam, lalu dimusyawarahkan.
Para ulama agama Islam itu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pentas wayang kulit dan gamelan mengandung sejumlah nilai. Ada yang bertentangan dengan Syariat Islam dan ada yang tidak. Ternyata yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam cukup banyak dan dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk. Yang bertentangan dengan ajaran Islam harus ditinggalkan dan diganti dengan hal-hal yang sesui dengan ajaran Islam.
Salah satu masalah yang dianggap bertentangan dengan konsep ajaran Islam, hanyalah soal melukis gambar mahluk bernyawa, khususnya melukis manusia secara utuh. Melukis manusia secara utuh dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Karena itu para seniman Islam mencari jalan keluar dengan cara melukis tokoh-tokoh wayang secara karikatur, sehingga tidak mirip dengan gambar patung. Hasilnya memang luar biasa. Seniman-seniman muslim yang mendapat bimbingan Syekh Makhdum Ibrahim di Jepara, berhasil membuat boneka tokoh-tokoh wayang kulit dalam bentuk karikatur ginambar miring yang berdiri sendiri, sehingga dapat digerakkan dan dimainkan dengan indah sekali di atas layar.
Di tangan seniman-seniman muslim, pentas wayang kulit, lukisan boneka wayang dan gamelan pengiring juga mengalami kemajuan luar biasa. Untuk membimbing seniman-seniman muslim agar mampu memberi warna Islami terhadap pementasan wayang kulit, Syekh Makhdum Ibrahim meluangkan waktunya untuk tinggal di suatu desa di dekat Jepara. Di sana dia mengawasi pembuatan wayang kulit agar sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan Syekh Makhdum Ibrahim juga menciptakan suatu jenis alat musik baru yang disebut Bonang. Desa tempat tinggal Syekh Makhdum Ibrahim itu kemudian termasyhur sebagai Desa Bonang. Syekh Makhdum Ibrahim sendiri lama-lama dikenal oleh penduduk sebagai Sunan Bonang.
Syekh Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang, juga mengajarkan seni gending kepada masyarakat dengan mengajarkan bahwa belajar gending itu sama saja dengan belajar shalat. Kata-katanya sangat terkenal di daerah Ponorogo yang diajarkan oleh murid Sunan Bonang, yaitu Ki Ageng Mirah, dalam bahasa Jawa bunyinya sbb:
“Pramila gending yen bubrah, gugur sembahe mring Widdi, batal wisesane salat, tanpa gawe olah gending. Dene ngaran tembang gending, tuk ireng swara linuhung, amuji asmaning dzat. Swara saking osik wadi, osik mulya wentaring cipta surasa”
Kalau diterjemahkan sebagai berikut,: “Kalau musiknya rusak, batalah sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa, hilanglah pengaruh kekuasaan khidmad dalam shalat, tiada gunanya membaca lagu. Adapun yang disebut tembang gending itu, adalah sumber suara yang luhur, pujian terhadap Zat yang Maha Suci, suara yang timbul di dalam hati kita yang sedalam-dalammnya, gerak batin kita yang menunjukkan mulianya daya cipta dan rasa”.
“Kita tahu, bahwa shalat itu adalah cara sembahyang orang Islam yang terdiri dari gerakan-gerakan teratur yang di kalangan muslim disebut tatacara shalat atau syariat shalat,” kata Arya Baribin yang sudah menguasai banyak konsep-konsep ajaran Islam yang dipelajarinya dari Ki Ageng Mirah yang berhasil mengislamkan Bathara Katong, Pendiri dan Adipati Ponorogo I. “Sebagaimana dalam agama Hindu dan Budha, orang Islam pada waktu shalat juga membaca japa dan mantra yang oleh mereka sebut doa.”
“Salah satu doa dalam shalat yang wajib mereka baca diambil dari Qur’an, satu-satunya kitab suci mereka, yang disebut surah. Surah tidak boleh dibaca semaunya, tetapi harus dibaca secara berirama berdasarkan patokan yang disebut tajwid, yang mengatur irama dan panjang pendeknya huruf, kata, dan kalimat yang dibaca. Patokan membaca surah dalam shalat itu yang disebut oleh Sunan Bonang sebagai gending,” kata Arya Baribin.
