Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Senin, 11 Desember 2017

Novel:Melati Kadipaten Pasirluhur (73)




“Kanda Amenglayaran, aku pernah membayangkan Dinda Silihwarna pulang dari Megamendung sudah jadi Pendeta muda seperti Kanda. Eh, tahunya malah menyusul ke Pasirluhur,” kata Kamandaka yang selalu ingin tertawa bila ingat kejadian sebelum bertemu dengan adik kandung satu-satunya itu. Dulu Kamandaka sering membayangkan adiknya itu kepalanya plontos, mengenakan jubah kuning, sambil berjalan kemana-mana membawa kalung biji pendoa.
”Ah, aku sudah menduga ketika dulu di Padepokan Megamendung, Dinda Silihwarna bakal gagal. Dulu sering menangis sendiri kalau tengah malam. Katanya ingat…..” kata Pendeta Muda yang sempat menjadi senior Silihwarna di Megamendung.
“Pasti ingat Ibundaku!” kata Kamandaka memotong kalimat Pendeta Muda yang belum selesai diucapkan.
Kamandaka khawatir Pendeta Muda itu akan menyebut nama adik tirinya, Ratna Pamekas sebagai penyebab kegagalan Silihwarna menjadi seorang brahmacharin. Apa lagi Kamandaka melihat Silihwarna mengedip-ngedipkan matanya kepadanya. Dia memberi kode agar Pendeta Muda itu tidak membicarakan masa lalunya di Megamendung di depan Mayangsari maupun Sang Dewi.
“Beruntung dia menyusul ke Pasirluhur, Kanda Amenglayaran,” kata Kamandaka melanjutkan. ”Kalau tidak, mana mungkin akan dapat calon istri secantik Dinda Mayangsari?” Mayangsari yang dipuji Kamandaka, tersenyum malu-malu. Silihwarna alias Banyakngampar tersenyum bangga.
“Hayo, Kanda tak boleh menggoda seorang brahmacharin,” kata Sang Dewi yang berdiri di samping Kamandaka, mengingatkan suaminya.
Tentu saja kata-kata Sang Dewi itu membuat Pendeta Muda merah wajahnya. Karena lingkungan kesehariannya yang selalu sepi dari pergaulan dengan wanita, mengakibatkan Pendeta Muda itu selalu canggung dan kikuk bila berhadap-hadapan dengan wanita. Apalagi dengan wanita secantik Mayangsari dan Sang Dewi.
“Ah, tidak apa-apa. Diajeng belum tahu, ya?  Kanda Amenglayaran sudah sering digoda Maneka  Dewi. Dan lulus. Buktinya sudah jadi Pendeta muda. Dulu di Pakuan Pajajaran, ada juga seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Kanda Amenglayaran. Tetapi Kanda Amenglayaran menolaknya. Padahal Putri Ayunglarang Sakean, cantik lho,” kata Kamandaka kembali menggoda Pendeta Muda yang baru tiba itu. Pendeta Muda yang digoda itu tambah merah wajahnya. Tetapi dia  cepat bisa menguasai dirinya, lalu tersenyum.
“Bukannya Dinda Ayunglarang Sakean yang jatuh cinta pada Dinda Banyakcatra?” Pendeta Muda itu mulai melakukan serangan balik yang membuat Sang Dewi berdebar-debar dan langsung berkata.
“Oh, masih ada gadis yang menunggu Kanda Banyakcatra di Pajajaran?” tangan Sang Dewi langsung mencubit pinggang Kamandaka.
“Ah, Diajeng jangan percaya. Faktanya Putri Ayunglarang Sakean mengirim tempat sirih lengkap dengan isinya, minyak wangi dari negeri China, baju-baju yang bagus, serta sebilah keris, lewat Emban Jompong Larang langsung kepada Kanda Amenglayaran. Bukan kepada aku!” kata Kamandaka sambil menahan sakit di pinggangnya karena dicubit istrinya.
“Lho, Dinda Banyakcatra tahu?” tanya Amenglayaran.
“Ya, jelas tahu. Bukankah Dinda Ratna Pamekas yang disuruh Kanda supaya mengembalikan barang-barang kiriman Putri Ayunglarang Sakean? Eh, Kanda sudah ketemu Dinda Ratna Pamekas belum ?” tanya Kamandaka. “Dinda Silihwarna, tolong panggil Dimas Arya Baribin dengan Dinda Ratna Pamekas. Katakan ada tamu dari Pakuan Pajajaran!”
“Lho, Dinda Ratna Pamekas ada di sini?” tanya Pendeta Muda itu terkejut. Dia sama sekali tidak menduga Ratna Pamekas ikut kakak-kakak tirinya ke Pasirluhur.
”Aku mengira Dinda Ratna Pamekas  masih dipingit di Taman Kaputren Pakuan Pajajaran,” kata Pendeta Muda.
“Ya, dia sudah punya calon suami, Arya Baribin, ksatria trah Majapahit,” kata Kamandaka.
“Calon suami Dinda Ratna Pamekas  dari trah Majapahit? Wah, kebetulan sekali,” kata Pendeta Muda itu. “Aku mendapat amanat dari Sri Baginda. Selain mewakili Sri Baginda menghadiri pesta pernikahan Dinda, aku supaya melanjutkan perjalanan ke bekas Ibu Kota Majapahit di Trowulan, kemudian agar ke Kediri dan dilanjutkan ke Demak.”
Pendeta Muda Amenglayaran itu pun berceritera. Dia mendapat tugas dari Sang Raja Sri Baginda Prabu Siliwangi. Selain ditugaskan menghadiri pernikahan agung Sang Dewi dengan Kamandaka, dia juga ditugaskan untuk melakukan muhibah sebagai duta Sang Raja mengunjungi kerajaan-kerajaan yang baru muncul pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, yakni Kerajaan Hindu Kediri dan Kerajaan Islam Demak. Hanya soal waktu kapan mengunjungi kerajaan-kerajaan itu, Sri Baginda menyerahkan sepenuhnya kepada Pendeta Muda.
