Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Kamis, 06 April 2017

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (07)





Kicau burung yang saling bersahut-sahutan dari sangkar  di Taman Kaputren Dalem Kadipaten Pasirluhur sudah tidak terdengar lagi, ketika Khandegwilis mengetuk pintuk kamar yang ada di ujung paling barat dari bangunan taman kaputren.

“Ndara Putri, ini Biyung Emban. Matahari sudah tinggi. Santap pagi sudah siap, Ndara Putri,” kata seorang wanita membawa baki berisi minuman dan makanan kecil. Dia berdiri di depan pintu. Tangannya pelan mengetuk daun pintu.

“Pintu tidak dikunci, masuk saja Biyung Emban,” terdengar suara lembut seorang gadis dari dalam kamar.
Kandhegwilis, Emban Pengasuh kesayangan Sang Dewi mendorong daun pintu  masuk ke dalam, dan meletakkan baki berisi minuman di atas meja. Dilihatnya Ndara Putrinya masih tergolek di tempat tidur.

“Aduh, Ndara Putri, tidak baik seorang gadis sudah siang begini masih memeluk guling,” kata Khandegwilis.
“Biyung Emban salah duga. Aku sudah bangun dan mandi pagi tadi, sebelum kicau burung di dalam sangkar berhenti. Tinggal berhias saja. Aku hanya tidur-tiduran sambil memeluk guling. Lihatlah jendela-jendela kamar sudah terbuka, bukan? Harum bunga melati yang mekar di halaman sudah sejak tadi pagi menyinggahi kamarku, Biyung Emban. Apakah Biyung Emban tidak merasakan harumnya bunga melati?”

Khandegwilis tertawa. Dia masih jongkok di dekat meja sambil memegang baki yang sudah kosong, menunggu kalau-kalau ada perintah dari Ndara Putri yang sangat disayanginya itu. “Harum bunga melati masih terasa, Ndara Putri. Tetapi akan lebih baik jalan-jalan ke Tamansari sambil melihat Sungai Logawa. Daripada melamun bermalas-malasan memeluk guling.”

“Ada yang sedang aku tunggu, Biyung Emban,” ujar gadis cantik jelita itu sambil turun dari tempat tidurnya. Dasar gadis cantik jelita, walapun belum berhias, wajahnya sudah memancarkan cahaya kecantikan, membuat setiap ksatria akan mabuk kepayang dibuatnya. 

“Oh, syukurlah. Biyung Emban ikut gembira. Memang tidak baik gadis seusia Ndara Putri masih sendirian saja. Kakak-kakak Ndara Putri dulu usia empat belas atau lima belas tahun sudah punya suami. Biyung Emban dulu malah kawin pada usia yang lebih muda lagi. Ndara Putri sudah berusia tujuh belas tahun, tapi belum bersedia disunting seorang pria. Adipati atau putra Adipati manakah gerangan yang beruntung bakal memetik kembang melati dari Kadipaten Pasirluhur?” ujar Khandegwilis, sambil duduk di bawah mendampingi Ndara Putrinya yang duduk di atas kursi sambil menikmati minuman teh hangat yang tersaji di atas meja.

“Bukan tamu yang sedang aku tunggu Biyung Emban. Tapi…, nah, dengarlah itu. Dengar, Biyung Emban. Kicau burung prenjak yang hinggap di pohon mangga sebelah. Dengar kan? Sudah tiga hari berturut-turut aku dengar suara burung prenjak menari-nari sambil berkicau. Dan entah mengapa aku senang mendengarnya.”

“Betul, Ndara Putri. Itu suara burung prenjak. Kata orang, burung prenjak itu memberi pertanda, Ndara Putri akan kedatangan tamu yang akan melamar Ndara Putri.”

“Belum ada yang melamar aku, Biyung Emban.”

“Lho, Biyung Emban kan dengar sendiri. Sudah banyak adipati dan putra adipati yang berminat melamar Ndara Putri. Tapi Ndara Putri belum bersedia,” ujar Khandegwilis. “Oya, Ndara Putri sudah dengar belum? Seminggu lagi Kanjeng Adipati akan menyelenggarakan pesta menangkap ikan di Sungai Logawa. Akan banyak adipati dan putra adipati diundang. Sudah barang tentu Kanjeng Adipati tidak hanya bermaksud menghibur rakyat. Tetapi juga bermaksud memberikan kesempatan kepada Ndara Putri memilih sendiri mana adipati atau putra adipati yang dikehendaki Ndara Putri.”

“Oh, pantaslah kalau begitu. Biyung Emban tidak memperhatikan. Setelah sarapan, temani lagi aku ke Tamansari dekat pinggir Sungai Logawa. Nanti akan aku tunjukkan sesuatu pada Biyung Emban.”

“Baik, Ndara Putri. Kan tadi Biyung Emban sudah bilang, daripada tiduran memeluk guling, lebih baik ke Tamansari melihat-lihat Sungai Logawa. Udara di sana sangat segar. Pastilah sangat menyehatkan,” ujar Khandegwilis sambil bangkit dari duduknya, membawa baki yang telah kosong dan melangkah keluar kamar Ndara Putrinya.

Rumpun bambu dan daun pohon elo itu bergoyang-goyang tertiup angin. Sinar matahari awal musim kemarau menerobos melewati rimbunnya dedaunan dari pohon-pohon yang tumbuh di Tamansari Dalem Kadipaten Pasirluhur yang luas itu. Sang Dewi ditemani emban kesayangannya, Khandegwilis, datang ke Tamansari sudah terlalu siang. Matahari sudah berada di puncak kubah langit. Tapi angin dari arah hilir Sungai Logawa bertiup lembut, membuat keadaan di dalam Tamansari terasa nyaman dan sejuk.

Tamansari yang luas itu memang dibangun di sebelah barat Dalem Kadipaten. Batas paling barat tamansari terletak di bibir Sungai Logawa. Pohon elo, rumpun bambu tali, bambu wulung, dan bambu betung menjadi pagar hidup yang memisahkan Sungai Logawa dengan Tamansari. Dari balik rimbunnya pohon bambu itu sesungguhnya Sungai Logawa yang mengalir dari utara ke arah selatan itu tampak jelas sekali, dan merupakan pemandangan yang indah dilihat dari tebing di balik rumpun bambu yang menjadi pelindung dan pagar hidup Tamansari.

“Biyung Emban, lihatlah ke arah selatan sana, hilir Sungai Logawa itu,” ujar Sang Dewi.

“Benar Ndara Putri, di sanalah kelak pesta rakyat menangkap ikan akan dilaksanakan. Tak lama lagi panggung kehormatan dan umbul-umbul akan berkibar di sana.”

“Biyung Emban, beberapa hari belakangan ini aku sering memperhatikan seorang pemuda yang aneh. Dia sering terjun dari tebing di seberang itu. Kemudian berenang ke arah hilir sampai jauh di sana itu. Terkadang kulihat berenang ke arah hulu sampai menghilang tidak kelihatan, mungkin melewati tebing di bawah pohon itu. Pada kali lain berenang bolak balik memotong arus sungai. Sayang sekali sekarang tidak tampak. Ingin sekali aku menunjukkan pada Biyung Emban. Siapa tahu Biyung Emban mengenalnya, siapakah gerangan dia?”