Arya Baribin menjelaskan, bahwa menurut Sunan Bonang, bacaan surah dalam shalat yang tidak berdasarkan tajwid atau gending, bisa menyebabkan shalat menjadi rusak, tidak syah dan batal. Membaca surah dalam shalat dengan mengikuti irama tajwid atau gending, itulah yang disebut oleh Sunan Bonang dan Ki Ageng Mirah sebagai Syariat batin atau hakekat, yang maknanya adalah inti sari atau pokok-pokok sembahyang.
Dalam Islam syariat lahir dan syariat batin, harus dijalankan bersama-sama. Oleh karena ada ungkapan yang sangat terkenal dikalangan mereka yang berasal dari ajaran Syekh Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, yaitu:
”Syariat lahir tanpa hakekat adalah kosong. Artinya jika dalam shalat, mereka telah melakukan gerak gerik berirama yang mereka kenal sebagai takbir, ruku, sujud dan lainnya lagi tetapi tidak memahami irama gending yang dibacanya, maka shalatnya itu akan kosong. Sebaliknya, Syariat batin saja atau hakekat saja, tanpa syariat lahir, maka irama gending yang dibacanya itu juga akan menjadi batal, rusak dan tidak sah.” Demikan Sunang Bonang telah menciptakan pengertian gending dalam shalat.
Orang sering keliru membedakan antara gamelan dengan gending. Menurut Sunan Bonang, gending itu artinya suara yang berirama dan teratur yang dihasilkan oleh dua sumber suara. Sumber pertama adalah suara manusia yang teartur dan berirama yang dihasilkan pita suara dalam tenggorokan disebut sebagai tembang, nyanyian atau sekar. Kedua, suara teratur yang dihasilkan oleh alat-alat yang disebut alat-alat musik yang disebut dengan gamelan. Jadi gamelan itu adalah gending. Tetapi tidak setiap gending adalah gamelan. Suara nyanyian yang dilagukan yang disebut tembang, itu juga disebut gending.
Sunan Bonang juga menciptakan satu jenis tembang yang dikenal dengan teambang kecil atau macapat. Pada jaman Ki Dalang Sari, baru dikenal dua ragam tembang Jawa yaitu tembang gedhe dan tembang tengahan. Fungsi tembang macapat yang bersifat ringan itu tidak dimaksudkan sebagai tembang-tembang ritual dalam sembahyang, tetapi berfungsi untuk mendidik budi luhur jiwa manusia melalui penghayatan seni suara yang indah.
Karya lain Sunan Bonang yang terkenal adalah menciptakan gamelan laras slendro dan pelog berbahan besi tuang yang lebih berkualitas dari pada gamelan slendro dan pelog pada jaman Syailendra. Padahal menurut legenda, gamelan yang dimiliki Raja Syailendra itu berasal dari gamelan Suryalaya yang disebut gamelan Lokananta yang dihadiahkan kepada Raja Syailendra oleh Batara Indra.
Tentu saja jasa Ki Dalang Sari sangat besar dalam menyelamatkan seni pertunjukan wayang dan gamelan pengiringnya. Karena ketika Ki Dalang Sari menjelaskan konsep pementasan wayang kulit kepada Syekh Makhdum Ibrahim di Pendapa Kadipaten Tuban itu, Ki Dalang Sari sama sekali tidak menyingggung-nyinggung konsep ketuhanan agama Hindu-Buddha yang ada di balik pementasan wayang kulit. Ibaratnya pentas wayang kulit itu sebuah rumah. Ki Dalang Sari hanya memberikan kerangka rumah itu kepada Syekh Makhdum Ibrahim. Selanjutnya terserah kepada para seniman muslim, bagaimana kerangka rumah itu akan dihias supaya sesuai dengan syariat Islam.
Ternyata oleh Syekh Makhdum Ibrahim, bentuk, isi dan irama rumah seni pertunjukan wayang dan gamelan itu, telah diubah semua oleh Syakh Makhdum Ibrahim dengan bantuan para wali lainnya dan para seniman muslim agar supaya seni pertunjukan wayang dan gamelan itu lebih sesuai dengan kepentingan Kerajaan Islam Demak, yakni seni pertunjukan wayang dan gamelan dalam visi agama Islam. Hanya sifat dari seni pertunjukan wayang dan gamelan yang tetap dipertahankan oleh Syekh Makhdum Ibrahim dan seniman Islam Kerajaan Islam Demak.
