Entri yang Diunggulkan

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26)

SERAYU-MEDIA.COM: Novel : Pusaka Kembang Wijayakusuma (26) : “Dari mana Dinda Sekarmenur mendapatkan perlengkapan ranjang tempat tidur yang ...

Selasa, 08 November 2016

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (02)





Kerajaan Galuh Kawali terus melanjutkan sukses perluasan wilayahnya ke arah timur, sampai akhirnya berhenti di tepi Sungai Bhagalin. Itulah batas alamiah paling timur yang merupakan sukses dari perluasan wilayah Kerajaan Galuh Kawali di Jawa Tengah Selatan. Sedangkan di pantai utara Jawa Tengah, perluasan wilayah Kerajaan Galuh ke timur berhenti sampai Sungai Cipamali di daerah Brebes. Kadipaten Pasir juga berkembang menjadi kadipaten kuat sebagai garda depan dan benteng Kerajaan Galuh dalam menghadapi ancaman dan serangan musuh dari timur. Kadipaten Pasir menjadi kadipaten pemasok peralatan perang Kerajaan Galuh terbesar setelah Kadipaten Cibatu-Limbangan. 


Sang Raja mencoba membantah anggapan bahwa memindahkan pusat kerajaan ke arah barat sebagai langkah mundur. Dia yakin mimpinya itu sepenuhnya benar. Dengan memindahkan pusat kerajaan ke barat, setelah peristiwa mangkatnya Sang Maharaja di lapangan Bubat, Sang Raja berharap Keraton Galuh yang dianggap telah kehilangan daya gaibnya itu kembali bersinar setelah melewati dukacitanya yang mendalam. Sang Raja berharap Keraton Galuh akan terhindar dari berbagai gangguan, halangan, dan musibah yang bisa mengakibatkan merosotnya Kerajaan Galuh.


Tetapi menurut Bunisora, jika Galuh dipindahkan ke arah barat justru Kerajaan Galuh akan mudah kehilangan kontrol atas daerah yang sangat subur yaitu daerah Lembah Ciserayu dan Bhagalin. Ciserayu merupakan sungai paling panjang di Jawa yang mengalir ke arah lautan selatan. Sungai Ciserayu seperti juga Bhagalin memiliki mata air di kaki Gunung Suci Dieng. Kedua sungai itu sama-sama mengalir ke lautan selatan, lautan yang diberkati para dewa, dan lautan tempat dua sungai suci di India, Gangga, dan Yamuna bermuara. Lautan Selatan atau Samudra Hindia juga merupakan lautan suci, karena abu para raja dan brahmana dilarutkan ke sana.


Berbeda dengan Sungai Bhagalin yang hanya menjadi muara sungai-sungai kecil. Ciserayu menjadi muara sungai-sungai besar yang bermata air di kaki Gunung Agung. Sungai Cingcinggoling, Banjaran, Logawa, dan Kabunan, yang semuanya bermata air di kaki Gunung Agung, pada akhirnya juga bermuara di Sungai Ciserayu. Ya, Lembah Ciserayu memang lembah seribu sungai yang amat subur. Dalam pandangan Bunisora, jika Kerajaan Galuh mundur ke arah barat, wilayah Lembah Ciserayu dan Bhagalin akan mudah jatuh ke tangan kerajaan-kerajaan Jawa di timur Sungai Bhagalin. Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit, sudah lama berniat melakukan ekspansi guna menguasai wilayah barat Sungai Bhagalin.


Karena hubungan baik antara Kerajaan Jawa dan Kerajaan Sunda, keinginan kerajaan-kerajaan Jawa melakukan ekspansi ke wilayah barat selalu dapat dihindarkan. Bahkan ketika Raja Besar Singasari Sri Kertanegara (1268–1292 M), melakukan ekspansi perluasan wilayah dengan program ekspedisi Pamalayunya yang terkenal, wilayah Galuh yang berada di sisi barat Sungai Bhagalin itu sama sekali tidak dilirik.


Bahkan Kerajaan Kediri, Singasari, maupun penerusnya, Kerajaan Majapahit, mengandalkan pasokan beras dari wilayah Galuh untuk mengisi perbekalan pasukan-pasukan yang dikirimkan ke luar Jawa, seperti ekspedisi penaklukan Bali, Sulawesi, Kalimantan, sampai Sumatra, dan Semenanjung Tanah Melayu.Lebih-lebih pada masa Majapahit melaksanakan program ekspansi Sumpah Palapa Gajah Mada, Galuh bukan hanya memasok beras, tetapi juga memasok tenaga prajurit yang mencari tambahan penghasilan sebagai tentara bayaran di Majapahit. Tenaga prajurit orang Sunda yang direkrut untuk memenuhi kebutuhan prajurit Majapahit, kebanyakan dipilih dari orang-orang Sunda yang tinggal di Lembah Ciserayu.


“Sebenarnya Kadipaten Pasir cukup kuat. Apa kekhawatiran Paman jika pusat kerajaan Galuh pindah ke barat? Apakah karena Kadipaten Pasir sudah menurun kualitasnya sehingga tidak lagi bisa diandalkan?” 