“Mana Biyung Emban tahu, Ndara Putri? Lagi pula kalau sekarang pemuda itu ada, Biyung Emban juga tak mungkin bisa mengenali wajahnya karena jauhnya jarak pandang dari sini.”

“Seharusnya hari ini pemuda itu bisa kita lihat, Biyung Emban.”

“Dari mana Ndara Putri bisa begitu yakin?”

“Ya, bukankah Biyung Emban sudah mendengar kicau burung prenjak tadi pagi? Memang aneh, setiap kali aku mendengar burung prenjak dan aku pergi ke sini, dapat dipastikan aku akan melihat pemuda itu. Aneh, burung prenjak itu seakan-akan memberitahu padaku. Aneh, apakah burung prenjak itu milik pemuda itu? Aneh pula Biyung Emban, pemuda itu sepertinya sering dari kejauhan memandang ke sini, beberapa kali aku perhatikan sering berlama-lama menatap rumpun bambu dan pohon elo itu, Biyung Emban.”

Khandegwilis mulai mengerti. Ndara Putrinya sedang jatuh hati kepada pemuda yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Bahkan belum pernah bertatap muka dengannya.“Mana ada burung prenjak dipelihara orang, Ndara Putri?” tanya Khandegwilis.

 “Kalau kutilang, cucak rawa, branjangan, murai, dan lainnya lagi memang sering dipelihara orang. Tetapi burung prenjak? Mana ada orang mau memeliharanya? Semua itu hanya khayalan Ndara Putri saja. Bisa jadi pemuda itu memang tengah ditugaskan Kanjeng Patih untuk mengamankan dan menjaga rumpon yang telah dipasang di beberapa tempat sekitar kedung agar tidak diganggu penduduk. Bisa jadi dia salah seorang punggawa Kadipaten yang ditugaskan Kanjeng Patih agar tidak ada penduduk yang mencari ikan di sepanjang Sungai Logawa sampai pesta marak itu selesai. Tetapi siapapun pemuda itu, Ndara Putri, dia pastilah orang biasa saja, bukan priyayi agung, bukan putra adipati,” kata Khandegwilis melanjutkan. “Lebih-lebih lagi bukan seorang adipati. Jangan-jangan dia hanyalah seorang bujang dari Dalem Kepatihan yang mendapat tugas dari Ki Patih. Jadi lupakan pemuda itu, Ndara Putri. Tidak perlu Ndara Putri pikirkan. Tidak perlu Ndara Putri jatuh hati pada pemuda aneh itu dan sebaiknya kita pulang saja, Ndara Putri. Matahari sudah tergelincir ke barat. Sebentar lagi Kanjeng Adipati pulang. Bagaimana bila Kanjeng Adipati mencari Ndara Putri dan mengajaknya santap siang?”

Sang Dewi tampak murung wajahnya dan masih enggan meninggalkan Tamansari. “Bukankah Biyung Emban yang tadi pagi menyarankan agar aku ke sini?”

“Betul, Ndara Putri. Tetapi sekarang sudah waktunya santap siang. Besok masih ada kesempatan ke sini lagi.”

Sang Dewi melangkah meninggalkan Tamansari, setelah sebelumnya menatap Sungai Logawa yang airnya bergerak meliuk-liuk menuju muaranya. Bukan air sungai yang tengah mengalir itu yang menarik dirinya, tetapi seorang pemuda entah siapa yang sering berenang di Sungai Logawa itu. Diam-diam dia yakin bahwa tadi pagi pastilah pemuda itu sudah turun ke sungai. Dia tidak melihatnya karena tiba di Tamansar sudah agak siang. 

”Burung prenjak itu tak pernah berbohong. Sebab burung prenjak itulah yang pertama kali menuntunku ke Tamansari. Sungguh burung prenjak yang aneh,” ujar Sang Dewi dalam hati. Rasa herannya sulit dihalaunya pergi. Mereka berdua berjalan kembali ke Taman Kaputren.

“Biyung Emban, haruskah seorang gadis menerima calon suami pilihan orang tuanya?” 

“Semua orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, Ndara Putri.”

“Tetapi yang akan menjalani hidup berumah tangga bukan orang tua. Kenapa anak gadis tidak boleh ikut menentukan sendiri, siapa yang akan menjadi calon suaminya?”

“Aduh, Ndara Putri, kalau soal itu, Kanjeng Rama Adipati pasti bisa menjawabnya. Adat dan tradisi yang berlaku memang begitu. Calon suami dipilih oleh orang tua. Anak gadis tinggal pasrah dan menyerah. Itulah adat yang berlaku di Kadipaten Pasirluhur dan juga kadipaten lain. Semua kakak Ndara Putri mengalami hal seperti itu. Pada orang kebanyakan juga berlaku hal seperti itu. Jarang sekali ada gadis yang berani melawan adat itu. Pernah dengar kisah gadis Kutaliman yang terkenal itu, Ndara Putri?”

“Belum, Biyung Emban. Nanti malam ceriterakan padaku.”

“Baiklah, Ndara Putri.” Mereka berdua membuka pintu terusan yang menghubungkan Taman Kaputren dan Tamansari, keduanya melangkah masuk. Sampai di depan kamar Sang Dewi, seorang pembantu wanita sudah menunggu.

“Ndara Putri, Kanjeng Rama Adipati sudah menunggu di ruang makan, mengajak santap siang bersama,” kata pembantu wanita itu.

“Ya, sampaikan pada Kanjeng Rama, aku akan segera ke sana.” 

Dalam perjalananan menghadap Kanjeng Adipati, yang terngiang-ngiang di telinga Sang Dewi malah kisah gadis Kutaliman yang belum pernah didengarnya itu. Siang itu Kanjeng Adipati Kandhadaha bersantap siang di ruang makan Dalem Gede ditemani istrinya Kanjeng Ayu Adipati dan putrinya, Sang  Dewi. Usai santap siang, Kanjeng Adipati menjelaskan pada putri bungsunya rencana Kanjeng Adipati akan mengadakan pesta rakyat menangkap ikan di Sungai Logawa. Sejumlah adipati sahabat tentu banyak yang akan hadir. Ada di antara mereka yang akan membawa putranya yang sudah siap berumah tangga.

“Kesempatan yang baik bagimu, Nduk Dewi Cah Ayu, untuk memilih salah satu di antara mereka. Mereka siap melamarmu, jika engkau siap pula menerima. Jangan engkau kecewakan Kanjeng Ramamu ini. Dulu kakak-kakakmu tak pernah menolak, langsung setuju, jika Kanjeng Ramamu ini setuju. Hanya engkau yang agak aneh. Tapi tidak apa. Engkau putri Kanjeng Ramamu yang paling bungsu, paling cantik pula. Tentu saja sangat wajar bila banyak yang berminat menyuntingmu. Dan wajar pula bila engkau menggunakan  hak untuk memilih.”

“Aduh, Kanjeng Rama, ampunilah Putri Kanjeng Rama ini. Tak ada niat untuk menentang kehendak Kanjeng Rama. Kalau selama ini Dewi belum bisa menentukan pilihan, semata-mata karena Dewi belum mengenal dengan baik mereka itu semua.”