Tampak bahwa Sunan Bonang, sebagai seorang pemuka agama Islam, dia bukan hanya seorang pembaharu keagamaan. Tetapi dia juga seorang pembaharu seni pertunjukan wayang dan gamelan. Seni pertunjukan wayang yang tadinya milik orang Hindu dan orang Budha,oleh Sunan Bonang telah dirubah bentuk, isi dan iramanya, sehingga menjadi alat untuk menyebarkan agama Islam. Yang tidak dirubah dan tetap dipertahankan oleh Sunan Bonang dari seni pertunjukkan wayang dan gamelan, hanyalah sifat pertunjukan wayang dan sifat gamelan. Yaitu bersifat dan berfungsi sebagai sarana dan alat untuk mendidik budi luhur manusia.
Rupanya Syekh Makhdum Ibrahim yang di dalam dirinya mengalir darah Jawa lewat Ibunya itu, mampu menangkap pesan Ki Dalang Sari. Di tangan seniman muslim yang mendapat bimbingan Syekh Makhdum Ibrahim, kerangka rumah wayang yang diberikan oleh Ki Dalang Sari itu, telah dihias sedemikian rupa sehingga telah tercipta rumah wayang yang Islami, yang sesuai dengan Syariat Islam.
“Disadari atau tidak Ki Dalang Sari maupun Syekh Makhdum Ibrahim telah berjasa besar menyelamatkan seni pentas wayang kulit yang sesungguhnya merupakan warisan budaya leluhur bangsa Galuh. Ternyata seni pentas wayang kulit, bisa dimanfaatkan oleh agama apa pun. Syekh Makhdum Ibrahim berhasil secara gemilang mengganti konsep ketuhanan menurut persepsi agama Hindu dan Buddha dalam pementasan wayang kulit, dengan konsepsi ketuhanan menurut persepsi ajaran Syariat Islam,” kata Arya Baribin mengakhiri penjelasannya proses pengambil alihan seni pentas wayang kulit dari Kerajaan Hindu Majapahit ke Kerajaan Islam Demak.
“Sungguh uraian yang luar biasa luas dan mendalam dari Dimas Arya Baribin,” Kamanda memberikan pujian kepada calon adik iparnya.
“Suatu pengetahuan yang amat penting dari Dimas Arya Baribin,” Sang Dewi ikut memberikan komentarnya.” Tentu akan bermanfaat juga, jika Dimas Arya Baribin bisa menjelaskan konsep ketuhanan yang ada dalam seni pentas wayang kulit menurut persepsi agama Hindu-Budha dan menurut persepsi agama Islam.”(bersambung)

Rabu, 17 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (03)





“Terima kasih Dimas Arya Baribin. Penjelasannya sangat menarik. Aku memang pernah mendengar dari Kanjeng Rama, Kerajaan Islam Demak mulai memanfaatkan wayang kulit dengan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Mereka menjadikan wayang kulit media untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk. Tokoh dari Kerajaan Islam Demak yang mempunyai gagasan memanfaatkan media wayang kulit untuk menyebarkan agama Islam konon namanya Syekh Makhdum Ibrahim yang populer dengan sebutan Sunan Bonang? Dapatkah Dimas Arya Baribin menjelaskan soal ini?”
“Kisahnya agak panjang, Ayunda Dewi. Tetapi agar supaya ada gambaran agak utuh mengenai riwayat wayang kulit yang kemudiaan dimanfaatkan oleh Kerajaan Islam Demak sebagai media menyebarkan agama Islam, ada baiknya kita kembali lagi ke jaman Erlangga,” kata Arya Baribin.
Raja Erlangga adalah menantu Raja Dharmawangsa, kata Arya Baribin menjelaskan riwayat wayang kulit. Raja Dharmawangsa adalah seorang raja besar penggemar berat pertunjukan wayang kulit. Maka ketika Sang Raja menyelenggarakan upacara perkawinan putrinya dengan Pangeran yang berasal dari Bali itu, diselenggarakanlah pertunjukan wayang kulit.
Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.Tahu-tahu saat tengah malam, tentara Wora-Wari yang didukung Sriwijaya, menyerbu ke tengah-tengah pesta, sehingga Raja Dharmawangsa yang tidak menyadari adanya bahaya yang mengancam itu, tewas seketika. Untunglah Erlangga, menantu Raja Dharmawangsa berhasil menyelamatkan diri dan lolos dari maut pembantaian. Akhirnya setelah berjuang bertahun-tahun Erlangga berhasil mendirikan kembali kerajaan Kahuripan dengan mengusir musuh yang menduduki kerajaan warisan mertuanya.
Pada masa Erlangga tradisi pentas wayang kulit untuk memeriahkan upacara keagamaan terus berlanjut. Seorang pujangga terkenal pada masa Erlangga, Mpu Kanwa menulis kitab dalam bentuk tembang, judulnya, Arjuna Wiwaha. Dalam kitabnya itu Mpu Kanwa sempat melukiskan suasana dan kesan yang ditimbulkan dari pertunjukan wayang kulit sbb:
‘Ada orang yang menonton wayang, ikut hanyut terbawa sedih. Yang demikian itu kalau dipikir sebenarnya bodoh. Sebab dia sebenarnya tahu wayang itu hanyalah kulit yang diukir digerak-gerakkan dan seolah-olah dapat berbicara. Demikanlah memang akibat dari orang yang memanjakan kegemaran inderanya, sehingga dia sama sekali tidak tahu tentang hakekat. Yakni bahwa segala kejadian itu sebenarnya hanya maya belaka’
“Selanjutnya pada jaman Kediri Lama, pertunjukan wayang ternyata juga tetap dipertahankan,” kata Arya Baribin melanjutkan.
Dijelaskan oleh Arya Baribin bahwa fungsi pertunjukan wayang masih sama sebagai bagian perayaan dalam ritual keagamaan. Mpu Sedah pujangga pada jaman Kediri menulis pada bagian awal kitab kakawin Bharata Yudha, bagaimana pertunjukan wayang kulit itu dipentaskan sbb:
“Semakin terang bersinar-sinarlah manikam-manikam di pintu gerbang kota, semuanya tampak. Tak disangka-sangka, wayanglah pohon-pohon oleh mereka yang mengembun-embunkan sanggul. Barulah kini tampak sulapan-sulapan pohon cemara yang sepanjang malam terdengar selalu menggersah.Tampak dengan terangnya air terjun-air terjun yang gemericik, kalau difikir, kedengaran dari orang yang sedang berkecek”
“Di sini Mpu Sedah melukiskan adegan ketika Sang Dalang sedang memainkan kecrek, menggerakkan gegunungan atau kekayon, diiringi suara pesinden yang siap mengiringi permainan wayang sampai udara berembun alias menjelang pagi,” kata Arya Baribin.
Masih jaman Kediri, Mpu Panuluh yang menulis bagian akhir kitab kakawin Bharatayudha itu juga meluksikan peranan gamelan sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit pada jaman Kediri sbb :
“Lagi pula di sungai-sungai kicir-kicir berbunyi seperti gender wayang, bambu yang berlubang-lubang berbunyi tertiup angin berdengung-dengung, itulah seruling pengiringnya. Nyanyian waranggananya ialah suara bersama katak-katak yang terdengar dari dalam jurang. Suara cenggeret dan belalang kerik riuh tak henti-hentinya, seperti suara kemanak dan kangsi”
“Di sini Mpu Panuluh melukiskan gamelan pengiring dalam pertunjukkan wayang, yang antara lain terdiri dari seruling, gender, dan kenong kecil,” kata Arya Baribin masih terus menjelaskan riwayat pementasan wayang kulit.
“Dari tulisan Mpu Kanwa di atas, jelas bahwa pentas wayang kulit sudah ada pada jaman Kerajaan Jenggala. Dari tulisan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh itu, tampak pula bahwa pentas wayang kulit yang dimainkan Ki Dalang di atas panggung semakin lengkap dengan iringan gamelan yang ditabuh oleh nayaga, diiringi pula oleh nyanyian pesinden atau waranggana. Itu terjadi pada jaman Kerajaan Kediri.