“Tentu saja bukan, Ananda Raja. Apalagi di Kadipaten Pasir banyak pandai besi yang ahli membuat peralatan perang seperti tombak, pedang, perisai, keris, kujang, dan alat-alat lainnya untuk keperluan perang dan pertanian. Tak ada alasan untuk meragukan kemampuan dan juga kesetiaan Kadipaten Pasir. Namun apabila ada serangan musuh datang dari sisi timur Sungai Bhagalin, bantuan yang diperlukan dari pusat kerajaan akan lebih mudah dilakukan. Lain halnya, jika pusat kerajaan berpindah ke arah barat.”


Tetapi akhirnya, setelah melalui perbincangan yang lama, Sang Raja mengalah. Patih Bunisora berhasil meyakinkan Sang Raja, sehingga rencana pemindahan Keraton Galuh ditunda. Bagaimanapun Bunisora adalah paman, ayah angkat, sekaligus mertua Sang Raja. Karena itu Sang Raja menghormati pandangan dan saran-sarannya. 


“Baiklah Paman Patih, alasan keberatan Paman Patih bila pusat kerajaan dipindahkan ke barat, dapat aku pahami. Tetapi aku akan menyampaikan sebuah maklumat penting kepada seluruh keluargaku, keturunanku, dan seluruh rakyatku orang Sunda yang tinggal di wilayah Kerajaan Galuh. Janganlah mereka berbesanan dengan trah keturunan Kerajaan Majapahit. Putri Sunda trah Kerajaan Galuh, dilarang bersuamikan ksatria Jawa trah Majapahit. Demikian pula ksatria Sunda trah Galuh, aku larang mempunya istri ksatria Jawa trah Majapahit. Aku Raja Galuh, melarang perkawinan semacam itu. Demikian Paman Patih, harap maklumatku segera Paman Patih sampaikan kepada seluruh rakyat Kerajaan Galuh agar dilaksanakan. Maklumat ini sekaligus sebagai baktiku kepada Ayunda Dyah Ayu Pitaloka yang gugur di Bubat.”


Patih Bunisora sekalipun dalam hati tidak setuju dengan isi maklumat itu, tetap melaksanakan kehendak Sang Raja. Bagi Bunisora, maklumat itu bisa menutup pintu silaturahmi antara keturunan Galuh yang Sunda dengan keturunan Majapahit yang Jawa. Dapat dipahami, betapa pedih dan sakit hatinya Sang Raja Niskala Wastu Kancana. Gara-gara tipu daya Mahapatih Gajah Mada, Sang Raja nyaris kehilangan seluruh keluarga yang dicintainya. Tetapi haruskah sakit hati dan rasa pedih yang mendalam itu dilestarikan dan diabadikan dalam bentuk maklumat yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? 


Bukankah Hayam Wuruk sangat menyesali kejadian yang ada di luar kendalinya itu? Sebagai bukti keprihatinan, Gajah Mada telah diberhentikan sekalipun hanya sementara. Hayam Wuruk pun merawat semua jasad korban Perang Bubat secara layak. Akhirnya Bunisora juga mendengar kabar, Hayam Wuruk merasakakan duka cita mendalam cukup lama akibat terus-menerus terbayang gadis cantik jelita cinta pertamanya. Memang benar, cinta pertama adalah cinta paling indah dan paling sulit dilupakan. Hayam Wuruk hampir selama tujuh tahun terus menerus dirundung duka. Tawaran untuk menikah dengan gadis lain selalu ditolaknya.


Saat Gajah Mada kembali melaksanakan tugasnya setelah empat tahun diistirahatkan, hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada tidak sehangat masa-masa sebelum Peristiwa Bubat. Bahkan duka cita Hayam Wuruk semakin mendalam. Gajah Mada dianggap sebagai orang paling bertanggung jawab atas dukacita Sang Raja. Gajah Mada menyadari posisinya. Dia merasa semakin tidak nyaman karena hubungannya yang senantiasa dingin dengan rajanya. Akhirnya Gajah Mada mengajukan permohonan pengunduran dirinya, dan Sang Raja Hayam Wuruk segera mengabulkan. 


Malam harinya Gajah Mada mendapat keterangan bahwa pasukan pengawal kerajaan sedang menuju kepatihan untuk menangkapnya. Sadar akan bahaya sedang mengancam dirinya, Gajah Mada segera meloloskan diri meninggalkan kepatihan disaksikan oleh Ken Bebed, istrinya yang terus menerus berurai air mata. Dengan mengenakan pakaian serba putih Gajah Mada meninggalkan kepatihan. Ketika pasukan pengawal kerajaan tiba, mereka hanya menjumpai Ken Bebed yang sedang dirundung duka. Gajah Mada menghilang entah ke mana. Dia raib bagaikan ditelan bumi. Bahkan kuburannya pun tak pernah diketahui hingga kini.


“Gajah Mada telah menerima hukum karma akibat pakarti dari ambisi pribadinya atas kekuasaan dan kemasyhuran,” gumam Bunisora.


Bagi Bunisora maklumat dari Sang Raja Niskala Wastu Kancana itu sesungguhnya tidak perlu. Dendam tidak seharusnya dipelihara dan diabadikan. Tetapi apa boleh buat. Bunisora kali ini memang tidak mungkin melawan kehendak Sang Raja. Sebab bagaimanapun Niskala Wastu Kancana adalah Raja Galuh yang perintahnya harus dilaksanakan.