“Ketahuilah, Nduk Dewi Cah Ayu, pesta rakyat itu nanti diadakan memang salah satu tujuannya agar engkau punya kesempatan untuk mengenal mereka semua.”

“Terima kasih, Kanjeng Rama. Sebab bagaimana Dewi bisa mengenal bibit, bebet, dan bobot calon suami, bila Dewi tidak pernah mengenal calon suami dengan baik. Benar tidak, Kanjeng Rama?”

“Hem…, engkau nyata-nyata cerdas, Nduk Dewi Cah Ayu. Dari calon-calon yang siap melamarmu itu engkau tinggal memilih saja. Benar sekali, bibit, bebet, dan bobot itu kan pedoman warisan leluhur kita yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih jodoh. Mereka semua memenuhi syarat berdasarkan pedoman warisan leluhur. Misalnya bibit, jelas mereka semua itu turunan para priyayi agung. Bebet, mereka pastilah punya penghasilan yang cukup untuk menghidupi rumah tangga mereka, menghidupi istri serta anak-anak mereka. Bobot, mereka semua mempunya jabatan terhormat,” berkata Kanjeng Adipati memberi nasihat kepada putri bungsunya itu.

Hem, bobot jabatan terhormat? Sang Dewi berkata di dalam hati. Alangkah sempitnya pandangan Kanjeng Rama. Para ksatria itu hanya mengejar harta, tahta, dan wanita. Betapa banyaknya para wanita istri adipati dan para ksatria itu yang menderita karena bobot ditentukan hanya berdasarkan tinggi rendahnya jabatan yang dimiliki para ksatria itu. Aku, Putri Kadipaten Pasirluhur, Putri Kanjeng Rama Adipati Kandhadaha dan Kanjeng Ibu, tidak silau oleh harta dan tahta, sekalipun keduanya itu penting sebagai modal untuk membangun sebuah rumah tangga. 

Bobot itu bukan hanya jabatan. Jika bobot adalah jabatan, maka para ksatria itu akan bertindak sewenang-wenang, tidak memiliki sifat welas asih pada sesama, dan tidak bisa berlaku adil. Itulah penyebab munculnya sikap adigang, adigung, dan adiguna. Ya, sewenang-wenang karena merasa mempunyai wewenang. Kepada istri, mereka pun, para ksatria itu akan sewenang-wenang. Wanita hanyalah dijadikan bunga. Bunga itu akan terus diisap selagi ada madunya. Tetapi bila sudah layu, bunga itu pun akan dibuangnya. Ah, betapa banyak wanita kaumku yang menderita karena para ksatria itu  memuja harta dan tahta. Hem, Kanjeng Rama. Bobot itu tidak diukur dari tinggi rendahnya tahta yang diduduki oleh seorang calon suami.

Bobot itu juga harus diukur berdasarkan tinggi rendahnya budi mulia dan budi luhur calon suami. Duh, Kanjeng Rama, ananda tidak mau jadi tumbal ambisi para ksatria. Ananda ingin memilih calon suami yang bukan hanya berbobot secara lahirnya saja. Tetapi calon suami yang berbobot lahir dan batinnya, berbudi mulia dan berbudi pekerti luhur. Itulah calon suami yang layak sebagai tempat bernaung, berlindung dan mengabdi bagi seorang istri.

Nduk Dewi Cah Ayu, putri Kanjeng Rama. Engkau bukan hanya semakin cantik. Tetapi juga semakin dewasa, semakin cerdas, dan semakin bijak. Berbahagialah para adipati ataupun putra adipati yang kelak menjadi suamimu,” ujar Kanjeng Adipati menyadarkan Sang Dewi yang sedang asyik berdiskusi di dalam benaknya itu.

Nduk Dewi Cah Ayu, engkau boleh kembali ke Taman Kaputren. Ingat-ingatlah pesanku.”
Sang Dewi segera bangkit dan kembali ke Taman Kaputren, setelah memeluk ayah dan ibundanya.[Bersambung]

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (06)




Kemudian Kamandaka membawa ikan kancra sebesar bantal dan naik ke darat untuk dipersembahkan kepada Dyah Ayu Dewi Ciptarasa yang duduk di panggung kehormatan di samping ayah bundanya. Sang Dewi turun dari panggung kehormatan, menyambut dirinya yang hendak menyerahkan ikan kancra sebesar bantal. Kemudian sebuah ciuman dari bibir mungil Sang Dewi mendarat di pipinya. 

Sayang sekali bayangan di dalam kepalanya itu buyar seketika. Seekor nyamuk hinggap di pipinya, membuat Kamandaka kesal. Nyamuk nakal yang menggigit pipinya itu ditepuk dengan tangannya, tetapi lolos. Yang tersisa adalah rasa gatal di pipi akibat gigitan nyamuk. Kamandaka tertawa sendiri. Dia membayangkan bukan bekas gigitan nyamuk yang diusap-usap karena gatal. Tetapi bekas ciuman bibir Dyah Ayu Dewi Ciptarasa yang mendarat di pipinya, karena dia telah tampil sebagai pahlawan. Ya, pahlawan yang berhasil mempersembahkan ikan kancra sebesar bantal kepada Sang Dewi pujaan hatinya.

Tentu saja pengakuan Kamandaka kepada Ki Patih Reksanata bahwa dirinya pernah menjadi paleka hanya sebuah bualan saja untuk menyenangkan Ayah angkatnya itu. Mana ada putra raja menjadi paleka? Dia hanya pernah melihat paleka dalam pesta marak yang pernah dilihatnya di beberapa sungai seperti  Sungai Cimanuk, Citarum, Ciliwung, maupun Cisadane. Ingat itu semua, kembali Kamandaka tersenyum sendiri. Menjadi seorang paleka sebenarnya bukan pekerjaan mudah. Kamandaka pernah berbincang-bincang dengan seorang paleka hebat yang ditemuinya  saat dia ikut menghadiri pesta marak di Sungai Cimanuk, tidak jauh dari Kadipaten Galuh Kawali.

“Tidak mudah menjadi seorang paleka, Raden. Selain harus pandai berenang tentu saja harus pandai menyelam. Seorang paleka terlatih bisa menyelam ke dalam lubuk cukup lama. Di daerah sekitar Leuwi Gombong banyak paleka pandai menyelam.”

“Berapa lama seorang paleka paling hebat dari Leuwi Gombong Sungai Cimanuk bisa tahan menyelam di dalam leuwi atau kedung?” tanya Kamandaka saat itu penasaran.

“Bisa sampai selama orang mengunyah sirih. Bahkan ada yang bisa sampai selama orang lari sepuluh kali memutari tanah lapang di depan pendapa kadipaten. Bahkan ada yang mampu menyelam hampir setengah hari.”

“Hem…,  luar biasa. Apa kira-kira ilmu yang dimiliki oleh seorang paleka?”

