Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Minggu, 01 Desember 2019

Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (21)



Ternyata waktu untuk persiapan keberangkatan ke Nusakambangan, tertunda sampai tiga minggu. Sang Dewi dan Kamandaka memperpanjang bulan madunya di Puri Permatabiru. Perahu dari Nusakambangan, ternyata juga perlu waktu dua minggu baru bisa tiba di Kaliwedi. Tetapi pagi itu, Sang Dewi dan Kamandaka sudah siap memulai perjalannya menikmati bulan madu ke Nusakambangan. Setelah sarapan di rumah Nyai Kertisara, rombongan yang akan menemani bulan madu Sang Dewi dan Kamandaka berkumpul di Pangkalan Perahu Nyai Kertisara di tepi Sungai Ciserayu. Mereka semua sudah siap-siap akan berangkat melayari Sungai Ciserayu menuju muaranya di Teluk Penyu, Segara Anakan, Nusakambangan.
Air Sungai Ciserayu tampak bening memantulkan wajah langit pagi hari, mengalir tenang tak beriak. Angin lembut dan segar pagi hari bertiup pelan seakan ingin menyapa rombongan dari Kadipaten Pasirluhur yang mulai naik satu persatu ke atas perahu. Dua buah perahu sungai berukuran sedang yang dikirim dari Nusakambangan telah tiba sejak kemarin siang. Setiap perahu bisa memuat 10 penumpang, dilayani juru sauh yang berjumlah empat orang. Lambung perahu diberi warna merah, kuning, biru. Tapi warna biru merajai keseluruhan lambung perahu. Di atas tempat duduk dipasang atap dari kajang yang di atur melengkung, ditopang enam buah tiang. Sejumlah tiang untuk memasang bendera dan umbul-umbul juga didirikan di sisi kanan dan kiri lambung perahu.
Sang Dewi naik ke atas perahu yang berada di barisan paling depan, menyusul Kamandaka yang naik lebih dulu. Kamandaka membantu Sang Dewi naik ke atas perahu. Adanya tangga trap turun ke sungai yang dibangun di tebing sungai pada Pangkalan Perahu milik Nyai Kertisara itu sangat memudahkan penumpang yang akan naik perahu.
Sang Dewi dan Kamandaka duduk di bangku paling depan. Menyusul duduk di belakangnya berturut-turut adalah Mayangsari dengan Silihwarna, Ratna Pamekas dengan Arya Baribin, Nyai Kertisara dengan Khandegwilis. Tukang sauh yang mengemudikan perahu, ada empat orang. Dua orang di depan dan dua orang di bagian lambung perahu belakang.
Di belakang perahu yang dinaiki Sang Dewi,  berlabuh perahu yang dinaiki Sekar Menur dengan Wirapati. Duduk di belakangnya, kedua adiknya Sekarmelati dan Sekarcempaka. Duduk di belakangnya lagi, Pendeta Muda dengan Tumenggung Maresi. Dan paling belakang Jigjayuda berdampingan dengan Rekajaya. Sama dengan perahu pertama, perahu kedua dilayani empat orang tukang sauh.
Perahu ketiga dan keempat adalah perahu kecil membawa prajurit pengawal yang terdiri dari 6 penumpang dan 5 penumpang. Lurah Karangjati yang ditunjuk Tumenggung Maresi menjadi komandan pasukan pengawal, duduk di perahu ke tiga. Masing-masing perahu kecil dikemudikan oleh 2 orang pesauh.
Sebelum berangkat, Pendeta Muda, diminta oleh Kamandaka supaya memimpin japa mantra. Usai berjapa, keempat perahu itu pelan-pelan meninggalkan Pangkalan Perahu milik Nyai Kertisara di Kaliwedi. Perjalanannya mengarungi Sungai Ciserayu pun dimulai. Perahu mulai melaju pelan-pelan ketika sauh mulai digerakkan. Semua anggota rombongan melihat lambaian tangan dan tatapan ratusan pasang mata penduduk yang menyemut di tepi sungai. Penduduk ingin menyaksikan wajah cantik Kanjeng Ayu Adipati Pasirluhur yang dikenal penyabar, penyayang, dan penuh kepedulian kepada penduduknya, khususnya penduduk dari rakyat sudra dan weisya.