Apa yang dikhawatirkan Bunisora, menjadi kenyataan. Sekalipun Sang Raja berkuasa cukup lama, enam dasa warsa, tetapi Galuh semakin mundur. Akibat maklumat Sang Raja, jumlah perdagangan beras dan hasil bumi lainnya dengan Majapahit merosot drastis. Para petani dan peladang di daerah Lembah Ciserayu dan sisi barat Sungai Bhagalin menyikapi maklumat Sang Raja dengan tidak mau melakukan perdagangan dengan penduduk di sisi timur Sungai Bhagalin, karena wilayah itu merupakan wilayah Majapahit. 


Mereka mematuhi perintah rajanya dengan membawa dan menjual hasil buminya ke pusat Kerajaan Galuh di Kawali. Dari sana hasil bumi itu baru diangkut lewat Sungai Cimanuk ke bandar Laut Jawa, dekat Indramayu. Padahal akomodasi menjual hasil bumi dari Lembah Ciserayu ke wilayah barat medannya lebih sulit, jarak tempuhnya untuk sampai ke bandar-bandar di Laut Jawa lebih lama dan lebih panjang dibanding dengan menjual produk hasil bumi ke wilayah timur. 


Sementara itu, Majapahit sudah mampu membuka daerah-daerah baru penghasil beras di luar Jawa, akibat ekspedisi-ekspidisi yang dilakukannya. Sulawesi Selatan misalnya, tercatat sebagai salah satu lumbung beras baru Majapahit. Maklumat Raja Galuh telah menurunkan kegiatan perdagangan dengan Majapahit. Akibatnya penghasilan Galuh semakin menurun dan kemakmuran pun makin merosot.


Niskala Wastu Kancana mengingat kembali mimpinya, tentang memindahkan pusat kerajaan. Kebetulan pada waktu itu Bunisora sudah meninggal. Maka Sang Putra Mahkota, Rahyang Dewa Niskala, mendapat amanat untuk melakukan pencarian tempat ke barat. Akhirnya pembangunan pusat kerajaan baru di Pakuan pun dimulai. Dan, ketika infra struktur, sarana, dan prasarana hampir selesai, Sang Raja Niskala Wastu Kancana mangkat pada usia sekitar 82 tahun. Putra Mahkota, Rahyang Dewa Niskala dinobatkan menjadi Raja Pajajaran yang berpusat di Pakuan, sebagai penerus Kerajaan Galuh Kawali. Keraton lama Galuh Kawali sejak itu hanya berkedudukan sebagai kadipaten, setara dengan Kadipaten Pasir. Kedua kadipaten itu sama-sama berada di bawah kendali Pajajaran yang berpusat di Pakuan. Peristiwa Penobatan Raja Pajajaran di Pakuan itu terjadi pada tahun 1355 Saka yang bertepatan dengan tahun 1433 Masehi.


Sang Raja Rahyang Dewa Niskala memerlukan waktu lama untuk mewujudkan kemakmuran Pajajaran. Pembangunan kerajaan terus menerus dilakukan seperti sarana jalan, irigasi, pembangunan pusat-pusat kegiatan ekonomi, padepokan-padepokan, sarana pertahanan, dan sarana pemerintahan lainnya.


Ayah Sri Baginda Prabu Siliwangi, Rahyang Dewa Niskala mampu menggerakkan penduduknya untuk beramai-ramai menanam lada, nila, dan pala, yang merupakan komoditas unggulan Pajajaran. Berpikul-pikul lada, pala, bunga pala, diangkut melalui Cisadane dan Ciliwung. Berpikul-pikul nila diangkut lewat Citarum. Pala dan lada saat itu merupakan salah satu komoditas rempah-rempah yang laku keras di pasaran dunia seberang lautan. Setelah Sang Putra Mahkota naik tahta semua kebijakan Sang Raja Rahyang Dewa Niskala diteruskan oleh putranya.



Sang Baginda Prabu Siliwangi masih ingat saat ayahnya berpesan, “Perjuanganku membangun Kerajaan Pajajaran harus engkau lanjutkan, Putraku. Engkaulah yang pantas mendapat gelar Silih Wanggi. Silih artinya pengganti dan Wanggi artinya harum. Aku berharap engkau bisa menjadi pengganti mendiang Kakek Buyutmu Sang Maha Raja Wanggi, membawa Pajajaran sebagai kelanjutan kerajaan leluhurmu Galuh, menjadi kerajaan besar, makmur, dan maju di Jawa Bagian Barat.”


Dari Silih Wanggi menjadi Silih Wangi. Ya, itulah gelar kesayangan  Sri Baginda Siliwangi yang naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 1404 Saka yang bertepatan dengan tahun 1482 M. Ketika itu Majapahit yang berpusat di Trowulan telah runtuh. Tidak lama kemudian muncul dua kerajaan baru di sisi timur Sungai Bhagalin, yaitu Kerajaan Hindu Kediri  dan Kerajaan Islam Demak yang merupakan kerajaan maritim.

Sri Baginda Prabu Siliwangi mewarisi Pajajajaran sudah tertata dengan baik. Jaringan irigasi bagus dan teratur, panen lada dan pala melimpah ruah, penduduk dan petani hidup makmur dan berkelimpahan. Bandar Sunda Kelapa menjadi bandar paling ramai di muara Ciliwung. Bandar-bandar lain yang bermunculan di Laut Jawa dan dikendalikan Pajajaran pada masa Prabu Siliwangi antara lain adalah Cikande, Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Muara Citarum Karawang, Muara Cimanuk, dan Muarajati.