“Tradisi pementasan wayang kulit ternyata terus berlanjut sampai jaman akhir Majapahit. Bahkan terus mengalami perkembangan luar biasa pada masa Kerajaan Demak. Demikian Ayunda Dewi, kisah pementasan wayang kulit sampai masa akhir Kerajaan Majapahit,” kata Arya Baribin. Dia merasa senang karena Sang Dewi puas dengan penjelasan yang disampaikannya. Arya Baribin berhenti sejenak, sambil memberikan kesempatan pendengarnya merenungkan apa yang telah disampaikannya.
“Diajeng masih ada yang hendak ditanyakan lagi?” tanya Kamandaka kepada istrinya.
“Aku rasa sangat menarik penjelasan Dimas Arya. Ayo, Kanda bantu aku dengan mengajukan pertanyaan lain mumpung masih ada waktu,” kata Sang Dewi kepada suaminya. Kamandaka segera mengajukan pertanyaan kepada Arya Baribin.
“Bagaimana ceriteranya, sehingga para pendeta agama Islam di Demak memanfaatkan kesenian wayang sebagai media untuk menyebarkan Islam di kalangan penduduk? Padahal kisah-kisah dalam Mahabharata dan Ramayana merupakan kisah-kisah dari Kerajaan Hindu, terjadi di tanah Hindu bahkan kitab Mahabharata dan Ramayana itu merupakan salah satu kitab suci orang Hindu dan Buddha?” tanya Kamandaka yang sejak awal tekun mendengarkan uraian calon adik iparnya itu.
“Sebuah pertanyaan menarik dari Kanda Kamandaka,” jawab Arya Baribin. “Dalam agama Islam tidak dikenal istilah pendeta atau brahmana. Ada sejumlah istilah sebagai pengganti sebutan pendeta. Misalnya syekh, ulama, ustad, ajengan, kiyai, sunan bahkan wali. Mereka itu sering disebut juga mubaligh, juru dakwah atau ulama, yang berarti orang yang menguasai ilmu agama Islam.
“Salah seorang tokoh terkenal yang berjasa memanfaatkan media wayang kulit adalah Syekh Makdum Ibrahim yang juga dikenal dengan sebutan populer Sunan Bonang.
“Dinda sendiri belum sempat betemu dengan Syekh Makhdum Ibrahim, Kanda Kamandaka. Sebab ketika Adipati Bintara ditemani Syekh Makhdum Ibrahim dan Sunan Giri menghadap Raja Majapahit Dyah Suraprabhawa Sri Brawijaya IV, dinda masih anak-anak. Tetapi Ayahnda yang bekerja sebagai Pendeta Keraton Majapahit sempat bertemu dengan rombongan tamu dari Kadipaten Bintaran itu. Ayahnda masih kerabat dekat Raja Majapahit terakhir, Dyah Suraprabhawa yang dikenal sebagai Brawijaya IV. Ayahanda, punya sahabat Resi Bungsu yang sama-sama menjadi Pendeta Syiwa Kerajaan Majapahit. Ayahpun bersahabat dengan Pendeta Ganggadara, Mpu Tanakung pengarang lontar Lubdhaka dan Mpu Syiwa Murti penulis rontal Nawaruci. Mpu Syiwa Murti merupakan Pendeta Syiwa Buddha,” kata Arya Baribin menceriterakan ayahnya dan sahabat-sahabat ayahnya.
“Peristiwa Syekh Makhdum Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Ampel, dan Adipati Bintara menghadap Raja Majapahit itu terjadi dua tahun, sebelum Sri Brawijaya IV mangkat( 1478 M). “Dan juga sebelum Ibu Kota Kerajaan Majapahit runtuh diserang Kadipaten Keling yang berkedudukan di Pare, Kediri. Ketika itu Adipati Bintara yang diangkat oleh Sri Brawijaya IV menjadi penguasa Kadipaten Bintara, datang untuk mohon ijin mendirikan Masjid Kadipaten Bintaran. Permohonan itu dikabulkan oleh Sang Raja.