“Sultan Demak belum lama ini  mengirim surat kepada Sri Baginda Prabu Siliwangi mengajak  memeluk agama Islam. Sultan Demak juga mengundang Sri Baginda untuk mengunjungi Demak.”
“Bagaimana sikap Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi?”
“Sikapnya positip. Sri Baginda mengajak saling toleransi, hormat menghormati, dan perlu dijajagi kemungkinan bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan Islam, mengingat di kawasan Asia Tenggara sudah bermunculan kerajaan Islam yang kuat. Misalnya, Kerajaan Islam Malaka. Sekalipun resminya Samudra Pasai  tunduk kepada Majapahit ( sejak tahun 1357 M) nyatanya Pasai masih cukup kuat sebagai salah satu pusat Islam. Kini di Jawa juga sudah muncul Kerajaan Islam Demak yang cukup kuat juga,”  kata Pendeta Muda itu.
“Sikap Dinda Banyakbelabur selaku Putra Mahkota?” tanya Kamandaka.
“Ya, itulah yang menyebabkan Sri Baginda sakit. Putra Mahkota memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Kerajaan Demak. Sepertinya dia sedang menjalin komunikasi dengan Kerajaan Kediri untuk memaklumkan perang melawan Demak. Antara Sri Baginda dan Putra Mahkota terdapat perbedaan sikap yang tajam.”
“Semoga tugas Kanda Amenglayaran sebagai duta perdamaian di Pulau Jawa kelak berhasil,” kata Kamandaka.
Tiba-tiba Arya Baribin dengan Ratna Pamekas datang. Pendeta Muda itu menyambut hangat Arya Baribin. Lebih-lebih setelah dia mengetahui Ksatria Majapahit itu adalah calon suami Ratna Pamekas.
“Kanda tidak mengira Dinda Ratna Pamekas ada  di Pasirluhur,” kata Pendeta Muda itu kepada Ratna Pamekas yang langsung saling berpelukan. Ratna Pamekas sudah lama tidak berjumpa dengan Amenglayaran. Dulu waktu di Pakuan Pajajaran,  Amenglayaran sering kali bertemu  Ratna Pamekas, bila kebetulan dia mampir ke Keraton Pajajaran.
“Boleh lho, memeluk seorang calon brahmacharin, tidak apa-apa, Dinda,” kata Kamandaka menggoda Ratna Pamekas.
“Lho, Kanda Amenglayaran ini bukan hanya seorang calon brahmacharin muda. Dia juga diharapkan bisa jadi Pendeta Muda Kerajaan Pakuan Pajajaran  kepercayaan Ayahanda. Dulu pun sering aku peluk waktu masih di Pajajaran,” kata Ratna Pamekas tidak kalah tangkas, sambil memuji Pendeta Muda itu. Pujian itu membuat Pendeta Muda itu merasa nyaman dan senang. Lebih-lebih karena Ratna Pamekas tidak menyinggung soal gadis cantik sepupunya yang jatuh cinta kepadanya, Putri Ayunglarang Sakean.
“Dinda, kenapa Dimas Arya Baribin tidak dipeluk? Nanti cemburu lho?” kata Sang Dewi ikut-ikutan menggoda Arya Baribin. Kali ini ganti Arya Baribin yang merah wajahnya. Untunglah  Ratna Pamekas langsung mencium Arya Baribin, yang membuat Arya Baribin malu tersipu-sipu.
Tetapi sesungguhnya dirinya merasa senang. Benih-benih cinta Arya Baribin kepada Ratna Pamekas pelan-pelan memang mulai tumbuh dengan subur. Bahkan Arya Baribin diam-diam menambahkan kata Kirana pada nama calon istrinya yang lincah dan cantik jelita itu. Rupanya putri Pajajaran itu juga senang dengan tambahan nama baru. Denga demikian namanya lengkapnya adalah Dyah Ayu Ratna Kirana Pamekas.
“Dimas Arya Baribin, tadi Kanda Amenglayaran berkata, kapan-kapan ingin banyak berdiskusi dengan Dimas tentang agama Islam,” kata Kamandaka. “Dia memerlukan sedikit bekal pengetahuan agama Islam. Karena dia mendapat tugas dari Ayahanda Sri Baginda Prabu Siliwangi untuk mengunjungi Demak, menemui Sultan Demak yang sempat kirim surat ke Pajajaran.”
Arya Baribin menyambut gembira keinginan Pendeta Muda itu. Arya Baribin sendiri memiliki minat cukup tinggi untuk mempelajari sejumlah agama sehingga dia mendapat julukan Pandita Putra. Arya Baribin juga  sudah beberapa kali melakukan diskusi dan pertemuan dengan seorang ulama agama Islam, Syekh Maghribi. Syekh ini adalah  seorang ulama asal Pasai yang tinggal di Muarajati. Syekh Maghribi beberapa kali mengunjungi Kademangan Kejawar dalam rangka mengenalkan ajaran agama Islam ke wilayah Lembah Ciserayu. Syekh Maghribi juga mendirikan sebuah pesantren di Banjarcahyana, lereng timur Gunung Agung.
“Kanda Amenglayaran, sudah ketemu Kanjeng Rama Adipati?” tanya Kamandaka. Pendeta Muda itu menggeleng. “Dinda Silihwarna, antarkan Kanda Amenglayaran menemui Kanjeng Rama Adipati. Disana ada Dinda Wirapati, Dinda Sekarmenur, dan kedua adiknya, Sekarmelati dan Sekarcempaka,” kata Kamandaka.