Sri Baginda memiliki peluang besar untuk membawa Pajajaran ke puncak kejayaannya. Sayang sekali, begitu dilantik sebagai Raja, Sang Permaisuri meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sedang putra sulungnya belum siap diangkat menjadi putra mahkota karena belum bersedia membangun rumah tangga. Padahal Sri Baginda memerlukan seorang putra mahkota yang diharapkan dapat membantunya membawa Pajajaran meraih puncak kejayaannya. 


Sri Baginda tersadar dari lamunannya. Dilihatnya ketiga putranya tengah duduk dengan sabar di depannya bersama para punggawa Kerajaan Pajajaran yang tengah menunggu amanat raja.

“Hem…, putraku Banyakcatra, bagaimana keadaanmu? Juga putraku Banyakbelabur dan putriku Ratna Pamekas, bagaimana keadaan Ibumu?”[ Bersambung]



Senin, 07 November 2016

Novel : Melati Kadipaten Pasirluhur (01)




Sang Raja Agung Sri Baginda Prabu Siliwangi duduk tenang di atas singgasananya yang berkilap-kilap memantulkan cahaya  berwarna kunimg gemilang, seakan ikut menerangi seluruh balai irung.
 
Hari itu memang hari pertemuan agung. Para punggawa Kerajaan Pajajaran hadir  lengkap duduk dengan taksim  di depan Sang Raja. Mereka ada yang berderet duduk di barisan sebelah  kanan  Sri Baginda, ada pula yang berderet di sebelah   kirinya. Semua menghadap ke arah Sri Baginda yang duduk di atas singgasana Kerajaan Pajajaran yang megah itu.  Mereka adalah para adipati, mantri, lurah dan para hulubalang. Sedang berderet di tengah menghadap Sri Baginda adalah Ki Patih yang duduk didampingi para putra dan putri raja.
 
Tidak seperti biasanya, wajah Sri Baginda saat itu nampak muram. Padahal biasanya, setiap menghadiri pertemuan agung seperti itu, wajah Sri Baginda selalu tampak ceria, matanya bersinar-sinar, lebih-lebih bila mendengar laporan dari Ki Patih tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai Kerajaan Pajajaran.
 
Apakah gerangan yang membuat Sri Baginda pada hari itu nampak gelisah dan wajahnya seperti kehilangan cahaya kebesarannya?

 Sejak permaisuri tercintanya meninggal, memang Sri Baginda tampak selalu murung. Dia sangat mencemaskan masa depan Kerajaan Pajajaran yang dengan susah payah telah dibangunnya menjadi kerajaan besar. Dia akhir-akhir ini sering teringat perjuangan ayahandanya Sang Prabu Rahyang Dewa Niskala yang telah mengambil keputusan berani, memindahkan pusat Kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali ke Pakuan. Kerajaan baru itu diberi nama Pajajaran.
 
Peristiwa itu terjadi pada tahun 1355 Syaka yang bertepatan dengan tahun 1433 M. Masih terngiang-ngiang di telinga Sri Baginda ketika ayahandanya Sang Prabu Rahyang Dewa Niskala berpesan kepadanya.
 
“Wahai Putraku, engkaulah putra mahkota calon penggantiku. Hanya engkau satu-satunya harapanku. Aku telah mengambil keputusan yang sulit dengan memindahkan pusat Kerajaan Sunda yang semula berpusat di Kawali ke Pakuan. Engkau tahu anakku, kerajaan leluhurmu, Kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali itu adalah kerajaan yang besar dan termashur?
 
“Saat itu luas wilayah Kerajaan Galuh hampir separuh Pulau Jawa. Ke arah timur melintasi Sungai Citanduy dan Ciserayu sampai Bhagalin. Itulah sungai yang merupakan batas alamiah dengan Kerajaan Jawa yang ada di timur Sungai Bhagalin.” kata ayah Sri Baginda, Rahyang Dewa Niskala.

 “Ananda mengetahui nama Kakeknda Rahyang Niskala Wastu Kencana, karena Ayahanda bercerita kepada ananda,”  jawab Sri Baginda Prabu Siliwangi saat itu.

 “Ya, betul. Sebenarnya mendiang kakekmu itulah yang memberi amanat kepadaku, agar aku memindahkan pusat Kerajaan Galuh ke Pakuan.

 Sebenarnya gagasan untuk memindahkan pusat kerajaan, akan dilaksanakan begitu kakekmu naik singgasana kerajaan. Tetapi  Mangkubumi  Buni Sora yang menjabat sebagai patih keberatan. Karena itu kakekmu menunda keinginan memindahkan pusat Kerajaan Galuh ke Pakuan. Tahukah  kamu apa alasan Mangkubumi Buni Sora keberatan pusat kerajaan dipindahkan?“


 Sri Baginda masih ingat, saat itu dia hanya menggelengkan kepalanya dihadapan ayahandanya dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Maka ayahandanya melanjutkan ceriteranya.

 Rahyang Niskala Wastu Kencana, kakek Sri Baginda Raja Prabu Siliwangi adalah putra bungsu Sang Maharaja, Raja Galuh yang tewas dalam palagan Bubat, sebuah tanah lapang yang berada di sisi utara alun-alun Majapahit. Peristiwa yang menyedihkan itu terjadi pada tahun 1279 Syaka yang bertepatan dengan tahun 1357 M.

