Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Senin, 15 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (02)





 Sumber gambar:Wikipedia.
“Ya, aku akan jelaskan lebih dulu cara mementaskan wayang beber, Dinda Ratna. Wayang beber sebenarnya usianya lebih muda dari pada wayang kulit,” kata Arya Baribin.
“Wayang beber sebagai media untuk mementaskan ceritera Panji itu menggunakan media kertas yang diolah dari kulit padi, lalu media itu diberi cat warna warni untuk melukiskan tokoh-tokohnya, kemudian digulung. Satu babak bisa terdiri dari 3 gulungan kertas. Jika ada enam babak berarti ada 6 gulungan yang masing-masing terdiri dari 3 lembar kertas bergambar tokoh-tokoh Panji.
“Cara memainkan wayang beber sangat mudah, tidak memerlukan ketrampilan tinggi. Gulungan-gulungan kertas karton itu dibuka di depan layar dengan menggunakan pasak yang ditancapkan di sisi kiri dan kanan batang pelepah pisang. Jika satu adegan selesai, Ki Dalang akan mencabut pasak di sebelah kanan, sehingga lembar karton berisi adegan pertama itu akan menggulung dengan sendirinya ke arah kiri. Maka di layar akan muncul adegan ke dua dari tokoh-tokoh wayang.
“Demikian seterusnya cara Ki Dalang memainkan wayang beber. Itulah sebabnya wayang yang dipentaskan dengan menggunakan gulungan kertas karton itu disebut wayang beber, karena cara memainkannya dilakukan dengan membuka atau membeberkan gulungan-gulungan kertas karton bergambar tokoh-tokoh wayang di depan layar. Cara pementasan wayang kulit sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan cara pementasan wayang beber. Hanya cara memainkan media wayang yang berbeda,” kata Arya Baribin.
“Dimas Arya, bagaimana dengan panggung pementasan wayang beber?” tanya Silihwarna seperti adik tirinya, juga belum pernah menyaksikan pentas wayang beber. Dia pun ingin tahu.
“Posisi panggung seperti biasa, ada di depan layar,” jawab Arya Baribin. “Cara Ki Dalang memainkan wayang beber ialah menghadap penonton dengan membelakangi layar. Hanya pada waktu akan mengganti adegan, Ki Dalang membalikkan badannya, lalu kembali ke posisi semula.”
“Gamelan pengiring terdiri dari seruling, rebab, kendang kecil, gender dan kangsi atau kenong kecil. Gamelan pengiring cukup ditangani empat niyaga. Rebab dan seruling dimainkan secara bergantian. Para penyanyi wanita yang disebut sinden atau waranggana, menyanyi secara bersama-sama maupun sendirian saja mengiringi permainan Ki Dalang.
“Ki Dalang melukiskan jalannya ceritera dengan menyanyikan lagu semacam kidung yang disebut suluk. Istilah dalang sebenarnya baru dikenal pada jaman Majapahit. Pada Jaman Daha dan Kediri, istilah untuk menyebut dalang wayang disebut windu mawayang. Berbeda dengan wayang kulit, wayang beber bisa dimainkan pada waktu siang maupun malam hari,” kata Arya Baribin menjelaskan cara pementasan wayang beber.
Silihwarna dan Ratna Pamekas mengangguk-angguk beberapa kali, mencoba membayangkan pentas wayang beber yang dilukiskan Arya Baribin. Wayang beber yang berasal dari Kerajaan Daha itu baru tersebar ke barat sampai Lembah Ciserayu. Belum menjangkau wilayah sebelah barat Citanduy.
Wajar jika Silihwarna dan Ratna Pamekas sama sekali belum pernah melihatnya. Pendeta Muda dan Wirapati juga tekun mendengarkan uraian Arya Baribin. Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka kurang berminat pada kisah-kisah wayang. Sedangkan Mayangsari dan Ratna Pamekas, sama dengan Sang Dewi punya minat tinggi pada kesenian dan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.
Rupanya masa lalu Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka yang akrab dengan seni bela diri dan keprajuritan, menyebabkan mereka bertiga lebih suka menyibukkan diri dalam urusan keamanan, keprajuritan, bela negara dan birokrasi pemerintaha dari pada hal-hal yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan.
“Bagaimana Ayunda Dewi, bisa dilanjutkan soal wayang kulit atau ditunda lain waktu?” Arya Baribin bertanya kepada Sang Dewi
Sang Dewi melihat ke arah langit sebelah barat. Ternyata matahari masih cukup tinggi, bagaikan bola perak tergantung di atas perbukitan. Semburat warna senja belum juga tampak.
“Masih cukup waktu, Dimas Arya Baribin. Ayo lanjutkan dengan riwayat wayang kulit,” Sang Dewi minta agar Arya Baribin melanjutkan uraiannya. Permintaan Sang Dewi ternyata mendapat dukungan dari semua yang hadir.