Silihwarna dan Amenglayaran segera meninggalkan kedua mempelai untuk menemui Kanjeng Adipati Kandhadaha di Dalem Gede. Arya Baribin, Mayangsari, dan Ratna Pamekas ikut-ikutan meninggalkan kedua mempelai yang masih saja menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang sekalipun tidak sepadat hari-hari sebelumnya.

“Dinda Mayangsari dan Dinda Ratna Pamekas, di sini saja. Temani  aku!” kata Sang Dewi mencegah kedua adiknya itu pergi meninggalkannya. Mayangsari dan Ratna Pamekas tentu saja tidak berani menolak perintah Sang Dewi.
“Dinda Silihwarna, tolong Dinda Sekarmenur dan kedua adiknya panggil ke sini, untuk menemani  aku juga,” pesan  Sang Dewi.
“Dinda Silihwarna, tidak boleh menolak perintah Kanjeng Ayu Adipati, ya!”  pesan Kamandaka seperti biasa berkata sambil berkelakar.
“Baik Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati,” jawab Silihwarna sambil tertawa. Dia tidak mau kalah ganti menggoda kakaknya. Begitu Silihwarna pergi, Sang Dewi kembali mencubit   pinggang Kamandaka. Sang Dewi tidak suka dipanggil Kanjeng Ayu Adipati oleh adik-adiknya. Melihat Kamandaka kesakitan, Mayangsari dan Ratna Pamekas tertawa berkepanjangan.
“Kalau tidak sedang ada tamu, sudah aku balas,” kata Kamandaka. Seperti biasa, Sang Dewi langsung mengusap-usap pinggang suaminya yang baru dicubitnya itu.
“Kasihan juga Kanda Amenglayaran, seorang pendeta muda yang kesepian,” kata Kamandaka membicarakan Pendeta Muda yang masih kakak sepupu lewat ibunya itu.
“Kenapa dia menolak cinta putri saudaranya yang cantik?” tanya Sang Dewi.
“Aku sendiri tidak pernah tahu apa sebab Kanda Amenglayaran menolak cinta adik sepupunya. Padahal adik sepupu boleh dinikah kakak sepupu. Rupanya Kanda Amenglayaran lebih suka memilih jadi seorang brahmacharin. Konon, kalimat penolakan kepada adik sepupunya itu sangat menyakitkan hati.”
“Bagaimana bunyi kalimatnya?” tanya Sang Dewi.
“Aku pun diberitahu Dinda Ratna Pamekas. Dinda Ratna, bagaimana bunyi surat  yang berujung pada kematian Ayunda Putri Ayunglarang Sakean?” Kamandaka berpaling pada Ratna Pamekas.
“Kanda Amenglayaran menulis, bahwa cita-citanya dalam hidup ini adalah dia ingin berkelana ke Jawa Timur untuk mencari tempat dimana dia akan dikuburkan, untuk mencari laut tempat dimana dia bisa hanyut, untuk mencari suatu tempat yang bisa menjemput kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya selama-lamanya.” kata Ratna Pamekas yang dulu dititipi surat oleh Amenglayaran.(bersambung)

Minggu, 10 Desember 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (72)





“Nyai Kertisara dengan menggunakan sedikit kecerdasannya memanfaatkan pohon kelapa yang banyak tumbuh di Kaliwedi dan sepanjang Sungai Ciserayu, bisa menjadi orang kaya yang memiliki kekuasaan atas harta. Padahal Kademangan Kejawar jauh lebih luas dari Kaliwedi. Kekayaan alam Kejawar juga  jauh lebih luar biasa dari Kaliwedi. Tetapi, kenapa Kakang tetap miskin? “tanya Nyi Demang.
“Itu karena Kakang tidak memiliki kekuasaan duniawi. Kakang hanya punya kekuasaan atas ritual-ritual keagamaan saja!” kata Nyi Demang menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya kepada suaminya.
“Benar sekali apa yang engkau katakan, Istriku. Maafkan aku atas segala ketidakberdayaanku”  kata Ki Demang pasrah.
“Kakang! Aku rela hidup miskin mendampingi Kakang, karena itu memang kewajiban sebagai seorang istri. Tetapi aku tidak rela anak kita Bagus kelak hanya mewarisi sebuah kemiskinan yang sama dengan kita. Aku tidak ingin Bagus hanya menjadi seorang pandita seperti Ayahnya. Bagus harus menjadi seorang pandita sinatria. Itulah sebabnya aku sangat berharap Bagus kelak bisa belajar ilmu keprajuritan kepada Raden Arya. Syukur-syukur bila kelak Bagus bisa jadi menantu Raden Arya. Jika Raden Arya kelak bisa membangun Kadipaten Kalipucang, kenapa Bagus kelak tidak  bisa membangun Kademangan Kejawar menjadi sebuah Kadipaten?“ kata Nyi Demang dengan semangat menggebu-gebu.
“Kalau toh Bagus belum berhasil mencapainya, setidak-tidaknya ada anaknya Bagus atau cucu kita yang kelak bisa membangun Kademangan Kejawar menjadi Kadipaten Kejawar. Hanya dengan cara itu, keturunan kita tidak akan pernah mewarisi kemiskinan duniawi!” kata Nyi Demang Kejawar pula, masih dengan nada membangkitkan semangat.
“Aku kira engkau betul, Istriku. Engkau dan Bagus memang hanya satu-satunya kekayaanku yang paling berharga di dunia ini. Engka dan Bagus .juga satu-satunya harapanku. Dan satu-satunya masa depanku. Terimakasih, Istriku. Betapa besar pengorbananmu selama ini kepadaku. Maafkan aku, jika aku belum bisa membahagiakanmu,” kata Ki Demang. Diam-diam di kedalaman jiwanya mulai bangkit semangat untuk melawan kemiskinan duniawi yang selama ini membelenggunya.