 Sang Maharaja memiliki putri yang sangat cantik jelita Dyah Ayu Pitaloka. Kecantikan Putri Galuh itu  memang menyebar ke mana-mana bak harumnya bunga mawar yang memikat banyak kumbang. Ya, Dyah Ayu Pitaloka memang sekuntum mawar Galuh yang indah dan mempesona para ksatria dan putra raja.


  Kecantikan Mawar Galuh sampai juga ke telinga Raja Muda Hayam Wuruk. Sang Raja Muda itu belum mempunyai permaisuri. Maka dikirimlah sejumlah pelukis ke Kerajaan Galuh untuk melukis. Begitu melihat lukisan Dyah Ayu Pitaloka, Sang Raja langsung jatuh cinta. Sejumlah utusan dari istana Majapahit pun tiba di Kerajaan Galuh untuk menyampaikan lamaran. Sang Maharaja Linggabuana, Raja Galuh itu bukan hanya menerima lamaran Hayam Wuruk. Raja Galuh itu bahkan bersedia mengantarkan putri tercintanya ke Majapahit, asal kelak dijemput sendiri oleh calon menantunya itu.

Sayang sekali, setelah menunggu beberapa lama di lapangan Bubat, Patih Gajah Mada campur tangan dengan menghalang-halangi prosesi penjemputan calon mempelai wanita.
 
Sang Maharaja dengan pengiringnya, menolak kehendak Gajah Mada yang meminta agar Raja Sunda itu menyerahkan calon mempelai wanita  sebagai tanda takluk Galuh kepada Majapahit.  Tentu saja Sang Maharaja bersama pengiringnya murka, karena permintaan Gajah Mada itu, bukan hanya menyalahi adat yang berlaku. Tetapi Gajah Mada juga dianggap telah menghina Kerajaan Galuh.

Dyah Ayu Pitaloka itu diantarkan ke Majapahit karena telah dipinang oleh Hayam Wuruk. Bukan karena Galuh  ditaklukan Majapahit lewat peperangan. Kesepakatan tidak tercapai karena utusan Sang Maharaja gagal menemui langsung Hayam Wuruk. Mereka dihalang-halangi oleh pasukan pengawal Majapahit yang berada di bawah komando Gajah Mada.

Perang pun tak terhindarkan, Sang Maharaja dan pengiringnya memilih gugur dalam peperangan demi membela harga diri dan kehormatan Kerajaan Galuh. Dari pada menyerahkan diri, lebih baik melakukan perlawanan terhormat.
 
Pasukan Gajah Mada segera bertindak. Lapangan Bubat dikepung. Perang pun pecah. Pasukan pengawal Sang Maharaja berjuang dengan gagah berani melawan pasukan pengepung dan penyerang yang jumlahnya berlipat-lipat. Akhirnya setelah terjadi peperangan sejak pagi, menjelang tengah hari darah merah sudah banyak berceceran membasahi lapangan Bubat. Semua prajurit Sunda yang berperang dengan gagah berani itu, satu demi satu roboh bersimbah darah, tewas di ujung tombak.
 
Ketika sejumlah tentara Majapahit memasuki tenda Sang Maharaja, betapa terkejutnya mereka. Sang Maharaja beserta seluruh keluarganya ditemukan dalam keadaan telah tewas, tidak satu orang pun yang selamat. Sebuah keris menancap di dada Sang Maharaja.

Rupanya Sang Maharaja beserta seluruh keluarganya memilih menusukkan keris ke dadanya masing-masing dari pada menyerah. Dyah Ayu Pitaloka yang cantik jelita itu pun melakukan hal yang sama, tewas ditangannya sendiri dengan menggunakan keris cundrik.

 Lewat tengah hari, barulah Hayam Wuruk menerima laporan peristiwa tragis yang memilukan itu. Sang Raja segera bergegas menuju kemah Raja Galuh. Betapa terkejutnya ketika Hayam Wuruk menyaksikan keadaan yang sangat menyedihkan itu. Begitu Hayam Wuruk melihat tubuh Dyah Ayu Pitaloka yang tengah tergolek tak bernyawa dengan berlumuran darah, Hayam Wuruk yang usianya saat itu masih muda remaja bergegas mendekati dan  memeluk gadis pujaan hatinya itu.

 Tak terasa air matanya mengalir membasahi wajah Sang Raja Muda. Satu demi satu butiran-butiran air mata yang bening bercahaya bagaikan butiran-butiran embun di pagi hari itu, jatuh membasahi pipi Dyah Ayu Pitaloka yang berada dalam dekapannya.
 
Pelan pelan bibir Sang Raja Muda mendekati bibir gadis cantik cinta pertamanya itu. Kedua bibir itu pun lama saling bertautan, sampai Ibu Suri Raja datang dan membimbing putra tercintanya itu melepaskan Dyah Ayu Pitaloka yang sudah tidak bernyawa lagi. Memang itulah peristiwa pertama kali Sang Raja mencium bibir seorang gadis. Seorang gadis yang dicintainya dengan sepenuh hati.

 Hayam Wuruk merasa sangat sedih dan menyesalkan tragedi Bubat yang terlambat diketahuinya. Gajah Mada segera dipanggil menghadap. Akhirnya atas kelalaian dan kecerobohannya, Gajah Mada dicopot sementara dari jabatannya. Selama empat tahun dia tidak diperkenankan menghadap dan menginjakkan kakinya di Istana Raja.
 