“Adipati Bintara itu masih kemenakan Sang Raja, sama dengan Adipati Keling yang memberontak. Adipati Keling Dyah Wijayakarana itu juga kemenakan Sang Raja. Sebab Adipati Bintara dan Adipati Keling itu sama-sama putra Sri Kertawijaya Brawijaya I. Hanya saja Adipati Bintara putra dari istri selir wanita China yang kemudian diceraikan, sedangkan Adipati Keling adalah putra bungsu Sri Kertawijaya dari permaisuri”
“Ketika itu Sang Raja Brawijaya IV mengijinkan pembangunan Masjid Bintara, sebab memang jumlah komunitas muslim di Kadipaten Bintara terus meningkat,” kata Arya Baribin pula. ”Pada waktu Kadipaten Bintara memproklamirkan diri menjadi Kerajaan Islam Demak (1481 M), Mesjid Bintara berubah menjadi Mesjid Kerajaan Islam Demak. Dengan demikian Masjid Demak merupakan Masjid Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kadipaten Bintara memang menolak mengakui Kerajaan Hindu Keling yang telah menyerang Majapahit, walaupun Kerajaan Keling menyatakan diri sebagai penerus Kerajaan Majapahit.”
“Kami beserta Ayah dan sejumlah pengikut Ayah pada saat itu terpaksa melarikan diri dari pusat kerajaan ketika Keraton Majapahit diserang. Kami sekeluarga melarikan diri menghindari kejaran tentara Keling, yang berhasil menduduki keraton. Memang para pendukung dan keluarga Raja Brawijaya IV yang tertangkap, banyak yang langsung dibantai tanpa kenal ampun.
“Sahabat Ayah yang lain, Resi Bungsu memilih mengungsi ke Cirebon beserta sejumlah pengikutnya. Sedangkan sahabat Ayah, Resi Ganggadara menjadi pengkhianat yang mendukung Penguasa Keling Wijayakarana karena dijanjikan tanah sima sangat luas, jika usaha menggulingkan Raja Majapahit berhasil. Sahabat Ayah yang lain, Mpu Syiwamurti kelihatannya netral. Tapi ternyata akhirnya diam-diam dia juga mendukung Raja Keling, ” kata Arya Baribin memanfaatkan kesempatan yang baik itu untuk mengungkap sedikit riwayat hidupnya sambil mengenang peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit (1478 M) yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Di antara yang hadir baru Kamandaka dan Ratna Pamekas yang sudah mengetahui sebagian dari riwayatnya menjadi pelarian Kerajaan Majapahit, karena Arya Baribin memang pernah menceriterakannya.
Usia Arya Baribin baru delapan tahun, ketika dia menjadi pengungsi melarikan diri dibawa ayahnya ke Kediri. Dari Kediri, Keluarga Arya Baribin kembali mengungsi ke Ponororogo, karena Kerajaan Keling oleh Raja Ranawijaya dipindahkan ke Kediri (1486 M). Ayah Arya Baribin, khawatir keberadaannya di Kediri akan diketahui oleh kaki tangan Raja Ranawijaya.
Setelah diselingi dengan menceriterakan sedikit riwayat pelariannya dari Kraton Majapahit, Arya Baribin kembali menceriterakan riwayat pementasan wayang kulit untuk menjelaskan pertanyaan yang diajukan Kamandaka.
“Alkisah pada waktu itu ada seorang dalang wayang kulit terkenal dari lereng gunung Pananggungan, namanya Ki Dalang Sari,” kata Arya Baribin. “ Ki Dalang Sari mencemaskan masa depan kesenian wayang, apabila kelak konflik Kerajaan Islam Demak melawan Kerajaan Hindu Keling berkembang ke arah perang besar. Cepat atau lambat kedua kerajaan itu pasti akan terlibat peperangan memperebutkan keunggulan atas sejumlah wilayah bekas Kerajaan Majapahit. Jika suatu ketika Kerajaan Islam Demak mencapai kemenangan, nasib kesenian wayang itu bisa terancam. Demikian pikiran yang berkecamuk dalam benak Ki Dalang Sari, dalang tenar dari Pananggungan itu.”
“Padahal menurut Ki Dalang Sari, kesenian wayang bisa dijadikan sarana untuk mempertinggi budi pekerti manusia, tanpa harus memandang apakah agamanya. Bagi Ki Dalang Sari, semua agama memiliki persamaan di samping perbedaan. Persamaannya adalah semua agama mengajarkan nilai-nilai budi pekerti luhur. Bedanya adalah pandangannya tentang hakekat Tuhan dan tata cara menyembah kepada Tuhan yang berbeda pada tiap agama.”(bersambung)