Penduduk yang datang berbondong-bondong itu, baru meninggalkan tepi Sungai Ciserayu setelah ke empat perahu yang umbul-umbulnya berkibar-kibar dengan gagahnya, menghilang di hilir sungai yang menikung ke kiri.
Sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Ciserayu itu, Sang Dewi dan anggota rombongan takjub bukan main menyaksikan keindahan panorama alam di kiri dan kanan sungai. Dinding tebing sungai ada yang terjal, ada pula yang landai, sebagian besar berwarna coklat, di sana sini ditumbuhi sulur perdu yang merambat. Lumut hijau sering juga ditemui di sepanjang tebing.
Di kiri-kanan tebing pohon-pohon raksasa saling berdesak-desakan tampak menjulang ke arah langit. Sejumlah pohon dibeliti benalu yang melilit batang pohonnya. Mungkin sudah puluhan tahun mencekiknya, sehingga pohon raksasa itu ada yang mulai meranggas. Entah sudah berapa ribu lembar daun-daun tua yang jatuh ke tanah tempat pohon-pohon itu tumbuh. Tentu sudah lama membusuk, menyebabkan tanah di kaki-kaki pohon hutan itu lembab, sehingga terbentuk humus yang pada gilirannya membuat subur pohon-pohon raksasasa itu.
Sejumlah binatang hutan seperti monyet, tupai, dan lutung diam saja bergelantungan di atas pohon seakan-akan sedang menonton arak-arakan rombongan manusia yang sedang melintasi sungai dan sedang terpana oleh keindahan alam ciptaan Tuhan.
Sang Dewi merasakan laju perahu yang mengikuti aliran sungai, cukup nyaman dan tidak banyak goncangan. Laju perahu pun tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Keempat tukang sauh dengan otot-ototnya yang kekar sangat terampil menggerak-gerakkan sauhnya secara bersamaan. Kadang-kadang terdengar pula kecipak air. Lunas perahu dengan lancar melaju ke depan menyibakkan air sungai yang menyisih ke kiri dan ke kanan, membentuk gelombang kecil yang cepat lenyap diterjang perahu yang ada dibelakangnya.
“Diajeng, lihat apa itu?” kata Kamandaka menunjukkan dua ekor buaya yang cukup besar sedang berjemur di sisi timur sungai di atas kaki tebing yang melandai ke arah sungai. Semua rombongan ternganga melihat sepasang buaya yang cukup besar.
“Ngeri juga! Apakah Sungai Ciserayu banyak buayanya?” tanya Sang Dewi kepada tukang sauh yang ada di depannya.
“Kalau di muara banyak juga, Ndara Kanjeng Ayu Adipati,” jawab tukang sauh. ”Kalau sepasang buaya tadi, bisa jadi berasal dari muara yang sedang main ke hulu. Mungkin ingin menyambut rombongan Ndara Kanjeng Ayu Adipati,” kata tukang sauh berseloroh yang membuat senang rombongan Sang Dewi. Sang Dewi dan Kamandaka langsung tertawa. Mana ada buaya mau menyambut kedatangannya? kata Sang Dewi dalam hati. Sekalipun begitu Sang Dewi senang juga.
“Adakah penduduk di sekitar sungai yang pernah dimangsa buaya?” tanya Sang Dewi.
“Kalau di sekitar sini hamba tidak tahu. Tapi kalau di sekitar muara sering. Belum lama ini, ada seorang penduduk yang sedang mandi di sungai, karena kurang hati-hati dan tidak berpengalaman, tewas dimangsa buaya.”
“Dimangsa buaya?” tanya Sang Dewi. ”Kenapa penduduk tidak dilarang mandi di Sungai Ciserayu yang ada buayanya?”
“Namanya penduduk, tidak pernah jera, Ndara Kanjeng Ayu Adipati. Ibaratnya sekarang ada yang dimangsa buaya, besok masih ada saja yang datang mau mandi. Anehnya ada yang merasa bangga jika bisa mandi di Sungai Ciserayu, tetapi tidak dimangsa buaya.”
“Memang ada larangan yang berupa adat setempat,” kata tukang sauh melanjutkan. “Larangan yang bersifat adat setempat itu, misalnya pasangan pengantin baru baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dilarang mandi di sungai. Konon mereka berdua rawan jadi mangsa buaya. Memang sering kejadian, pengantin baru yang sedang mandi, tahu-tahu hilang karena dimangsa buaya Sungai Ciserayu,” kata tukang sauh sambil masih menggerak-gerakkan sahuhnya agar perahu melaju agak cepat.