***
Bagi Sang Dewi, setiap kerajaan atau pun kadipaten, seharusnya memang memiliki perhatian yang cukup kepada masalah-masalah kebudayaan dan kesenian. Jika sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan rakyat kerajaan dan kadipaten merupakan kebutuhan yang sifatnya lahiriyah dan material sehingga harus dipenuhi para penguasa, maka kesenian, agama, dan pandangan hidup, merupakan kebutuhan rokhani manusia yang juga harus dipenuhi dan dicukupi para penguasa. Perlunya ialah agar manusia bisa berkembang secara utuh dan seimbang. Kondisi yang utuh, harmonis dan seimbang itu adalah kondisi tercapainya warga masyarakat yang sehat dan sejahtera baik yang bersifat lahiriyah maupun batiniah.
Terbayang oleh Sang Dewi, bila kelak adik-adiknya itu menjadi para penguasa di Lembah Ciserayu dan Citanduy. Bila mereka kelak juga mempunyai pemahaman memadai terhadap masalah-masalah agama, kesenian dan kebudayaan, di samping masalah ekonomi dan keamanan, nistaya kadipaten-kadipaten di Lembah Ciserayu dan Citanduy akan mengalami kemajuan pesat.
Itulah sebabnya, Sang Dewi memandang uraian Arya Baribin soal kesenian wayang, penting untuk dipahami. Baik oleh dirinya sendiri, suaminya maupun ipar-iparnya dan sepupunya seperti Wirapati yang kelak akan menjadi Adipati Kadipaten Adireja, Silihwarna yang kelak akan menjadi Adipati Kadipaten Dayeuhluhur dan Arya Baribin sendiri yang kelak akan menjadi penguasa Kadipaten Kalipucang.
Posisi Kadipaten Pasirluhur ke depannya, sebenarnya menurut pemikiran Sang Dewi memang bisa menjadi mercusuar bagi kadipaten-kadipaten lainnya di Lembah Ciserayu dan Citanduy. Jika kondisi itu dapat dicapai pada masa pemerintahan suaminya dan dirinya, nistaya kadipaten-kadipaten yang lain di luar Adireja, Dayeuhluhur dan Kalipucang, akan menginduk pada Kadipaten Pasirluhur. Kadipaten Pasirluhur nistaya akan berkembang sebagai sumber inspirasi bagi kemajuan kadipaten-kadipaten lainnya di Lembah Ciserayu dan Citanduy.
Sang Dewi, tiba-tiba tersadar dari lamunannya, ketika mendengar suara Arya Baribin mulai menjelaskan riwayat wayang kulit di Pulau Jawa.
“Pementasan wayang kulit jauh lebih tua dengan wayang beber, Ayunda Dewi,” kata Arya Baribin melanjutkan setelah diam sesaat dan melirik gadis cantik kekasihnya, Ratna Pamekas.
“Tradisi wayang kulit jelas berasal dari tradisi warisan kepercayaan bangsa Galuh, nenek moyang orang Sunda, Jawa, Madura, dan Bali yang disebut kepercayaan Animisme. Kepercayaan ini memuja ruh nenek moyang orang yang sudah meninggal. Kesenian wayang kulit adalah kesenian asli bangsa Galuh yang ikut terbawa ke Pulau Jawa, Madura, dan Bali.
“Pada saat agama dari India datang ke Jawa, media wayang kulit oleh para brahmana dan ksatria dijadikan media untuk mementaskan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Dalam agama Hindu dan Buddha, Kitab Mahabharata dan Ramayana adalah bagian dari Kitab Suci selain Wedda dan Tripitaka. Karena itu Kitab Mahabharata dan Ramayana hanya boleh dibaca oleh para Brahmana dan Ksatria. Para Brahmana dan Ksatria sebagai kasta tertinggi, melarang kasta Weisya, Sudra dan rakyat jelata lainnya membaca kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Bahkan para Brahmana mengancam hukuman yang keras bagi orang Weisya, Sudra, dan Paria yang ketahuan membaca kitab suci.
“Akibat dari larangan membaca kitab Mahabharata dan Ramayana, maka pementasan wayang kulit hanya bisa dilakukan secara terbatas di lingkungan istana para Ksatria dan Brahmana. Rakyat jelata tak ada yang berani mementaskan pagelaran wayang kulit dengan mengambil kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Jangankan mementaskan, menonton pun mereka tidak boleh. Inilah yang menyebabkan pentas wayang kulit sampai jaman kerajaan Majapahit, kalah populer dengan wayang beber yang berisi kisah-kisah Panji. Selain faktor perbedaan status sosial, kisah Mahabharata dan Ramayana terjadinya di India, bukan di Jawa. Karena itu, pada awalnya rakyat pun kurang begitu suka dengan kisah-kisah yang terjadi di negeri India yang jauh itu. Rakyat lebih suka kisah-kisah dalam ceritera Panji yang jelas-jelas terjadi di Kerajaan Daha dan Jenggala yang merupakan kerajaan yang ada di Jawa.
“Memang pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, rakyat jelata mulai dibebaskan dari larangan menonton pagelaran wayang kulit dengan menampilkan kisah-kisah dari Mahabharata dan Ramayana. Bahkan Raja Hayam Wuruk sendiri sering tampil sebagai dalang yang mementaskan pagelaran wayang kulit di Pendapa Istana Majapahit.
“Rakyat jelata diijinkan oleh Sang Raja Hayam Wuruk untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Tradisi baru yang dirintis Sang Raja Hayam Wuruk itu, kemudian diikuti pula oleh kadipaten-kadipaten lainnya yang berada di bawah kendali Majapahit, khususnya kadipaten-kadipaten di Jawa dan Bali.
“Pada waktu mendalang Sang Raja memakai sejumlah nama samaran. Misalnya, Ki Tritaraju, Ki Pager Antimun dan Ki Gagak Ketawang. Ternyata Raja Hayam Wuruk bukan hanya pandai mendalang. Tetapi juga pandai olah swara, pandai memainkan tarian topeng bahkan pandai memainkan peran sebagai wanita jika mementaskan wayang jenaka.
“Sekalipun Raja Hayam Wuruk telah melakukan pembaharuan dalam pertunjukan wayang kulit, namun sampai akhir Kerajaan Majapahit, belum dikenal tokoh-tokoh wayang kulit yang berdiri sendiri dalam bentuk boneka wayang kulit. Boneka wayang kulit yang dapat dimainkan secara mandiri di atas layar atau kelir, justru dikembangkan oleh Kerajaan Islam Demak. Kerajaan Islam Demaklah yang pertama kali memanfaatkan media wayang kulit untuk mementaskan kisah-kisah dalam Mahabharata dan Ramayana sebagai sarana menyebarkan agama Islam,” kata Arya Baribin. Dia berhenti sejenak sambil memandang Sang Dewi, kemudian berkata:
“Ayunda Dewi, itulah tadi penjelasan atas pertanyaan Ayunda Dewi, mengapa pementasan wayang kulit dengan lakon Mahabharata dan Ramayana kalah populer dengan wayang beber yang jauh lebih merakyat. Tetapi jika seniman-seniman Muslim terus menerus mengembangkan kreatifitasnya, cepat atau lambat wayang kulit akan digemari juga oleh sebagai besar rakyat.” (bersambung)

Kamis, 04 Januari 2018

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (01)




Novel Sejarah, diangkat dari Ceritera Rakyat Banyoemas, Episode ke-2, Seri Kisah Cinta Dewi Ciptarasa- Raden Kamandaka.( by : Anwar Hadja )



Perayaan pernikahan agung Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa – Raden Kamandaka Banyakcatra, sudah menginjak malam ke tujuh. Berpuluh-puluh kambing dan ratusan ayam telah dipotong. Tetapi sumbangan ternak potong terus mengalir. Demikian pula berkarung-karung beras, beras ketan, tepung ketela, pisang, dan berpuluh-puluh keranjang sayuran telah dimasak. Tetapi tiap hari masih saja datang gerobag-gerobag yang membawa hasil bumi dari tanah-tanah subur lembah Logawa dan Ciserayu yang disumbangkan penduduk untuk memeriahkan pesta perkawinan Sang Dewi  dan Kamandaka.

Perayaan pun sampailah pada malam terakhir. Penduduk bersuka ria karena akan menyaksikan pagelaran wayang beber oleh dalang terkenal Ki Sukmo Lelono, dalang dari Jatijajar. Ki Dalang dan penabuh gamelan sore hari itu telah tiba di Kadipaten Pasirluhur. Demikian pula Sinden Titisari dari grumbul Jatisari, sinden muda yang sedang naik daun,.
Kamandaka dan Sang Dewi segera mengundang Ki Dalang menghadapnya di Dalem Gede Kadipaten. Ki Dalang Sukmo Lelono diiringi sinden cantik Titisari dan empat niyaga, menyampaikan ucapan selamat kepada Sang Dewi dan Kamandaka setelah memperkenalkan diri terlebih dahulu..
“Selamat Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu. Semoga sejahtera dan bahagia selalu. Semoga Kadipaten Pasirluhur pun semakin maju, berkembang dan jaya” kata Ki Sukmo Lelono yang didampingi Sinden Titisari dan empat niyaga.
“Terimakasih, Ki Dalang. Apa lakon wayang yang akan dipentaskan malam ini?” tanya Kamandaka setelah mempersilahkan semua tamunya duduk di depannya.
“Bagaimana kalau kisah Raden Dewabrata atau Pandu Palakrama, cuplikan Mahabharata?” tanya Ki Dalang menawarkan.
“Bagaimana Diajeng, suka tidak kisah Dewabrata, putra Prabu Sentanu dari Kerajaan Hastina?”.
“Ah, aku tak suka, Kanda. Dewabrata menolak cinta Dewi Amba, akhirnya malah membunuh gadis yang malang itu.”
“Kalau Pandu Palakrama, Diajeng?”
“Aku juga tidak suka. Raja Pandu mati muda, karena kesalahannya sendiri. Kasihan Dewi Kunti yang harus jadi janda muda dan mengasuh sekaligus tiga anak kandungnya dan dua anak tirinya.”
“Aku tak mau jadi janda muda,” kata Sang Dewi memberi alasan. Kamandaka tersenyum mendengar alasan penolakan istrinya.
“Bagaimana kalau lakon Sayembara Mantili dari kisah Ramayana, Kanjeng Ayu Adipati?” Ki Dalang menawarkan lakon yang lain lagi. Ruang tamu itu kembali senyap, menunggu pendapat Sang Dewi yang lama menimbang-nimbang.
“Kasihan Dewi Sinta, ya? Belum sempat merasakan indahnya bulan madu, harus mengikuti Raden Rama masuk hutan. Kemudian diculik Rahwana, meletuslah perang besar untuk merebut kembali Dewi Sinta. Tapi aku tak suka ujung ceritera. Keduanya akhirnya berpisah juga,” kata Sang Dewi setelah agak lama membuat pertimbangan. Ki Dalang tersenyum. Dia tahu Kanjeng Ayu Adipati sosok wanita cerdas dan pandai mengambil hikmah dari sebuah kisah.
“Cerita lain ada tidak, Ki Dalang?” tanya Kamandaka.
“Kebetulan hamba membawa juga di dalam kotak gulungan wayang kisah Raden Inu Kertapati –Galuh Candrakirana, Kanjeng Adipati,” kata Ki Dalang. Dia berharap kisah yang ditawarkannya itu disenangi Kanjeng Ayu Adipati. Lalu dijelaskannya secara singkat lakon yang akan dipentaskannya itu. Lakon-Lakon Panji saat itu sangat digemari pada acara-acara pesta perkawinan para punggawa dan adipati di Lembah Ciserayu.
“Oh, cerita Panji, ya aku setuju!” kata Sang Dewi dengan wajah gembira.
“Ya, sudah. Pentaskan saja lakon pilihan istriku, Ki Dalang,” akhirnya Kamandaka membuat keputusan.
“Baiklah, Kanjeng Adipati. Mohon doa restu agar pementasan lancar dan memuaskan,” Ki Dalang pun mohon diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka ingin memeriksa panggung pementasan di Pendapa Kadipaten. Teh manis yang terhidang di hadapan Ki Dalang dan rombongan telah diminum. Mereka juga telah menikmati ketela rebus yang disajikan.
“Siapa namamu, Cah Ayu?” tanya Sang Dewi saat bersalaman dengan Sinden Titisari yang akan pamit mengikuti Ki Dalang.
“Titisari, Kanjeng Ayu, dari grumbul Jatisari,” jawabnya.
“Bisa menari, Titisari?”
“Ya, begitulah, Kanjeng Ayu. Masih dalam taraf belajar.”
“Teruslah berlatih, jangan mudah bosan dan jangan gampang menyerah,” pesan Sang Dewi.
“Terima kasih, doa dari Kanjeng Ayu senantiasa hamba harapkan,” kata Sinden Titisari seraya mencium tangan Kanjeng Ayu Adipati dan suaminya.
“Ada berapa sinden, Ki Dalang?” tanya Sang Dewi.
“Ada tiga sinden, Kanjeng Ayu. Yang dua lagi masih dalam perjalanan,” jawab Ki Dalang.
Sinden Titisari masih muda, cantik, berkulit kuning, usianya baru sekitar 16 tahun. Tetapi namanya sudah melejit di Lembah Ciserayu sebagai sinden muda yang banyak penggemarnya. Pentas wayang tanpa kehadiran Sinden Titisari, akan terasa hambar, ibaratnya sayur kurang garam.
Begitu rombongan Ki Dalang Sukmo Lelono meninggalkan ruang tamu, Pendeta Muda Amenglayaran, Arya Baribin, dan Ratna Pamekas tiba di halaman serambi Dalem Gede. Ratna Pamekas langsung memeluk Kamandaka dan Sang Dewi dengan sinar mata berkilat-kilat ikut merasakan kebahagiaan kedua pasang pengantin baru itu. Arya Baribin dan Pendeta Muda bersalaman dengan Kamandaka dan Sang Dewi.

 Sore itu Sang Dewi dan Ratna Pamekas sama-sama mengenakan kain kebaya dari sutra halus warna merah muda, dan kain batik coklat saga tua corak truntum, dengan dandanan rambut disanggul indah sekali. Keduanya tampak anggun, cantik mempesonan, menyebarkan aroma segar mewangi. Sore itu Sang Dewi memang telah mengajak adik-adiknya mengenakan kain dan kebaya kembar, untuk menunjukkan kekompakkan di antara mereka. Kamandaka sendiri mengenakan celana hitam dan atasan baju sutra lengan panjang warna biru muda, lalu diikuti adik-adiknya dengan warna sama. Hanya Pendeta Muda yang tidak kebagian pakaian baju sutra seragam, karena dia datang terlambat dan Kamandaka tidak menduga kakak sepupunya itu akan datang. Karena Pendeta Muda malam itu ingin santai dan tidak mau memakai baju jubah pendeta, Kamandaka meminjamkan baju atasan berbahan sutra hijau muda.
Sang Dewi memanggil Khandeg Wilis, dan disuruhnya menugaskan pembantu  menarik cangkir-cangkir kosong yang baru dipakai menjamu tamu rombongan Ki Dalang. Khandeg Wilis datang membawa seorang pembantu wanita untuk mengambil cangkir-cangkir dan piring di atas meja.
Belum lama Arya Baribin dan Ratna Pamekas duduk, tiba-tiba Sang Dewi ingat Mayangsari dan Sekarmenur. Dia merasa kurang lengkap bila kedua adik sepupunya itu belum datang.
“Dinda Ratna, mana Dinda Mayangsari? Dinda Sekarmenur? “ tanya Sang Dewi kepada adik iparnya.
“Sedang mandi, Ayunda,” jawab Ratna Pamekas. ”Sebentar lagi mau nyusul ke sini. Kanda Silihwarna dan Kanda Wirapati sudah nunggu di teras Taman Kaputren.”
“Wah, Dinda Mayangsari kalau mandi lama, setahun! Belum dirias pula, ya?” kata Sang Dewi yang tahu adat adik sepupunya itu. Mereka tertawa semua.
“Ayunda Sekarmenur sudah selesai dirias, Ayunda Dewi. Demikian pula Ayunda Sekarmelati dan Sekarcempaka. Memang Ayunda Mayangsari lama kalau mandi. Tapi kalau merias dirinya sendiri  biasanya cepat. Apalagi sudah ditunggu Kanda Silihwarna,” kata Ratna Pamekas.
Tiba-tiba Mayangsari, Sekarmenur, Sekarmelati dan Sekarcempaka diiringi Silihwarna dan Wirapati, sudah muncul di depan mereka. Keempat gadis cantik itu juga mengenakan kebaya dan kain batik yang sama, sehingga beranda Dalem Gede itu seakan-akan kedatangan tamu enam bidadari cantik kembar dari Suralaya.
Sekarmelati dan Sekarcempaka baru tiba tiga hari lalu di Pasirluhur, karena selama ini sibuk di Nusakambangan mewakili Sekarmenur dan Wirapati. Kakaknya itu sudah beberapa minggu ada di Kadipaten Pasirluhur. Sekarmelati dan Sekarcempaka langsung berkenalan dengan Pendeta Muda yang sore hari itu tampil rapih dengan potongan baju biasa, sehingga Sekarmelati dan Sekarcempaka hampir-hampir tidak menyanggka kalau Amenglayaran adalah seorang Pendeta Muda. Paling-paling rambut kepalanya yang tipis dan mulai memenuhi kepalanya yang semula plontos itulah yang merupakan ciri bahwa dia seorang pendeta agama Hindu Syiwa.
“Dinda Mayangsari, itu Diajeng Dewi, tadi bilang bahwa Dinda Mayangsari kalau mandi lama karena pasti sambil menyanyi,” kata Kamandaka menggoda Mayangsari yang sore itu tampil cantik jelita didampingi kekasihnya, Silihwarna. Kamandaka ingin malam nanti Mayangsari mau menyumbangkan lagu untuk memeriahkan acara.
“Lho, diam-diam Dinda Mayangsari punya suara emas. Tidak kalah dengan suara Sinden Titisari yang sedang naik daun. Padahal medan latihannya hanya di kamar mandi, ” puji Sang Dewi pula yang membuat hati Mayangsari senang.
Angin sore bertiup masuk beranda ruang tamu Dalem Gede, menerbangkan aroma wewangian menyegarkan dari kain dan kebaya indah berwarna merah muda yang dikenakan Sang Dewi dan kelima gadis cantik adik-adiknya itu. Matahari masih cukup tinggi dari atas kaki langit sebelah barat, sekalipun sudah cukup jauh condong ke barat. Angin sore dari pohon-pohon raksasa di hutan sekitar Sungai Logawa masih berhembus cukup kuat, merontokkan daun-daun yang sudah kering dan menguning, menambah tebal daun-daun lama. Daun yang telah  membusuk di kaki pohon-pohon raksasa yang tumbuh seenaknya di hutan pingit Logawa.