“Sekarang langkah jangka pendeknya, kemana kelak Bagus harus belajar ilmu keprajuritan agar dapat menjadi seorang ksatria?  Haruskan magang ke Kalipucang? Apakah tidak terlalu jauh? Seharusnya Kademangan Kejawar memang bisa mendirikan pusat pelatihan prajurit sendiri. Tetapi dijamin tidak akan diijinkan Kanjeng Adipati Wirasaba, bukan?” Nyi Demang Kejawar yang cerdik itu mulai merangsang  gagasa-gagasan baru pada diri Ki Demang.
“Ah, itu gampang. Nanti aku hubungi Rekajaya. Dengar-dengar Raden Arya telah dipercaya Adipati Pasirluhur membangun pusat pelatihan prajurit di Kendalisada. Itulah sebabya Raden Arya kini banyak uangnya. Beberapa bulan sebelum meletus perang Pasirluhur-Nusakambangan, konon Raden Arya dipercaya mendidik 200 orang penderes penjadi prajurit sukarelawan ahli menggunakan sabit sebagai senjata perang. Sebagian besar peserta pelatihan prajurit itu dari Kaliwedi. Namun ternyata secara diam-diam, ada beberapa orang penduduk Kejawar yang ikut dalam latihan keprajuritan di Kendalisada.”
“Aku malah senang jika ada penduduk Kejawar yang pandai dalam ilmu keprajuritan. Mudah-mudahan pusat pelatihan keprajuritan Kendalisada yang telah dirintis Raden Arya, Raden Kamandaka, dan Putri Adipati Pasirluhur itu bisa terus berkembang. Ke sanalah kelak Bagus akan aku titipkan. Bagaimana Istriku? Setujukah?” kata Ki Demang memaparkan rencana memilihkan tempat pendidikan bagi Bagus, apabila kelak Bagus sudah cukup umur untuk mulai belajar ilmu keprajuritan. “Sebuah gagasan sangat masuk akal. Setuju sekali. Siapa dulu Suamiku!” kata Nyi Demang gembira karena suaminya sudah mulai memikirkan jalan baru bagi masa depan anaknya.
“Aku masih punya satu lagi jurus simpanan untuk masa depan Bagus,” kata Ki Demang.
“Apa jurus simpanan itu, Kakang?”
“Kamu pernah dengar Empu Supa?”
“Belum, siapa dia?”
“Empu Supa adalah seorang empu ahli pembuat keris-keris sakti Kerajaan Majapahit. Salah satu keris sakti karyanya adalah Kiai Sengkelat, keris pusaka Kerajaan Majapahit. Pemilik terakhir keris buatan Empu Supa itu adalah Dyah Supaprabhawa, Raja Majapahit terakhir. Ketika Sang Raja mangkat (1478 M), Kerajaan Majapahit diserang Dyah Wijayakarana, penguasa Keling di Pare, Kediri, yang merupakan keponakan Sang Raja yang mangkat itu. Akibatnya Kerajaan Majapahit runtuh, dan Dyah Wijayakarana yang merupakan putra bungsu Raja Sri Kertawijaya (1447- 1451 M), menobatkan dirinya menjadi Raja Kerajaan Keling yang mengaku sebagai pewaris Kerajaan Majapahit. Aku tidak tahu apakah keris Kiyai Sengkelat itu jatuh ke tangan Raja Keling? Raja Kediri sekarang, Dyah Ranawijaya adalah putra bungsu Raja Keling, Dyah Wijayakarana. Dyah Ranawijaya itulah yang memindahkan Kerajaan Keling ke Kediri (1386 M). Kemungkinan besar Kiyai Sengkelat ada di tangan Dyah Ranawijaya,” kata Ki Demang Kejawar.
“Aduh, pusing aku. Kakang ceriteranya muter-muter. Apa hubungannya Mpu Supa, Kakang, dan masa depan Bagus?  Ngapain ceritera Sang Prabu Ranawijaya, Raja Kediri? Aku benci sama dia!”
“Benci? Apa masalahnya?”
“Bukankah Sang Prabu Ranawijaya yang akan memecat Kakang, malah mungkin akan memenggal leher Kakang, jika Kakang dan aku nekad pergi ke Pakuan Pajajaran untuk menghadiri resepsi dan ritual pernikahan Raden Arya? Sudah! Aku males kalau Kakang masih nyebut-nyebut dia lagi!” kata Nyi Demang agak marah dan langsung membalikkan badannya, memunggungi Ki Demang dan kembali memeluk Bagus yang sedang lelap tidurnya.
Ki Demang kelabakan juga ketika istrinya ngambek. Bisa-bisa lebih seminggu dirinya akan dibiarkan saja. Karena itu, Ki Demang bisanya hanya sabar. Dia tahu cara mengatasi  istrinya jika sedang ngambek. Cara itu hanyalah sabar dan berikan pujian pada istrinya.
“Aku pikir betul juga kamu. Mudah-mudahan keris Kiyai Sengkelat karya Mpu Supa itu tidak jatuh ke tangan Ranawijaya. Mpu Supa itu punya anak laki-laki namanya Mpu Sura. Mpu Sura ini seorang ahli membuat sarung keris sakti. Dia seorang maranggi yang punya banyak murid. Ayahku salah seorang murid Mpu Sura dan aku mewarisi ilmu maranggi dari ayahku. Aku akan wariskan ilmuku itu pada Bagus. Dengan demikian disamping Bagus kelak menguasai ilmu keprajuritan, juga punya ilmu membuat sarung keris sakti. Tidak gampang, lho, membuat sarung keris sakti. Tidak sembarang orang,” kata Ki Demang sambil berharap istrinya masih mau mendengarkannya. Ternyata istrinya pelan-pelan membalikkan badannya lagi.