Hayam Wuruk segera memerintahkan agar seluruh  jasad prajurit Sunda yang tewas itu, dirawat secara baik. Dia juga memerintahkan para pendeta menyelenggarakan upacara kremasi pembakaran mayat. Bahkan dia sendirilah yang mengawali acara, dengan lebih dahulu melakukan ritual  penyempurnaan terhadap jasad Dyah Ayu Pitaloka dan jasad Sang Maharaja.
 
Langkah terakhir, Hayam Wuruk secepatnya mengirimkan utusan ke Galuh untuk menyerahkan abu kremasi Sang Maharaja beserta keluarganya. Majapahit mohon maaf, penyesalan serta ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang tak pernah dibayangkannya itu.
 
“Kakek Buyutmu yang gugur di medan Bubat itu, mendapat nama harum, karena gugur membela kehormatan Kerajaan Galuh,” kata ayahnya, Sang Raja Rahyang Dewa Niskala, “Itu sebabnya dia mendapat gelar Sang Maharaja Wanggi. Artinya raja yang harum namanya, karena membela kehormatan Kerajaan Galuh. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada menyerah. Kakekmu Rahyang Niskala Wastu Kencana, waktu itu masih kanak-kanak, tidak ikut serta ke Bubat. Rupanya Hyang Widhi memang hendak menyelamatkan kakekmu sebagai satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Galuh yang masih hidup. Karena saat itu kakekmu belum cukup usia, maka roda pemerintahan sementara dijalankan oleh Mahapatih Buni Sora.”
 
Raja Wanggi? Wanggi artinya harum semerbak. Wanggi sama saja dengan Wangi. Sang Maharaja adalah seorang raja yang harum namanya, karena Sang Raja memilih melaksanakan darma seorang ksatria. Mati di medan peperangan, lebih terhormat dari pada mati karena menderita sakit di atas tempat tidur. Ya, Sang Maharaja, itulah dia yang mendapat nama harum karena berani mempertahankan kedaulatan dan harga diri Kerajaan Galuh.
Kerajaan Galuh adalah kerajaan besar yang setara dengan Kediri, Singosari, bahkan Majapahit. Kerajaan Galuh juga tak pernah ditaklukan oleh kerajaan besar  manapun di  Jawa.

Demikian pikiran yang berkecamuk di benak Sri Baginda, saat dia berbincang bincang dengan ayahnya, Sang Raja Rahyang Dewa Niskala, Pendiri Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan.

Ayah Sri Baginda Prabu Siliwangi melanjutkan ceriteranya bahwa tidak lama setelah  Rahyang Niskala Wastu Kencana naik tahta Kerajaan Galuh yang sebelumnya dijabat oleh Maha Patih Buni Sora, dia bermimpi. Dalam mimpinya itu mendiang ayahnya, Sang Maharaja, berpesan agar pusat kerajaan dipindahkan ke arah matahari terbenam jika Kerajaan Galuh ingin tetap mempertahankan kejayaannya dan kebesarannya. Ketika hal itu disampaikan kepada Buni Sora, ternyata Buni Sora keberatan.

“Matahari terbenam itu perlambang jelek Ananda Raja. Kerajaan Sunda pasti akan surut, jika dipindahkan ke barat, seperti juga surutnya matahari yang akan terbenam. Membangun pusat kerajaan baru tidaklah mudah. Kraton Galuh masih megah dan utuh. Tidak ada musuh yang pernah berhasil menduduki Kraton Galuh. Kraton Galuh juga belum pernah dimakan api. Jadi buat apa dipindahkan Ananda Raja?” Patih Buni Sora memberikan pertimbangan sehubungan dengan mimpi yang dialami Raja Rahyang Niskala Wastu Kencana yang baru beberapa hari dinobatkan sebagai Raja Galuh.

“Kalau toh Kerajaan harus dipindahkan, menurut tuntunan kitab-kitab suci agama kita, hendaklah pusat kerajaan itu dipindahkan ke arah matahari terbit. Itu berarti dipindahkan ke arah timur,” ujar Buni Sora.
 
“Paman, bukankah  matahari yang terbenam itu akan terbit lagi?  Mundur selangkah tetapi maju sepuluh langkah, Paman Patih?” jawab Raja Niskala Wastu Kencana. Sang Raja mencoba membela kebenaran mimpinya.

 Dia memberi contoh bahwa dahulu kala ada Kerajaan Sunda Galuh Purba yang berdiri di lereng selatan Gunung Agung, di Lembah Ciserayu yang subur.Tetapi  Karena Kerajaan Galuh Purba itu terus menerus menerima  ancaman dan gangguan dari Kerajaan Kalingga yang ada di sebelah timur dan utara  Pegunungan Dieng, Kerajaan Galuh Purba akhirnya pindah ke barat, menyatukan diri dengan Kerajaan Sunda yang ada disekitar hulu Sungai Cimanuk, Cimuntur dan Citanduy.Mereka kemudian bersatu dan bersama-sama  membangun Kerajaan Galuh Kawali yang mantap, kuat, dan makmur. Kemudian Kerajaan Galuh Kawali melakukan ekspansi ke timur dan berhasil mendapatkan kembali wilayah-wilayah di Lembah Ciserayu yang sempat lepas. Bahkan di lereng Gunung Agung kembali dapat didirikan Kadipaten Pasir, tidak jauh dari lokasi Kerajaan Galuh Purba sebelum pindah.(bersambung)






 

Sabtu, 20 Agustus 2016

Silaturahmi Wong Banyumas Yang Bermukim di Bandung



Dr.Setyanto, MA, Ketua Yayasan Serulingmas Cabang Bandung dalam kata sambutannya pada acara Silaturahmi Hahal Bil Halal 1437 H, tanggal 6 Agustus 2016 di GOR Pussenkav, Jl.Gatot Subroto Bandung, menjelaskan bahwa kehadiran Wong Banyumas di Bandung dan sekitranya, tidak pernah merepotkan Walikota Bandung, Walikota Cimahi, maupun Bupati Kabupaten Bandung. Bahkan Wong Banyumas banyak memberikan kontribusi ikut memajukan Bandung dan sekitarnya. Banyak di antara mereka yang sukses jadi pengusaha sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi warga Bandung dan sekitranya.


“Orang Banyumas yang merantau kemana-mana, selalu memegang semboyang dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata Dr.Setyanto,MA, Putra Banyumas yang pernah menjadi Direktur Utama PT.Telkom dan sukses mengantarkan PT.Telkom go publik pada masa Orde Baru. Kini beliau menjadi Dosen Pasca Sarjana UNPAD.


Acara dimeriahkan dengan pentas wayang semalam suntuk dengan kolaborasi dua dalang, yakni dalang wayang kulit Ki Sarwo dari Sidareja dan dalang wayang golek Ki Riswa dari Padepokan Wayang Golek Giriharja 3. Ki Dalang Sarwo membawakan lakon Bima Nagih Janji. Sekalipun Ki Riswa hanya tampil pada adegan limbukan, tetapi mampu mengocok perut penonton yang sebagian besar adalah wong Banyumas yang bermukim di Bandung dan tergabung ke dalam banyak paguyuban wong Banyumas. 


Misalnya Paguyuban Sidareja, Paguyuban Rangkul Kroya, Paguyuban Linggamas, Paguyuban Tomboati, Asmari, dan Paguyuban Tirta Kencana Tunggal (TKT). TKT merupakan Paguyuban Wong Banyumas yang paling tua, karena sudah hadir di Bandung pada tahun 1932 M! Dulu Paguyuban TKT dimotori Wong Banyumas yang meniti karir di lingkungan TNI dan POLRI. Sekarang ketuanya, Dr.Ir.Kabul Sarwoto.Sebelumnya adalah Mayjen.Purn.Sugito alm. Pak Setyanto alumni SMA N 1 Purwokerto, Pak Kabul dan Pak Sugito Alm, adalah alumni SMAN 2 Purwokerto.


Selain Wong Banyumas juga hadir Paguyuban Pamanjawi, dan Paguyuban Supplier Kueh Karya Usaha Mandiri. Paguyuban Pamanjawi sebagian besar anggotanya  adalah orang Madiun, Ngawi, Ponorogo, dan Magetan yang berdomisili di Bandung. Di dalam Paguyuban Supplier Kueh Karya Usaha Mandiri, anggotanya campuran antara wong Ngawi dan Banyumas. 


Pentas wayang dua dalang dalam rangka Silaturahmi Hahal bil halal dua dalang dimotori oleh Paguyuban Sidareja dengan mendapat bantuan dana untuk meringankan beban Panitya  dari Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi,SH. 


Ketua Panitya yang juga wakil Ketua Paguyuban Sidareja, dalam kata sambutannya disamping meyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik moril maupun materiil, juga menyatakan komitmen Wong Banyumas untuk ikut melestarikan kebudayaan warisan leluhur sebagai bagian dari usaha menjaga identitas dan jati diri, dan komitmen ikut berperan aktif memajukan lingkungan tempat berdomisili masing-masing sesuai dengan ketrampilan dan kompetensinya masing-masing. 


Sebagai warga Bandung dan Jawa Barat kami semua  telah berkomitmen teguh cekelan waton untuk selalu menjadi warga yang baik, yang akan ikut aktif berpartisipasi memajukan Bandung dan sekitarnya pada khususnya dan Jawa Barat pada umumnya, sesuai dengan kompetensi dan kemampuan masing-masing,” kata Ir.H Toyib Priyo Atmojo, Wong Banyumas yang meniti karir sebagai ahli tehnik di PT.Adikarya Bandung.


Ikut memberikan sambutan adalah Drs.Turiman Sudarjo selaku Pembina Paguyuban Sidareja. Ceramah makna halal bil halal disampaikan Ustad Abdul Kadir, Ustad kelahiran Purbalingga yang mencari rejeki dengan marantau ke Bandung.Tokoh-tokoh Wong Banyumas yang hadir, antara lain Bapak Sanen,SE, Bapak H.Sugino Atmojo, Bapak Drs.Daeng Sudirwo,MPd,dulu pada masa Orde Baru,Ketua DPRD Kota Bandung, Bapak Sugondo, inavotor bidang kesehatan, bos ATFG , Ibu Dr.Ir.Kabul Sarwoto, Ir. Adi Wijaya Supardi ,MM,MSc, dan lainnya lagi. Ikut hadir Dan Pussenkav dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Bandung. Sayang H.Itoch, matan Walikota Cimahi dan H.Dedi Mulyadi,SH Bupati Purwakarta berhalangan hadir karena kesibukannya masing-masing.





Ki Dalang Sarwo dan Ki Dalang Riswa

Ki Dalang Sarwo merupakan dalang wayang kulit dari Desa Tinggarjaya, Kecamatan Sidareja. Sudah empat kali pentas mendalang di Bandung dan sekitarnya. Dia dulu magang menjadi dalang ikut Dalang Gino dari Notog alm yang dulu beberapa kali ditanggap Yayasan Serulingmas Bandung dan TKT Bandung pada acara Silaturahmi. Di samping berguru pada Dalang Gino, Dalang Sarwo juga pernah magang pada dalang Manteb Sudarsono. Ki Dalang Sarwo memperlihatkan kemajuan setahap demi setahap dalam menggeluti profesinya. Sudah mampu membawa 9 sinden dari daerah Cilacap dan Banyumas, memiliki seperangkat gamelan dan wayang kulit, serta sejumlah niyaga yang terlatih. Konon sering pentas mendalang di Lampung yang juga banyak orang Banyumasnya di sana.

Ki Dalang Riswa merupakan dalang serba bisa. Bisa mendalang wayang kulit Banyumasan. Tetapi juga piawi memainkan wayang golek Sunda. Sering pentas di Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Ki Dalang Riswa juga sering tampil di TV Bandung dalam acara Pojok Cepot. Dia mengaku berguru wayang golek di Padepokan Giri Harja, Desa Jelekong, Kabupaten Bandung asuhan dalang kondang Ki Asep Sunandar Sunarya yang sudah almarhum. Ketrampilannya mendalang wayang golek telah membawanya jalan-jalan sampai negeri Belanda dan Suriname.


Kelebihan dalang Ki Riswa ialah lawakan-lawakannya yang berisi kritik sosial disampaikan dengan jenaka dalam bahasa Sunda yang segar. Dia juga piawi mempermainkan kata-kata. Misalnya alpukat diasosiasikan dengan alkohol.Pada kesempatan itu, Ki Dalang Riswa memainkan empat boneka tokoh wayang yaitu Cepot dan Dawala ditambah dua boneka sebagai bintang tamu. Kedua bintang tamu itu adalah pemuda dan pemudi penyanyi dangdut. Yang wanita menari gaya Inul, yang pemuda menari dengan iringan musik dangdut sambil membawa minuman, sehingga persis orang sedang mabuk akibat minuman keras. Cepot mengingatkan jangan suka mabok karena bisa ditangkap pulisi.


“Kalau aku minum tidak bakal ditangkap polisi. Sebab bukan korupsi. Kalau korupsi pasti di tangkap KPK” jawab pemuda tadi ngeyel. Dawala ganti mengingatkan. Eh, malah keduanya berjoged semakin menjadi-jadi sambil minum.


“Aku kalau minum tidak mungkin ditangkap pulisi. Sebab banyak pulisi yang malah ikut bergabung dan ikut minum,” kata Pemuda tadi.


“Kamu tidak takut ditangkap? Awas di sini ada penonton anggota Polri dan tempatnya pun di komplek Kavaleri!” Cepot kembali mengingatkan.


“Lho, yang aku minum itu bukan alkohol. Tapi jus alpuket!” jawab Pemuda tadi yang langsung bikin penonton pada tertawa ngakak.


“Sayang sekali, Mas Dalang Sarwo tidak adil,” Ki Dalang Riswa melalui tokoh Cepot mengeluh pada penonton. “ Kita Cuma diberi waktu lima belas menit!”

Penonton pun bertriak-teriak,”Terus…, terus….,”


Tokoh Dawala dengan sabar menjawab,” Udah Kang Cepot, lima belas menit tidak apa-apa. Yang penting bayarannya kan sama!” Kembali terdengar tawa penonton. Ki Dalang Riswa pun cepat-cepat meninggalkan panggung.


Keunikan lain Ki Dalang Riswa, dia pandai memainkan wayang dalam bahasa Banyumas dan Bahasa Sunda. Sebab apa? Sebab Ki Dalang Riswa ini adalah dalang wayang golek Sunda, tetapi kelahiran Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap. Kecamatan Dayeuhluhur dari segi wilayah jelas masuk Kabupaten Cilacap yang ex Karesidenan Banyumas. Tetapi dari segi budaya menganut dua budaya, yaitu Jawa dan Sunda. Ki Dalang Ruswa mungkin contoh ideal orang Banyumas yang mewarisi dua kebudayaan besar sekaligus, yaitu Budaya Jawa dan Budaya Sunda.


Sayang saya tidak sempat melakukan wawancara.  Ki Dalang Riswa yang masih muda itu keburu pulang karena ada acara lain. Saya hanya ingin tahu, apakah waktu di Suriname memainkan wayang golek ataukah  wayang kulit? Kalau wayang golek pakai basa Banyumas atau basa Sunda? 


Di Suriname, disamping ada orang Banyumas dan Jawa, juga ada orang Sundanya. Bahkan Partai Politik Orang Jawa pertama di Suriname, menurut Mbah Gogle, didirikan orang Sunda asli Tasikmalaya. Sebab orang Jawa di Suriname memang lebih banyak dari orang Sunda. 

Kolaborasi Wayang Golek Sunda dengan Wayang Kulit Banyumasan yang digagas Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi SH itu, kembali mengingatkan kita, bahwa Wong Banyumas sebagai sub etnis Jawa, sebenarnya pada waktu lampau mewarisi dua kebudayaan besar Jawa dan Sunda yang saling berinteraksi dan berakulturasi di Lembah Serayu dan Citanduy, yang telah melahirkan Wong Banymas yang unik itu.[20-08-2016]