Mendengar penuturan tukang sauh itu Sang Dewi dan Kamandaka langsung saling berpandang-pandangan. Lalu keduanya tersenyum karena merasa mereka berdua adalah pasangan pengantin baru. “Tenang, Diajeng. Kita kan tidak sedang mandi di Sungai Ciserayu,” bisik Kamandaka sambil tersenyum.
“Padahal kalau airnya sejernih ini, mandi menjelang sore hari, pasti segar sekali, Kanda!” kata Sang Dewi sambil menatap air Sungai Ciserayu yang saat itu memang sangat jernih.
“Ada lagi larangan lain, Mang Sauh?” tanya Kamandaka.
“Leres, aya deui, Kanjeng Gusti,” kata tukang sauh yang satunya lagi dalam logat bahasa Sunda yang masih kental.
“Apa larangannya?” tanya Kamandaka.
“Seorang anak gadis yang masih perawan, dilarang mandi di Sungai Ciserayu, pada waktu menjelang senja,” kata tukang sauh masih dalam bahasa Sunda.”Tetapi kalau pagi atau siang hari boleh.” 

Konon, demikian tukang sauh tadi berceritera, dulu pernah ada seorang gadis cantik yang gemar mandi di Sungai Ciserayu menjelang senja hari. Tiba-tiba gadis tadi menghilang. Tentu saja orang tua dan penduduk seluruh kampung yang berada di tepi timur Sungai Ciserayu tadi ribut. Mereka menduga gadis cantik tadi pastilah telah dimangsa buaya saat sedang mandi. Kepala kampung cepat bertindak. Dia segera mengerahkan sejumlah tukang gendam untuk menangkap buaya yang nakal tadi. Tetapi usahanya tetap sia-sia. Sampai suatu saat, ayah gadis tadi mimpi didatangi anak gadisnya yang berpesan, agar orang tuanya itu tidak usah mencemaskan dirinya. Sebab suatu saat gadis itu akan pulang juga ke rumah ke dua orang tuanya. Walaupun entah kapan.
Sejak ayah gadis tadi mimpi didatangi anak gadisnya, maka sejak itu usaha pencarian anak gadis yang diduga dimangsa buaya Sungai Ciserayu itu dihentikan. Sampai beberapa bulan kemudian, pada malam hari pulanglah gadis tadi didampingi seorang pemuda tampan yang mengaku telah menikahi gadis itu. Betapa gembiranya ke dua orang tuanya kedatangan anak gadisnya yang dulu menghilang. Lebih-lebih anak gadisnya itu telah pulang kembali dengan membawa seorang suami yang berwajah tampan, sehingga membikin iri gadis-gadis yang lain di kampung itu.
Orang tua gadis itu pun bermaksud mengadakan pesta syukuran dalam rangka menyambut anak gadisnya yang telah pulang kembali, sekaligus juga syukuran karena anak gadisnya itu sudah memiliki suami. Apalagi menantunya itu cakap dan tampan. Undangan pun segera disebar kepada penduduk seluruh kampung itu.
Tetapi sebelum pesta itu diselenggarakan anak gadisnya itu mohon agar pesta itu diadakan pada malam hari. Anak gadisnya itu juga berkata bahwa mereka hanya bisa menemui tamunya pada malam hari saja. Anak gadisnya itu berpesan kepada ayahnya agar pada siang hari, mereka berdua jangan diganggu jika mereka tetap berada di dalam kamar pengantin. Sang ayah dengan ringan menyanggupi pesan anak gadisnya itu.
Demikianlah saat pesta digelar pada malam hari, para tetangga, kenalan, dan kerabat dekat penduduk desa itu berduyun-duyun datang menghadiri pesta syukuran perkawinan. Mereka menyampaikan ucapan selamat kepada kedua pasangan yang mengaku sudah lama nikah sambil menyaksikan pagelaran lengger sampai jauh malam. Usai pesta syukuran, kedua pasangan itu tinggal di rumah orang tua gadis. Kedua mempelai hidup rukun sebagaimana layaknya pasangan yang baru.