“Nah, begitu. Kalau ceritera jangan mutar-mutar. Aku setuju banget. Itu baru gagasan cemerlang. Kelak akan aku tambahkan sebuah nama di depan nama Bagus, Bagus Mranggi Semu! Aku akan tirakat  agar Bagus jadi pemuda yang mumpuni dan bila Raden Arya kelak punya anak gadis, aku berharap Raden Arya bersedia mengambil Bagus Mranggi Semu jadi menantunya. Dengan demikian ikatan kekeluargaan Kejawar-Kalipucang, tidak akan putus,” kata  Nyi Demang yang kaya dengan cita-cita itu.
“Hem, memang luarbiasa gagasan itu. Aku setuju! Siapa dulu Istriku!” puji Ki Demang pula, ”Tetapi kalau mau tirakat untuk Bagus jangan sering-sering dan beritahu aku. Rugi aku, jika  Istriku yang  cantik sering-sering tirakat. Kapan aku mau……” belum habis kata-kata Ki Demang, istrinya sudah memotong kata-katanya.
“Ya, pastilah, minta ijin suami dulu kalau mau tirakat,” kata Nyi Demang langsung memeluk dan mencium Ki Demang. Ki Demang pun tersenyum, ternyata kesabarannya mendatangkan hasil juga. Nyi Demang memeluk dan mencium suaminya dengan mesra sebagai ungkapan rasa senangnya. Tetapi ketika Ki Demang akan membalas memeluknya, Nyi Demang menahan dada suaminya sambil berbisik, ”Kakang  harus mematikan lampu teplok itu  lebih dulu…,”  

Ki Demang Kejawar segera bangkit dengan senyum kemenangan. Permintaan istrinya adalah isyarat agar perbincangan soal masa depan bagi anak buah hatinya itu, untuk sementara sampai di situ dulu. Lampu teplok yang menempel pada tiang dinding kamar tidurnya segera dimatikan. Pantulan cahaya bulan malam itu menerobos masuk melalui sela-sela lubang angin dinding kamarnya, sehingga Ki Demang secara samar-samar masih bisa melihat tubuh cantik istrinya yang tergolek gelisah. Istrinya sudah tidak sabar menunggu. Malam itu menjadi malam yang sangat indah bagi pasangan suami istri Ki Demang dan Nyi Demang Kejawar.

 ***
  
Hari berbahagia dan ditunggu-tunggu itu pun tiba. Adipati Kandhadaha menyelenggarakan pesta besar-besaran perayaan pernikahan Sang Dewi dengan Kamandaka. Pesta berlangsung tujuh hari tujuh malam. Semua kegiatan dipusatkan di Pendapa Kadipaten Pasirluhur.
Aneka macam pertunjukan dan tontonan menarik lainnya ditampilkan silih berganti untuk menghibur rakyat. Di kiri kanan sepanjang jalan menuju  kadipaten dimeriahkan dengan umbul-umbul aneka macam warna. Di samping memasang umbul-umbul, rakyat yang tinggal di pinggir jalan atas kesadarannya sendiri menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan dengan meliliti batangnya menggunakan kain berwarna biru, kuning, dan hijau sebagai lambangkan cinta, kemakmuran, dan kewibawaan.
Nyai Kertisara di Kaliwedi pun tidak ketinggalan ikut menyelenggarakan pesta menyambut pernikahan agung itu. Di sepanjang jalan menuju rumah Nyai Kertisara juga dipasang umbul-umbul. Para penyadap ikut melampiaskan kegembiraannya dengan meliliti batang pohon kelapa yang disewa Nyai Kertisara di sepanjang Sungai Ciserayu. Tentu saja akibatnya di sepanjang Sungai Ciserayu dari barat ke timur, tampak meriah, karena hampir setiap pohon kelapa yang ada, batangnya dihiasi dengan lilitan kain berwarna biru, kuning, dan hijau.
Usai upacara ritual pernikahan Sang Dewi Ciptarasa dengan Kamandaka, dilanjutkan dengan upacara penobatan Kamandaka dan Sang Dewi. Keduanya dinobatkan  sebagai Kanjeng Adipati dan Kanjeng Ayu Adipati Kadipaten Pasirluhur menggantikan Adipati Kandhadaha yang menyatakan lengser dari jabatannya. Kanjeng Adipati Kandhadaha memenuhi janjinya kepada Kanjeng Ayu Adipati. Sesuai tradisi, sejak lengser dari jabatannya itu, penduduk akan menyebut Kanjeng Adipati Kandhadaha sebagai Kanjeng Adipati Sepuh. Demikian pula istrinya, akan dipanggil dengan sebutan Kanjeng Ayu Adipati Sepuh atau Kanjeng Ayu Sepuh saja.
Tiap hari tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat, menyemut di halaman Pendapa Kadipaten. Para tamu undangan datang dari segala penjuru. Para adipati yang hadir bukan hanya dari adipati-adipati di Lembah Ciserayu dan Citanduy saja. Tetapi mereka juga datang dari kadipaten-kadipaten di wilayah Kerajaan Pajajaran lainnya. Sang Raja Sri Baginda Prabu Siliwangi berhalangan hadir, karena sakit. Sedang putra mahkota Banyakbelabur juga tidak bisa hadir. Dia sendiri juga sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan seorang putri dari daerah Banten. Sekalipun begitu, Sang Raja Sri Baginda Siliwangi mengirimkan kemenakannya, seorang pendeta muda alumni Padepokan Megamendung, Bujanggamanik Amenglayaran. Dia pernah tinggal bersama-sama Silihwarna saat berguru di Padepokan Megamendung. Dia mendapat julukan Pendeta Muda.
“Luar biasa! Sebuah pernikahan agung! Selamat Dinda Banyakcatra! Selamat pula Dinda Dewi Kanjeng Ayu Adipati. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu. Dan cepat mendapatkan keturunan!” kata Pendeta Muda yang kepalanya tampak plontos, sekalipun rambut-rambut tipis mulai bermunculan di sana-sini. Dia, mengenakan jubah kuning, selempang pita hijau. Tentu saja tak lupa dibawanya kalung biji pendoa. Dipeluknya dengan hangat mempelai pria yang masih adik sepupunya itu. Pendeta Muda itu datang pada hari ke-enam pesta.
“Terima kasih, Kanda Amenglayaran. Eh, Bapa Pendeta,” kata Kamandaka sambil berkelakar setelah keduanya saling berpelukan.
“Ah, Dinda Banyakcatra. Masih saja suka berkelakar. Panggil nama saja seperti dulu waktu kita masih sering bertemu di Pakuan Pajajaran,” kata Pendeta Muda itu.
Dia adalah putra kakak ibunya Kamandaka dan Silihwarna. Pendeta Muda itu sebenarnya  sedang disiapkan oleh Sri Baginda Prabu Siliwangi menjadi Pendeta Kerajaan Pajajaran. Tetapi dia sendiri telah bertekad untuk pergi meninggalkan Pajajaran, ingin menjadi pengembara ke arah timur. Tindakan itu dilakukan karena Bujanggamanik Amenglayaran ingin menghindari cinta seorang putri sepupunya yang cantik jelita, Putri Ayunglarang Sakean.
“Dinda Silihwarna, sini!,” Kamandaka memanggil adiknya yang sedang berdiri agak jauh di antara tamu yang hadir. Dia sedang asyik berbincang-bincang dengan Mayangsari. Melihat lambaian tangan Kamandaka, Silihwarna dan kekasihnya datang mendekat.
“Kanda Amenglayaran, sudah kenal dengan Dinda Mayangsari? Ini calon istri Dinda Silihwarna,” Kamandaka memperkenalkan Mayangsari.
“Sudah berkenalan tadi, Kanda,” kata Mayangsari sambil tersenyum. Dia berdiri di samping Silihwarna.(bersambung)

Rabu, 06 Desember 2017

Novel: Melati Kadipaten Pasirluhur (71)



“Iya, betul. Dibuat ongol-ongol! Ini tadi mau cepatnya saja,” kata Nyi Demang pula sambil melihat cara Rekajaya makan ganyong. Tampak oleh Nyi Demang, Rekajaya dan Arya Baribin senang dengan ganyong rebus yang disuguhkannya.
“Eh, Kalau Rekajaya, kapan nih mau punya istri ?” tanya Nyi Demang tiba-tiba.
“Calon sudah ada, Nyi Demang. Mohon doa restunya saja, agar bisa menyusul Ndara Kamandaka,” kata Rekajaya sambil tertawa.
“Oh, kamu mau nikah juga, Rekajaya? Selamat kalau begitu. Nah, kalau kamu kelak resepsi pernikahannya di Kaliwedi, ya? Ki Demang dan Nyi Demang pasti hadir. Bahkan kalau tidak diundang, asal dengar, pasti hadir!” kata Ki Demang Kejawar.
“Terima kasih, Ki Demang dan Nyi Demang,” kata Rekajaya pula sambil mengingatkan Arya Baribin, bahwa matahari sudah tinggi. Mereka berdua sudah berjanji kepada Kamandaka untuk kembali ke Kaliwedi sebelum matahari mencapai puncak kubah langit.
Tahu Arya Baribin dan Rekajaya mau pamitan, Nyi Demang buru-buru memanggil pengasuhnya. Pengasuhnya datang sambil membawa anak laki-lakinya yang sudah mandi. “Ayo, Bagus, salam kepada Paman Arya. Ucapkan, ‘Selamat jalan Paman Arya, sampai ketemu lagi!’ Bisa kan?” Nyi Demang mengajari anak laki-lakinya, Bagus.
Anak laki-laki itu menirukan kata-kata Ibunya, lalu minta bersalaman. Arya Baribin tertawa melihat anak yang cakap, sehat, dan cerdas itu. Diangkatnya anak itu, diciumnya. Lalu diturunkannya. Arya Baribin mengambil 10 tail uang emas dan diberikan kepada  anak laki-laki itu.
“Ditabung, ya Bagus. Kalau sudah besar main ke Paman, ya. Nanti tabungannya Paman tambah lagi,” kata Arya Baribin.
“Bilang apa pada Paman Arya?”  kata Nyi Demang.
“Makasih, Paman Arya,” kata Bagus, lalu bersembunyi di belakang Ibunya sambil membawa uang hadiah Arya Baribin.
“Sekali lagi, Nyi Demang dan Ki Demang mengucapkan selamat jalan. Semoga sampai di Pasirluhur dengan selamat,” kata Nyi Demang.
“Menyesal juga sih, sepertinya pada hari pernikahan Raden Arya kelak, Bibi tidak bisa hadir. Kecil sekali kemungkinannya dapat ijin dari Kanjeng Adipati Wirasaba IV. Apalagi ijin dari Sang Prabu Ranawijaya, Raja Kediri. Bibi hanya mendoakan semoga apa yang menjadi cita-cita Raden Arya terkabul, yaitu dapat istri cantik, Putri Raja pula,” kata Nyi Demang.
“Semoga Raden kelak cepat punya keturunan, jangan terlambat seperti Ki Demang. Dan kalau Raden kelak punya anak perempuan, sisihkan satu untuk Bagus juga baik. Karena Raden  tidak bisa jadi menantu  Bibi, ya besanan saja. Setuju Ki Demang? Setuju Raden?” kata Nyi Demang Kejawar setengah berkelakar.
“Maaf, Raden. Ibunya Bagus kalau bicara memang suka ceplas-ceplos. Hanya kelakar saja. Jangan dimasukkan ke dalam hati, ya,” kata Ki Demang pula.
Arya Baribin hanya tertawa dengan kelakar Nyi Demang. Tetapi sekaligus kagum. Wawasan Ny Demang  ternyata merentang jauh ke depan, sehingga anak laki-lakinya yang baru berusia lima tahun itu sudah dipikirkan masa depannya. Bagi Arya Baribin, Nyi Demang adalah sosok seorang Ibu yang memiliki sifat-sifat sebagai pendidik sejati,yaitu mampu melihat jauh ke masa depan.
“Gagasan Bibi, bagus juga, lho. Doakan juga ananda kelak berhasil mengemban amanat Sri Baginda Prabu Siliwangi yang telah menugaskan ananda untuk membangun kembali Kadipaten Kalipucang. Bibi boleh sering-sering menengok ke sana. Ajak Bagus. Kalipucang dekat dari Kejawar. Lebih dekat dari pada ke Pakuan Pajajaran. Yang paling mudah lewat Rawalo, Jeruk Legi, Kawunganten, Gandrung, Kedungreja, Rawaapu, menyeberang Sungai Citanduy, sudah sampai di Kalipucang. Banyak kuda bisa disewa jika mau ke Kalipucang. Kalau ke Kalipucang, tidak perlu ijin Kanjeng Adipati Wirasaba IV, kan?” kata Arya Baribin menjelaskan rencana masa depannya jika kelak dia benar-benar berhasil menyunting Putri Pakuan Pajajaran.
Ki Demang dan istrinya tentu saja sangat gembira mendapat tawaran yang menarik itu. Dipeluknya Arya Baribin dengan perasaan berbunga-bunga. Harapan mereka agar hubungan kekerabatan bisa terjalin antara Kejawar-Kalipucang, menjadi impian-impian indah di masa depan. Kedua tamu istimewa Ki Demang Kejawar itu segera mohon diri untuk kembali ke Kaliwedi. Ki Demang mengantarkannya sampai ke jalan dengan perasaan sedih. Bagi Ki Demang dan Nyi Demang, Arya Baribin, sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya sendiri.
Angin dari arah Pegunungan Ciserayu bertiup lembut, menyertai Arya Baribin yang memacu kudanya meninggalkan halaman rumah Ki Demang Kejawar. Di belakangnya mengikuti kuda yang dikendarai tukang kuda dan Rekajaya. Ki Demang dan Nyi Demang mengiringinya dengan pandangan mata sampai kedua kuda tamunya itu semakin lama semakin jauh dan semakin kecil. Akhirnya kedua kuda itu menghilang ditelan ujung jalan yang menghubungkan Kademangan Kejawar dan tempat penyeberangan Sungai Ciserayu di sebelah selatan desa Kaliori.
 Ki Demang dan istrinya masih berdiri mematung di pinggir jalan memandang ke arah utara, ke arah dua kuda yang berlari dengan cepat dan sudah menghilang dari jangkauan pandangan mata. Mereka baru terjaga, ketika Bagus menarik kain Nyi Demang, menyerahkan 10 tail uang emas yang diterimanya dari Arya Baribin. Bagus lalu lari ke arah pengasuhnya yang mau mengajak bermain-main di halaman samping kanan pendapa, bersama-sama anak-anak sebaya lainnya.
“Hari apa sih ini, Ki Demang?“ tanya Nyi Demang. Wajahnya sumringah.
“Raditya Kasih, memangnya tadi malam mimpi apa, Nyi?”

“Bener, lho. Semalam mimpi dapat ikan baceman dari Sungai Ciserayu. Besar-besar lagi. Eh tahunya itu artinya lima keranjang gula aren, lima keranjang gula kelapa, satu  karung beras, dan sepuluh tail emas!” kata Nyi Demang dengan wajah bersei-seri.
“Alaa…, sekarang bisa tertawa, pada hal tadi pagi ngomel melulu! Awas uang 10 tail emas milik Bagus, jangan diutik-utik. Nanti terpakai,” kata Ki Demang mengingatkan.
“Sudah, Ki Demang ngurusi soal-soal ritual dan ngapalin japa mantra saja. Soal ekonomi serahkan pada Istri. Kalau Ki Demang campur tangan soal ekonomi rumah tangga, pasti kacau. Ki Demang gatal kan kalau lihat uang?  Supaya tidak dipinjam Ki Demang lalu tidak kembali, uang 10 tail emas akan aku jadikan kalung saja. Kalau sewaktu-waktu butuh, cepat diuangkan lagi. Kalau sudah jadi kalung, Ki Demang mau pinjam juga boleh. Asal tidak untuk dijual, tidak untuk digadaikan, dan tidak untuk kawin lagi!” kata Nyi Demang yang terus nyerocos.
Dan satu-satunya  cara untuk menghentikannya omongan istrinya bagi Ki Demang  ialah dengan buru-buru meninggalkan istrinya itu. Ki Demang pun segera masuk rumah, mau kembali ke kebun belakang untuk melihat-lihat buah pisang yang sudah masak supaya tidak didahului codot.
Malam harinya setelah keliling mengawasi orang-orang yang bertugas ronda di pendapa kademangan, Ki Demang Kejawar masuk kamar tidur. Dijumpainya Nyi Demang sudah tidur pulas sambil memeluk anak laki-lakinya, Bagus.
“Kapan Bagus mau punya adik, anak segede itu masih dikeloni? Mestinya kan sudah tidur di kamar lain,” kata Ki Demang menggerutu. Ki Demang mengira Nyi Demang sudah tidur. Ternyata belum.