Paleka itu hanya tertawa, kemudian memberitahu rahasianya menjadi seorang paleka handal. “Sebenarnya tidak ada ilmu yang istimewa, Raden,” jawab orang itu. “Para paleka yang kuat menyelam cukup lama di Leuwi Gombong belum tentu mampu mengerjakan hal yang sama di tempat lain atau di sungai lain. Sebenarnya paleka itu mampu menyelam lama karena dia sudah hapal medan. Dia tahu dan hapal betul lekuk-lekuk dinding sungai di sekitar leuwi atau kedung. Dinding di dasar sungai dekat leuwi biasanya terdapat banyak lubang yang masuk ke dalam ceruk sehingga membentuk semacam kolam atau sumur kecil di dasar sungai. Seorang paleka berpengalaman bisa masuk ke dalam ceruk, lalu dia akan muncul di permukaan kolam kecil yang ada di dalam ceruk itu. Di situ cukup udara dari luar yang masuk lewat pori-pori atap kolam. Banyak ikan bersembunyi dan bersarang di situ. Di dalam sana amat gelap karena tak ada cahaya dari luar. Tetapi mata ikan kancra dan ikan-ikan lain sering bersinar-sinar dalam gelap sehingga bisa dengan mudah dilihat. Tentu saja di dalam ceruk seorang paleka bisa mengambil napas, karena ada rongga udara. Orang awam pasti akan kagum karena mengira paleka itu tahan lama menyelam di dalam air. Padahal dia masuk ke dalam ceruk di dasar tebing sungai yang membentuk kolam-kolam kecil di sepanjang dinding tebing sungai.” 

“Tentu sebuah pekerjaan berbahaya, bagimana kalau tidak bisa menemukan jalan keluar?” tanya Kamandaka heran.

“Itulah sebabnya, perlu waktu lama bagi seorang paleka untuk mengenal dan menemukan ceruk di dasar sungai. Memang risikonya berat. Banyak paleka tidak berpengalaman lenyap dan terkubur di dalam ceruk, karena bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar. Ceruk itu memang sarang ikan. Makanya banyak paleka tergoda dan tanpa perhitungan matang nekat masuk ke dalam ceruk. Orang-orang di kampung sering menganggap jika ada paleka hilang di dasar sungai itu karena diseret Lulun Samak.”

“Lulun Samak? Ikan apakah itu?”

“Bukan ikan, Raden. Lulun Samak semacam hantu sungai. Hantu itulah yang dipercaya sering meminta korban nyawa manusia. Korbannya biasanya para paleka dan anak-anak yang tidak pandai menyelam. Mereka mandi dekat leuwi dalam yang pada dindingnya di dasar sungai banyak ceruknya. Para orang tua pun sering menakut-nakuti anak-anak agar jangan mandi di leuwi dengan mengatakan, ’Awas ada Lulun Samak’. Anak-anak biasanya takut pada hantu sungai itu, sehingga mereka jarang mandi di sungai sendirian. Mereka selalu mandi ramai-ramai di sungai.” Paleka itu mengakhiri penjelasannya yang membuat Kamandaka sempat kagum.

Lulun Samak? Hantu Sungai? Kamandaka adalah  seorang pemberani. Dia tidak pernah takut pada hantu. Dari perbincangannya dengan seorang paleka hebat beberapa tahun lalu di tepi Sungai Cimanuk, Kamandaka mendapatkan tambahan pengetahuan. Malam itu Kamandaka bergegas tidur, karena esok harinya ingin melihat Sungai Logawa yang mengalir di sebelah barat Dalem Kadipaten Pasirluhur. Dia ingin mandi dan mencoba menjadi seorang paleka di Sungai Logawa.

Sungai Logawa terletak di sebelah barat Dalem Kadipaten Pasirluhur. Jarak dari Dalem Kadipaten ke Sungai Logawa tidak terlalu jauh. Bahkan batas barat Tamansari Kadipaten Pasirluhur tepat berada di bibir Sungai Logawa. Pohon bambu dan elo tumbuh menjadi pagar hidup yang memisahkan bibir sungai dengan Tamansari. Mata air Sungai Logawa ada di kaki Gunung Agung agak ke barat, mengalir ke selatan dan bermuara di Surup Lawang, Sungai Ciserayu. Pada saat musim hujan airnya berwarna coklat kekuning-kuningan, sedangkan pada musim kemarau berwarna hijau toska bening kebiru-biruan. 

Matahari pagi itu sudah naik di atas kaki langit  sebelah barat. Kamandaka sudah berdiri di tepi Sungai Logawa. Mandi, berenang, dan menyelam di sungai bukan hal yang asing bagi Kamandaka. Sejak anak-anak dia sudah gemar main ke Sungai Ciliwung. Memasuki usia remaja sebagai seorang ksatria Pajajaran, dia diharuskan mengikuti latihan dasar keprajuritan. 

Di antara latihan dasar keprajuritan yang diikutinya tentu saja adalah berenang melintasi sungai, berenang melawan arus sungai, memanjat tebing sungai, dan terjun ke sungai. Bahkan berkelahi di dalam sungai pun diajarkan dalam setiap latihan dasar keprajuritan. Semua latihan dasar keprajuritan dengan sungai sebagai medan, dilakukan oleh instruktur di Sungai Ciliwung tak jauh dari Pakuan.
Bagi Kamandaka Sungai  Logawa lebih mirip dengan Sungai Cimanuk dari pada Sungai Ciliwung. Jarak bibir tebing Sungai Logawa ke permukaan air sungai tidak terlalu tinggi, struktur dinding air sungai yang paling dalam alias kedung terbuat dari batu cadas. Bila musim kemarau, tanah landai berlantai batu sungai bulat-bulat muncul di kiri dan kanan sungai, sehingga memudahkan bagi siapa saja yang akan turun ke dasar sungai.

“Yang belum pernah kulakukan hanyalah menjadi seorang paleka. Pesta marak akan dilakukan di sini, cukup waktu bagiku untuk berlatih menjadi seorang paleka,“ ujar Kamandaka di dalam batinnya sambil memandang air Logawa yang mengalir perlahan melewati kedua sela-sela kakinya.

Keterangan dari seorang paleka yang pernah diajaknya berbincang beberapa tahun lalu sangat membantunya, ketika dia merasa harus menjadi paleka hebat. Sejak itu tiap hari Kamandaka selalu menyempatkan diri mandi di Sungai Logawa tidak jauh dari batas barat Tamansari Dalem Kadipaten Pasirluhur. 

Kamandaka mencoba mengingat kembali dan mencoba semua ketrampilan yang diperolehnya dari instruktur saat mengikuti latihan dasar keprajuritan Ksatria Pajajaran. Misalnya, terjun ke sungai dari tebing sebelah barat. Kemudian terjun dari tebing sebelah timur, berenang melawan arus, berenang melintang menyeberangi sungai bolak balik beberapa kali, dan menyelam. Itulah ketrampilan yang terus dipertajam dan dilatihnya setiap hari di Sungai Logawa.

Latihan paling disenangi Kamandaka ialah ketika dia mandi di Logawa setelah matahari condong ke barat sampai sore hari. Dari tebing sebelah barat Kamandaka dengan jelas dapat melihat bagian Tamansari Dalem Kadipaten Pasirluhur yang terlindung oleh pohon elo, rumpun bambu, dan pohon-pohon pelindung lainnya. Sering sekali Kamandaka berharap di balik rindangnya pohon bambu dan elo itu berdiri gadis cantik, Sang Dewi yang belum pernah dilihatnya. Dia membayangkan Sang Dewi setiap sore ditemani sejumlah pengasuhnya sedang bercengkerama di Tamansari. Dan, dia berharap melalui sela-sela rumpun bambu yang lebat itu, Sang Dewi tengah mengamati dirinya.

Membayangkan hal itu Kamandaka langsung berdiri, kemudian terjun ke sungai dengan loncatan yang indah sekali. Kedua kakinya lurus ke atas dan kedua tangan lurus ke bawah, sampai akhirnya seluruh tubuhnya meluncur ke bawah bagaikan anak panah, menyentuh sungai dan hilang tenggelam di dasar sungai. Tahu-tahu dirinya sudah muncul di hilir sungai di sisi barat. Kamandaka merasa atraksinya itu disaksikan Sang Dewi yang sedang  duduk-duduk di Tamansari ditemani pengasuhnya. Semua itu memompa semangatnya untuk terus menerus berlatih. Keterampilan terakhir yang diperdalamnya ialah menjadi seorang paleka. Inilah memang keterampilan yang paling berat. Karena dia harus belajar sendiri, tanpa ada bimbingan dari seorang guru. Dia hanya mengandalkan imajinasinya saja.

Langkah pertama tentu saja dia harus mampu menyelam selama mungkin. Menahan napas selama mungkin, baginya yang menguasai ilmu prana atau ilmu pernapasan tentulah bukan perkara sulit. Langkah berikutnya ialah mengenali struktur dinding dasar kedung Sungai Logawa. Ini termasuk pekerjaan berat. Tetapi setelah beberapa kali dilakukan, dengan mengandalkan rabaan kedua tangannya sambil menyelam menyusuri dinding dasar kedung, dia berhasil menemukan sejumlah ceruk yang memanjang dari hulu ke hilir. Tidak semua ceruk itu dapat dimasuki karena sempit.

Tetapi di bagian hilir Kamandaka berhasil menemukan ceruk cukup besar di dasar sungai. Kamandaka mencoba masuk ke dalam ceruk. Dan benar saja. Dia berhasil muncul ke dalam gua di bawah tanah yang sangat gelap. Dengan mudah dia bernapas karena terdapat rongga udara cukup luas. Bahkan kalau mau dia bisa bertahan sehari penuh di situ asal tidak kedinginan. Dia kemudian mencoba menyelam kembali dan keluar dari ceruk. Ternyata berhasil. Tahu-tahu dia sudah berada di bawah langit terbuka mengambang di dekat kedung. Jika ada orang menyaksikan dia menyelam ke dalam kedung, mereka pastilah akan mengira bahwa Kamandaka benar-benar seorang paleka hebat, karena tahan menyelam lama sekali.

Kamandaka hari itu merasa puas karena sudah menemukan rahasia dari seorang paleka yang hebat. Karena rahasia, tentu saja dia tak akan menceriterakannya kepada siapapun. Termasuk rahasia adalah adanya ceruk-ceruk di tebing dasar sungai dan sebuah ceruk besar yang telah berhasil dimasukinya. Tetapi bagaimana cara menangkap ikan dengan tangan kosong? Ya, esok hari dia akan mencobanya. Dan akan dibawanya pula tempat ikan dari bambu. Siapa tahu besok dia akan dapat ikan dan benar-benar menjadi seorang paleka.

“Aku siap mempersembahkan kepadamu ikan kancra sebesar bantal, Wahai Melati Pasirluhur,” Kamandaka berguman sendiri di dalam hati. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa bangga dengan dirinya sendiri.

Hari berikutnya Kamandaka sudah berada kembali di tempat yang sama di Sungai Logawa.  Dia mencoba menangkap ikan di dalam ceruk dengan tangan kosong. Ternyata tidak mudah menangkap ikan yang berkeliaran di dasar ceruk. Beberapa kali tangannya menyentuh ikan yang bersembunyi di dalam ceruk sempit, tetapi selalu lepas. 

“Jika di dalam ceruk yang sempit saja sukar ditangkap. Bagimana dengan ikan yang ada dalam ceruk besar? Pasti lebih sukar ditangkap,” pikir Kamandaka sambil berulangkali menyelam ke dasar kedung.

Hari itu Kamandaka pulang dengan tangan kosong. Tempat ikan dari bambu yang dibawanya tidak ada isinya. Ketika dia membayangkan Sang Dewi seakan-akan mentertawakan dirinya, semangatnya bangkit lagi. Dia bertekad, besok pagi-pagi harus bisa menangkap ikan kancra sebesar bantal yang sering bersentuhan dengan dirinya di dalam ceruk besar. Malam harinya Kamandaka menganyam jala kecil berbentuk kantong yang kira-kira cukup untuk menjerat satu ekor kancra sebesar bantal.

Pagi keesokan harinya, matahari sudah naik sepenggalah ketika Kamandaka kembali turun ke Sungai Logawa. Sungai kebetulan sepi karena penduduk sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dari kedung yang berada di bawah tebing barat sungai Kamandaka siap akan menyelam. Tetapi pandangan Kamandaka diarahkan lebih dulu ke pohon elo yang tumbuh tidak terlalu jauh di tebing sebelah timur laut agak ke hulu dan dikelilingi rumpun bambu. Ranting-ranting rumpun bambu sebagian condong ke sungai, dan daun pohon elo itu bergoyang-goyang ditiup angin pagi. Tiba-tiba dia merasa di balik rumpun bambu itu, ada sepasang mata gadis mirip wajah ibunya sedang memperhatikannya.

“Tunggu! Pasti kupersembahkan ikan kancra sebesar bantal dari Logawa,” bisiknya. 

Dia pun menarik napas panjang kemudian menyelam. Dalam waktu singkat dia sudah bergerak ke arah ceruk besar. Pelan-pelan dimasukinya ceruk yang ada di dasar tebing. Sejumlah ikan kancra berkelebat hendak menghindar menabrak dada, punggung, lengan, dan kakinya. Sambil bergerak ke atas menuju permukaan air di dalam ceruk kedua tangan Kamandaka membentangkan jaring kecil yang dibawanya. Begitu jaring dibuka seekor kancra besar ada yang terjerat masuk ke dalam jaring dan menggelepar-gelepar di tangan Kamandaka. Dia tersenyum puas  ketika wajahnya muncul di permukaan air di dalam rongga ceruk. Keadaan gelap gulita, tetapi Kamandaka bisa mengambil napas secukupnya. Kemudian dia menyelam kembali keluar dari rongga ceruk sambil membawa kancra buruannya yang terjerat di dalam jaring.

Ketika muncul kembali dari dalam kedung, kaki Kamandaka sudah menapak di dasar sungai yang dangkal. Ikan kancra diangkatnya tinggi-tinggi disaksikan rumpun bambu dan pohon elo yang daunnya masih bergoyang ditiup angin seakan-akan ikut senang menyaksikan sukses Kamandaka menangkap seekor ikan kancra sebesar bantal.

“Hem…, adakah Sang Dewi melihat ikan kancra hasil tangkapanku dari balik rumpun bambu di sana itu?” tanya Kamandaka di dalam hati. Entah mengapa tiba-tiba dia merasakan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. 

Matahari sudah hampir berada di atas ubun-ubun ketika ikan kancra sebesar bantal itu dibawanya naik ke pinggir sungai. Kamandaka bergegas pulang. Seluruh penghuni Dalem Kepatihan heboh saat menyaksikan Kamandaka membawa ikan kancra sebesar itu.

Siangnya ikan kancra itu sudah diolah menjadi ikan bakar oleh juru masak Dalem Kepatihan yang ahli memasak ikan sungai. Ketika santap siang tiba, Ki Patih Reksanata kebetulan  pulang agak awal. Nyi Patih dan Kamandaka sedang merayakan santap siang bersama. Lauknya tentu saja ikan kancra bakar Sungai Logawa hasil tangkapan perdana Kamandaka.

“Mestinya kamu cepat-cepat punya istri supaya ada yang memasakkan ikan Logawa hasil tangkapanmu,” ujar Ki Patih Reksanata menggoda Kamandaka. Di depan mereka tersaji  hidangan kancra bakar yang telah dipotong-potong. Lengkap dengan sambal, jengkol rebus, dan lalap rebusan daun singkong muda. 

Nyi Patih ikut mengiyakan kelakar Ki Patih sementara Kamandaka hanya tersenyum. Diam- diam Kamandaka membayangkan, alangkah bahagianya jika dirinya bisa bersantap siang dengan hidangan kancra bakar bersama Sang Dewi, Melati Kadipaten Pasirluhur. Tetapi gadis yang selalu menggodanya itu sekejap pun belum pernah dilihatnya. Hanya rumpun bambu dan pohon elo yang tumbuh di tepi Sungai Logawa itulah yang sudah berulang kali dilihatnya. Dan itulah batas sisi barat Tamansari Kadipaten Pasirluhur.[Bersambung]

Novel :Melati Kadipaten Pasirluhur (05)





“Cucuku, sebaiknya kamu tidak usah mampir Ke Kadipaten Galuh di Kawali, agar penyamaranmu kelak tidak terbongkar. Selamat jalan, semoga apa yang menjadi cita-cita Cucuku akan menjadi kenyataan dan semua usaha Cucuku dimudahkan oleh para dewa,” ujar Ki Ajar Wirangrong, ketika esok paginya Banyakcatra mohon doa restu hendak meneruskan perjalanannya. 


Banyakcatra segera memacu kudanya menembus kabut putih pekat yang masih menyelimuti jalan menurun menuju Tatar Ukur. Semakin lama Padepokan Ki Ajar Wirangrong semakin jauh tertinggal di belakang, akhirnya lenyap ditelan halimun. Lima hari terus menerus Banyakcatra memacu kudanya menuju arah tenggara dari Tatar Ukur. Jika sore tiba dan malam menjelang, barulah Banyakcatra beserta kudanya bergegas mencari tempat untuk istirahat. Hari kelima Kadipaten Galuh telah dilewati. Sesuai saran Ki Ajar Wirangrong, Banyakcatra sengaja membatalkan rencana semula hendak singgah di Galuh. Hubungan Galuh dengan Pasir, memang dekat. Sangat masuk akal saran dari Ki Ajar Wirangrong agar Banyakcatra menghindari Kadipaten Galuh. Tentu maksudnya supaya penyamaran Banyakcatra tidak mengalami kegagalan. 


Tepat pada hari keenam, Banyakcatra telah berada di tepi Sungai Citanduy. Malam itu, Banyakcatra mencari rumah salah seorang penduduk untuk bermalam, sekaligus mencari orang yang bisa dititipi kudanya dalam jangka waktu cukup lama. Pada masa itu bukan hal sulit untuk mencari penduduk yang bisa menjaga dan merawat kuda dengan memberikan imbalan tertentu. Penyamaran dimulai dari tepi  Citanduy.

***

Esok paginya saat Banyakcatra menyeberangi Citanduy namanya telah diubah menjadi Kamandaka, nama samaran pemberian Ki Ajar Wirangrong. Kamandaka tampil sebagai orang biasa saja. Kudanya telah ditinggalkan di rumah seorang penduduk tempat dia bermalam. Dia melanjutkan perjalannya menuju Kadipaten Pasir dengan berjalan kaki, kadang ikut menumpang jika kebetulan ada kereta kuda. Pada kali lain, ikut seorang penunggang kuda yang kebetulan lewat dan menuju arah yang sama. Tepat pada hari ke delapan Kamandaka sudah tiba di halaman rumah Ki Patih Reksanata, Patih Kadipaten Pasirluhur.


Patih Reksanata sangat terkejut ketika melihat seorang pemuda tampan, kulit kuning, tinggi semampai, tubuh perkasa, tetapi penampilannya sangat sederhana dan wajahnya seperti mengharapkan suatu pertolongan. Sebagai seorang patih, sering kali dia kedatangan tamu dari berbagai kalangan dan dengan berbagai macam kepentingan. Karena itu, ketika salah seorang pembantunya memberitahu bahwa ada pemuda tampan ingin menghadap kepadanya, Ki Patih pun mempersilahkan tamunya itu untuk menemuinya di beranda belakang, tempat Ki Patih sering duduk-duduk melepaskan lelah dari kepenatan akibat beban berat pekerjaan sehari-hari yang menjadi tanggung jawabnya sebagai Patih Kadipaten Pasirluhur.


“Siapakah sebenarnya kamu ini? Dan ada keperluan apa gerangan bersusah payah menemui aku?” tanya Patih Reksanata kepada pemuda yang tiba-tiba saja membuat Ki Patih menjadi tertarik dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang pemuda tampan itu.


“Ampunilah hamba bila hamba kurang sopan, Kanjeng Patih. Hamba hanyalah seorang anak dusun dari lereng Tangkuban Perahu. Hamba berkelana kian kemari ingin mencari tempat untuk berteduh dan menitipkan diri hamba, Kanjeng Patih. Hamba juga seorang yang bodoh, tidak banyak pengetahuan yang hamba miliki. Hamba berharap Kanjeng Patih bersedia menerima diri hamba untuk mengabdi menyerahkan hidup dan mati hamba kepada Kanjeng Patih. Nama hamba Kamandaka, Kanjeng Patih.”


Dalem Kepatihan memang sering menjadi salah satu tempat bergantung dari penduduk sekitar yang ingin mencari penghasilan dengan menjual tenaganya sebagai pembantu rumah tangga. Ada yang menjadi petugas kebersihan, petugas ronda, perawat taman, tukang cuci, tukang mengisi bak air, tukang merawat kuda, dan aneka macam tetek bengek rumah tangga kepatihan lainnya. Jika Ki Patih berkenan, ada juga mereka yang telah lama bekerja sebagai seorang abdi di dalem kepatihan itu, diangkat sebagai juru magang untuk mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah tulis menulis, kegiatan acara-acara seremonial maupun tugas-tugas pemerintahan yang sering dilaksanakan di bangsal kepatihan.


Sekalipun mengaku sebagai orang bodoh dan kurang pendidikan, Ki Patih Reksanata memiliki kesan tersendiri pada Kamandaka. Cara bertutur kata dan sikapnya mengesankan bahwa pemuda di depannya itu menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. Ki Patih diam-diam menilainya ada potensi luar biasa dalam diri pemuda itu. Bagi Ki Patih Reksanata, Kamandaka lebih pas menjadi anak seorang priyayi, ketimbang anak orang desa yang kurang tersentuh pendidikan dan kurang paham adat sopan santun di kalangan priyayi. Dalam hati Ki Patih terbesit niat untuk mengambilnya sebagai anak angkat, kemudian akan dididiknya agar kelak bisa menjadi kepala rumah tangga Dalem Kepatihan. 


Kebetulan semua anak Ki Patih Reksanata perempuan dan semuanya sudah menikah. Mereka ikut suaminya masing-masing sehingga Ki Patih hanya bersama Nyi Patih setiap harinya. Semua orang yang tinggal di Dalem Kepatihan hanyalah saudara jauh dan orang lain yang bertugas membantu urusan rumah tangga kepatihan. Kepala rumah tangga kepatihan pun hanyalah orang kepercayaan yang telah lama mengabdi kepadanya. Kebetulan Nyi Patih juga ingin punya anak laki-laki, tetapi tidak pernah kesampaian. Namun demikian keinginannya itu, disimpan saja di dalam benaknya. Ki Patih perlu waktu untuk melakukan penilaian, benarkah Kamandaka itu tulus ingin mengabdi kepadanya ataukah hanya pura-pura saja. Paling tidak Ki Patih memerlukan waktu beberapa minggu untuk memperoleh kesan cukup meyakinkan.


“Baiklah, Kamandaka bila engkau benar-benar ingin mengabdi dan berbakti kepadaku, aku menerimanya. Nanti salah seorang bujangku akan memberitahu di mana kamarmu dan apa saja tugas-tugasmu.”


“Hamba menghaturkan terima kasih tiada terhingga, Kanjeng Patih,” ujar Kamandaka setelah Ki Patih Reksanata menerimanya menjadi salah seorang abdinya yang akan ikut dipekerjakan di Dalem Kepatihan.

Seorang bujang membawa Kamandaka ke gandok belakang. Dia ditempatkan di sebuah kamar yang berdampingan dengan kamar para bujang petugas kebersihan taman dan halaman Dalem Kepatihan yang luas. Kamandaka segera mengerti bahwa Ki Patih telah menugaskan dirinya sebagai salah seorang juru taman Dalem Kepatihan. Sebagai salah seorang calon putra mahkota yang hidup di lingkungan Keraton Pajajaran di Pakuan, tentu saja Kamandaka sangat paham seluk beluk mengelola rumah tangga keraton.


Dibandingkan dengan Keraton Pakuan, Dalem Kepatihan Kadipaten Pasirluhur tentu bukan tandingannya. Maka dalam waktu singkat Kamandaka mengetahui kelemahan-kelemahan yang ada dalam urusan mengelolala Dalem Kepatihan. Kamandaka pun bertekad untuk merubah wajah Dalem Kepatihan agar nampak lebih berwibawa, enak dipandang, bersih, dan nyaman. 


Kamandaka mulai melaksanakan gagasannya dengan meningkatkan kebersihan halaman, memotong ranting-ranting pohon pelindung yang tidak perlu, mengatur komposisi tanaman bunga penghias taman, mengecat ulang tiang-tiang bangsal kepatihan, mengubah komposisi cat pagar Dalem Kepatihan, dan kegiatan penataan lainnya yang dipandang perlu. Demikian pula bangunan Dalem Kepatihan, mulai dari bangsal, rumah induk tempat Ki Patih Reksanata tinggal, bangunan sayap kanan, bangunan sayap kiri, gandok, sumur dan kamar mandi, sampai kandang kuda, tidak lepas dari sentuhan Kamandaka. Tentu saja semua itu membuat Ki Patih Reksanata geleng-geleng kepala.  


Dalem Kepatihan kini berubah menjadi sejuk, indah, bersih, menyedapkan mata siapa saja yang memandangnya. Bahkan lantai bangsal kepatihan yang dulunya berdebu kini selalu mengkilap, tiang-tiangnya pun bebas dari debu. Dalem Kepatihan dalam waktu singkat telah menjelma menjadi istana yang indah hampir mengalahkan Dalem Kadipaten Pasirluhur. Dalem Kepatihan hanyalah kalah luas. Tetapi tidak kalah dalam penataan keindahan.


Karya Kamandaka bukan hanya itu saja. Dia juga memperhatikan faktor keamanan Dalem Kepatihan. Tidak jarang dia ikut berjaga pada malam hari dengan petugas ronda malam. Kamandaka melatih mereka seni ilmu beladiri dan cara-cara mengamankan bangunan Dalem Kepatihan dari kemungkinan masuknya pencuri atau orang yang tidak dikehendakinya. Tentu saja apa yang dilakukan Kamandaka itu diketahui dengan pasti oleh Ki Patih Reksanata. Apalagi Kamandaka ternyata sangat relijius, menguasai tata cara berdoa, juga gemar membaca kitab suci. Akhirnya Ki Patih Reksanata bersama istrinya, sepakat mengangkat Kamandaka sebagai anak angkatnya. Bahkan Ki Patih Reksanata langsung mengangkatnya sebagai Kepala Rumah Tangga Dalem Kepatihan. Selama ini jabatan itu tidak berfungi karena petugas lama sudah tua dan sering sakit. 


Sejak itu, seluruh bujang dan petugas Dalem Kepatihan secara resmi memanggil Kamandaka dengan sebutan Raden. Ya, Raden Kamandaka, putra angkat Ki Patih Reksanata. Kamandaka kini menempati rumah khusus yang dulu ditinggali oleh putri Ki Patih Reksanata yang sudah meninggalkan Dalem Kepatihan karena ikut suami. Ki Patih Reksanata mulai sering membelikan pakaian yang indah-indah, sehingga penampilan Kamandaka sekarang benar-benar bagaikan seorang Ksatria Kadipaten Pasirluhur.


Ki Patih Reksanata kini merasa sangat bahagia. Lebih-lebih karena Kamandaka tahu banyak soal pemerintahan. Karena itu Ki Patih Reksanata banyak meminta Kamandaka membantunya menyelesaikan sejumlah masalah yang bersifat teknis, sehingga volume pekerjaan yang selalu menumpuk dan menjadi beban Ki Patih Reksanata dapat dikurangi. Walapun begitu, Ki Patih Reksanata tidak pernah membawa Kamandaka ke kadipaten. Bahkan Sang Adipati Pasirluhur pun tidak pernah tahu bahwa Ki Patih Reksanata baru saja mengangkat seorang pemuda sebagai anak angkatnya.


Tak terasa sudah hampir tujuh bulan Kamandaka tinggal di Dalem Kepatihan. Dia sudah mulai hapal daerah-daerah sekitar Kadipaten Pasirluhur. Bagaimana dengan Dyah Ayu Dewi Ciptarasa? Kamandaka sudah mendengar nama gadis itu sering disebut oleh penduduk. Tetapi bagaimana gerangan wajahnya? Benarkah apa yang dikatakan Ki Ajar Wirangrong bahwa Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa mirip Ibundanya? Bagaimana kalau tidak?


Demikian sejumlah pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Betapa ingin  Kamandaka melihat gadis pujaan hatinya  itu, sekalipun hanya sekedipan mata. Dyah Ayu Dewi Ciptarasa putri Kanjeng Adipati itu belum bersuami, maka sesuai dengan adat dan tradisi yang berlaku, Dyah Ayu Dewi Ciptarasa dipingit dengan ketat di Dalem Kadipaten. Ingat akan hal itu, membuat hati Kamandaka seperti dicabik-cabik. Sampai suatu ketika Kamandaka mendengar kabar  menggembirakan.


Pada suatu pertemuan di pendapa Kadipaten, Kanjeng Adipati Kandhadaha mengemukakan maksudnya untuk menyelenggarkan pesta tahunan menangkap ikan di Sungai Logawa yang dikenal dengan pesta marak. Pesta marak atau pesta menangkap ikan di sungai merupakan tradisi yang banyak dilakukan oleh kadipaten-kadipaten yang berada dalam wilayah Kerajaan Galuh. 


Kerajaan Galuh sendiri biasa menyelenggarakan pesta marak di Sungai Cimanuk. Pesta itu tujuannya melestarikan habitat ikan di sungai sebagai sumber protein yang murah dan menanamkan budaya mencintai sungai sebagai karunia alam semesta yang harus tetap dijaga, dipelihara, dan dilestarikan. Dengan pesta marak silaturahmi antara raja dengan para adipati, maupun antar adipati dari suatu kadipaten akan tetap terjaga dan terpelihara. Pesta marak juga merupakan pesta yang memberikan hiburan pada rakyat, sekaligus juga mendekatkan rakyat dengan rajanya ataupun rakyat dengan adipatinya. Acara pesta marak biasanya berlangsung meriah, dimulai pada pagi hari dan berakhir pada tengah hari. 


“Ki Patih, terserah bagaimana cara penyelenggaraan pesta marak di Sungai Logawa itu. Usahakan bisa semeriah mungkin. Jangan lupa melakukan kerjasama dengan petugas kadipaten yang lain. Undanglah para adipati tetangga Kadipaten Pasirluhur untuk menjadi tamu kita menghadiri pesta rakyat marak,” ujar Kanjeng Adipati memberikan tugas kepada Ki Patih Reksanata dalam pertemuan tersebut.


“Semua perintah Kanjeng Adipati akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kebetulan puncak musim kemarau masih tiga bulan lagi, Kanjeng Adipati. Sekarang baru masuk awal musim kemarau. Jadi cukup waktu agar pesta marak yang dikehendaki Kanjeng Adipati bisa berlangsung lebih meriah dari tahun lalu.”


“Ya, betul Ki Patih, masih ada cukup waktu. Tetapi persiapan harus segera dimulai supaya ikan yang bisa ditangkap besar-besar. Pasanglah rumpon dari ranting-ranting bambu di sejumlah kedung agar semakin banyak ikan yang akan bertelur. Nanti pada puncak musim kemarau, saat pesta marak dimulai, telur-telur yang menetas di rumpon bambu itu pastilah sudah besar-besar dan sudah enak untuk diolah. Jangan terlambat memasang rumpon bambu.”


“Baik Kanjeng Adipati. Siang ini juga akan diusahakan agar rumpon-rumpon bambu sudah dipasang di sejumlah kedung di Sungai Logawa, terutama di kedung-kedung yang tidak jauh dari tempat panggung kehormatan akan didirikan.”


Kanjeng Adipati Pasirluhur tampak puas memimpin rapat pada hari itu. Keamanan di Kadipaten cukup terkendali, tidak terdengar adanya wabah penyakit, dan hasil panen melimpah, pencurian, perampokan, dan gangguan keamanan lainnya sudah sangat berkurang. Dengan sendirinya Ki Patih Reksanata memperoleh pujian dari Kanjeng Adipati karena prestasi dan kemampuannya dalam menjalankan roda pemerintahan kadipaten sehari-hari. Usai rapat dengan Kanjeng Adipati, Ki Patih Reksanata masih melanjutkan pertemuaan dengan para mantri, lurah, dan punggawa kadipaten lainnya. Tugas pun segera dibagi, agar amanat Sang Adipati melaksanakan pesta marak di Sungai Logawa bersama rakyat Kadipaten Pasirluhur dapat dilaksanakan dengan memuaskan.


Hari itu Ki Patih Reksanata baru bisa pulang menjelang sore. Sekalipun lelah, Ki Patih Reksanata merasa puas. Semua beban pekerjaan persiapan penyelenggaraan pesta untuk menghibur rakyat melalui acara penangkapan ikan secara masal di Sungai Logawa sudah dibagi-bagi. Tugas Ki Patih Reksanata tinggal menerima laporan dan mengawasi semua persiapan yang dilakukan para bawahannya. 


Malam hari usai santap malam Kamandaka dipanggilnya untuk diajak berbincang soal rencana Kanjeng Adipati yang akan menyelenggaran pesta marak. Tentu saja Kamandaka sangat bergembira mendengar berita itu. 


“Pernah menyaksikan pesta marak, anakku Kamandaka?” tanya Ki Patih Reksanata ingin tahu, setelah Kamandaka datang menghadap.


“Tentu saja sudah, Kanjeng Rama. Hamba pernah menyaksikan pesta marak di Sungai Cimanuk yang diselenggarkan Kanjeng Adipati Galuh. Hamba malah sempat menjadi Paleka.”


“Apakah Paleka itu?” Ki Patih Reksanata bertanya.


“Paleka adalah penyelam ahli. Tugasnya menangkap ikan yang bersembunyi di ceruk-ceruk dinding sungai dengan tangan kosong. Ikan yang bersembunyi di ceruk-ceruk dinding sungai sulit ditangkap dengan jala besar atau seser.” 


“Oh, aku tahu. Paleka itu penyelam tanggguh. Di sini rasanya juga ada beberapa orang.  Ikan apa yang berhasil kamu tangkap dengan tangan kosong?”


“Tidak mudah menangkap ikan dengan tangan kosong, Kanjeng Rama. Karena tubuh ikan sangat licin. Tugas paleka yang lain ialah menggiring ikan-ikan yang bersembunyi di ceruk-ceruk itu agar mau keluar, sehingga mudah ditangkap.”


“Berarti kamu bukan paleka yang terampil,” ujar Ki Patih Reksanata sambil tertawa. Kamandaka ikut tertawa.


“Ananda pernah menangkap ikan kancra sebesar bantal dengan tangan kosong, Kanjeng Rama.”

“Sebesar bantal?” tanya Ki Patih Reksanata heran.


“Benar, Kanjeng Rama. Ikan yang sudah kena tuba, pasti mabuk. Ikan mabuk mudah ditangkap dengan tangan kosong.”


“Engkau boleh menjadi paleka dalam pesta marak di Sungai Logawa kelak. Tunjukkan keterampilanmu pada Kanjeng Adipati,” ujar Ki Patih Reksanata mengakhiri perbincangan malam itu.


Malamnya Kamandaka tidak bisa tidur. Dia membayangkan dalam pesta marak itu, dirinya terjun ke Sungai Logawa disaksikan Dyah Ayu Dewi Ciptarasa yang pasti hadir di atas panggung kehormatan. Dia pun mampu menangkap ikan kancra sebesar bantal yang diambilnya dari sebuah ceruk dengan tangan kosong. Begitu dirinya muncul ke permukaan sungai, pastilah akan disambut dengan sorak-sorai dan bunyi gong dipukul, kemudian diiringi suara gamelan bertalu-talu yang sengaja disiapkan untuk memeriahkan pesta marak. (Bersambung)