Di halam Pendapa dan Dalem Gede Kadipaten Pasirluhur, sejumlah daun kering juga luruh. Ada diantaranya yang melayang-layang menerobos halaman Dalem Gede dan jatuh dekat beranda ruang tamu. Seorang juru taman cepat-cepat berlari memungut daun-daun yang luruh itu, agar daun-daun itu tidak membusuk di halaman Dalem Kadipaten.
“Nanti malam kita akan nonton pentas wayang beber. Tadi Ki Dalang Sukmo Lelono, dalang kondang dari Jatijajar dengan empat niyaganya baru saja ke sini. Sindennya Titisari dari grumbul Jatisari, sinden bersuara emas dan sedang naik daun. Dua sinden lagi masih di perjalanan. Ke dua sinden yang belum tiba itu sinden dari Kalikidang,” kata Kamandaka kepada adik-adiknya yang sudah berkumpul.
Tentu saja Mayangsari senang mendengar berita itu. Dia  berjanji akan ikut memeriahkan pentas wayang beber nanti malam dengan menyumbangkan beberapa lagu. Mayangsari juga ingin menyanyi duet bareng dengan Sinden Titisari.
“Lakonnya apa Kanda?” Arya Baribin bertanya.
“Kisah ceritera Panji. Diajeng Dewi yang memilih,” jawab Kamandaka.
“Kisah Panji kelihatannya menarik. Benar, Dimas Arya?” tanya Sang Dewi.
“Benar, Ayunda Dewi. Ceritera Panji selalu menarik, padahal tokoh utamanya sebenarnya hanya dua,” kata Arya Baribin. Tentu saja dia tahu banyak perkembangan wayang beber dengan ceritera Panji. Sebab dia memang berasal dari lingkungan Keraton Majapahit. Dulu, dia sering sekali menyaksikan pagelaran wayang beber maupun wayang kulit.
“Dimas Arya, coba Dimas jelaskan bagaimana wayang beber yang berisi kisah-kisah Panji itu. Aku pernah dengar ceritera Panji, hanya masih samar-samar. Bagaimana seluk beluk wayang beber, aku belum banyak tahu. Demikian pula riwayat wayang kulit. Konon wayang beber di kalangan rakyat lebih digemari ketimbang wayang kulit, benar tidak Dimas?” tanya Sang Dewi. Tiba-tiba muncul dua orang pembantu wanita datang membawa baki berisi sejumlah cangkir teh manis. Khandeg Wilis muncul lagi di belakangnya.
“Apa makanan kecil untuk teman minum teh, Biyung Emban?” tanya Sang Dewi.
“Mau cimplung pepaya atau talas rebus, Ndara Kanjeng Ayu?” Khandeg Wilis balik bertanya.
“Dua duanya boleh, Biyung Emban,” kata Kamandaka..
“Sambil menunggu cimplung dan ubi rebus, ayo Dimas Arya mulai,” desak Sang Dewi mengulangi permintaannya kepada Arya Baribin. Arya Baribin yang menguasai berbagai jenis pertunjukan wayang itu pun mulai menjelaskan riwayat wayang beber.
“Sebenarnya pementasan ceritera Panji dalam bentuk wayang beber sudah dimulai pada jaman Kerajaan Kediri Lama. Jadi riwayat kisah Panji memang berawal dari kerajaan warisan Erlangga, Raja Jenggala. Pada awalnya kisah Panji merupakan ceritera tutur yang sering dipentaskan melalui media wayang beber. Penggemarnya bukan hanya dari kalangan istana saja. Banyak juga dari kalangan rakyat biasa. Pada jaman Majapahit, wayang beber yang menceriterakan kisah Panji semakin populer dan berkembang ke mana-mana. Akhirnya kesenian wayang beber yang merakyat itu sampai juga di Lembah Ciserayu dan ternyata di sini memiliki banyak penggemar juga.” kata Arya Baribin.(bersambung)

Rabu, 13 Desember 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (74-Tamat-Epiode-1)






“Kasihan benar Putri Ayunglarang Sakean,”  kata Sang Dewi.
“Lebih kasihan lagi, karena setelah menerima surat penolakan cinta, Putri Ayunglarang Sakean, paginya langsung bunuh diri dengan menerjunkan dirinya ke Sungai Ciliwung,” kata Kamandaka mengakhiri kisah malang seorang putri yang masih saudaranya juga. Kamandaka, Sang Dewi, Mayang Sari, dan Ratna Pamekas, terdiam beberapa saat.
“Sesungguhnya, kalau Kanda Amenglayaran boleh punya istri seperti seorang pendeta Islam, Aku akan carikan,” kata Kamandaka setelah semuanya  lama terdiam.
“Mana ada istilah pendeta dalam agama Islam? Bukankah  kata Dimas Arya Baribin, dalam agama Islam tidak dikenal istilah pendeta. Yang ada adalah ulama, yang berarti orang yang paham agama Islam. Dia kadang-kadang mempunyai gelar Syekh, Ustad, Sunan, atau Kiyai,” kata Sang Dewi.
“Wah, aku malah sudah lupa,” kata Kamandaka.
“Aku juga hanya dengar dari Dimas Arya Baribin,” kata Sang Dewi, ”Praktek peribadatan dalam agama Islam mudah, murah, tidak memberatkan, dan  bisa dilaksanakan sendiri secara mandiri, tidak mengenal kasta, karena semua manusia di hadapan Tuhan dianggap sama. Dan mereka tidak mengenal dewa-dewa untuk disembah. Mereka hanya menyembah dan memohon pertolongan kepada satu-satunya Tuhan mereka, yakni Tuhan  Yang Maha Kuasa, yang mereka sebut Allah.”
“Aku jadi ingin tahu lebih banyak soal agama yang baru itu, Diajeng,” kata Kamandaka. Perbincangan terhenti saat ada rombongan tamu datang untuk menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai yang berbahagia itu.
Seluruh penduduk Kadipaten Pasirluhur menyambut penobatan Kamandaka dan Sang Dewi sebagai pergantian kepemimpinan di Kadipaten Pasirluhur yang menggembirakan. Adipati yang baru  dengan istrinya  dianggap akan mampu mewujudkan masa depan yang lebih cerah, aman, sejahtera, lebih makmur, dan lebih berkelimpahan. Lebih-lebih karena penduduk tahu, Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati yang baru dinobatkan itu, merupakan pasangan serasi, ideal, dan memiliki sejumlah keunggulan yang jarang ada bandingannya.
Apalagi pada saat upacara pernikahan dan penobatan kedua pasangan yang tampan dan cantik itu, bintang Kejora tiap sore menjelang matahari terbenam sudah muncul. Cahayanya yang indah tampak kemilau di atas kaki langit sebelah barat daya.
“Bintang Kejora melambangkan kemakmuran, kejayaan, dan kehidupan yang berkelimpahan bagi Kadipaten Pasirluhur di waktu yang akan datang, Kanjeng Adipati,” kata Ki Patih pada saat berbincang-bincang dengan Kanjeng Adipati Sepuh Kandhadaha dan Kanjeng Ayu Adipati Sepuh di halaman Pendapa Kadipaten. Mereka berdiri sambil menatap bintang paling cemerlang yang ada di atas kaki langit sebelah barat daya itu. Para tamu yang hadir sudah agak berkurang, sebab sudah hari ke-enam.
“Mangsa apakah sekarang, Ki Patih?” tanya Kanjeng Ayu Adipati Sepuh. Dia  tahu Ki Patih menguasai ilmu perbintangan yang memadai.
“Sekarang mangsa Kaso, Kanjeng Ayu. Pesta dan upacara pernikahan dan penobatan Ananda Raden Kamandaka Banyakcatra dan Ananda Sang Dyah Ayu  Dewi Ciptarasa, terjadi pada waktu yang tepat,” kata Ki Patih. Dia ikut bangga karena anak angkatnya itu akhirnya berhasil menyunting putri Kanjeng Adipati Kandhadaha. Dengan demikian Ki Patih merasa telah menjadi besan Kanjeng Adipati pula.
“Kedua mempelai yang sedang berbahagia itu, pada mangsa Kaso ini berada dalam lindungan Batara Antaboga dan  Dewi Nagagini, Kanjeng Ayu,”  kata Ki Patih pula.mulai mengeluarkan Ilmu firasat dan watak yang dikuasainya.
“Watak Ananda Kamandaka memang seperti Batara Antaboga,” kata Ki Patih melanjutkan. “Cita-citanya tinggi, kadang-kadang muluk-muluk, gemar pada proyek-proyek mercusuar, tetapi cenderung boros, tidak bisa memegang uang, mudah jatuh hati, dan menaruh simpati kepada orang yang dianggapnya menderita. Sementara itu, Ananda Sang Dyah Ayu  Dewi, punya watak sebaliknya yang bisa menutupi kelemahan suaminya.”

“Sang Dewi itu, cerdas, tegas, teliti, pandai memegang harta benda dan uang, tidak boros, tetapi juga gemar menolong seseorang yang memang pada tempatnya untuk ditolong. Sang Dewi paling benci pada orang yang tidak jujur, suka ingkar janji, pemalas, dan orang yang ingin mencapai hasil, tetapi dengan cara-cara yang mudah, atau malah dengan cara-cara yang curang. Itulah watak Dewi Nagagini. Itu sebabnya Dewi Nagagini sangat mengagumi Bima, karena watak Bima  cenderung jujur, lurus, ulet, dan pejuang  pantang menyerah. Disamping itu mangsa Kaso dilukiskan dengan kata-kata simbolis, ’Sotya Murca Ing Embanan’. Artinya permata lepas dari cincin pengikatnya. Alam semesta melepaskan atau menurunkan kebahagiaan dan keberlimpahan kepada umat manusia. Pertanda dan alamat baik, Kanjeng Ayu.” kata Ki Patih pula.
“Bagaimana menurut Ki Patih kesetiaan mempelai pria kepada mempelai putri?” tanya Kanjeng Ayu Adipati Sepuh masih penasaran.
“Kesetiaannya tak perlu diragukan. Tak mungkin Ananda  Kamandaka berpaling kepada wanita lain. Bagi Ananda Kamandaka, Ananda Dewi adalah segalanya. Istri, kekasih, sekaligus sahabat dan bayangan Ibunya, tidak mungkin ada yang bisa menggantikannya. Ananda Dewi juga pandai mengendalikan suaminya, sehingga kecil kemungkinan Ananda Kamandaka bisa selingkuh mencari wanita idaman lain. Ki Patih yakin, Ananda Kamandaka tak akan berani selingkuh, di samping karena cintanya yang tulus kepada Ananda Dewi,” jawab Ki Patih mantap, membuat Kanjeng Ayu Adipati Sepuh tersenyum, sangat puas, gembira, dan bahagia.
Dia percaya sepenuhnya apa yang dikatakan Ki Patih yang ahli ilmu firasat dan ahli membaca watak manusia itu. Kanjeng Adipati Sepuh dan Kanjeng Ayu Adipati Sepuh, tidak perlu cemas terhadap masa depan Kadipaten Pasirluhur, setelah keduanya lengser dengan rela, ikhlas, dan penuh suka cita itu. Alih generasi dan proses pergantian kepemimpinan Kadipaten Pasirluhur berjalan aman, lancar, dan alami.
Kanjeng Ayu Adipati  Sepuh memang selalu mengingatkan suaminya, bahwa setiap orang yang berjalan menuju puncak karir, langkah berikutnya yang harus dilalui tidak ada jalan  lain kecuali melangkah turun. Melepaskan jabatan yang pernah digenggamnya. Dan menyerahkannya kepada generasi baru penggantinya.
“Aku selalu ingat nasihatmu, Diajeng,” kata Kanjeng Adipati Kandhadaha saat akan melepaskan jabatan sebagai Adipati.
“Nasihat? Aku malah sudah lupa, Kanda Adipati”
“Bukankah Diajeng pernah menceriterakan Kisah Perjalanan Sri Kresna dan Sadewa, setelah Perang Bharatayudha selesai?”
Kanjeng Ayu Adipati Sepuh lalu ingat ceritera itu. Alkisah, Sadewa mengikuti Sri Kresna yang Kerajaannya hancur diamuk badai dan ditenggelamkan ke dasar samudra. Dengan sedih Sri Kresna melangkah pergi diikuti Sadewa yang segera bertanya, ”Kanda Prabu, kemanakah gerangan Kanda Prabu hendak pergi?”
“O, Adikku Sadewa. Hidup di dunia ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan dan pendakian. Apakah yang harus dilakukan oleh seseorang yang telah jauh melangkah  dan mendaki tinggi sampai di puncak pendakiannya?”
Sadewa menjawab, ”Duh, Kanda Sri Batara Kresna.  Orang harus terus berjalan sebagaimana hidup ini mengharuskannya. Oleh sebab itu sekalipun seseorang dalam perjalannya sudah mencapai puncak pendakian. Tetapi  oleh karena dia harus terus berjalan, maka tidak ada pilihan lain. Baginya hanya ada satu-satunya jalan  yang  harus dipilihnya, yaitu melangkah turun!” Kanjeng Ayu Adipati Sepuh tersenyum ketika ingat ceritera itu lalu berkata kepada suaminya,
”Ya, Aku ingat ceritera itu, Kanda Adipati.”
 Kanjeng Adipati Sepuh Kandhadaha lalu memeluk istrinya sambil berbisik dengan kata-kata lembut tapi mantap, ”Diajeng, dampingi  aku selalu  agar perjalanan turun kita dari puncak pendakian senantiasa berlangsung selamat, salam,  dan bahagia.”

Kanjeng Ayu Adipati Sepuh menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Dia bangga karena suaminya ikhlas melepaskan tahta Kadipaten Pasirluhur kepada penggantinya yang lebih muda, Raden Kamandaka  Banyakcatra dan  Sang Dyah Ayu  Dewi Ciptarasa.[Tamat,Episode-1,12-12-2017]