“Memangnya, Bagus mengangggu, apa? “ kata Nyi Demang yang membuat  Ki Demang terkejut karena kata-katanya terdengar oleh istrinya.
Ki Demang diam saja, tak berani menjawab pertanyaan istrinya. Ki Demang segera naik ke tempat tidur setelah berganti dengan pakaian tidur. Lalu Ki Demang membaringkan dirinya di samping istrinya yang memunggunginya karena istrinya tetap memeluk Bagus yang tertidur pulas di dalam pelukan ibunya.
“Belum tidur?”  bisik Ki Demang lirih. Nyi Demang diam saja, pura-pura tidak mendengar.
“Maafkan aku, ya ,” bisik Ki Demang lagi.
“Memangnya, apa salah Kakang kepadaku?” tanya istrinya. Ki Demang diam-diam tersenyum, ketika istrinya mulai menyebutnya dengan panggilan kesayangan, “Kakang”. Suatu pertanda baik. Strategi merayu kepada istrinya pun dilanjutkan.
“Ya, aku suka membentak bentak kamu. Itu semua tidak sengaja,”
“Tidak apa lah. Asal Kakang jangan membentak aku ketika di atas tempat tidur,” jawab istrinya mulai memancing suaminya.
“Mana berani aku membentak kamu di tempat tidur?” kata Ki Demang sambil memeluk istrinya dari belakang dan mencium leher tepat  dibawah telinga istrinya sehingga  membuat istrinya menggelinjang seketika. Istrinya pun langsung membalik. Kedua pasang suami istri itu saling berhadap-hadapan.
“Tahukah Kakang, kenapa Kakang suka membentak-bentak aku?” tanya Nyi Demang sambil menahan suaminya agar tidak memeluknya dulu. Ki Demang pun tahu, bahwa sesungguhnya istrinya malam itu ingin membicarakan suatu masalah penting dengan dirinya.
“Ya, itulah makanya aku minta maaf kepadamu. Aku suka membentak-bentak kamu. Itu disebabkan aku miskin. Sebagai seorang demang daerah sima, aku hanya memiliki kekuasaan keagamaan. Tetapi aku tidak memiliki kekuasaan dunia. Satu-satunya kekuasaan dunia yang aku miliki hanya kamu, istriku, dan Bagus anakku. Selebihnya, aku miskin. Aku tidak punya kekuasaan duniawi yang berupa tahta dan harta,” kata Ki Demang mencurahkan isi hatinya kepada istrinya. Nyi Demang hanya tersenyum. Tapi lalu dipeluknya suaminya itu dengan segenap kasih sayangnya.
“Aku melihat Kakang sudah semakin cerdas!” puji istrinya sambil tersenyum. Ki Demang diam sebentar, menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan keluhannya.
“Dalam soal harta, misalnya. Untuk  urusan beras saja yang sering bikin kamu pusing, aku harus minta-minta kepada Kanjeng Adipati Wirasaba. Dalam soal gula, aku harus menunggu belas kasihan Nyai Kertisara. Demikian pula dalam soal beras terkadang aku pun harus menunggu belas kasihan Nyai Kertisara. Bahkan aku tidak pernah mampu memberikan Bagus sepuluh tail emas. Aku lebih miskin dari Raden Arya,” kata Ki Demang.
“Betapa pun kecilnya dan sedikitnya harta yang dimiliki oleh seseorang itu tetap saja perlu selagi manusia hidup di dunia. Apalagi bagi seorang demang dari wilayah sima seperti Kakang. Bagaimana mungkin Kakang bisa memberi tongkat agar mereka tidak tergelincir, memberi minum agar mereka tidak kehausan, memberi makan agar mereka tidak kelaparan, memberi payung agar mereka tidak kehujanan, dan memberi pakaian agar mereka tidak telanjang, jika Kakang miskin? Bahkan untuk bisa mendapatkan beras saja, Kakang mengharapkan uluran tangan dari orang lain? “kata Nyi Demang menyampaikan pandangannya.
“Harta, tahta dan wanita, memang bisa menjadi malapetaka jika dicari, dikejar, dan diperoleh dengan ketamakan. Tetapi harta, tahta, dan wanita, akan bermanfaat jika dicari dengan benar dan digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan kesejahteraan bersama. Nafsu tamak akan harta, tahta, dan wanita itulah yang akan menghancurkan peradaban dan kemanusiaan,” kata Nyi Demang masih melanjutkan.
“Benar sekali, istriku. Aku setuju sepenuhnya dengan pendapatmu itu.” kata Ki Demang yang masih berbaring di samping istrinya sambil  matanya menatap kosong langit-langit atap kamar tidurnya.
“Dan, dalam soal tahta, Kakang lebih miskin lagi, bukan?” kata istrinya lagi, mengingatkan.
“Ya, Betul sekali. Hanya untuk membuka sawah baru saja agar kademangan ini tidak kekurangan pangan, harus minta ijin kepada Kanjeng Adipati Wirasaba lebih dahulu. Itu berarti aku miskin dalam soal-soal kekuasaan.”  Ki Demang mengeluh kepada istrinya.
“Bahkan untuk bisa pergi ke Pakuan Pajajaran hanya untuk keperluan menghadiri pesta dan ritual pernikahan, Kakang pun harus minta ijin kepada Kanjeng Adipati dan Sang Raja Kediri, bukan?” kata istrinya, lagi-lagi mengingatkan Ki Demang.
“Kamu betul, Istriku. Sesungguhnya aku merasa sakit hati sekali. Hanya untuk bisa sekedar menyenangkan kamu jalan-jalan ke Pakuan Pajajaran saja, aku tidak mampu. Padahal ongkos tidak menjadi masalah, bukan? Pastilah Raden Arya yang akan mengongkosi kita,” keluh Ki Demang pula.(bersambung)