Seminggu telah berlalu, orang tua gadis itu lama-lama heran juga. Orang tua gadis itu tak pernah melihat menantunya ke luar kamar pada siang hari. Dia selalu keluar kamar pada malam hari. Ketika tiba masanya mencari nafkah karena masa istirahat menikmati hari-hari pengantin baru telah lewat, Sang Pemuda tadi, selalu berangkat meninggalkan rumah pada pagi hari. Dia pergi menjelang fajar dan pulang kembali setelah matahari terbenam. Demikianlah sang waktu terus berlalu, sampai pada suatu ketika Sang Ksatria Tampan tadi bangun kesiangan. Akibatnya Sang Ksatria Tampan seharian tidur terus di dalam kamarnya. Tetapi istrinya tetap melakukan aktivitas seperti biasa, keluar kamar untuk membatu ibunya memasak dan melakukan aktivitasnya sehari-hari lainnya.
Saat itu istri ksatria tampan lupa mengunci kamarnya. Ditambah pula dia masih yakin ayahnya tidak mungkin masuk ke dalam kamarnya selagi ada suaminya. Karena dia ingat, dia pernah berpesan kepada ayahnya dan semua keluarganya supaya jangan masuk kamarnya pada siang hari.
Ketika ayah perempuan itu mengetahui anaknya keluar kamar tanpa menguncinya, tiba-tiba dalam dirinya timbul rasa penasaran untuk melihat menantunya yang sedang tidur di kamar anaknya. Tetapi alangkah terkejutnya saat dia masuk ke dalam kamar anaknya. Dilihatnya seekor buaya yang cukup besar sedang tidur pulas di atas tempat tidur. Bagian leher ke bawah tertutup selimut yang rupanya telah dibentangkan oleh anaknya. Hanya kepalanya yang kelihatan.
Ayah perempuan tadi, segera lari ke rumah kepala kampung, melaporkan ada buaya masuk ke dalam kamar tidur anak perempuannya yang beberapa waktu yang lalu baru saja dirayakan acara syukuran. Dengan membawa peralatan pembunuh buaya seperti parang, tombak, linggis, dan yang lainnya lagi, kepala kampung itu memimpin sejumlah penduduk mendatangi rumah ayah perempuan yang baru saja melapor.
Mungkin karena mendengar suaru ribut-ribut yang ada di depan pintu kamar, buaya itu langsung meloncat ke atas lantai. Saat pintu terbuka buaya itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan ekornya bergerak-gerak siap untuk dipukulkan kepada siapa saja. Kepala kampung segera memberi komando agar buaya itu segera diserang. Puluhan tombak segera dilemparkan, masuk ke dalam mulut buaya dan bersarang di sana. Buaya yang sedang marah itu menggelepar seketika. Ekornya dipukulkan mengenai daun pintu yang langsung jebol dan jatuh meninggalkan tempatnya. Buaya itu membuat loncatan yang memutar sambil mengibaskan ekornya. Seorang laki-laki yang tidak waspada langsung terlempar kena pukulan ekor buaya yang sedang mengamuk. Kembali penduduk menghujani buaya yang malang itu dengan linggis, parang, dan bambu runcing sampai buaya itu diam tak berkutik. Hanya matanya yang berkedip-kedip seperti mohon dikasihani.

Tiba-tiba perempuan istri Sang Ksatria Tampan yang sedang di dapur lari masuk ke dalam rumahnya ketika mendengar suara ribut-ribut. Betapa terkejutnya dia saat melihat seekor buaya yang terluka, badan buaya dan mulutnya dipenuhi aneka macam senjata tajam. Perempuan itu menjerit seketika. Dipeluknya buaya yang sedang sekarat itu. Diciuminya beberapa kali bagaikan menciumi seorang suami. Akhirnya buaya yang malang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah dipeluk dan diciumi berkali-kali oleh perempuan yang telah menjadi istrinya itu.

Melihat kejadian itu penduduk langsung menduga buaya itu adalah buaya siluman. Dalam diri mereka muncul rasa takut kepada akibat yang akan ditimbulkan karena mereka telah membunuh seekor buaya siluman. Kemudian secara serentak mereka beramai-ramai sujud di depan buaya yang sudah tidak bernafas. Lebih takut lagi adalah penduduk yang telah melemparkan pelbagai jenis senjata yang telah menyebabkan buaya itu mati. Mereka beberapa kali mengggigil dan merintih meminta ampun.(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar